Anda di halaman 1dari 24

KEPUTIHAN (LEKORE)

Kelompok V

Kelompok VI
Muh. Ali Badar (F1E110033) Harnita noviyanti (F1E110056) Rahmawati Nur aryanti (F1E110057) Mei asriani (F1E110020) Nur indriarizki (F1E110032)

Wd. Asfiyai sahrul (F1E110009)

Irsan (F1E110069)

Ervitha rosmala sary (F1E110059)

Wd. Hanum p.h (F1E110068)

Rakhniati f1e110070

Nurfajryanti ramli (F1E110006) Ld. Muh. Syahrul fath (f1e110016)

Aulia ulva ramdhani A.m (F1E110080)

Skenario 2
Wanita usia 33 tahun, PIIA0 datang ke poliklinik dengan keluhan keputihan yang berbau dan banyak. Menurut pasien, bau ini semakin bertambah terutama setelah berhubungan seksual dengan suaminya.

Kata sulit

PIIA0 keputihan

Kata Kunci
Wanita, 33 thn PIIA0 Keputihan yg berbau & banyak Bau brtambah stlh brhubungan seksual dgn suaminya.

Pertanyaan

Anatomi, histlogi vagina, uterus, dan tuba uterina? Bakteri flora normal pada vagina? PH normal vagina mulai dari neonatus sampai pascamonopaus? Bagaimana perbedaan keputihan fisiologis dan patologis serta keadaan- keadaan yang menyebabkan kondisi fisiologis dan patologis tersebut? Gambaran klinis dari keputihan? Differensial diagnosa? Epidemiologi dari infeksi tersebut?

Pertanyaan

Patomekanisme infeksi pada saluran wanita yang menyebabkan keputihan? Mengapa bau makin bertambah setelah berhubungan seksual dengan suami? Hubungan PIIA0 dengan keputihan? Langkah- langkah diagnosis? Pemeriksaan penunjang? Bagaimana pencegahan dari penyakit yang menyebabkan keputihan? Penatalaksanaan dan terapi dari penyakit gejala keputihan? Komplikasi infeksi? Prognosis? Patomekanisme vaginosis yang penyebabnya bukan infeksi?

Anatomi vagina, uterus dan tuba uterina

Histologi
VAG I NA
Mikroskopik ddg. t.d. : * Mucosa : - berlipat-lipat disebut : rugae - epitel berlapis gepeng tak bertanduk -sel-sel mengdung glikogen+lemak - infiltrasi sel-sel limfosit . - lam.propria tanpa kelejar , kaya seratserat elastis +sel-sel limfosit yang kadangkadang merupakan nodulus limfatikus Muscularis : Otot polos dalam bundle . . Dalam tipis jl. Circuler . Luar tebal jl. longitudinal . . Bersatu dengan miometrium . Adventisia : . Lapisan tipis saja . . Jaringan ikat padat.plexus vena.

Struktur epitel vagina bervariasi sesuai dengan umur : - sebelum masa puber epitel tipis - masa reproduksi : dipengaruhi oleh estrogen. tebal basal mitosis aktif sel superfisial besar , + banyak oleh krn banyak vakuole glikogen / lemak sedikit. - menopause epitel tipis atropi Vakuole glikogen maksimal saat ovulasi dilepas kerongga vagina pada saat ovulasi, fase sekretori dan menstruasi. 9 Glikogen laktobasilus lactic acid ph asam

Flora & PH normal Vagina


Flora normal vagina

Laktobasili 80-90% Stafilokok,mikrokok 50-70% Urea plasma 40-50% Anaerob 20-50% Streptokoki 20-30% Gardnerella 10-30% E.coli 5-15% Candida sp 5-15% Bakteroides 5-10% Trikomonas 3-7%

Tingkat PH normal vagina

Neonates: Ph 4-5,asam Anak berumur satu bulan: Ph 7,alkali Pubertas: Ph alkali-asam Matur: 4-5,asam Pasca menopause: Ph 6>7,netral atau alkali

10

Identifikasi keputihan
Fisiologis Patologis

Cairan berupa mukus Warna jernih, tdk berbau, dan tdk gatal. Banyak epitel & sedikit leukosit.

Banyak leukosit Berbau dan gatal Warna putih, abu- abu, kekuning-kuningan. Lebih kental

11

Keadaan-keadaan yang menimbulkan keputihan


Fisiologis Patologis

Waktu ovulasi Sebelum & ssudah menstruasi Dalam keadaan hamil

Terjadi peningkatan mukus serviks Penggunaan pil KB Penggunaan obat- obatan steroid &antibiotik Hubungan seksual

12

Gejala Klinis
Warna dan konsistensi cairan
Jernih-berlendir tak berbau o Kadar esterogen tinggi o stress Putih-encer berbau apek, gatal o Infeksi jamur

Kekuningan-kental o Infeksi bakteri

berbau, gatal

Kuning kehijauan berbusa, gatal o Infeksi Trikomonas vaginalis

Coklat / kemerahan o keganasan

13

Differensial Diagnosa
penyakit Tricomoniasis Tanda &gejala Wanita, 33 thn + + + +/BV CV gonore

PIIA0

+/-

Keputihan yg berbau & banyak


Bau brtambah stlh brhubungan seksual dgn suaminya.

14

Epidemiologi

Trikomoniasis

Vaginosis bakterial
Penyebab vaginitis yg trbanyak, 40 -50 % pd perempuan usia reproduksi. di Indonesia, prevalensi vaginosis mencapai 10%. Lebih sering ditemukan pd wanita yg memeriksakan kesehatannya dari pd vaginitis yg lainnya. 86 % bersama- sama dgn infeksi trikomonas.

Mengenai 180 jt perempuan di seluruh dunia dan ditemukan bersamaan dgn bacterial vaginitis. 30- 80 % ditemukan pd laki- laki.

15

Patomekanisme infeksi
-Bakteri -Protozoa -Jamur -virus
Infeksi (trikomoniasis & Vaginosis bacterial Laktobasillus spp Flora anaerob [ ]

PH[ ]

Asam amino

Flora anaerob + Flora vagina fakultatif


amin

Degenerasi sel

Sel epitel vagina

Duh tubuh vagina

pelepasan

16

Langkah- langkah diagnostik


Anamnesis

Permeriksaan fisik
Inspeksi bau dan warna

Pemeriksaan laboratorium
Pewarnaan gram Kultur, namun pada BV tidak dianjurkan

Pemeriksaan pH
Sediaan basah salin untuk trichomonasis kOH
17

Pemeriksaan penunjang

Trikomoniasis

Vaginosis bakterial

Sediaan basah
Terlihat pergerakan aktif

Sediaan basah
Terlihat leukosit sedikit atau tdk ada Sel epitel banyak Adanya kokobasil yg brkelompok. Trdapt clue cell

parasit yg masih hdp.

Sediaan apus
Dipulas dgn giemsa/ gram

& brsifat gram negatif.

Pembiakkan
Mengandung serum

Sediaan apus
Gram negatif

Tes sniff (tes amin)


Ditambahkan 1 tetes larutan KOH 10 %

Duh tubuh vagina brbau amis.

Pemeriksaan kromatografi dan pembiakkan


18

Penatalaksanaan

Trikomoniasis

Vaginosis bakterial

Topikal
Pemberian hidrogen

Topikal
Krim sulfonamida tripel sbagai acid

peroksidase & larutan asam laktat 4 % Bahan suposutoria yg brsifat trikomoniasidal, atau gel dan krim

cream base dg PH 3,9 dipakai setiap hr selama 7 hr. Supositoria vagina berisi tetrasiklin atau yodiumpovidon 76 %

sistemik
Metronidazol per oral dosis

sistemik
Metronidazole 2-3 X 500 mg tiap hr

tunggal 2 g / 3X200 mg per hari selama 7 hr. Nimorazol &tinidazol per oral dgn dosis tunggal 2 g. Ornidazol dosis tunggal 11/2 g.

selama 7 hr, atau Tinidazol 2 X 500 mg selama 5 hr, atau Amoksisilin atau ampisilindgn dosis 4 X 500 mg per oral selama 5 hr.
o

NOTE pemberian ampisilin & tetrasiklin 19 mrupakan predisposisi timbulnya kandidosis vaginal.

Pencegahan

Pola hidup sehat yaitu diet seimbang, istirahat yang cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres yang berkepanjangan. Selalu setia pada pasangan. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit. Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan mempertahankannya agar tetap kering, dan tidak lembab. Misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana yang terlalu ketat. Biasakan untuk mengganti pembalut, atau pentylainer pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak. Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air, yaitu dari arah depan ke belakang. Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina. Hindari penggunaan bedak talkum, tissue, atau sabun pewangi pada daerah vagina, karena dapat menyebabkan iritasi. Hindari pemakaian yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi. Sedapat mugkin tidak duduk diatas kloset d wc umum atau biasakan mengelap dudukan 20 kloset sebelum menggunakannya.

Komplikasi
Trikomoniasis Bacterial vaginosis

uretritis, bartholitis, skenetis, sistitis

Tidak menimbulkan koplikasi setelah pengobatan namun pada keadaan tertentu dapat terjadi komplikasi yang berat bacterial vaginosus seringdikaitkan dengan penykit radng panggul (pelvic inflammatory disease)/PID, Pada wanita hamil dapat menimbulkan komplikasi antara lain:

Kelahiran premature Ketuban pacah dini BBLR Endometritis post partum

21

Prognosis
Trikomoniasis Bacterial vaginosis

Baik apabila dilakukan pemeriksaaan dan pengobatan dan jngan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan dinyatan sembuh.

Prognosis sangat baik karena infeksinya dapat disembuhkan dengan pengobatan metronidazol dan klindamizin membei angka kesembuhan yang tinggi 84-96%

22

Keputihan non infeksi


Benda-benda asing yang dapat melukai epitel vagina, misalnya tampon, kondom yang tertinggal di dalam vagina secara tidak sengaja, dan benang AKDR Bahan-bahan kimia seperti larutan atau sabun antiseptik yang digunakan untuk membilas vagina, atau menyemprot daerah kemaluan bagian luar. Penggunaan obat-obatan tertentu dalam waktu lama dan berlebihan juga dapat mengakibatkan terjadinya keputihan. Misalnya antibiotic, obat golongan kortikosteroid, dan pil kontrasepsi.

23