Anda di halaman 1dari 52

Oleh : dr.

Afiyas Rayyan

Identitas
Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Agama Status Tgl masuk RS Tgl keluar RS : ny. S : perempuan : 46 tahun : cibitung : tidak bekerja : Islam : menikah : 24 februari 2013 : 5 maret 2013

Anamnesis
Keluhan Utama : Panas badan Anamnesa Khusus Sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh panas badan yang terus menerus, semakin hari semakin tinggi terutama pada sore dan malam hari. Keluhan disertai dengan nyeri di kepala, penurunan berat badan, pegal-pegal pada otot, dan mencret dengan frekuensi < 2 x / hari. Nafsu makan menurun, mual diakui. Nyeri perut disangkal. Panas tidak disertai dengan rasa menggigil maupun keluar keringat yang banyak. Pasien menyangkal sering makan di warung pinggir jalan, dan menyangkal jarang mencuci tangan sebelum makan.

Pemeriksaan fisik
Status Generalis Kesadaran Kesan Sakit Tanda Vital Tensi Nadi Respirasi Suhu

: Composmentis : Sakit sedang


: 100/70 mmHg : 64 X / menit : 22 x/ menit : 38,3OC

Pemeriksaan fisik
B. PEMERIKSAAN KHUSUS 1. Kepala Muka : Simetris, tidak ada deformitas, edema (-), flushing (-) Rambut : hitam, tidak mudah rontok Mata Bentuk dan letak : Simetris Palpebra : edema -/Konjungtiva : tidak anemis Sklera : tidak ikterik Hidung : PCH (-), sekret (-) Telinga : tidak ada kelainan, sekret (-) Mulut Bibir : Tidak ada kelainan POC : (-) Gigi : tidak ada kelainan Gusi : perdarahan gusi (-) Lidah : Typoid tongue (+) Tonsil : T1-T1, tenang, hipereremia (-)

Pemeriksaan fisik
II. Kulit Leher Thoraks Paru-Paru : turgor normal, ptechie (-) : JVP tidak dilakukan, kaku kuduk (-)
Inspeksi : bentuk dan gerak simetris, retraksi interkostal (-) Palpasi : VF tidak dilakukan, Perkusi : Sonor ki=ka, BPH: ICS 5 Auskultasi: VBS ki=ka, ronkhi -/-, wheezing -/-

Jantung Inspeksi : ictus cordis tak terlihat Palpasi : ictus cordis ICS V kiri Perkusi : Batas jantung tak diperiksa Auskultasi: BJ S1, S2 normal , murni reguler Abdomen Inspeksi : agak cem bung , rose spot (-) Palpasi : Lembut, turgor kulit baik, H/L tak teraba, nyeri tekan ileosekal (-), R. Traube tak terisi Perkusi : Tympani Auskultasi : Bising usus (+) normal Genitalia : tak diperiksa Ekstremitas : edema (-/-), Clubbing (-/-), sianosis (-/-), akral hangat CRT < 2 detik Neurologi : kaku kuduk (-), Refleks tidak dilakukan

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium Hematologi rutin Hemoglobin : 12.9 gr% Leukosit : 11.300/mm3 Trombosit : 70,000/mm3 Diff count : 0/1/0/80/17 Ht : 39.2 SGOT : 102 SGPT : 52 GDS : 168 Ureum : 54 Kreatinin : 0.9 Widal typhi o : 1/320

Pemeriksaan penunjang
Rontgen thorax PA : tidak ada kelainan EKG : tidak ada kelainan

Diagnosis
Observasi febris hari ke-5

penatalaksanaan
Ivfd RL/4 jam Diet lunak Pct 3x1 Ceftriakson 1x2 gr Ranitidin 2x1 Ondansetron 2x4 mg H2TL/8 jam

Follow up ruangan
tanggal 25/2/2013 keluhan Lemah, demam naik turun Pemeriksaan Kes : CM tatalaksana

26/2/2013
27/2/2013 28/2/2013 1/3/2013

Lemah, demam naik turun


Lemah, demam naik turun Lemah, demam naik turun Makan menurun

Kes : CM
Kes : CM Kes CM Kes : somnolen T : 90/60 N : 86 S : 37.5 Dobutamin 10 meq/kgbb/jam Dopamin 5 meq/kgbb/jam Ttv/2jam H2tl/6 jam Pro ICU Transfusi FFP 300cc

Pukul 10.00

Penurunan kesadaran, dx: thyphoid toxic, DIC, Syok septik

Follow up ruangan
tanggal 2/3/2013 keluhan Gelisah, kesadaran menurun, makanan < pemeriksaan T : 100/60 N : 86 S : 38.2 tatalaksana MP 2x1

21.00 3/3/2013 -iiHb 8.9 L 4800 Ht 25.8 Tr 68.000

Dobutamin 12 meq Dpamin 8 meq Th lanjut

4/3/2013

-ii-

Visit dr asyraf: Transamin 2x1 amp Cek alb/glb Pro ICU H2TL/6jam Ttv/2 jam Transfusi FFP 300cc

TIFOID

Pendahuluan
Demam tifoid merupakan penyakit sistemik yang memiliki karakteristik berupa demam dan nyeri abdomen yang diakibatkan oleh diseminasi S.typhii atau S.paratyphii. Pada awal abad ke-19 demam tifoid dengan jelas didefinisikan secara patologis sebagai suatu penyakit unik berdasarkan asosiasinya dengan pembesaran plak Peyer dan nodus limfatikus mesenterika.

Etiologi
Basil penyebab tifoid adalah salmonella typhi dan paratyphi. Bersifat gram negatif, bergerak, tidak berkapsul tidak membentuk spora, fimbriae, bersifat aerob dan anaerob fakultatif S.typhii dan S.paratyphii tidak memiliki hospes lain selain manusiademam enteric hanya ditransmisikan melalui kontak erat dengan individu yang terinfeksi secara akut atau karier kroniktransmisi langsung antar manusia melalui rute fekal-oral kebanyakan kasus umumnya diakibatkan dari mengkonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi.

Etiologi
Diklasifikasikan lebih lanjut ke dalam serovarian berdasarkan keberadaan tiga determinan antigen mayor : antigen somatik O (komponen dinding sel lipopolisakarida), antigen permukaan Vi (hanya pada S.typhii dan paratyphii C) antigen flagel H.

Patogenesis
Masuknya kuman ke tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak IgA usus kurang baik kuman menembus epitel (terutama sel-M) lamina propia

Patogenesis
Di lamina propia kuman berkembang biak difagosit oleh makrofag kuman berkembang biak dalam makrofag ke plaque Payeri ileum distal ke kelenjar getah bening mesenterika melalui duktus torasikus, kuman yang terdapat di dalam makrofag masuk ke sirkulasi darah bakteremia primer, asimtomatik

Patogenesis
menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa kuman meninggalkan sel-sel fagosit berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid masuk ke dalam sirkulasi darah lagi bakteremia sekunder, disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik

Patogenesis
Di dalam hati kuman masuk ke kandung empedu berkembang biak bersama cairan empedu diekskresikan secara intermittent ke lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus

Patogenesis
Makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif saat fagositosis kuman terjadi pelepasan mediator inflamasi menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskuler, gangguan mental, dan koagulasi

Patogenesis
Dalam plaque Peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasia jaringan (S. typhi intra makrofag menginduksikan reaksi hipersensitif tipe lambat, hiperplasia jaringan dan nekrosis organ)

Patogenesis
Perdarahan saluran cerna akibat erosi pembuluh darah sekitar plaque Payeri yang nekrosis & hiperplasia akibat akumulasi selsel mononuklear di dindidng usus. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga ke lapisan otot, serosa usus mengakibatkan perforasi

Patogenesis
Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular, pernafasan, dan gangguan organ lainnya.

Manifestasi Klinis
Infeksi S. typhi melalui tertelannya makanan atau air terkontaminasi oleh feses yang mengandung kuman S. Typhi dosis kuman yang menimbulkan gejala 105 kuman S. typhi patogenik Periode inkubasi tergantung pada kuantitas inokulum yang tertelan & daya tahan biasanya 8-14 hari, dan berkisar antara 3-60 hari

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari demam tifoid bervariasi sakit ringan dengan demam, malaise, dan batuk kering hingga disertai rasa tidak enak pada perut sampai disertai dengan penyulit multipel

Manifestasi Klinis
Demam tifoid akut ditandai - demam terus menerus (sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan, suhu badan lebih tinggi pada sore hingga malam hari) - gg. fungsi pencernaan (konstipasi terutama pada pasien dewasa, diare terutama pada anak) - sakit kepala, malaise, anoreksia - batuk (bronchitic cough)

Manifestasi Klinis
Pemeriksaan fisik suhu badan meningkat
Minggu ke-2 gejala lebih jelas demam, bradikardia relatif, lidah yang berselaput (kotor di tengah, sedangkan tepi dan ujung lidah hiperemis, serta tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis.

Manifestasi Klinis
Akhir minggu pertama rose spots pada dada, perut dan punggung Rose spot jarang ditemukan pada orang Indonesia Demam tifoid akut dapat menjadi berat dan menimbulkan penyulit serius ditemukan pada minggu ke-3 & 4 perjalanan penyakit umumnya: perforasi usus dan atau perdarahan gastrointestinal

Pemeriksaan Penunjang
Leukopenia dan neutropenia sebagian besar kasus, leukosit tetap normal leukositosis selama 10 hari pertama sakit, atau bila terjadi penyulit berupa perforasi intestinal atau karena infeksi sekunder

Pemeriksaan Penunjang
Anemia ringan Trombositopenia Hitung jenis leukosit aneosinofilia, limfopenia Laju endap darah dapat meningkat SGOT dan SGPT seringkali meningkat

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis definitif demam tifoid tergantung isolasi S.typhi dari darah, sumsum tulang atau lesi anatomik spesifik Adanya gejala klinis yang khas dari demam tifoid ataupun deteksi dari respon antibodi spesifik adalah bersifat sugestif untuk demam tifoid, bukan definitif.

Pemeriksaan Penunjang
Kultur positif kuman S.typhi atau S. Paratyphi gold standard diagnostik demam tifoid Temuan kuman pada kultur darah paling banyak (90%) didapatkan pada minggu pertama infeksi, dan menurun sampai 50% pada minggu ketiga.

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis juga dapat ditegakkan berdasarkan kultur positif dari feses, urin, rose spots, sumsum tulang, dan cairan lambung atau usus. Kultur sumsum tulang dapat tetap sensitif (90%) walaupun telah diberi antibiotik selama 5 hari.

Pemeriksaan Penunjang
Kultur feses dapat negatif (pada 60-70% kasus) selama minggu pertama sakit dapat menjadi positif pada minggu ke-3 pada pasien yang tidak diobati Pada pasien karier kronik, kultur tinja dapat tetap positif sampai lebih dari 8 minggu hingga 1 tahun.

Pemeriksaan Penunjang
Uji Widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman S. typhi. Dari ketiga aglutinin O, H dan Vi pada serum darah penderita, hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid.

Definisi Kasus Demam Tifoid


Confirmed Case Pasien dengan demam (suhu 38o C atau lebih) yang telah berlangsung sedikitnya selama 3 hari, dengan hasil laboratorium kultur positif S.typhi (confirmed) dari darah, sumsum tulang, cairan gaster/usus.

Definisi Kasus Demam Tifoid


Probable Case Pasien dengan demam (38o C atau lebih) yang telah berlangsung sedikitnya selama 3 hari, dengan serodiagnosis atau tes deteksi antigen positif, tetapi tanpa dilakukan isolasi kuman S.typhi.

Definisi Kasus Demam Tifoid


Karier Kronik Ekskresi S. typhi pada tinja atau urin (atau kultur empedu atau duodenal ulangan yang positif) yang lebih dari 1 tahun sejak onset dari demam tifoid akut. Karier jangka pendek juga ada, tetapi peranannya kurang begitu penting dibandingkan karier kronik. Beberapa pasien yang mengekskresikan S.typhi bisa tidak memiliki riwayat demam tifoid sebelumnya.

Komplikasi
Komplikasi Intestinal - Perdarahan usus - Perforasi usus - Ileus paralitik Komplikasi Ekstra-Intestinal 1. Darah : Anemia hemolitik, trombositopenia, DIC, Sindroma uremia hemolitik 2. Kadiovaskular : Syok septik, miokarditis, trombosis, tromboflebitis 3. Paru-paru : Empiema, pneumonia, pleuritis, bronkhitis 4. Hati dan kandung empedu : Hepatitis, kholesistitis 5. Ginjal : Glomerulonefritis, pielonefritis, perinefritis 6. Tulang : Osteomielitis, periostitis, spondilitis, arthritis 7. Neuropsikiatrik : Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer encephalopaty, Sindrome Guillian Barre, psikosis, gangguan koordinasi, sindroma katatonia.

Komplikasi

Komplikasi
1. 2. 3. 4. 5. 6. Perdarahan dan perforasi intestinal Peritonitis Hepatitis tifosa Pankreatitis tifosa Pneumonia Komplikasi lain:
1. Osteomielitis 2. Miokarditis, perikarditis, endokarditis 3. Pielonefritis, orkhitis

Komplikasi
Relaps timbul kembali gejala demam tifoid disertai bakteriemia dan kelainan gastrointestinal
Terjadi pada hari 7 -10 hari setelah tidak demam atau 3 bulan setelah terapi kloramfenikol dihentikan

Penatalaksanaan
Tirah baring Nutrisi : cairan dan diet Simtomatik : roboransia/vitamin , antipiretik, anti emetik

Pentatalaksanaan
antibiotik

Penatalaksanaan

Terapi komplikasi tifoid

Terapi komplikasi tifoid

Pencegahan
Secara umum untuk memperkecil kemungkinan tercemar Salmonella typhi, maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Untuk makanan, pemanasan sampai suhu 57C beberapa menit dan secara merata dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Higienis pribadi Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai