Anda di halaman 1dari 101

HIPERT ENSI EMERGENCY

OLEH : Dr. Sjahrir Nurdin SpJP- FIHA Hp : 0811 .157. 856

HI
PER TEN SI

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007: prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas.

60% penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sisanya pada gagal jantung, gagal ginjal, dan kebutaan.

PENDAHULUAN
American Heart Association (AHA, 2001): secara keseluruhan kematian akibat hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46% Masalah kesehatan masyarakat Hipertensi yang tidak terkontrol dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif, seperti gagal jantung congestive, gagal ginjal, dan penyakit vaskuler.

Disebut silent killer karena sifatnya asimptomatik dan setelah beberapa tahun menimbulkan stroke yang fatal atau penyakit jantung.

HIPERTENSI
Tensi / tekanan darah merupakan salah satu VITAL SIGN yang sangat penting. Dalam segi keperawatan penderita dengan masalah kardiovaskuler apalagi perawatan di ICU/ICCU, petanda perlu mendapat perhatian sekali. Pembahasan kita pada siang hari ini : pengukuran klassifikasi penanganan dalam keadaan darurat.

Apa yang harus diperhatikan sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah ??


Sebaiknya sebelum dilakukan pemeriksaan pastikan kandung- kemih pasien kosong dan hindari konsumsi kopi, alkohol, dan rokok, karena semua hal itu akan meningkatkan tekanan darah dari nilai sebenarnya. Sebaiknya istirahat duduk dengan tenang selama 5 menit sebelum pemeriksaan dan jangan berbicara saat pemeriksaan Tenangkan pikiran anda, karena pikiran yang tegang dan stress akan meningkatkan takanan darah seseorang.

Alat pengukur tekanan darah atau sfignomanometer ada 3 jenis : Air raksa, aneroid dan digital. Pengukuran yang paling ideal adalah mengunakan air raksa, namun penggunaannya harus benar.

PENGUKURAN TEKANAN DARAH


Mengukur tekanan darah sacara benar sangatlah penting untuk mendiagnosa adanya hipertensi dan mengevaluasi respon pengobatan antihipertensi
Untuk itu ada beberapa pertanyaan penting dalam pemeriksaan tersebut

Ina SH

Bagaimana posisi terbaik saat pengukuran takanan darah ?

Pemeriksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk dengan siku lengan menekuk diatas meja dengan posisi lengan sebaiknya setinggi Pengukuran tekanan jantung . akurat darah yang tidak

akan menimbulkan kesalahan diagnosis dan terapi antihipertensi


Ina SH

Prosedur pemeriksaan yang baik :


Setelah memperhatikan beberapa hal diatas, pemeriksaan tekanan darah dilakukan. Beberapa langkah yang dilakukan pada pemeriksaan tekanan darah menggunakan sfigmomanometer air raksa ;: 1. Pasanglah manset pada lengan atas, dengan batas bawah manset 2-3 6. Bila cm bunyi dari lipat pertama siku dan terdengar, perhatikan ingatlah posisi dan manset catatlah ( lebar sebagai manset sebaiknya 2/3 darisistole panjang lengan atas ). tekanan . 2. terakhir Letakan stetoskop tepat diatas arteri sebagai brakialis. 7. Bunyi yang masih terdengar, dicatat tekanan 3. Rabalah pulsasi arteri pada pergelangan tangan ( arteri radialis ). diastole. 4. Pompalah manset hingga tekanan manset mencapai 30 mmHg 8. Turunkan tekanan 0 mmHg, kemudian lepaskan setelahmanset pulsasi sampai arteri radialis menghilang. manset. 5. Bukalah katup manset dan tekanan manset dibiarkan menurun 9. Pengukuran tekanan darah sebaiknya 2 kali, untuk pelahan dengan kecepatan 2-3 mmHg/detik. mendapatkan nilai tekanan darah rerata.
Ina SH

Klasifikasi Hipertensi : JNC VII


Hypertension is defined as blood pressure 140/90 mmHg

Kategori
Normal Prehypertension

Systolic (mmHg)
<120 120-139

Diastolic (mmHg)
dan <80 / 80-89

Stage 1 hypertension
Stage 2 hypertension

140-159
160

/ 90-99
/ 100

JNC VII. JAMA 2003;289:2560-2572

Klasifikasi hipertensi menurut kedaruratan


Krisis hipertensi : keadaan peningkatan tekanan darah
Krisis hipertensi : mendadak (systole 180 mmHg dan/atau diastole 120 Mendadak tensi S >/= 180 mmHg. mmHg), pada penderita hipertensi, yang membutuhkan dan atau D >/= 120 mmHg. penanggulangan segera) Hipertensi emergensi (darurat)
Hipertensi urgensi (mendesak) tekanan darah Diperlukan mendadak+kerusak Kerusakan tindakan P E R L U an berat dari organ Target segera sasaran yang dalam kurun organ progresif P E N A N G A N A N waktu menit-jam. Tanpa Keterlambat Tanpa disertai timbuln Kerusakan kerusakan/komplikasi S E G E R an A ya sequeleTarget minimum dari organ kematian sasaran organ

Bagi penderita Hipertensi emergensi

Diantaranya : DIBUTUHKAN OBAT : Golongan Calcium Antagonis

Kerja cepat srabil perentral titrasi dan tidak menyebabkan iskemia organ

( Calcium Channel Blocker )

PERDIPINE

SELAMAT
Semoga SEGERA BERDIRI : PERHIMPUNAN PERAWAT ICCU ICU KOTA - BEKASI

Amieeee............en

WASSALAMUALAIKUM SEMOGA Wr,Wb.. BANYAK MENFAATNYA Salam sejahteraPRAKTEK buat kita semua DALAM KESEHARIAN KITA Terutama DI : ICCU - ICU

DEFIBRILASI
Suatu penelitian: - Pada 200 orang penderita henti jantung. diluar rumah sakit mendapatkan defibrilasi. - 72 % selamat sampai di RS. - 40 % tetap hidup saat keluar RS. - Waktu rata mendapat defibrilasi pada yang selamat keluar RS : 5,7 menit ( berbeda bermakna dengan yang tidak selamat 6,6 menit ). Kesimpulan : defibrilasi dini sangat efektif.

Kedua elektrode terpisah dalam jarak tertentu, dengan jantung berada diantaranya, sehingga arus listrik yang dilepaskan akan mengalir dari satu elektroda melalui otot jantung menuju ke elektrode yang lain. Energi listrik yang hanya beberapa millidetik akan mendepolarisasi atau membumkam seluruh miokardium pada saat yang bersamaan sehingga terjadi asistole beberapa saat.
Diharapkan disaat keheningan tersebut selsel pemacu jantung dapat mengeluarkan impuls dan mengambil alih kembali kontrol miokard, sehingga terjadi depolarisasi dan repolarisasi jantung kembali terkoordinasi secara normal.

Indikasi & Tingkat Energi Defibrilasi


FIBRILASI VENTRIKEL ( FV ) & TAKIKARDIA VENTRIKEL TAKIKARDIA VENTRIKEL . VT tipe TORSADE de POINTES : TANPA PULSASI :

Energi kardioversi awal BAYI dan ANAK ; ENERGI YANG TINGGI : ATRIAL FLUTTER -Obati penyebab dasarnya. 100 joule, ATRIAL FIBRILASI TAKIARITMIA SVT -Bila terjadi kedaruratan : lakukan Awal : 2 joule / kg. dapat ditingkatkan jika belum 300 JOULE ( monophasic ). sesudah dg digitalis : Konversi mulai 50 joule. KARDIOVERSI Konversi mulai 100 joule . Berikutnya : 4 joule/kg berhasil. Mulai dengan 50 150 -200 (joule biphasic ). mulaijoule 100 joule. Energi sangat BB. . rendah

Sumber : ACLS Perki 2008

Tatalaksana defibrilasi TATALAKSANA DEFIBRILASI


Posisi : aman, teduh, kering sirkulasi udara jang baik. Operator dan alat berada disisi kiri penderita. Nyalakan defibrilator dalam kondisi siap, tentukan energi yang .akan diberikan. Paddle diberi jelly secukupnya, letakan pada kedua paddle.Jelly harus cukup untuk menutupi seluruh permukaan paddle dengan baik tapi tidak bo;eh terlalu berlebihan karena apabila melebar terlalu jauh dikulit dada penderita dapat menyebabkan hubungan pendek antara kedua paddle . Sebagai alternatif yang lebih aman dapat digunakan pad basah yang mengandung elektrolit yang khusus dibuat defibrilator. Pad tersebut sudah ada dipasaran. Lakukan pengisian defibrilator. Tempelkan Paddle sternum didaerah PARASTERNAL KANAN DIBAWAH KLAVIKULA KAKAN, sedangkan paddle apex di DAERAH JANTUNG DIGARIS MID AXILLER KIRI. Beri tekanan sekitar 12 kg(25 pound) secara mantap. Pastikan tidak ada rongga diantara permukaan paddle dengan dinding dada. Pastikan ulang bahwa irama jantung adalah VF atau VT tanpa pulsasi. Aba-aba diberikan SEBELUM SHOCK DIBERIKAN AGAR TIDAK ADA SENTUHAN DENGAN PASIEN ATAU TEMPAT TIDUR sembari memastikan diri sendiri juga tidak bersentuhan: 1 ----- 2----Lihat ketidak bersentuhan serta lihat / pastikan irama dimonitor . Tekan tombol discharge secara bersamaan paddle tetap menetap didinding dada pasien. Segera angkat paddle dan lanjutkan RJP selama 5 siklus atau sekitar 2 menit nilai ulang IRAMA JANTUNG.

PO S I S I - PE N D E R ITA. aman, teduh, kering, cukup sirkulasi Jika dada basah keringkan dulu.

OPERATOR & ALAT : Berada disisi kiri pasien IT

PADDLE :
Diberi jelly secukupnya, Jelly menutupi seluruh permukaan paddle dan tak boleh berlebihan. ISI DEFIBRILASI. Letakan paddle pada posisinya, tekan menetap sekitar 12 kg, pastikan tak ada rongga diantara kulit dan permukaan paddle.

PASTIKAN ULANG GAMBARAN EKG DIMONiTOR VF atau VT tanpa pulsasi )


ABA-ABA tentang TAK BERSENTUHAAN DIRI DENGAN TEMPAT TIDUR/PASIEN. - - 1 -- 2 -- 3 .( bersamaan dengan melihat ketidak
bersentuhan dengan pasien serta gambaran EKG pada monitor )

Paddle lanjutan :

- Tekan tombol discharge bersamaan paddle menetap didinding dada pasien.


- Segera angkat paddle dan lanjutkan RJP selama 5 siklus atau 2 menit , kemudian nilai ulang irama jantung. - ( 1 siklus RJP : 30 kompresi + 2 nafas bantu )

Keberhasilan - Defibrilasi

KEJUTAN LISTRIK
SYNCHRONIZED ( pada

ASYNCHRONIZED
( pada

Kardioversi )

Defibrilasi)
Untuk: - VF. - VT pulseless /tanpa pulsasi.

Artinya impuls listrik jatuh tepat pada saat gelombang R dari kompleks QRS, sehingga terhindar jatuh pada vulnerable period ( puncak Gel. T ) yang sangat memungkinkan justru terjadi VF . Untuk TAKIARITMIA

PADDLE : . Diberi jelly secukupnya, . Jelly menutupi seluruh permukaan paddle dan tak boleh berlebihan. ISI DEFIBRILASI. PADDLE : Letakan pada pisisinya, tekan menetap sekitar 12 kg, pastikan tak ada rongga diantara kulit dan permukaan paddle. PASTIKAN ULANG GAMBARAN EKG DIMONiTOR VF atau VT tanpa pulsasi )

ABA-ABA tentang TAK BERSENTUHAAN DIRI DENGAN TEMPAT TIDUR/PASIEN. - 1 -- 2 -- 3. Lihat ketidak bersentuhan dan irama dimonitor. Tekan tombol discharge bersamaan paddle menetap didinding dada pasien. Segera angkat paddle dan lanjutkan RJP selama 5 siklus atau 2 menit , kemudian nilai ulang irama jantung.

CHARGER akan mengkonversi tenaga listrik tegangan rendah menjadi tegangan lebih tinggi (yang dibutuhkan untuk melakukan kejutan listrik) yang disimpan pada KAPASITOR. SIRKULASI PELEPASAN LISTRIK dapat melepaskan energi listrik melalui kedua elektrode yang dapat berbentuk PADDLE atau PAD. JOULE / WATT SECOND merupakan satuan energi listrik yang disimpan.

DEFIBRILATOR :
Adalah alat penghasil kejutan listrik searah yang terkontrol pada pasien untuk menghentikan berbagai macam Takiaritmia. ( bukan untuk PEA maupun Asistole )

Karena arus listrik searah atau Direct Current Shock

Defibrilator terdiri dari :


1. Alat penyimpan listrik ( = Kapasitor ) . 2. Alat pengisi ( Charger ) . 3. Sirkuit pelepasan listrik .

DC SHOCK

. Diberi jelly secukupnya, . Diberi jelly secukupnya, . Jelly menutupi seluruh permukaan paddle dan . Jelly menutupi seluruh permukaan paddle dan tak boleh berlebihan. tak boleh berlebihan. ISI DEFIBRILASI. ISI DEFIBRILASI. PADDLE : PADDLE : Letakan pada pisisinya, tekan menetap sekitar 12 Letakan pada pisisinya, tekan menetap sekitar 12 kg, pastikan tak ada rongga diantara kulit dan kg, pastikan tak ada rongga diantara kulit dan permukaan paddle. permukaan paddle. PASTIKAN ULANG GAMBARAN EKG PASTIKAN ULANG GAMBARAN EKG DIMONiTOR DIMONiTOR VF atau VT tanpa pulsasi ) VF atau VT tanpa pulsasi )

ABA-ABA tentang TAK BERSENTUHAAN DIRI ABA-ABA tentang TAK BERSENTUHAAN DIRI DENGAN TEMPAT TIDUR/PASIEN. DENGAN TEMPAT TIDUR/PASIEN. - - 1 -- 2 -- 3. - - 1 -- 2 -- 3. Lihat ketidak bersentuhan dan irama dimonitor. Lihat ketidak bersentuhan dan irama dimonitor. - Tekan tombol discharge bersamaan paddle - Tekan tombol discharge bersamaan paddle menetap didinding dada pasien. menetap didinding dada pasien. -

-- Segera Segeraangkat angkatpaddle paddledan dan lanjutkan lanjutkanRJP RJPselama selama55siklus siklus

( TREADMILL TEST )

TAKIKARDIA

- AF - ATRIAL FLUTER - SVT

- VT Monomorfik. -VT Polimorfik - Takikardi dengan QRS lebar yang sulit ditentukan jenisnya.

Sumber : ACLS Perki 2008

J point

Tombol CHARGER akan mengkonversi tenaga listrik tegangan rendah menjadi tegangan lebih tinggi (yang dibutuhkan untuk melakukan kejutan listrik) yang disimpan pada KAPASITOR

yang lain.kejutan arus searah yang terkontrol Defibrilator : alat yang dapat menghasilkan

- Charger alat pengisi. - Sirkuit pelepas listrik. Alat pengisi mengkonversi tenaga listrik tegangan rendah menjadi tegangan yang lebih tinggi yang dibutuhkan untuk melakukan kejutan listrik dan kemudian disimpan pada kapasitor. Melalui sirkuit pelepas kemudian melepaskan energi listrik melalui kedua elektrde yang ada. Elekrode tersebut bisa dalam bentuk paddle yang dapat dipakai berulang kali atau dalam bentuk pad sekali pakai. Joule / watt second merupakan energi listrik yang dihasilkan . Pada sat melakukan defibrilasi kedua elektrode terpisah dalam jarak tertentu dengan jantung berada diantaranya, sehingga arus listrik yang dilepaskan akan mengalir dari satu elektrode melalui otot jantung menuju ke elektrode yang lain. Energi listrik yang dialirkan dalam beberapa millidetik akan mendepolarisasi atau membungkam seluruh mikardium pada saat yang bersamaan sehingga terjadi asitole beberapa saat. Diharapakan disaat hening tersebut sel-sel pemacu otot jantung dapat mengeluarkan impuls dan mengambil alih kontrol miokard sehingga terjadi depolarisasi dan repolarisasi secara terkoordinasi

Energi listrik yang hanya beberapa millidetik akan pada pasien untuk menghentikan berbagai macam takiartimia. Karena arus listriknya searah = Direct Current Shock atau DC seluruh Shock. mendepolarisasi atau membumkam Terdiri dari : miokardium pada saat yang bersamaan sehingga - Kapasitor: penyimpan energi listrik. terjadi asistole beberapa saat.

TAKIKARDI

GEJALA-GEJALA : -Sesak nafas. -Nyeri dada. -Kesadaran menurun. -Kelemahan,presinkop, sinkop

TANDA TANDA : -Hipotensi/syok. -EKG iskemia. -Edema paru/gagal jantung. -Akral dingin,urini menurun.

TATALAKSANA : Terpenting tentukan dulu ada tidaknya NADI !!??. Jika ada nadi, tentukan stabil atau tidak stabilnya penderita (gejala& tanda ). KARDIOVERSI segera bagi setiap TAKIKARDIA TIDAK STABIL. Pada sinus takikardi, jika terjadi ggg hemodinamik harus dicari penyebabnya, bukan dilakukan kardioversi

VF dan VT tanpa pulsasi : monophasic 360 joule , biphasic 150 200 joule. VT : konversi awal dengan 100 joule dan dapat ditingkat bila belum berhasil. VT torsade de pointes : terapi penyebab dasarnya, keadaan darurat dapat dikonversi dengan 100 joule. Atrial Flutter : konversi mulai 50 Joule. Atrial Fibrilasi : Konversi mulai 100 joule. SVT : mulai dengan 50 joule. Takiaritmia sudah dg digitalis : konversi dengan energi yang sangat rendah. Bayi dan anak : dosis awal 2 joule/kg BB, untuk berikutnya 4 joule /kg BB.

Posisi : aman, teduh, kering sirkulasi udara jang baik. Operator dan alat berada disisi kiri penderita. Nyalakan defibrilator dalam kondisi siap, tentukan energi yang .akan diberikan. Paddle diberi jelly secukupnya, letakan pada kedua paddle.Jelly harus cukup untuk menutupi seluruh permukaan paddle dengan baik tapi tidak bo;eh terlalu berlebihan karena apabila melebar terlalu jauh dikulit dada penderita dapat menyebabkan hubungan pendek antara kedua paddle . Sebagai alternatif yang lebih aman dapat digunakan pad basah yang mengandung elektrolit yang khusus dibuat defibrilator. Pad tersebut sudah ada dipasaran. Lakukan pengisian defibrilator. Tempelkan Paddle sternum didaerah PARASTERNAL KANAN DIBAWAH KLAVIKULA KAKAN, sedangkan paddle apex di DAERAH JANTUNG DIGARIS MID AXILLER KIRI. Beri tekanan sekitar 12 kg(25 pound) secara mantap. Pastikan tidak ada rongga diantara permukaan paddle dengan dinding dada. Pastikan ulang bahwa irama jantung adalah VF atau VT tanpa pulsasi. Aba-aba diberikan SEBELUM SHOCK DIBERIKAN AGAR TIDAK ADA SENTUHAN DENGAN PASIEN ATAU TEMPAT TIDUR sembari memastikan diri sendiri juga tidak bersentuhan: 1 ----- 2----Lihat ketidak bersentuhan serta lihat / pastikan irama dimonitor . Tekan tombol discharge secara bersamaan paddle tetap menetap didinding dada pasien. Segera angkat paddle dan lanjutkan RJP selama 5 siklus atau sekitar 2 menit nilai ulang IRAMA JANTUNG.

HEMOSTASIS
[ MEKANISME PENGHENTIAN/PENCEGAHAN PERDARAHAN ]

luka

Terjadi 3 reaksi :
1. REAKSI VASKULER : BERUPA VASOKONTRIKSI PEMBULUH DARAH . 2. REAKSI SELULER : BERUPA SUMbatan trombosit. 3. REAKSI BIOKIMIA : BERUPA PEMBENTUKAN FIBRIN```

Perdarahan berhenti

Sumber : Hemostasisi dan Trombosis , Edisi 3, FKUI

TROMBOSIS
- Pembentukan massa abnormal -Dalam pembuluh darah ( arteri ataupun vena ) mahluk hidup - Dari komponen-komponen darah. Faktor risiko trombus vena : Stasis & hiperkoagulabili tas

PATOFISIOLOGI: Triad of virchow,s -Perubahan dinding. - Perubahan aliran. - Perubahan daya beku. Faktor risiko trombus arteri : kerusakan endotel dan kelainan trombosit

TROMBUS

Trombus PUTIH

EMBOLUS ( trombus yang beredar )

Trombus MERAH

Faktor risiko trombosis


Sumber : Hemostasisi dan Trombosis , Edisi 3, FKUI

Pembentukan trombus
Endotel rusak jaringan subendotel terpapar sistem pembekuan darah diaktifkan trombosit melekat pada jaringan subendotel ( terutama serat kolagen, membran basalis dan mikrofibril ) trombosit yang melekat akan melepaskan ADP dan menghasilkan Tromboksan A2 ( TxA2 ) ADP & TxA2 merangsang trombosit yang masih beredar untuk berubah bentuk & saling melekat ( = AGREGASI ). Trombosit yang beragregasi akan melepaskan ADP & TxA2 terjadi agregasi lebih lanjut. Endotel rusak juga mengaktifasi sistim pembekuaan darah ( intrinsik maupun ektrinsik ) terbentuk trombin trombin mengubah fibrinogen menjadi fibrin jang akan menstabilkan trombus terbentuklah TROMBUS .

LANJUTAN
Selain ADP trombosit juga dikeluarkan: PLATELET FACTOR 4/PF4, BETA THROMBOGLOBULIN/BETATg dan PLATELET DERIVED GRWTH FACTOR/PDGF. PF4 DAN BETATg bersifat anti heparin . PDGF akan merangsang migrasi dan proliferasi sel otot polos di intima. Bila kerusakan endotel berulang-ulang lama, proloferasi sel otot polos dan penumpukan jaringan ikat serta lipid berlangasung terus dinding semakin menebal terbentuk bercak aterosklerosis. Bila bercak ateroskerosis robek terbentuk trombus. Pembentukan trombus dan bercak aterosklerotik hanya terjadi pada arteri.

ALAT SUPLEMENTASI OKSIGEN

1.Kanulasi oksigen. 2.Sungkup muka sederhana. 3.Sungkup muka non-rebreathing. 4.Sungkup muka partial rebreathing.

# Patensi jalan nafas pada orang tak sadar dapat dilakukan dengan : - Dorong kepala tarik dagu. - OPA. - NPA. # Pada tingkat lanjut dengan LMA, Combitube, intubasi endotrachea.

Henti nafas

Tata laksana Tata laksana :

Hiperventilasi ( terlalu -Pemberian ventilasi banyak frekuensi atau dengan kantung nafas volume terlalu besar sungkup muka tiap 5 6 berbahaya detik Tekanan intra ( 10 -12torak kali /meningkat, menit ) penurunan venous -( Pernafasan bantu tanpa return, penurunan kompresi dada ) COP. Peningkatan pemompaan lambung muntah

-Beri oksigen tambahan. -Buka jalan nafas. - Beri ventilasi. -Sedot sekret. -Beri ventilasi dengan alat bantu nafas tingkat lanjut.

ACLS Perki 2008

( Nadi < 60 x/mt serta kondisi klinik tidak adekuat )

BRADIKARDIA

Pastikan jalan nafas aman Observasi monitoring - kondisi Bantuan jalan nafas jika diperlukan PERTIMBANGKAN : klinik Persiapan Pacu Jantung transkutan. Beri oksigen -Kemungkinan PEA. Jika ada AV Blok drajat 2 tipe 2 atau Ukur tensi, oksimetri, monitoring EKG -Cari dan obati penyebabnya. Pasang totalAV Infus blok pertimbangan pemberian -Hipovolemia. ATROPIN 0,5 mg/IV sembari menunggu -Hypoxia. Pacu Jantung transkutan. -Acidosis. Dosis total Atropin 3 mg / iv. -Hipo/hiperkalemia. Pertimbangan pemberian: -Hipotermia. a. Epineprin 2-10 mcg/menit) atau -Hipoglikemia. b. Dopamin 2-10 mcg/kg.menit/infus -Toksin. -Tamponade jantung. Persiapan Pacu Jantung Intravenus. -Tension pneumothorax. Obati Panyabab Dasar -Trombosis ( Koroner / Paru ). Konsultasi ke DOKTER SPESIALIS -Trauma (hipovolemia).

Lakukan ABC RJP segera pasang monitor dan kejutan listrik jika sudah datang. P.E.A : Setelah lead terpasang , hentikan RJP 10 detik untuk melihat adalah keadaan ekg dengan adanya irama pada monitoring. gambaran elektrik namun denyut nadi Jika EKG lebar-frekuensi rendah-denyut karotis (-) PEA. Segera beri EPINEPHRINE 1 mg dan RJP lanjut sebanyak 5 arteri karotis tak ada. siklus(2menit). : Ini merupakan keadaan henti jantung Harus dilakukan ( Obat lain : Vasopresin 40 Upemeriksaan: iv. Dan hanya 1 kali). dan nafas. Pertimbangkan intubasi trachea segera. Adanya elektrode yang terlepas ? - QRS lebar dan frekuensi 20-40 Jika masih PEA beri ATROPIN 1 mg/IV/IO. -Sambungan sandapan elektroda dengan alat kejut x/mt. listrik ? Lakukan RJP ulang 2menit nilai ulang ? jika masalah PEA -Batere DC TERPASANG - Dikenal sebagai irama idioventrikular. Sebenarnya ventrikel masih atropin lagi. Sampai dosis total atropin 3 mg. -Kabel-kabel listrik alat DC tersambung dengan baik ? Ini merupakan keadaan buruk. berkontraksi namun tak cukup kuat Setelah itu hanya -Aliran epinephrine saja diberikan. listrik ada ? yang - Merupakan keaadan panjang sebelumnya Setelah 30 -Coba menit,pindahan eavaluasi ulang tindakan-tindakan yang telah lead I,II,III secara bergantian ? menimbulkan pulsasi kepembuluh darah. diberikan. -Usahakan menaikan amplitudo alat DC seperti: MCI,iskamik miokard, VT, VF . Bila telah tampak tanda-tanda kematian biologis, agar gelombang lebih terlihat !!? penghentian Bila jantung benar-benar berhenti total dikenal pertolongan dapat dipertimbangkan. Jika semuanya OK disebut true asistol penanganan sesuai PEA dengan Tidak digunakan KEJUTAN LISTRIK pada PEA atau asistole sebagai ASISTOL. selalu memperhatikan akan terpasangnya sadapan elektrode dengan baik !!!

PEA JIKA TATALAKSANA P.E.A. : ( Pulseless ASISTOL Electrical Activity)

GAMBARAN EKG

perokok
Pr. Aktif Pr. Pasif

Menghisap langsung
A U ta ma

Orang sekitar perokok yang terpapar asap rokok disaat sedang merokok.

25 %

75 %

Asap samping:
-Kadar TAR & NIKOTIN > 3 kali asap utama. -Kadar MONOOKSIDA > 5 kali. -Kadar zat kimia penyebab kanker > 50 kali.

Pola kebiasan merokok


( Studi dari LM3, 1998 ) a. Usia > 10 tahun : perokok sebanyak 59,04% pria & 4,83% wanita. b. Remaja pria 12,8%-27,7% serta 0,64% remaja wanita perokok. c. Jumlah rokok yang dihisap perhari rata-rata : 10 batang pria dan 3 batang wanita. d. Mayoritas memulai merokok usia 10 - < 30 tahun. e. 1 dari 5 siswa SMU/Kejuruan merokok.

TERHADAP SISTIM SIRKULASI. 1. 2. 3. 4. 5. Denyut nadi meningkat. Tekanan darah meningkat. Variasi tekanan darah meningkat Kontrasi otot jantung meningkat Pembuluh darah tepi mengecil.

EFEK ROKOK

Aliran darah koroner berkurang karena penyempitan

Kolesterol HDL dan Asam lemak darah meningkat

Berhenti merokok : Perubahan apa yang terjadi ??

Risiko mendapatkan serangan Risiko untuk mendapatkan serangan Sirkulasi dari berbagai bagian Lagi dalam darah serta Karbonmono Tingkat energi/tenaga oksida dieleminasi mulai jantung menjadi separuh dariyang Kadar oksigen darah kembali jantung sama dengan mereka Tekanan darah kembali normal tubuh mulai membaik kemampuan mencium dan dalam meningkat tubuh. mereka melan]utkan normal tidahyang pernah merokok. merasa membaik kebiasaan merokoknya

48 jam berhenti 5 tahun berhenti merokok 10 tahun berhenti 2 12 minggu berhenti 24 72 jam jam berhenti berhenti 8 jam berhenti merokok : : 20 menit berhenti merokok : merokok : merokok merokok : : merokok : merokok : Nikotin tidak terdapat/terdeteksi

Bagi anda yang tidak ingin tercemar akan asap rokok : Beberapa hal yang perlu anda ketahui !
Anda berhak untuk menolak apabila seseorang menyalakan api untuk merokok tanpa persetujuan anda Anda MEMPUNYAI hak untuk memberitahu secara sopan dan tegas bahwa anda terganggu oleh asap rokok dan anda tidak menyukainya. Anda mempunyai hak untuk bernafas diudara yang bersih

TAR dalam asap rokok dapat mengakibatkan penyakit KANKER

Perlu renungan ulang akan kebiasaan merokok yang berisiko untuk terkena

Serangan Jantung

B a g i A n d a Yang merokok

Asap rokok juga akan berpengaruh bagi anak2 anda ....... Istri anda .......... cucu2 anda........ serta orang2 lainnya disekitar anda

Gas CARBON MONOOKSIDA ( CO ) dalam asap rokok mengurangi daya angkut oksigen oleh darah

PEMBESARAN VENTRIKEL KIRI

KRITERIA : (Sokolov dan Lyon) Gel S di V1 tambah R di V5-6 > 35 mm Gel R di V5-6 > 26 mm R + S di beberapa lead dada > 45 mm

KENALKAH ANDA ??

? ? ?

Treadmill Test adalah suatu tindakan uji latih dengan menggunakan beban yang bertujuan a.l.: 1. Untuk diagnostik. 2. Untuk menentukan prognostik. 3. Menilai kapasitas fungsional.

UJI LATIH JANTUNG dg. BEBAN ( TREADMILL TEST)

1. Telah terlatih baik. 2. Menguasai dasar fisiologi latihan. 3. Menguasai respon latihan yang normal & abnormal. 4. Mampu mengenal atau mencegah kejadian yang timbul. 5. Telah terlatih untuk melakukan RJP.

Hanya boleh dilakukan oleh orang :

SERTA TERSEDIA OBAT DAN PERALATAN YANG MEMADAI

PERSIAPAN ULJB - Berdasarkan rujukan ditentukan jadwal waktu u.l.j.b. - Terangkan maksud dari u.l.j.b. - Isi formulir persetujuan tindakanmedis ( informed concent). -----------Persiapan Uljb : a. Setengah jam sebelum tindakan sudah ada diruangan . b. Tidak boleh makan dan merokok dalam 3 jam sebelum tindakan. c. Berpakai yang cocok serta beralas kaki ( jika ada ). d. Tidak boleh melakukan kegiatan fisik yang diluar kebiasannya paling tidak 12 jam sebelum u.l.j.b. e. Mengisi dan menanadatangani persetujuan tindakan medis (informed concent ). ==sn==

PELAKSANAAN UJI
1. Setengah jam sebelumnya sudah ada diruangan uji. Anamnesa singkat serta pemeriksaan fisik untuk mencari kemungkinan adanya kontraindikasi ULJB dll. Ingat : penderita dalam APTS muapun payah jantung tidak boleh dilakukan ULJB. 2. Rekaman EKG 12 hantaran sebelumnya perlu diperoleh ( Sangat penting bagi penderita PJK ). 3. Rekam EKG berbaring, berdiri dan hiperventilasi ( untuk konfirmasi positif palsu atau kelainan vasoregulator khususnya dalam bentuk depresi ST ). 4. Beri penjelaskan rinci: presedur tindakan, kemungkinan risiko dan komplikasi, cara-cara ujian dilakukan, sebaiknya dengan contoh (demontrasikan). 5. Pertimbangan penghentian obat-obat yang mempengaruhi hasil uji jika tujuan untuk diagnostik. 6. Jika obat tidak dihentikan, tanyakan jenisnya. 7. Rekaman EKG : a. Kulit dibersihkan dan digosok dengan cairan beralkohol. Jika perlu dicukur. b. Bila memakai sistim bipoler yang lengkap dengan 12 hantaran, dengan modifikasi hantaran dengan daerah bahu dan kaki disekitas umbilikus.

PENGHENTIAN UJI
Indikasi absolut : - Sistol menurun (secara menetap dibawah nilai dasar) dibandingkan peningkatan beban. - Angina pektoris bertambah. - Timbul gejala SSP : ataksia, pusing atau hampir sinkop. - Tanda perfusi jelek ( sianosis atau pucat ). - Disritmia yang berbahaya ( Ventrikel disritmia drajat tinggi, mltiform, triplest atau run ). - Kesulitan teknis, tak dapat memonitor atau merekam EKG atau tekanan darah sistol dengan baik. - Penderita minta berhenti. Indikasi relatif : - Prbh. segmen ST / junctional / axis QRS berlebihan. - Capek, sesak, wheezing, kese mutan / kram / klaudikasio . - Disritmia ringan (SVT) - Blok yang tak dapat dibedakan dari VT. - HT tercapai 85% atau 100% atau sesuai protokol.

P a s c a U .L.J.B
1. 2. 3. 4. 5. 6. Jika sensitivitas maksimal ingin dicapai, baringan penderita pasca ULJB. Monitoring diteruskan antar 4-5 menit, jika duduk antara 6-8 menit, atau sampai perubahan yang terjadi telah kembali. Pengukuran tekanan darah berlaku sebagaimana pada rekaman EKG. Jika timbul angina pektoris sarta keluhan masih ada berikan nitrat dan pantau sampai keluhan hilang dan perubahan EKG telah kembali. Pdrt. dianjurkan menunggu sekitar 15 menit untuk pemantauan dan kemungkinan melengkapi data yang belum ada. Berikan hasil sementara agar dokter yang merujuk mengetahui hasil uji. Laporan lengkap disertai lampiran hasil rekaman EKG dan atau hasil analisa gas .

a. Kapan dilakukan uji serta metode / protokol. b. Alasan uji dihentikan ( klinis, denyut jantung sasaran, perubahan EKG, tekanan darah, dll. ) c. Hasil : positif, negatif, positif/negatif palsu serta kemungkinan korelasi dengan PJK jika alasan uji untuk diagnostik / prognostik. d. Kapasitas fungsional dalam satuan MET, jika memakai analisa gas darah laporkan ambang anaerobik serta klasifikasi NYHA, terutama bila alasan uji untuk evaluasi kapasitas fungsional pada kelainan valvuler atau bawa an atau program rehabilitasi. e. Medikasi yang diberikan, nasehat/anjuran serta kmgkn ULJB ulangan.

HAL-HAL YANG HARUS DICANTUMKAN A.L.:

INDIKASI - ULJB
Klas I. ULJB scr umum disepakati
A. Pdrt dg. gejala./keluhan PJK / pdt. dg PJK.

Klas II. ULJB kadang kala dilakukan


A. 1. Wanita dengan keluhan sakit dada.

1. Untuk diagnostik bagi pria dengan tanda/gejala atipikal PJK. 2. Mengukur kapasitas fungsionil. 3. Prognostik. 4. Evaluasi aritmia konsisten akibat latihan.
B. Pasca IMA.

1. ULJB sub-max. sblm pulang.

B. Check-up asimptomatik pria > 40 thn.

2. Pdrt. dengan Digoxin & RBBB 3. Evaluasi Kapasitas fungsional & respon terapi pd PJK & CHF. 4. Evaluasi Variant angina . 5. Evaluasi tahunan CHF.

2. ULJB maximal .

- Panduan program latihan yang aman. - Kemungkinan perubahan obat. - Triase penderita dan tindak lanjut. - Membuat penderita yakin & berani. - Menemukan iskemia berat, respon hipertensi & disritmia. - Prognosis. - Menemukan limitasi program Latihan. - Prognostik. - Meyakinkan bekerja kembali. - Menentukan tahap kecacatan. - Triase untuk studi invasif. - Seleksi obat dan menilai efektifitasnya.

C. 1. Evaluasi pasca IMA dg. komplikasi.

- Pekerjaan khusus. - 2 atau lebih FR. ( kolesterol > 240, hipertensi, merokok, DM, riwayat ke luarga PJK umur < 55 tahun ) - Sebelum mengikuti latihan berat bagi yang biasa hidup santai.
2. Pemeriksaan sekali setahun pasca CABG atau angioplasti koroner. 3. Evaluasi Kap. fungsional kel. katub. 4. Evaluasi respon tensi pada penderita hipertensi yang ingin ber-OR. berat.

C. Sesudah tindakan khusus.

Evaluasi pasca bedah koroner & angiografi koroner.

Sumber : spmrsjhk,1999

KONTRA INDIKASI ULJB

MUTLAK

RELATIF

IMA (antara hari 3 5 ). APTS. Disritmia tak terkontrol. Endokarditis aktif. AS berat. HF belum terkontrol. Emboli paru akut / infark paru. Kel. Nonkardiak yang dapat mem pengaruhi hasil mis: radang, RF, tirotoksikosis. 9. Mio atau perikarditis. 10. Cacat fisik dan membahayakan. 11. Trombus pada tungkai bawah. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Left main stenosis atau equivalent.. AS moderate. Elektrolit yang abnormal. PH bermakna. Takhi dan bradiaritmi. HCM. Tidak kooperatif. Blok A-V drajat tinggi.

WASSALAMUALAIKUM Wr.Wb.

Elektrokardiograf

Elektrokardiograf adalah alat rekaman grafik aktifitas listrik jantung

Asessoris dari Elektrokardiograf