Anda di halaman 1dari 61

Mirza Heltomi Listiani Fauzia Ratia Resti Intan Oktarina Arif Fajar Maulana

Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen.

Indonesia, pada tahun 2012 tercatat jumlah peserta KB aktif dari 64.133.347 jiwa. MOP (0,2%). MOW (1,04%) implant (4,99%)

kondom (5,34%) IUD (5,44%)


pil (28,65%) suntik (54,35%)

dapat dipercaya, tidak menimbukan efek yang mengganggu kesehatan, daya kerjanya diatur menurut kebutuhan, tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus, tidak memerlukan motivasi terus-menerus, mudah pelaksanaannya, murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, dapat diterima penggunaanya oleh pasangan yang bersangkutan.

Kontrasepsi Non- Hormonal


Non-Operatif
Koitus interuptus Pembilasan pascasenggama (postcoital douche) Perpanjangan masa menyusui anak (Prolonged lactation) Pantang berkala (rhythm method) Kondom
Kondom Pria Kondom Wanita (pessairum) Diapragma vaginal Cervical cap

Kontrasepsi Hormonal
Pil Suntik Implant

Operatif

Spermatisida IUD

Tubektomi Vasektomi

1. Kontrasepsi tanpa menggunakan alatalat/obat-obatan 2. Kontrasepsi secara mekanis baik untuk pria maupun wanita 3. Kontrasepsi dengan obat-obat spermatisida 4. Kontrasepsi Hormonal (oral, suntik, implant) 5. Kontrasepsi dengan AKDR 6. Kontrasepsi Mantap (tubektomi dan vasektomi)

a.

Senggama terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa akan terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar pria, dan setelah itu masih ada waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Angka kegagalan 4-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun

Senggama Terputus.

KEUNTUNGAN
tidak membutuhkan biaya, alatalat maupun persiapan

KERUGIAN
dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pihak pria dan bisa mengurangi kenikmatan/kepuasan dalam berhubungan seksual

b. Pembilasan Pascasenggama (postcoital douche)

Pembilasan vagina dengan air biasa dengan atau tanpa tambahan larutan obat Maksudnya ialah untuk mengeluarkan sperma secara mekanik dari vagina. Penambahan cuka ialah untuk memperoleh efek spermasida serta menjaga asiditas vagina. Cara ini mengurangi kemampuan terjadinya konsepsi hanya dalam batas-batas tertentu karena sebelum pembilasan dapat dilakukan, spermatozoa dalam jumlah besar telah memasuki servik uteri.

c. Perpanjangan Menyusui Anak (Prolanged Lactation)

Menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama ibu belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Hal ini dapat efektif bila ibu menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi; ibu belum mendapat haid, dan atau dalam 6 bulan pasca persalinan. Efektivitasnya dapat mencapai 98 %

d. Pantang Berkala (Rhythm Method)

Cara ini sering juga disebut cara Ogino-Knaus. seorang wanita hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa subur yang disebut Fase Ovulasi mulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Sebelum dan sesudah masa itu, wanita tersebut berada dalam masa tidak subur. Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan; Ada 2 cara sistem pantang berkala :
Sistem kalender Sistem suhu basal badan

Hari pertama mulai subur = Siklus haid terpendek 18 Hari subur terakhir = Siklus haid terpanjang 11

Sistem suhu basal badan Suhu badan diukur memakai termometer sewaktu bangun pagi hari dalam keadaan istirahat penuh setiap hari. Hasil pengukuran harus dicatat pada kartu pencatatan suhu badan

Seorang wanita memiliki siklus haid teratur 28 hari, Hari pertama mulai subur = 28 18 = 10 Hari subur terakhir = 28 11 = 17
Minggu Senin 1 7 8 14 15 21 22 28 29

Selasa
Rabu Kamis

2
3 4

9
10 11

16
17 18

23
24 25

30
31

Jumat
sabtu

5
6

12
13

19
20

26
27

Obat spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas 2 komponen, yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan sperma, dan venikulum yang nonaktif dan yang dipergunakan untuk membuat tablet atau cream/jelly. Cara kontrasepsi dengan obat spermatisida umumnya digunakan bersama-sama dengan cara lain (diafragma vaginal), atau apabila ada kontraindikasi terhadap cara lain. Efek samping jarang terjadi dan umumnya berupa reaksi alergi.

Obat-obat spermatisida, antara lain dalam bentuk :

suppositorium : Lorofin suppositoria, Rendel pessaries. Suppositorium

dimasukkan sejauh mungkin ke dalam vagina sebelum koitus. Obat ini baru mulai aktif setelah 5 menit. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.

jelly atau cream. 1) Perseptin vaginal jelly, Orthogynol vaginal jelly, 2) Delfen vaginal cream. Jelly lebih encer daripada cream. Obat ini

disemprotkan ke dalam vagina dengan menggunakan suatu alat. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.

tablet busa : Sampoon, Volpar, Syn-A-Gen. Sebelum digunakan, tablet


terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air, kemudian dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin. Lama kerjanya 30-60 menit.

C-film, yang merupakan benda yang tipis, dapat dilipat, dan larut dalam
air. Dalam vagina obat ini merupakan gel dengan tingkat dispersi yang tinggi dan menyebar pada porsio uteri dan vagina. Obat mulai efektif setelah 30 menit.

Efektivitas KB spermatisid ini kurang (3 21 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama)1.

Prinsip kerja kondom ialah sebagai perisai dari penis sewaktu melakukan koitus, dan mencegah tumpahnya sperma dalam vagina. Bentuk kondom adalah silindris dengan pinggir yang tebal pada ujung yang terbuka, sedang ujung yang buntu berfungsi sebagai penampung sperma. Diameternya biasanya kira-kira 31-36,5 mm dan panjang lebih kurang 19 cm. Kondom dilapisi dengan pelicin yang mempunyai sifat spermatisid. Efektivitas kondom ini tergantung dari mutu kondom dan dari ketelitian dalam penggunaannya.

KEUNTUNGAN

KERUGIAN

selain untuk tujuan kontrasepsi juga dapat memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin5.

Berkurangnya Kenikmatan sewaktu melakukan koitus. Terjadi kebocoran selama koitus. Efek sampingan kondom tidak ada, kecuali jika ada alergi terhadap bahan untuk membuat karet.

Pemakaian kondom perlu diperhatikan halhal berikut :

Jangan melakukan koitus sebelum kondom terpasang dengan baik. Pasanglah kondom sepanjang penis yang sedang dalam ereksi. Pada pria yang tidak bersunat, prepusium harus ditarik terlebih dahulu. Tinggalkan sebagian kecil dari ujung kondom untuk menampung sperma. Pada kondom yang mempunyai kantong kecil di ujungnya, keluarkanlah udara terlebih dahulu sebelum kondom dipasang. Pergunakanlah bahan pelicin secukupnya pada permukaan kondom untuk mencegah terjadinya robekan. Keluarkanlah penis dari vagina sewaktu masih dalam keadaan ereksi dan tahanlah kondom pada tempatnya ketika penis dikeluarkan dari vagina, supaya sperma tidak tumpah.

Diafragma vaginal

Pada tahun 1881 Mensinga dan Flensburg (Belanda) telah menciptakan untuk pertama kalinya diafragma vaginal guna mencegah kehamilan. Diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat seperti per.

Diafragma dimasukkan ke dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga jangan sampai sperma masuk ke dalam uterus. Untuk memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya.

Diafragma vaginal sering dianjurkan pemakaiannya dalam hal-hal seperti :

keadaan dimana tidak tersedia cara yang lebih baik. jika frekuensi koitus tidak seberapa tinggi, sehingga tidak dibutuhkan perlindungan yang terus-menerus. jika pemakaian pil, AKDR, atau cara lain harus dihentikan untuk sementara waktu oleh karena sesuatu sebab. Diafragma paling cocok untuk dipakai pada wanita dengan dasar panggul yang tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik. Pada keadaan-keadaan tertentu pemakaian diafragma tidak dapat dibenarkan, misalnya pada 1) sistokel yang berat; 2) prolapsus uteri; 3) fistula vagina; 4) hiperantefleksio atau hiperretrofleksio uterus.

Umumnya diafragma vaginal tidak menimbulkan banyak efek sampingan. Efek sampingan mungkin disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat-obat spermatisida yang dipergunakan, atau oleh karena terjadi perkembangbiakan bakteri yang berlebihan dalam vagina jika diafragma dibiarkan terlalu lama terpasang di situ. Efektivitas nya sedang (bila digunakan dengan spermasida angka kegagalan 6-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama)1. Kekurangan khasiat diafragma vaginal ialah : 1) diperlukan motivasi yang cukup kuat; 2) umumnya hanya cocok untuk wanita yang terpelajar dan tidak untuk dipergunakan secara massal; 3) pemakaian yang tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan; 4) tingkat kegagalan lebih tinggi daripada pil atau AKDR. Keuntungan cara ini ialah : 1) hampir tidak ada efek sampingan; 2) dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya cukup memuaskan; 3) dapat dipakai sebagai pengganti pil atau AKDR pada wanita-wanita yang tidak boleh mempergunakan pil atau AKDR oleh karena suatu sebab.

Cervical cap dibuat dari karet / plastik, bentuk mangkuk dmna pinggirnya terbuat dari karet yang tebal. Ukuran : d = 22 mm - 33 mm.

Cap ini dipasang pada


porsio servisis uteri seperti memasang topi. Dewasa ini alat ini jarang dipakai.

Memasukkan benda-benda atau alat ke dalam uterus untuk tujuan mencegah kehamilan. Efektifitasnya tinggi dapat mencapai 0.6 0.8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 170 kehamilan).

Mekanisme kerja

adanya AKDR dalam kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebukan leukosit yang dapat menghancurkan blastokista dan sperma. Pada pemeriksaan cairan uterus pada pemakai AKDR sering kali dijumpai sel-sel makrofag (fagosit) yang mengandung spermatozoa. Disamping itu ditemukan juga sering timbulnya kontraksi uterus pada pemakai AKDR, yang dapat menghalangi nidasi. Diduga ini disebabkan karena meningkatnya prostaglandin dalam uterus pada wanita tersebut.

paling banyak digunakan dalam program KB di Indonesia ialah AKDR jenis copper T dan spiral (Lippes loop). Bentuk yang beredar dipasaran adalah spiral (Lippes loop), huruf T (Tcu380A, Tcu200C, dan NovaT), tulang ikan (MLCu350 dan 375), dan batang (Gynefix). Unsur tambahan adalah tembaga (cuprum), atau hormon (Levonorgestrel).

Komplikasi AKDR : Infeksi Perforasi, translokasi, ekspulsi, embaded,


Keuntungan
Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian satu kali motivasi, Tidak menimbulkan efek sistemik, Alat itu ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara massal, Efektivitas cukup tinggi, Reversibel, Tidak ada pengaruh terhadap ASI

Efek Samping Perdarahan Masa haid dapat menjadi lebih panjang dan banyak, terutama pada bulanbulan pertama pemakaian Rasa nyeri dan kejang di perut Gangguan pada suami

Kontraindikasi

pemasangan AKDR

kontraindikasi relatif ialah:

Mioma uteri dengan adanya perubahan bentuk rongga uterus Insufisiensi serviks uteri Uterus dengan parut pada dindingnya, seperti pada bekas SC, enukleasi mioma, dsb. Kelainan jinak serviks uteri, seperti erosio porsiones uteri
Kehamilan Adanya infeksi yang aktif pada traktus genitalis (Penyakit Menular Seksual)3 Adanya tumor ganas pada traktus genitalis Adanya metrorhagia yang belum disembuhkan Pasangan yang tidak lestari/harmonis

kontraindikasi mutlak ialah :

Tehnik pemasangan AKDR


kandung kencing dikosongkan, (posisi litotomi). Bersihkan daerah vulva dan vagina secara antisepsis dengan betadine Lakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui letak, bentuk, dan besar uterus Spekulum dimasukkan ke dalam vagina, dan serviks uteri dibersihkan dengan larutan antiseptik. Lalu dengan tenakulum dijepit bibir depan porsio uteri, dan dimasukkan sonde ke dalam uterus untuk menentukan arah dan panjangnya kanalis servikalis serta kavum uteri. AKDR dimasukkan ke dalam uterus dengan tehnik tanpa sentuh, lalu dorong ke dalam kavum uteri hingga mencapai uterus.

Tahan pendorong (plunger) dan tarik selubung (inserter) ke bawah sehingga AKDR bebas. Setelah selubung keluar dari uterus, pendorong juga dikeluarkan, dan tenakulum juga dilepaskan, benang AKDR digunting sehingga 2 - 3 cm keluar dari ostium uteri, dan akhirnya spekulum diangkat.

Pemeriksaan setelah pemasangan AKDR dilakukan 1 minggu sesudahnya; pemeriksaan kedua 3 bulan kemudian, dan selanjutnya tiap 6 bulan. Cooper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilepaskan lebih awal apabila diinginkan.

Cara mengeluarkan AKDR:

Mengeluarkan AKDR biasanya dilakukan dengan cara menarik benang AKDR yang keluar dari ostium uteri eksternum dengan dua jari, dengan pinset, atau dengan cunam. Kadang-kadang benang tidak tampak dari ostium uteri eksternum. Tidak terlihatnya benang oleh karena : Akseptor menjadi hamil Perforasi usus Ekspulsi yang tidak disadari oleh akseptor Perubahan letak AKDR sehingga benang tertarik ke dalam rongga uterus, seperti adanya mioma uterus.

Tubektomi

adalah suatu tindakan oklusi/ pengambilan sebagian saluran telur wanita untuk mencegah proses fertilisasi.3 Tindakan tersebut dapat dilakukan setelah persalinan atau pada masa interval. Waktu yang terbaik untuk melakukan tubektomi pascapersalinan ialah tidak lebih dari 48 jam sesudah melahirkan karena posisi tuba mudah dicapai dari subumbilikus dan rendahnya resiko infeksi. Bila masa 48 jam pascapersalinan telah terlampaui maka pilihan untuk tetap memilih tubektomi, dilakukan 6-8 minggu persalinan atau pada masa interval.

Keuntungan tubektomi ialah : Motivasi hanya satu kali saja, tidak diperlukan motivasi yang berulang-ulang Efektivitas hampir 100% Tidak mempengaruhi libido seksualis Kegagalan dari pihak pasien tidak ada. Kerugiannya : tindakan ini dapat dianggap tidak reversibel, walaupun ada kemungkinan untuk membuka tuba kembali pada mereka yang masih menginginkan anak lagi dengan operasi Rekanalisasi.

Indikasi:
Penghentian fertilitas atas indikasi medik Kontrasepsi permanen Syarat-syarat tubektomi : Syarat sukarela Syarat bahagia Syarat medik Tindakan yang dilakukan sebagai tindakan pendahuluan untuk mencapai tuba falopii terdiri atas : pembedahan transabdominal seperti laparotomi, mini laparotomi, laparoskopi; pembedahan transvaginal seperti kolpotomi posterior, kuldoskopi; dan pembedahan transservikal (transuterin) seperti penutupan lumen tuba histeroskopik.

1.

Cara Madlener
Bagian tengah tuba diangkat dengan cunam pean, sehingga terbentuk suatu lipatan terbuka. Kemudian, dasar dari lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat dan selanjutnya dasar itu diikat dengan benang yang tidak diserap. Tidak dilakukan pemotongan tuba.

2. Cara Pomeroy
paling banyak dilakukan. Dilakukan dengan mengangkat bagian tengah dari tuba sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat dengan benang yang dapat diserap, tuba diatas dasar itu dipotong. Setelah benang pengikat diserap, maka ujung- ujung tuba akhirnya terpisah satu dengan yang lain.

3. Cara Irving

Pada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserap, ujung proksimal dari tuba ditanamkan kedalam miometrium, sedangkan ujung distal ditanamkan ke dalam ligamentum latum

4. Cara Uchida

Tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil (mini laparotomi) di atas simfisis pubis. Kemudian di daerah ampula tuba dilakukan suntikan dengan larutan Adrenalin dalam air garam dibawah serosa tuba. Akibatnya, mesosalping di daerah tersebut menggembung. lalu dibuat sayatan kecil di daerah yang kembung tersebut. Serosa dibebaskan dari tuba sepanjang kira-kira 4-5 cm; tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit, diikat, lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya dibawah serosa, sedangkan ujung tuba yang distal dibiarkan berada diluar serosa. Luka sayatan dijahit dengan kantong tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0.

5. Cara Kroener

Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan dengan benang sutera dibuat melalui bagian mesosalping dibawah fimbria. Jahitan ini diikat 2x, satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari jahitan sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong. Tehnik ini banyak digunakan. Keuntungan cara ini antara lain sangat kecil kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum rotundum. Angka kegagalan 0,19%.

6. Cara Aldridge

Peritoneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersamasama dengan fimbria ditanam ke dalam ligamentum latum.

Vasektomi

vasektomi makin banyak dilakukan dibeberapa negara seperti India, Pakistan, Korea, AS, dll, Di Indonesia, vasektomi tidak termasuk dalam program keluarga berencana nasional2 . Dan masih banyak pria di Indonesia menganggap vasektomi tersebut identik dengan dikebiri dan dapat menimbulkan impotensi5. Vasektomi, selain aman dari kegagalan dengan tingkat keberhasilan 79 persen.

Indikasi vasektomi ialah : bahwa pasangan suami isteri tidak menghendaki kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.

Kontraindikasi : sebenarnya tidak ada, kecuali bila ada kelainan lokal yang dapat mengganggu sembuhnya luka operasi, jadi sebaiknya harus disembuhkan dahulu.

Teknik operasi :

Mula-mula kulit skrotum di daerah operasi dilakukan antiseptik, kemudian dilakukan anestesi lokal dengan xilokain. Anestesi dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya di bagian atas, dan pada jaringan disekitar vas deferens. Vas deferens dicari dan setelah ditentukan lokasinya, dipegang sedekat mungkin dibawah kulit skrotum. Dilakukan sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5-1 cm di diekat tempat vas deferens. Setelah terlihat, dijepit dan dikeluarkan dari sayatan (harus yakin itu benar vas deferens), vas dipotong sepanjang 1-2 cm dan kedua ujungnya diikat Setelah kulit dijahit, tindakan diulang pada bagian sebelahnya.

Sehabis operasi, peserta vasektomi baru boleh melakukan hubungan intim dengan pasangannya setelah enam hari. Itupun harus wajib menggunakan kondom selama 12 kali hubungan demi pengamanan5.

Keuntungan vasektomi5 :
-

Tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental Tidak mengganggu libido seksualitas Operasinya hanya berlangsung sebentar sekitar 10 15 menit

Komplikasi vasektomi : infeksi pada sayatan, rasa nyeri/sakit, terjadinya hematom oleh karena perdarahan kapiler, epididimitis, terbentuknya granuloma. Kegagalan dapat terjadi karena: terjadi rekanalisasi spontan, gagal mengenal dan memotong vas deferens, tidak diketahi adanya anomali vas deferens, koitus dilakukan sebelum kantong seminalnya betulbetul kosong.

Adalah Kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan segera setelah berhubungan seksual

Pil terdiri dari : estrogen dan progestin IUD bekerja bila dimasukkan dalam waktu 6 hari setelah berhubungan seksual

cara 1. Mekanik

merk

dosis

waktu

AKDR-Cu Copper T Multiload Nova T

1 kali Dalam 6 hari pemasangan pasca sanggama

2.Medik
pil kombinasi Mycrogynon 50 Ovral Neogynon Nordiol Eugynon 2x2 tablet Dalam 3 hari pasca sanggama , dosis kedua 12 jam kemudian

cara

Merk
Mycrogynon Mikrodiol nordette

dosis
2 x 4 tab

waktu
Dalam waktu 3 hari pasca sanggama dosis kedua 12 jam kemudian Dalam waktu 3 hari pasca sanggama dosis kedua 12 jam kemudian Dalam waktu 3 hari pasca sanggama, 2x1 dosis selama 5 hari

progestin

postinor

2x1 tab

estrogen

Lynoral Premarin prognova

2,5 mg/dosis 10 mg/dosis 10 mg / dosis

cara
mifepristone

Merk
RU 486

dosis
1X600 mg

waktu
Dalam waktu 3 hari pasca sanggama Dalam waktu 3 hari pasca sanggama dosis kedua 12 jam kemudian

danazol

Danocrine Azol

2x4 tab

Mencegah implantasi hasil konsepsi ke dinding uterus Mencegah ovulasi jika coitus terjadi pada akhir siklus menstruasi, sebelum ovulasi Digunakan pada :
Ingin metode kontrasepsi darurat terbaik Kontraindikasi progesteron Ingin menggunakan IUD sebagai kontrasepsi lanjut bila tidak, bisa dilepas pada periode menstruasi berikutnya

Bekerja sebagai : - mencegah atau menunda ovulasi - mencegah pembuahan - mencegah implantasi hasil nidasi - Menganggu motilitas tuba

Yang mempengaruhi :

1. Jarak antara coitus tanpa perlindungan dengan waktu minum obat pertama kali
2. Waktu coitus dan periode menstruasi perempuan

Efektifitas berkurang bila jarak minum pil semakin jauh dari waktu coitus 95 % 24 jam pertama 85 %25-48 jam 58 % > 49 jam

Abdominal pain / cramps Mual minum antiemetik sebelum minum pil Muntah bila muntah setelah 2 jam minum pilulang lagi minum pil nyeri payudara Pusing lemah

Umumnya menstruasi terjadi 21 hari setelah penggunaan pil Tidak dianjurkan penggunaan pada wanita dengan riwayat dan riwayat keluarga menderita idiopatic trombotic disease kadar estrogen tinggi gunakan progestin

Saifuddin A B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi Pertama cetakan Keempat. Jakarta , Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2003 Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Edisi kedua cetakan ketiga. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002 Cunningham F G, Gant NF. Williams Obstetri. Edisi ke21.Volume 2. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006 Saifuddin A B. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi pertama cetakan kedua. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2001 www.pikas.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=498 www.gizi.net/cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid1007347677,29897