Anda di halaman 1dari 46

KELAINAN DAN DISFUNGSI SEKSUAL

TUTORIAL KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA

Fase Siklus Respon Seksual

FANTASI TENTANG AKTIVITAS SEKS DAN KEINGINAN UNTUK MELAKUKAN AKTIVITAS SEKS

Gairah (Excitement)
Perasaan senang seks secara subjektif. Dan perubahanperubahan fisiologik yg menyertainya

Resolusi

Selera /Hasrat(Appetitive)

Pemuncak an kepuasan seks

Orgasme

Relaksasi dan rasa puas yg menyeluruh serta relaksasi otot

Fase Siklus Respon Seksual dan Disfungsi Seksual yang Menyertai


Hasrat/Dorongan

Rangsangan (Excitement)

Gang dorongan seksual hipoaktif, gang keengganan seksual Gang rangsangan seksual pada wanita, gang erektil lakilaki (impotensi)
Gang Orgasmik perempuan, gang orgasmik laki-laki, ejakulasi prematur, disfungsi seksual lain karena kondisi medis umum/zat

Orgasme (Orgasm)

Resolusi (Resolution)

Disforia pascasanggama, Nyeri kepala pascasanggama

Gangguan Hasrat Seksual


Hipoactive sexual Desire Disorder
Defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas seksual

Sexual Aversion Disorder


Keengganan terhadap atau menghindari kontak seksual genital dengan pasangan seksual

Hipoactive sexual Desire Disorder


Kriteria Dx : a. Kekurangan (atau tidak adanya) khayalan seksual dan keinginan untuk aktivitas seksual yang persisten atau rekuren b. Gangguan menyebabkan penderitaan penderitaan yg jelas atau kesulitan interpersonal c. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( kecuali disfungsi seksual lain ), dan sematamata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum

Sexual Aversion Disorder


Kriteria Dx : a. Keengganan ekstrim yang persisten atau rekuren, dan menghindari, semua ( atau hampir semua ) kontak seksual dengan pasangan seksual b. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal c. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( kecuali disfungsi seksual lain )

Gangguan Rangsang Seksual


Gang Rangsangan Seksual Wanita (Sexual Arousal Disorder)

Ketidakmampuan menetap atau rekuren untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasipembengkakan yang adekuat dari rangsangan seksual, sampai selesainya aktivitas seksual

Kriteria Dx
Ketidakmampuan menetap atau rekuren untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasi-pembengkakan yang adekuat dari rangsangan seksual, sampai selesainya aktivitas seksual Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal

Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( kecuali disfungsi seksual lain ), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum

Gangguan Erektil Laki-laki

Disebut juga disfungsi erektil dan impotensi Ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang adekuat sampai selesainya aktivitas seksual

Kriteria Dx
Ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang adekuat sampai selesainya aktivitas seksual Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal

Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( kecuali disfungsi seksual lain ), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum

Gangguan Orgasme
Gang orgasmik wanita
Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase rangsangan seksual yang normal

Gang orgasmik Laki-laki Ejakulasi Prematur


Ejakulasi yang persisten atau rekuren pada stimulasi yang minimal sebelum, pada, atau segera setelah penetrasi dan sebelum pasien menginginkannya

Gangguan Orgasmik Wanita


Kriteria Dx
Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh Keterlambatan atau Gangguan gangguan aksis I tidak adanya orgasme lainnya ( kecuali menyebabkan yang menetap atau penderitaan yang jelas disfungsi seksual lain rekuren setelah fase ), dan semata-mata atau kesulitan rangsangan seksual interpersonal bukan efek fisiologis yang normal langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum

Gangguan Orgasmik Laki-Laki

Kriteria Dx
Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh Keterlambatan atau Gangguan gangguan aksis I tidak adanya orgasme lainnya ( kecuali menyebabkan yg menetap atau penderitaan yang jelas disfungsi seksual lain rekuren setelah fase ), dan semata-mata atau kesulitan rangsangan seksual interpersonal bukan efek fisiologis yg normal langsung dari suatu zat atau suatu kondisi medis umum

Ejakulasi Prematur
Kriteria Dx
Ejakulasi yang persisten atau rekuren pada Gangguan stimulasi yang menyebabkan penderitaan yang minimal sebelum, pada, atau segera jelas atau kesulitan setelah penetrasi interpersonal dan sebelum pasien menginginkannya

Ejakulasi bukan semata-mata karena efek langsung dari suatu zat

Gangguan Nyeri Seksual


1.

Dispareunia

Nyeri genital yang menetap atau rekuren yang terjadi sebelum, selama atau setelah hubungan seksual baik pada laki-laki ataupun perempuan

2. Vaginismus

Kontraksi/kekakuan otot pada sepertiga bagian luar vagina yang terjadi secara involunter yang menghalangi insersi penis dan hubungan seks

16

Kriteria Diagnosis Menurut DSM IV

Dispareunia

Nyeri genital yg menetap atau rekuren yg berhubungan dgn hbungan seksual baik pada lai-laki maupun wanita Gangguan menyebabkan penderitaan yg jelas atau kesulitan interpersonal Gangguan tidak semata-mata disebabkan oleh vaginismus atau tidak adaya lubrikasi tidak lebh baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya (kec disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yg disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi umum.

Vaginismus Spasme involunter yang menetap atau rekuren pada otot-otot sepertiga bagian bawah vagina yang mengganggu hubungan seksual Gangguan yang menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( misalnya, gangguan somatisasi) dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum.

DISFUNGSI SEKSUAL BUKAN DISEBABKAN OLEH GANGGUAN ATAU PENY. ORGANIK ( F52 )

F52.0 F52.1

KURANG ATAU HILANGNYA NAFSU SEKSUAL TIDAK MENYUKAI ATAU TIDAK MENIKMATI SEKS KEGAGALAN RESPON GENITAL

F52.2

F52.3 F52.4

DISFUNGSI ORGASME EJAKULASI DINI

F52.5

VAGINISMUS NONORGANIK

F52.6

DISPAREUNIA NONORGANIK DORONGAN SEKSUAL YANG BERLEBIHAN

F52.7

Terapi
Terapi Seks Berdua ( dualsex therapy )

Hipnoterapi

Terapi Perilaku

Terapi Kelompok

Terapi Seks Berorientasi Analitik

Terapi Biologis

definisi
Parafilia adalah gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan desakan serta praktek seksual yang kuat yang biasanya dilakukan berulang kali dan menakutkan bagi seseorang, yang merupakan penyimpangan dari norma-norma dalam hubungan seksual yang dipertahankan secara tradisional, yang secara sosial tidak dapat diterima.

klasifikasi

Klasifikasi parafilia dalam Diagnostic and Statistical Manual of MentalDisorder edisi keempat (DSM-IV) adalah : Ekshibisionisme Fethishisme Frotteurisme Pedofilia Masokisme seksual Sadisme seksual Voyeurisme

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Fethisisme transvestik
Parafilia lain yang tidak ditentukan Seseorang mungkin memiliki gangguan parafilia yang multipel.

epidemiologi

Parafilia dipraktekkan oleh sejumlah kecil populasi. Diantara semua kasus parafilia, yang paling sering adalah pedofilia. 10-20% dari semua anak pernah diganggu pada usia 18 tahun 20% wanita dewasa telah menjadi sasaran orang dengan ekshibisionisme dan voyeurisme Parafilia merupakan kondisi yang terutama terjadi pada laki-laki. 80% penderita parafilia memiliki onset sebelum usia 18 tahun. Perilaku parafilia memuncak pada usia antara 15 dan 25 tahun dan selanjutnya menurun. pada pria berusia 50 tahun parafilia jarang terjadi, kecuali mereka yang tinggal dalam isolasiatau dengan

etiologi

faktor psikososial faktor organik

DIAGNOSIS DAN GAMBARAN KLINIS

Kriteria DSM-IV untuk parafilia termasuk adanya suatu khayalan yang patognomonik dan desakan yang kuat untuk melakukan khayalan, yang mungkinmenyebabkan penderitaan bagi pasien. Khayalan mengandung material seksual yang tidak lazim yang relatif terpaku dan jarang bervariasi.

Eksibisionisme

adalah dorongan rekuren untuk memamerkan genetalia pada orang asing atau orang yang tidak menaruh curiga. pada saat melakukan hal tersebut, penderita akan terangsang secaraseksual. bisa terjadi masturbasi setelah penderita melakukan hal tersebut. pada wanita, ekshibisionisme jarang dihubungkan dengankelainan psikoseksual.

FETISHISME

Pada fetishisme, penderita kadang lebih menyukai untuk melakukan aktivitas seksual dengan menggunakan obyek fisik ( fetish, jimat) dibandingkan dengan manusia. Penderita akan terangsang dan terpuaskan secara seksual jika : memakai pakaian dalam milik orang lain, memakai bahan karet atau kulit,memegang, menggosok-gosok atau membaui sesuatu, misalnya sepatu bertumit tinggi. Penderita tidak mampu melakukan fungsi seksualnya tanpa obyek fisik yang mereka miliki. Biasanya dimulai pada masa remaja, walaupun pemujaan sudah dmulai dari masa anak-anak. Jika telah diderita sejak kecil,gangguan cenderung menjadi kronik

FROTTEURISME

Frotteurisme biasanya ditandai oleh seorang lakilaki yang menggosokkan penisnya ke bokong atau bagian tubuh seorang wanita yang berpakaian lengkap untuk mencapai orgasme. Hal ini biasanya terjadi di tempat yang ramai, seperti di bus atau di kereta. Orang dengan frotteurisme biasanya sangat pasif dan terisolasi, dan merupakan satu-satunya sumber kepuasan seksualnya.

PEDOFILIA

adalah kecenderungan untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak kecil. di negara-negara Barat, pedofilia biasanya diartikan sebagai keinginan untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak yang berusia di bawah 13 tahun. Seseorang yang didiagnosis pedofilia, setidaknya berusia 16 tahun dan biasanya minimal 5 tahun lebih tua dari pada korban. Penderita sangat terganggudan fikirannya dipenuhi dengan khayalan seksual tentang anak-anak, bahkan meskipun tidak terjadi aktivitas seksual yang sesungguhnya.

beberapa penderita hanya tertarik pada anak-anak, seringkali anak pada usia tertentu sedangkan penderita lainnya tertarik pada anakanak dan dewasa. baik pria maupun wanita bisa menderita pedofilia, dan korbannya pun bisa anak laki-laki maupun anak perempuan. penderita mungkin hanya tertarik pada anak-anak kecil dalam keluarganya sendiri (incest ), atau bisa juga mengincar anak-anak kecil dilingkungan sekitarnya. penderita bisa melakukan pemaksaan atau kekerasan untuk melakukan hubungan seksual dengan anakanak tersebut dan memberikan ancaman supaya korbannya tutup mulut.

MASOKISME & SADISME

Masokisme merupakan kenikmatan seksual yang diperoleh jika penderita secara fisik dilukai, diancam atau dianiaya. Sadisme merupakan kebalikan dari masokisme, yaitu kenikmatan seksual yang diperoleh penderita jika dia menyebabkan penderitaan fisik maupun psikis pada pasangan seksualnya. masokisme atau sadisme sampai tingkat yang berat, dapat mengakibatkan luka baik fisik maupun psikis, bahkan kematian. Kelainan seksual masokis memelibatkan kebutuhan akan penghinaan, pemukulan atau penderitaan lainnya yang nyata, bukan pura-pura yang dilakukan oleh pasangan seksualnya untuk membangkitkan gairah seksualnya.

Dapat menyebabka kematian. Sadisme seksual bisa terjadi hanya dalam khayalan atau mungkin diperlukan untuk perangsangan atau untuk mencapai orgasme. Beberapa penderita sadisme, menjerat korban yang ketakutan, yang tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh penderita dan kemudian memperkosanya. Penderita lainnya, secara khusus mencari pasangan seksual yang menderita masokisme dan memenuhi keinginan sadistiknya dengan pasangan seksual yang memang senang untuk disakiti. Pada kasus yang berat, penderita bisa menyiksa, memotong, mencambuk, memasang kejutan listrik atau membunuh pasangan seksualnya

VOYEURISME

seseorang akan terangsang jika melihat orang lain yang menanggalkan pakaiannya, telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual. merupakan kegiatan mengintip yang menggairahkan, bukan merupakan aktivitas seksual dengan orang yang dilihat. dalam tingkatan tertentu sering terjadi pada anak-anak laki-laki dan pria dewasa, dan masyarakat seringkali menilai perilaku dalam bentuk yang ringan ini sebagai sesuatu yang normal. salah satu kriteria yang merupakan ciri khas dari voyeurisme, yaitu melihat secara sembunyi-sembunyi.

FETHISISME TRANSVESTISME

Pada transvestisme, seorang pria kadang lebih menyukai untuk mengenakan pakaian wanita atau seorang wanita lebih menyukai untuk mengenakan pakaian pria (lebih jarang terjadi) . baik pria maupun wanita, ingin merubah seksnya, seperti halnya pada transeksualis. transvestisme merupakan suatu kelainan jika menimbulkan masalah, menyebabkan gangguan tertentu,melibatkan perilaku berani-mati yang memungkinkan terjadinya cedera, kehilangan pekerjaan atau hukuman penjara.

Parafilia yang Tidak Tergolongkan

Skatologia Telepon Nekrofilia Parsialisme Zoofilia Koprofilia dan Klismafilia Urofilia Masturbasi

44

terapi
Ada lima macam intervensi psikiatrik yang digunakan dalam kasus parafilia: kontrol eksternal pengurangan dari dorongan seksual pengobatan kondisi komorbid (seperti depresi atau kecemasan) terapi cognitive-behavioral psikoterapi dinamik.