Anda di halaman 1dari 36

By : NURIYA, Skep.,Ners.

A. DEFINISI FRAKTUR

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan

tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347).

B. DEFINISI FRAKTUR FEMUR Terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa

terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 1995:543)

II.ETIOLOGI

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu : a. Cedera traumatik 1) Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). 2) Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua. 3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.

b. Fraktur Patologik Kerusakan tulang akibat proses penyakit sehingga trauma minor dapat mengakibatkan fraktur . Dapat terjadi pada berbagai keadaan berikut : 1) Tumor tulang 2) Infeksi seperti osteomielitis 3) Defisiensi Vitamin D c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.

Fraktur Tertutup

Patah tulang tidak ada hubungan dengan dunia luar/tidak ada luka
Fraktur Terbuka

fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.

fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat,yaitu:

1)Derajat I - luka kurang dari 1 cm - kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda tulang remuk. - fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan. - Kontaminasi ringan. 2) Derajat II - Laserasi lebih dari 1 cm - Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse - Fraktur komuniti sedang. 3) Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.

Nyeri

Terus menerus dan bertambah berat Deformitas Perubahan bentuk dibandingkan normal Terlihat dan teraba Pemendekan tulang Krepitasi uji krepitasi kerusakan tulang lebih berat

Pembengkakan /perubahan warna local

pada kulit Terjadi beberapa jam atau hari setelah cidera. Perdarahan, ringan atau berat syok hipovolemik Gangguan gerak / Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah Pergerakan abnormal Gangguan fungsi Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) Rotasi luar dari kaki lebih pendek

MANIFESTASI KLINIS : Pemendekan tungkai Adduksi dan rotasi eksterna Nyeri ringan pada selangkangan dan atau disisi medial lutut

Manifestasi klinis : Nyeri Deformitas Tidak dapat menggerakkan pinggul dan lutut Volume femur bertambah waspada syok

Haematom granulasi jaringan formasi

callus ossifikasi konsolidasi dan remodelling.

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR 1. Fase Haematom 1. Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan, edema, hematom disekitar fraktur Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat 2. Fase Granulasi Jaringan Terjadi 1 5 hari setelah injury Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis Hematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah baru fogoblast dan osteoblast.

3. Fase formasi callus Terjadi 6 10 harisetelah injuri Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus 4. Fase ossificasi Mulai pada 2 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam kalsium yang menyatukan tulang yang patah 5. Fase consolidasi dan remadelling Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas (Black, 1993 : 19 ).

PEMANTAUAN NEUROVASKULER DEBRIDEMENT

SKELETAL / SKIN TRAKSI


Meningkatkan kenyamanan dan mengimmobilisasi

fraktur sehingga kerusakan jaringan lunak tidak terjadi.

TUJUAN PEMASANGAN TRAKSI Mengurangi nyeri akibat spasme otot Memperbaiki dan mencegah deformitas Immobilisasi Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi). Mengencangkan pada perlekatannya.

ORIF (OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION)

OREF (OPEN REDUCTION EXTERNAL FIXATION) Dilakukan pada psien dengan fraktur terbuka derajat III, mengalami trauma jaringan lunak ekstensif, ada kehilangan tulang, infeksi, mengalami fraktur pinggul dan tibia.

GIPS Digunakan pada fraktur pertengahan dan distal batang. Dipasang 2 sampai 4 minggu setelah cidera, saat nyeri dan pembengkakan telah hilang.

X-ray Femur

Pemeriksaan laboratorium : Hb, leu, tr, Kr.


Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.

CCT kalau banyak kerusakan otot.

PENGKAJIAN 1. Riwayat keperawatan a. Riwayat Perjalanan penyakit Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan Apa penyebabnya, kapan terjadinya kecelakaan atau trauma Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak dll Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan Kehilangan fungsi Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis

b. Riwayat pengobatan sebelumnya Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis kortikosteroid dalam jangka waktu lama Apakah klien pernah menggunakan obatobat hormonal, terutama pada wanita Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir

c. Proses pertolongan pertama yang dilakukan Pemasangan bidai sebelum memindahkan dan pertahankan gerakan diatas/di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindahkan Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema

2. Pemeriksaan fisik a. Mengidentifikasi tipe fraktur b. Inspeksi daerah mana yang terkena - Deformitas yang nampak jelas - Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera - Laserasi - Perubahan warna kulit - Kehilangan fungsi daerah yang cidera

c. Palpasi

Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran


Krepitasi Nadi, dingin

Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur

Gangguan rasa nyaman:

Nyeri bd perubahan fragmen tulang, luka pada jaringan

lunak, pemasangan back slab, stress, dan cemasPotensial infeksi se- hubungan dengan luka terbuka. Gangguan mobilitas fisik bd kerusakan neuromuskuler skeletal, nyeri. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosa, dan pengo- batan bd kesalahan dalam penafsiran, tidak familier dengan sumber in- formasi. Resiko terjadinya syok bd perdarahan yg banyak

Gangguan rasa nyaman:

Nyeri s/d perubahan fragmen tulang, luka pada

jaringan lunak, pemasangan back slab, stress, dan cemas INTERVENSI INDEPENDEN: a) Mengkaji karakteristik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan meng- gunakan skala nyeri (0-10) b) Mempertahankan im- mobilisasi (back slab) c) Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka. d) Menjelaskan seluruh prosedur di atas

KOLABORASI: e) Pemberian obat-obatan analgesik RASIONAL a) Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat

me- nentukan jenis tindak annya. b) Mencegah pergeser- an tulang dan pe- nekanan pada jaring- an yang luka. c) Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan me- ngurangi nyeri. d) Untuk mempersiap- kan mental serta agar pasien berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan. e) Mengurangi rasa nyeri

Resiko terjadinya syok b d perdarahan yg banyak INTERVENSI a)Observasi tanda-tanda vital. b)Mengkaji sumber, lokasi, dan banyak- nya per

darahan c)Memberikan posisi supinasi d)Memberikan banyak cairan (minum) Kolaborasi: a)Pemberian cairan per infus b)Pemberian obat koa-gulan sia (vit.K, Adona) dan peng- hentian perdarahan dgn fiksasi. c)Pemeriksaan laborato- rium (Hb, Ht)

RASIONAL

a)Untuk mengetahui tanda-tanda syok se- dini

mungkin b)Untuk menentukan tindak an c)Untuk mengurangi per darahan dan men- cegah kekurangan darah ke otak. d)Untuk mencegah ke- kurangan cairan (mengganti cairan yang hilang) e)Pemberian cairan per-infus. f)Membantu proses pem-bekuan darah dan untuk menghentikan perda-rahan. g)Untuk mengetahui ka-dar Hb, Ht apakah perlu transfusi atau tidak.