Anda di halaman 1dari 30

REFERAT OBGYN

INDUKSI PERSALINAN

Penyusun :PERI HIDAYAT S.Ked Pembimbing :dr.HUSHAT PRITALIANTO. Sp.OG

PENDAHULUAN
Persalinan merupakan proses fisiologis yang akan dialami pada kebanyakan perempuan hamil. Di dalam proses persalinan terdapat proses pengeluaran bayi, plasenta, cairan ketuban, dan selaputnya. Proses persalinan dapat berlangsung secara normal maupun resiko atau bahkan telah terjadi gangguan proses persalinan (dystocia). Gangguan persalinan ini erat kaitannya dengan factor-faktor yang mempengaruhi proses persalinan yang dikenal dengan 5 P yaitu power, passenger, passageway, posisi, psykologis. Salah satu cara mengatasi gangguan proses persalinan (dystocia) khusunya terkait dengan power dan passageway adalah dengan tindakan induksi persalinan.

PEMBAHASAN
1. DEFINISI Induksi Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan, yaitu dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada dengan menimbulkan mulas/his. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.

Untuk dapat melakukan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi, diantaranya : 1. Hendaknya serviks uteri sudah matang, yaitu serviks sudah mendatar dan menipis dan sudah dapat dilalui oleh sedikitnya 1 jari, sumbu serviks menghadap ke depan. 2. Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD) 3. Tidak ada kelainan letak janin yang tidak dapat dibetulkan 4. Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul. Apabila kondisi-kondisi ini tidak dipenuhi, maka induksi persalinan mungkin tidak memberi hasil yang diharapkan.

KLASIFIKASI INDUKSI PERSALINAN TERBAGI ATAS: 1. Secara Medis A. Infus oksitosin Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus. Impuls neural yang terbentuk dari perangsangan papilla mammae merupakan stimulus primer bagi pelepasan oksitosin sedangkan distensi vagina dan uterus merupakan stimulus sekunder. Estrogen akan merangsang produksi oksitosin sedangkan progesterone sebaliknya akan menghambat produksi oksitosin. Selain di hipotalamus, oksitosin juga disintesis di kelenjar gonad, plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan seterusnya. Konsentrasi oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada malam hari.

Syarat-syarat pemberian infus oksitosin : Agar infus oksitosin berhasil dalam menginduksi persalinan dan tidak memberikan penyulit baik pada ibu maupun janin, maka diperlukan syarat syarat sebagai berikut : 1. Kehamilan aterm 2. Ukuran panggul normal 3. Tak ada CPD 4. Janin dalam presentasi belakang kepala 5. Servik telah matang (portio lunak, mulai mendatar dan sudah mulai membuka)

TEHNIK PEMBERIAN OKSITOSIN DRIP 1. Pasien berbaring di tempat tidur dan tidur miring kiri 2. Lakukan penilaian terhadap tingkat kematangan servik. 3. Lakukan penilaian denyut nadi, tekanan darah dan his serta denyut jantung janin 4. Catat semua hasil penilaian pada partogram 5. 2.5 - 5 unit Oksitosin dilarutkan dalam 500 ml Dekstrose 5% dan diberikan dengan dosis awal 10 tetes per menit. 6. Naikkan jumlah tetesan sebesar 10 tetes permenit setiap 30 menit sampai tercapai kontraksi uterus yang adekuat.

7. Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi > 60 detik atau lebih dari 4 kali kontraksi per 10 menit) hentikan infus dan kurangi hiperstimulasi dengan pemberian:
Terbutalin 250 mcg IV perlahan selama 5 menit atau Salbutamol 5 mg dalam 500 ml cairan RL 10 tetes permenit

8. Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat setelah jumlah tetesan mencapai 60 tetes per menit: 9. Naikkan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% (atau PZ) dan sesuaikan tetesan infuse sampai 30 tetes per menit (15mU/menit) 10. Naikan jumlah tetesan infuse 10 tetes per menit setiap 30 menit sampai kontraksi uterus menjadi adekuat atau jumlah tetesan mencapai 60 tetes per menit. Jika masih tidak tercapai kontraksi uterus adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi tersebut maka: Pada multipgravida : induksi dianggap gagal dan lakukan sectio caesar. Pada primigravida, infuse oksitosin dapat dinaikkan konsentrasinya yaitu :
10 Unit dalam 400 ml Dextrose 5% , 30 tetes permenit Naikkan jumlah tetesan dengan 10 tetes permenit setiap 30 menit sampai tercapai kontraksi uterus adekuat.

B. Prostaglandin Pemberian prostaladin dapat merangsang otok -otot polos termasuk juga otot-otot rahim. Prostagladin yang spesifik untuk merangsang otot rahim ialah PGE2 dan PGF2 alpha. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (Nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria). Pada kehamilan aterm, induksi persalinan dengan prostagladin cukup efektif untuk memperpendek proses persalinan, menurunkan angka seksio sesaria dan menurunkan angka agar skor yang kurang dari 4. Selain melunakkan servik prostaglandin juga menghasilkan vasodilatasi dan meningkatkan curah jantung 30%. Juga merelaksasi otot polos gastrointestinal dan bronchial. C. Cairan hipertonik intra uteri Pemberian cairan hipertonik intramnnion dipakai untuk merangsang kontraksi rahim pada kehamilan dengan janin mati. Cairan hipertonik yang dipakai dapat berupa cairan garam hipertonik 20, urea dan lain-lain. Kadang-kadang pemakaian urea dicampur dengan prostagladin untuk memperkuat rangsangan pada otot-otot rahim. Cara ini dapat menimbulkan penyakit yang cukup berbahaya, misalnya hipernatremia, infeksi dan gangguan pembekuan darah.

2. Secara manipulatif A. Amniotomi Amniotomi artifisialisis dilakukan dengan cara memecahkan ketuban baik di bagian bawah depan (fore water) maupun dibagian belakang ( hind water ) dengan suatu alat khusus (drewsmith catheter) atau dengan omnihook yang sering dikombinasikan dengan pemberian oksitosin. Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti bagaimana pengaruh amniotomi dalam merangsang timbulnya kontraksi rahim.

B. Melepas selaput ketuban dari bagian

bawah rahim (stripping of the membrane).


Yang dimaksud dengan stripping of the membrane, ialah melepaskan ketuban dari dinding segmen bawah rahim secara menyeluruh setinggi mungkin dengan jari tangan. Cara ini dianggap cukup efektif dalam merangsang timbulnya his. Beberapa hambatan yang dihadapi dalam melakukan tindakan ini, ialah : Serviks yang belum dapat dilalui oleh jari, Bila didapatkan persangkaan plasenta letak rendah, tidak boleh dilakukan. Bila kepala belum cukup turun dalam rongga panggul.

C. Pemakaian rangsangan listrik Dengan dua elektrode, yang satu diletakkan dalam servik, sedangkan yang lain ditempelkan pada dinding perut, kemudian dialirkan listrik yang akan memberi rangsangan pada serviks untuk menimbulkan kontraksi rahim. Bentuk alat ini bermacam macam, bahkan ada yang ukurannya cukup kecil sehingga dapat dibawa bawa dan ibu tidak perlu tinggal di rumah sakit. Pemakaian alat ini perlu dijelaskan dan disetujui oleh pasien

Sebelum melakukan induksi, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : Penilaian serviks Keberhasilan induksi persalinan bergantung pada skor pelvis. Jika skor >6, biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitosin. Jika < 5, matangkan serviks lebih dahulu dengan prostaglandin atau kateter Foley.

PROSTAGLANDIN Prostaglandin sangat efektif untuk pematangan serviks selama induksi persalinan. Pantau denyut nadi, tekanan darah, kontraksi ibu hamil, dan periksa denyut jantung janin (DJJ). Catat semua pengamatan pada partograf. Kaji ulang indikasi. Prostaglandin E2 (PGE2) bentuk pesarium 3 mg atau gel 2-3 mg ditempatkan pada forniks posterior vagina dan dapat diulangi 6 jam kemudian (jika his tidak timbul). Pantau DJJ dan his pada induksi persalinan dengan Prostaglandin. Hentikan pemberian prostaglandin dan mulailah infus oksitosin, jika: - ketuban pecah, - pematangan serviks telah tercapai, - proses persalinan telah berlangsung, - ATAU pemakaian prostaglandin telah 24 jam.

MISOPROSTOL Penggunaan misoprostol untuk pematangan serviks hanya pada kasus-kasus tertentu misalnya: - preeklampsia berat/eklampsia dan serviks belum matang sedangkan seksio sesarea belum dapat segera dilakukan atau bayi terlalu prematur untuk bisa hidup; - kematian janin dalam rahim lebih dari 4 minggu belum in partu, dan terdapat tanda-tanda gangguan pembekuan darah. Tempatkan tablet misoprostol 25 mcg di forniks posterior vagina dan jika his tidak timbul dapat diulangi setelah 6 jam. Jika tidak ada reaksi setelah 2 kali pemberian 25 mcg, naikkan dosis menjadi 50 mcg tiap 6 jam. Jangan lebih dari 50 mcg setiap kali pakai dan jangan lebih dari 4 dosis atau 200 mcg. Misoprostol mempunyai risiko meningkatkan kejadian ruptura uteri. Oleh karena itu, hanya dikerjakan di pelayanan kesehatan yang lengkap (ada fasilitas bedah sesar).

KATETER FOLEY Kateter Foley merupakan alternatif lain di samping pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks dan induksi persalinan. Catatan : Jangan menggunakan Kateter Folley Jika ada riwayat perdarahan, Ketuban Pecah, pertumbuhan Janin terhambat, atau infeksi Vaginal. Kaji ulang indikasi. Masukkan kateter Foley pelan-pelan melalui serviks. Pastikan ujung kateter telah melewati ostium uteri internum. Gembungkan balon kateter dengan memasukkan 10 ml air. Gulung sisa kateter dan letakkan di vagina. Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi uterus atau sampai 12 jam. Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkan kateter, kemudian lanjutkan dengan infus oksitosin.

D. Rangsangan pada puting susu (breast stimulation ) Sebagaimana diketahui rangsangan putting susu dapat mempengaruhi hipofisis posterior untuk mengeluarkan oksitosis sehingga terjadi kontraksi rahim. Dengan pengertian ini maka telah dicoba dilakukan induksi persalinan dengan merangsang putting susu. Pada salah satu puting susu, atau daerah areola mammae dilakukan masase ringan dengan jari si ibu. Untuk menghindari lecet pada daerah tersebut, maka sebaiknya pada daerah puting dan aerola mammae di beri minyak pelicin. Lamanya tiap kali melakukan masase ini dapat jam 1 jam, kemudian istirah beberapa jam dan kemudian dilakukan lagi, sehingga dalam 1 hari maksimal dilakukan 3 jam. Tidak dianjurkan untuk melakukan tindakan ini pada kedua payudaraan bersamaan, karena ditakutkan terjadi perangsangan berlebihan. Menurut penelitian di luar negeri, cara induksi ini memberi hasil yang baik. Cara cara ini baik sekali untuk melakukan pematangan serviks pada kasus kasus kehamilan lewat waktu.

C. INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI INDIKASI Indikasi induksi persalinan bisa berasal dari anak atau dari ibu. Indikasi yang berasal dari ibu adalah : 1. Kelainan hipertensi pada kehamilan 2. Diabetes, Wanita diabetik yang hamil memiliki risiko mengalami komplikasi. Tingkat komplikasi secara langsung berhubungan dengan kontrol glukosa wanita sebelum dan selama masa kehamilan dan dipengaruhi oleh komplikasi diabetic. Diabetes yang diikuti dengan komplikasi lain seperti makrosomia, preklamsia, atau kematian janin, pengakhiran kehamilan lebih baik dilakukan dengan induksi atau operasi caesar. 3. Perdarahan Antepartum, Perdarahan antepartum yang bisa dilakukan induksi persalinan adalah solusio plasenta dan plasenta previa lateralis.

Indikasi yang berasal dari anak antara lain : 1. Kehamilan lewat waktu . 2. Ketuban pecah dini, Ketika selaput ketuban pecah, mikroorganisme dari vagina dapat masuk ke dalam kantong amnion 3. Kematian janin dalam rahim. 4. Restriksi pertumbuhan intrauteri, Bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga akan berisiko/ membahayakan hidup janin/kematian janin. 5. penyakit kongenital janin yang mayor, Kelainan kongenital mayor merupakan kelainan yang memberikan dampak besar pada bidang medis, operatif, dan kosmetik serta yang mempunyai risiko kesakitan dan kematian tinggi, misalnya : anensefalus, hidrosefalus, hidronefrosis, hidrops fetalis.

KONTRAINDIKASI Kontraindikasi dari induksi persalinan ada yang absolut dan yang relatif. Kontraindikasi absolut adalah : 1. Disproposi sefalopelvik absolut 2. Gawat janin 3. Plasenta previa totalis 4. Vasa previa 5. Presentasi abnormal 6. Riwayat seksio sesaria klasik sebelumnya 7. Presentasi bokong

Kontraindikasi yang sifatnya relatif adalah : 1. Perdarahan antepartum 2. Grande multiparitas 3. Riwayat seksio sesaria sebelumnya (SSTP) 4. Malposisi dan malpresentasi Apabila kondisi-kondisi di atas tidak terpenuhi maka induksi persalinan mungkin tidak memberikan hasil yang diharapkan.Untuk menilai keadaan serviks dapat dipakai skor bishop. Jika skor Bishop kurang atau sama dengan 3 maka angka kegagalan induksi mencapai lebih dari 20% dan berakhir pada seksio sesaria. Bila nilai lebih dari 8 induksi persalinan kemungkinan akan berhasil. Angka yang tinggi menunjukkan kematangan serviks.

D. KOMPLIKASI komplikasi induksi persalinan adalah : a) Terhadap Ibu (1) Kegagalan induksi. (2) Kelelahan ibu dan krisis emosional. (3) Inersia uteri partus lama. (4) Tetania uteri yang dapat menyebabkan solusio plasenta, ruptura uteri dan laserasi jalan lahir lainnya. (5) Infeksi intra uterin.

b) Terhadap janin (1) Trauma pada janin oleh tindakan. (2) Prolapsus tali pusat. (3) Infeksi intrapartal pada janin Komplikasi induksi persalinan yang mungkin terjadi diantaranya adalah : 1. Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. Kontraksi yang dihasilkan oleh uterus dapat menurunkan denyut jantung janin. 2. Janin akan merasa tidak nyaman sehingga dapat membuat bayi mengalami gawat janin (stress pada bayi). Itu sebabnya selama proses induksi berlangsung, penolong harus memantau gerak janin. Bila dianggap terlalu berisiko menimbulkan gawat janin, proses induksi harus dihentikan. 3. Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. Hal ini bisa terjadi pada yang sebelumnya pernah dioperasi caesar, lalu menginginkan kelahiran normal.

4. Emboli. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali namun tetap harus diwaspadai. Emboli terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu, atau paru-paru. Bila terjadi, dapat merenggut nyawa ibu seketika. 5. Janin bisa mengalami aspirasi air ketuban. 6. Infeksi dan rupture uterus juga merupakan komplikasi yang terjadi pada induksi persalinan walaupun jumlahnya sedikit.

KESIMPULAN
-INDUKSI PERSALINAN ADALAH SUATU UPAYA STIMULASI MULAINYA PROSES PERSALINAN, YAITU DARI TIDAK ADA TANDA-TANDA PERSALINAN, KEMUDIAN DISTIMULASI MENJADI ADA DENGAN MENIMBULKAN MULAS/HIS. CARA INI DILAKUKAN SEBAGAI UPAYA MEDIS UNTUK MEMPERMUDAH KELUARNYA BAYI DARI RAHIM SECARA NORMAL -INDUKSI PERSALINAN DAPAT DILAKUKAN SECARA MEDIS MAUPUN MANIPULATIF -SEBELUM MELAKUKAN INDUKSI PERSALINAN PERLU DILAKUKAN PENILAIAN BISHOP SCORE -DALAM MALAKUKAN INDUKSIPERLU DIPERTIMBANGKAN ANTARA MANFAAT DAN RESIKONYA

SEKIAN

TERIMA KASIH