Anda di halaman 1dari 25

Pengunyahan dan Penelanan

Oleh Wulan Oktaviani NIM 04122511051

Pengunyahan
Pengunyahan atau mastikasi proses penghancuran partikel makanan di dalam mulut dengan bantuan dari saliva untuk mengubah ukuran dan konsistensi makanan yang pada akhirnya akan membentuk bolus sehingga mudah untuk ditelan. Oleh gigi-geligi dibantu dengan otot-otot mastikasi dan pergerakan dari kondilus melalui artikulasi temporomandibula.

Tahap Mastikasi
1. Membuka mulut 2. Menutup mulut 3. Gigi saling berkontak dan gigi berkontak dengan bolus makanan

setiap tahap mengunyah berakhir 0,5-1,2 detik

Otot-otot yang Berperan


Utama: muskulus masseter, muskulus temporalis, muskulus pterygoideus medialis dan muskulus pterygoideus lateralis. Tambahan: muskulus mylohyoideus, muskulus geniohyoideus, muskulus stylohyoideus, muskulus infrahyoideus dan muskulus bucinator.

Sebagian besar otot mastikasi diinervasi oleh cabang nerevus cranial ke lima dan proses pengunyahan dikontrol saraf di batang otak. Stimulasi dari area spesifik retikular di batang otak pusat rasa akan menyebabkan pergerakan pengunyahan secara ritmik, juga stimulasi area di hipotalamus, amyglada dan di korteks cerebral dekat dengan area dengan area sensori untuk pengecapan dan penciuman dapat menyebabkan pengunyahan.

Membuka Mulut
M. Pterigoideus lateralis menarik processus condilaris ke depan menuju eminentia articularis Serabut posterior M. Temporalis harus relaks dan keadaan ini diikuti dengan relaksasi M. Maseter,serabut anterior M. Temporalis, dan M. Pterigoideus medialis yang berlangsung cepat dan lancar. Keadaan ini akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu horizontal sehingga processus condilaris akan bergerak ke depan sedang angulus mandibula begerak ke belakang. Dagu akan terdepresi , keadaan ini dibantu dengan gerak membuka yang kuat oleh M. Digastricus,M. Geniohyoideus , dan M. Mylohyoideus yang berkontraksi terhadap os hyoid .

Menutup Mulut
1. Posisi protusi memerlukan kontraksi M. Pterigoideus Lateralis yang dibantu M. Pterigoideus Medialis. Caput mandibula akan tetap pada posisi ke depan eminentia articularis . 2. Posisi retrusi serabut posterior M. Temporalis akan bekerjasama dengan M.Maseter untuk mengembalikan processus condilaris ke dalam fossa mandibula. Sehingga gigi geligi dapat saling kontak pada oklusi normal.

Menutup mulut kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan akan diteruskan gigi geligi ke rangka wajah bagian atasM. Pterigoideus Lateralis dan serabut posterior M. Temporalis cenderung menghilangkan tekanan dari caput mandibula pada saat otototot ini berkontraksi.

Gigi berkontak
kekuatan di gigi incisivus 55 pounds molar 200 pounds.

gigi incisivus memotong gigi caninus untuk mencabik gigi posterior (molar)menggiling

Proses Pengunyahan
Makanan masuk gigi insisivus edge to edge Mandibula bergerak ke depan sampai makanan berkontak dengan gigi sebagai tanda dimulainya proses pemotongan Retrusi mandibulaberhenti ketika resistensi terhadap pemotongan makanan dijumpai Pada saat gigi rahang bawah menekan makanan, tegangan otot akan meningkat dan pergerakan gigi akan berubah dalam bentuk gerakan beraturan yang terus-menerus. Makanan yang telah dipotong oleh gigi anterior (insisivus) kemudian dihancurkan atau digiling dengan gigi posterior (molar) dibawa keposterior oleh lidah.

Refleks mengunyah
kehadiran bolus dari makanan menginsiasi refleks penghambat dari otot mastikasi yang membuat rahang bawah turun. penurunan rahang menginisiasi refleks melonggarkan otot rahang memimpin untuk mengembalikan kontraksi. secara otomatis mengangkat rahang untuk menutup gigi, tetapi juga menekan bolus lagi, melawan lining mulut, yang menghambat otot rahang sekali lagi, membuat rahang turun dan mengganjal (rebound) di lain waktu. berulang terus menerus.

Pengunyahan membantu proses pencernaan


Enzim pencernaan hanya di permukaan partikel makanan tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang dibongkar oleh sekresi pencernaan. Konsistensi makanan baik/halusmencegah penolakan dari GI tract, meningkatkan kemudahan pengosongan makanan dari lambung ke usus kecil, kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus.

Peran Lidah
membawa makanan diantara permukaan oklusi gigi-geligi membuang objek seperti biji, benda asing, fragmen tulang, dan substansi yang tidak enak rasanya membawa massa makanan yang sudah dikunyah ke palatum sebelum akhirnya ditelan mempertahankan kebersihan mulut (menghilangkan debris makanan pada gingiva, vestibulum dan dasar mulut)

Peran sendi temporomandibula


Mandibula buka tutupkondilus mandibula melakukan gerakan memutar dan meluncur. Kondilus bergerak ke bawah dan ke atas sepanjang eminansia artikularis dari tulang temporal. Kondilus dan tulang temporal dipisahkan oleh rongga persendian dan meniskus

pembukaan mandibula : peluncuran dari processus kondilaris dan meniskus ke depan dan ke belakang sepanjang tuberkulum artikularisdi dalam fossa mandibula bersama dengan pergerakan serat. memajukan mandibula: tertariknya kondilus dan meniskus ke depan sepanjang tuberkulum artikularis. memundurkan mandibula: serat-serat posterior dari muskulus temporalis yang menarik kondilus dan meniskus ke belakang dan ke atas sepanjang tuberkulum artikularis, muskulus masseter mempertahankan kontak gigi-geligi. mandibula ke samping aktivitas muskulus pterygoideus medialis dan muskulus pterygoideus lateralis pada satu sisi,dimana processus kondilaris dan diskus artikularis akan terdorong ke depan dan ke eminansia artikularis.

Penelanan
Peristiwa yang terjadi setelah proses pengunyahan selesai di dalam mulut,kemudian mulut menutup aktivitas terkoordinasi yang melibatkan beberapa macam otot dalam mulut, otot palatum lunak, otot faring dan otot laring. Aktivitas otot penelanan di mulai sebagai kerja volunter dan kemudian berubah menjadi refleks infolunter. Lidah bagian ventral bergerak ke arah palatum sehingga mendorong bolus ke arah istmus fausium menuju faring untuk selanjutnya di teruskan ke esofagus.

Pengaturan Penelanan
Pada faring terdapat cincin yang mengelilingi pembukaan faring dan mempunyai sensitifitas terbesar pada tiangtiang tonsil. Impuls di jalarkan dari daerah ini melalui bagian sensori saraf trigerminal dan saraf glosofaringeal ke daerah medula oblongata yang berhubungan erat dengan traktus salivarius yang terutama menerima impuls sensori dari mulut. Secara otomatis proses menelan diatur oleh daerah daerah neuron dibatang otak yang di distribusikan ke seluruh substansia retikularis medula dan bagian bawah pond. Daerah medula dan bagian pons bagian bawah mengatur penelanan secara keseluruhan disebut pusat menelan atau deglutasi. Impuls motorik dari pusat menelan ke faring dan esofagus bagian atas menyebabkan menelan dijalarkan oleh saraf kranial, yaitu saraf trigeminal,saraf glossofaringeal, saraf vagus dan saraf hipoglossal.

Proses Penelanan
1. Tahap Oral/Volunter 2. Tahap Faringeal 3. Tahap Esofageal

Tahap Oral atau Volunter


Tahap ini berlansung setelah makanan dikunyah dan berbentuk bolus sehingga mudah untuk ditelan. Lidah akan bergerak vertikal dan mendorong bolus ke isthmus fausium (daerah posterior dari cavum oris yang dibatasi oleh palatum mole pada bagian superior dan radiks lidah pada bagian inferior). Ketika bolus akan melewati isthmu sfausium, muskulus palatoglossus berkontraksi untuk menyempitkan isthmus fausium sehingga makanan tidak dapat kembali ke cavum oris. Setelah di orofaring, muskulus levator veli palatini, muskulus tensor veli palatine, dan muskulus palatofaringeus untuk menutup nasofaring agar makanan tidak masuk kedalam nasofaring dan terdorong ke dalam orofaring.

Tahap Faringeal
makanan di dorong ke belakang mulut, makanan tersebut merangsang daerah reseptor penelanan yang terletak di orofaring, khususnya tonsila. Selanjutnya, impuls berjalan ke batang otak untuk memulai serangkaian kontraksi otot faring dengan jalan sebagai berikut: a. Palatum molle didorong ke atas menutup nares posterior untuk mencegah refluks makanan ke rongga hidung. b. Arkus palato-faringeus pada tiap sisi faring tertarik ke tengah untuk saling mendekati hingga membentuk celah sagital sebagai jalan masuk makanan ke posterior faring.

c. Pita suara larings menjadi berdekatan dan epiglotis terdorong ke belakang ke atas pintu superior larings. Kedua efek ini mencegah masuknya makanan ke dalam trakea. d. Seluruh laring ditarik ke bawah dan ke depan oleh otot-otot yang melekat pada os hyoideus. Pergerakan ini meregangkan pintu esofagus. e. Selanjutnya, bagian atas esophagus (sfingter esophagus atas)berelaksasi sehingga memungkinkan makanan berjalan dari posterior faring ke dalam esofagus bagian atas. Pada saat menelan sfingter tetap berkontraksi secara tonik dengan kuat untuk mencegah udara masuk ke dalam esofagus saat bernafas. f. Pada saat laring terangkat dan sfingter esofagus atas relaksasi, m. Konstriktor faringeus superior berkontraksi sehingga menimbulkan gelombang peristaltik cepat yang berjalan ke bawah melewati otot-otot faring dan mauk ke dalam esofagus serta mendorong makanan esofagus bagian bawah. Mekanisme penelanan pada fase faringeal ini berlangsung selama 1-2 detik.

Tahap Esophageal
Muskulus constrictor faring berkontraksi berganti dari atas ke bawah mendorong bolus makanan ke bawah melewati laring. Dengan terangkatnya laring dan relaksasi dari sfingter faringoesofageal, seluruh otot-otot pada dinding faring berkontraksi. Makanan yang telah memasuki esophagus dialirkan ke lambung melalui gerak peristaltik. Gerak peristaltic pada esophagus terbagi menjadi dua tipe, yaitu peristaltik primer dan peristaltik sekunder. Gerak peristaltik primer merupakan gelombang peristaltik yang mendorong makanan di faring menuju esophagus selama tahap faringeal. Jika setelah gelombang peristaltik primer masih terdapat sisa makanan yang belum terdorong ke lambung, maka akan timbul gelombang peristaltik sekunder yang dihasilkan dari peregangan esophagus oleh makanan yang tertahan akan mendorong sisa makanan tersebut ke lambung.

Fase penelanan

Terima Kasih Semoga Bermanfaat Selamat Belajar ^_^

Anda mungkin juga menyukai