Anda di halaman 1dari 35

Laporan Kasus

AKNE VULGARIS

Disampaikan Pada Sidang Laporan Kasus Tanggal 24 Maret 2012

Oleh KoAss: AHMED MAWARDI AMI UTAMIATI LIBERTY DWI PUTRI WILLY WINARDY PURNAWAN WINSON

Pembimbing: dr. Donna Partogi, Sp. KK


MAWAR_diahmed

PENDAHULUAN

Akne Vulgaris
penyakit peradangan menahun pada folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. penderita yang sembuh dari akne vulgaris dapat memperoleh sequele yang seumur hidup berupa jaringan parut yang atrofi maupun hipertrofi. Kelainan kulit ini dianggap timbul secara fisiologis karena hampir setiap orang pernah mengalami penyakit ini.

Akne Vulgaris
Insiden : umur 14 17 tahun pada wanita, 16 19 tahun pada pria lesi yang predominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi yang meradang. Sebanyak 12% wanita dan 5% pria menderita akne vulgaris pada umur 25 tahun, dan 5% pria dan wanita masih memiliki akne pada umur 45 tahun. ras oriental lebih jarang menderita akne vulgaris dibanding dengan ras kaukasia.

Akne Vulgaris
Faktor penting yang berperan dalam patogenesis dari akne vulgaris, :
hiperproliferasi sel-sel epidermal pada folikel, peningkatan produksi sebum, inflamasi, keberadaan Propioniibacterium acnes.

faktor lain yang dapat mempengaruhi: hormon, retensi cairan, diet, cuaca, faktor eksternal, dan faktor iatrogenik.

Akne Vulgaris
Gejala klinis : lesi polimorf dengan gejala predominan berupa komedo, papul yang tidak meradang, pustul, nodus, dan kista yang meradang. Rasa gatal dan keluhan kosmetik merupakan keluhan umum yang paling sering dikeluhkan pasien. Tempat predileksi : di muka, bahu, dada bagian atas, dan punggung bagian atas

Akne Vulgaris
Lesi patognomonik : komedo
komedo terbuka, papul miliar yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum yang berwarna hitam akibat unsur melanin komedo tertutup, berwarna putih karena letaknya lebih dalam sehingga tidak mengadung unsur melanin

Akne Vulgaris
Gradasi menurut Pillsbury (1963):
tingkat 1, dengan ditemukannya komedo di muka, tingkat 2, adanya komedo, papul, pustul, dan peradangan leibh dalam di muka, tingkat 3, berupa komedo, papul, pustul, dan peradangan lebih dalam di muka, dada, punggung, tingkat 4, berupa akne konglobata.

Bagian Ilm Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo akne vulgaris dibagi menjadi 3, yaitu: ringan, sedang, dan berat.

Akne Vulgaris
diagnosis : klinis dan pemeriksaan ekskohleasi sebum pemeriksaan histopatologis : gambaran yang tidak spesifik berupa serbukan sel radang kronis di sekitar folikel pilosebasea dengan massa sebum di dalam foliker. Pemeriksaan mikrobiologis jarang dilakukan karena hasilnya kurang memuaskan. Pemeriksaan susunan dan kadar lipid permukaan kulit dapat dilakukan untuk mengetahui tingginya.

Akne Vulgaris
Diagnosis banding
Erupsi akneiformis Akne venenata (akibat rangsangan fisik) Rosasea Dermatitits perioral

Komplikasi : makula eritem dan hiperpigmentasi paskainflamasi, jaringan parut yang permanen, dan gangguan psikis.

Akne Vulgaris
Penatalaksanaan : mencegah terjadinya erupsi (preventif) dan usaha untuk menghilangkan jerawat yang terjadi (kuratif). Tujuan pengobatan : mencegah timbulnya sikatriks serta mengurangi frekuensi eksaserbasi akne

Akne Vulgaris
Penatalaksanaan Umum:
Diet rendah lemak dan karbohidrat Menghindari faktor pencetus timbulnya akne, seperti : Hidup teratur, sehat, dan cukup istirahat. Menjaga kebersihan kulit Penggunaan kosmetik secukupnya Hindari stres dan emosi Memberikan informasi yang cukup pada penderita mengenai penyebab penyakit, sifat akne, dan cara maupun lama pengobatan.

Akne Vulgaris
Penatalaksanaan khusus:
Pengobatan topikal
Bahan iritan : Retinoid acid ( tretinoin, adapalene, tazarotene), Sufur (4-8%), Resorsinol (1-5%), Asam salisilat (2-5%), Peroksida benzoil (2,5-10%), Asam azeleat (1520%). Antibiotik topikal : tetrasiklin (1%), Eritromisin (1%), dan klindamisin fosfat (1%). Anti inflamasi : Kortikosteroid kekuatan ringan atau sedang (Hidrokortison 1-2,5%) atau suntikan intralesi kortikosteroid kuat (Triamsinolon asetonid 10 mg/cc) pada lesi nodulo-kistik.

Akne Vulgaris
Penatalaksanaan khusus:
Pengobatan sistemik
Antibiotik : Tetrasiklin (250-1000 mg/hari), Eritromisin (4x250 mg/hari), Doksisiklin (500mg/hari),Trimetropim (3x100 mg/hari). Hormon : Kortikosteroid (Prednison 7,5mg/hari atau Deksametason 0,25-0,5 mg/hari), Estrogen ( 50 mg/hari) selama 21 hari dalam sebulan, anti androgen (Siproteron asetat 2 mg/hari ). Vitamin A dan Retinoid acid Obat-obat lain : Anti Inflamasi Non Steroid Ibuprofen (600 mg/hari), Dapson (2x100 mg/hari), Seng sulfat (2x200 mg/hari).

Akne Vulgaris
Penatalaksanaan khusus:
Bedah kulit
untuk memperbaiki jaringan parut akibat akne vulgaris meradang yang berat yang sering menimbulkan jaringan parut, baik yang hipertropok maupun hipotropik. setelah akne vulgaris sembuh. Jenis bedah kulit :
Bedah skalpel Bedah listrik Bedah kimia Bedah beku Dermabrasi

Akne Vulgaris
Prognosis
umumnya sembuh sebelum mencapai usia 30 40an. Jarang terjadi menetap sampai tua atau mencapai gradasi sangat berat sehingga perlu di rawat-inap di rumah sakit.

Beberapa faktor prognosis yang mempengaruhi : genetik, serangan pertama akne, merokok, warna kulit, dan kontrasepsi oral

LAPORAN KASUS

Laporan Kasus
Seorang laki-laki, berusia 22 tahun, datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan pada tanggal 4 Maret 2012 dengan keluhan timbul bintil-bintil merah disertai rasa sakit pada daerah wajah dan dada sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya timbul bintil-bintil berwarna merah disertai rasa sakit di daerah wajah. Satu bulan kemudian, bintil-bintil merah mulai meradang, membesar, dan bertambah banyak serta menyatu disertai rasa sakit dan panas pada daerah wajah.

Laporan Kasus
Sejak 1 bulan yang lalu bintil-bintil merah yang meradang disertai rasa sakit di daerah wajah, kemudian os berobat ke dokter diberi obat oral berupa kortikosteroid (metil prednisolon 10 mg), asam retinoat 5 mg, levofloksasin 500 mg, dan ada racikan obat yang os tidak tahu komposisinya. Setelah itu terdapat perbaikan namun keluhan masih ada. Hari ini os datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP H. Adam Malik Medan dengan keluhan bintil-bintil merah masih ada dan sudah menyebar ke daerah dada.

Laporan Kasus
Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum baik, status gizi baik, suhu tubuh, nadi, tekanan darah, dan pernafasan dalam batas normal. Pada pemeriksaan dermatologis dijumpai adanya pustul-pustul dengan ukuran lentikuler yang berkelompok berisi nanah dengan bentuk lesi tidak teratur dan difus bilateral pada regio facialis dan regio torakalis. Pasien ini didiagnosis banding dengan akne vulgaris, erupsi akneformis, dan rosasea dengan diagnosis kerja akne

Laporan Kasus
Penatalaksanaan secara umum pada pasien ini adalah disarankan untuk diet rendah lemak dan karbohidrat dan menghindari makanan yang diduga menjadi faktor pencetus keluhan, melakukan perawatan kulit wajah dan rajin membersihkan muka, hidup teratur, sehat dan cukup istirahat. Secara khusus pada pasien ini diberikan obat antibiotik oral doksisiklin 100 mg tablet satu kali sehari, klindamisin + Tretionin cream pada malam hari, dan Klindamisin jel pada pagi hari. Prognosis quo ad vitam ad bonam, quo ad functionam ad bonam, quo ad sanationam dubia.

DISKUSI

Diskusi
Diagnosis pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis. Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami bintil-bintil merah disertai rasa sakit pada daerah wajah dan dada sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya timbul bintil-bintil berwarna merah disertai rasa sakit di daerah wajah. Satu bulan kemudian, bintil-bintil merah mulai meradang, membesar, dan bertambah banyak serta menyatu disertai rasa sakit

Diskusi
Sejak 1 bulan yang lalu bintil-bintil merah yang meradang disertai rasa sakit di daerah wajah, kemudian os berobat ke dokter diberi obat oral berupa kortikosteroid (metil prednisolon 10 mg), asam retinoat 5 mg, levofloksasin 500 mg, dan ada racikan obat yang os tidak tahu komposisinya. Setelah itu terdapat perbaikan namun keluhan masih ada.

Diskusi
Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa gambaran klinis akne antara lain adalah lesi polimorf dengan gejala predominan berupa komedo, papul yang tidak meradang, pustul, nodus, dan kista yang meradang. Rasa gatal juga dapat dikeluhkan penderita dan keluhan kosmetik merupakan keluhan umum yang paling sering dikeluhkan pasien.

Diskusi
Pada pemeriksaan dermatologis dijumpai adanya pustula-pustula dengan ukuran lentikuler yang berkelompok berisi nanah dengan bentuk lesi tidak teratur dan difus bilateral pada regio facialis dan regio torakalis. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa tempat predileksi utama akne vulgaris adalah di muka, bahu, dada bagian atas, dan punggung bagian atas.

Diskusi
Pasien ini didiagnosis banding dengan erupsi akneiformis, akne venenata (akibat rangsangan fisik), rosasea, dan dermatitits perioral. Diagnosis banding dengan erupsi akneiformis dapat disingkirkan karena pada erupsi akneiformis disebabkan oleh induksi obat misalnya kortikosteroid, INH, barbiturat, yodida, difenil hidantoin, trimetadion, ACTH, dan lainnya dengan gejala klinis berupa erupsi papulopustul mendadak tanpa adanya komedo di hampir seluruh bagian tubuh dan dapat disertai demam.

Diskusi
Diagnosis banding dengan akne venenata disingkirkan karena pada akne venenata umumnya lesi lesi monomorfi yang tidak gatal, bisa berupa komedo atau papul dengan tempat predileksi di tempat kontak zat kimia atau rangsang fisisnya. Diagnosis banding rosasea dapat disingkirkan karena rosasea merupakan peradangan kronik di daerah muka dengan gejala eritema, pustul, telangiektasi, dan kadang-kadang disertai hipertrofi kelenjar sebasea, tidak terdapat komedo.

Diskusi
Diagnosis banding dermatitis perioral dapat disingkirkan karena pada dermatitis perioral terjadi terutama pada wanita dengan gejala klinis eritema, papul, pustule, di sekitar mulut yang terasa gatal.

Diskusi
Penatalaksanaan secara umum : menyarankan kepada pasien untuk menghindari terjadinya peningkatan jumlah lapisan sebum dengan cara:
diet rendah karbohidrat dan lemak, melakukan perawatan kulit untuk membersihkan permukaan kulit dari kotoran dan jasad renik yang berperan dalam etiopatogenesis akne vulgaris.

Diskusi
menghindari terjadinya faktor pemicu misalnya hidup teratur dan sehat, cukup istirahat, olahraga, dan hindari stres; menjauhi terpacunya kelenjar minyak misalnya minum minuman keras, rokok, lingkungan yang tidak sehat dan sebagainya; pasien perlu diberikan informasi yang cukup dan jelas mengenai akne vulgaris, meliputi penyebab penyakit, pencegahan, dan cara maupun lama pengobatan serta prognosisnya.

Diskusi
Penatalaksanaan secara khusus:
Doksisiklin 100 mg tablet satu kali sehari, Klindamisin + Tretionin cream pada malam hari, dan Klindamisin jel pada pagi hari.

Antibiotik oral doksisiklin diberikan untuk menekan aktivitas mikroorganisme. Klindamisin cream dan jel juga berguna dalam mengurangi jumlah mikroba dalam folikel yang berperan dalam etiopatogenesis akne vulgaris. Tretinoin merupakan retinoid topikal yang berfungsi sebagai bahan iritan yang dapat mengelupas kulit.

TERIMA KASIH