Anda di halaman 1dari 29

Case Report FAM

Kel 1

IDENTITAS
Nama : Nn. R A Usia : 20 tahun No.CM : 12654258 Jenis Kelamin : Perempuan BB : 42 kg Alamat :KP Cigaluh 002/001 Santanamekar Kel. Cisayong Kab. Tasikmalaya Diagnosis pre operasi: Fibro Adenoma Mammae Sinistra Jenis Operasi : Biopsi Ekstirpasi Jenis Anestesi : General Anestesi Tanggal masuk : 28-10-2012 Tanggal Operasi : 29-10-2012

Anamnesa
Keluhan utama : benjolan di payudara kiri Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke RSUD Tasikmalaya dengan keluhan benjolan di payudara sebelah kiri sejak 4 tahun yang lalu, keluhan yang dirasakan terus menerus membesar. Benjolan tidak dirasakan nyeri, namun bila di tekan pasien mengatakan nyeri pada benjolan tersebut.

Riwayat penyakit dahulu: Pasien mengeluhkan penyakit serupa sejak 4 tahun yang lalu yang dirasakan hilang timbul. R. Asma disangkal R. Alergi obat dan makanan disangkal R. DM disangkal R. Operasi sebelumnya disangkal

Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasien. Riwayat alergi: Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi terhadap debu dan udara dingin. Alergi makanan dan obatobatan (-). Riwayat pengobatan: Pasien pernah berobat ke dokter sebelumnya namun belum di lakukan operasi.

Keadaan Umum Kesadaran Berat Badan

: Tampak sakit ringan : Compos mentis : 42 kg / gizi kesan cukup

Tanda Vital T: 100/60 mmHg N : 80 x/menit RR : 22 x/menit S : 36 C

Status generalis Kepala : Normocephal Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Telinga : DBN Mulut : DBN Leher : pembesaran kelenjar limfe (-), tiroid tidak membesar, JVP tidak meningkat

Thorak : bentuk normal, simetris, cor dan pulmo dalam batas normal Abdomen : peristaltik (+) N, supel, NT (-), hepar dan lien tidak teraba Ekstremitas : akral hangat (+), edema (-) Status Lokalis mammae sinistra region kiri atas Inspeksi : Terlihat adanya benjolan, tidak terlihat kemerahan Palpasi : Teraba benjolan dengan diameter 4x3x2 cm, konsistensi kenyal, mobile, batas tegas, nyeri tekan(-), panas (-)

Pemeriksaan Penunjang
Hb Ht Leukosit Trombosit BT CT Gol. darah LED GDS : 12,5 g/dl : 37 % : 9600 : 262.000 : 1 : 3 : B : 17/29 : 85

Diagnosa
Fibroadenoma mammae sinistra KESIMPULAN Berdasakan pemeriksaan fisik, pasien diklasifikasikan dalam ASA (I) pasien dalam keadaan sehat yang memerlukan operasi.

PENATALAKSANAAN Terapi Operatif : Biopsi Eksterpasi dengan anastesi umum I. TINDAKAN ANESTESI (NARKOSE UMUM) a. Pre-operatif Persiapan Operasi Persetujuan operasi tertulis ( + ) Puasa 9 jam Pasang IV line Jenis Anestesi : General anestesi

Intra Operatif
Tindakan Operasi : Biopsi ektirpasi Tindakan Anestesi : Anestesi umum Teknik Anestesi : LMA, balance anesthesia, inhalasi, controlled respiration, semi closed Posisi : Supine Obat Anestesi : 1. Fentanyl : 1-3 g/kgBB 42126g100 g 2. Propofol : 2-2,5mg/kgBB 84-105mg100mg - LMA : 1. Tube: LMA 4 cuff (+)

Ventilasi :- Gas Flow : O2 3 L N2 O 3 L - TV : 252-336 ml - Volatile agent :sevofluran 1,5- 2 vol%

Langkah-langkah Anestesi
Jam 08.50 pasien masuk kamar operasi, saturasi dan monitor dipasang, pemberian premedikasi dengan ondansetron IV line 4 mg. Jam 09.00 dilakukan induksi dengan fentanyl 100 g dan propofol 100 mg, tunggu sampai pasien tertidur dan setelah reflek bulu mata menghilang segera kepala diekstensikan, face mask didekatkan pada hidung dengan O2 3l /menit, N2O 3l /menit, sevofluran 2 vol%, kemudian diinjeksikan Atracurium 20 mg melalui akses IV line sesudah pasien tenang dilakukan pemasangan LMA tube no. 4 cuff (+), balon LMA dikembangkan. Injeksi Dexametason 5 mg.

Jam 09.15 operasi dimulai dan tanda vital dimonitor tiap 5 menit. Kemudian diberikan infus RL 500cc. Jam 10.00 Ekstubasi setelah napas spontan normal kembali. Oksigen diberikan terus ( 5-6 L ) selama 2-3 menit. Operasi selesai penderita dipindah ke ruangan

TINJAUAN PUSTAKA
ANESTESI UMUM Dengan anestesi ini jalan nafas dapat terus dipertahankan dan nafas dapat dikontrol. LARINGEAL MASK AIRWAY (LMA) Hilangnya kesadaran induksi anestesihilangnya pengendalian jalan nafas dan reflex-reflex proteksi jalan nafas. LMA di insersi secara blind ke dalam pharing dan membentuk suatu sekat bertekanan rendah sekeliling pintu masuk laring.

Desain dan Fungsi


Laringeal mask airway ( LMA ) adalah alat supra glotis airway, didesain untuk memberikan dan menjamin tertutupnya bagian dalam laring untuk ventilasi spontan dan memungkinkan ventilasi kendali pada mode level (< 15 cm H2O) tekanan positif. Alat ini tersedia dalam 7 ukuran untuk neonatus, infant, anak kecil, anak besar, kecil, normal dan besar.

Macam-macam LMA
Clasic LMA Fastrach LMA Proseal LMA Flexible LMA

Clasic LMA
Merupakan suatu peralatan yang digunakan pada airway management yang dapat digunakan ulang dan digunakan sebagai alternatif baik itu untuk ventilasi facemask maupun intubasi ET

LMA Fastrach ( Intubating LMA )


Perbedaan utama antara LMA clasic dan LMA Fastrach yaitu pada tube baja, handle dan batang pengangkat epiglottic.

LMA Proseal
2 keuntungan yaitu: Tekanan seal jalan nafas yang lebih baik yang berhubungan dengan rendahnya tekanan pada mukosa dan terdapat pemisahan antara saluran pernafasan dengan saluran gastrointestinal,

Flexible LMA
Berguna pada pembedahan kepala dan leher, maxillo facial dan THT

Tehnik Anestesi LMA


Indikasi: Sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi ET untuk Airway management. LMA bukanlah suatu penggantian ET, ketika pemakaian ET menjadi suatu indikasi. Pada penatalaksanaan dificult airway yang diketahui atau yang tidak diperkirakan. Pada airway management selama resusitasi pada pasien yang tidak sadarkan diri.

Kontraindikasi
Pasien-pasien dengan resiko aspirasi isi lambung (penggunaan pada emergency adalah pengecualian ). Pasien-pasien dengan penurunan compliance sistem pernafasan, karena seal yang bertekanan rendah pada cuff LMA akan mengalami kebocoran pada tekanan inspirasi tinggi dan akan terjadi pengembangan lambung. Tekanan inspirasi puncak harus dijaga kurang dari 20 cm H2O untuk meminimalisir kebocoron cuff dan pengembangan lambung. Pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi mekanik jangka waktulama. Pasien-pasien dengan reflex jalan nafas atas yang intack karena insersi dapat memicu terjadinya laryngospasme.

Efek Samping
Paling sering ditemukan adalah nyeri tenggorok, dengan insidensi 10 % dan sering berhubungan dengan over inflasi cuff LMA. Efek samping yang utama adalah aspirasi.

Tehnik Induksi dan Insersi


Untuk melakukan insersi cLMA membutuhkan kedalaman anestesi yang lebih besar. Kedalaman anestesi merupakan suatu hal yang penting untuk keberhasilan selama pergerakan insersi cLMA dimana jika kurang dalam sering membuat posisi mask yang tidak sempurna. Sebelum insersi, kondisi pasien harus sudah tidak berespon dengan mandibula yang relaksasi dan tidak berespon terhadap tindakan jaw thrust. Tetapi, insersi cLMA tidak membutuhkan pelumpuh otot.

Hal lain yang dapat mengurangi tahanan yaitu pemakaian pelumpuh otot. Meskipun pemakaian pelumpuh otot bukan standar praktek di klinik, dan pemakaian pelumpuh otot akan mengurangi trauma oleh karena reflex proteksi yang ditumpulkan, atau mungkin malah akan meningkatkan trauma yang berhubungan dengan jalan nafas yang relax/menyempit jika manuver jaw thrust tidak dilakukan.

Komplikasi Pemakaian LMA


cLMA tidak menyediakan perlindungan terhadap aspirasi paru karena regurgitasi isi lambung dan juga tidak bijaksana untuk menggunakan cLMA pada pasien-pasien yang punya resiko meningkatnya regurgitasi, seperti : pasien yang tidak puasa, emergensi, pada hernia hiatus simtomatik atau refluks gastroesofageal dan pada pasien obese.