Anda di halaman 1dari 16

Fluorometri

Ida Musfiroh

Pendahuluan
Fotoluminesensi :

Peristiwa dimana suatu senyawa kimia dapat dieksitasikan oleh cahaya dan kemudian memancarkan kembali sinar dengan panjang gelombang yang sama atau berbeda dengan panjang gelombang semula (panjang gelombang eksitasi)

Pendahuluan
Peristiwa fotoluminesensi dibagai menjadi 2 yaitu

:
1. Fluoresensi 2. Fosforesensi

Luminescence
Emission of radiation, which occurs during returning of excitated molecules to ground state Fluorescence, phosphorescence excitation is caused by absorption of radiation Chemiluminiscence excitation is caused by chemical reaction

Teori Fluoresensi dan Fosforesensi


Bila dua atom saling berikatan menjadi suatu

molekul maka pasangan elektron yang membentuk ikatan antara kedua atom dianggap menempati suatu orbital molekul yang terbentuk sebagai hasil tumpang tindih dua buah orbital atom pembentum molekul. Dari hasil kombinasi ini akan terbentuk dua macam orbital molekul yaitu orbital ikatan dan orbital anti ikatan

Teori Fluoresensi dan Fosforesensi


Orbital ikatan yang mempunyai energi lebih

rendah akan ditempati elektron elektron ikatan dengan keadaan azas (ground state) Dan pada orbital ikatan dan anti ikatan disuperposisikan juga tingkat energi vibrasim sehingga jika molekul menyerap energi sinar maka akan terjadi transisi dari tingkat energi ikatan dan anti ikatan yang diikuti oleh transisi energi vibrasi

Hukum Pauli
Bahwa molekul mempunyai jumlah elektron

genap dan bila molekul tersebut dalam keadaan azas maka elektron elektron tersebut akan menempati berbagai orbital. Menurut Pauli, elektron yang berpasangan harus harus mempunyai spin yang berlawanan ()

Tingkat Energi
Tingkat energi di dalam molekul yang spin

elektronnya berpasangan disebut tingkat energi elektron singlet

Bila salah satu elektron keadaan singlet azas

menyerap energi cahaya (tereksitasi) maka ada dua kemungkinan : a. Transisi ke tingkat energi elektron tereksitasi
singlet (S) yang mana spin elektron yang tereksitasi masih dalam arah yang berlawanan b. Transisi ke tingkat energi elektron tereksitasi triplet (T) yang mana spin elektron berubah dari semula berlawanan menjadi searah

Singlet state dan Triplet State

E
Singlet state - spins of two electrons are paired Triplet state - spins of two electrons are unpaired
S0 S1 T1

Perbedaan sifat molekul singlet dan triplet


Molekul dalam keadaan singlet bersifat

diamagnetik (berpasangan), keadaan triplet bersifat paramagnetik Kemungkinan terjadinya transisi singlet triplet lebih kecil dari pada transisi singlet singlet , akibatnya usia rata rata (life time) eksitasi triplet lebih lama dibanding rata rata eksitasi singlet Jika transisi terjadi dari singlet triplet, maka peristiwa ini disebut lintasan antar sistem (Inter System Crossing) yang mendasari FOSFORESENSI

Energy level diagram for photoluminescent molecules

Radiationless transitions: E VR vibrational relaxation IC- internal conversion ISC intersystem crossing

Radiation transitions:

Fluorescence - transition to the ground state with the same multiplicity S1S0
probability of fluorescence is higher than phosphorescence Phosphorescence transition between states with different multiplcity T1S0

Stokes shift
Wavelength difference between absorption (excitation) and fluorescence (emission) maximum
Wavelength of emitted radiation is longer because its energy is lower
E = h . c/

Stokes shift

http://psych.lf1.cuni.cz/fluorescence/soubory/principy.htm

Quantitative fluorescent measurement


I0
sample

It

f =

intensity of fluorescence = If intensity of absorption Ia

If

Ia = I0 - It

Fluorescence efficiency (f ) is the fraction of the incident radiation which is emitted as fluorescence f < 1 -ecd
If = f .Ia = f (I0 - It) If = f .I0(1- 10-ecd) ecd < 0,01 If = 2,3.f.e.d.c = .c 10-ecd ln10.(1- ecd) It = I0 .10

The dependence of intensity of fluorescence to concentration of fluorophore

Fluorescence measurement
source excitation monochromator sample

emission monochromator

detector Read-out