Anda di halaman 1dari 62

Dosen pembimbing: dr.

Thysa Thysmelia A
Oleh : Abdi Malik F Ahmad syahid Ismayanti Jodi S

Pada saluran cerna dapat terjadi gangguan atau gejala penyakit yang habitatnya pada saluran cerna tersebut. Gejala klinis yang ditimbulkan dari yang paling ringan (asimptomatik), ataupun hanya merupakan gejala lokal pada saluran cernanya saja sampai paling berat dengan gejala sistemik yang dapat menimbulkan kematian pada hospesnya yaitu manusia. Parasit tersebut digolongkan menjadi penyakit saluran cerna oleh nematoda, trematoda, cestoda dan protozoa. (Natadisastra, 2005)

Nematoda Trematoda Cestoda Protozoa

Jantan berukuran lebih kecil dari cacing betina

Betina Berukuran lebih besar Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000-200.000

Daur hidup

Telur dalam feses dalam 3 minggu menjadi infektif Bentuk infektif tersebut bila tertelan manusia menetas di usus halus Menembus pembuluh darah Jantung paru alveolus kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus faring, Penderita batuk larva akan tertelan ke dalam esofagus usus halus cacing dewasa.

Gejala Klinis batuk, demam dan eosinofilia(sindrom Loeffler), mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Pada infeksi berat malabsorbsi

Diagnosis Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis askariasis. Pengobatan pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan, dosis tunggal mebendazol 500 mg atau albendazol 400 mg

Daur hidupnya sebagai berikut : Telur larva rabditiform larva filariform menembus kulit kapiler darah jantung kanan paru bronkus trakea laring usus halus. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Infeksi Ancylostoma duodenale juga dapat terjadi dengan menelan larva filariform.

Gejala nekatoriasis dan ankilostomiasis 1. Stadium larva ground itch, gejala mual, muntah, iritasi, batuk, sakit leher, dan serak. 2. Stadium dewasa eosinoilia anemia

Pengobatan Pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar. Untuk membedakan spesies N.americanus dan Ancylostoma duodenale dapat dilakukan biakan misalnya dengan cara Harada-Mori.

Ukuran Cacing dewasa: Jantan : 30-45mm Betina : 35-50mm Telur : Panjang 50-55m. lebar : 22-24m Lokasi cacing dewasa: Caecum dan Kolon ascenden

gejala Diare yang sering diselingi sindrom disentri, anemia, berat badan turun dan kadang-kadang disertai prolapsus rektum Diagnosis Diagnosis dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja. Pengobatan Albendazol 400 mg (dosis tunggal) Mebendazol 100 mg (dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut)

Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior ada pele-baran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Cacing jantan berukuran 2-5 mm, mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda tanya Habitat cacing dewasa : rongga sekum, usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga sekum

Gejala klinis Iritasi di sekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkan pruritus lokal pruritus ani radang di saluran telur kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi, enuresis, cepat marah, gigi menggeretak, insomnia dan masturbas

Diagnosis Infeksi cacing dapat diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di sekitar anus pada waktu malam hari. Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dan cacing dewasa dengan alat anal swab Pengobatan piperazin Pirantel pamoat

Trematoda hati (liver flukes): Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus, Opisthorchis viverrini dan Fasciola hepatica. Trematoda usus (intestinal flukes): Fasciolopsis buski, Echinostomatidae dan Heterophyidae. Trematoda paru (lung flukes): Paragonimus westermani, Trematoda darah (bloodflukes): Schistosoma jaciponicum, Schistosoma mansoni dan Schistosoma haematobium.

Morfologi dan Daur Hidup Cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadangkadang ditemukan di saluran pankreas. Ukuran cacing dewasa 10-25 mm x 3-5 mm, bentuknya pipih, lonjong, menyerupai daun. Telur berukuran kira-kira 30 x 16 mikron, bentuknya seperti bola lampu pijar dan berisi mirasidium, ditemukan dalam saluran empedu.

Telur dikeluarkan dengan tinja Telur menetas bila dimakan keong air Dalam keong air, mirasidium sporokista redia serkaria ikan kista di dalam kulit di bawah sisik. Kista ini disebut metaserkaria. (Sutanto, 2008) Infeksi terjadi dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang

Gejala Klinis stadium ringan: tidak ditemukan gejala. stadium progresif: menurunnya napsu makan, perut rasa penuh, diare, edema dan pembesaran hati. stadium lanjut: sindrom hipertensi portal yang terdiri atas pembesaran hati, ikterus, asites, edema, sirosis hepatis. Kadang-kadang dapat menimbulkan keganasan dalam hati.

Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur yang terbentuk khas dalam tinja atau dalam cairan duodenum Pengobatan Penyakit ini dapat diobati dengan prazikuantel

Daur Hidup Cacing dewasa mempunyai bentuk pipih seperti daun, besamya 30 x 13 mm. Bagian anterior berbentuk seperti kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut yang besarnya 1 mm Bagian dasar kerucut terdapat batil isap perut yang besarnya 1,6 mm. Saluran pencernaan bercabangcabang sampai ke ujung distal sekum. Testis dan kelenjar vitelin juga bercabang-cabang

Telur cacing ini dikeluarkan melalui saluran empedu tinja dalam keadaan belum matang matang dalam air setelah 9-15 hari dan berisi mirasidium menetas keong air (Lymnaea spp). Dalam keong air terjadi perkembangan: M->S->R1->R2-SK Bila ditelan metaserkaria menetas dalam usus halus menembus dinding usus bermigrasi dalam ruang peritoneum hingga menembus hati

Gejala klinis demam, nyeri pada bagian kanan atas abdomen, hepatomegali, malaise, urtikaria, eosinofilia. Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan, sehingga menimbulkan sirosis periportal Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan me-nemukan telur dalam tinja, cairan duodenum atau cairan empedu Pengobatan Albendazol dan praziquantel

Gejala Klinis diare dan nyeri ulu hati (epigastrium). Diare yang mulanya diselingi konstipasi, kemudian menjadi persisten. warna tinja menjadi hijau kuning, berbau busuk dan berisi makanan yang tidak dicerna Diagnosis diagnosis pasti adalah dengan menemukan telur dalam tinja Pengobatan Obat yang efektif untuk cacing ini, adalah diklorofen, niklosarnid dan prazikuantel

Morfologi ciri khas: duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kirakira 51 buah, Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang seita samping batil isap kepala. Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm dan Iebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm

Telur setelah 3 minggu dalam air mirasidium hospes perantara I sporokista redia induk redia anak serkaria Metaserkaria cacing

Gejala Klinis diare, sakit perut, anemia dan edema


Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja

Pengobatan Tetrakloroetilen prazikuantel

Morfologi : Badan cacing dewasa panjang menyerupai pita pipih dorsoventral Tidak mempunyai alat cerna/saluran vaskular terbagi dalam segmen-segmen proglotid. Ujung bagian anterior berubah menjadi sebuah alat pelekat skoleks, dilengkapi dengan alat isap

Manusia merupakan hospes Cestoda dalam bentuk: Cacing dewasa : Diphyllobothrium latum, Taenia saginata, Taenia solium, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta dan Dipylidium caninum. Larva : Diphyllobothrium sp, Taenia solium, Hymenolepis nana dan Echinococcus granulosus.

Badan cacing dewasa terdiri atas: Skoleks Leher Strobila Cestoda dikenal dua ordo: I. Pseudophyllidea 2. Cyclophyllidea

Cestoda : taenia solium, taeni saginata, dyphilobotrium latum Protozoa : entamoeba hystolitica, entamoeba coli, dan giardi lamblia.

Hospes dan Nama penyakitnya


Hospes definitif : Manusia Hospes reservoarnya : anjing, kucing, walrus, singa laut, beruang, babi dan serigala.

Morfologi Cacing dewasa berwarna gading, panjang dapat sampai 10 m dan terdiri atas 3000 - 4000 buah proglotid, tiap proglotid mempunyai alat kelamin jantan dan betina. Telur mempunyai operkulum, berukuran 70 x 45 mikron. Daur hidup Telur larva (korasidium) hospes 1 (Copepoda) proserkoid hospes 2(ikan salem) pleroserkoid /sparganum manusia usus halus cacing dewasa.

Patologi dan Gejala Klinis Diare, anemia hiperkromakrositer, dan obstruksi usus. Diagnosis Telur atau proglotid yang dikeluarkan dalam tinja Pengobatan Atabrin, Na-bikarbonat dosis 0,5 g. Obat pilihan : niclosamid (Yomesan),paromomisin, dan prazikuantel dosis 10 mg/kgbb

Hospes dan Perantara hospes definitif: manusia hospes perantara: sapi, kerbau dll. Morfologi ukuran besar, skoleks, leher dan strobilla, sebanyak 1000 2000 buah. Panjang 4-12 m, Skoleks ukuran 1-2mm, empat batil isap, leher sempit.

Daur hidup tertelan embrio dinding usus ternak sal. getah bening/darah jar. ikat di sela-sela otot cacing gelembung manusia skoleks keluar mukosa usus halus (jejenum) dewasa Patologi dan Gejala Klinis sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual, muntah, diare, pusing atau gugup. Diagnosis ditemukannya proglotid yang aktif bergerak telur dalam tinja atau usap anus Telur

Pengobatan Obat lama : kuinakrin, amodiakuin,dan niklosamid Obat baru : prazikuantel dan albendazol

Hospes dan Perantara hospes definitif : manusia hospes perantara : babi Penyakit cacing dewasa : taeniasis solium penyakit cacing dewasa : sistiserkosis Morfologi panjang 2-4 m kadang sampai 8 m, terdiri dari skoleks, leher dan strobila terdiri atas 800-1000 ruas proglotid. Skoleks bulat ukuran1 mm, punya 4 buah batil isap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait-kait, masing-masing sebanyak 25-30 buah.

Daur hidup telur hospes perantara embrio pecah dinding usus sal. Getah bening/darah jar. Otot babi larva sistiserkus (cacing gelembung) manusia dinding usus halus (yeyunum) dewasa. Patologi dan Gejala Klinis Nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala.

Diagnosis Menemukan telur dan proglotid di tinja. Diagnosis sistiserkosis dapat dilakukan dengan cara: Radiologis dengan CT scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) Deteksi antibodi teknik ELISA, uji hemaglutinasi. Deteksi coproantigen pada tinja Pengobatan Teniasis solium : prazikuantel. Sistiserkosis : prazikuantel, albendazol atau dilakukan pembedahan.

Entamoeba Coli

Hospes Hospes Entamoeba coli : manusia, monyet dan babi. Morfologi Stadium trofozoit 15-30 mikron, berbentuk lonjong atau bulat, kariosom kasar, Ektoplasma tidak nyata, pseudopodium lebar, Endoplasma bervakuola.

Daur hidup Amoeba ini hidup sebagai komensal di rongga usus besar. daur hidupya terdapat stadium vegetatif dan stadium kista. Patologi dan Gejala Kilnik Entamoeba coli tidak patogen Diagnosis Menemukan stadium trofozoit atau stadium kista dalam tinja.

Hospes dan Nama Penyakit Hospes parasit : Babi, tikus dan beberapa spesies kera yang hidup di daerah tropik. Penyakit : Balantidosis atau disentri balantidium. Morfologi protozoa yang terbesar Stadium vegetatif lonjong, besarnya 60-70 mikron, anterior terdapat sitostom sebagai mulut. Bagian posterior ada sitopig berfungsi mengeluarkan zat yang tidak diperlukan lagi.

Kista dan trofozoit tertelan lumen usus ekskistasi berkoloni di selaput lendir usus besar keluar bersama tinja.
Patologi dan Gejaia Klinis Diare yang diselingi konstipasi, sakit perut, tidak nafsu makan, muntah dan kakeksia. infeksi ekstraintestinal : peritonitis, uretritis. Diagnosis Menemukan trofozoit dalam tinja encer atau kista dalam tinja, atau trofozoit ditemukan melalui sigmoidoskopi.

Pengobatan Tetrasiklin 4 x 500 mgr/hari selama 10 hari. Metronidazol 3 x 750 mgr/hari. Evaluasi hasil pengobatan dilakukan sampai 1 bulan setelah pengobatan.

Hospes dan Nama Penyakit hospes alami : manusia hospes binatang : beaver, srigala, sapi, kucing dan anjing. penyakitnya : giardiasis

Morfologi dan Daur Hidup Stadium trofozoit simetris bilateral seperti buah jambu monyet, anteriornya membulat dan bagian posteriornya meruncing. Permukaan dorsal cembung (konveks) dan pipih di sebelah ventral dan terdapat batil isap. Ukuran stadium 12-15 mikron. air/makanan terkontaminasi/fecal-oral ekskistasi di duodenum trofozoit batil isap akan melekat pada epitel usus berkembangbiak (belah pasang longitudinal), Yang tidak melekat usus bagian distal (kolon) Enkistasi keluar dengan tinja.

Gejaia Klinis Mual, anoreksia, feses banyak dan berbau busuk, ataupun rnungkin penurunan berat badan,urtikaria, kolesistis, pankreatitis dan dispepsia. Diagnosis Pemeriksaan dapat ditemukan trofozoit didalam tinja. Teknik konsentrasi dapat meningkatkan penemuan kista. Pengobatan Tinidazol dosis tunggal 2 gram pada orang dewasa/30-35 mg/kg pada anak. Metronidazol dosis untuk dewasa adalah 3 x 250 mg sehari selama 7 hari, dosis anak 3x5 mg/kg selama 7 hari.

Terima kasih