Anda di halaman 1dari 20

TRAUMA PELVIS

KELOMPOK A5
Ketua Sekretaris Anggota : Brenda karina : M Irvan Dwi Fitra : Ayu Wijayanti Erdika Satria Wahyuono Alfun Iqbal Ciko Permata Cut Vanessa Muly Cyndita Pranesya Ismail Gunawan Latifatun Nikmah 1102010052 1102010154 1102009049 1102009098 1102010014 1102010055 1102010061 1102010057 1102010133 1102010149

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2012/2013

TRAUMA PELVIS
Seorang laki-laki, 22 tahun datang ke UGD RS dengan nyeri perut setelah mengalami kecelakaan lalu lintas terjatuh dari sepeda motor 30 menit yang lalu. Pemeriksaan fisik: tanda-tanda Vital: Airway: baik, Breathing: frekuensi nafas 30 x/menit, Ciculation: tekanan darah 90/50 mmHg, denyut nadi 110 x/menit. GCS: E3M4V4. Status Lokalis: Regio Orbita Dextra: Inspeksi : Visus : 1/60 dan tak terkoreksi ; Haematoma palpebra ; Conjunctiva bulbi : injeksi siliaris (+), oedem kornea, darah di COA/BMD Pupil : bulat, reflex cahaya (+) Fundus : sulit di evaluasi TIO : normal per palpasi. Regio Pelvis : Inspeksi : Jejas di daerah suprapubic, bulging (-), haematoma (+) Palpasi : defans muskuler (+)

TRAUMA PELVIS

TRAUMA BULI-BULI

TRAUMA URETRA

TRAUMA ORBITA

KESADARAN

ETIOLOGI DEFINISI
Trauma pelvis adalah terjadinya gangguan pada struktur tulang pelvis, termasuk tulang pinggul , sakrum dan tulang ekor. Merupakan 5 % dari seluruh fraktur 2/3 trauma pelvis terjadi akibat kecelakaan lalu lintas 10% diantaranya disertai trauma pada alat alat dalam rongga panggul seperti uretra, buli buli, rektum serta pembuluh darah Patah tulang pelvis harus dicurigai apabila ada riwayat trauma yang menekan tubuh bagian bawah atau apabila terdapat luka serut, memar, atau hematom di daerah pinggang, sacrum, pubis atau perineum.

Dengan makin meningkatnya kecelakaan lalu lintas mengakibatkan dislokasi sendi panggul sering ditemukan. Dislokasi panggul merupakan suatu trauma hebat. Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada ramus pubis.

TILE
Tipe A/stabil; avulsi &fraktur, sedikit atau tanpa pergeseran.
A1 : tidak mengenai cincin A2 : pergeseran cincin yang minimal

KLASIFIKASI
Fraktur yang terisolasi dengan cincin pelvis yang utuh:
Fraktur avulsi Sepotong tulang tertarik oleh kontraksi otot yang hebat. Fraktur ini biasanya ditemukan pada olahragawan dan atlet. Fraktur langsung Pukulan langsung pada pelvis, biasanya setelah jatuh dari tempat tinggi Fraktur-tekanan Fraktur pada rami pubis cukup sering ditemukan dan sering dirasakan tidak nyeri. Pada pasien osteoporosis dan osteomalasia yang berat.

Tipe B: rotasi tidak stabil tapi secara vertikal stabil. Daya rotasi eksternal, membuka simfisis (open book) atau daya rotasi internal, tidak ada pembukaan simfisis (close book).
B1 : open book B2 : kompresi lateral ipsilateral B3 : kompresi lateral kontralateral (bucket-handle)

Tipe C: rotasi dan vertical tak stabil, kerusakan pada ligament posterior yang keras, mungkin juga terdapat fraktur acetabulum.
C1 : unilateral C2 : bilateral C3 : disertai fraktur asetabulum

Young-Burgess
Kompresi Anterior-Posterior (APC) Kompresi Lateral (LC)
Disebabkan oleh tubrukan anterior terhadap pelvis, sering mendorong ke arah diastase simfisis pubis. Ada cedera open book yang menganggu ligamentum sacroiliaca anterior seperti halnya ligamentum sacrospinale ipsilateral dan ligamentum sacrotuberale Terjadi akibat dari benturan lateral pada pelvis yang memutar pelvis pada sisi benturan ke arah midline. Ligamentum sacrotuberale dan ligamentum sacrospinale, serta pembuluh darah iliaca interna, memendek dan tidak terkena gaya tarik. Sering terjadi disrupsi pembuluh darah besar.

Shear Vertikal (SV)


Mekanisme Kombinasi (CM)

Terjadi pemindahan vertikal hemipelvis yang dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah. Meliputi faktor pelvis berkekuatan tinggi yang ditimbulkan oleh kombinasi dua vektor tekanan terpisah

Klasifikasi fraktur pelvis Young-Burgess. A, kompresi anteroposterior tipe I. B, kompresi anteroposterior tipe II. C, kompresi anteroposterior tipe III. D, kompresi lateral tipe I. E, kompresi lateral tipe II. F, kompresi lateral tipe III. G, shear vertikal. Tanda panah pada masing-masing panel mengindikasikan arah tekanan yang menghasilkan pola fraktur.

PATOFISIOLOGI
Trauma dislokasi
Posterior: karena kecelakaan lalu lintas, kaput femur dipaksa keluar ke belakang asetabulum melalui suatu trauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi pinggul dalam posisi fleksi atau semi fleksi. 50% dislokasi disertai fraktur pada pinggir asetabulum dengan fragmen kecil atau besar. Sentral: kaput femur terdorong ke dinding medial asetabulum pada rongga panggul. Disini kapsul tetap utuh. Fraktur asetabulum terjadi karena dorongan yang kuat dari lateral atau jatuh dari ketinggian pada satu sisi atau suatu tekanan yang melalui femur dimana keadaan abduksi. Didapatkan perdarahan dan pembengkakan di daerah tungkai bagian proksimal tetapi posisi tetap normal. Nyeri tekan pada daerah trokanter. Gerakan sendi panggul sangat terbatas.

MANIFESTASI KLINIS
Tampak jejas/hematoma pada abdomen bagian bawah. Nyeri tekan didaerahsuprapubik ditempat hematoma. Pada cidera tipe A:
tidak syok berat nyeri bila berusaha berjalan. nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada viscera pelvis. Foto polos pelvis dapat mempelihatkan fraktur.

DIAGNOSIS
Pemeriksaan radiologis:
Rongent posisi AP. Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan eksterna bila keadaan umum memungkinkan.

Pemeriksaan urologis dan lainnya:


Kateterisasi Ureterogram Sistogram retrograd dan postvoiding Pielogram intravena Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal

Pada cidera tipe B dan C:


syok berat,sepsis sangat nyeri dan tidak dapat berdiri, tidak dapat kencing. Darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapt bersifat local tapi sering meluas Salah satu kaki mungkin mengalamai anastetik sebagian karena mengalami cidera saraf skiatika. Kerusakan visceral Perdarahan di dalam perut dan retroperitoneal

TATALAKSANA
Berdasarkan klasifikasi Tile:
Fraktur Tipe A: istirahat ditempat tidur dikombinasikan dengan traksi tungkai bawah. 4-6 minggu kemudian:Penopang. Fraktur Tipe B:Fraktur tipe openbook Jika celah kurang dari 2.5cm, istirahat ditempat tidur, kain gendongan posterior atau korset elastis. Jika celah lebih dari 2.5cm, baringkan pasien dengan cara miring dan menekan ala ossis ilii menggunakan fiksasi luar dengan pen Fraktur tipe closebook Bedrest 6 minggu tanpa fiksasi, bila ada perbedaan panjang kaki melebihi 1.5cm atau terdapat deformitas pelvis yang nyata maka perlu dilakukan reduksi dengan menggunakan pen pada krista iliaka. Fraktur Tipe C: reduksi dengan traksi kerangka yang dikombinasikan fiksator luar,bedrest 10 minggu. Kalau redu ksi belum tercapai, maka dilakukan reduksi terbuka dan ikat dengan satu atau lebih plat kompresi dinamis.

Metode
Military Antishock Trousers Pengikat dan Sheet Pelvis Fiksasi Eksternal Anterior Standar C-Clamp Angiografi Balutan Pelvis Resusitasi Cairan Produk-produk Darah dan Rekombinan Faktor VIIa

KOMPLIKASI
Komplikasi segera Trombosis vena ilio femoral Robekan kandung kemih Robekan uretra Trauma rektum dan vagina Trauma pada saraf Lesi saraf skiatik Lesi pleksus lumbosakralis Komplikasi lanjut Pembentukan tulang heterotrofik Nekrosis avaskuler Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder

Pengikat dan Sheet Pelvis

PROGNOSIS
Teknik pembalutan retroperitoneal

60% mortalitas pada keseluruhan atau sebagai bagian dari fraktur pelvis.

DEFINISI
Kontusio/ruptur kandung kemih karena rudapaksa dari fraktur pelvis.Pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada buli-buli dengan hematuria tanpa ekstravasasi urin

PATOFISIOLOGI
Ruptur buli buli dapat bersifat intraperitoneal atau ekstraperitoneal Ruptura ekstraperitoneal biasanya terjadi oleh karena fragmen dari fraktur pelvis menusuk buli buli sehingga perforasi. Hal ini mengakibatkan terjadi ekstravasasi urin di rongga perivesikal Ruptura intraperitoneal terjadi bila buli buli dalam keadaan penuh dan terjadi trauma langsung pada daerah abdomen bawah (direct blow). Pada kasus ini, akan terjadi gejala gejala peritonitis

ETIOLOGI
2% trauma urogenital, 90% trauma tumpul fr.pelvis TRAUMA TAJAM TRAUMA TUMPUL TRAUMA IATROGENIK :
partus yang lama

operasi di daerah pelvis tindakan endourologi (reseksi buli-buli transurethral) SPONTAN : TB , TUMOR BULI

KLASIFIKASI
Kontusio buli-buli :memar pada dinding Cedera buli-buli ekstraperitoneal: trauma pada saat buli-buli kosong. Cedera buli-buli intraperitoneal: trauma langsung pada saat buli-buli sedang terisi penuh

MANIFESTASI KLINIS
Kontusio buli-buli : nyeri tekan suprapubik, hematuria, Sulit dibedakan dengan laserasi buli-buli atau rupture uretra intra pelvis. Rupture buli-buli ekstraperitoneal: Nyeri,pekak pada perkusi suprapubik, nyeri tekan krista iliaka(menunjukkan fraktur) Rupture buli-buli intraperitoneal : Kembung,timbul tanda rangsang peritoneum, nyeri suprapubik.

TATALAKSANA
KONTUSIO BULI : PEMASANGAN KATETER. TRAUMA INTRA PERITONEAL EKSPLORASI LAPAROTOMI. TRAUMA EKSTRA PERITONEAL REPAIR BULI ( Bladder Neck) PEMASANGAN KATETER

DIAGNOSIS
foto pelvis/foto polos perut BNO-IVP Pemeriksaan Sistogram: beri kontras ke kandung kemih 300-400ml, lalu foto antero-posterior pada waktu pengisian kontras dan kemudian dibuat foto lagi ketika kandung kemih sudah kosong
Jika tidak ditemukan ekstravasasi berarti kontusio buli buli Jika ada gambaran ekstravasasi terlihat seperti nyala api pada daerah perivesikal berarti ruptur ekstraperitoneal Jika terlihat kontras masuk kedalam abdomen berarti ruptur intraperitoneal

KOMPLIKASI
Abses pelvik, bila urin terinfeksi Inkontinensia partial: bila laserasi sampai ke leher buli buli Peritonitis

DEFINISI
Ruptur pada uretra terjadi langsung akibat fraktur tulang panggul, os pubis (simpiolisis), ruptut urethra biasanya terjadi pada pria dan jarang terjadi pada wanita.

ETIOLOGI
Cedera luar. Cedera iatrogenic(instrumentasi):kateter. Trauma tumpul ruptur fraktur pelvis Trauma tumpul selangkangan/straddle injury

KLASIFIKASI
Trauma uretra posterior: proksimal diafragma urogenital. Trauma uretra anterior: distal diafragma urogenital.

PATOFISIOLOGI
Uretra Posterior: fraktur tulang pelvis merobek pars membranasea (prostat & uretra prostatika tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra membranosa terikat didifragma urigenital). Pada rupture total, uretra terpisah seluruhnya,ligamentum puboprostatikum robek:buli-buli dan prostat lepas ke krania. Uretra anterior: bila rupture uretra + korpus spongiosum :hematoma penis. Jika fascia buck robek, darah menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen (butterfly hematoma).

MANIFESTASI KLINIS
Uretra Posterior tidak bisa kencing sakit pada perut bagian bawah Darah menetes dari urethra PF: fraktur pelvis dan nyeri suprapubik Colok dubur: floating prostat) Trias rupture uretra posterior : bloody discharge, retensi urin, floating prostat

Uretra Anterior Riwayat jatuh dari tempat yang tinggi Riwayat instrumentasi + darah Nyeri daerah perineum hematoma prostat Retensio urine
Trias ruptur uretra anterior : bloody discharge, retensio urin, dan hematom/ jejas peritoneal/ urin infiltrat

DIAGNOSIS
Colok dubur: prostat mengapung karena tidak terfiksasi pada diagram urogenital / tidak teraba karena pindah ke kranial. Hati- hati fragmen tulang dapat mencederai rektum Pemeriksaan radiologi: uretrogram retrogad LAB: anemia, urin tidak ada karena retensi

Sleeve Hematom

TATALAKSANA
Bisa kencing(hanya kontusio) : observasi, 4-6 bulan kemudian uretrografi ulang Ruptur : Sistosomi 1 bulan 3 bulan uroflometri & uretrografi. Striktura, lakukan sachse.

Floating Prostat

KOMPLIKASI
Perdarahan infeksi/sepsis Striktura urehtra

Butterfly Hematom

DEFINISI
Terdapatnya darah dalam bilik mata depan yang berasal dari pembuluh darah iris dan badan siliar yang pecah yang dapat terjadi akibat trauma ataupun secara spontan

KLASIFIKASI
Waktu : Hifema primer: segera s/d hari ke 2 Hifema sekunder:hari ke 2-5 Grade: Grade I: sepertiga COA. Grade II: 1/3 sampai 1/2 COA. Grade III: hampir total COA. Grade IV: seluruh COA. Penyebab: Hifema traumatik Hifema iatrogenik Hifema spontan

ETIOLOGI
Hifema traumatik: Trauma tumpul yang menghantam bagian depan mata Hifema iatrogenik: komplikasi dari proses medis, seperti proses pembedahan. Hifema spontan: Neovaskularisasi:diabetes melitus, iskemi,sikatriks Neoplasma:retinoblastoma Obat: aspirin,warfarin Gangguan hematologi: leukimia, hemofilia

Klasifikasi derajat keparahan

PATOFISIOLOGI
Trauma tumpul kornea atau limbus ->tekanan yang sangat tinggi -> penyebaran tekanan ke cairan badan kaca dan jaringan sklera yang tidak elastis -> perenggangan dan robekan kornea, sklera sudut iridokornea, badan siliar >perdarahan. Perdarahan sekunder -> resorbsi dari pembekuan darah cepat ->pembuluh darah tidak mendapat waktu yang cukup untuk meregenerasi kembali ->perdarahan lagi. Sebagian darah dikeluarkan dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat hemosiderin berlebihan di dalam bilik mata depan, menimbulkan kekeruhan kornea terutama di bagian sentral sehingga terjadi perubahan warna kornea menjadi coklat (imbibisi kornea).

MANIFESTASI KLINIS
penurunan visus glaukoma sekunder nyeri pada mata fotofobia (tidak tahan terhadap sinar) Blepharospasme lethargia, disorientasi, somnolen. Nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair. Penglihatan ganda edema palpebra Midriasis sukar melihat dekat.

DIAGNOSIS

Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen Slit Lamp Biomicroscopy Pemeriksaan oftalmoskopi Tes provokatif Tonometri USG untuk menyingkirkan adanya perdarahan vitreus atau ablasi retina Skrining sickle cell X-ray, CT-Scan orbita

TATALAKSANA
Konservatif Istirahat baring penuh dengan elevasi kepala 30o. mengurangi nyeri -> parasetamol. mengurangi tekanan intraokular ->kortikosteroid, timolol (antagonis reseptor beta), latanoprost (analog prostaglandin), brimonidin (agonis reseptor 2 tipe perifer Diet makanan cair atau lunak agar tidak banyak mengunyah dan defekasi mudah dan sedikt. Pemberian analgesik, apabila dirasakan nyeri yang ringan dapat diberikan asetaminofen, atau nyeri yang cukup berat dapat diberikan kodein. Tunggu 24 jam. Bila tekanan intraokular menurun atau normal, pengobatan diteruskan. Bila tekanan intraokular tetap tinggi lakukan parasentesis. Paresentesis sebaiknya dilakukan di spesialis mata. Indikasinya : Terdapat glaucoma sekunder akibat hifema. Hifema yang penuh dan berwarna hitam. Bila setelah 5 hari tidak ada tanda-tanda hifema akan berkurang Indikasikan rawat inap jika: Pasien mengalami hifema derajat Ii atau lebih, sebab berpotensi terjadinya perdarahan sekunder Merupakan sickle cell trait Terjadi trauma tembus okuli Pasien yang tidak patuh terhadap pengobatan Pasien yang memiliki riwayat glaukoma

KOMPLIKASI
Peningkatan tekanan intraokular secara akut, (glaukoma traumatik) Atrofi optik, terutama akibat glaukoma traumatik Perdarahan ulang atau perdarahan sekunder Sinekia posterior Sinekia anterior(hifema yang lebih dari sembilan hari) Corneal blood staining, yakni adanya deposisi dari hemoglobin dan hemosiderin pada stroma kornea akibat keberadaan darah hifema total yang umumnya disertai dengan peningkatan tekanan intraokular. Corneal blood staining dapat menghilang, namun memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun lamanya. Glaukoma kronik

PROGNOSIS
hifema grade I : 80% min. visus 6/12. Hifema grade II : 60% min. visus 6/12 hifema total : 35% min. visus 6/12.

papil atrofi

Corneal blood staining

DEFINISI

ETIOLOGI
Cedera luar. Cedera iatrogenic(instrumentasi):kateter. Trauma tumpul ruptur fraktur pelvis Trauma tumpul selangkangan/straddle injury

KLASIFIKASI
Trauma uretra posterior: proksimal diafragma urogenital. Trauma uretra anterior: distal diafragma urogenital.

PATOFISIOLOGI
Uretra Posterior: fraktur tulang pelvis merobek pars membranasea (prostat & uretra prostatika tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra membranosa terikat didifragma urigenital). Pada rupture total, uretra terpisah seluruhnya,ligamentum puboprostatikum robek:buli-buli dan prostat lepas ke krania. Uretra anterior: bila rupture uretra + korpus spongiosum :hematoma penis. Jika fascia buck robek, darah menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen (butterfly hematoma).

MANIFESTASI KLINIS
Uretra Posterior tidak bisa kencing sakit pada perut bagian bawah Darah menetes dari urethra PF: fraktur pelvis dan nyeri suprapubik Colok dubur: floating prostat) Trias rupture uretra posterior : bloody discharge, retensi urin, floating prostat

Uretra Anterior Riwayat jatuh dari tempat yang tinggi Riwayat instrumentasi + darah Nyeri daerah perineum hematoma prostat Retensio urine
Trias ruptur uretra anterior : bloody discharge, retensio urin, dan hematom/ jejas peritoneal/ urin infiltrat

DEFINISI
Suatu keadaan menyadari keadaan dirinya sendiri juga keadaan lingkungannya. berdasarkan dua hal Isi kesadaran (content) Keadaaan bangun (arousal) struktur anatomi yang bertanggung jawab terhadap sistem kesadaran. disebut dengan Ascending Reticular Activating System / ARAS atau lebih sering disebut Formatio Reticularis.

ETIOLOGI
istilah SEMENITE: Sirkulasi (stroke dan penyakit jantung) Ensefalitis (infeksi sistemik dan sepsis) Metabolik (hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, dna koma hepatikum) Elektrolit (diare dan muntah) Neoplasma (tumor otak baik primer maupun metastasis) Intoksikasi (obat atau bahan kimia) Trauma (a. trauma kapitis: komosio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural, b. trauma abdomen, c. trauma dada) Epilepsi (pasca serangan grand mal atau pada status epileptikus)

STRUKTUR PENGATUR KESADARAN


kesadaran terdapat didaerah pons, formasio retikularis daerah mesensefalon dan diensefalon. Lintasan non pesifik ini oleh Merruzi dan Magoum disebut diffuse ascending reticular activating system (ARAS). Melalui lintasan non pesifik ini, suatu impuls dari perifer akan menimbulkan rangsangan pada seluruh permukaan korteks serebri. Neuron-neuron di korteks serebri yang digalakkan oleh impuls asendens nonpesifik itu dinamakan neuron pengemban kewaspadaan, sedangkan yang berasal dari formasio retikularis dan nuklei intralaminaris talami disebut neuron penggalak kewaspadaan. Gangguan pada kedua jenis neuron tersebut oleh sebab apapun akan menimbulkan gangguan kesadaran.

PATOFISIOLOGI

a Posterior: fraktur tulang pelvis merobek pars branasea (prostat & uretra prostatika tertarik ke al bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra branosa terikat didifragma urigenital). Pada re total, uretra terpisah seluruhnya,ligamentum prostatikum robek:buli-buli dan prostat lepas ke a.

Koma kortikal - bihesmiferik

a anterior: bila rupture uretra + korpus giosum :hematoma penis. Jika fascia buck k, darah menjalar hingga skrotum atau ke ng abdomen (butterfly hematoma).