Anda di halaman 1dari 66

Trauma Pada Anak

UMJ 2012 PROF FARID NUR MANTU

Penanggulangan trauma pada anak (urutan dan intensitas) tergantung pada :


Berat / ringannya trauma
Transport / pemindahan pasien Kondisi pada waktu tiba di Instalasi Rawat Darurat

Trauma yang berat, sering disertai dengan kerusakan pada beberapa alat tubuh (multiple organ failure) waktu tiba di IRD, Nampaknya tak ada reaksi hidup walaupun dengan organisasi pelayanan perawatan yang baik sine qua non of success.

Penderita trauma yang masuk ke IRD sadar dengan anamnesa trauma yang berat, Perlu dirawat oleh dokter ahli dengan pertimbangan yang hati hati dan saksama.

=Penderita dengan trauma yang berat, = yang nampaknya gambaran klinik yang ringan, sangat mungkin terjadi kelengahan dan perawatan yang salah.

Urgent Treatment segera dikerjakan = kalau ada kecurigaan dan mencegah atau mengurangi keadaan yang tiba tiba menjadi buruk.

Trauma

tumpul

sering

= menyebabkan multi sistem injury karena itu selalu dicurigai sampai terbukti tidak ada kerusakan pada organ organ tubuh ybs.

Prioritas pemeriksaan dan penanggulangan sama dengan orang dewasa. Walaupun demikian pada anak dengan trauma mempunyai: bentuk dan jenis trauma tertentu.

PERBEDAAN
JENIS TRAUMA TRIASE INITIAL ASSESMENT

Anatomi dan fisiologi yang berbeda dengan orang dewasa akan menyebabkan perbedaan dalam respon terhadap trauma, demikian pula penanggulangannya.

Special Considerations :
Size and shape

Skeleton
Surface area Psychologic status Long-term effects Equipment

Airway Anatomi Craniofacialdispropotion Large occiput cervical flexion Larynx : Anterior caudad angle Trachea : Short

Infants : Obligate nasal breathers

AIRWAY
Management Establish patent airway Suction, oxygenate, ventilate Oral airway insertions Endotracheal intubation Needle cricothyroidotomy

AIRWAY
Ventilation Rate Tidal volume Avoid barotrauma

Airway Management 1. Head : Sniffing position 2. Suction, Oxygenate, Ventilate 3. ORAL AIRWAY 4 Endotracheal intubation 5.Needle cricothyroidotomy

Pengobatan segera didasarkan persepsi adanya emergency condition dan pengetahuan tentang prioritas pada penanggulangan anak dengan multiple injury.

Sesudah satu trauma yang berat, kondisi yang perlu segera diobati adalah gangguan pernapasan yang menyebabkan oxygenisasi terganggu.

Yang dapat dimulai dengan face mask yang dihubungkan dengan resuscitation bag dengan oxygen reservoir dan dengan meningkatkan kadar oxygen.

Langkah berikutnya adalah Endo Tracheal Intubasi,Oxygenisasi dan Ventilasi.

ALGORITHM 1 RAPID SEQUENCE INTUBATION (RSI) FOR THE PEDIPATRIC PATIENT Preoxygenate Atropine sulfate 0,1 0,5 mg Sedation Hypovolemic Midazolam HCl 0,1 mg/kg (5 mg maximum) Normovolemic Thiopental sodium 4 5 mg/kg

Cricoid Pressure

Paralysis Succinycholine chloride < 10 kg : 2 mg/kg 10 : 1 mg/kg


Intubate, Check Tube Position, Release Cricoid Pressure

Intubasi endo tracheal pada anak dilakukan pada : Trauma capitis untuk hyperventilation Anak yang tak dapat mempertahankan/membuka jalan napas Anak dengan hypovolemia yang akan dioperasi

Cara lain (alternatif) untuk melakukan oxygenisasi dan ventilasi adalah transtracheal jet ventilation (needle cricothyrodotomi).

Transtracheal jet ventilation (needle cricothyrodotomi) sangat berguna pada anak dengan : Brain injury oleh karena ketegangan endo tracheal tube menyebabkan venous hipertension yang akan mengakibatkan peningkatan oedema otak. Cervical spine injury, oleh karena sering dengan extensi kepala, akan menyebabkan cervical cord injury. Maxillo facial injury dengan pendarahan yang banyak juga menghalangi fungsi mask untuk mengalirkan oxygen.

Pada prinsipnya resuscitasi dikerjakan simultan. Pada waktu respirasi diresuscitasi, juga cirkulasi dikembalikan, kalau perlu pijat jantung luar juga dikerjakan.

Circulasi dan Shock Peningkatan cadangan fisiologis pada anak menyebabkan tanda vital masih normal walaupun adanya shock yang berat. Tachycardi dan perfusi pada kulit yang buruk merupakan tanda dini adanya shock hypovolemi dan perlu resuscitasi dengan kristaloid.

SHOCK 25%-45% BLOOD VOLUME LOSS


Sign and Symptoms Cardiac heart rate CNS Change in LOC, dulled response to pain Skin Cyanotic, cold extremities Renal urinary output

HEMODYNAMIC CHANGES WITH BLOOD LOSS IN CHILDREN

RESUSCITATION
Stable Patient Bolus 20 ml/kg RL Surgical Consultation Repeat 20 ml/kg RL Hemodynamically Stable (Normal)

Further Evalution
Observe Operation

SHOCK > 45% BLOOD VOLUME LOSS


Cardiac
Hypotensive, Tachycardia to bradycardia Comatose

CNS Skin Renal

Pale, cole No output

SHOCK MANAGEMENT
Fluid Resuscitation Normal BV = 80 ml/kg 25% blood loss = shock 80 ml/kg x 25% = 20 ml/kg Initial Infusion : 20 ml/kg x 2 = 40 ml/kg of warmed Ringers lactate

SHOCK MANAGEMENT
Assess Adequacy of Resuscitation CNS Hemodynamics Renal Skin

RESUSCITATION
Unstable Patient Bolus 20 ml/kg RL Surgical Consultation Repeat 20 ml/kg RL Hemodynamically Unstable 10 ml/kg P-RBCs
Stable Further Evalution Operation Unstable Operation

SHOCK MANAGEMENT
Blood Replacement 10 ml/kg P-RBCs Type O, Rh-negative Warmed Remember : Immediated surgical consult!

Venous Access Peripheral percutaneous

SHOCK MANAGEMENT

Venous cutdown

Intraosseous infusion

INTRAOSSEOUS INFUSION
Guidelines
6 years of age Uninjured extremity Other access unsuccesful Proximal tibia below tibial tuberosity

SHOCK MANAGEMENT
Thermoregulation
Prone to hypothermia Maintain body temperature
Blanket Overhead heaters Warmed fluids and blood

Prevent heat loss !

Hemodynamic normal jika : nadi menurun meningkat tekanan nadi (>20 mmHg) warna kulit menjadi normal ujung jari menjadi hangat kesadaran membaik (GCS score meningkat) tekanan systolic meningkat produksi urine 1 2 ml/kg BB/jam

Tabel
Diagram Resuscitasi Cairan Pada Anak Anak Konsul Ahli Bedah 20 ml/kg BB Ringer Laktat (Bolus) Dapat diulang 1 2 kali

Hemodinamik normal

Hemodinamik abnormal

Evaluasi k/p Rujuk Observasi Operasi

10 ml/kg BB PRBC Normal Abnormal

Evaluasi Operasi k/p Rujuk Observasi Operasi

Lokasi / tempat untuk mendapat vena :


1. Intraosseous : 6 years 2. Percutaneous peripheral 3. Cutdown : Saphenous at ankle/groin 4. Special lines

Thermo regulasi 1. Permukaan tubuh luas 2. Kulit tipis 3. Lemak kurang Sangat mempengaruhi suhu tubuh

Hypothermi 1. Gangguan CNS 2. Gangguan pembekuan darah

HEAD TRAUMA
Management ABCs Appropriate specialists early Prevent secondary brain injury Continuous reassessment

Trauma kepala 1. Anatomic : Fontanelles, suture lines 2. Outcome 3. Extracranial injuries 4. Hypotension 5. Secondary brain injury Management : Same as adult

TABLE 4 PEDIATRIC VERBAL SCORE


Verbal Response Appropriate words or social smile, fixes and follows Cries, but consolable Persistently irritable Restless, agitated None V - Score
5 4 3 2 1

SPINAL CORD INJURY


Differences
Flexible interspinous ligaments, joint capsules Underdeveloped uncinate articulations Vertebrae, wedged anteriorly Flat facet joints Larger head, energy transfer

Spinal Cord Injury 1. Differens a. Interspinous ligament, joint capsules b. Vertebrae, wedged anteriorly c. Flat facets d. Larger head 2. X-ray consedarations 3. Treatment

SPINAL CORD INJURY


Roentgenographic Considerations
Pseudosubluxation Distance : Dens and C-1 anterior arch Growth center mimic fractures Spinal injury without radiographic abnormality

Trauma Dada 1. Rib Fractures : Severe injuring force 2. Compliant chest wall Lung Contusion 3. Mediastinal mobolity sensitivity to pulmonary injury 4. Thoracotomy : Ussually not needed 5. Other organ system injuries

Trauma Abdomen : 1. Method of assessment 2. Gastric distention 3. Urinary catheter 4. Diagnostic adjuncts: a. CT with contras b. DPL/Ultrasonography
Keputusan para Ahli Bedah

EXTREMITY TRAUMA
Management principles same History important Growth plate frequently involved Blood loss, > in child vs adult Unique fractures

Musculoskeletal Trauma : 1. Management principles same 2. History important 3. Growth plate frequently involved 4. Blood loss proportionately greater 5. Unique fractures

CHILD ABUSE
Suspect If
History vs degree of injury Time of injury to treatment Repeated injury history Inappropriate parental response History Changes

CHILD ABUSE INJURY PATTERNS


Multiple subdural hematomas Perioral injuries Genital / perianal injuries Long-bone fractures < 3 years of age Ruptured viscers, no history of trauma Retinal hemorraghe Radiographic evidence, old fractures Bizarre injuries

SUSPECTED CHILD ABUSE MUST BE REPORTED

INJURY EPIDEMIOLOGY AND PREVENTION STRATEGIES

Blunt vs penetrating Parent education School programs Legislative activity Injury-prone child Physician responsibilities

Management principles same Unique anatomic and physiologic differences Involve surgeons early ! Injury awareness and prevention

SUMMARY

TRIMODALDISTRIBUTION OF DEATH
TIGA WAKTU/ TEMPAT

KEMATIAN

Trinodal distribution of death due to injury; 1.seconds to minutes from injury : Laceration of the brain Brain stem High spinal cord Heart Aorta/ large blood vessels

2.Minutes to several hours following injury Subdural / epidural hematomas Ruptured spleen Laceration fracture Pelvic fracture

3.Several days to weeks after initial injury Sepsis Much organ system failure

TERIMA KASIH