Anda di halaman 1dari 56

Case Report I SEORANG ANAK UMUR 8 TAHUN DENGAN KEJANG DEMAM

Disusun Oleh: Rakhmi Tria Utami J500090063 Pembimbing: dr. Eko Jaenudin, Sp. A

BAGIAN KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD Dr. HARJONO PONOROGO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

IDENTITAS PASIEN

Nama lengkap Jenis Kelamin Umur Tempat dan tanggal lahir Nama Ayah Pekerjaan Ayah Nama Ibu Pekerjaan Ibu Alamat Masuk RS tangal Diagnosis Masuk

: An. F : Laki-laki : 8 tahun : Ponorogo, 20 Januari 2005 : Tn. S (34 tahun) : Petani : Ny. S (32 tahun) : IRT : Jetis, Ponorogo : 18 September 2013 : Kejang demam

ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA (HMRS) : Kejang KELUHAN TAMBAHAN : Demam

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang dengan keluhan kejang dan demam pada tanggal 18 September 2013 pukul 03.30 WIB, kejang timbul 1x dirumah dan langsung dibawa ke RSUD Hardjono Ponorogo oleh orangtuanya. Sebelumnya pasien tidak mengalami demam, dan demam tinggi timbul bersamaan dengan kejang. Menurut orangtua pasien kejang yang dialami pasien berlangsung >15 menit dan pasien tidak sadarkan diri. Kejang berulang sebanyak 3x sampai pukul 07.00 WIB. Pada pukul 08.00 WIB pasien muntah 1x setelah habis makan, dan muntahan berisi makanan. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri di pinggang sebelah kirinya. Pasien sebelumnya tidak ada batuk dan pilek. Pada saat pemeriksaan tanggal 19 September 2013, pasien menyatakan tidak ada keluhan kecuali nyeri di pinggang sebelah kanan. BAK normal, tidak berwarna merah ataupun seperti teh, tidak nyeri, tidak panas. Pusing (-), demam (-), mual (-), muntah (-), batuk (-), pilek (-), nyeri perut (-). Kesan : muntah (+), demam(+), kejang (+)

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riwayat asma dan alergi Riwayat Hipertensi Riwayat DM Riwayat penyakit ginjal Riwayat penyakit jantung Riwayat kejang Riwayat epilepsi

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Kesan: Tidak terdapat penyakit keluarga yang diturunkan

RIWAYAT KELUARGA
Keterarngan:
: laki-laki : perempuan : pasien

KESAN : Tidak terdapat penyakit keluarga sejenis yang diturunkan

RIWAYAT PRIBADI

Riwayat kehamilan ibu pasien


Ibu G1P0A0 hamil pada saat usia 23 tahun dan pasien merupakan anak yang pertama. Ibu pasien mulai memeriksakan kehamilan ketika usia kehamilan 1 bulan dan selanjutnya rutin kontrol ke bidan sebulan sekali. Selama hamil ibu muntah-muntah sampai usia kehamilan 3 bulan, tidak ada riwayat trauma, perdarahan maupun infeksi selama hamil. Tekanan darah ibu selama kontrol dalam kisaran normal yaitu sekitar 120/80 mmHg. Berat badan ibu ditimbang dinyatakan normal.

Kesan: ANC baik

Riwayat persalinan ibu pasien


Ibu pasien melahirkan anaknya yang pertama saat usia 23 tahun umur kehamilan 7 bulan 2 minggu, persalinan normal dibantu bidan, berat badan lahir pasien 2700 gram, pada saat lahir bayi langsung menangis, tidak ditemukan cacat bawaan saat lahir.

Kesan: persalinan kurang bulan

Riwayat pasca lahir pasien


Bayi laki-laki lahir langsung menangis, mendapat ASI pada
hari pertama, warna kulit merah, tidak biru dan tidak kuning.

BAB dan BAK pertama kurang dari 24 jam.

Kesan : PNC baik

RIWAYAT MAKANAN

Umur 0-6 bulan : ASI . Umur 6-9bulan : ASI semau bayi + bubur susu . Umur 9-18 bulan : ASI, air putih semaunya+ nasi tim piring lauk seadanya diberikan semaunya.

Kesan : Kualitas dan kuantitas cukup

PERKEMBANGAN DAN KEPANDAIAN


Motorik kasar Miring (usia 5 bulan) Tengkurap (usia 7 bulan) Duduk (10 bulan) Berdiri (10 bulan) Berjalan (11 bulan) Berlari (13 bulan) Motorik halus Mengambil benda usia (8 bln) Makan sendiri (2 tahun) Bahasa Mengoceh (9 bulan) Memanggil (11 bulan) Personal sosial Tepuk tangan (11 bln)

Kesan : Perkembangan dan kepandaian sesuai dengan usia

VAKSINASI
DASAR Hepatitis B BCG DPT Polio Campak 4 kali Pada umur : 0, 2, 4, 6 bulan 1 kali Pada umur : 1 bulan 3 kali Pada umur : 2,4,6 bulan 4 kali Pada umur : 0, 2,4, 6 1 kali Pada umur : 9 bulan Di posyandu Di posyandu Di posyandu Di posyandu Di posyandu

Kesan : Pasien sudah mendapat vaksinasi dasar lengkap

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Riwayat penyakit yg sama : disangkal Riwayat kejang tanpa disertai demam : disangkal Riwayat trauma kepala : disangkal Riwayat asma dan alergi obat dan makanan : disangkal Kesan: Tidak terdapat riwayat penyakit serupa.

SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN

Sosial ekonomi Ayah adalah buruh tani dengan penghasilan rata-rata <500.000 per bulan dan ibu merupakan seorang ibu rumah tangga. Cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembiayaan pengobatan pasien sedikit kesulitan. Lingkungan
Pasien tinggal bersama orangtua. Rumah terbagi menjadi 3 ruang (1 kamar tidur, ruang tamu, dan dapur), rumah atap genting, dinding dari batu bata, lantai semen, sumber air minum dari sumur yang terletak dibelakang rumah, mempunyai WC dan kamar mandi yang berada di luar rumah dan menjadi satu, sampah dibakar sendiri, tidak ada pabrik disekitar rumah, tidak terdapat kandang ternak disekitar rumah.

Kesan : keadaan lingkungan kurang baik

ANAMNESIS SISTEM

Serebrospinal : Kejang (+), demam (+) Kardiopulmoner : Kulit kebiruan (-), kuku-kuku jari berwarna biru (-) Respiratorius : Batuk (-), pilek (-), sesak (-) Gastrointestinal : Nyeri perut (-), mual (-), muntah (+) 1x berisi makanan Urogenital : BAK (+), warna jernih kekuningan. Integumentum : kekuningan (-), kebiruan (-) Muskuloskeletal : eutrofi (+)

Kesan : ada gangguan pada sistem cerebrospinal

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umun : Baik Kesadaran : Compos mentis Nadi : 88 x/menit reguler Suhu badan : 36,7oC Pernapasan : 24x/menit Tipe : Thoraco abdominal

Kesan : Tanda vital dalam batas normal

STATUS GIZI

Status Gizi Berat badan IMT

: 22,5 Kg ; Tinggi badan = 12,34

: 135 cm

Lingkar Kepala : 52 cm Lingkar lengan atas (kiri) : 20 cm Lingkar lengan atas (kanan) : 20 cm Lingkar dada : 70 cm Kesimpulan status gizi : BB/U : -2 1 SD (baik) TB/U : -2 1 SD (baik) BB/TB : -2 1 SD (baik) Kesimpulan status gizi :cukup/ sedang/ kurang/ kurang sekali *)

Kesimpulan status gizi: Baik

PEMERIKSAAN FISIK
Kulit : Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), sianosis (-), petekie (-) Kelenjar limfe : Tidak didapatkan pembesaran limfonodi Otot : Tidak didapatkan kelemahan, atrofi, maupun hipertrofi Tulang : Tidak didapatkan deformitas tulang Sendi : Gerakan bebas Kesan: Kulit, kelenjar limfe, otot, tulang, sendi dalam :batas normal Kesan Kulit, kelenjar limfe, otot, tulang, dan sendi dalam batas

normal

PEMERIKSAAN KHUSUS
Leher : Tidak ada pembesaran limfonodi leher, tidak teraba massa abnormal Thoraks : Simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-) Jantung : batas jantung jelaskan : Kanan atas : SIC II LPS dekstra Inspeksi: Iktus kordis tak tampak Kanan bawah : SIC IV LPS dekstra Kiri atas : SIC II LPS sinistra Palpasi : Tidak kuat angkat Kiri bawah : SIC V LMC sinistra Suara jantung: Suara jantung I-II interval reguler, bising jantung tidak didapatkan Kesan: jantung dalam batas normal

Paru-paru

Kanan Depan : Ketinggalan gerak (-) retraksi (-) Fremitus kanan kiri sama Sonor (+) Vesikuler (+) normal, Rh (-), Wh (-) Belakang : Ketinggalan gerak (-) Fremitus kanan kiri sama Sonor (+) Vesikuler (+) normal, Rh (-), Wh (-)

: Inspeksi : : Palpasi : : Perkusi : : Auskultasi : : Inspeksi : : Palpasi : : Perkusi : : Auskultasi :

Kiri Ketinggalan gerak (-) retraksi (-) Fremitus kanan kiri sama Sonor (+) Vesikuler (+) normal, Rh (-), Wh (-) Ketinggalan gerak (-) Fremitus kanan kiri sama Sonor (+) Vesikuler (+) normal, Rh (-), Wh (-

Kesan : paru-paru dalam batas normal

Abdomen : - Inspeksi : massa (-), simetris (+) Auskultasi : Peristaltik (+) normal Perkusi : Hipertimpani (-), Meteorismus (-) Palpasi : massa abnormal (-), nyeri tekan (-), turgor kulit baik Hati , Limpa: tak teraba membesar -Anogenital : normal

Kesan

: hasil pemeriksaan dalam batas normal

PEMERIKSAAN NEUROLOGI
tungkai : Kanan Gerakan Tonus Trofi Clonus : : : : bebas normal eutrofi Kiri bebas normal eutrofi Kanan bebas normal eutrofi lengan : Kiri bebas normal eutrofi

tidak didapatkan klonus

tidak didapatkan klonus

Reflek fisiologis : Patella (+), biseps (+), triseps (+) Refleks patologis : Babinski (-), Chaddock (-), Hoffman (-) Meningeal Sign : Kaku kuduk (-), brudzinski I (-), brudzinski II (-), kernig (-) Sensibilitas : Normal

Kesan: Status neurologis dalam batas normal

PEMERIKSAAN KHUSUS

Kepala : Normochephal, rambut hitam, tidak mudah dicabut, bentuk mesochephal Ubun-ubun : Menutup, ubun-ubun datar (+) Mata : CA (-/-), SI (-/-), cowong (-/-), air mata (+/+), Reflek cahaya (+/+) isokor Hidung : Sekret (-) warna bening, hiperemi (-), mimisan (-/-) Telinga : Sekret (-), hiperemis (-) Mulut : Mukosa bibir kering (-), stomatitis (-), Pharing : hiperemi (-) Gigi : Caries (-)

Kesan: kepala, mata, telinga, mulut, pharing dan gigi dalam batas normal

HASIL LABORATORIUM (Darah Rutin)


No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Parameter WBC Lymph Mid Gran Lymph % Mid % Gran % HGB RBC HCT MCV MCH MCHC RDW-CV RDW-SD PLT MPV PDW PCT Hasil 36,2x 10^3/UL 7,2 x 10^3/UL 2,5 x 10^3/UL 26,5 x 10^3/UL 19,8% 7,0 % 73,2 % 15,2 g/dl 5,36 x 10^6/UL 47,2 % 88,2 fL 28,3 pg 32,2 g/dl 16,1% 52,2 fL 420 x 10^3/UL 6,1fL 15,4 0, 256 % Nilai Normal 4,0-10,0 0,8-4,0 0,1-0,9 2,0-7,0 20,0-40,0 3,0-9,0 50,0-70,0 11,0-16,0 3,50-5,50 37,0-50,0 82,0-95,0 27,0-31,0 32,0-36,0 11,5-14,5 35,0-56,0 100-300 7,0-11,0 15,0-17,0 0,108-0,282

PEMERIKSAAN KIMIA DARAH


PEMERIKSAAN Glucose SGOT SGPT TP ALB Glob UREA CREAT CHOL HASIL PENDERITA 113 mg/dL 44,8 U/l 40,1 U/l 7,3 g/dL 4,3 g/dL 3 g/dL 38,4 mg/dL 0,79 mg/dL 295 mg/dL NILAI NORMAL 60-115 0-38 0-40 6,6-8,3 3,5-5,5 2-3,9 10-50 0,7-1,4 140-200

PEMERIKSAAN URIN LENGKAP


Pemeriksaan Protein Eritrosit Leukosit Hasil Penderita Negative 0-1 2-4 Nilai Normal Negative 0-1/LP 0-2/LP

Epitel
Kristal

0-1
Ca.Oxalat 0-1

0-2/LP
Negative

Resume
Anamnesis Kejang berulang Demam Pemeriksaan fisik kondisi lemah perut Pemeriksaan lab leukositosis sedikit granulositosis

muntah

kembung
S: 38OC

trombositosis

Daftar Masalah
Aktif Inaktif

kejang lemas Muntah leukositosis granulositosis trombositosis

Keadaan ekonomi kurang Keadaan lingkungan kurang

Diagnosis Kerja: Kejang Demam

Rencana Pengelolaan
1. Rencana Tindakan Tirah baring Atasi kejang Atasi muntah Observasi tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, frekeuensi pernafasan) 2. Rencana Terapi inj. Cefotaxim 3x500 mg - inj. Fenitoin 3x50 mg - inf D5 10 tpm - valium 5 mg (k/p) - O2, rawat lanjut, rawat intensif

3. Rencana Edukasi Menjelaskan kepada orang tua pasien tentang penyakit yang diderita Menjelaskan unruk selalu menjaga kebersihan diri, lingkungan dan keluarga. Memotivasi untuk kontrol pasca opname di rumah sakit

Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam. Quo ad sanam : dubia ad bonam. Quo ad fungsionam : dubia ad bonam.

TINJAUAN PUSTAKA
KEJANG DEMAM

Definisi

Kejang Demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. sering terjadi pada anak umur 6 bulan 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam.

Klasifikasi
Kejang demam sederhana Kejang demam kompleks

Lama kejang < 15 menit

Lama kejang >15 menit

Kejang umum/kedua belah tubuh

Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial

Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam

Berulang atau >1 kali dalam 24 jam.

Epidemiologi
Laki-laki : perempuan (1,4 : 1 dan 1,2 : 1) Terbanyak bangkitan kejang demam terjadi pada anak berusia antara usia 6 bulan sampai dengan 22 bulan Insiden bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada usia 18 bulan

Etiologi

tonsilitis atau faringitis akut 54% otitis media akut 17% morbili 7% bronkitis atau pneumonia akut 6% gastroenteritis 3% varisela 2% roseola infantum 1,5% mumps (gondongan) 1,5% rubela 0,5% herpangina 0,5% tidak diketahui 7%

Patofisiologi

Manifestasi Klinis

Terjadinya bangkitan kejang bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh proses infeksi di luar susunan saraf pusat. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dan dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.

Diagnosis Banding
Epilepsi Meningitis Ensefalitis

Diagnosis
Anamnesis
1.
2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.
9.

Identitas Riwayat Penyakit Riwayat Kehamilan Ibu Riwayat Persalinan Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Riwayat Imunisasi Riwayat Makanan Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita Riwayat Keluarga

Diagnosis
Pemeriksaan

Fisik

Pemeriksaan umum kesan keadaan sakit pasien, vital sign, status gizi pasien, data antropometrik. Pemeriksaan sistematis organ dari ujung rambut sampai ujung kuku. Pemeriksaan pada saat kejang. Cari sumber terjadinya demam Pemeriksaan status neurologis

Diagnosis
Pemeriksaan
1.

Penunjang

2.
3. 4.

Pemeriksaan laboratorium (darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit, serum kalsium, fosfor, magnesium, ureum, kreatinin, urinalisis, biakan darah, urin, feses) Pungsi Lumbal Pencitraan (CT-Scan atau MRI) Elektroensefalografi (EEG)

Penatalaksanaan
1. Mengatasi kejang secepat mungkin
2. Pengobatan penunjang

3. Memberikan pengobatan rumat


4. Mencari dan mengobati penyebab

5. Mencegah terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas


6. Pengobatan akut

1. Mengatasi kejang secepat mungkin


Semua pakaian yang ketat dibuka. Kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung. Usahakan jalan nafas yang bebas agar oksigenasi terjamin. Dan bisa juga diberikan sesuatu benda yang bisa digigit seperti kain, sendok balut kain yang berguna mencegah tergigitnya lidah atau tertutupnya jalan nafas. Bila suhu penderita meninggi, dapat dilakukan kompres dengan es atau alkohol atau dapat juga diberi obat penurun panas (antipiretik).

2. Pengobatan penunjang

Bila penderita dalam keadaan kejang obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara per rectal Dosis diazepam rectal adalah 0,5-0,75 mg/kgBB Dosis tergantung dari berat badan, yaitu berat badan kurang dari 10 kg diberikan 5 mg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg

3. Memberikan pengobatan rumat

1. Profilaksis intermiten pada saat demam berupa: Anti-piretik Asetaminofen 10-15 mg/kgBB/hari setiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam. Anti-kejang Diazepam oral 0,3 mg/kgBB/hari tiap 8 jam saat demam atau diazepam rektal 0,5 mg/kgBB/hari tiap 8 jam bila demam diatas 38C.

2. Profilaksis jangka panjang

Pengobatan jangka panjang kejang demam diberikan bila ada > 1 keadaan berikut: Kejang demam > 15 menit. Adanya defisit neurologis yang jelas baik sebelum maupun sesudah kejang Kejang demam fokal. Adanya riwayat epilepsi dalam keluarga. Dipertimbangkan apabila: Kejang demam pertama pada umur dibawah 12 bulan. Kejang berulang dalam 24 jam. Kejang demam berulang ( 4 kali per tahun).

Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah: Fenobarbital Dosis 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis. Sodium valproat / asam valproat Dosisnya ialah 15-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis.

Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

4. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat dan kuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut.

5. Mencegah terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas

Pemberian antibiotik yang sesuai untuk infeksi

6. Pengobatan akut

Edukasi pada orang tua


Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis yang baik. Memberitahukan cara penanganan kejang. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping obat.

Prognosis

Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis jarang Kemungkinan mengalami kematian tidak pernah dilaporkan Kemungkinan berulangnya kejang demam Faktor resiko berulangnya kejang demam adalah: 1. Riwayat kejang demam dalam keluarga. 2. Usia kurang dari 12 bulan. 3. Temperatur yang rendah saat kejang. 4. Cepatnya kejang setelah demam. Faktor resiko terjadinya epilepsi Faktor resiko menjadi epilepsi adalah : 1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama. 2. Kejang demam kompleks. 3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.

Daftar Pustaka

Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S, Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam, Unit Kerja Koordinasi Neurologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2006. Staf Pengajar IKA FKUI. Buku Ajar Kesehatan Anak. 1995. Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Lumbantobing, S.M., 2004. Kejang Demam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas. Hirz D.G., 1997. Febrile Seizures. Ped in Rev;18:5-9. Shah SS, Alpern ER, Zwerling L, Reid JR, McGowan KL, Bell LM., 2002. Low risk of bacteremia in children with febrile seizures. Arch Pediatr Adolesc Med;156:469-72. Chiu SS, Tse CY, Lau YL, Peiris M., 2001. Influenza A infection is an important cause of febrile seizures. Pediatrics;108:1-7. Baumann, R.J, Kao,A., 2012. Febrile Seizures. (http://emedicine.medscape.com/article/1176205overview#a0199 Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. 2011. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Macnair T, Febrile Convulsions, website http://www.bbc.co.uk/health/conditions/febrileconvulsions2.shtml-38k. Febrile Seizure,. website http://www.mayoclinic.com/health/febrile_seizures/DS00346/DSECTION=10

Terima Kasih