Anda di halaman 1dari 25

MIKROBIOLOGI

Vibrio Cholera Famili Genus Spesies

: : :

Vibrionaceae Vibrio Vibrio cholerae Vibrio parahaemolyticus

Morfologi dan Sifat Bentuk Susunan Warna Susunan

: Kuman batang bengkok seperti koma : tunggal : Merah : Gram (-)

Bersifat aerob atau anaerob fakultatif Memiliki flagel monotrikh Tidak membentuk spora Tidak tahan asam

Tumbuh baik pada medium , yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen . Contoh : Agar Alkaline taurocholate tellurite Agar Thiosulfate Citrate Bilesalt Sucrose (TCBS)
Meragi sukrosa dan manosa tanpa menghasilkan gas Meragi nitrat. Pada medium pepton ( banyak mengandung triptofan dan nitrat) akan membentuk indol , yang dengan asam sulfat akan membentuk warna merah (tes indol positif) .

Toksin Enterotoksin yang tidak tahan asam Menyebabkan peningkatan aktivitas Adenil siklase dan konsentrasi AMP siklik serta hipersekresi usus kecil sehingga menyebabkan diare massif dengan kehilangan cairan mencapai 20 lliter per hari .

Struktur antigen
a. Antigen flagel H bersifat heat labile . Antibodi terhadap Antigen H tidak bersifat protektif . Pada uji aglutinasi berbentuk awan b. Antigen somatic O terdiri dari lipopolisakarida . Pada reaksi algutinasi berbentuk seperti pasir. Antibodi terhadap antigen O bersifat protektif

Patogenesis Dalam keadaan normal hanya pathogen untuk manusia Tidak bersifat invasive , kuman tidak pernah masuk dalam sirkulasi darah tetapi menetap/ terlokalisasi dalam usus . Menghasilkan toksin kolera ( enterotoksin) , musinase dan endotoksin. Toksin kolera di serap di permukaan gangliosida sel epitel dan merangsang hipersekresi air dan klorida dan menghambat absorpsi natrium . Akibat kehilangan banyak cairan dan elektrolit terjadi dehidrasi , asidosis , syok dan mati . Secara histologist , usus tetap normal . Gejala Kliniis Masa inkubasi : 1-4 Hari Gejala : mual , muntah , diare , dan kejang perut Ricewater stools yang terdiri dari mucus , sel epitel dan kuman vibrio dalam jumlah besar . Gejala kehilangan cairan dan elektrolit : dehidrasi , kolaps sirkulasi dan anuri

Diagnosis Laboratorium Bahan pemeriksaan : tinja dan/ atau muntahan Perbenihan : Agar pepton Agar darah dengan pH 9,0 TCBS Tes fermentasi Tes aglutinasi Reaksi merah cholera Slide agglutination test Kekebalan Asam lambung dapat membunuh kuman yang masuk dalam jumlah kecil Antibodi yang terbentuk : IgA dan IgG yang hanya ada dalam waktu yang relative singkat

Pengobatan Prinsip : Rehidrasi dengan cairan dan elektrolit Antibiotika Tetrasiklin dapat mempersingkat masa pemberian cairan / rehidrasi Pencegahan Vaksinasi dapat melindungi orang orang yang kontak langsung dengan penderita . Berapa lama efek proteksinya belum diketahui Penyebaran : Kapal laut , migrasi , perdagangan dan pengungsi Penularan Melalui air , makanan, lalat dan hubungan manusia-manusia Dalam air dapat bertahan selama 3 minggu .

Salmonella typhi Bentuk : Batang Susunan : Tunggal Warna : merah SIfat : Gram (-) Metode : pewarnaan Gram Morfologi Kuman tidak berspora Memeliki flagel peritirik

Fisiologi Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob , pada suhu 15-41 derajat celcius dan pH pertumbuhan 6-8 . Dalam air bisa bertahan selama 4 minggu Hanya membentuk H2S dan tidak membentuk gas pada fermentasi glukosa Pada agar SS , Endo , MacConkey koloni kuman berbentuk bulat , kecil dan tidak berwarna Perbenihan agar : koloni bulat , agak cembung , jernih

Struktur Antigen Antigen somatic serupa dengan antigen somatic O : Antibodi yang terbentuk IgM Antigen H : Antigen Flagel : Antibodi yang terbentuk IgG Antigen Vi : polimer dari polisakkarida bersifat asam terdapat pada bagian luar dari badan kuman . Kuman yang mempunyai antigen Vi ternyata lebih virulen , dan menentukan kepekaan kuman terhadap bakteriofaga dan dalam laboratorium sangat berguna untuk diagnosis cepat S.typhi yaitu dengan cara tes agglutination slide dengan Vi antiserum

Patogenesis Daya invasi Kuman Salmonella di usus halus melakukan penetrasi ke dalam epitel , lalu kuman terus melalui lapisan epitel masuk ke dalam jaringan subepitel sampai lamina propria . Pada saat kuman mendekati lapisan epitel , brush border berdegenerasi dan kemudian kuman masuk ke dalam sel . Mereka dikelilingi membrane sitoplasma (vakoul fagositik) . Setelah penetrasi organisme di fagosit oleh makrofag , berkembang biak dan dibawa oleh makrofag ke bagian tubuh yang lain Antigen Permukaan Salmonella dapat hidup intraceluler oleh karena adanya antigen permukaan (antigen Vi) Enterotoksin Menghasilkan enterotoksin yang termolabil , toksin diduga berasal dari dinding sel / membrane luar .

Epidemiologi Masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia . makanan dan minuman yang terkontaminasi merupakan mekanis transmisi kuman ini . S.typhi bisa berada dalam air , es , debu , sampah kering yang bila organisme ini masuk kedalam vehicle yang cocok (daging , kerang ,dan sebagainya) akan berkembang biak mencapai dosis infektif Maka perlu diperhatikan factor kebersihan lingkungan , pembuangan sampah dan klorinasi air minum didalam pencegahan

Gambaran Klinis

Salmonellosis pada manusia dapat dibagi dalam 4 sindrom


1.gastroenteritis / keracunan makanan Masa inkubasi : 12-48 jam atau lebih Gejala : mual dan muntah yang bereda beberapa jam Diikuti dengan nyeri abdomen , demam . Diare merupakan gejala yang paling menonjol . 2. Demam Tifoid Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam ,, nyeri kepala , pusing , nyeri otot , mual muntah , anoreksia , diare/obstipasi , perasaan tidak enak di perut .

Karakteristik demam Meningkat perlahan lahan dan terutama pada sore-malam hari Dalam minggu kedua gejala gejala menjadi lebih jelas berupa demam , bradikardia relative (peningkatan suhu 1 derajat celcious tidak diikuti dengan peningkatan denyut nadi 8 kali per menit ) , lidah yang berselaput ( kotor di tengah , tepi dan ujung merah serta tremor ) , hepatomegali splenomegali . Pemeriksaan fisik Suhu badan meningkat

Diagnosis Laboratorium Demam Tifoid Ada 3 metode untuk mendiagnosis penyakit ini a. diagnosis mikrobiologi metode paling spesifik dan lebih dari 90 persen penderita yang tidak diobati , kultur darah positif dalam minggu pertama dan kultur sumsum tulang memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90 persen positif . Pada minggu selanjutnya hasi kultur darah menurun , kultur tinja dan kultur urin meningkat yaitu 85 persen dan 25 persen berturut turut positif pada minggu ke 3 dan 4 . Organisme dalam tinja masih dapat ditemukan selama 3 bulan .

b. Diagnosis serologic tergantung pada antibody yang timbul terhadap antigen O dan H yang dapat dideteksi dengan reaksi aglutinasi (tes widal) . c.Diagnosis Klinik sesuai gejala yang timbul .

Komplikasi Sistem saraf : ensefaliti Miokarditis Perdarahan dan perforasi usus .

Penatalaksanaan Istirahat dan perawatan dengan tujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan Diet dan terapi penunjang Mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan secara optimal . Bubur saring agar menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus , hal ini disebabkan bahwa usus harus diistirahtkan . Pemberian antimikroba Kloramfenikol Merupakan pilihan obat pertama Dosis : 4x500 mg per hari ( oral atau iv) diberikan sampai dengan 7 hari bebas panas .

Tiamfenikol Komplikasi hematologic seperti kemungkinan terjadi anemia aplastik lebih rendah dibandingkan kloramfenikol. Dosis : 4x500 mg

Corynebacterium diphteriae Satu satu nya spesies yang pathogen bagi manusia Bentuk : batang (salah satu ujungn menggembung) Susunan : seperti pagar / seperti huruf V , L ,Y Sifat : Gram (+) Metode : Pewarnaan Gram Tidak memiliki spora , tidak bergerak , dan tidak tahan asam . Anaerob fakultatif , pertumbuhan optimal diperoleh dalam suasana aerob

Daya tahan : Tahan terhadap cahaya Pengeringan Pembekuan

Patogenitas Daya invasi : Adanya antigen K yang berupa protein termolabil dan terdapat pada permukaan dinding sel kuman , antigen ini berperanan penting dalam imunitas anti bakteri dan hipersensitifitas . Antigen K bersama-sama dengan glikolipid merupakan penentu-penentu utama dalam kemampuan invasi dan virulensi kuman difteri . Eksotoksin Penentu biokimia utama dalam pathogenesis infeksi .

Difteri merupakan penyakit infeksi yang akut dengan masa inkubasi 1-7 hari . Toksin yang dibuat pada lesi local diabsoprsi oleh darah dan diangkut ke bagian tubuh lain , tetapi efek nya paling utama ialah meliputi jantung dan saraf perifer. Jalan masuk infeksi yang umum adalah saluran pernafasan bagian atas dimana organisme ini berkembang biak pada lapisan superficial pada selaput lendir . Disana eksotoksinnya diuraikan yang menyebabkan nekrosis pada jaringan sekitar .

Respon daripada peradangan membentuk Pseudomembran yang terdiri dari bakteri , sel-sel epitel yang mengalami nekrotik , sel-sel fagosit dan fibrin . Mula mula membrane tersebut tampak pada tonsil atau bagian posterior faring dan bisa menybar ke atas ke bagian palatum yang lunak dan keran dan ke nasofaring , atau bagian bawah ke laring dan trakea

Gambaran Klinis Masa inkubasi : 2-5 hari Demam yang tidak tinggi sekitar 38 derajat C Kerongkongan sakit dan suara parau Perasaan tidak enak , mual , muntah , lesu Sakit kepala Rinorea berlendir Epidemiologi Terdapat diseluruh dunia dan sering terdapat dalam bentuk wabah Penyakit ini terutama menyerang anak-anak umur 1-9 tahun Pengobatan Pemberian antitoksin difteri yang tepat jumlahnya merupakan pengobatan yang efektif dan khas terhadap difteri . Untuk mencegah terjadinya ikatan-ikatan lebih lanjut antara toksin yang terdapat didalam darah dengan sel-sel jaringa yang masih utuh .

Reaksi Shick Tes ini dilakukan dengan menyuntikan 0,1 ml toksin difteria berkekuatan 1/50 M.L.D secara intra kutan bagian voler . Sebagai control dilakukan penyuntikan serupa dengan toksin yang telah dipanaskan terlebih dahulu 60 derajat celcius selama 30 menit untuk menghilangkan aktivitas toksinnya

Reaksi (+) Timbulnya reaksi inflamasi setempat yang mencapai intensitia maksimun dalam 4-7 hari untuk selanjutnya menghilang secara perlahan-lahan . Menunjukkan tidak adanya imunitas terhadap toksin difteri
Reaksi (-) Kadar antitoksin di dalam darah sudah lebih dari 0,03 unit/ml dan berarti bahwa orang tersebut kebal terhadap difteria

Pencegahan Imunisasi aktif toksoid merupakan cara terbaik . Imunisasi dilakukan pada bayi berumur antara 2-3 bulan biasanya berupa 2 dosis APT (alum precipitated toxoid ) dikombinasikan dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis diberikan interval 2,4,6 bulan .

SUMBER
1. Mikrobiologi FKUI 2. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III