Anda di halaman 1dari 62

PENETAPAN KINERJA

PEMERINTAH DAERAH
(Performance Evaluation
for Regional
Government)
B. KONSEP DASAR
• Dalam bahasan pembangunan, maka kita
selalu berfikir pada sebuah perubahan.
Berkaitan pembahasan pembangunan
dimaksud, hakikatnya kita selalu berfikir
pada tingkat kebutuhan manusia yang
berbasis pada bidang ekonomi dan sosial
budaya.
• Kalau dicermati seksama konsepsi dasar
pembangunan (development) kesan yang
pertama, adalah peningkatan output dan
out come khususnya sektor ekonomi serta
perubahan-perubahan struktur
perekonomian, sedangkan tujuan
pembangunan kalau kita perhatikan
selama ini adalah mengarah pada sebuah
pertumbuhan, namun pertumbuhan
Model Kebijakan Pembangunan Daerah

Potensi Daerah

Perumusan Kebijakan

Visi Implementasi
Kebijakan Pembangunan Daerah
Misi Kebijakan
Pembangunan

Evaluasi
Sumber Daya Kebijakan
Pelaku Pembangunan Pembangunan
Variabel / Faktor-faktor Kebijakan Pembangunan

POTENSI DAERAH

EKONOMI SOSIAL BUDAYA


Visi dan Misi

Value Culture
Sumber Daya Pelaku Pembangunan

Eksekutif Legislatif Stakeholder


Perumusan Kebijakan
Pembangunan

Isue-isue Sistem Politik Agenda


(Mekanisme Kebijakan) Pembangunan
Implementasi Kebijakan
Pembangunan

Kondisi Eksternal
Orientasi Kegiatan
Yg Dihadapi Pelaku
Pembangunan
Pembangunan

Input, Output,
Pelaksanaan Program
Outcome Kinerja
Pembangunan
Pembangunan
Evaluasi
Kebijakan Pembangunan

Standard Kinerja Analisa Kinerja


Pembangunan Pembangunan

Indikator Kinerja
Pembangunan
Fungsi manajemen di
sektor publik
• Fungsi Strategi, meliputi:
– Penetapan tujuan dan prioritas organisasi
– Membuat rencana operasional untuk mencapai tujuan
• Fungsi Manajemen Komponen Internal, meliputi:
– Pengorganisasian dan penyusunan staf
– Pengarahan dan manajemen sumberdaya manusia
– Pengendalian kinerja
• Fungsi Manajemen konstituen eksternal,
meliputi:
– Hubungan dengan unit eksternal organisasi
– Hubungan dengan organisasi lain
– Hubungan dengan pers dan publik
Kinerja
• Result oriented management (ROM)
• Kinerja = f (knowledge, skill,
motivasi)
• Manajemen berbasis kinerja merupakan
suatu metode untuk mengukur kemajuan
program atau kegiatan yang dilakukan
sektor publik dalam mencapai hasil atau
OUTCOME (melalui input, proses, dan
output) yang diharapkan oleh klien,
pelanggan, dan stakeholder lainnya.
Landasan
• Apa yang dapat diukur, dapat dilakukan,
• Jika anda tidak mengukur hasil, anda tidak bisa
mengenali keberhasilan dan kegagalan,
• Jika anda tidak bisa melihat keberhasilan, anda tidak
dapat memberi imbalan,
• Jika anda tidak dapat memberi imbalan atas
keberhasilan, anda mungkin memberi imbalan tas
kegagalan,
• Jika anda tidak bisa melihat keberhasilan, anda tidak
dapat belajar darinya,
• Jika anda tidak bisa melihat kegagalan, anda tidak bisa
memperbaikinya,
• Jika anda bisa menunjukkan hasil, anda dapat
memperoleh dukungan publik.
Tujuan
• Berdasar konsep reinventing government, akan
mewujudkan adanya good corporate & public
management, dengan cara:
• Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan
organisasi,
• Menyediakan sarana pembelajaran pegawai,
• Memperbaiki kinerja periode berikutnya,
• Memberikan pertimbangan sistematik dalam
keputusan reward and punishment,
• Memotivasi pegawai,
• Mencapai akuntabilitas publik.
• Fokus:
– Proses yang sistematis
– Untuk memperbaiki kinerja
– Melalui proses berkelanjutan dan berjangka
panjang
– Meliputi penetapan sasaran kinerja strategik
– Mengukur kinerja
– Mengumpulkan, menganalisis, menelaah
(review), dan melaporkan data kinerja
– Menggunakan untuk perbaikan kinerja secara
berkelanjutan
• Media:
– Sistem akuntabilitas berbasis kinerja (results-
based accountability system)
Faktor yang
berpengaruh
• Faktor personal/individual, meliputi: pengetahuan,
keterampilan (skill), kemampuan,kepercayaan diri,
motivasi, dan komitmen individu;

• Faktor kepemimpinan, meliputi: kualias dalam memberikan


dorongan, semangat, arahan, dan dukungan manajer atau
team leader;

• Faktor tim, meliputi: kualitas dukungan dan semangat yang


diberikan oleh rekan dalam tim, kepercayaan sesama
anggota tim, kekompakan dan keeratan anggota tim,

• Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja


(infrastruktur), proses organisasi, kultur kinerja organisasi.

• Faktor konstekstual (situasional), meliputi: tekanan dan


perubahan lingklungan eksternal dan internal.
Pengendalian Manajemen Sektor Publik

Perumausan
Strategi

Umpan Balik Perencanaan


(Feedback)

Evaluasi Pemrograman
Kinerja

Pelaporan Penganggaran
Kinerja

Implementasi
Strategi
• Akuntabilitas publik:
– Akuntabilitas vertikal;
– Akuntabilitas horisontal.
• Dimensi akuntabilitas publik:
– Akuntabilitas hukum dan kejujuran
(accountability for probity and legaly)
– Akuntabilitas manajerial (managerial
accountability)
– Akuntabiltas program (program
accountability)
– Akuntabilitas kebijakan (policy
accountability)
– Akuntabilitas finansial (financial
accountability)
• Karakteristik Manajemen Publik:
– Manajemen profesional di sektor publik,
– Adanya sumber kinerja dan ukuran kinerja,
– Penekanan pada pengendalian OUTPUT dan OUTCOME,
– Pemecahan unit-unit kerja di sektor publik,
– Menciptakan persaingan di sektor publik,
– Pengadopsian manajemen bisnis di sektor publik,
– Penekanan disiplin dan penghematan yang lebih besar
dalam penggunaan sumberdaya

• Prasyarat Mengukur Kinerja Publik:


– Apa yang sebenarnya akan diukur?
– Skala atau ukuran apa yang akan digunakan?
– Berapa toleransi kesalahan yang dapat diterima?
– Siapa yang akan mengukur?
– Untuk siapa informasi keinerja tersebut?
– Apa yang akan mereka lakukan dengan laporan hasil
kinerja itu?
•Perlunya Koherensi:
Untuk menjamin tercapainya visi,
misi, dan tujuan organisasi, maka
harus ada koherensi antar elemen
dalam sistem pengendalian
manajemen.
Perumusan strategi, perencanaan
strategik, pemrograman,
penganggaran, implementasi,
pelaporan, dan evaluasi kinerja
HARUS KOHEREN, TERPADU, dan
Elemen Kinerja Daerah
• Dasar hukum:
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
– Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempatnya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
• Tujuan:
– Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan
publik, dan daya saing daerah.
• Arah kebijakan:
– Mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat
melalui peningkatan pelayana, pemberdayaan, dan
peranserta masyarakat,
– Meningkatkan daya saing daerah dengan
memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,
keadilan, keiatimewaan, kekhususan, serta potensi dan
keanekaragaman dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
• Tolok ukur:
– Sejauh mana daerah mampu mengelola kewenangannya
dan meminimalkan risiko untuk mencapai tujuan dari
otonomi daerah itu sendiri.
Parameter Kinerja
A. PENINGKATAN KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT:
1. Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi
– PDRB Per Kapita
– Persentase Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan
2. Kesejahteraan Sosial
– Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
– Indeks Kemiskinan Manusia (IKM)
– Angka Pengangguran Terbuka
– Angka Partisipasi Kerja
– Angka Kriminalitas per 10000 penduduk
– Jumlah Panti Asuhan per 100000 penduduk
– Jumlah Panti Jompo per 100000 penduduk
– Jumlah Penyandang Masalah Sosial per 10000 penduduk
3. Seni dan Olah raga
– Rasio penduduk per jumlah fasilitas seni budaya
– Rasio penduduk per jumlah fasilitas olah raga
– Perkembangan seni budaya (informasi kualitas /
persepsi)
– Perkembangan olah raga (informasi kualitas / persepsi)
4. Pengelolaan Lingkungan Hidup
– Tingkat pencemaran sungai
– Tingkat pencemaran udara
– Tingkat pencemaran pantai/laut
– Tingkat pencemaran tanah
– Produksi limbah B3/tahun
– Tingkat kerusakan hutan
5. Pemerataan
– Rasio gini
– Indeks ketimpangan regional
B. PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK
1. Pendidikan
• Rata-rata nilai UAN SD/SLTP/SLTA/Sederajat
• Persentase ketidaklulusan tingkat SD/SLTP/SLTA/Sederajat
• Angka partisipasi SD/SLTP/SLTA/Sederajat
• Angka putus sekolah usia 7-15 tahun dan usia 16-18 tahun
• Rasio jumlah sekolah pada berbagai jenjang pendidikan per
jumlah kecamatan
• Rasio jumlah murid per jumlah guru
• Rasio jumlah guru per jumlah sekolah pada berbagai
jenjang pendidikan
• Rasio jumlah murid per jumlah sekolah
• Persentase penduduk per melek huruf
• Alokasi anggaran pendidikan dalam APBD
• Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan di
daerah (persepsi)
2. Kesehatan
• Rasio jumlah dokter per 10000 penduduk
• Rasio jumlah bidan per 10000 penduduk
• Rasio jumlah perawat per 10000 penduduk
• Rasio jumlah penduduk per jumlah rumah sakit
• Rsio jumlah penduduk per jumlah puskesmas
• Rasio jumlah penduduk per jumlah fasilitas medis lain
• Rasio jumlah tempat tidur di rumah sakit per 10000 penduduk
• Rasio jumlah tenaga profesional medis per jumlah kecamatan
• Rasio puskesmas per jumlah kecamatan
• Angka kematian bayi (per 1000 kelahiran hidup)
• Angka kematian ibu melahirkan (per 100000 kelahiran hidup)
• Angka kematian balita
• Persentase bayi lahir dengan berat badan kurang
• Persentase balita dengan gizi buruk
• Persentase kecamatan bebas rawan gizi
• Persentase balita yang telah diimunisasi
• Persentase anggaran kesehatan dalam APBD
• Alokasi anggaran kesehatan pemerintah per kapita
• Persentase keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih
• Persentase keluarga yang mamiliki akses terhadap sanitasi
• Kepuasan masyarakat terhadap pe;ayanan kesehatan di daerah (persepsi)
3. Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat
• Kecukupan petugas ketertiban
• Ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat (kualitatif)
• Kualitas pelayanan administratif (informasi kualitatif/persepsi)

C. PENINGKATAN DAYA SAING DAERAH


1. Perekonomian Daerah
• Produktivitas daerah atau per sektor ekonomi
• PDRB atas dasar harga berlaku non migas
• Pertumbuhan ekonomi daerah
• Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita
• Nilai PMDN/Realisasi PMDN
• Nilai PMA/Realisasi PMA

2. Infrastruktur dan Komunikasi


• Jumlah sambungan telepon per kapita
• Jumlah pelanggan listrik per kapita
• Jumlah sambungan internet per kapita
• Rasio panjang jalan per luas wilayah
• Rasio panjang jalan dengan kondisi baik per panjang jalan keseluruhan
• Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan
• Kuaitas transportasi
• Jumlah stasiun TV
• Jumlah stasiun radio

3. Kualitas Sumberdaya Manusia

4. Kualitas Kelembagaan Publik


PENGUKURAN KINERJA
• Merupakan suatu alat manajemen yang
digunakan untuk meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan akuntabilitas.
Pengukuran kinerja juga digunakan untuk
menilai pencapaian tujuan dan sasaran
(goals and objectives).

• Elemen Kunci Pengukuran Kinerja:


– Perencanaan dan penetapan tujuan
– Pengembangan ukuran yang relevan
– Pelaporan formal atas hasil
– Penggunaan informasi
Apa yang diukur?
• Aspek Finansial
• Satuan / Volume / Kuantitas
• Kepuasan Pelanggan
• Operasi internal
• Kepuasan Pegawai
• Kepuasan Shareholders dan Stakeholders
• Waktu
• didasarkan pada penghargaan nilai terhadap uang artinya
bahwa setiap rupiah harus dihargai secara layak dan
digunakan sebaik-baiknya, unsurnya:
• Ekonomi (spending less)
– Ekonomi = INPUT / HARGA INPUT
• Efisiensi (spending well)
– Efisiensi = OUTPUT / INPUT
• Efektivitas (spending wisely)
– Efektifitas = OUTCOME / OUTPUT
• Ekuitas/Keadilan dan Ekualitas/Kesetaraan
Rantai Nilai Uang
Nilai Uang
(3 E)

Masukan Primer Masukan Keluaran Hasil


(Rp) (INPUT) (OUTPUT) (OUTCOME)

EKONOMI EFISIENSI EFEKTIFITAS


(Spending Less) (Spending Well) (Spendimg Wisely)
Indikator Kinerja

• Merupakan alat (means) untuk


mengukur kinerja baik secara
kuantitatif maupun kualitatif yang
menunjukkan informasi dan
ancangan dan atau benchmark
ketercapaian target atau sasaran
yang diharapkan dari suatu aktivitas,
kegiatan, atau proses, yang akan
digunakan untuk mengambil
tindakan tertentu.
Kerangka Pengukuran Kinerja Sektor Publik
Kebutuhan / Keinginan
Stakeholders

Visi & Misi

Tujuan

Sasaran & Inisiatif


Strategik, Target

Program

Anggaran (Cost)
Cost of Input
(Ekonomi)
Masukan (Input)

Cost Efficiency
Proses (Implementasi) Efisiensi
(Produktivitas)

Cost Effectiveness Keluaran (Output)

Efektifitas
Hasil (Outcome)

Net Social Benefit


Kepuasan Pelanggan Manfaat (Benefit)

Dampak
(Impact)
• Karakteristik Indikator Kinerja:
– Sederhana dan mudah dipahami
– Dapat diukur
– Dapat dikuantifikasikan
– Dikaitkan dengan standar dan target kinerja
– Fokus pada customer service, kualitas, dan efisiensi
– Dikaji secara teratur

• Indikator Kinerja Ideal:


– Konsisten
– Dapat diperbandingkan
– Jelas
– Dapat dikontrol
– Kontinjensi
– Komperehensif
– Fokus
– Relevan, dan
– Realistis
Penentuan indikator kinerja perlu memperhatikan:
• Biaya pelayanan (cost of service)
• Tingkat pemanfaatan (utilization rate)
• Kualitas dan standar pelayanan (quality and standards)
• Cakupan pelayanan (service coverage), dan
• Kepuasan publik (public satisfaction)

Desain Indikator Kinerja perlu


mempertimbangkan:
• Menentukan siapa audiensnya
• Mengukur apa yang dinilai, bukan menilai apa yang bisa
anda ukur
• Memastikan indikator kinerja didukung dan dipahami
• Menjaga keseimbangan ukuran
• Memperhatikan tipe indikator lain
• Adanya standar kinerja atau kriteria kinerja
• Adanya sistem informasi manajemen
• Adanya standar pelaporan.
Penyusunan
Penetapan Kinerja

Kementerian Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara
Dasar Hukum

• Instruksi Presiden nomor 5 Tahun


2004 tentang percepatan
pemberantasan korupsi;
• SE Menteri PAN nomor SE-
31/M.PAN/XII/ 2004 tentang
Penetapan Kinerja;
Hakekat Penetapan Kinerja
• Penetapan Kinerja merupakan pernyataan komitmen
yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai
kinerja yang jelas dan terukur dalam waktu satu tahun

• Penetapan Kinerja merupakan kesepakatan antara


pengemban tugas (penerima amanah) dengan atasannya
(pemberi amanah)

• Penetapan Kinerja merupakan ikhtisar Rencana Kinerja


Tahunan yang telah disesuaikan dengan ketersediaan
anggarannya.

• Realisasi Penetapan Kinerja dilaporkan dalam Laporan


Akuntabilitas Kinerja (LAKIP)
Latar Belakang
• Laporan pertanggungjawaban selama ini hanya menekankan pada
pertanggungjawaban anggaran dan pelaksanaan kegiatan.

• Laporan pertanggungjawaban belum berorientasi hasil.

• Banyak instansi pemerintah yang belum dapat mengukur kinerjanya,


karena pada umumnya instansi pemerintah:
– Belum memiliki sasaran strategis yang spesifik, jelas, dan
terukur.
– Belum mempunyai indikator kinerja untuk mengukur
keberhasilannya.
– Belum menetapkan target-target kinerja sebagai bentuk
komitmen organisasi bagi pencapaian kinerja yang optimal.
– Belum memiliki sistem pengumpulan dan pengolahan data
kinerja.

• Dibutuhkan suatu media yang mengikat suatu instansi pemerintah


agar mampu mewujudkan suatu kinerja yang telah disepakati
Tujuan Penetapan Kinerja
• Mendorong komitmen penerima amanah
untuk melaksanakan amanah yang
diterimanya dan terus meningkatkan
kinerjanya

• Menciptakan tolok ukur kinerja sebagai


alat untuk menilai
keberhasilan/kegagalan pencapaian
tujuan dan sasaran organisasi

• Meningkatkan Akuntabilitas,
Transparansi, dan Kinerja Aparatur
Penetapan Kinerja dalam siklus SAKIP

• Penetapan Kinerja merupakan turunan Perencaan Strategis,


sekaligus merefleksikan kinerja yang sesuai dengan
perencanaan anggaran

• Sasaran strategis, program, indikator kinerja, dan target dalam


Penetapan Kinerja berasal dari Rencana Kinerja Tahunan dan
anggarannya dari Rencana Kerja dan Anggaran

• Penetapan Kinerja merupakan dokumen yang mencerminkan


integrasi sistem akuntabilitas kinerja dengan sistem
penganggaran

• Penetapan Kinerja mendorong terlaksananya pengukuran


kinerja sangat penting untuk mengetahui keberhasilan atau
kegagalan
Posisi Penetapan Kinerja Dalam
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah
RPJM

Rencana Strategis

Rencana Kinerja
Tahunan

Rencana Kerja
dan Anggaran (RKA)
Penetapan Kinerja
(Performance
Agreement))

Kinerja
Aktual

LAKIP Laporan
pertanggungja
waban
keuangan
Isi Penetapan Kinerja

• Penetapan Kinerja memuat:


a. Pernyataan Penetapan Kinerja Aparatur;
b. Lampiran yang berisi:
• Program-Program Utama;
• Sasaran yang mencerminkan sesuatu yang akan
dicapai secara nyata dari pelaksanaan program
dalam rumusan yang spesifik, terukur, dan
berorientasi pada hasil (outcome);
• Ukuran-ukuran kinerja yang jelas berupa:
– Indikator Kinerja Output dan atau Outcome;
– Rencana tingkat capaian untuk masing-masing
indikator;
• Anggaran untuk setiap Program Utama.
LAMPIRAN PENETAPAN KINERJA

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2008


DEPUTI BIDANG AKUNTABILITAS APARATUR
KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

IK OUTPUT IK OUTCOME
PROGRAM
SASARAN ANGGARAN
UTAMA
URAIAN TARGET URAIAN TARGET

1 2 3 4 5 6 7

Jumlah IP Jumlah IP
yang 300 IP pusat yang 30 Rp500 juta
Meningkatnya dipantau akuntabel
Pengawasan
IP pusat dan
dan
daerah yang Jumlah IP
akuntabilitas Jumlah IP
akuntabel daerah
yang 150 IP 80 Rp1.500 juta
yang
dievaluasi
akuntabel

®onn
Tahapan Penyusunan
Penetapan Kinerja
– Penyusunan Rencana Strategis;
– Penyusunan Rencana Kinerja Tahunan;
– Penyusunan Rencana Kerja dan
Anggaran;
– Penyusunan Penetapan Kinerja
Aparatur setelah terbitnya dokumen
anggaran yang definitif seperti DIPA,
DASK;
Tahapan Penyusunan Penetapan
Kinerja
RPJM Rencana Rencana Kinerja
Strategis Tahunan

Rencana Kerja
dan Anggaran (RKA)

Penetapan Kinerja
Dokumen
Pelaksanaan
Anggaran
(DIPA/DASK)

Kinerja Aktual

LAKIP
SASARAN KEGIATAN KET

PRO-
INDIKA T INDIKAT
URAIAN TOR ARGE
GRAM URAIAN OR SAT
TARG
ET
KINERJA T KINERJA

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jumlah IP Jumlah IP
Peman-
Meningkat- pusat yang 30 IP yang telah IP 300 IP
Pengawasa tauan AKIP
nya IP pusat akuntabel dipantau
n dan
dan daerah
Jumlah IP Akuntabilita
yang Jumlah IP
daerah s Evaluasi
akuntabel 80 IP yang telah IP 150 IP
yang AKIP
dievaluasi
akuntabel
®onn
IK OUTPUT IK OUTCOME
PROGRAM
SASARAN ANGGARAN
UTAMA
URAIAN TARGET URAIAN TARGET

1 2 3 4 5 6 7

Jumlah IP Jumlah IP
Meningkat- yang 300 IP pusat yang 30 IP Rp500 juta
Peningkatan
nya IP pusat dipantau akuntabel
efektivitas
dan daerah
penerapan Jumlah IP
yang Jumlah IP
SAKIP daerah
akuntabel yang 150 IP 80 IP Rp1.500 juta
yang
dievaluasi
akuntabel

®onn
• Performance Agreement dalam SAKIP

Perencanaan
Indikator
strategis
Kinerja
Perencanaan
Kinerja Tahunan

Pelaporan Penganggaran Indikator


Kinerja Kinerja Kinerja
merupakan
unsur penting
Akuntabilitas
Pengukuran Kontrak Kinerja
Kinerja Kinerja
Keselarasan Indikator Kinerja
RPJMD
dalam Lingkungan
Pemerintah Daerah
Indi-
Pemerintah
Renstra Kator
Daerah Pemda
Kiner-
ja

Sekretariat Renstra
Badan-badan Dinas-dinas
Daerah Satuan Kerja
Contoh
RPJM Pemda
IK Sasaran:
• Jumlah kunjungan wisatawan
• PAD dari sektor wisata

Dinas Kop.Perindustri Dinas PU


& Perdagangan
Dinas Pariwisata IK :
IK : IK : • Panjang jalan ke
• Jumlah sentra usaha • Jumlah brosur dan wil. wisata
kecil yang terbentuk kalender wisata • Juml. jembatan yg
tersedia dibangun
• Jumlah kelompok
Dinas Perhubungan
BAPPEDA sadar wisata yang
IK :
IK : terbentuk • Jumlah.rambu-
• Juml. Tata ruang • Jumlah promosi dan rambu jalan yang
objek wisata yang
atraksi wisata dipasang dijalan ke
disusun
• RPJMD yang tersedia wilayah wisata
• Jumlah trayek
angkutan kewilayah
wisata
Beberapa Permasalahan yang
Mungkin Timbul
• Instansi pemerintah belum menyusun
RPJM/Renstra dan rencana kinerja tahunan (RKT);
• Renstra dan RKT unit kerja tidak selaras dengan
Renstra dan RKT Instansi;
• Program yang dirumuskan pada Renstra berbeda
dengan Program pada usulan RKA-KL;
• Perumusan sasaran strategis tidak
menggambarkan keberhasilan organisasi (core
business dan strategic issue)
• Perumusan indikator kinerja tidak SMART;
• Penghitungan anggaran untuk setiap sasaran
strategis.
Evaluasi Kinerja
Strategic
Goals

Strategic
Objectives
Penetapan Performance
Kinerja Result
(Target) (Realisasi)
Performance
Gap
Indikator Kinerja Indikator Kinerja
Performance
Improvement
KRITERIA TOLOK UKUR
• Harus dapat dikuantitatifkan (ada
perangkaan) harus mengandung
kata sifat (Ter……nya).
• Alat pengukurnya harus jelas.
• Yang diukur apa ?
• Satuan yang diukur harus jelas !
• Berapa nilainya…?
• Perhatikan subyek dan predikatnya.
KRITERIA TARGET KINERJA

HARUS DIPROSENTASEKAN (%)


KARENA AKAN DIGUNAKAN
UNTUK PENGUKURAN CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA (CIK)
ANALISIS PENCAPAIAN KINERJA
KEGIATAN PEMBANGUNAN
DALAM MENGANALISIS PENCAPAIAN KINERJA
KEGIATAN PEMBANGUNAN, YANG PERLU
DIPERHATIKAN ADALAH 4 (EMPAT)VARIABEL
SBB:
-INDIKATOR-INDIKATOR KEGIATAN
-TOLOK UKUR KINERJA
-TARGET TOLOK UKUR
-TARGET KINERJA
ANALISIS PENCAPAIAN KINERJA
MERUPAKAN PROSENTASE
PERBANDINGAN DARI HASIL SELISIH
ANTARA NILAI VARIABEL TARGET
TOLOK UKUR (YG DIRENCANAKAN)
DENGAN REALISASI KEGIATAN, DAN
DIPERBANDINGKAN LAGI DENGAN
TARGET KINERJA.
ALTERNATIF-ALTERNATIF HASIL
PERHITUNGAN ANALISIS
PENCAPAIAN KINERJA ADALAH SBB:

ALTERNATIF 1
HASIL PENCAPAIAN SEBANDING
DENGAN TARGET KINERJA
ALTERNATIF 2
HASIL PENCAPIAN KURANG DARI
TARGET KINERJA
ALTERNATIF 3
HASIL PENCAPAIAN LEBIH DARI TARGET
KINERJA
DIAGNOSIS KINERJA
• Penting dalam mendiagnosis kinerja
organisasi
• Untuk melihat bagaimana penilaian kinerja
berorientasi kepada hasil, perilaku
kebijakan, dan skill pelaksana
pembangunan
• Untuk menunjukkan penyebab-2
kegagalan kinerja instansi pemerintah
• Melihat korelasi antara hasil dan perilaku
kebijakan pembangunan.
SKENARIO KORELASI

 Perilaku tinggi Hasil


rendah
 Perilaku rendah Hasil
rendah
 Perilaku tinggi Hasil
tinggi
 Perilaku rendah Hasil
rendah
DIAGNOSIS SKILL-PERILAKU

• SKILL TINGGI PERILAKU TINGGI


• SKILL TINGGI PERILAKU
RENDAH
• SKILL RENDAH PERILAKU TINGGI
• SKILL RENDAH PERILAKU
RENDAH
HASIL DIAGNOSIS
PERILAKU-HASIL
1. Perilaku Tinggi, Hasil Tinggi maka Kinerja
tinggi (Kinerja tidak bermasalah)
sehingga tidak perlu penanggulangan.
2. Perilaku Tinggi, Hasil Rendah maka
Kinerja sedang sehingga kinerja tidak
terdukung oleh kondisi eksternal.
3. Perilaku Rendah, Hasil Tinggi maka
kinerjanya mendekati keberhasilan.
Artinya kinerja terdukung oleh kondisi
eksternal.
4. Perilaku Rendah, Hasil Rendah maka
kinerja pelaku pembangunan mengalami
gagal mencapi hasil yang dikehendaki.
Artinya perlu upaya recovery!
CONTOH LATIHAN
Nama Kegiatan : Penerapan Teknologi Pengendalian OPT

Indikato Tolok Ukur Target Target


r Kinerja
Masukan Tersedianya dana, 30 jt 100%
SDM 15 org
Peraturan 4 buah

Keluaran Terlaksananya penerapan 5 Kel 100 %


teknologi pengendalian OPT
di kelurahan daerah kronis
endemis

Hasil Terwujudnya pengetahuan 75%


dan ketrampilan petani 300 org
75%
Terciptanya petani yang 20 klp
Manfaat terampil dan mampu di
bidang pengendalian OPT
Terciptanya peningkatan -
Dampak pendapatan petani -
Hasil Analisis

• Bila dari kinerja kegiatan Penerapan


Teknologi Pengendalian OPT,dari
indikator hasil terealisasi 200 petani,
maka perhitungannya sbb :
(200 petani dibagi 300 petani) x 100
%
= 66,67%
Jadi analisa pencapaian kinerjanya
adalah kurang 8,33% dari target