Anda di halaman 1dari 84

ERUPSI AKIBAT OBAT

Oleh Dr Maria Dwikarya SpKK FK UNTAR Jakarta 2011

ERUPSI AKIBAT OBAT


SINONIM Allergic drug eruption DEFINISI Erupsi obat : Reaksi Alergi yg timbul di kulit/ mukokutan akibat pemberian obat secara sistemik

ERUPSI AKIBAT OBAT

Urtikaria + Angio Udema

Purpura

EM

Foto sensitivitas

Erupsi morbilifor mis

E.Fikstum

Eritroderma

Sindrom Stevens Johnson

Nekrolisis epidermal toksik

1.
SINONIM
Biduran Darah dingin Gabag Kaligata

URTIKARIA

DEFINISI Urtikaria : reaksi kulit ditandai : Gatal dan kemerahan Udem setempat (urtika) Timbul cepat (dlm beberapa menit), Hilang perlahan dalam 24 jam

URTIKARIA
ETIOLOGI 80 % idiopatik Penyebab tersering : OBAT: oral, suntikan, inhalasi, topikal rektal , vaginal Awitan: beberapa menit - hari Tergantung mekanisme yg berperan

OBAT2 AN
ANTIBIOTIK

LAIN-LAIN

NSAID

URTIKARIA

PRODUK ENDOKRIN

SEDATIF & TRANSQULIZER

PENYEBAB Lain URTIKARIA

Faktor Fisik Psikologis Cuaca /suhu

Alergen Inhalasi Kontak Makanan

Infeksi Jamur Bakteri Virus Parasit

Penyakitt Sistemik Auto Immun Keganasan Reaksi Tranfusi

URTIKARIA
PATOGENESIS

Urtikaria terjadi akibat : degranulasi sel mas / basofil & ekskresi zat vasoaktif amin
Vasoaktif amin : a. Histamin b. Serotonin c. Bradikinin d. Asetilkolin e. Prostaglandin f. Slow reacting substance of anaphylaxis (SRS-A) g. Fibrin degranulation product h. Anafilaktoksin

Vasoaktif amin vasodilatasi permeabilitas kapiler & transudasi kemerahan & oedem

URTIKARIA
Penyebab pelepasan zat vasoaktif amin a.l. : A. Mekanisme Imunologik 1. 2. 3. 4. Reaksi alergi tipe I (IgE mediated mast cell degranulation): alergi penisilin Reaksi alergi tipe II (reaksi sitotoksik): Rx transfusi drh dg golongan drh yg tdk cocok Reaksi alergi tipe III (rx kompleks imun): serum sickness Reaksi alergi tipe IV (rx hipersensitivitas lambat / imunitas selular) : kontak urtikaria

URTIKARIA
B. Non Imunologik 1. Degenerasi langsung sel mast : akibat obat opiat, polimisin B, kurare, tubokurare & analgetik Perubahan metabolisme asam arakhidonat akibat obat : aspirin, obat anti inflamasi non steroid / azo dye, benzoat Aktivasi komplemen : akibat bahan kontras Rangsangan fisik : suhu panas, dingin, tekanan, garukan, bahan kimia

2.

3. 4.

C. Idiopatik

URTIKARIA
Mekanisme timbulnya urtikaria akibat obat melalui: 1. Reaksi tipe I : penisilin 2. Reaksi tipe III 3. Degranulasi langsung sel mas : analgetik, opium 4. Aktivasi komplemen bebas 5. Perubahan metabolisme asam arakhidonat : aspirin

Urtikaria

URTIKARIA
SIMTOMATOLOGI Urtika dg berbagai ukuran & jumlah Rasa gatal LABORATORIUM 1. Rutin : darah (Ig E, lekosit, diff eosinofil, komplemen) 2. Urin, feses u cari inf. Fokal / sebab lain 3. Tes kulit (uji tusuk / prick test) 4. Tes provokasi & eliminasi obat

URTIKARIA

URTIKARIA
DIAGNOSIS Anamnesis Gejala klinik
DIAGNOSIS BANDING 1. Urtikaria yg bukan akibat obat 2. Angioedema

URTIKARIA
Tabel 1. Perbedaan antara urtikaria & angioedema
Urtikaria
Timbulnya Gejala Akut, (+) dlm beb menit Pruritus Urtika Eritem ++ Batas tegas < 24 jam Kulit

Angioedema
Subakut, (+) dlm beb jam Rasa tertusuk , panas Edema > luas Eritem < < Batas difus > 24 jam , bbrp hari Kulit + mukosa kelopak mata + bibir

Lamanya Lokasi

URTIKARIA
PENGOBATAN
1. Hentikan pemakaian obat yg dicurigai 2. Hindari pemakaian obat yg mungkin

dpt menimbulkan urtikaria


3. Anti Histamin Oral 4. Kortikosteroid Oral bila Urtikaria luas

URTIKARIA
PROGNOSIS
Baik bila penyebab di identifikasi Bila penyebab tidak diketahui, sering menjadi kronik Urtikaria kronik: > 6 mgg atau berlgsg > 4 mgg terus menerus

2. ANGIOEDEMA
DEFINISI Angioedema : kelainan kulit & membran mukosa udem non pitting setempat, eritem, difus disertai dg rasa terbakar & / rasa gatal ETIOLOGI Paling sering : obat : penisilin & derivatnya Penyebab lain : sinar x & enzim PATOGENESIS Sama spt urtikaria

ANGIOUDEMA
SIMTOMATOLOGI
Kelainan : udem, eritem setempat, difus, + rasa panas, terbakar, gatal Mendadak, menetap < 24 48 jam Timbul bersama urtikaria Predileksi: wajah, bibir, mukosa mulut, lidah, kelopak mata Komplikasi : Udem laring suara serak, stridor, sesak nafas MATI

ANGIOUDEMA
DIAGNOSIS BANDING 1. Angioudema herediter 2. Angioudema akibat lain spt akibat sengatan lebah

ANGIOEDEMA
PENGOBATAN
Hentikan pemakaian obat penyebab Hindari pemakaian obat terduga

Bila edema glotis (+) dg asfiksia, segera diberikan : a. Inj Adrenalin 1/100, 0,3 ml, subkutan, tiap 3 menit dg dosis maksimal : 1 ml b. Kortikosteroid Oral / Injeksi c. AntiHistamin Oral Bila udem laring (+) : intubasi / trakeotomi di ICU.

3. ERITEMA MULTIFORMIS
DEFINISI Eritema multiformis (EM) peny akut dg kelainan kulit & mukosa Kelainan berupa lesi iris / sel target yg dpt sembuh sendiri dlm 4 6 mgg & srg mengalami kekambuhan

ERITEMA MULTIFORMIS

ERITEMA MULTIFORMIS
ETIOLOGI
Idiopatik

Faktor penyebab : 1. Infeksi : Virus (HSV, vaksin), fungi , bakteri, parasit 2. Ingestan : Obat (penisilin, barbiturat, sulfonamid, hidantoin), food additives & zat warna 3. Kontaktan 4. Faktor fisik 5. Penyakit Auto Immun 6. Keganasan

ERITEMA MULTIFORMIS
PATOGENESIS Belum diketahui dg pasti Dianggap faktor imunologi humoral & selular ikut berperan ( tipe III dan IV ) KLASIFIKASI Terbagi 2 golongan : 1. EM minor : kelainan hanya berupa kelainan kulit , tanpa gangguan sistemik 2. EM mayor : (Sindrom Stevens-Johnson) Kelainan kulit & mukosa ,dg gangguan sistemik

ERITEMA MULTIFORMIS
SIMTOMATOLOGI
Mendadak, tanpa G/ prodromal Lesi : makula papul eritematosa 1-2 cm Berlangsung > 24 48 jam Lesi pucat / purpurik (tengah) merah terang (tepi) lesi iris / target Kadang2 tengah lesi : bula, tepi halo eritema Predileksi: badan & ekstremitas menyebar simetris EM minor kadang self limiting dlm 4 mgg, ttp dpt rekurens

Eritema multiformis

ERITEMA MULTIFORMIS
LABORATORIUM
Tidak spesifik

HISTOPATOLOGI
Bervariasi Epidermis : Nekrosis keratinosit, spongiosis, degenerasi hidropik sel basal Dermis : Edema papila dermis. Serbukan limfohistiosit perivaskular & kdg2 terjd ekstravasasi eritrosit Pem. imunofluoresensi direk dijumpai IgM & C3 lamina pembuluh darah superfisial.

ERITEMA MULTIFORMIS
DIAGNOSIS Anamnesis riwayat makan obat Gambaran klinik Histopatologi DIAGNOSIS BANDING 1. Btk papular : Urtikaria 2. Btk anular / arsiner : Pitiriasis rosea 3. Btk vesikobulosa : Sindrom StevensJohnson, EM yg bukan akb obat

4. PURPURA
DEFINISI Purpura : perdarahan dlm kulit / mukosa, bercak / pembengkakkan, warna merah / kebiruan yg tdk dpt menghilang bl ditekan ETIOLOGI
Alopurinol As. Salisilat Barbiturat Beladona Efedrin Fenasetin Klorahidrat Kloroform Kuinidin Kumarin Meprobamat Merkuri Penisilin Sodium tiosulfat Yodida Tiazid Sulfa

PURPURA
PATOGENESIS Kelainan terbagi : Purpura primer & sekunder Purpura primer : kelainan pembuluh darah, trombosit / ggg pembekuan drh Purpura sekunder : akb obat-obatan. Plg srg (+) akb rx imunologi. Tp dpt (+) melalui rx non imunologi

PURPURA
SIMTOMATOLOGI Kelainan dpt berupa : 1. Petekie : makula merah 2-3 mm coklat hilang 2. Ekimosis : makula kebiruan, bengkak, > 2-3 mm, letak kelainan > dlm; kuning hilang 3. Vebeses : purpura berbentuk linear 4. Hematoma : kumpulan darah subkutis banyak Bengkak & fluktuasi Purpura dpt disertai gatal, badan tdk enak, demam, letih & anoreksia

PURPURA
DIAGNOSIS Berdasarkan anamnesis cermat & G/ klinik DIAGNOSIS BANDING Purpura bukan akibat obat : peny. sistemik, infeksi, keganasan & idiopatik PENGOBATAN 1. Hentikan obat terduga 2. KortikoSteroid oral 3. Anti histamin oral

5. EKSANTEMA FIKSTUM
SINONIM Fixed exanthema Fixed drug eruption DEFINISI Eritema fikstum (EF) : erupsi obat yg akan timbul ulang dg kelainan di tempat yg sama

EKSANTEMA FIKSTUM

EKSANTEMA FIKSTUM
ETIOLOGI Obat yg sering menimbulkan EF antara lain : Amiksilin Fenasetin Metapiron Promag
Ampisilin Antimo (dimenhidrinat) Asam mefenamat Barbiturat Dikloksasilin Fenolftalein Jamu Metronidazo Rheumacyl l Minosiklin Salisilat Sulfonamid Tetrasiklin

Kloramfenikol Naproksen Kontrasepsi oral Nistatin

Kotrimoksasol Parasetamol

EKSANTEMA FIKSTUM
PATOGENESIS Belum diketahui dg pasti

SIMTOMATOLOGI Effloresensi : eritem /hiperpigmentasi dg vesikel/(bula) btk bulat / oval di atasnya, ukuran lentikular, numular-plakat Predileksi: seluruh tubuh (sekitar mulut, penis) Lesi di bibir, genitalia erosi Bila sembuh hiperpigmentasi hilang dlm wkt lama

Exantema fixtem

Fixed drug eruption

EKSANTEMA FIKSTUM
DIAGNOSIS Anamnesis & gejala klinik

DIAGNOSIS BANDING 1. Mastositosis : urtikaria disertai tanda Darrier (bl lesi digores dg benda tumpul urtikaria) 2. Herpes labialis / genitalis : berlsg > cepat & tdk hiperpigmentasi 3. DKA : riwayat kontak alergen (+) 4. Sindrom Stevens-Johnson

EKSANTEMA FIKSTUM

EKSANTEMA FIKSTUM
PENGOBATAN Hentikan pemakaian obat terduga Th/ sistemik : Akut : KS, oral e.g. prednison : 10 30 mg/hr wkt singkat Infeksi Sekunder diobati dg antibiotika. Th/ topikal : Lesi erosi, eksudatif : kompres terbuka dg larutan NaCl 0,9 % Lesi hiperpigmentasi : tdk perlu diobati Cegah rekurensi : hindari obat tsb PROGNOSIS Pada umumnya baik

6. ERITRODERMA
SINONIM Dermatitis eksfoliativa DEFINISI Eritroderma : Kelainan yg ditandai dg eritema difus, generalisata sp universalis disertai dg skuama luas

ETIOLOGI

ERITRODERMA

Obat : Alupurinol, sulfa, preparat emas, fenitoin, fenobarbital, isoniazid & yodida Peny. Dermatosis yg meluas : misalnya Psoriasis, NeuroD`is, D`is Atopik, Numular dg autosensitasi Penyebab sistemik : Infeksi TBC & Keganasan Lymphoma & Leukemia

ERITRODERMA
SIMTOMATOLOGI
Kelainan utama : eritema luas, difus, seluruh / hampir seluruh tbh (90 % / >) + skuama halus /kasar Bl terdpt vesikel / bula pikirkan kemgk akan NET Rs gatal ringan - berat Kasus berat : ggg sirkulasi ggg, fs ginjal / hati Keluhan : berkaitan ggg regulasi suhu (hipo /hipertermia), ggg metabolisme protein, hiperestrogenemia (ginekomastia) Bl akb keganasan, disertai dg kelainan primernya : alopesia, limfadenopati, hepatosplenomegali

Eritroderma, erupsi di wajah, lengan dan tubuh

Kelainan kulit dengan skuama khas

Eritroderma

ERITRODERMA
DIAGNOSIS Anamnesis & gejala klinik
DIAGNOSIS BANDING 1. Eksantema skarlatiniformis / morbiliformis akb bakteri, virus : Eritemnya tidak difus, biasanya akut 2. Eritroderma akb dermatosis luas, peny sistemik & keganasan : Biasanya kronik & kelainan primer (+) 3. Skabies Norwegia : Eritroderma + Sarcoptes scabiei (+)

ERITRODERMA
Pasien dirawat Inap dan hentikan obat terduga
Th/ sistemik : a. a. KS : prednison 3-4 x 10 mg/h, sth perubahan (+) dosis di tappering off b. b. An histamin : bl gatal (+) Th. Topikal : Emolien : salep Lanolin 10 %, luas pengolesan hny 1/3 luas tbh setiap x oles Tindakan lain : a. Bl menggigil : berikan selimut ala kadarnya. Bila hiperpireksia memberatkan kerja jantung b. Konsult dr SpPD : keseimbangan cairan & elektrolit

PROGNOSIS
P/ eritroderma akb ob sistemik > baik dr akb lain Kematian biasanya akb ggg sirkulasi drh, ginjal / hati

Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) SINONIM


Ektodermosis erosiva pluriorifisialis Sindrom mukokutanea-okular Eritema multiformis tipe Hebra Eritema bulosa maligna

Sindrom steven johnson

Sindrom Stevens-Johnson
DEFINISI SSJ : kelainan klt termasuk eritema multiformis mayor kulit, selaput lendir/ mukosa di orifisium, mata dan organ-organ tubuh lain Keadaan umum bervariasi : ringan sampai berat

Sindrom Stevens-Johnson
ETIOLOGI Idiopatik Eritema multiformis derajat berat : Eritema multiformis mayor

Obat sistemik : Penisilin & sintetiknya, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, analgetik/antipiretik : derivat salisil, pirazolon, metamizol, metapiron, parasetamol, klorpromasin, karbamazepin, kinin, antipirin, tegretol dan jamu Penyebab lain : Infeksi : bakteri, virus, jamur, parasit neoplasma, pasca vaksinasi, radiasi dan makanan

Sindrom Stevens-Johnson

Sindrom Stevens-Johnson
PATOGENESIS Belum diketahui dg jelas. Diduga diperan oleh reaksi alergi tipe III dan tipe IV Rx tipe III akibat terbentuk kompleks antigen-antibodi yg membentuk mikropresipitasi shg aktivasi sistim komplemen. Akb adanya akumulasi sel neutrofil yg melepaskan lisozim dan kerusakan jaringan organ target Rx tipe IV akibat sel limfosit T yang telah tersensitisasi, terkontak ulang dg antigen yg sama. Sel T tsb melepaskan limfokin & rx peradangan

Sindrom Stevens-Johnson
SIMTOMATOLOGI Anak dan dewasa, jarang pd usia < 3 tahun KU variasi, ringan sp berat Kesadaran : kompos mentis sopor / koma G/ prodromal : demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk pilek dan nyeri tenggorokan
Trias kelainan : a. Kelainan kulit b. Kelainan selaput lendir di orifisium c. Kelainan selaput mata dan kelamin

Sindrom Stevens-Johnson
a. Kelainan kulit Eritem, papel, vesikel, bula. Vesikel & bula pecah erosi. Prognosis buruk bl purpura (+) bl lesi generalisata

Sindrom Stevens-Johnson
b.

Kelainan selaput lendir di orifisium


Mukosa mulut ( 100%) Orifisium genital eksterna : 50 % Lubang hidung dan Anus : 8 % dan 4 % Mukosa bibir, lidah, bukal pecah erosi, eksudasi, ulserasi & pseudomembran, krusta hitam tebal, hipersalivasi kesulitan menelan hidung rinitis + epistaksis & krusta sumbatan Nares, gangguan Napas.

Sindrom Stevens-Johnson

Kelainan selaput lendir mata 80 % SSJ kelainan mata Paling sering : konjungtivitis kataralis / konjungtivitis purulen Kornea : erosi, perforasi, ulkus, kekeruhan kebutaan Iritis, uveitis, iridosilitis & udem palpebra Di samping itu : Kelainan kuku : onikolisis Organ tubuh lain : sal. pencernaan, ginjal, : nefritis; hati

Sindrom Stevens-Johnson
LABORATORIUM Tidak khas Leukositosis (+) : mgk E/ : infeksi Eosinofilia : kemungkinan alergi obat Enzim transaminase serum , albuminuria, ggg elektrolit, ggg fs organ tubuh yang terkena

Sindrom Stevens-Johnson
HISTOPATOLOGI Biasanya tidak perlu dilakukan Biopsi Kelainan histopatologi : 1. Infiltrat sel mononuklear sekitar pembuluh darah dermis superfisial 2. Edema dan ekstravasasi sel darah merah di dermis papular 3. Degenerasi hidropik lapisan basalis sampai terbentuk vesikel subepidermal 4. Nekrosis sel epidermal & kadang2 di aneksa 5. Spongiosis dan udema intrasel di epidermis

DIAGNOSIS
Berdasarkan anamnesis & gejala klinik

DIAGNOSIS BANDING 1. Eksantema Fikstum Multipel Generalisata


2. Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) NET : KU > buruk dr SSJ Lesi kulit utama : epidermolisis menyeluruh, tanda Nikolsky (+), tidak selalu mata dan sekitar hidung

KOMPLIKASI Paling sering (16 %) Bronkopneumonia MATI Komplikasi lain : Gangguan keseimbangan elektrolit Sepsis & Shock Simblefaron, Ektropion, kekeruhan kornea dan kebutaan

PENGOBATAN Harus cepat dan tepat 1. Kortikosteroid (KS) Life-saving Deksametason : 20 30 mg/hr, i.v. Th/ sp lesi baru (-) Penurunan dosis cepat : 5 mg/hr, Setelah dosis mencapai 5 mg/hr prednison 20 mg/hr secara oral Setelah itu dosis diturunkan secara bertahap hentikan

2. Antibiotika (AB)
Tujuan : cegah infeksi sekunder : bronkopneumonia. Krn imunitas ps menurun akb th/ KS dosis tinggi AB yang jarang alergi, spektrum luas & bakterisidal a. Gentamisin : 2 x 60 mg/hr, i.m., i.v. b. Sefotaksim : 3 x 1 gr/hr, i.v. dibagi 3 4 x pemberian Pemberian AB dihentikan bl deksametason tlh capai 5 mg/hr & tanda-tanda infeks (-)

3. Infus dekstrosa 5 %, NaCl : Ringer laktat = 1: 1: 1


Tujuan : Mengatur keseimbangan cairan & elektrolit Pemberian nutrisi & obat 4. Th/ topikal : kompress Sol NaCl 0,9 % utk kulit . Kenalog in orabase utk bibir 5. Konsultasi : dr THT, Dr SpM, Dr SpPD, Dokter Gigi 6. Tablet KCL 3 x 500 mg/hr oral atasi hipokalemia 7. Obat Anabolik 8. Diet tinggi protein & rendah garam 9. Bila perlu transfusi darah

Sindrom Stevens-Johnson
PROGNOSIS Angka kematian : 5 15 % Prognosis buruk bl KU buruk, purpura, bronkopneumonia (+)

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


Penyakit berat, > berat dr SSJ Perlu th/ cepat, tepat menghindari akb buruk SINONIM Sindrom Lyell Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) Epidermolisis nekrotikans kombustiformis

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


DEFINISI NET: penyakit akut & berat. Ditandai: Epidermolisis luas Kelainan selaput lendir, orifisium, mata Lesi eritema, vesikel, bula, erosi & purpura

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


ETIOLOGI Penyebab = SSJ, Penyebab utama NET : obat-obatan Tabel 1. Obat-obat penyebab NET
Alopurinol Aspirin Barbiturat Eritromisi n Fenbufen Fenilbutas on Fenolftalein Penisilin Hidantoin Karbamase pin Pirosikam Rifampisi n Sulfonami d Tetrasiklin

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


Tabel 2. Penyebab NET lain Difteri Vaksinasi polio Vaksinasi morbili Anti toksin tetanus Aspergilosis paru Sepsis akibat E coli Limfoma Leukemia

Infeksi virus (varisela, Penyakit graft versus herpes simpleks host

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


PATOGENESIS Idiopatik Dianggap NET bentuk berat SSJ Sebagian SSJ NET

SIMTOMATOLOGI Gejala prodromal : malaise, lelah, mual, muntah, diare, angina, demam, konjungtivitis ringan, radang mukosa mulut & genital Beberapa jam hari kemudian kelainan kulit : makula, papel, eritematosa, morbiliformis disertai dengan bula flaccid cepat meluas & konfluens Lesi wajah, ekstremitas & badan Lesi eritem,vesikel, erosi mukosa pipi, bibir, konjungtiva, genitalia, anus Onikolisis, alis, bulu mata rontok + epidermolisis kelopak mata KU buruk, suhu , Kesadaran Tanda Nikolsky (+) Organ tbh : perdarah tr. GI, trakeitis, bronkopneumonia, udem paru, emboli paru, ggg keseimbangan cairan & elektrolit, syok hemodinamik & kegagalan ginjal Komplikasi lain : sepsis akb inf Staphylococcus aureus / Pseudomonas aeroginosa, sering kematian

Nekrolisis epidermal toksik

LABORATORIUM Leukositosis Enzim transaminase serum Albuminuria Ggg keseimbangan elektrolit & cairan PEM. RADIOLOGI Untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi : TBC, bronkopneumonia HISTOPATOLOGI Nekrosis di seluruh lapisan epidermis

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


DIAGNOSIS Anamnesis, gejala klinik Bl ragu laboratorium, histopatologi DIAGNOSIS BANDING SSJ Kombusio Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS) Eksantema fikstum multipel / generalisata

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


Tabel 3. Perbedaan antara SSJ dengan NET SSJ Usia Anak sp dewasa KU Ringan sp berat Kesadaran Kompos mentis Tanda Nikolsky (-) Epidermolisis (-) Nekrosis epidermis (-) Prognosis Lebih baik NET Dewasa Berat Sering menurun (+) (+) (+) Buruk

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


Tabel 4. Perbedaan NET dengan SSSS
NET
Usia pasien > tua > muda

SSSS

Lesi target
Nyeri kulit Lesi oral Tanda Nikolsky Derajat eksudasi Penyembuhan Jaringan parut Mortalitas

Sering ditemukan
Ringan sp sedang Umumnya ada (+) hanya di daerah lesi 4+ (tampak dermis) > lama Srg ditemukan, dpt disertai hiper / hipopigmentasi Tinggi (20 50 %)

Tidak ada
Sangat nyeri Jarang (+) pada lesi & klt (N) 1+ (tampak epdermis superfisial) 10 14 hari Jarang Rendah, umumnya sembuh spontan

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET) KOMPLIKASI Tabel 5. Komplikasi NET


Perdarahan tr. Gastro-intestinal Trakeitis Bronkopneumonia Udem paru-paru Emboli paru Kegagalan ginjal Sepsis Simblefaron Ektropion Kekeruhan kornea

Ggg keseimbangan cairan & elektrolit Syok hemodinamik

Kebutaan
Kematian

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


PENGOBATAN T.U Penanganan infeksi Mempertahankan keseimbangan cairan & elektrolit Pasien sebaiknya dirawat secara aseptik di ruang khusus / unit luka bakar

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


PENGOBATAN
1. 2. 3. Pengaturan keseimbangan cairan & elektrolit KS : deksametason : 20-30 mg/hr, i.v. dibagi 3-4 x/hr. Bl lesi baru (-) dosis di scr cepat dg laju 4 x 0,5 mg/hr atau dg prednison 4-5 mg/hr, oral di bertahap AB : th/ AB krn th/ KS dosis , mgk infeksi/sepsis/tutup tanda infeksi AB broad spectrum, bakterisidal & tdk rx alergi a. Sefotaksim : 3 x 1 gr/hr, i.v. (maks. 12 gr/hr) dibagi 3-4 x b. Gentamisin : 2 x 60 mg/hr, i.v. c. Netilmisin sulfat : BB > 50 kg : 2 x 150 mg/hr, i.m. BB < / = 50 kg : 2 x 100 mg/hr, i.m. Rata2 : 4 6 mg/kgBB/hr AB dihentikan bl dosis prednison tlh mencapai 5 mg/hr & tanda infeksi (-)

NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK (NET)


PENGOBATAN 4. Terapi topikal : lihat SSJ 5. Konsultasi ke disiplin ilmu lain : lihat SSJ 6. Tindakan lanjut : lihat SSJ 7. Lain-lain : lihat SSJ

PROGNOSIS > Buruk dari SSJ, kematian 50 %