Anda di halaman 1dari 20

Stabilitas Obat

I. Stabilitas Obat/Kerusakan obat karena bahan kimia

Kebanyakan obat adalah suatu bahan atau zat yang mengandung zat aktif dengan bahan kimia yang mudah terurai. Terutama jika obat tersebut diformulasikan dalam bentuk sediaan cair. Sebagian penyebab yang dapat menurunkan kulitas bahan obat adalah obat yang tersimpan lama yang tidak lagi mempunyai potensi farmakologi yang diinginkan.

Aspek

lain yang dapat mempengaruhi stabilitas obat adalah enzim yang dapat mengkatalisis degradasi atau kerusakan obat serta pertumbuhan mikroorganisme tertentu.

II. Kerusakan Bahan Obat


Ada dua penyebab yang paling umum yang dapat menyebabkan kerusakan obat yaitu : 1. Hidrolisis Golongan obat yang utama yang peka terhadap hidrolisis adalah golongan ester, diantaranya laktam. Hidrolisis sering mengkatalisasi ion hidrogen (katalis cuka spesifik) atau hidroksil ion (katalis dasar spesifik). Yang paling umum jenis ester hidrolisis adalah suatu biomolekular yang disertai dengan perpecahan oksigen.

2. Oksidasi Penurunan derajat oksidasi merupakan suatu penyebab utama ketidakstabilan suatu obat. Dan obat yang dapat terurai karena kontak dengan udara meliputi campuran fenolik seperti morfin dan phenylephrine, katekolamins seperti dopamin dan adrenalin, zat pembunuh kuman, vitamin, minyak dan lemak. Oksidasi melibatkan perpindahan dari suatu atom elektropositif, radikal atau elektron, atau penambahan dari suatu atom yang elektronegatif.

Banyak reaksi oksidasi yang berkaitan dengan farmasi adalah reaksi yang barantai atau berproses secara perlahan-lahan dibawah pengaruh oksigen molekuler. Proses reaksi seperti ini dikenal sebagai auto oksidasi. Oksigen yang terdapat dalam suatu alat harus digantikan dengan zat lemas atau gas asamarang. Kontak obat dengan ion logam berat yang dapat mengkatalisis oksidasi harus dihindarkan dan temperatur juga harus dikurangi.

Isomerisasi Isomerisasi adalah proses konversi suatu bahan obat kedalam isomer geometris atau yang berhubungan dengan cerminannya seperti yang tergambar dibawah ini :

Cis-Trans dari isomerisasi mungkin merupakan suatu penyebab hilangnya potensi suatu obat jika kedua isomer geometrisnya mempunyai aktivitas mengobati berbeda.

Polymerisasi Polymerisasi adalah proses dengan dua atau lebih molekul serupa, berkombinasi bersama untuk membentuk suatu molekul yang kompleks.

III. Penentuan Orde Reaksi


1.

2.

Orde Reaksi Nol Didalam reaksi dekomposisi obat, jenis ini berproses pada suatu konsentrasi yang tetap dan tidak terikat pada suatu reaksi dari komponen-komponen reaktan. Orde Reaksi Satu Orde reaksi satu ditentukan oleh suatu persamaan reaksi yang umum yaitu : -d [A] / dt = k [A]

3. Orde Reaksi kedua Tingkatan suatu orde reaksi kedua ditentukan oleh konsentrasi dua jenis zat yang bereaksi. Persamaan umumnya adalah : -d[A]/dt = k[A] [B] Waktu Paruh Waktu yang diperlukan komponen reaktan untuk menguraikan setengahnya disebut dengan waktu paruh, biasanya ditulis dengan t0,5 . Untuk suatu orde reaksi pertama diperoleh persamaan sebagai berikut :

t0,5 =

2,303 k

log

a a/2

t0,5 =

2,303 k

log 2 = 0,693/k

Pengaruh perubahan pH terhadap stabilita Perubahan pH juga dapat memberikan pengaruh penting terhadap perubahan dalam konsentrasi yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas obat. Walaupun sistem biasanya menyediakan pengaturan pada pH secara signifikan, tetapi dapat juga terjadi kesalahan. Sistem penahan harus dideteksi dalam basis pengendalian pH, serta perhatian terhadap efek katalistik obat lain yang rentan terhadap oksidasi.

Kestabilan obat-obat yang tergantung pada pH termasuk : 1. Adrenalin 2. Antibiotik, dan 3. Vitamin

Pengaruh Kekuatan Ion Hubungan antara tingkat konstanta dan kekuatan ion terdapat pada persamaan Bronsted Bjerrum, larutan cair 250C. Persamaannya sebagai berikut : Log K = Log Ko + 1,018 Za.Zb /I

Pengaruh Pelarut Banyak obat-obatan rentan terhadap hidrolisis dan pada waktu tertentu mempengaruhi tetapan dielektrik. Efek dari konstanta dielektrik pada pelarut : log K = Log KE = ~ KZA.KZB/E Dimana : ZA dan ZB adalah nilai (harga ion dan obat ) dan K adalah konstanta yang diberikan sistem pada suhu tetap, K=~

Efek dari kekuatan ion dalam tingkatan reaksi dapat dibaca secara teliti dengan mengubah kekuatan ion dengan penjumlahan elektrolit lemah. Untuk larutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi ( untuk I 0,1) : Log K = Log Ko + 1,018 Za.Zb /I I + /I Efek dari kekuatan ion pada tingkatan reaksi paling baik: Log K = Log Ko + bI Efek ionik secara garis besar terletak pada reaksi garam primer.

Efek dari Surfaktan Menurut perkiraan, persen dari surfaktan mempunyai efek modifikasi diatas rata-rata pada hidrolisis obat-obatan berupa larutan encer dan daya larut micellar. Kobs = KmFm + KwFw dimana : Kobs, Km dan Kw adalah penelitian micellar dengan ketetapan rata-rata ; sedangkan Fm,Fw = Fraksi dari sekumpulan obat dengan micellar, fasa encer.

IV. Bentuk Dosis Solid


1.

Temperatur Penguraian kinetik pada rata-rata solid berbeda pada pemilihan larutannya. Ketergantungan/pengaruh suhu digambarkan pada persamaan Arhenius. Efek temperatur pada kasus ini dijelaskan dengan persamaan Vant Hoff dibandingkan dengan persamaan Arhenius, dimana : ln K = - H + Konstanta RT

Pergerakan ekuilibrum dalam bentuk takaran padat dapat juga timbul sebagai hasil dari ada tidaknya kotoran pada permukaan eksipiensi zat padat. 2. Uap Uap tidak memiliki efek yang jelas terhadap efek degradasi/penguraian. Komblum dan Sciarron menunjukan bahwa penambahan uap mengurangi waktu perlambatan dan penambahan konstanta orde nol untuk penguraian asam amino salisilat. Saat uap tinggi, kerusakan larutan tinggi, dan dalam beberapa kasus umumnya pembusukan diikuti kinetika orde nol. Jalan masuk uap dapat diperkecil dengan pemilihan yang benar saat pembungkusan.