Anda di halaman 1dari 139

KEBIJAKAN & STRATEGI PENGENDALIAN ISPA

PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

LATAR BELAKANG

Pneumonia: The forgotten Killer of children

3|

INICHD Oct 2008

Major causes of death in neonates and children under-five in the world - 2004
Deaths among children underfive
Noncommunicable diseases (postneonatal) 4% Injuries (postneonatal) Other infectious and parasitic 4% diseases 9% HIV/AIDS 2% Measles 4% Malaria 7%

Neonatal deaths
Other 9% Congenital anomalies 7% Neonatal tetanus 3% Diarrhoeal diseases 3%

Neonatal infections 25%

Neonatal deaths 37%

Birth asphyxia and birth trauma 23%

Diarrhoeal diseases (postneonatal) 16%

Prematurity and low birth w eight 31%

Acute respiratory infections (postneonatal) 17%

35% of under-five deaths are due to the presence of undernutrition*

Sources: (1) WHO. The Global Burden of Disease: 2004 update (2008); (2) For undernutrition: Black et al. Lancet, 2008

4|

INICHD Oct 2008

CAPAIAN RPJMN 2005-2009


--------

SASARAN RPJMN 20102014 (PERPRES 5 / 2010) Meningkatnya


UHH MENJADI 72 thn

TARGET MDGs 2015 8 TUJUAN


POVERTY & HUNGER

EDUCATION

GENDER

Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH


AKI 228 per 100.000 KH Prevalensi gizi kurang 18,4 % pada anak Balita

Menurunnya Angka Kematian Bayi menjadi 24 per 1000 KH


Menurunnya AKI menjadi 118 per 100.000 KH Menurunnya prevalensi gizi-

CHILD HEALTH

MATERNAL HEALTH

COMM.DISEASE

ENVIRONMENT PARTNERSHIP

MeAKB a. 2/3nya pada tahun 1990-

PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

ANALISIS SITUASI

PENURUNAN ANGKA KEMATIAN BAYI & BALITA


AK Bayi-Balita cenderung stagnan dalam paruh waktu kedua (2010-2014) bagi upaya pencapaian MDG 2015
AKB

120
AKBA Kem . Neonatal

Kematian per 1.000 kelahiran hidup

91

90
68

81

AKB RPJMN AKBA MDG

60
32

57

58 46 46 35
26 20 20 26

AKB MDG

45 34
32

30

30

23

0
1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 2015

Bersamaan dengan Pembangunan Jangka Menengah Tahap kedua (2010-2014) 7 Kesempatan terakhir bagi percepatan pencapaian MDG

Penyebab Kematian Bayi 0-11 bulan

Tidak diketahui penyebabnya, 3.7 % Meningtis, 4.5 %

Tetanus, 1.7 %

Kelainan Kongenital, 5.7 %

Pneumonia, 12.7 %

Masalah Neonatal 46,2 %

Diare, 15 % Masalah neonatal : -Asfiksia -BBLR


Sumber : Riskesdas 2007

-Infeksi, dll

Penyebab Kematian Balita 0-59 bulan

Tidak diketahui penyebabnya, 5.5 %

Tetanus, 1.5 %

Meningtis, 5.1 %

Kelainan Kongenital, 4.9 % Masalah Neonatal 36 %

Pneumonia, 13.2 %

Masalah neonatal : -Asfiksia

Diare, 17.2 %
Sumber : Riskesdas 2007

-BBLR -Infeksi, dll

KONDISI DI LAPANGAN
SECARA NASIONAL: Dari hasil pemetaan cakupan Pneumonia membuktikan bahwa Pneumonia tersebar di seluruh wilayah Indonesia Cakupan penemuan Pneumonia Balita selama 10 tahun berkisar antara 19,65-35,9%. Cakupan penemuan kasus pneumonia dari tahun 2000 sampai tahun 2010 belum pernah mencapai target yang ditetapkan;

CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA BALITA Nasional 2005 - 2010


100 90 86 80 76 70

66
60 56 50 46 40 30 20 10 0 27.65 29.12 27.71 26.26 60

25.91
19.65

2005

2006

2007
cakupan

2008
target cakupan

2009

2010

20.00

30.00

40.00

50.00

60.00

70.00

NTB 64.49 Kalsel 49.60 Jabar 48.65 Sulbar 40.23 Babel 40.07 Sulteng 29.98 Sumsel 28.61 Sumut 26.08 Sulut 24.13 Sumbar 21.03 Jatim 20.05 DKI Jkt 19.20 Riau 15.83 Maluku 15.81 Lampung 15.28 Jambi 14.62 Bali 14.39 Banten 11.50 Kaltim 11.37 Jateng 10.96 Malut 10.72 Gortal 9.24 Sulsel 8.77 Kalbar 6.88 NTT 5.54 Kalteng 5.09 Sultra 4.33 DIY 4.91 NAD 3.53 Kepri 1.91 Bengkulu 1.68 papua 0.00 Irjabar 0.00 Nasional 22.96

10.00

0.00

CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA TAHUN 2010

KONDISI DI LAPANGAN
Pengendalian Pneumonia Balita sangat dipengaruhi cakupan penemuan penyakitnya. Beberapa hambatan yang ditemui di DAERAH antara lain : Tenaga terlatih MTBS/ Tatalaksana Standar ISPA tidak melaksanakan di Puskesmas serta mutasi nakes yang tinggi Pembiayaan (logistik & operasional) terbatas Pembinaan (bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang Pneumonia Balita merupakan pandemi yang dilupakan/ tidak ada prioritas sedangkan masalah ini merupakan masalah multisektoral diperlukan kemitraan Gejala Pneumonia Balita sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih

PERENCANAAN TERPADU (RESPONSIF)


No Peran SDM Fisik Peralatan Operasional 1 Pusat pelatihan standar Standar, pembinaan, mengadakan Pedoman, BOK

Propinsi

rekrutmen

pembinaan

Koordinasi teknologi
pengadaan

Biaya pelaksanaan koord prop


Pengawasan dan rencana pengawasan

Kabupaten Kota

pembinaan

biaya

Masyarakat

pengawasan

pengawasan

pengawasan

PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

TUJUAN & SASARAN


DYAH A.R.

TUJUAN PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA


1. Tercapainya penemuan dan tatalaksana kasus pneumonia balita pada tahun 2010 (60%), 2011 (70%), 2012 (80%), 2013 (90%) dan 2014 (100%). 2. Tersedianya SDM terlatih profesional dalam penatalaksanaan kasus Pneumonia Balita. 3. Tersedianya SDM terlatih profesional dalam manajemen program pengendalian Pneumonia Balita 4. Tersedianya sarana yang mendukung penatalaksanaan kasus pneumonia Balita secara komprehensif 5. Tersedianya gambaran epidemiologi melalui pengembangan surveilans sentinel pneumonia Balita

GAPP: Objectives
To accelerate pneumonia control through scaling up the delivery of interventions of proven benefit in the context of newborn and child survival strategies in countries To identify and implement a set of priority activities within each area of work in reducing pneumonia mortality

To develop an approach towards monitoring, documenting and evaluating the impact of the action plan
17 |
INICHD Oct 2008

Key elements of the action plan


Communication/Advocacy Implementation Monitoring and Evaluation Research and Development: feedback into implementation

18 |

INICHD Oct 2008

SASARAN PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA


Usia Balita, yaitu bayi (0-<1 tahun) dan anak Balita (1-<5 tahun) dengan fokus penanggulangan pada penyakit Pneumonia KEGIATAN PRIORITAS

Financial side
Optimalisasi dana Jamkesmas, dekonsentrasi, APBD Prov, APBD Kab/Kota dan dana hibah lain (GAVI-HSS, LSM internasional)

Partnership
Peningkatan kerja sama dengan, LSM, LS (Program Keluarga Harapan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Kredit Usaha Rakyat), organisasi internasional & CSR

KEBIJAKAN PENGENDALIAN ISPA (1)


1. Mengupayakan P2 ISPA sebagai salah satu Program Prioritas Nasional dari Program Prioritas Ditjen. PP & PL Departemen Kesehatan RI untuk mencapai MDGs 2015 2. Pengendalian penyakit ISPA dilaksanakan sesuai dengan otonomi daerah dan desentralisasi dalam NKRI. 3. Upaya pengendalian kesakitan dan kematian pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dilakukan bekerjasama dengan lintas program yang terkait dengan kesehatan Balita. 4. Penyebarluasan informasi pengendalian penyakit ISPA melalui berbagai media sesuai dengan kondisi sosial dan budaya setempat.

KEBIJAKAN PENGENDALIAN ISPA (2)


5. Logistik pengendalian penyakit ISPA meliputi obat esensial, sound timer, oksigen konsentrator dan lainlain disediakan oleh Pemerintah baik pusat, propinsi dan kabupaten/kota. 6. Pengendalian penyakit ISPA dilaksanakan melalui jejaring kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak 7. Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan dan akuntabilitas pelaksanaan program melalui peningkatan kemampuan sumber daya manusia, pembinaan/supervisi, sistem pemantauan dan evaluasi program serta sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat.

STRATEGI PENGENDALIAN ISPA (1)


Membangun komitmen politis di setiap tingkat administrasi pemerintahan dengan melaksanakan advokasi dan sosialisasi program P2 ISPA dalam rangka pencapaian MDGs 2015. Penguatan jejaring dilaksanakan melalui pertemuan berkala dengan seluruh pemangku kepentingan terkait. Penemuan kasus dilakukan secara aktif dan pasif sesuai dengan tatalaksana standar pengobatan. Peningkatan mutu pelayanan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelengkapan logistik bekerjasama dengan pemerintah daerah.

STRATEGI PENGENDALIAN ISPA (2)


Peningkatan peran keluarga dan masyarakat dilakukan melalui pemberdayaan kader dan tokoh masyarakat. Evaluasi program dilaksanakan secara berkala bekerjasama dengan lembaga pengkajian/penelitian guna mendapatkan hasil yang obyektif. Sistem pelaporan dibangun secara bertahap dengan komputerisasi sehingga keterlambatan laporan dapat dikurangi. Pembinaan teknis dilakukan secara berjenjang dan terstandar.

L.I.H.A.T dan D.E.N.G.A.R.K.AN Selamatkan Balita Indonesia dari Kematian PROGRAM PEGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

Hidup terlalu singkat, Mengapa harus enggan menghitung napas.., Jika banyak jiwa bisa selamat.

IRA PADA ANAK Infeksi Respiratori Akut

Mekanisme pertahanan respiratorik


hidung - filtrasi partikel refleks epiglotis pencegahan aspirasi refleks batuk ekspulsi benda asing selimut mukosilier - pembersihan organisme makrofag alveolar fagositosis bakteri substansi imunologis lokal netralisasi kuman sistem limfatik transport partikel dari paru

Definisi
IRA adalah sekelompok penyakit infeksi pada sistem respiratorik, disebabkan oleh berbagai etiologi, berlangsung < 14 hari sistem respiratori: sistem yang berperan dalam proses respirasi; hidung s/d alveoli dan struktur terkait (sinus, telinga, pleura) Respirologi: ilmu tentang sistem respiratorik sebagai satu kesatuan

Istilah
Depkes : ISPA, Inf sal pernapasan akut WHO : ARI, Acute respiratory infection,
AURI : Acute upper respiratory infection ALRI : Acute lower respiratory infection

IKA : IRA, infeksi respiratori akut


IRAA : Infeksi respiratori atas akut IRBA : Infeksi respiratori bawah akut

Pembagian
IRA : atas & bawah (IRAA & IRBA) batas : laring (Nelson) IRAA : rinitis, tonsilitis, faringitis, sinusitis, otitis media IRBA : croup (laringitis dkk), bronkitis, bronkiolitis, pneumonia etiologi IRAA : >90% virus tidak perlu AB

IRAA
Selesma Faringitis Sinusitis Otitis media

IRBA Croup Epiglotitis Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia

Pembagian IRA
IRA Sesak (-) Sesak (+)

IRAA
Rinitis Faringitis Tonsilitis Sinusitis Otitis media

IRBA
Laringitis Croup Bronkitis

IRAA
Difteria

IRBA
Epiglotitis Bronkiolitis Pneumonia

Pneumonia

Anatomi sistem respiratorik


Saluran respiratori atas : Hidung Sinus Faring - laring

Saluran respiratori bawah : Bronkus Bronkiolus Alveolus Saluran respiratori atas dan bawah berhubungan erat karena merupakan 1 unit

The KILLER
Over 2 million children die from pneumonia each year..
In children < 5 years pneumonia caused 1 in 5 deaths

UNICEF/ WHO, Pneumonia: The Forgotten Killer of Children, September 2006

Pneumonia PEMBUNUH utama balita


Masalah pneumonia pada balita di Indonesia Morbiditas 10-20 % Mortalitas 5 / 1000 Kematian krn Pneumonia
50.000 / tahun 12.500 / bulan 416 /hari = 1 jumbo jet 17 / jam 1 / 4 menit

Pneumonia
inflamasi parenkim paru (alveoli dan interstisiil) definisi klinis: penyakit respiratorik ditandai batuk, sesak, demam, ronki, dan infiltrat pada foto Rontgen istilah lain : pneumonitis (non-infeksi); alveolitis (Eropa)

Etiologi Pneumonia
terutama : bakteri dan virus di negara berkembang: bakteri > virus
Shann,1986: in 7 developing countries, bacterial - 60 % Turner, 1987: in developed countries, bacterial - 19 % ; viral - 39 %

Etiologi
sebagian besar: kuman (virus, bakteri, dll); aspirasi, radiasi, dll pneumonia kuman : virus atau bakteri ? konsekuensi tata laksana awal: virus komplikasi bakteri pola kuman sesuai distribusi umur terpenting : Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, streptokokus grup B

Bakteri penyebab
Streptococcus pneumoniae Hemophilus influenzae Staphylococcus aureus Streptococcus group A B Klebsiella pneumoniae Pseudomonas aeruginosa Chlamydia spp Mycoplasma pneumoniae

Pembagian jenis pneumonia


Community acquired pneumonia umumnya kuman Gram positif

Hospital acquired pneumonia umumnya kuman Gram negatif

Patogenesis
aspirasi kuman penyebaran langsung dari respiratorik atas viremia / bakteremia penyebaran langsung dari infeksi intraabdomen terbanyak : 2 pertama

Manifestasi klinis
tergantung: kuman, usia, status imuno-logis, beratnya penyakit neonatus bisa tanpa gejala khusus gejala: umum, pulmonal, pleural, ekstrapulmonal umum : demam, menggigil, sefalgia, resah, gelisah, gastrointestinal (muntah, kembung, diare)

Manifestasi klinis
gejala
demam napas cepat batuk muntah tdk mau minum Iritabel letargi

tanda
demam takipnu dispnu retraksi napas cuping merintih sianosis

pemr fisis
ronkhi mengi suara n lemah pekak fremitus lemah meningismus

pl friction rub

Manifestasi klinis
tanda pulmonal: berguna, tapi pd awitan mungkin belum ada otot bantu napas: chest indrawing / retraksi frekuensi napas: indeks paling sensitif, anak tenang / tidur batuk: pada anak besar, kering produktif, suara napas, ronkhi basah halus (bayi - ) klinis : sulit membedakan bakteri / virus

Manifestasi klinis sederhana (WHO)


Napas cepat (tachypnea)
batas frekuensi napas Umur frekuensi nps < 2 bulan 60 2 - 12 bulan 50 1 - 5 tahun 40

Chest Indrawing (tarikan dinding dada ke dalam)

Pemeriksaan penunjang
Rontgen toraks:
menunjang diagnosis, menilai luasnya kelainan patologi Mencari kemungkinan komplikasi

foto : AP, kadang + lateral pneumatokel Staphylococcus aureus normal dalam 3-4 minggu tidak rutin diulang; kecuali pneumatokel, pneumotoraks / komplikasi lain

Pemeriksaan penunjang
Analisis gas darah lekositosis (>15.000/ul) lazim dijumpai dominasi netrofil, pergeseran ke kiri bakteri trombosit >500.000/ul bakteri trombopeni virus LED dan CRP tidak khas biakan darah: spesifik, namun hanya 10-15% yang (+)

Diagnosis
terbaik: etiologik, dengan pemeriksaan mikrobiologi kendala:
teknis: spesimen representatif Biaya: mahal

dasar diagnosis: klinis + penunjang lain masalah : virus atau bakteri ?

ISPA - MTBS
Tujuan: deteksi pneumonia, sehingga tidak ada yang luput Gejala awal kecurigaan: BATUK, biasanya disertai tanda infeksi berupa demam Klasifikasi: (bukan diagnosis)
Bukan pneumonia Pneumonia ringan Pneumonia berat

Fokus utama pada pneumonia berat yang potensi mortalitasnya tinggi


WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Hub diagnosis klinis - klasifikasi ISPA


Diagnosis klinis Pneumonia berat tanpa hipoksemia dengan hipoksemia dengan komplikasi Pneumonia ringan Infeksi respiratori atas Klasifikasi ISPA Pneumonia berat hingga Pneumonia sangat berat
Pneumonia Bukan pneumonia

WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Pneumonia berat
Batuk &/ kesulitan bernapas, disertai >1 hal: Kepala terangguk-angguk Napas cuping hidung Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) Tanda lain: Napas cepat Merintih (grunting) pada bayi Auskultasi: ronki / suara napas turun / bronkial
WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Pneumonia sangat berat


Selain gejala pneumonia berat, dijumpai: Bayi tidak dapat menyusu, makan/minum; atau memuntahkan semuanya Kejang, letargis, atau tidak sadar Sianosis Sesak sangat berat

WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Tatalaksana
Community acquired pneumonia > rawat rumah adekuat rawat inap: sesak nyata, bayi < 3bulan terapi penunjang & etiologik
Penunjang: oksigen, cairan, makanan terapi etiologik : antibiotik

deteksi dan tatalaksana komplikasi

Tatalaksana
ideal : sesuai dengan kuman penyebab kendala diagnostik, viral ~ bakterial, inf bakteri sekunder antibiotik untuk semua pneumonia antibiotik : 5-10 hari, bisa 14 hari sampai 2-3 hari bebas demam

Vaksin pneumokok

Faktor risiko pneumonia


Berat lahir rendah Tanpa ASI Imunisasi tdk lengkap

Malnutrisi
Defisiensi vit A

PNEUMONIA
Usia muda Kepadatan Pajanan dgn polusi dalam / luar rumah Asap rokok, asap biomass, polusi kendaraan, pabrik

Cuaca dingin

High prevalence pathogen carrier

Streptococcus pneumoniae in pleural exudate (Gram stain)

Copyright 2006 American Academy of Pediatrics

History
L Pasteur (1822-1895) & colleagues the first notion, the bacteria is important human pathogen 1886 - Fraenkel pneumococci tendency to cause pneumonia 1920 - Society of American Bacteriologist Diplococcus pneumoniae 1974 - form chain in liquid media Streptococcus pneumoniae
Pediatric Respiratory Medicine, 2nded, 2008

Colonization
Nasopharyngeal carriages - most healthy persons carry various S. pneumoniae in their upper respiratory tract - carrier 6mo 5yr of age >90% - at some point Peak 1st 2nd year of life, decline gradually Does not consistently induce local / systemic immunity sufficient to prevent later reacquisition of the same serotype

Nelson textbook of Pediatrics, 18thed, 2007

Transmissions
Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30% of healthy older children and adults
Asymptomatic carrier Nasal cavity

Nasopharynx: site of colonisation

Aerosol Inhalation Trachea

Patient with pneumococcal disease Dissemination

Fedson, Musher, in Vaccines, 1994 Musher, in Principles and Practice of Infectious Diseases, 1995

Immunology
Capsular polysaccharides impedes phagocytocis determined the virulence - 90 serotypes IPD isolates used to study the distribution of serotypes causing the most severe forms of PD 4 decades: 4, 6B, 9V, 14,18C, 19F, 23F the majority of invasive isolates, in children in developed countries 6B, 9V, 14, 19F resistant to penicillin Capsule switching resistance mechanism
Nelson textbook of Pediatrics, 18thed, 2007

Pathogenesis

Salyers, Whitt, in Bacterial Pathogenesis, 1994

Clinical presentation
Direct extension Otitis media Mastoiditis Sinusitis Laryngotracheobronchitis Pneumonia Empyema Bloodstream Occult bacteremia Sepsis Meningitis Pneumonia Pericarditis Peritonitis Osteomyelitis, etc
Nelson textbook of Pediatrics, 18thed, 2007

High risk group


Rates of infection are highest in: Infants Young children, below five years Elderly

Redbook online, 2006

Burden of Pneumococcal Disease

CDC,Prevention of pneumococcal disease, recommendation of the ACIP ,MMWR 1997:46 ( No RR-8 ) The Pink Book ( 8th Ed) www.cdc.gov/nip/publications/pink/#download

Serious

Pneumococcal Disease: Overview

Up to 1 million child deaths each year. Survivors of meningitis are often left with life-long disabilities1

Common
The No. 1 cause of vaccine-preventable mortality1

Preventable
Need for modified vaccine formulations2 for global coverage
WHO, Immunization data fact sheet, 2004; 2. WHO Wkl Epi Report 2008; 83(1) - Target profile new PCVs

Sejarah vaksin pneumokok


1977 14-valent pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV-14) licensed 1983 23-valent pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV-23) licensed Pneumo-23 2000 7-valent pneumococcal conjugate vaccine (PCV-7) licensed - Prevenar 20xx? 10-valent pneumococcal conjugate vaccine (PCV-10) licensed - .. ??? 20xx? 13-valent pneumococcal conjugate vaccine (PCV-13) licensed?

Pneumococcal polysaccharide vaccine - PPV


Purified capsular polysaccharide antigen from 23 types of pneumococcus Account for 88% of bacteremic pneumococcal disease Cross-react with types causing additional 8% of disease

Pneumococcal polysaccharide vaccine - PPV


Purified pneumococcal polysaccharide (23 types)
Not effective in children younger than 2 years 60%-70% against invasive disease

Less effective in preventing pneumococcal pneumonia

PPV recommendations
Adults 65 years of age or older Persons 2 years or older with chronic illness anatomic or functional asplenia immunocompromised (disease, chemotherapy, steroids) HIV infection environments or settings with increased risk

MMWR 1997;46(RR-8):1-24

Pneumococcal conjugate vaccine PCV


Pneumococcal polysaccharide conjugated to nontoxic diphtheria toxin (7 serotypes) Vaccine serotypes account for 86% of bacteremia and 83% of meningitis among children younger than 6 years of age

Pneumococcal conjugate vaccine PCV


Highly immunogenic in infants and young children, including those with high-risk medical conditions 97% effective against invasive disease caused by vaccine serotypes 73% effective against pneumonia 7% reduction in all episodes of acute otitis media

PCV recommendations
All children younger than 24 months of age Unvaccinated children 24-59 months with a highrisk medical condition

MMWR 2000;49(RR-9):1-35

PCV recommendations
Doses at 2, 4, 6, months of age Booster dose at 12-15 months of age First dose as early as 6 weeks Minimum interval of 4 weeks between first 3 doses At least 8 weeks between dose 3 and dose 4 Unvaccinated children >7 months of age require fewer doses

MMWR 2000;49(RR-9):1-35

IPD by age & year-children <5 years, 1998-2003*

250

Age group

Cases/100,000 population

200 150 100

1 yr <1 yr

2 yrs
50 0

3 yrs 4 yrs
1998 1999 2000 2001 2002 2003

Year *2003 data are preliminary. Source: Active Bacterial Core Surveillance/EIP Network

Effect of infant PCV7 vaccination


Children <2 years: 94% reduction of invasive PCV7 disease in 5 years Oldman >65 years: 75% reduction of pneumococcal disease due to a heard effect Antibiotic resistant strain have decreased Reduced ethnic disparity in disease risk Increase in non PCV7 serotypes has caused concern

PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA

LATAR BELAKANG

PENYAKIT ISPA SEBAGAI KEDARURATAN KESEHATAN YANG MERESAHKAN DUNIA


(PHEIC-PUBLIC HEALTH EMERGENCY INTERNATIONAL CONCERN)

TAHUN
1918 1957 1968 2003

ISPA-PHEIC
FLU SPANYOL (A H1N1)-KEMATIAN 40-50 JUTA JIWA FLU ASIA (A H2N2)- KEMATIAN 4-5 JUTA JIWA FLU HONGKONG (A H3N2)-KEMATIAN SATU JUTA JIWA SARS-SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME

2005-SEKARANG
2009

FLU BURUNG H5N1


PANDEMI INFLUENZA A BARU H1N1-DERAJAT KEPARAHAN SEDANG

PANDEMI INFLUENZA JARANG TERJADI TETAPI CENDERUNG BERULANG

PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA

ANALISIS SITUASI

ESTIMASI KASUS DI INDONESIA


(Perkiraan jumlah penduduk 220.000.000)

> 2% = >1.320.000

PANDEMI: Dengan & Tanpa Kesiagaan


PUNCAK PANDEMI
Kasus Harian 1 MUNDUR DEKOMPRESI BEBAN PUNCAK KASUS RENDAH DAMPAK BURUK KURANG

RENDAH

TANPA INTERVENSI DENGAN INTERVENSI

Waktu mulai kasus pertama


Iwan MM

PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA

TUJUAN & SASARAN


DYAH A.R.

TUJUAN UPAYA PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA


Tersusunnya Rencana Kontijensi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza di seluruh propinsi dan kabupaten/kota sampai dengan akhir tahun 2014. Tersedianya pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza di seluruh propinsi dan kabupaten/kota sampai dengan akhir tahun 2014. Tersedianya pedoman Respons Nasional Penanggulangan Pandemi Influenza di seluruh propinsi dan kabupaten/kota sampai dengan akhir tahun 2014.
DYAH A.R.

SASARAN UPAYA PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA


Pengambil keputusan di pemerintah pusat, daerah propinsi dan kabupaten/kota
Petugas sektor terkait di institusi pusat, propinsi dan kabupaten/kota
DYAH A.R.

Kewaspadaan Kasus Influenza A (H7N9) dan Novel Corona Virus

Kewaspadaan Kasus Influenza A H7N9

INFLUENZA TYPE A (H7N9)


Telah terjadi wabah virus Avian Influenza sub tipe influenza A H7N9 yang sifatnya zoonosis di China, meskipun sifatnya low pathogen pada unggas. Data WHO sampai dengan 29 Mei 2013 wabah tersebut telah menyebabkan 132 orang terinfeksi dengan kematian 37 orang (CFR 28%) Virus flu burung H7N9 selama ini tidak pernah menginfeksi manusia dan mamalia, eksklusif hanya menginfeksi unggas. Penjelasan yang mungkin mengapa sekarang virus flu burung H7N9 menginfeksi manusia atau mamalia adalah terjadinya mutasi yang mungkin terjadi saat migrasi musim semi unggas air di sekitar Danau Qinghai.

SITUASI TERKINI KASUS AI (H7N9) PADA MANUSIA(2) PER 17 MEI 2013 sumberWHO
Virus ini ditemukan pada unggas di pasar unggas hidup Shanghai belum diketahui dengan pasti bagaimana cara virus ini menginfeksi manusia (mode of transmission) manusia.

Genetik virus pada manusia sama dengan genetik virus pada unggas.

INFLUENZA TYPE A (H7N9)


Sebaran kasus berasal dari 8 Provinsi dan 2 Kota di China serta 1 kasus berasal dari Taipei, Taiwan ; Anhui (4 kss), Fujian (6 kss), Zhejiang (46 kss), Shandong (2 kss), Jiangxi (5 kss), Henan (4 kss), Jiangzu (26 kss), Hunan (2 kss), Beijing City (2 kss), Shanghai City (34 kss) dan Taipei, Taiwan (1 kss) Dari manusia yang tertular virus H7N9 di China terdapat 2 cluster keluarga. Hasil uji puluhan kontak erat kasus H7N9 pada manusia oleh Otoritas Kesehatan Shanghai mendapatkan bahwa tidak ada satu pun yang positif terinfeksi. Dengan demikian, tidak terbukti adanya penularan antar manusia.

INFLUENZA TYPE A (H7N9)


Virus Influenza A (H7N9) tersebut kemungkinan dapat berasal dari unggas karena telah ditemukan unggas yang positif virus Influenza A (H7N9) yakni pada burung dara yang mati di pasar Shanghai, kemudian menyusul pada burung puyuh di pasar unggas Huangzhou serta ayam dengan tanda subklinis Penyakit ini diklasifikasikan dalam Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI), yang berbeda dengan virus Influenza A (H5N1) yang tergolong Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI)

Menteri Pertanian telah meterbitkan Peraturan Pertanian No.44/Permentan/OT.140/4/2013 tanggal 10 April 2013 tentang Penghentian Pemasukan Unggas dan/atau Produk Unggas dari Negara Cina ke Indonesia Memperhatikan sifat virus AI H7N9 dan virus AI lainnya yang masih akan terus mengalami mutasi antigenik dan genetik Peran dan koordinasi Balai Besar Penelitian Veteriner dengan instansi terkait lainnya untuk melaksanakan berbagai penelitian monitoring dinamika guna meningkatkan kewaspadaan dini dan kesiagaan darurat terhadap risiko penyebaran virus H7N9 tersebut pada unggas di Indonesia

INFLUENZA TYPE A (H7N9)

Gejala klinis H7N9


Gejala utama H7N9 : Pnemoni berat,

demam,
batuk, sesak napas, Riwayat dari daerah terjangkit

Analisis Kasus Influenza A (H7N9)

CASE
Clinical features of the 4 case-patients .All case-patients were 58- to 73-year-old married men, farmers or retirees, and longterm residents of Shanghai (Fengxian, Baoshan, Songjiang, and Pudong districts, respectively). Case-patient 1 had a history of coronary heart disease and hepatic schistosomiasis; case-patient 2 had no history of chronic disease; case-patient 3 had a history of hypertension and gout; and case-patient 4 had a history of hypertension and repetitive cough for >10 years during spring and autumn. Case-patient 1 raised chickens at home. Case-patients 24 had no clear history of close contact with poultry; however, each had visited various farmers markets that sold live poultry. None of the patients raised pigeons or live in or near a heavily pigeon-infested area.

Before being transferred to SHPHCC on April 6, 2013 (patients 1 and 2) and April 7, 2013 (patients 3 and 4), the 4 patients had been treated in local hospitals; infection with influenza A(H7N9) virus had been confirmed by real-time reverse transcription PCR of nasopharyngeal swab samples before transfer. The case-patients had cough and fever and had been expectorating sputum for 67 days before admittance to SHPHCC. In addition, all had experienced cold-like symptoms and fatigue before influenza-like symptoms developed. Casepatient 4 had cough and fever for 18 and 10 days, respectively, before being transferred to SHPHCC; his case was the most serious of the 4, and the disease progressed rapidly after he was transferred to SHPHCC.

Perbedaan antara Avian Influenza A(H7N9) dan Novel Corona virus


INFLUENZA A(H7N9)
Kasus ditemukan pd musim semi 2013 131 kasus,36 meninggal Di China Klaster kecil penularan dari orang ke orang belum dapat disingkirkan. Tersedia Neuraminidase Inhibitor Pengembangan vaksin dalam proses tetapi belum diputuskan diproduksi.

NOVEL CORONA VIRUS


Kasus ditemukan pd musim semi 2012 41 kasus, 20 meninggal Arab Saudi. Jordania, Qatar, Uni Emirat Arab,Inggris, Perancis dan German Beberapa klaster menunjukkan penularan terbatas dari manusia ke manusia dan tidak berkelanjutan. Perawatan umum,tetapi tak ada obat spesifik dan tak ada vaksin

Persamaan antara Avian Influenza A (H7N9) dan Novel Corona virus


Keduanya alamiah pada hewan Kasus sporadis dan terdapat klaster Tak terjadi KLB yang meluas di masyarakat. Terbanyak Penyakit Saluran Pernafasan Berat/ISPA Berat dan Fatal Terbanyak menyerang lelaki kelompok umur sama atau lebih 50 tahun

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


1. Membuat Surat Edaran Kewaspadaan Dirjen PP dan PL mengenai kewaspadaan kasus Influenza A (H7N9) kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah Sakit, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan di seluruh Indonesia dengan melakukan langkah2 sbb:

a. Melakukan pengamatan ketat dan respon dini terhadap kasus Influenza Like Illness dan Severe Acute Respiratory b. Melakukan tindak lanjut pengambilan dan pengiriman spesimen pada kesempatan pertama pada setiap kasus suspek Flu Burung yang ditemukan dan memberikan pertolongan/pengobatan dan atau rujukan secepatnya.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


c. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluarga atau tetangga yang sakit dengan gejala seperti demam, batuk/pilek, dan sesak napas, namun tidak perlu menimbulkan kepanikan bagi masyarakat. d. Melaporkan kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI bila menemukan kasus dengan gejala seperti pada kasus Flu burung melalui sarana Posko KLB: Telepon 021- 4257125 atau 021-36840901 SMS 021-36840901 Surel poskoklb@yahoo.com

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


2. Surat Dirjen PP dan PL kepada Dirjen BUK, mengenai kesiapsiagaan penyakit influenza (H7N9). 3. Pemasangan Banner mengenai kesiapsiagaan H7N9 di seluruh pintu masuk negara 4. Berkoordinasi dengan Pusat BTDK, Litbangkes dan CDC terkait kesiapan pemeriksaan Laboratorium. 5. Koordinasi dengan WHO Jakarta dan WHO Geneva utk update situasi.

6. Penguatan koordinasi lintas sektor terkait, bersamaan dengan pertemuan 4 Way Linking Human-Animal interface Epidemiologi - Laboratorium)

Rekomendasi WHO
1. Jika pada pemeriksaan laboratorium PCR ditemukan virus influenza A unsubtypable (negatif H1,H3 dan H5), harus segera dikirim ke WHO Collaborating Centre untuk analisis lebih lanjut 2. Kasus influenza A unsubtypable harus dilaporkan ke WHO melalui National Focal Point International Health Regulations (IHR) 2005 3. Strategi pengamatan/surveilans terhadap kasus H7N9 sama seperti yang dilakukan terhadap kasus H5N1

Rekomendasi WHO (2)


4. Perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya influenza pada pasien dengan penyakit pernafasan akut yang parah 5. Standar/pedoman pengendalian infeksi dan Pelacakan kontak (contact tracing) 6. Perlu ditingkatkan pengamatan kasus pada pasien Severe Acut Respiratory Infection (SARI) dan terhadap petugas kesehatan/perawat yang merawat pasien SARI 7. WHO tidak menyarankan dilakukan skrining khusus di pintu masuk (bandara,pelabuhan) dan tidak merekomendasikan untuk melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan

KEWASPADAAN & KESIAPSIAGAAN DI PINTU MASUK NEGARA


Pengamatan orang (kru dan penumpang) dengan gejala demam, batuk, kesulitan bernapas, terutama dari negara terjangkit Pemantauan perkembangan kasus Penguatan surveilans berbasis kejadian Persiapan Logistik : Health Alert Card (HAC), Alat Pelindung Diri (APD), obat (Oseltamivir), Disinfektan Rumah Sakit rujukan Penguatan jejaring kerja Diseminasi informasi ( lintas sektor, masyarakat) Promosi kesehatan Penggunaan masker bagi orang yang sakit (agar tidak menular ke yang sehat)

Genetic Evolution of H7N9 Virus in China

This diagram depicts the origins of the H7N9 virus from China and shows how the virus's genes came from other influenza viruses in birds

Electron Micrograph Images of H7N9 Virus from China

H7N9 infections in people and poultry in China Sporadic infections in humans; many with poultry exposure No sustained or community transmission Investigation ongoing

Kewaspadaan novel Corona Virus

NOVEL CORONA VIRUS


Terdapat peningkatan kasus novel Corona virus yang dilaporkan ke WHO dari berbagai negara. Terhitung sejak September 2012 sampai dengan tanggal 14 Juni 2013 jumlah total kasus sebanyak 61, dengan 34 kematian (CFR 57%). Rincian kasus berasal dari negara; Saudi Arabia, Jordania, Qatar, United Kingdom, Uni Emirat Arab, Perancis, Jerman, Tunisia, dan Italia. Terdapat 3 klaster yang dilaporkan ; 2 klaster dari Saudi Arabia,1 Klaster dari Jordania, dan 1 klaster dari Tunisia. Hal ini menunjukkan kemungkinan penularan dari manusia ke manusia atau alternatif lain karena terpapar dari sumber yang sama.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


1. Membuat Surat Edaran Kewaspadaan Dirjen PP dan PL mengenai kewaspadaan kasus Novel Corona Virus kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah Sakit Vertikal, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan, di seluruh Indonesia dengan melakukan langkah2 sbb: a. Meningkatkan surveilans terhadap kasus Severe Acut Respiratory Infection (SARI) yang mungkin ditemukan di masyarakat khususnya pada kasus klaster (cluster).

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


d. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas khususnya bagi jemaah umrah untuk selalu menjaga kesehatannya dan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluarga atau tetangga yang sakit dengan gejala seperti tersebut di atas, serta selalu melaksanakan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), namun tidak perlu menimbulkan kepanikan bagi masyarakat. e. Agar Segera melaporkan kepada Ditjen PP dan PL, Kementerian Kesehatan RI bila menemukan kasus dengan gejala seperti tersebut diatas melalui sarana POSKO KLB:
Telepon 021-4257125 atau 021-36840901 SMS 021-36840901 Email : poskoklb@yahoo.com

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


2. Surat Edaran Dirjen PP dan PL Kepada Dinas Kesehatan Provinsi mengenai Kewaspadaan Novel Corona Virus bagi Jemaah Umrah, agar memberikan informasi dan penyuluhan seputar nCoV dan pencegahan umum kepada calon jemaah umrah berupa : a. Agar selalu menjaga kesehatan dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), antara lain: Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir Menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan atau lengan baju bagian dalam bila batuk atau bersin.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


b. Segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan bila ada jemaah umroh dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas (sesak, napas pendek). c. Segera melaporkan bila menemukan jemaah umroh dengan gejala sakit di atas kepada POSKO KLB Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI: Telepon : +6221-4257125 atau +6221-36840901 SMS : +622136840901

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


3. Surat Dirjen PP dan PL kepada Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) agar memberikan informasi dan penyuluhan seputar nCoV dan pencegahan umum kepada TKI berupa a.Agar selalu menjaga kesehatan dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga kesehatan, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan jangan merokok.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


b. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum, selama dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, menangani hewan/bangkai hewan, saat tangan kotor dan setelah mengunjungi orang sakit; c. Menutup hidung dan mulut dengan masker, tisue/sapu tangan atau lengan baju bila batuk atau bersin. Buang tisue yang telah terpakai di tempat sampah tertutup; d. Segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan bila mengalami sakit dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas (sesak, napas pendek).

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN


4. Berkoordinasi dengan Pusat BTDK, Litbangkes dan CDC terkait kesiapan pemeriksaan Laboratorium. 5. Koordinasi dengan WHO Jakarta dan WHO Geneva utk update situasi.

Rekomendasi WHO
1. Perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya novel corona virus pada pasien dengan penyakit pernafasan akut yang parah 2. Perlu ditingkatkan pengamatan kasus pada pasien Severe Acut Respiratory Infection (SARI) dan terhadap petugas kesehatan/perawat yang merawat pasien SARI 3. Standar/pedoman pengendalian infeksi dan Pelacakan kontak (contact tracing)

Rekomendasi WHO
4. Upaya identifikasi sumber virus, pajanan, dan cara transmisi harus dilakukan secara multisektor dan melibatkan veteriner, otoritas keamanan pangan, kesehatan lingkungan, selain otoritas kesehatan masyarakat. 5. Kasus konfirmasi dan probable dilaporkan dalam waktu 24 jam setelah klasifikasi ditetapkan kepada WHO, melalui National Focal Point International Health Regulations (IHR) 2005

KEWASPADAAN & KESIAPSIAGAAN DI PINTU MASUK NEGARA


Pengamatan orang (kru dan penumpang) dengan gejala demam, batuk, kesulitan bernapas, terutama bagi jemaah Umrah atau negara terjangkit Pemantauan perkembangan kasus Penguatan surveilans berbasis kejadian Persiapan Logistik : Health Alert Card (HAC), Alat Pelindung Diri (APD), dan obat-obatan Rumah Sakit rujukan Penguatan jejaring kerja Diseminasi informasi ( lintas sektor, masyarakat) Promosi kesehatan

Selalu

Waspada !

Detect

Respon !

CORDINATION !!!

INFO PENTING
POSKO KLB: 021- 4257125 / 02136840901 (Telp/SMS) Email : poskoklb@yahoo.com SMS Gateway: 085 7645 99996 / 085 7645 99997 Homepage Kementerian Kesehatan RI : www.depkes.go.id Homepage Ditjen PP dan PL : www.pppl.depkes.go.id Info Penyakit Menular Lokal :

139