Anda di halaman 1dari 12

Teori Konsolidasi

Konsolidasi adalah proses menyiapkan dan menyediakan laporan keuangan dari perusahaan induk dan anak perusahaannya sebagai suatu kesatuan ekonomi yang terdiri dari perusahaan induk dan anak perusahaan. Persentase kepemilikan yang tidak dimiliki oleh induk dimiliki oleh pemegang saham yang disebut sebagai hak minoritas. Perusahaan induk maupun hak minoritas memiliki pembagian yang proporsional dari anak perusahaan berupa :
laba bersih pembagian dividen modal saham laba ditahan dan perubahan ekuitas

Teori Konsolidasi
Teori penyusunan laporan konsolidasi
Teori Entitas (Entity Theory) : menyajikan kinerja keuangan dan posisi keuangan entitas dari perspektif pemegang saham perusahaan induk dan pemegang saham minoritas dari anak perusahaan. Dengan kata lain, entitas dilihat sebagai suatu unit ekonomi yang dimiliki oleh dua kelompok pemegang saham. Teori Induk (Parent Theory) : menyediakan informasi terutama untuk para pemegang saham dari perusahaan induk. Berdasarkan teori induk, kebutuhan informasi dari pemegang saham minoritas dinomor-duakan dan hak minoritas tidak dianggap sebagai modal dari entitas.

Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus

PSAK 4 mensyaratkan konsolidasi atas entitas yang dikendalikan oleh entitas pelapor. Akan tetapi, PSAK 4 tidak memberikan aturan yang eksplisit mengenai konsolidasi EBK. Permasalahannya adalah dalam kondisi bagaimana suatu entitas mengonsolidasi suatu EBK.

Standar tentang Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus

Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah menyetujui ISAK 7 tentang Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus pada tanggal 22 Desember 2009.

ISAK 7 (revisi 2009): Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus mengadopsi SIC 12 Consolidation Special Purpose Entities per 1 Januari 2009, kecuali untuk paragraf terkait dengan tanggal efektif.

ISAK 7 (Revisi 2009)

Interpretasi
Suatu EBK dikonsolidasikan jika substansi hubungan antara suatu entitas dan EBK mengindikasikan adanya pengendalian EBK oleh entitas tersebut.

ISAK 7 (Revisi 2009)


Interpretasi
Kendali dapat timbul melalui perumusan terlebih dulu atas kegiatan EBK tersebut (beroperasi dengan autopilot) atau dengan cara lainnya. PSAK 4 paragraf 10 menjelaskan beberapa situasi di mana kendali dapat diperoleh, bahkan pada kasus di mana entitas memiliki setengah atau kurang kekuasaan suara pada entitas lain. Suatu entitas mungkin memperoleh kendali atas suatu EBK meskipun entitas tersebut hanya memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki ekuitas EBK. Penerapan konsep pengendalian membutuhkan adanya pertimbangan atas semua faktor yang relevan untuk tiap-tiap kasus.

ISAK 7 (Revisi 2009)


Interpretasi
Tambahan untuk kondisi yang dijelaskan dalam PSAK paragraf 10. Kondisikondisi berikut ini, misalnya, mungkin mengindikasikan hubungan di mana entitas mengendalikan EBK dan konsekuensinya mengonsolidasi EBK tersebut:
Secara substansi, kegiatan dari EBK dijalankan untuk mewakili suatu entitas sesuai dengan kebutuhan khususnya, sehingga entitas tersebut memperoleh manfaat dari operasi EBK; Secara substansi, entitas mempunyai kekuasaan dalam pengambilan keputusan untuk memperoleh sebagian besar manfaat dari kegiatan EBK, atau dengan cara membuat mekanisme autopilot, entitas telah mendelegasikan kekuasaan dalam pengambilan keputusan ini; secara substansi, entitas mempunyai hak untuk memperoleh sebagian besar manfaat dari EBK dan oleh karena itu, juga menanggung risik dari aktivitas EBK; atau secara substansi, entitas memperoleh mayoritas hak residual dan menanggung risiko kepemilikan yang terkait dengan EBK atau asetnya untuk memperoleh manfaat dari aktivitas EBK yang bersangkutan.

Kasus ENRON (Tahun 2001)


Kenneth Lay membangun Enron di tahun 1985 dengan melakukan penggabungan dua perusahaan gas alam yang kemudian terus berkembang Enron menghadapi masalah pendanaan untuk menjalankan usahanya, terkait dengan hutang perusahaan yang tinggi.
meningkatkan kemungkinan perusahaan akan bangkrut di mata investor, menurunkan peringkat investasi dan mungkin juga akan membuat bank menarik pinjamannya kembali.

Andrew Fastow bersama konsultan Arthur Andersen, menyiapkan sebuah perseroan terbatas yang disebut entitas bertujuan khusus (Special Purpose Entities) untuk tetap mendapatkan pinjaman hutang tanpa harus melaporkan hutangnya dalam laporan keuangannya.

Kasus ENRON (Tahun 2001)


Aturan akuntansi membolehkan suatu perusahaan mengeluarkan pencatatan entitas bertujuan khusus dari laporan keuangannya bila ada pihak independen yang memiliki kendali atas entitas tujuan khusus tersebut, dan bila pihak independen ini memiliki paling tidak 3 persen dari seluruh saham entitas tujuan khusus. Fastow menunjuk dirinya sendiri dan karyawan Enron lainnya menginvestasikan uang mereka sendiri di entitas ini untuk memenuhi peraturan 3 persen, dan Fastow mentransfer cukup saham Enron ke dalam entitas untuk membuat 97% lainnya. Entitas ini kemudian meminjam sangat banyak uang, memakai saham Enron mereka sebagai jaminan. Uang yang dipinjam kemudian dibayarkan kepada Enron, dan Enron dapat mencatat uang itu sebagai pendapatan, bukan hutang.

Kasus ENRON (Tahun 2001)


Karena hutang dan aset yang dibeli dari Enron oleh entitas tujuan khusus tidak harus dilaporkan pada laporan keuangan Enron, pemegang saham percaya bahwa hutang yang dimiliki Enron tidak meningkat, bahwa perusahaan mendapatkan laba yang tinggi dari penjualan kontrak dan aset lain kepada entitas ini, dan bahkan pendapatan meningkat setiap tahunnya. Akhirnya kecurangan yang melibatkan entitas bertujuan khusus tersebut terungkap dan perusahaan dipaksa untuk menyajikan kembali laporan keuangan dengan mengkonsolidasikan entitas bertujuan khusus. Penyajian kembali dibuat untuk mengurangi ekuitas pemegang saham sebesar 1,2 milyar dolar AS dan untuk menambah hutang perusahaan sebesar 2,6 milyar dolar AS. Bulan November 2001, harga saham jatuh sampai 1 dolar AS per saham, dan perusahaan jatuh ke dalam kebangkrutan.