Anda di halaman 1dari 18

Ecy Haqy Zhanah Hadi Putri L/O/G/O Faris Oktavian Dwi Ajeng Aprilya Sabrina Zata Dini P

112110101051 112110101121 112110101150 122110101060

EPG A FACULTY OF PUBLIC HEALTH UJ

Contents
Definisi, Peran, Lingkup Keg, Indikator SKPG Definisi ketahanan dan kerawanan pangan

Karakteristik Wilayah Bojonegoro Indikator Analisis SKPG Bojonegoro


Analisis SKPG Kabupaten Bojonegoro

Peran SKPG dan pelaksanan penanggulangan krisis pangan

Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)


SKPG merupakan kegiatan yang dinamis yaitu secara terus menerus mengumpulkan, menganalisis data, menyebarluaskan informasi, menetapkan langkahlangkah tindakan yang diperlukan, dan tindakan pencegahan ataupun penanggulangan.(Depkes RI) SKPG merupakan sistem informasi yang dapat digunakan sebagai alat bagi pemerintah daerah untuk mengetahui situasi pangan dan gizi masyarakat.

Peran SKPG
SKPG harus diprioritaskan dan diarahkan secara fleksibel sesuai dengan situasinya Dalam krisis ekonomi dan krisis pangan, peran SKPG harus diprioiritaskan untuk menunjang upaya penanganan masalah bersifat darurat. Dalam keadaan biasa, peran SKPG diprioritaskan untuk menunjang upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya krisis pangan dan untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan perumusan kebijakan serta evaluasi program dengan mapping

Lingkup kegiatan SKPG


1
Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data situasi pangan dan gizi

Menyediakan dan menyampaikan informasi hasil pemantauan kepada pemda dan sektor terkait dalam penetapan sasaran , perumusan kebijakan, perencanaan program dan evaluasi perkembangan situasi pangan dan gizi.

Mengkoordinasi rencana, pembiayaan dan pelaksanaan kegiatan pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi

Langkah-langkah Kegiatan SKPG di Tingkat Kabupaten/Kota berupa : Pengumpulan, pengolahan dan analisa data Perumusan Kebijakan, Perencanaan dan Evaluasi Pelaksanaan penanggulangan krisis pangan dan gizi

Indikator SKPG

Indikator pertanian Indikator kesehatan Indikator sosial

khusus untuk kondisi produksi pertanian yaitu luas tanam, luas kerusakan, dan luas panen dan produktivitas

kejadian-kejadian yang spesifik lokal (indikator lokal) yang dapat dipakai untuk mengamati ada/tidaknya gejala rawan pangan dan gizi

Indikator untuk pemetaan situasi pangan dan gizi

Indikator untuk peramalan produksi secara periodik

Indikator untuk pengamatan gejala kerawanan pangan dan gizi

Ketahanan dan Kerawanan Pangan


Ketahanan pangan nasional merupakan kemampuan bangsa menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak, aman dan juga halal, yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis pada keragaman sumber daya domestik. Ketahanan pangan mencakup 4 askpek, yaitu kecukupan (sufficiency), akses (acces), keterjaminan (security), dan waktu (time) Rawan pangan merupakan suatu kondisi ketidakmampuan untuk memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan beraktivitas dengan baik.

Karakteristik Wilayah Bojonegoro


Kabupaten Bojonegoro memiliki luas sejumlah 230.706 Ha, dengan jumlah penduduk sebesar 1.176.386 jiwa merupakan bagian dari wilayah propinsi Jawa Timur dengan jarak 110 Km dari ibukota Propinsi Jawa Timur. Dari wilayah seluas diatas, sebanyak 40,15 persen merupakan hutan negara, sedangkan yang digunakan untuk sawah tercatat sekitar 32,58 persen Sumberdaya ini mendapat ancaman dari faktor eksternal berupa bencana dalam bentuk banjir.

Indikator Analisis SKPG Bojonegoro


Indikator SKPG untuk pemetaan situasi pangan dan gizi dengan :

Indikator pertanian berupa produksi setara beras (PSB)

Indikator kesehatan dengan prevalensi kurang energi protein (KEP)

indikator sosial ekonomi berupa proporsi jumlah kepala keluarga miskin

Skor Indikator Peta Rawan Pangan&Gizi


No. 1 Indikator Prevalensi gizi kurang pada balita % <20 20-29.9 30-39.9 40 2 % Keluarga Miskin <20 Skor 1 2 3 4 1 Warna peta Hijau Kuning Merah Hitam Hijau

20-39.9 40-59.9
60 3 Rasio Produksi terhadap kebutuhan pangan beras (PSB) >1.14 >1.00-1.14 >0.95-1.00 0.95

2 3
4 1 2 3 4

Kuning Merah
Hitam Hijau Kuning Merah Hitam

Analisis SKPG Bojonegoro


PSB
Produksi Setara Beras adalah 477.007,13 dan memiliki skor 1. Artinya rasio ketersediaan produksi : kebutuhan beras surplus yaitu > 1,14

KEP
KK miskin

jumlah KEP adalah sebesar 9.805,00 atau 11,66 % dan memiliki skor 1. Artinya adalah prevelensi KEP < 20 %.

KK 345.038 dan jumlah KK miskin 128.981 atau 37,36% dan memiliki skor 3. Artinya bahwa jumlah prosentase keluarga miskin 30 % - 39,99%.

Analisis SKPG Bojonegoro


Skoring dari ketiga indikator menunjukkan total skor gabungan adalah 5. Artinya adalah hasil analisis SKPG di Kabupaten Bojonegoro menunjukkan kondisi aman dari kerawanan pangan dan gizi, sehingga memiliki warna hijau dalam peta ketahanan pangan. Berdasarkan klasifikasi pemetaan ketahanan pangan di Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa dari 28 kecamatan hanya sebanyak 9 kecamatan yang berwarna kuning, sedangkan 19 kecamatan lainnya berwarna hijau.

Analisis SKPG Bojonegoro

Analisis SKPG Bojonegoro


Mapping tahun 2006 dan banyak mengalami perubahan

Analisis SKPG di Kecamatan Trucuk, Balen, dan Malo


Trucuk (warna hijau) Balen (warna kuning) Malo (warna kuning)

PSB skor 1

PSB skor 1

PSB skor 1

KEP skor 1
KK miskin skor 3

KEP skor 1
KK miskin skor 4

KEP skor 1
KK miskin skor 4

Peran SKPG
Dalam keadaan biasa dimana tidak terjadi krisis ekonomi maupun pangan SKPG diprioritaskan untuk menunjang upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya krisis pangan dan untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan perumusan kebijakan serta evaluasi program

Kegiatan SKPG pada keadaan ini diarahkan untuk pemetaan wilayah dan pemantauan (peramalan situasi) dengan menggunakan indikator-indikator yang telah ditetapkan, serta menindak lanjut hasil pemantauan Misalnya mendata masyarakat yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan maka SKPG akan didekatkan ke lokasi. Dinas Pertanian mendata luas tanaman padi yang ditanam.

Pelaksanaan Penanggulangan Krisis Pangan dan Gizi Pemerintah Bojonegoro

Lumbung pangan

Desa mandiri pangan

Diversifikasi pangan