Anda di halaman 1dari 67

Kelompok 5

Perdebatan boleh tidaknya pembatasan kelahiran bayi berawal dari isu tentang azl (coitus interruptus) pembatasan keluarga pengaturan keluarga

Pengertian KB
Tanzhim al-Nasl (pengaturan keluarga) : ulama, IPPF

Suatu tindakan perencanaan pasangan pasangan suami istri untuk mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval keahiran dan menentukan jumlah anak yang sesuai dengan kemampuannya serta situasi kondisi masyarakat dan negara.

Program KB di Indonesia
Kepadatan penduduk Pemerintah Hindia-Belanda 1905
Transmigrasi Pencegahan kehamilan Secara medis Pijat urut RSI PKU Muhammadiyah Yogyakarta (1926) BKKN

PKBI (1957)

Alat kontrasepsi (1970)

Fatwa : mencegah kehamilan

Pandangan ulama tentang pembatasan kelahiran

Syeikh abd al-Majid Salim (Ulama Mesir) tahun 19937 Fatwa dari mufti diberbagai negara : Suria, Turki, India dan Pakistan Buku-buku dan Karya Ilmiah tentang Pembatasan kelahiran Respon lembaga fatwa : Lajnah al-Azhar (1955), Lajnah alFatwa (diterbitkan di Majalah Nur al-Yaqin bulan Ramadhan 1964), Majma al-Buhuts al-Islammiyyah (Kairo-1965), Haiah Kibar al-Ulama (Saudi Arabia-1396 H), Majma al-Fiqh alIslami (diikuti negara muslim pada Muktamar ke-5 Kwait1988)

Hampir semua lembaga fatwa menolak adanya

undang-undang publik atau yang sejenis itu yang


membatasi perencanaan kebebasan jumlah suami-isteri keluarga, dalam

keharaman

sterilisasi, dan pada umumnya membolehkan


berbagai tindakan pencegahan kelahiran yang sifatnya sementara dengan alasannya dibenarkan

Ulama halal alasan : Hadis taqriri (Jabir)

Pencegahan Kehamilan menurut fukaha

Ulama larang alasan :

Nama-nama ulama dan kelompok ulama mazhab yang berbeda pendapat tentang hukum azl dengan alasan masing-masing : Ibnu Hibban (270-354 H), Ibnu Hazm, Mazhab Zhahiriyyah dll. pembunuhan tersembunyi Ulama fikih Madinah hukumnya makruh dan mubah tergantung sudut pandang Ulama mazhab Hanafi boleh syarat : kerelaan isteri Jumhur Ulama Sunni, Syiah (Imamiyyah, Jafariyyah, Ismailiyyah, dan Zaidiyyah) dan Ibadiyyah (Khawarij) hukumnya mubah

PANDANGAN ULAMA KONTEMPORER TENTANG KB


Secara umum,hukum KB yang ditentukan berdasarkan illatnya, berpangkal dari dua istilah dalam bahasa Arab Tanzhin an-Nasl (pengaturan keturunan) yang berkonotasi menargetkan dan membatasi jumalh anak karena berbagai alasan (ekonom8i, kesehatan, dll).

Unsur lain yang turut mempengaruhi dalam pertimbangan karena dalam pemasangan berbagai alat kontrasepsi tertenntu menuntut pemasangnya harus melihat dan menyentuh alat genital (aurat mughallazhah) sehingga terjadi bentursn dengan ketentuan hukum syarak.

1. Syekh Mahmud Syaltut, ahli fikih mesir


Jika ber-KB dimaksudkan sebagaii usaha pembatasan anak dalam jumlah tertentu dalam segala situasi dan kondisi, hal tersebut bertentangan denga syariat islam, sunnatullah, dan hikmah penciptaan manusia Jika KB dimaksudkan sebagai usaha pengaturan atau penjarangan kelahiran atau usaha pencegahan kehamilan sementara atau selamanya sehubungan dnegan situasi dan kondisi khusus maka tidak dilarang agama

2. Organisasi Konferensi Islam (OKI)


Tidak memperbolehkan melakukan pematasan keturunan secara mutlak Tidak boleh menolak/mencegah kehamilan jika maksudnya karena takut kemiskinan

Jika mencegah kehamilan atau menundanya karena sebabsebab individual yang bahanya jelas maka tidak dilarang syari

3. Majelis Pendiri Rabithah Alam Islami


Pada sidang ke 16, melarang pembatasan keturunan. Keputusan tersebut adalah sebagai berikut: Pembatasan keturunan bertentangan dengan Syariah Islam. Umat Islam telah sepakat bahwa sasaran dari pernikahan dalam Islam adalah melahirkan keturunan, disebutkan dalam hadis shahih dari Rasul SAW bahwa wanita subur lebih baik daripada wanita mandul

4. Muktamar Lembaga Riset Islam


sesungguhnya Islam menganjurkan untuk memperbanyak keturunan, karena banyaknya keturunan akan memperkuat umat Islam secara sosial, ekonomi, dan militer Jika terdapat darurat yang bersifat individual yang harus melakukan pembatasan keturunan, maka kedua suami istri harus diperlakukan sesuai dengan kondisi darurat

5. Haiah Kibar al-Ulama (dewan lembaga ulama terkemuka)


Menetapkan: Dilarang melakukan pembatasan keturunan secara mutlak. Tidak boleh menolak kehamilan jika sebabnya adalah takut misku, karena Allah SWT yang memberi rezeki yang Maha Kuat dan Kokoh Jika mencegah kehamilan karena darurat yang jelas, seperti jika wanita tidak mungkin melahirkan secara wajar dan akan mengakibatkan harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan anaknya ATAU melambatkan untuk jangka waktu tertentu karena kemaslahatan hyang dipandang suami istri maka tidak mengapa untuk menundanya sesuai dalam hadis tentang bolehnya azl (coitus terputus)

HUKUM BER-KB
a. Alasan Ulama yang membolehkan KB Tidak ada nash yang sharih secara eksplisit melarang/memerintahkannya, maka hukumnya boleh, sejalan dengan kaidah hukum Islam:

Adapun alasan lain dari segi kesehatan dan ekonomi, anatara lain: 1. Untuk memberikan kesempatan bagi wanita beristirahat antara dua kehamilan 2. Jika salah satu/kedua orang pasutri memiliki penyakit yang dapat menularkan 3. Untuk melindungi kesehatan ibu 4. Jika keuangan suami tidak cukup untuk membiayai lebih banyak anak 5. Menjaga kecantikan ibu (Imam al-Ghazali)

Jika dalam keadaan darurat, misalnya takut akan mengancam keberlangsungan hidup ibu/kesejahteraannya karena kehamilannya berdasarkan penelitian dari dokter yang dapat dipercaya. Hal ini tercakup dalam ayat:

dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (Q.s. al -Baqarah (2):195)

Termasuk tindakan pembunuhan yang dilarang dalam Al-Quran:

dan janganlah kamu membunuh dirimu (Q.s. an-Nisa (4):29)

Termasuk adanya kekhawatiran akan terjerembab dalam himpitan ekonomi yang berdampak pula pada kesulitan bidang agama hingga melakukan tindakan kriminal dan melakukan yang dilarang agama demi anak

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (Q.s. al -Baqarah (2):185)

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, (Q.s. al-Maidah (5):6)

Juga karena khawatir keadaan buruk akan menimpa anak, misalnya, kesehatannya akan buruk, pendidikannya tidak terurus, dan sejumlah kesulitan hidup yang lain. Argumen ini tercakup dalam hadis Nabi :

Disamping keadaan darurat yang ditolerir syarak terkait dengan kehamilan saat menyusui, tidak dilakukan ghilah bersetubuh saat istri menyusui), disebutkan dalam hadis Nabi:

b. dalil-dalil yang Membolehkan KB 1. Ayat yang menekankan agar meninggalkan generasi yang kuat bukan yang lemah : annisa (4):6

2. Ayat Al-Quran menekankan agar merencanakan keluarga dengan menjaga kesehatan ibu dan anak, baik selama hamil,melahirkan,menyusui dan mengasuhnya. Seperti dinyatakan dalam ayat Al-quran: al-ahqaf (46):15

3.Firman Allah : al-baqarah (2):233

Para ibu hendaknya menyusukan anak-anak selama tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnaknan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakain kepada para ibu dengan cara yang maruf. Seseorang jika tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga ayah karena anaknya dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberkan biaya yang patut (Q.s. alBaqarah (2):33)

4. firman Allah Luqman (31):14

5. Hadis Nabi

"... sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kecukupan daripada meninggalkan mereka menjadi beban tanggungan banyak orang..." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Alasan pembolehan KB, dari sudut pandang syarak yang paling sering dikemukakan para ulama adalah praktik azl (coitus interuptus) Azl adalah melakukan ejakulasi diluar vagina sehingga sperma tidak bertemu dengan ovum istri. Berdasarkan hadis, ber-KB dalam pengertian mencegah kehamilan akibat hubungan badan suami istri telah dikenal sejak zaman Nabi dengan perbuatan azl (coitus interruptus), pembolehan ini termasuk hadis taqriyyah Jika tujuan utama ber-KB adalah menciptakan generasi yang berkualitas, maka hal ini sejalan dengan ajaran islam yang mengedepankan kualitas daripada kuantitas, tercakup dalam hadis Nabi: HR.muslim

"orang mukmin yang kuat itu lebih disukai Allah dari pada mukmin yang lemah" (HR.Muslim)

Ber-KB HUKUMNYA HARAM


1. 2. 3. 4. 5. 6. KB sama dengan pembunuhan bayi KB merupakan tindakan tidak wajar (non-alamiah) dan bertentangan dengan fitrah KB mengindikasikan pada ketidakyakinan akan perintah dan ketentuan Tuhan KB berarti mengabaikan doa Nabi agar umat Islam memperbanyak jumlahnya KB akan membawa petaka konsekuensi-konsekuensi sosial KB adalah suatu jenis konspirasi imperialis bsrst terhadap negara-negara yang berkembang

METODE ber-KB
Ada 3 metode, yaitu tanpa alat bantu, menggunakan alat bantu dan sterilisasi Para ulama memperbolehkan KB, menggunakan cara/alat kontrasepsi yang tidak dipaksakan, menggunakan alat yang tidak bertentangan dengan batasan syariat Islam dan disepakati oleh suami-istri. Misal melalui senggama terputus (azl)

Ber-KB menggunakan alat kontrasepsi yang bersifat sementara, diantaranya:

1. Diafragma 2. Penutup serviks (cervical cap) 3. Spermisida 4. Implan/Susuk KB 5. Injeksi medroksiprogesteron 6. Pil KB 7. Intravag/Tisu KB 8. IUD (Intra Urine Device/ spiral) 9. Pil anti konseptis (lyndiol)

Jika diantaranya ada yang dilarang dalam ajaran Islam, bukan karena sifatnya yang sementara itu tetapi karena berbenturan dengan ajaran atau batasansyarI yang lain seperti (pemakaian KB spiral/Diaftragma) dalam rahim seorang wanita/pada kemaluan pria, sebaiknya dipasang sendiri/dipasang oleh suami/istrinya sendiri karena melihat/menjamah aurat orang lain dilarang dalam syariat Islam, ditegaskan dalam hadis Nabi:

Dari Abi Said alkhudri, ia berkata: Rasulullah saw, bersabda: janganlah laki-laki melihat aurat laki-laki yang lain dan janganlah wanita melihat aurat wanita yang lain, dan janganlah bersentuhan seorang laki-laki bersentuhan kulit dengan laki-laki lain dalam satu selimut, dan jangan pula seorang wanita bersentuhan kulit dengan wanita lain dalam satu selimut (HR. Ahmad, Muslim,Abu Dawud, dan alTurmudzi)

9. Pandangan Ulama Indonesia tentang KB


a. KB Tanpa Alat Menurut Lembaga Fatwa di Indonesia
Secara umum ulama memperbolehkan KB menggunakan alat dan metode yang bersifat sementara, bukan permanen. Sebagaimana telah disinggung diatas bahwa polemik tentang hukum azl merupakan masalah khilafiah ulama klasik Khilafiah tentang hukum ber-azl juga terjadi dikalangan lembaga fatwa di Indonesia. Sebagian mereka menyatakan fleksibilitas hukumnya, tergantung pada illat-nya. Kelompok yang berbeda pendapat tentang hukum azl dapat dilihat sebagai berikut: 1.Batsul Masail NU pada Konbes Syariah I (1960) Menyatakan kalau denganazl atau dengan alat yang mencegah sampainya air mani ke dalam rahim seperti kopacis/kondom, maka hukumnya makruh. Pada Muktamar XXIII (Yogyakarta, 1989) mengalami perubahan, ditetapkan hukumnya boleh. 2.Majlis Tarjih Muhammadiyah dan Dewan Hisbah PERSIS - kebolehan ber-KB tergantung pada Illat dan niatnya - Majlis Tarjih Muhammadiyah menilai bahwa mencegah kehamilan bertentangan dengan ajaran Islam sebab diantara tujuan pernikahan adalah memperoleh keturunan

3. Dewan Hisbah PERSIS berpendapat jika tujuannya untuk mengatur jumlah kelahiran anak bukan untuk membatasi maka hukum nya halal untuk azl ataupun KB dengan alat. Majlis Tarjih Muhammadiyah menyusun sebuah buku Membina Keluarga Sejahtera yang berisi tentang keputusan-keputusan tentang ber-KB. Isi keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam bukunya tersebut sebagai berikut: 1.Mencegah kehamilan hukum adalah berlawanan dengan ajaran agama Islam. Demikian pula KB yang dilaksanakan dengan pencegahan kehamilan 2. Dalam keadaan darurat dibolehkan sekedar perlu dengan syarat persetujuan suamiistri dan tidak mendatangkan mudarat jasmani dan rohani

Dalam memberikan batasan dan pengertian tentang darurat Majlis Tarjih Muhammadiyah menghubungkannya dengan teori maqashid al-Syariah, sperti tertuang dalam penjelasan keputusan diatas, bahwa KB dianggap hanya sebagai jalan keluar dari keadaan mendesak. Dibolehkan sebagai hukum pengecualian. Adapun kriteria darurat keadaan darurat yang memperbolehkan KB, yaitu: a.Mengkhawatirkan keselamatan jiwa/kesehatan ibu karena mengandung/melahirkan dan hal itu diketaui dengan pengalaman/keterangan dokter b.Mengkhawatirkan keselamatan agama, akibat faktor-faktor kesempitan penghidupan, seperti kekhawatiran akan terseret menerima hal-hal yang haram /melanggar larangan karena didorong oleh kepentingan anak-anak c.Mengkhawatirkan kesehatan/pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran terlalu rapat

Dalam penjelasan diatas terdapat tiga unsur yang sama berada pada tingkat dlaruriyyah, yaitu menjaga eksistensi agama, jiwa dan memelihara keturunan

Inti alasan yang digariskan oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah di atas sejalan dengan para ulama lain sebagaimana dikutip ileh Abul Fadl Mohsin Ebrahim yang membolehkan berKB dengan alasan: 1.Untuk memberikan kesempatan bagi wanita beristirahat dianatara dua kehamilan 2.Jika salah satu pasangan mempunyai penyakit yang dapat menularkan

3.Untuk melindungi kesehatan ibu


4.Jika keuangan suami tidak mencukupi untuk membiayai lebih banyak anak Pembolehan dilakukan penjarakan kelahiran yang merupakan program utama ber-KB bagi Majlis Tarjih Muhammadiyah semata karena alasan darurat yaitu pertimbangan kesehatan, pendidikan dan ekonomi

Fatwa selanjutnya datang dari pengurus besar Syuriah NU (jakarta, 1969) dalam keputusan tersebut ditetapkan pengertian KB dan batasan boleh serta tidaknya ber-KB secara lengkap dan jelas, yaitu: 1.Harus diartikan sebagai pengaturan penjarakan kehamilan untuk kesejahteraan dab bukan pencegahan kehamilan untuk pembatasan keluarga

2.Harus didasarkan atas kepentingan kesejahteraan ibu dan anak bukan karena ketakutan alan kemiskinan,kelaparan, dsb
3.Tidak boleh dilakukan dengan penguguran kandungan 4.Tidak boleh merusak/menghilangkan bagian tubuh suami maupun istri yang bersangkutan 5.Merupakan maslaah perorangan (suka rela) bukan merupakan gerakan masal dengan ketetapan yang dipaksakan 6.Harus mendapat persetujuan suami dan istri yang bersangkiuan 7.Harus tidak bertentangan dengan hukum-hukum Agama dan kesusilaan 8.Supaya dijaga benar jangan sampai disalahgunakan untuk kepentingan maksiat/tindakan amoral, dll

Fatwa dari MUI melalui Munas Ulama (Jakarta 1983) tentang hukum berKB, sebagai berikut: 1.Ajaran Islam membenarkan KB untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, pendidikan anak agar menjadi anak yang sehat, cerdas dan shalih 2.Pelaksanaan KB termasuk pelaksanaan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) hendaknya didasarkan atas kesadaran dan sukarela dengan mempertimbangkan faktor agama dan adat istadat serta ditempuh dengan cara yang bersifat insani 3.Pelaksanaan KB hendaknya menggunakan cara kontrasepsi yang tidak dipaksakan, tidak bertentangan dengan hukum syariat Islam dna disepakati oleh suami istri

Fatwa dari Dewan Hisbah PERSIS (Bandung 1993) sebagai berikut: 1.KB dalam pengertian pengaturan jarak kelahiran hukumnya ibahah dan tidak dilarang 2.KB dalam pengertian pembatasan jumlah kelahiran hukumnya haram dan dilarang oleh syariat Islam

3.Mengikuti program KB karena takut kelaparan hukumnya haram


4.Cara-cara KB yang dapat ditempuh adalah azl, pantang berkala, cream jelly, vaginal tablet, kondom, pil suntikan dan AKBK

Jadi pada dasarnya hukum ber-KB adalah mubah. Namun dalam keadaan tertentu hukum mubah tersebut dapat berubah menjadi sunnah,wajib,makruh/haram sejalan denga perubahan zaman, tempat, keadaan, alasan dan tujuannya. Hal ini sejalan dengan kaidah hukum Islam :

Kontroversi Hukum Penggunaan IUD

IUD (Intrauierine Device) dipersoalkan dari segi 1. Pemasangan harus melihat kemaluan wanita 2. Fungsi / Cara kerja alat

Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan : HARAM 1. Pemasangan Hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis, hukum darurat tidak bisa diterapkan 2. Fungsi / Cara kerja alat - Membunuh sperma yang masuk - Membunuh zigot yang akan terbentuk

Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syankiti menyatakan : Melanggar Syariat Islam


1. Pemasangan Melihat aurat, meneyentuh, menyakitkan, merancukan siklus haid 2. Tidak darurat Karena sudah ada kondom

Pengharaman IUD 1971 (11 Ulama terkemuka Indonesia) 1972 (7 Ulama di Jakarta) Karena melihat alat kelamin adalah harm lidztih 1989 (Bahtsul Masail NU) Karena melihat aurat mughallazhah, sehingga harus sesuai syarak (cth: dipasang suami sendiri)

Pengharaman IUD karena bersifat abortif : Ali Akbar* Prof. Muhammad Thoha* Masjfuk Zuhdi (kecuali terpaksa)

*dibantah oleh banyak ahli kedokteran, termasuk Prof. Dr. Muhammad Djuawari

Pembolehan IUD 1983 (MUI) : Pemasangan dengan melihat aurat mughallazhah, boleh bila didampingi orang ketiga dan sesuai sadd adz-dzariah 1968 (Majlis Tarjih Muhammadiyah): Boleh asal oleh paramedis wanita* dan melaksanakan yang mudharatnya lebih ringan Mahyuddin

*ditentang, karena nash tidak membolehkan melihat aurat, walaupun sejenis

Mubah IUD 1989 (Bahtsul Masail NU) Dari segi pemakaian & cara kerja, sama dengan alat kontrasepsi lain (azl) Cholil Usman

Syubhat IUD Dewan Hibah PERSIS : Sejauh masih ada cara lain yang tidak menimbulkan mafsadah pakai Kalau tidak ada cara lain yang lebih efektif tidak pakai

Alat kontrasepsi yang boleh* : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Azal Pantang berkala Cream jelly Vaginal tablet Kondom Pil suntikan
6. AKBK (alat kontrasepsi bawah kulit) 7. Diafragma 8. Penutup serviks 9. Spermisida 10. Implan/susuk KB 11. Intravag/ Tisu KB

*menurut analisis fath al-dzariah dan istishhab al-hal

Vaksin KB dari Bahan Sperma

Dimanfaatkan untuk - Imunisasi - Mencegah kehamilan wanita

Pembolehan Vaksin Sperma : 1994 (Bahtsul Masail NU): Karena sifat istiqdzar (menjijikkan) sudah luntur dan hilang, dan masih harus sesuai persyaratan yang muhtarom. Namun sumber sperma masih dipermasalahkan

Pengharaman kontrasepsi : Alasan ekonomis bersifat spekulatif (al-syakk dan zham) Membunuh anak karena alasan ekonomi adalah haram
dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, (QS Al-Anam (6) : 151)

Tidak bisa dihalalkan dengan cara istihsan atau mashlahah mursalah Yang haram tidak bisa dibandingkan dengan yang meragukan

Perubahan fatwa hukum KB : Wajib bila mencegah kesulitan berat Haram bila hanya menghilangkan kesulitan yang diprediksi Tergantung - Manfaat - Illat - Mudharat (bagi ibu, calon anak, kehamilan, kelahiran) - Masa - Tempat - Keadaan - Niat - Kebiasaan

Metode KB Permanen (Taqim daim)

Pengertian : Prosedur agar seseorang tidak mempunyai keturunan Pemandulan pria atau wanita taqim = memutus/ kering yan gmenghalangi terjadinya jejak; atau menciptakan kemandulan

Jenis-jenis KB Permanen 1. Tubektomi - Penutupan saluran sel telur - Keuntungan : hormon wanita ttp dihasilkan, tidak mengganggu hubungan suami istri, aman, praktis, efektif, ekonomis, bisa seumur hidup

2. Vasektomi - Pemotongan vas defferens (saluran pembawa sperma dari testis diikat ujungnya - Keuntungan : bisa dibuka kembali, perlindungan kehamilan sgt tinggi, tidak mengganggu hubungan suami istri, aman, praktis, efektif, ekonomis, bisa seumur hidup

3. Pengebirian - Pengangkatan kedua testis (alat yang memproduksi sel mani dan hormon pria) atau memotong ovarium (pada wanita) - Menjadikannya mandul - Al-Ikhsha

Pengharaman sterilisasi pada sejarah fatwa :

1. Dar al-Ifta al-Mishriyyah Karena menghentikan aktivitas reproduksi manusia, merusak kebutuhan primer (keturunan) 2. Syeikh Muhammad Ali Jumah Karena menghilangkan salah satu fungsi organ tubuh, kecuali darurat : - Khawatir keberlangsungan hidup ibu - Terhentinya salah satu fungsi organ tubuh - Berpindahnya penyakit kepada janin

3. Fukaha Klasik (Al-Qurthubi & Al- Nawawi) Karena bertentangan dengan anjuran memperbanyak keturunan, termasuk menyakiti diri, kadang mencelakakannya, dan menghamburkan harta

Pengharaman Sterilisasi oleh Ulama Indonesia : 1. 1968 (Muktamar Majlis Tarjih Muhammadiyah) Apabila dengan niat enggan punya anak atau merusak organ 2. 1979 (MUI) Karena vasektomi dan tubektomi belum dipastikan bisa kembali seperti awal atau tidak

3. 1981 (MPKS fatwa no.32) Karena mengubah ciptaan Allah, memutuskan jalan keturunan, dan kedua hal tadi dilarang dalam Islam 4. 1983 (Munas) Haram kecuali darurat 5. 1995 (Musyawarah Nasional Ulama Penanggulangan Penularan HIV/AIDS) Boleh, karena mencegah penularan HIV/AIDS suami-istri dan janin

Rehabilitasi vasektomi :
2000 (MUI DKI Jakarta) Walaupun dapat dipulihkan kembali, tetap tidak boleh vasektomi. Karena : - Rekanalisasi sangat rumit - Biaya mahal, tidak terjangkau rakyat kecil - Dilakukan tenaga ahli khusus - Butuh alat modern

Penolakan vasektomi & tubektomi Menurut dr.Ferryal Loetan, pembukaan kembali saluran itu sulit. Sehingga sterilisasi hanya diperbolehkan bila dapat dipulihkan kembali

Pendapat ulama kontemporer tentang keharaman sterilisasi: 1. 1953 (Lajnah al-Fatwa al-Azhar) Karena penggunaan obat mencegah kehamilan permanen 2. 1965 (Majma al-Buhuts al-Islamiyyah) Karena membatasi kelahiran 3. 1971 (Dr. Madkur pd konferensi di Rabat) 1980 (Syeikh Jad al-Haqq) Karena menentang syariat Islam : menjaga agama, pikiran, harta, jiwa, keturunan

4. Dewan Tinggi Penelitian Arab Saudi


5. Lajnah Bahtsul Masail NU Karena mematikan fungsi berketurunan secara mutlak 6. Fatwa MUI Karena bertentangan dengan hukum Islam, kecuali darurat

Menurut Ahli Medis : Banyak dokter sekarang yang mengkhususkan diri dalam penggabungan pembuluh darah untuk mengembalikan kesuburan

KESIMPULAN: 1. Dapat diterima dengan syarat pengaturan keluarga, bukan pembatasan keluarga. Upaya maslahah/ menghindari mudharat 2. Dalil : kontradiksi tentang azl, banyak keturunan, menjadi manusia berkualitas 3. 5 permasalahan kontrasepsi - Cara kerja : mengatur kehamilan - Sifat : tidak permanen

- Pemasangan : oleh diri sendiri, suami, atau orang lain bila sangat darurat - Bahan : Halal - Implikasi (efek) terhadap kesehatan 4. Menolak undang-undang yang mengharuskan memiliki jumlah anak tertentu 5. KB dengan cara vasektomi, tubektomi, sama dengan pengebirian akan selalu haram karena mengubah ciptaan Allah 6. Akan selalu mengalami pergeseran hukum