Anda di halaman 1dari 53

TINEA CRURIS

Reyner Octo 0610115

Pembimbing : dr. Rosalyn N. Harsono, SpKK

Laporan Kasus

Keterangan Umum

Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pendidikan Pekerjaan Kawin Agama Bangsa Tgl. Periksa

: Tn. A : 20 tahun : Laki-laki : Jl. Yos Sudarso - Medan : Perguruan Tinggi : Mahasiswa : Belum kawin : Kristen : Indonesia : 9 Mei 2011

I. Anamnesis
Keluhan Utama : Bercak merah yang terasa gatal di lipat paha kiri Anamnesis Khusus : Sejak 3 bulan yang lalu, timbul bercak merah yang terasa gatal di sela paha kiri. Mula-mula bercak merah berukuran sebesar uang logam lalu membesar hingga sebesar telapak tangan. Gatal semakin dirasakan ketika pasien berkeringat. Karena tidak dapat menahan gatalnya, pasien menggaruk sampai lecet dan perih.

Pasien adalah seorang mahasiswa, riwayat sering berkeringat karena memiliki banyak aktivitas dan hobi bermain futsal. Pasien memiliki riwayat mandi 2x sehari, ganti baju 2x sehari setelah mandi. Tetapi pasien tidak sering mengganti pakaian terutama celana dan pakaian dalam ketika sedang berkeringat setelah bermain futsal. Pasien menyangkal adanya demam dan minum obatobatan dalam jangka waktu lama. Pasien tidak sedang dalam keadaan stres fisik maupun psikis. Pasien menyangkal berhubungan dengan orang yang menderita keluhan serupa, juga menyangkal memiliki hewan piaraan, menyangkal sering berada di tempat basah dan lembab.

UB

: sudah 3 bulan ini pasien memakai krim Esperson 0,25% 3x sehari (Desoksimethason 2,5 mg) lesi tidak membaik, justru semakin meluas. RPD : belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. RPK : tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan serupa R. Alergi : Tidak terdapat riwayat asma, alergi obat dan makanan.

II. Pemeriksaan Fisik


1.

Keadaan Umum

Kesadaran Kesan sakit Pernafasan Tensi Nadi Suhu Status gizi

: compos mentis : ringan : abdominothoracal, 20x/menit : 120/80 mmHg : 80x/menit, REIC : 36,30C axilla : BB/TB = 65/(1,7)2 = 22,5 (gizi cukup)

2.

Status Generalis

Kepala : B/U simetris


Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Mulut : bibir lembab, mukosa basah THT : sekret hidung -/-, sekret telinga -/-, faring tidak hiperemis, T1/T1

Leher : KGB tidak tampak membesar Thorax : B/P simetris


Cor : BJM, reguler Pulmo : VBS +/+, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen : datar, soepel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Hepar : tidak teraba membesar Lien : tidak teraba membesar

Genitalia dan Anus : tidak ada kelainan Ekstremitas : CRT < 2 detik, akral hangat, tampak bercak merah di lipat paha kiri

3.

Status Dermatologikus
Distribusi : lokalisata Lokasi : lipat paha kiri Lesi :

Jumlah : soliter Sifat : kering Permukaan : tidak menimbul Ukuran : plakat Bentuk : diskret Susunan : teratur Batas : tegas Lain-lain : bagian tepi lebih aktif

Efloresensi : makula eritematous, skuama

4.

Status Venerologikus

Inguinal

Pubis Scrotum Testis Epididimis Penis OUE Perineum dan anus

: tampak bercak merah sebesar telapak tangan : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan : ukuran simetris : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan : sekret (-) : tidak tampak kelainan

III. Laboratorium / Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan KOH 10% hifa bercabang dan spora berderet (artrospora)

Pemeriksaan Woods Lamp fluorensensi (-)

IV. Resume
ANAMNESIS Seorang laki-laki, berusia 20 tahun, mahasiswa, belum menikah, status gizi cukup, datang dengan keluhan timbul makula eritematous yang terasa gatal di cruris sinistra. Mula-mula makula eritematous berukuran numularis kemudian membesar hingga berukuran plakat. Gatal semakin dirasakan ketika pasien berkeringat. Karena tidak dapat menahan gatalnya, pasien menggaruk sampai lecet dan perih.
1.

Pasien memiliki riwayat sering berkeringat karena banyak aktivitas dan hobi bermain futsal. Pasien memiliki riwayat mandi 2x sehari, ganti baju 2x sehari setelah mandi. Tetapi pasien tidak sering mengganti pakaian terutama celana dan pakaian dalam ketika sedang berkeringat setelah bermain futsal. Pasien menyangkal adanya demam dan minum obat-obatan dalam jangka waktu lama. Pasien tidak sedang dalam keadaan stres fisik maupun psikis. Pasien menyangkal berhubungan dengan orang yang menderita keluhan serupa, juga menyangkal memiliki hewan piaraan, menyangkal sering berada di tempat basah dan lembab.

UB

: sudah 3 bulan ini pasien memakai krim Esperson 0,25% 3x sehari (Desoksimethason 2,5 mg) lesi tidak membaik, justru semakin meluas. RPD : (-) RPK : (-) R. Alergi : (-)

2.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis dalam batas normal. Status dermatologikus : lokalisata, lokasi di lipat paha kiri, soliter, kering, permukaan tidak menimbul, plakat, diskret, teratur, batas tegas. Efloresensi : makula eritematous dan skuama.

3.

LABORATORIUM / PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan KOH 10% hifa bercabang dan spora berderet (artrospora)

Pemeriksaan Woods Lamp fluorensensi (-)

V. Diagnosis Banding

Tinea Cruris Eritrasma Dermatitis Seboroik Kandidiasis intertriginosa

DIAGNOSIS KERJA

Tinea cruris

Usul Pemeriksaan

Kultur jamur dengan SDA Punch Biopsy

Terapi

Umum :

Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering Bila gatal, jangan digaruk karena dapat menyebabkan infeksi. Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat keringkan dengan handuk dan mengganti pakaian yang lembab Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun, tidak ketat dan ganti setiap hari. Untuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan handuk yang digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam air panas.

Khusus

Topikal

Ketokonazol krim 2% 10 g oles 2-3x/hari 2 minggu Ketokonazol tab 200 mg 1 x sehari 2 minggu Loratadine tab 10 mg 1 x sehari 2 minggu

Sistemik

Prognosis

Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam Quo ad sanationam : ad bonam

MIKOSIS
Superficialis
Dermatofitosis Non Dermatofitosis

Intermediate

Profunda
Subcutis Sistemik

Tinea capitis Tinea barbae Tinea corporis ( T. imbrikata & T. favosa ) Tinea manum Tinea pedis Tinea kruris Tinea unguium

Pitiriasis versikolor Piedra hitam Piedra putih Tinea nigra palmaris Otomikosis

Kandidiasis Aspergillosis

Misetoma Kromomikosis Sporotrikosis Fikomikosis subkutan Rinosporodiosis

Aktinomikosis Nokardiosis Histoplasmosis Kriptokokosis Koksidioidomikosis Blastomikosis Fikomikosis sistemik

Penyakit jamur di kulit oleh jamur dermatofita 3 genus: 1. Microsporum 2. Tricophyton 3. Epidermophyton

2 sifat khas: Keratinofilik Afinitas pada hospes tertentu Zoofilik (misalnya: M.canis) Geofilik (misalnya: M.gypseum) Antropofilik (misalnya: T. rubrum)

Morfologi dermatofitosis khas:


Kelainan berbatas tegas Polimorfik Tepi lebih aktif Disertai rasa gatal

Klasifikasi dermatofitosis didasarkan pada lokalisasi kelainan kulit

Diagnosis Dermatofitosis:
1.
2. 3. 4.

5.

Anamnesa Gambaran klinis Sediaan langsung + lar KOH 10% Woods light (T.kapitis, T.kruris eritrasma, P.versicolor) Biakan pada agar Sabouraud spesies penyebabnya

Definisi

Dermatofitosis pada lipat paha, perineum dan sekitar anus. Terbatas pada daerah genito-krural atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah Bersifat akut atau menahun, bahkan dapat berlangsung seumur hidup. Nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch

Epidemiologi

Laki-laki > perempuan, Dewasa >> Daerah tropis Lingkungan yang kotor dan lembap.

Faktor Pencetus

Faktor virulensi dari dermatofita Faktor trauma Faktor suhu dan kelembapan Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan Faktor umur dan jenis kelamin

Etiologi

Trichopyhton rubrum 90% Epidermophython fluccosum danTrichophyton mentagrophytes 4% Trichopyhton tonsurans 6%

* Dapat ditularkan secara langsung dan tidak langsung

Patogenesis

Penularan

Secara langsung lewat fomitis,epitel rambut yang mengandung jamur dari manusia,binatang,tanah Tidak langsung tanaman ,kayu yang dihinggapi jamur, pakaian ,debu Kontaminasi dengan pakaian, handuk, sprei penderita Autoinkulasi dari tinea pedis,tinea unguium

Penularan jamur menghasilkan keratinase yang mencerna keratin memudahkan invasi ke stratum korneum infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa /cabang-cabang didalam jaringan keratin yang mati hifa menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis menimbulkan reaksi peradangan pertumbuhan dengan pola radial di stratum korneum timbul lesi dikulit dengan batas jelas dan meninggi (ringworm) reaksi kulit berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.

Gambaran Klinis

Makula eritematous dengan central healing lipatan inguinal, distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis Infeksi akut bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif Infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi Area sentral hiperpigmentasi, terdiri atas papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama Infeksi kronis pemakaian kortikosteroid topikal kulit eritematous, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler

Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan KOH
Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan pembesaran 1045 kali Didapatkan hifa dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang Spora berderet (artrospora) kelainan kulit yang lama atau sudah diobati Miselium

2.

Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar


menanamkan bahan klinis medium saboraud ditambahkan chloramphenicol + cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu

3.

Punch Biopsi
Membantu menegakkan diagnosis Sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff jamur akan tampak merah muda Menggunakan pengecatan methenamin silver jamur akan tampak coklat atau hitam

4.

Pemeriksaan Woods Lamp

Menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata

Komplikasi
1.

2.

Dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.

Terapi
1.

Anti Jamur Topikal

keberhasilan terapi 70-100% pagi dan sore hari 2-4 minggu dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi diteruskan minimal 2 minggu setelah lesi menyembuh

a.

Golongan Imidazole
Clotrimazole Mikonazole Econazole Ketokonazole Oxiconazole Sulkonazole

b.

Golongan Alinamine
Naftifine Terbinafin

c.

Golongan Naphthionates

Tolnaftate
Siklopiroks

d.

Golongan Substituted pyridone

2.

Obat Anti Jamur Sistemik

Ketokonazole Itrakonazole Griseofulfin Terbinafine

Erytrasma

Penyakit bakteri kronik stratum korneum Corynebacterium minitussismum Sering berlokalisasi di sela paha Efloresensi sama makula eritema dan skuama pada seluruh lesi tanda khas Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada pemeriksaan dengan lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red)

Dermatitis Seboroik

Penyakit inflamasi konis mengenai daerah kepala dan badan. Lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita. Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercakbercak berskuama dan berminyak disertai eksudat dan krusta tebal.

Candidosis intertriginosa

Penyakit jamur spesies Candida Candida albicans. Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan Tinea Cruris jika mengenai lipatan paha dan perianal. Perbedaannya kandidiasis eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit di sekitarnya. Predileksinya bukan pada daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. Pemeriksaan KOH 10 % terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu.

Terima Kasih.

Daftar Pustaka

Budi mulja, U : Mikosis. Dalam ilmu penyakit kulit dan kelamin, Jakarta FK UI. 1987 : 84-88 Siregar.S: Penyakit Jamur Kulit. EGC Jakarta.1982 Rippon.J : Superfisialis Infections.in Medical Mycology, second ed Tokyo, WB saunders Co. 1988 Wolff., K. Fitzpatrick Dermatology In General Medicine. Seventh Edition. US : Mc Graw Hill. 2008