Anda di halaman 1dari 21

Trauma Abdomen

MUTIARA IRIANDA PUTRI

PEMBIMBING : Dr. Herry Setya Yudha Utama, Sp.B, MH.Kes, FinaCs, ICS

ANATOMI ABDOMEN

Anatomi Luar

Abdomen

Abdomen depan
Abdomen depan adalah bidang yang dibatasi: Superior: garis intermammaria

Inferior: kedua ligamentum inguinal dan simfisis pubis Lateral: kedua linea aksilaris anterior

Anatomi Dalam Abdomen Rongga Peritoneal


Rongga peritoneal atas dilindungi oleh bagian bawah dari dinding toraks yang mencakup diafragma, hepar, lien, gaster dan colon transversum. Rongga peritoneal bawah berisikan usus halus, bagiam colon ascendens dan colon descendens, colon sigmoid dan pada wanita ada organ reproduksi internal.

Rongga Retroperitoneal Rongga yang potensial ini adalah rongga yang berada dibelakang dinding peritoneum yang melapisi abdomen, dan didalamnya terdapat aorta abdominalis, vena cava inferior, sebagian besar duodenum, pancreas, ginjal dan ureter serta sebagian posterior dari colon ascendens dan colon descendens, dan juga bagian rongga pelvis yang retroperitoneal.

Rongga Pelvis
Rongga pelvis merupakan bagian bawah dari rongga intraperitoneal dan bagian bawah dari rongga retroperitoneal. Didalamnya terdapat rectum, vesica urinaria, pembuluh pembuluh iliaca, dan pada wanita terdapat organ reproduksi internal.

Pinggang Merupakan daerah yang berada diantara linea aksilaris anterior dan linea aksilaris posterior, dari sela iga ke 6 dibatas atas sampai krista iliaka dibatas bawah. Di lokasi ini ada dinding otot abdomen yang tebal, berlainan dengan dinding otot yang lebih tipis di bagian depan yang menyebabkan bagian ini menjadi pelindung terutama terhadap trauma tusukan yang disebut Flank Area.

Punggung

Daerah ini berada dibelakang axillaris posterior, dari ujung bawah scapula sampai crista iliaca. Seperti halnya Flank Area, disini otot otot punggung dan otot paraspinal menjadi pelindung terhadap trauma tajam

DEFENISI
Trauma abdomen merupakan luka pada isi rongga

perut yang dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan sehingga terkadang perlu dilakukan tindakan laparatomi. Biasanya dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme, kelainan imunologi dan gangguan faal berbagai organ

ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI


1) Trauma penetrasi (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium). a) Trauma Tembak b) Trauma Tusuk 2) Trauma non-penetrasi / trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium) a) Kompresi b) Hancur akibat kecelakaan c) Sabuk pengaman d) Cedera akselerasi

Trauma Tajam

Trauma Tumpul

PATOFISIOLOGI
Jika

terjadi trauma penetrasi atau non-penetrasi kemungkinan terjadi pendarahan intra abdomen yang serius, pasien akan memperlihatkan tanda-tanda iritasi yang disertai penurunan hitung sel darah merah yang akhirnya gambaran klasik syok hemoragik. Bila suatu organ viseral mengalami perforasi, maka tandatanda perforasi, tanda-tanda iritasi peritonium cepat tampak. Tanda-tanda dalam trauma abdomen tersebut meliputi nyeri tekan, nyeri spontan, nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadi peritonitis umum. Bila syok telah lanjut pasien akan mengalami takikardi dan peningkatan suhu tubuh, juga terdapat leukositosis. Biasanya tanda-tanda peritonitis mungkin belum tampak. Pada fase awal perforasi kecil hanya tanda-tanda tidak khas

Mekanisme Trauma
A. Trauma Tajam Suatu pukulan langsung, misalnya terbentur pinggiran stir bisa menyebabkan trauma kompresi ataupun crush injury terhadap organ viscera. Trauma tarikan (shearing injury) terhadap organ viscera yang terjadi bila alat pengaman (seat belt) tidak digunakan secara benar. Pasien yang cedera pada suatu tabrakan

B. Trauma Tajam Luka tusuk ataupun luka tembak (kecepatan rendah) akan mengakibatkan kerusakan jaringan karena laserasi ataupun terpotong. Luka tusuk tersering mengenai hepar (40%), usus halus (30%), diafragma (20%) dan colon (15%). Luka tembak mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, yang ditentukan oleh jauhnya perjalanan peluru, dan berapa besar energi kinetiknya maupun kemungkinan pantulan peluru oleh organ tulang, maupun efek pecahan tulangnya. Luka tembak paling sering mengenai usus halus (50%), colon (40%), hepar (30%) dan pembuluh darah abdominal (25%).

TANDA DAN GEJALA


Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam

rongga peritonium) :

Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ Respon stres simpati Perdarahan dan pembekuan darah Kontaminasi bakteri Kematian sel

Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam

rongga peritonium).

Kehilangan darah. Memar/jejas pada dinding perut. Kerusakan organ-organ Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut. Iritasi cairan usus

KOMPLIKASI
Segera : hemoragi, syok, dan cedera.

Lambat : infeksi

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Anamnesis

Pemeriksaan fisik Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Menilai Stabilitas Pelvis Pemeriksaan penis, perineum dan rektum Pemeriksaan vagina Pemeriksaan gluteal

Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi. Skrinning pemeriksaan rongten: Foto rontgen torak tegak berguna

untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau Pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intraperitonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan jalan peluru atau adanya udara retroperitoneum. IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning: ini di lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada. Uretrografi: di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra Sistografi: ini di gunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung kencing DPL USG (FAST)

MANAGEMENT TRAUMA TUMPUL

MANAGEMENT TRAUMA TAJAM