Anda di halaman 1dari 223

JENIS PERLENGKAPAN

DAN PENAGANAN BAHAN


PERLENGKAPAN PENGANGKAT
Kelompok perlengkapan pengangkat berikut ini
mempunyai cirri khas yang berbeda, antara lain:
Mesin pengangkat adalah kelompok mesin yang
bekerja secara periodic yang didesain sebagai
peralatan swa-angkat, atau untuk mengangkat dan
memindahkan muatan atau sebagai mekanisme
tersendiri bagi crane atau elevator.
Crane adalah gabungan mekanisme pengangkat
secara terpisah dengan rangka untuk mangangkat
atau sekaligus mengangkat dan memindahkan
muatan yang dapat dugantungkan secara bebas
atau diikatkan pada crane.
Elevator adalah kelompok mesin yang bekerja
secara periodic untuk mengangkat muatan pada
jalur pandu tertentu.
TIPE UTAMA ALAT PENGANGKAT
ALAT PENGANGKAT
Mesin pengangkat Crane Elevator
JENIS UTAMA CRANE
CRANE
Crane putar yang diam
Crane yang bergerak pada rel
Crane tanpa lintasan
Crane yang dipasang di atas traktor rantai
Crane tipe jembatan
KARAKTERISTIK UMUM MESIN
PENGANGKAT
Parameter teknis mesin pngangkat
adalah: kapasitas angkat, berat mati
mesin tersebut, kcepatan berbagai
gerakan mesin, tinggi angkat dan ukuran
geometris mesin tersebut, bentangan,
panjang dan lebar, dan sebagainya.


dengan:
n jumlah siklus mesin per jam
Q berat muatan, dalam ton
jam ton nQ Q
hr
/ =
V Q =
Dengan :
V kapasitas ember, alat pencengkeram dan
sebagainya dalam meter kubik
faktor pengisian
berat jenis dalam ton/m3
Dengan:
Q berat muatan, dalam ton
G berat ember atau penahan, dalm ton




Dengan:
ti total waktu yang dibutuhkan

ton G Q Q ) ( + =

=
1
3600
t
n
Semua jenis crane dan mesin penangkat dapat dibagi
lagi menjadi empat kelompok sesuai dngan kondisi
operasi dan gabungan faktor berikut:

- beban pada mesin
- penggunaan mesin harian dan tahunan
- faktor kerja relatif (jangka waktu mesin dihidupkan
DF%)
- temperatur sekitar
KARAKTERISTIK KERJA


KONDISI
OPERASI
Penggunaan mesin rata-rata (mean)

Beban
K beban
Waktu Faktor
kerja
DF%
Tem-
Peratur
Sekitar C
K
tahun
K hari
Ringan (L)
Sedang (M)
Berat (H)
Sangat Berat
(VH)
0.5
0.5
0.5
0.5
0.25
0.
0.75
1.0
0.33 (shift
satu0
0.67 (shift dua)
0.67 (shift dua)
1.0 (shift tiga)
15
25
40
40
25
25
25
45
Nilai-nilai ini ditentukan dari operasi rata-rata atau
data desain.

Kerja Nominal Ringan Sedang Berat Sangat
Berat
Jumlah perubahan
operasi
per jam ..


60


120


240


300-
720
PERLENGKAPAN KHUSUS PERMUKAAN DAN
OVERHEAD
Truk tanpa rel adalah fasilitas transportasi
permukaan yang bergerak diatas jalur rel yang
sempit
Kendaraan yang berbadan sempit adalah fasilitas
transportasi permukaan yang bergerak di atas jalur
rel yang sempit
Peralatan penanganan silang adalah fasilitas
transportasi permukaan yang memindahkan kereta
rel di dalam ruang lingkup suatu perusahaan
Sistem lintasan overhead adalah struktur jalur
pembawa/pemindah tau kabel tempat truk yang
bermuatan tersebut bergerak
KARAKTERISTIK UMUM FASILITAS
TRANSPORTASI PERMUKAN DAN
OVERHEAD
Peralatan permukaan dan overhead
Truk tanpa rel
Kendaraan yang berbadan sempit
Peralatan untuk penanganan silang
Sistem lintasan overhead
PENGGUNAAN PERLENGKAPAN
PENANGANAN BAHAN
Fasilitas transpor dipilih sedemikian rupa agar
sesauai dengan laju aliran bahan yang
menggambarkan sistem umum dari gerak bahan,
barang setengah jadi dan produk pada departemen
atau pabrik tersebut.
BAB 3

1. Rantai Lasan
rantai lasan (welded) terbuat
dari jalinan baja oval yang
berurutan. Ukuran utama rantai
(gambar 7) adalah : kisar (t),
sama dengan panjang bagian
dalam mata rantai lebar luar (B),
dan diameter batang rantai (d).
tergantung pada perbandingan
kisar dan diameter batang
rantai, rantai lasan
diklasifikasikan menjadi rantai
mata pendek (t 3d) dan rantai
mata panjang (t > 3d).
Gambar 7. ukuran
utama mata rantai
beban
Gambar 8.mata
rantai
menghubungkan
rantai beban..
Rantai lasan terbuat dari baja CT. 2 dan CT. 3. Mata rantai untuk rantai lasan
dibentuk dengan berbagai macam metode,yaitu pengelasan tempa dan
pengelasan tahanan listrik. Dengan pengelasan tempa mata rantai dibuat dari
satu batang baja, sedangkan bila menggunakan las tahanan listrik mata rantai
terbuat dari dua potong baja lengkung yang dilas temu.
Rantai lasan digunakan untuk mesin pengangkat kapasitas kecil (katrol,
Derek, dan crane yang digerakan tangan), & sebagai perabot pengangkat
utama
Rantai lasan mempunyai kelemahan yaknik berat, rentan terhadap sentuhan
dan beban lebih, kerusaan yang tiba-tiba, keausan yang berlebihan pada
sambungan antar mata rantai , dan hanya digunakan untuk kecepatan
rendah
Keunggulannya ialah flexible untuk semua arah, dapat menggunakan puli
dan drum dengan diameter yang kecil serta desain dan pembuatan yang
sederhana
Rumus umum untuk memilih
tegangan tarik rantai adalah :

Ss =
Dengan
Ss = beban aman yang diterima rantai, dalam
kg
Sbr = beban putus dalam kg
K = Faktor keamanan
K
Sbr
Intensitas keausan yang terjadi pada rantai tegantung pada factor
berikut : perbandingan kisaran rantai dengan drum atau puli rantai,
tegangan kecepatan puli rantai, sudut belok relative bila rantai
tersebut melewati pulinya, keadaan lingkungan kerja dan
sebagainya.
Rantai las tempa selalu putus pada bagian lasnya. Pada rantai las tahanan
listrik yang bermutu tinggi, biasanya mata rantai putus berbentuk putus
miring dengan penampang yang bersudut kecil terhadap sumbu memanjang
rantai, yang bermula pada bagian bagian tepi batas permukaan kontak mata
rantai yang dihubungkan.
2. Rantai Rol
rantai rol terdiri atas
pelat yang dihubung-
engsel pana pena
(gambar 9). Rantai
untuk beban ringan
terbuat dari dua keping
plat saja, sedangkan
untuk beban berat dapat
menggunakan sampai
lebih dari 2 keping pelat
Gambar 9 rantai rol
Rantai rol mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan
rantai lasan. Karena rantai rol padat maka keandalan operasinya
jauh lebih tinggi dibandingkan rantai lasan. Rantai rol mempunyai
flexisibelan yang baik sehingga dapat dipakai pada sprocket
dengan diameter lebih kecil dan jumlah gigi yang lebih sedikit. Hal
ini akan mengurangi ukuran mekanisme dan sekaligus mengurangi
harganya. Juga, gesekan pada rantai rol jauh lebih kecil
dibandingkan dengan rantai lasan dengan kapasitas angkat yang
sama.
Kecepatan maximum rantai rol ditentukan oleh standar Negara dan tidak
boleh melebihi 0.25 mm/detik.
Nilai factor keamanan K, rasio dan jumlah gigi sprocket untuk rantai las
dan rol diberikan pada table 4.

d
D

Table 4
Data rantai yang terseleksi

Rasi
o

d
D
RANTAI
Digeraka
n
Factor K
keamana
n
Jumlah
minimu
m gigi
pada
sprocke
t
Dilas dikalibrasi dan tidak dikalibrasi
............
dilas dikalibrasi pada katrol
..............................
dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat
beban
Dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat
beban
Roller
Tangan
Daya
Tangan
Daya



3
6
4.5
8
6
5
5
20
30
20
30
.
.
.
5
5
..
..
..
..
8
3. Tali Rami
Tali rami hanya cocok digunakan untuk mesin
pengangkat yang
digerakan tangan (puli tali) karena sifat mekanisnya yang
lemah (cepat aus, kekuatan yang rendah, mudah rusak oleh
benda tajam, pengaruh lingkungan dan sebagainya)
Berdasarkan metode pembuatan pembuatan dan jumlah untaian tali rami
dikelompokan menadi tali polos dan tali kabel. Yang terakhir terbuat dari
lilitan 3 buah lilitan yang berbeda. Tali sering dicelupkan pada aspal untuk
mengurangi pelapukan. Walaupun tali rami yang dicelupkan pada aspal
lebih tahan terhadap pengaruh cuaca, namun jauh lebih berat dan lebih
kurang flexible dan kekuatannya berkurang 20% dibanding tali biasa.
Kekuatan putusnya membagi tali rami menjadi dua kelas : kelas 1 dan kelas
2.
Tali rami harus memenuhi standar Negara dan terbentuk dari tiga untai
rami dan tiap untai terdiri atas beberapa serabut yang berbeda. Arah lilitan
untaian harus berlawanan dengan serabut.
Pemilihan tali rami. Tali rami dipilih hanya berdasarkan kekuatan tariknya
berdasarkan rumus :

br
d
S o
t
4
2
=

dengan :
d = Diameter keliling dari untai, dalam cm
S = Beban pada tali, dalam kg
4. TALI BAJA
Tali baja mempunyai keunggulan sebagai berikut :
1. Lebih ringan;
2. Lebih tahan terhadap sentakan;
3. Operasi yang tenang walaupun pada kecepatan operasi yang tinggi;
4. Keandalan operasi yang tinggi.
Tali baja terbuat dari kawat baja dengan kekuatan = 130 sampai 200
kg/mm2. Didalam proses pembuatannya kawat baja diberi perlakuan
panas tertentu dan digabung dengan penarikan dingin, sehingga
menghasilkan sifat mekanis kawat baja yang tinggi.
Lapisan dalam tali mengelompokan menjadi :
1) Tali pintal silang atau tali biasa;
2) Tali pintal parallel atau jenis lang;
3) Tali komposit atau pintal balik.
Tali Baja Serba Guna. Tali yang terdapat
pada Gambar 13 adalah tali baja konstruksi
biasa (kawat seragam) yang berupa kawat
anyaman kawat yang sama diameternya
Gambar 13. Lapisan serat tali baja.
Tali Baja Anti-Puntir.
Pada tali ini sebelum dipintal setiap kawat
dan untaian dibentuk sesuai dgn
kedudukannya didalam tali. Akibatnya tali
yang tidak dibebani tidak akan mengalami
tegangan internal. Tali ini tidak mempunyai
kecenderungan untuk terurai walaupun ujung
tali ini tidak disimpul
Jenis Tali Baja Puntir mempunyai
keunggulan sebagai berikut :
1. Distribusi beban yang merata
pada setiap kawat sehingga
tegangan internal yang terjadi
minimal.
2. Lebih fleksibel.
3. Keausan tali lebih kecil bila
melewati puli dan digulung pada
drum, karena tidak ada untaian
atau kawat yang menonjol pada
kontur tali, dan keausan kawat
terluar seragam; juga kawat yang
putus tidak akan mencuat keluar
dari tali.
4. Keselamatan operasi yang lebih
baik.
Gambar 15. Tali anti-puntir dan tali biasa.

Tali Baja Dengan Untaian Yang Dipipihkan. Tali ini (Gambar 16) dipakai pada
crane yang bekerja pada tempat yang mengalami banyak gesekan dan abrasi.
Biasanya tali ini tebuat dari lima buah untaian yang dipipihkan dengan inti kawat
yang juga dipipihkan; untaian ini dipintal pada inti yang terbuat dari rami
Gambar 16. Tali dengan untaian yang dipipihkan.
Tali dengan Anyaman Terkunci. Tali ini banyak digunakan pada crane kabel dan
kereta gantung. Tali ini mempunyai keunggulan dalam hal permukaan yang halus,
susunan kawat yang padat dan tahan terhadap keausan, kelemahannya adalah
tidak fleksibel.
Gambar 17. Lilitan tali yang dikunci.
Cara mengukur diameter luar tali dapat dilihat pada Gambar 19, yaitu dengan
mengukur dua untaian yang berlawanan letaknya.
Gambar 19. Cara mengukur diameter
tali
Tabel 5
Tali Rami untuk Pengangkat

Faktor mula-
mula KONSTRUKSI TALI
dari
keama
nan 6 x 9 = 114 + 1c* 6 x 37 = 222 + 1c*
tali terhadap
Posisi
berpoto
ngan
Posisi
sej
aj
ar
Posisi
berpoto
ngan
Posisi
sej
aj
ar
tegangan
Jumlah serat patah sepanjang satu tingkatan setelah tali
tertentu dibuang
kurang 9 14 7 23 12
'9 - 10 16 8 26 13
'10 -
12 18 9 29 14
'12 -
14 20 10 32 16
diatas 16 24 12 38 19
Tabel 6
Tali Untuk Crane dan Pengangkat

Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa umur tali sangat
dipengaruhi oleh kelelahan. Umur tali dapat ditentukan dengan
memakai perbandingan (D
min
adalah diameter minimum puli atau drum
dan d ialah diameter tali) dan (o -diameter kawat pada tali).
d
D
min
o
min
D
Jumlah lengkungan dapat ditentukan dengan cukup akurat bila kita membuat suatu
diagram seperti jenis yang ditentukan dalam Gambar 21.
Gambar 21. Menentukan jumlah lengkungan tali dengan satu puli penggerak.
Faktor
mula-mula
dari
keamanan
tali
terhadap
tegangan
KONSTRUKSI TALI
6 x 19 = 114
+ 1c
6 x 37 = 222
+ 1c
6 x 61 = 366
+ 1c
18 x 17 = 342
+ 1c
Posis
i
berp
oto-
ngan
Posis
i
sejaj
ar
Posis
i
berp
oto-
ngan
Posis
i
sejaj
ar
Posis
i
berp
oto-
ngan
Posis
i
sejaj
ar
Posis
i
berp
oto-
ngan
Posis
i
sejaj
ar
Jumlah serat yang patah pada panjang tertentu setelah tali dibuang
Kurang 6 12 6 22 11 36 18 36 18
6-7 14 7 26 13 38 19 38 19
Diatas 7 16 8 30 15 40 20 40 20
Sistem puli yang banyak digunakan dan jumlah lengkungannya dapat dilihat pada
Gambar 23
Gambar 23. menentukan lengkungan untuk berbagai sistem puli
pengangkat
Tabel 7 menunjukkan nilai sebagai fungsi jumlah lengkungan.


Tabel 7

d
D
min
Jumlah
lengk
unga
n
Jumlah
lengk
ungan
Jumlah
leng
kun
gan
Jumlah
lengk
ungan
1 16 5 26,5 9 32 13 36
2 20 6 28 10 33 14 37
3 23 7 30 11 34 15 37,5
4 25 8 31 12 35 16 38
Tabel 8
EFISIENSI PULI

Puli Tunggal Puli Ganda Efisiensi
Jumlah
alu
r
Jumlah puli yang
berputar
Jumlah alur
Jumlah puli
yang
berpu
tar
Gesekan pada
permukaa
n puli
(faktor
resisten
satu puli)
Gesekan anguler
pada
permukaan
puli (faktor
resisten satu
puli
2 1 4 2 0,951 0,971
3 2 6 4 0,906 0,945
4 3 8 6 0,861 0,918
5 4 10 8 0,823 0,892
6 5 12 10 0,784 0,873
Tabel 9
Harga Minimum Faktor k dan e
1
yang diizinkan


TIPE ALAT PENGANGKAT
Digerakkan oleh: Kondisi pengoperasian Faktor
K
Faktor e
1

1. Lokomotif,caterpilar-mounted, traktor dan truk
yang mempunyai crane pilar (termasuk excavator
yang dioperasikan sebagai crane dan
pengangkat mekanik pada daerah konstruksi dan
pekerjaan berkala.
2. Semua tipelain dari crane dan pengangkat
mekanis
3. Derek yang dioperasikan dengan tangan, dengan
kapasitas beban terangkat diatas 1 ton yang
digandeng pada berbagai peralatan otomotif
(mobil, truk, dan sebagainya).
4. Pengangkat dengan troli
5. Penjepit mekanis (kecuali untuk puli pada grabs)
untuk pengangkat mekanis pada no.1
6. Idem untuk pengangkat mekanik pada no.2
Tangan
Daya
Daya
Daya
Tangan
Daya
Daya
-
-
-
-
Ringan
Ringan
Medium
Berat dan sangat berat
Ringan
Ringan
Medium
Berat dan sangat berat
-
-
-
-
4
5
5,5
6
4,5
5
5,5
6
4
5,5
5
5
16
16
18
20
18
20
25
30
12
20
20
30
Tabel 10
Harga faktor e
2
yang
tergantung pada
konstruksi tali

Konstrusi Tali
Faktor e
2

Biasanya 6 x 19 = 114 + 1 poros
Posisi berpotongan
Posisi sejajar.
Compound 6 x 19 = 114 + 1 poros
a). Warrington
Posisi berpotongan..
Posisi sejajar
b). Seale
Posisi berpotongan..
Posisi sejajar
Biasanya 6 x 37 = 222 + 1 poros
Posisi berpotongan
Posisi sejajar.


1,00
0,90


0,90
0,85

0,95
0,85

1,00
0,90
5. PERHITUNGAN DAYA TAHAN (KEKUATAN BATAS
KELELAHAN) TALI KAWAT BAJA DENGAN METODE
PROFESOR ZHITKOV
Metode perhitungan daya tahan tali kawat yang dijelaskan berikut dihasilkan
oleh penelitian bertahun-tahun yang dilakukan di hammer dan sickle works.
berbagai konstruksi tali yang berdiameter dari 3 mm sampai 28 mm diuji dengan
tiga unit mesin khusus untuk menentukan metalurgi, produksi, desain dan
operasi yang mempengaruhi kekuatan tali.
Pada tahap pertama, karakteristik umur tali dikumpulkan dari semua pengujian
dalam bentuk grafik yang menghasilkan hubungan
z = 1() dan z = 2( )
Data ini kemudian dipakai untuk menggambarkan suatu diagram yang
menunjukkan hubungan = 3 ( ) dengan berbagai jumlah lengkungan tali
(gambar 24) dan untuk mendapatkan secara matematis rumus desain:
A = = mCC
1
C
2

Gambar.24 Diagram untuk menentukan jumlah lengkungan tali

d
D
d
D
d
D
Bila kita mengetahui kondisi operasi mekanisme pengangkat, dan telah
menentukan umur tali, kita dapat menentukan jumlah lengkungan yang
diperbolehkan z
1
dengan rumus :
z
1
=a z
2
N
dengan :
N = umur tali dalam bulan
a = jumlah siklus kerja rata-rata per bulan
z
2
= jumlah lengkungan berulang per siklus kerja (mengangkat dan
menurunkan) pada tinggi pengangkatan penuh dan lengkungan
satu sisi.
= faktor perubahan daya tahan tali akibat mengangkut muatan lebih
rendah dari tinggi total dan lebih ringan dari muatan penu

Gambar 26. Penggantungan pada sistem puli
majemuk
Gambar 28 menunjukan faktor-faktor utama yang mempengaruhi mutu tali kawat baja
6. PENGIKATAN RANTAI DAN TALI
Pengikatan Rantai Beban
Lasan
Pengikatan Rantai Rol
Pengikatan Tali Rami
Pengikatan Tali Baja
Gambar 29 Metode pengikatan rantai beban
lassan
Gambar 30 Pengikatan rantai roller
beban
Gambar 31 Pengikatan tali
rami
Gambar 32 Pengikatan tali kawat dalam soket
tirus
Soket Baji. Tali dilewatkan mengitari baji-baja beralur (Gambar 34a) dan diikat
bersama dengan baji kedalam soket rata yang sesuai yang terbuat dari baja tuang.
Beban akan menarik tali kedalam soket dan akan menambah daya ikatnya.
Mata Pengikat. Tali dililitkan mengelilingi mata pengikat (Gambar 34b) dan ujung
bebasnya dililitkan dengan bagian utama tali. Panjang lilitan 1 > 15d dan minimum
sepanjang 500 mm. Gambar 34c menunjukan kait yang diikat pada tali dengan mata
pengikat.
Disamping dililitkan, mata pengikat dapat dikencangkan dengan memakai klip khusus
bulldog (bull-dog clip) atau pengapit pada tali kawat (Gambar 35). Jumlah pengapit
minimum adalah tiga buah. Gambar 36 menunjukan tali kawat yang diikat pada mata
pengikat dengan plat dan baut.
Gambar 34 Baji soket tali (a) dan pengikatan dengan alat berlubang (b,c)
Gambar 36 Tali alat berlubang dengan plat dan sekrup
Gambar 35 Klem bull dog
7. PERABOT PENGGANTUNG BEBAN
Anduh Rantai. Anduh (sling) ini terbuat dari rantai lasan tak terkalibrasi
biasa dengan mata dan kait untuk penggantungan atau cengkeram
berbentuk capit untuk mengangkat obyek. Juga digunakan rantai tanpa
ujung dan rantai lepas dengan cincin tanpa ujungnya
Gambar 38a menunjukan rantai tanpa ujung, Gambar 38b rantai lepas
dengan cincin , Gambar 38c - rantai dengan kait dan cincin, Gambar 38d
anduh utas dua, Gambar 38e cengkeram berbentuk cakar untuk
membentuk lingkaran pada rantai. Gambar 38f menunjukan tong yang
diangkat dengan cengkeram rantai berbentuk capit yang memegang bagian
ujung tong
Anduh rantai terutama digunakan untuk pelayanan kerja berat dan selalu
pada temperatur tinggi. Kecuali dipakai pelindung khusus yang terbuat dari
logam lunak (Gambar 38g), Anduh rantai biasanya akan merusak sudut
(ujung) benda yang dingkat
Gambar 38 Anduh rantai
Anduh Tali Rami. Tali rami polos yang disimpul mati banyak sekali
digunakan untuk menhan muatan pada kait crane. Kekuatannya jauh lebih
rendah dibandingkan dengan tali baja, tetapi memiliki keluwesan yang lebih
tinggi dan mudah diikat menjadi simpul. Tali rami mudah sekali dirusak oleh
ujung tajam benda yang diangkat dan harus dilindungi dengan bantal linak
(Gambar 38g) atau alat pelindung khusus lainnya (plat sudut). Metode
mengikat dengan tali rami dapat dilihat pada Gambar 39.
Anduh Tali Kawat Baja. Umumnya beban yang berat umumnya dingkat
dengan anduh tali baja. Dibandingkan dengan rantai, tali baja lebih ringan
tetapi terlalu kaku dan cenderung untuk terpuntir. Di samping itu apabila
digunakan untuk mengangkat benda yang berujung tajam, tali baja akan
melengkung terlalu tajam dan akan cepat aus. Tali baja ini rentan terhadap
temperatur yang tinggi. Muatan yang diangkat oleh anduh tali dan rantai
harus diikat dengan aman sehingga tidak berpindah posisinya sewaktu
bergerak.

Gambar 40a menunjukkan anduh tali baja dengan utas tunggal dan gambar
40b menunjukan tali dengan dua dan empat utas.
Gambar 40 anduh serat tali baja
ALAT TAMBAHAN
PENANGANAN
MUATAN
Pada crane serbaguna yang mengangkat
berbagai bentuk muatan ditangani dengan
memakai anduh (sling) rantai yang dikatkan
pada kait. Kait tunggal (standar) dan kait
tanduk adalah jenis kait yang paling sering
dipakai untuk keperluan ini. Kadang-kadang
digunakan kait segitiga. Kait standar dan
tanduk dibuat dengan ditempa pada cetakan
rata atau cetakan tertutup atau dapat juga
dibuat dari beberapa plat dengan bentuk kait
yang dijadikan satu.
1. URAIAN UMUM

Kemampuan Angkat
1. Kait tempa :
Kait standar sampai 50 ton
Kait tanduk mulai dari 25 ton ke atas
2. Kait segitiga dan kait berlapis
mempunyai kemampuan angkat diatas
100 ton
Pada umumnya,
muatan digantung pada
anduh berutas-empat
dengan dua lilitan tali
pada kait (Gambar 61).


Kait sering kali
mempunyai bentuk
penampang tarapesium
yang dibuat lebih lebar
di dalam.
Q
Q
Q
P 35 , 0
45 cos 4 cos
4
~

= =


Perhitungan Dimensi Kait
Tegangan tarik :
t : kisar ulir
d
o
: diameter luar ulir
d
1
: diameter dalam ulir

Tinggi minimum :

o : tegangan satuan pada jarak y
dari sumbu netral
Q : beban pada kait
F : luas penampang kritis
r : jari-jari kelengkungan pada
daerah kritis
x : faktor bentuk bentuk
penampang

4
2
1
d
Q
t
t
o =
2. KAIT TEMPA STANDAR

( )p d d
Qt
H
2
1
2
0
4

=
t

Momen lentur M diasumsikan bernilai positif bila
menyebabkan kelengkungan kait bertambah (jari-jarinya
berkurang) dan bernilai negatif bila kelengkungannya
berkurang. Karena beban cenderung untuk membuka kait,
momennya bernilai negatif (Gambar 62a) :
M = -Qr = -Q (0,5a + e
1
)
Nilai x didapat dari persamaan :


untuk trapesium dengan sisi b
1
dan b
2
dan tinggi h akan
menjadi



Bila kita mengambil nilai h = a, dan bila dan
maka rumus diatas setelah ditransformasikan akan
berbentuk
}
+
=
2
1
1
e
e
dF
r y
y
F
x
( )
( ) ( )
(


+
+
)
`

+
+
+ =
2 1
1
2
2
2 1
2
2 1
1
2
1 b b
e r
e r
n r e
h
b b
b
h b b
r
x
( )
( ) ( ) | | 1 1 09861 , 1 5 , 0 5 , 1
1 3
7 5
2

+
+
= n n
n
n
x
1 =
a
h
n
b
b
=
2
1
dengan mengabaikan perpindahan sumbu netral relaif terhadap pusat
massa bagian tersebut diperoleh

Dalam keadaan tersebut rumus diatas dapat digunakan untuk
mencari x untuk semua nilai

Denganmendistribusikan nilai M = -Qr = -Q (0,5a + e
1
),
r = 0,5a + e
1
, y = -e
1
(untuk bagian terdalam yang tertarik) dan y = e2
(untuk bagian terluar yang tertekan) ke dalam rumus (61) dan kita
dapatkan tegangan satuan pada penampang antara titik I dan II.



Tegangan maksimum pada bagian terdalam

Tegangan maksimum pada bagian terdalam





3 1
2
1
h
n
n
e
+
+
~
2
1
b
b
( ) ( )
=
(

|
|
.
|

\
|
+
+
+
=
+

+
=
r y
y
x r
e a
F
Q
r y
y
x Fr
e a Q
Fr
e a Q
F
Q 1
1
5 , 0
1
1 5 , 0 5 , 0
1 1 1
o
a
e
x F
Q
e r
e
x r
e a
F
Q
1
1
1
2 1 1
1
5 , 0
1 =
(
(

|
|
.
|

\
|

+
=
aman
h
a
e
x F
Q
o o <
+
=
2
1
2
1
aman
a
e
x F
Q
o o < =
1
1
2 1
Nilai x adalah jarak dari titik O ke
garis vertikal yang bersangkutan; y
adalah panjang garis vertikal di dalam
bagian penampang. Titik-titik terluar
ordinat kemudian dihubungkan
dengan suatu garis. Absis titik pusat
penampang tersebut ditentukan
dengan




Dengan ;
f : luas daerah yang dibatasi oleh
kurva
F : luas penampang kait

Luas penampang daerah f dan F
ditentukan dengan memaki
planimeter.
}
}
=
h
h
c
ydx
yxdx
x
0
0
Metode Grafik untuk menetukan Faktor x

Dengan meneruskan prosedur yang sama untuk
semua garis vertikal akan didapatkan sejumlah titik dan bila
titik tersebut dihubungkan, kita akan adapat mencari luas
daerah f
1
dan f
2
pada titik C. Perbedaan f
1
-f
2
akan selalu
bernilai negatif.
Luas daerah f
1
dan f
2
dapat ditentukan dengan
memakai planimeter.
Faktor x akan sama dengan



Jarak antara garis nol (netral) adan garis pusat adalah


Dengan :
: jari-jari kelengkungan titik pusat


( )
F
f f
dF
r y
y
F
x
e
e
2 1
2
1
2 1
=
+
=
}
x
x
+
=
1

Tegangan aman satuan yang


didapatkan dengan rumus (64) dan
(65) tidak boleh melebihi 1500 kg/cm
2

untuk baja 20. Penampang III dan IV
diperiksa kekuatannya pada sudut
maksimum yang diizinkan 2o = 120
dengan cara yang sama seperti
Penampang I dan II. Dengan
mengabaikan gaya geser
perhitungan
untuk gaya dilakuakn dengan
memakai cara yang sama dengan
sebelumnya, tetap memakai nilai
rdan bukan hubungkan dimensi
yang bersangkutan dari penampang
tersebut. Bagian silindris tangkai kait
yang masuk ke lubang pada bintang-
lintang akan mengalami tegangan
tarik. Akan tetapi tegangan lentur
akan timbul akibat salah stel sebab
itu tegangan yang diizinkan dalam hal
ini akan jauh berkembang


2
Q
Tegangan aman
o tan
2
Q
2
a
Beban digantung pada satu tanduk. Tangkai utama akan dibebani
lebih dari yang diizinkan, tegangan satuan maksimumnya dapat
ditentukan melalui pertimbangan berikut (penampang kritis V-VI)
| cos
2
1
Q
p =
F
p Q
p
t
t sh
= = o |, sin
2
F
P
sh
sh
= t
DAN
Tegangan lentur yang timbul dari momen
Akibatnya

)
2
(
1
d a
P M
lentur
+
=
2 2
1
3 ) ( t o o o + + =
lentur
Contoh soal: Memeriksa tegangan pada bagian
lengkung kait tanduk tempa.
Diketahui: Kapasitas angkat 15 ton; dimensi
pada gambar 66.
1.Beban total
15 = Q TON
2.Gaya normal pada penampung
rumus (69) adalah:
. 750 . 13
45 cos 3
77 sin 00 . 15 2
cos 3
) sin( 2
1
kg
x x Q
P =


=
+
=
o
| o
3.factor
_
Luas penampang F = 115,8 cm
2

Luas daerah tambahan f = 789 cm
3
. Absis titik
pusat ialah
cm
F
f
x
c
8 , 6
8 , 115
789
= = =
Zambian Luas daerah
2
2
2
1
7 , 11 71 , 5 cm f dan cm f = =
Sehingga factor
104 , 0
8 , 115
) 7 , 11 71 , 5 ( 2 ) ( 2
2 1
=

=
f
f f
x
Jarak antara titik nol dan titik pusat adalah:
cm
x
29 , 1
104 , 0 1
104 , 0 8 , 13
1
=
+

=
+
=
t

Jarak antara bagian bagian terdalam


dengan garis nol
cm x e
c
51 , 5 29 , 1 8 , 6
1
= = = |
4.Tegangan satuan adalah
2 1 1
1
/ 900
14
51 , 5 2
104 , 0
1
8 , 115
750 . 13 2 1
. cm kg
x
a
e
x F
P
= = = o
2
2 1
2 1
/ 520
16
2
14
45 , 10
104 , 0
1
5 , 115
750 . 13
2
1
cm kg
e e
a
e
x F
p
II
=
+
=
+ +
= o
Kedua rantai diatas berada dalam batas
yang diizinkan.
4. KAIT MATA SEGITIGA PADAT
Kait mata pada segitiga padat dipakai pada
crane dengan kapasitas angkat yang besar (di
atas 10 ton), dan hanya kadang-kadang saja
dipakai juga pada crane dengan kapasitas
sedang. Kelmahan kait ini adalah anduh yang
mengangkat muatan harus dilewatkan kedalam
lubang kait tersebut. Kait segitiga ditempa
langsung dari satu potong baja utuh.
Ditinjau dari segitiga luar (eksternal) kait
segitiga dapat ditentukan secara statis, dan dari
segi tegangan kait ditentukan secara statis tak
tentu. Karena lengkungan bagian bawah dibuat
utuh dengan sisinya dan akan mengalami gaya
lentur maka bagian sisinya akan terpengaruh
gaya lentur tersebut juga.
Dari penyelidikan yang dilakukan, momen
lentur pada lengkunagan bawah adalah:
6
1
1
Q
M =
Momen lentur pada pertemuan kedua sisinya
dengan busur ialah
13
1
2
Q
M =
Gaya tarik yang bekerja pada bagian sisi ialah
2
cos 2
1
a
Q
p =
Dengan:
a - sudut antara kedua sisi
Q beban
I panjang busur yang diukur
sepanjang garis netral
Sambungan antara busur, sisi dan
tangkainya tidak boleh membentuk sudut yang
tajam tetapi harus rata dan halus.
Tegangan satuan maksimum pada bagian
sumbu dapat ditentukan dengan rumus
F
P
W
M
lentur 1
+ = o
x P
Q
M
lentur 1
6
1
+ ~
Dengan:
2
tan
2
1
a Q
P = gaya tekan yang bekerja
pada busur, dalam kg
W momen perlawanan
F luas penampang busur
Tegangan satuan aman untuk baja 3
adalah
2
/ 800 cm kg
aman
= o
5. KAIT SEGITIGA BERSENDI
Pembuatan kait mata segitiga ternyata
mengalami banyak kesulitan dalam proses
produksinya. Sehingga untuk menangani beban
yang besar kait segitiga bersendi rakitan lebih
disukai untuk digunakan.
Tegangan satuan pada sambungan kait
tiga-sendi rakitan adalah
F
a
Q
2
cos 4
1
= o
Nilai yang diizinkan adalah
2
1
/ 200 . 1 cm kg = o
Tegangan satuan ditentukan sebagai
tegangan pada bentangan lengkung
e R
e
xFR
M
FR
M
F
P

+ + =
1 1
o
Dengan
x P
Q
M
1
4
1
+ =
2
tan
2
1
a Q
P =
Dengan:
F luas penampang
1
e
jarak antara sambungan netral dengan
lapisan yang menerima beban terbesar.
Factor x untuk ellips didapat dengan rumus
6 4 2
64
5
8
1
4
1
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
=
R
a
R
a
R
a
x
Dengan:
a luas penampang
Tegangan pada mata tangkai diperiksa
dengan rumus hasil
( )
2 2
2 2
1
d D
d D P

+
= o
Dengan:

bd
a
Q
P
2
cos 4
=
b lebar lubang
(tekanan satuan)
6. PERABOT UNTUK
MENGGANTUNGKAN KAIT
Pemberat kait. Untuk mengangkat muatan ringan
(=sampai 5 ton) biasanya kait langsung diikatkan pada
takal pengangkat fleksibel. Untuk meredam kejut,
kadang-kadang pemberat kait dilengkapi dengan pegas.
Penggunaan peredam kejut ini sangat diperlukan untuk
crane yang melayani alu tempa.
Bantalan kait. Bantalan peluru aksial memungkinkan
kait dapat berputar dengan mudah ketika menangani
beban diatas 3 ton. Bantalan ini dipasang pada batang
lintang dipakai menahan mur kait.


Batang lintang untuk kait
Batang lintang kait dapat berputar pada pelat sisi rumahnya yang
diperkuat dengan setrap atau sekal yang terbuat dari pelat baja.
Hal ini akan memungkinkan kait berputar pada dua arah yang
saling tegak lurus. Batang lintang ini ditempa dari baja dan diberi
trunion (batang gerak) pada ujungnya. Diameter lubang untuk
tangkai kait harus sedikit lebih besar dari tangkainya sendiri.




Gambar. 70 penampang-lintang untuk kait.
6. PERABOT UNTUK MENGGANTUNGKAN KAIT



Pemberat kait. Untuk mengangkat muatan ringan
(=sampai 5 ton) biasanya kait langsung diikatkan pada
takal pengangkat fleksibel. Untuk meredam kejut, kadang-
kadang pemberat kait dilengkapi dengan pegas.
Penggunaan peredam kejut ini sangat diperlukan untuk
crane yang melayani alu tempa.
Bantalan kait. Bantalan peluru aksial memungkinkan kait
dapat berputar dengan mudah ketika menangani beban
diatas 3 ton. Bantalan ini dipasang pada batang lintang
dipakai menahan mur kait.

Batang lintang untuk kait
Batang lintang kait dapat berputar pada
pelat sisi rumahnya yang diperkuat
dengan setrap atau sekal yang terbuat
dari pelat baja. Hal ini akan
memungkinkan kait berputar pada dua
arah yang saling tegak lurus. Batang
lintang ini ditempa dari baja dan diberi
trunion (batang gerak) pada ujungnya.
Diameter lubang untuk tangkai kait harus
sedikit lebih besar dari tangkainya
sendiri.




Gambar. 70 penampang-lintang untuk kait.

Tabel ukuran dan beban untuk bantalan
swa-penyebaris untuk kait yang
mengangkat beban mulai 5 sampai 75
ton
kapasitas
pengangkat Q d1 d4 d5 D D1 k R r Limit beban
ton kerja, ton.
5 50 52 75 92 100 36 75 1,5 7.5
7,5 60 62 85 106 115 41 85 2 9,0
10 70 72 95 120 130 44 95 2 11,6
15 80 82 110 136 145 50 110 2 15,8
20 90 93 125 155 165 57 125 2 20,6
25 100 103 140 172 185 64 140 2 26,0
30 115 120 160 200 215 74 160 3 35,5
40 125 130 175 220 220 79 175 3 41,5
50 130 135 185 240 250 101 185 3,5 58,0
60 150 155 205 260 270 106 205 4 67,4
75 170 175 230 285 300 111 230 4 77,5
Momen lentur maksimumnya
adalah


Dengan :
D
1
=

diameter luar cincin dudukan
bantalan.
Momen perlawanannya adalah


) 5 , 0 1 (
4 4 2 2
1
2
1
1
1
d
Q d
x
Q
x
Q
maks
= = M
2
1
) (
6
1
h d b w =
Tegangan lentur aman
o
lentur
= 600 1000 Kg/cm
2


Momen lentur pada trunion batang-lintang :


Tekanan satuan antara trunion dan rumah

Dengan :
s = tabel sakel
s
1
= tabel pelat samping
2 2
1
2
s s
x
Q
M
+
=
( )
1
2 s s d
Q
P
+
=
2
1
s s
l
+
=

Trunion batang-lintang tidak boleh bergerak secara aksial tetapi
harus dapat berputar. Pengencangannya dapat dilakukan dengan
cincin penyetel yang diikat dengan memakai pena tirus atau
cincin belah yang dimasukan ke dalam alur trunion yang
dipasang dengan skrup ke strap atau sekal.


Momen lentur pada trunion:






Gambar 71 penampang-lintang untuk
pemasangan dua roda penuntun tali
|
.
|

\
|
+ + + =
2 2 2 2
0
0 1
D l
s s
Q
M
maks

|
.
|

\
|
+ + = s s
Q
M
0 2
2 2




Gambar 72 Penampang-lintang sakel dengan rumah empat buah roda
penuntun.
Pada penampang A
1
B
1
(gambar 72)


Pada penampang A
2
B
2



Pada penampang A
2
B
2
dipakai rumus lame, tekanan satuannya ialah:

bs
Q
2
1
= o
( )s d b
Q

=
2
1
o
ds
Q
P
2
=
Tegangan satuan pada permukaan dalam:


Tegangan satuan pada permukaan luar:


Tegangan maksimumnya akan terjadi pada permukaan dalam
yakni:


Maka


( ) | |
( )
2
2
2
2
3
2
2
d R
d R P
A

+
= o
( )
2
2
2
3
2
2
d R
d p
B

= o
( )
( )
2 2
2 2
3
4 2
4
d R ds
d R Q
A

+
= o
2 2
2 2
1
4
4
2 d R
d R
x
d
Q
s

+
=
o
Perhitungan Kekuatan Batang Lintang
Secara Tepat Dengan Metode yang
Dikembangkan oleh A.A. Staroselsky
Bila batang lintang didesain dengan
bantalan anti-gesek, tekanan pada
daerah permukaan kontak yang
dibebani dapat diasumsikan terbagi
merata pada permukaan setengah
silinder menurut hukum berikut :
P
c
= p cos


Gambar 73 Diagram perhitungan untuk
penampang-lintang

Jika P merupakan resultan pada gambar
dari persamaan itu kita peroleh :

Dan rumus yang dapat digunakan :



cm Kg
R
P
x p /
2
t
=
PR
R
M
P
R
N
|
.
|

\
|
+ =
|
.
|

\
|
+ =
1
034 , 0 12 , 0
1
2 1
4
1
1
1
t
RUMAH KAIT
Rumah kait merupakan keseluruhan takel gantung yang
mencakup :alat pengangkat (kait), batang lintang,
roda puli bawah, dan pelat rumah sekal tempat
gandar roda puli dan pemutar batang lintang diikat
Gambar 77 menunjukkan rumah dengan satu buah roda
puli dan perabot untuk mencegah tali terlepas

Gambar 78 - 79
Muatan yang ditangani dalam
perusahaan industri dapat dibagi dalam
beberapa kelompok sebagai berikut :
1. Muatan satuan yang biasanya berukuran besar misalnya ; ketel,
rakitan mesin, struktur logam, dan lainnya.
2. Muatan satuan massal ; biled baja coran berukuran besar, hasil,
komponen mesin, baja canai, lembaran dan pelat, kotak, tong dan
sebagainya.
3. Muatan satuan massal berukuran kecil ; coran, tempa, dan kom[onen
mesin berukuran kecil, biji logam, baut, paku keling dan sebagainya.
4. Bahan lepasan ; batu bara, pasir, kokas, gas, abu, tatal, dan
sebagainya.
5. Bahan cair ; besi cor cair, baja, dan logam cair lainnya

7. pencengkeram crane untuk muatan satuan
Faktor penggunaan dan kapasitas penanganan yang lebih tinggi
dan perabot pengangkat berbanding langsung dengan waktu
yang diperlukan untuk menggantung dan melepaskan
muatan. Waktu ini dapat dikurangi dengan penggunaan
pencengkeram khusus yang harus :


1. Sesuai dengan sifat dan bentuk muatan
2. Mencengkeram dan melepaskan muatan dengan cepat
3. Mempunyai kekuatan dan keandalan mekanis yang memadai
4. Memenuhi syarat keamanan
5. Tidak merusak muatan
6. Mempunyai bobot yang minimum
7. Mudah dalam pengoperasiannya


Cengkeram Dan Pengapit
Crane
Komponen yang serupa misalnya : pasangan
roda, as, lembaran dan pelat baja roll kertas,
gulungan kawat dan sebagainya ditangani
dengan cengkeram yang sesuai bentuknya
dengan muatan tersebut. Jenis cengkeram
untuk pasangan roda, poros dan gandar
tergantung pada panjang dan jumlah
komponen yang ditangani sekaligus.
Platform Muatan Dan Ember Curah
Samping
Perabot ini dipakai untuk menangani muatan
satuan dalam jumlah besar (kotak bal baja
batangan, komponen mesin dan sebagainya)
dan juga muatan yang berukuran kecil (briket,
batu bata, biji logam dan komponen besi cor
berukuran kecil lainnya). Untuk mencegah
terjadinya kecelakaan, muatan yang berukuran
kecil tidak boleh dipindahkan pada platform dan
ember terbuka. Isi platform dan ember dapat
dipindahkan dengan crane ke gerbong rata.
Biasanya platform, dan ember tersebut ialah
jenis yang dapat di lepas atau dicurah.
Tang Biasa Dan Swa Jepit
Sendiri
Kecenderungan untuk mengurangi tenaga
kerja untuk menangani muatan satuan sekecil
mungkin telah menyebabkan berkembangnya
berbagi jenis tang dan cengkeram otomatis
lainnya. Pada pronsipnya, tang dibuat bersifat
swa jepit, yakni penjepit ini akan menutup
sendiri akibat muatan yang ditangani. Tang
dibuka secara manual dengan tuas khusus.
8. MAGNET PENGANGKAT ELEKTRIS
Magnet pengangkat digunakan sebagai bahan
magnetik dalam berbagai bentuk (ingot, batang, rel, baja
lembaran dan pelat, pipa, tatal, biji, kotak yang berisi benda
benda terbuat dari baja). Magnet pengangkat dapat
digunakan secara luas khususnya pada pekerjaan
rekasanya metalurgi dan mekanis. Keunggulan utamanya
ialah tidak diperlukannya pengikatan muatan secara manual
sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk operasi
ini secara drastis.
kelemahan magnet peralatan ini yaitu pengurangan
kapasitas angakt akibat bobot magnet ini sendiri, akan
tetapi alat ini dapat mengatasi muatan yang jumlahnya
cukup besar dengan waktu yang minimal dan peningkatan
efisiensi pengangkat yang cukup besar.
9. CENGKERAM UNTUK BAHAN
LEPASAN
Bak. Bak swa curah digantungkan pada kait crane, dan dapat
dibalikan / diputar pada trunion horizontal. Bak ini mempunyai
kapasitas antara 0,25 3 M
3
.

Bak Curah Bawah Dan Curah Samping.
Dipakai untuk menangani kerikil, pasir, tanha dan
sebagianya dengan bantuan crane jenis ini lebih unggul
dibandingkan bak miring, karena tidak mencecerkan bahan
ketika pencurahan.
Bak Dengan Sekop.bak jenis ini berkapasitas 1 3 m
3
dan
untuk penggunaan khusus dapat sampai 8 m
3
. Bak ini mempunyai
dua buah sekop bersendi dengan alas yang dibulatkan.
Ember cengkram .didesain untuk proses pencurahan
otomtis tetapi memerlukan tenaga kerja dan mekanisme manual
untuk pengoperasiannya.
Ember Cengkram Tali Ganda.
Operasi pengangkatannya dilakukan oleh satu
kelompok tali (atau suatu tali)
Ember Cengkram Tauber Dengan
Tali Ganda. Terdiri atas bentuk lonceng yang
dibentuk oleh dua buah dinding memanjang yang sejajar
yang dihubungkan dengan suatu pelat horizontal,
Ember Cengkeram Tali Tunggal. Ember
cengkeram yang dalam kedua macam operasinya (naik
turun, membuka dan menutup) dilakukan dengan satu
alat penarik, biasanya tali.
Ember Cengkeram yang Digerakkan Motor. Pada
ember cengkeram yang digerakkan motor, sekop dibuka dan
ditutup dengan rantai ataupun tali yang digerakkan motor yang
terpasang pada rangka pemegang itu sendiri.
Ember Cengkeram yang Digerakkan Motor
dengan Pengangkat Listrik. Sekopnya dikendalikan
dengan tali puli yang roda pulinya dipasang pada batang-silang
bawah.
Ember Cengkeram Tangan Majemuk. Bentuknya
menyerupai tangga, sekop, atau lebih tepat disebut dengan tangan,
alat ini terdiri dari 3 sampai 8 tangan yang dapat mencengkeram
bahan bongkahan dengan mudah tanpa merusakkan bahan.
Ember Cengkeram Khusus. Mempunyai sekop
yang berbentuk khusus untuk menyesuaikan diri dengan
jenis operasi dan bahan yang akan ditangani.
10. METODE UNTUK MENDESAIN EMBER CENGKERAM
Sifat bahan curah berikut mempengaruhi parameter alat cengkeram: ukuran dan
bentuk bongkahan, kandungan air, viskositas gaya, gesek dalam, berat jenis (bulk
weight), derajat ketahanan bahan terhadap penembusan benda asing, dan
sebagainya. Metode mendesain cengkeram berdasarkan sifat fisik bahan curah
dikatakan ideal.

Ketergantungan antara bobot dan kapasitas cengkeram dapat diungkapkan
dengan perbandingan sebagai berikut:
(a) untuk cengkeram pelayanan ringan

(b) Untuk cengkeram pelayanan medium

(c) Untuk cengkeram pelayanan berat

(d) Untuk cengkeram pelayanan sangat berat

Dengan:
berat cengkeram, dalam ton,

kapasitas cengkeram, dalam meter kubik



5 , 0 8 , 0 + = V G
gr
5 , 0 5 , 1 + = V G
gr
5 , 0 3 , 2 + = V G
gr
5 , 0 3 + = V G
gr

gr
G
V
Dengan memakai diagram perpindahan dari mekanisme cengkeram
dan data berat komponennya dapat kita tentukan gaya yang bekerja pada
komponen tersebut berdasarkan statika.

Data percobaan menyarankan hubungan berat sebagai berikut:






dengan:
berat batang-silang bawah dengan pengimbangan
berat sekop
berat btang-silang atas dengan batang hubung

Dengan gaya yang ditentukan ini diperiksa kekuatan komponen cengkeram,
sehingga kita menentukan gaya yang diperlukan untuk menutup sekop
tersebut.
gr
G G 2 , 0
1
=
gr
G G 5 , 0
2
=
gr
G G 3 , 0
3
=
1
G
2
G
3
G
11. PERLENGKAPAN CRANE UNTUK MENANGANI
BAHAN CAIR
Krusibel (untuk mencairkan paduan baja dan logam
lainnya) dibuat dari bahan tahan panas: dan krusibel ini dapat
menampung muatan mulai 40 sampai 300 kg logam.
Krusibel diangkat dari tanur dan dipindahkan dengan tang
garpu.
Ladel untuk menangani bahan cair dibuat dari plat baja
dan mempunyai lapisan tahan panas.
Keamanan dan pelayanan yang mudah (pekerja lebih
terlindung terhadap radiasi kalor dibandingkan dengan
pelayanan ladel biasa) dan kehilangan kalor yang lebih kecil
akibat radiasi (karena drum tertutup) menyebabkan penggunaan
ladel drum sangat efektif
PERALATAN PENAHAN
DAN REM
PERALATAN PENAHAN
Alat penahan digunakan untuk menahan beban yang
sedang diangkat oleh Derek.
Peralatan Racet. Jenis peralatan ini terdiri atas roda
racet dan sebuah pengunci. Gigi racet dapat diletakkan
pada bagian dalam atau luar pada sisi ataupun roda
racet. Gigi tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga
racet dapat bergerak bebas ketika beban diangkat.
Gambar 109 a menunjukkan desain peralatan racet yang
paling sering digunakan dengan gigi pada bagian luar
roda racet.



Penahan terbaik diperoleh pada titik kontak
antara garis singgung yang melewati titik putar
pengunci dan diameter luar roda racet. Dalam
hal ini tekanan pada pengunci diarahkan
sepanjang gaya keliling roda racet.
Menurut tujuannya roda racet dapat didesain
dengan jumlah gigi yang berbeda-beda :
z = 6 sampai 8 untuk dongkrak batang dan
pinion, racet dan rem yang digerakkan oleh
beban yang diangkat (pengangkat dengan
penggerak roda cacing).
z = 12 sampai 20, untuk penahan racet yang
bebas
z = 16 sampai 25 atau selebihnya untuk rem
jenis racet.
Panjang gigi (lebar daerah tumpuan pengunci)
dipilih dengan memperhatikan tekanan satuan
linear.
b = P
p
dengan :
P = gaya keliling
p = tekanan satu linear
Biasanya tekanan satuan diambil p = 50
100 kg/cm untuk pengunci baja
dan roda racet besi cor dan p = 150 300 kg/cm
untuk pengunci dan roda racet yang terbuat dari
baja.
Gambar 109 Peralatan racet dengan gigi luar
Gigi racet dengan pertemuan pada bagian
luar diperiksa terhadap kelenturan dengan
rumus :
m 23 M
z [ lentur ]
Dengan :
m = modul yang setara dengan kisar pada
diameter luar dibagi dengan
M = momen gaya yang ditransmisikan dalam kg
cm.
z = jumlah gigi
[ lentur ] = tegangan lentur aman
Rumus (95) (lihat gambar 109b) diturunkan
sebagai berikut .
Anggapan ABCD adalah daerah patahan
gigi.
Persamaan kekuatan terhadap lentur adalah
Ph = a b [ lentur ]
6

Biasanya a = m dan h = 0,75 m; b = m;P = 2M
dan D = zm D
Maka :
2M 0,75 m = m m [ lentur ]
zm 6
dan :
m 23 M
z [ lentur ]
Kecepatan keliling roda racet tersebut
berbanding lurus dengan diameternya. Karena
gaya tumbukan pada pengunci dan gigi
meningkat secara proporsional
dengan kuadrat kecepatannya, maka
peningkatan kecepatan harus dibatasi sampai
nilai yang dapat diizinkan.
Tumbukan pada kecepatan tinggi dikurangi
dengan memakai gigi dan kisar yang lebih kecil;
dapat juga sepersekian dipakai dua atau
beberapa pengunci yang titik pertemuannya
digeser sepersekian bagian kisar, sesuai
dengan jumlah penguncinya. Pada
perlengkapan racet bebas atau rem jenis roda
racet selalu terpasang mati pada poros.
Pengunci racet dapat didesain seperti pada
Gambar 109 a ataupun dengan bentuk seperti
penahan yang ditunjukkan Gambar 109 a.
Pengunci diperiksa terhadap tekanan eksentris
ataupun tarikan eksentris;
= M lentur + P
W F
Dengan :
M lentur = P e 1
W = bx adalah momen ketahanan minimum
yang diperlukan (Gambar 109 d)
Biasanya pena pengunci (Gambar 110a)
dianggap sebagai batang kantilever yang
mengalami pembebanan.
Persamaan kekuatan ialah :
Pl = 0,1 d [ lentur ]
Untuk l = b + a dan P = 2 M kita peroleh
2 zm
d = 2,71 M b + a
zm [ lentur ] 2
Dengan memperhatikan penggunaan beban
tumbukan, biasanya pena racet dibuat dari Baja
45 yang mempunyai tegangan lentur aman yang
agak diperkecil.
[ lentur ] = (300 sampai 500) kg/cm
Kondisi yang terbaik untuk pengunci yang
bergeser pada gigi racet didapatkan bila >
dengan adalah sudut gesek (Gambar 110b).
Gaya T = P sin cenderung mendorong
pengunci kea rah akar gigi sedangkan gaya
gesek N (di mana N = P cos ) dan daya
gesek pada pena pengunci akan melawan
gerakan ini.
Bila MA = 0 didapatkan
(T N) L cos P1 d = 0
2
Dengan mensubstitusikan nilai T dan N dan
menghilangkan cos tan p > 0 ;
Maka - 0 > 0 atau akan menjadi lebih besar
dari p.
Tabel 22
Konstruksi untuk Profil Gigi dan Roda Racet

Tabel 22 memberikan data yang diperlukan
untuk konstruksi profil gigi dan roda racet
dengan gigi dalam dan luar.
Urutan berikut ini dapat dipakai untuk
mengkonstruksikan profil gigi luar (lihat Tabel
22). Pertama-tama kita gambarkan lingkaran
addendum NN dan dendum atau lingkaran kaki
SS. Lingkaran NN, yang juga merupakan
lingkaran kisar, dibagi dengan kisar t menjadi
bagian yang sama besar.
Dari sembarang titik bagi tersebut kita
menggambarkan tali busur AB = a. Pada tali
busur BC kita membuat sudur 30 dari titik C.
Kemudian garis tegak lurus LM ditarik pada
bagian tengah tali busur BC sampai
berpotongan dengan sisi CK pada titik O. Dari
titik O kemudian kita gambarkan lingkaran
dengan jari-jari OC.
Titik E, yang merupakan perpotongan
lingkaran ini dengan lingkaran SS, merupakan
salah satu titik sudut titik sudut sisi (vertex)
dengan sudut 60.
Profil gigi-dalam dikonstruksikan sebagai
berikut. Pertama digambarkan lingkaran
addendum NN dan addendum atau lingkaran
kaki SS. Lingkaran NN dibagi dengan kisat t
menjadi bagian yang sama panjang. Dari
sembarang titik bagi tersebut digambarkan tali
busur AB = a. Pada tali busur BC dibuat sudut
20 dari titik C. Kemudian garis tegak lurus LM
ditarik pada bagian tengah tali busur BC sampai
berpotongan dengan sisi CK pada titik E yang
berupa titik perpotongan lingkaran ini dengan
lingkaran SS adalah vertex dengan sudut 70.
Sumbu titik putar pengunci didapat dengan
konstruksi berikut (Gambar 110c).

Jarak antara pusat ke pusat OA (antara pusat
pengunci dan roda racet) diambil sebagai
diameter setengah lingkaran yang
perpotongannya pada titik B dengan lingkaran
addendum roda akan memberikan kedudukan
gigi yang bertemu dengan pengunci dan
potongan BA akan merupakan panjang
pengunci.
Garis BA akan tegak lurus dengan jari-jari
racet OB dari persamaan geometris. Biasanya
panjang pengunci BA diambil sama dengan 2t.
Pengunci yang tidak bertemu dengan gigi akibat
bobot mereka sendiri diberi pemberat tambahan
atau pegas (Gambar 111a).

Bila muatan sedang diangkat gigi roda racet
akan bergeser di bawah pengunci dan
menimbulkan bunyi klik yang tidak diinginkan
(terutama bila poros berputar dengan kecepatan
tinggi). Bunyi tersebut dapat dihilangkan dengan
memakai pengunci yang dikenal sebagai
pengunci tanpa bunyi (noiseless), yang
beroperasi dengan menggunakan cincin gesek
(Gambar 111b). Pengunci demikian hanya
digunakan pada rem racet.
Roda racet dengan gigi-dalam dipakai hanya
pada roda rem racet. Giginya dicor pada sisi-
dalam drum rem yang terpasang bebas pada
poros.
Satu atau dua buah pengunci dipsang pada tuas
yang diikat pada poros dan dioperasikan oleh
cincin gesek (Gambar 112). Jumlah gigi berkisar
dari z = 16 sampai 30.
Gigi pada bagian dalam roda racet jauh lebih
j auh lebih kuat dibandingkan dengan gigi pada
bagian luar. Akibatnya persamaan kekuatan
mempunyai bentuk yang berbeda :
M
z [ lentur ]
Simbol yang dipakai mewakili nilai yang sama
dengan persamaan (95).
Penahan gesek. Dibandingkan dengan
penahan gigi, penahan gesek mempunyai
keunggulan tertentu: beroperasi tanpa bunyi dan
tanpa guncangan. Akan tetapi pda penahan
jenis ini tekanan pada titik putar pal dan poros
lebih tinggi dibandingkan dengan penahan
bergigi. Akibatnya penggunaan terbatas dan
selalu dipakai bersamaan dengan rem.
Gambar 113 menunjukkan penahan gesek
dengan gigi-dalam penahan berbentuk baji.
Sudut bajinya bisanya diambil sebesar 2 45
- 50. Koefisien gesek 0,1. Sudut adalah
15 pada nilai rata-rata.
Untuk mencegah aksi dua arah dipakai dua
buah cakar yang ditempatkan pada kedudukan
yang berlawanan pada diameter lingkaran roda
geseknya..
Gambar 112 Roda racet dengan gigi dalam
Tekanan pada titik putar pengunci adalah :`
P0 = P
Tan
Di mana :
P = gaya keliling
Cakram rem harus diperkuat dengan sirip
untuk menahan beban yang ditimbulkan tekanan
pengunci.
Racet Rol. Biasanya penggunaan racet rol
secara meluas dipakai bersamaan dengan rem.
Gambar 114a menunjukkan racet rol pada
rumah yang terpisah dengan rem. Peralatan
racet semacam ini beroperasi sebagai berikut.
Poros 1 yang akan ditahan mempunyai bus
2 yang diberi alur sebagai tempat rol 3. Cincin 6
dipasang dengan pasak 5 pada badan 4. Rol 3
tidak menghalangi putaran yang berlawanan
arah dengan jarum jam bus 2 bersama dengan
poros 1. Bila poros 1 mulai berputara searah
dengan jarum jam akibat muatan (poros 1
mendukung drum yang dililiti tali pengangkat) rol
akan tertekan pada alur oleh bus 2 dan ditekan
pada cincin tetap 6.
Untuk mencegah rol jatuh ke dalam alur akibat
bobotnya sendiri dipasang pegas penahan
seperti yang ditunjukkan Gambar 114b. Gambar
115 menunjukkan berbagai desain racet rol.
Gambar 113 Penahan gesek
Gambar 114 Racet Rol
Gambar 115 Berbagai desain racet rol
Desain Racet Rol (Gambar 116). Rola yang
ditekan antara penggerak dan pengikut pada
pusat gaya normal N1 dan N2 dan daya gesek
tangesial 1 N1 dan 2N2 . Dengan roll yang
berada pada ketidak seimbangan gaya, resultan
R1 = R2.

Momem gaya yang ditransmisikan adalah :
M = zN D
2
dengan :
z = jumlah rol (biasanya z = 4). Koefisien gesek
0,06.
Bila = tan p > tan kita dapatkan
N < 2M (N =N1 = N2)
z D tan a
3
Akan tetapi, untuk mendapatkan keandalah
yang lebih baik, gaya yang bekerja pada sebuah
rol diasumsikan sebagai :
N = 2M (98)
zD tan a
2
Panjang rol l = N dengan p = 450 kg/cm bila
p
elemen yang beroperasi dibuat
dari baja yang bermutu tinggi dan diperkeras
dengan baik.
Tabel 23 menyenaraikan dimensi utama
racet rol dengan kekerasan Rockwell pada
permukaan operasi Rc = 58 sampai 61.
Bahan yang dipakai adalah Baja 15 dengan
perkerasan kulit (case hardered).
Gambar 116 Diagram desain racet rol
Tabel 23
Dimensi Utama Rachet Rol
Rachet rol dipilih dengan memakai rumus
berikut :
Naman = 100N 100
nK
dengan:
n = rupa yang sebenarnya
k = factor keamanan, diambil mulai 1,5
sampai 2.
REM SEPATU
Pada mesin pengangkat, rem digunakan untuk
mengatur kecepatan penurunan muatan
ataupun untuk menahan muatan agar diam.
Rem digunakan juga untuk menyerap inersia
massa yang bergerak (truk, crane, muatan,
dan sebagainya). Tergantung pada
kegunaannya rem dapat diklasifikasikan
sebagai jenis penahan (parkir), jenis
penurunan atau gabungan keduanya. Rem
jenis gabungan melayani kedua fungsi
penghentian muatan dan mengatur kecepatan
penurunan.
Rem dapat dibedakan menjadi rem automatis
dan rem yang dieprasikan manual.
Jenis rem yang termasuk rem manual ialah :
rem sepatu atau blok, rem pita, rem kerucut, rem
cakram dan rem racet serta rem, dengan
gagang pengaman.
Jenis rem yang termasuk rem otomatis adalah
rem sentrifugal (untuk mengatur kecepatan) dan
rem yang digerakkan oleh bobot muatan yang
diangkat.
Rem sepatu atau blok dapat didesain dengan
sepatu luar atau dalam. Rem sepatu luar adalah
jenis rem yang umum digunakkan pada mesin
pengangkat, sedangkan rem, sepatu dalam
hanya ditujukan untuk penggunaan crane yang
dipasang pada truk.
Prinsip Operasi Rem. Untuk memahami prinsip
operasi rem sepatu marilah kita lihat diagram
rem sepatu tunggal yang ditunjukkan pada
Gambar 117.
Karena aksi satu arah sepatu tunggal
menimbulkan lenturan pada poros rem, rem
sepatu tunggal hanya dapat dipakai untuk
menahan momen gaya yang kecil pada
penggerak tangan bila diameter poros tidak
melebihi 50 mm. Tekanan yang diberikan oleh
sepatu besi cor pada roda rem haruslah
sedemikian rupa sehingga gaya gesek yang
dihasilkan pada permukaan roda mengimbangi
gaya kelilingnya.
Gambar 117 Diagram untuk rem sepatu tunggal
Gambar 118 Diagram untuk rem sepatu ganda
Rem sepatu ganda (Gambar 118) sering
digunakan pada mekanisme pengangkat,
pemindah dan pemutar crane, yang berbeda
dengan rem sepatu tunggal, rem sepatu ganda
tidak menimbulkan defleksi pada poros rem.
Penjepit dan crane yang digerakkan listrik
hampir selalu didesain dengan rem sepatu
ganda. Rem digerakkan oleh pemberat G dan
dilepaskan dengan electromagnet. Akibatnya,
pengereman yang permanent hanya bekerja bila
electromagnet dinyalakan. Biasanya rangkaian
listriknya dibuat saling mengunci antara motor
dan magnet secara otomatis menghasilkan aksi
pengereman walaupun motor berhenti secara
mendadak.
Rem sepatu ganda (Gambar 118) beroperasi
dengan prinsip kerja sebagai berikut: pemberat
G menyebabkan tangkai I bergerak kebawah
bersama dengan batang tarik 2. Batang tarik 2
akan memutar segitiga kaku 3 melalui sendi C.
Bila kita asumsikan titik A diam di tempat, titik C
bergerak ke bawah; dalam kasus ini titik B akan
berpindah ke kanan. Gerakan ini akan
ditransimisikan oleh batang tarik 4 dan tuas 6
yang akan mendorong sepatu 8 ke arah roda
rem. Bila sepatu 8 sudah tidak dapat bergerak
lagi,
titik C akan diam di tempat dan segitiga 3 akan
berotasi pada titik C tersebut. Akibatnya titik A
akan berpindah ke kiri dan akan menggerakan
sepatu 7 melalui tuas 5.
Pada desain sebenarnya dari rem yang
ditunjukkan pada Gambar 118, tuas 1 terdiri
atas dua bagian yang dihubungkan menjadi satu
dengan menggunakan kopling batang
(turnbuckle) untuk menyetel rem.
Diagram lain rem sepatu ganda ditunjukkan oleh
Gambar 119
Pengoperasian rem (Gambar 119) dengan
pemberat yang dipasang pada tuas rem
mempunyai kelemahan sebagai berikut.
Setelah arus diputuskan dan pemberatnya jatuh,
pemberat ini akan bergetar bersama dengan
tangkainya, menurunkan dan menaikkan
tekanan sepatu pada roda dan akan mengubah
besarnya momen gaya pengereman. Perubahan
secara periodic pada momen gaya pengereman
ini merupakan fenomena yang tidak dikehendaki
pada mekanisme pengangkat maupun pada
mekanisme pemindah. Dalam hal ini pegas
dapat lebih diandalkan karena dapat beroperasi
lebih halus dan dapat disetel lebih tepat dengan
jangka penyetelan yang lebih luas.
Gambar 120 merupakan desain rem yang
digerakkan oleh pegas.
ELEMEN REM SEPATU
Roda Rem. Biasanya mesin pengangkat yang
digerakkan tangan didesain dengan roda dari besi
cor dan digerakkan oleh penggerak daya. Roda
yang dipakai terbuat dari baja cor dengan tingkat
diatas 55 j I Group III, atau baja tempa dengan
tingkat diatas 45 sesuai dengan standar soviet
dengan kekerasan minimum permukaan gesek
280 Bhn. Mekanisme penggerak truk dapat
digunakan roda rem dari besi cor. Roda rem harus
seimbang secara dinamis. Lebar roda boleh
melebihi lebar sepatu sebesar 5 10 mm.
Roda rem harus diberi sirip untuk pelepasan kalor
yang lebih baik dan dilengkapi dengan lubang
diantara siripnya untuk mendapatkan sirkulasi udara
yang lebih baik dan untuk melepaskan kalor lebih
efektif ke atmosfer. Bila rem dipasang pada kopling
fleksibel, rem harus dipasang pada bagian yang
berhubungan dengan mekanisme penggerak.
Sepatu rem. Sepatu rem dibuat dari kayu mapel
atau poplar dipasang pada tuas dengan baut. Untuk
mekanisme pembuat sepatu dibuat dari besi cor
(dengan cetakan permanen, tingkat CH 12 28)
dan diberikan lapisan rem khusus (Gambar 121 a).
Lapisan tersebut dapat diikat demgan paku keeling
(Gambar 121 b). Ataupun dengan sekrup yang
terbenam.
Lapisan rem. Lapisan rem harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
Mempuyai koefisien yang besar;
Mampu bekerja dengan baik sampai temperatur
300C;
Dapat menahan keausan pada kecepatan; Tekanan
satuan; dan temperature tertinggi;
Mudah dibuat;
Murah.

Saat ini, bahan yang paling banyak dipakai ialah
pita canai.
Pita canai dibuat dengan mesin canai dari asbes
non tekstil yang murah dengan karet dan
ditambahkan belerang untuk proses vulkanisir. Pita
canai dibuat dengan ketebalan sampai 8 mm dan
lebar sampai 100 mm. Pita canai sangat elastis dan
dapat dibentuk dengan mudah. Mempunyai
koefisien gesek yang stabil dan tinggi antara 0,42
sampai 0,53 dan dapat menahan temperature
sampai 220C.
Gambar 121 Pengikatan lapisan rem ke sepatu rem
dengan paku keeling

BABVIII
PERALATAN
PENGANGKAT
Mekanisme pengangkat dibagi menjadi tiga kelompok menurut
penggeraknya:
1. penggerak tangan
2. penggerak daya tersendiri (biasanya elektris)
3. satu motor penggerak sekutu untuk beberapa mekanisme
MEKANISME PENGANGKAT PENGGERAK TANGAN
Gerakan ditranmisikan dari gagang engkol tangan l melalui
tiga pasang roda gigi lurus ke drum yang dipasang pada poros IV
dengan jari-jari R tanpa tali pengangkat digulung pada saat beban q
diangkat. Seperti terlihat pada gambar 7.1
Gambar 7.1 diagram mekanisme pengangkat a- penggerak
tangan b- penggerak electrik
Efisiensi mekanisme adalah perbandingan antara kerja pengakat yang digunakan
dengan semua yang dilakukan. Kerja yang digunakan didapat dari persamaan:
Ao = Qh(1)
Dengan :
Q = bobot beban (kg)
H = jarak yang ditempuh oleh beban(m)

A = Ks(2)
Dengan:
K = kerja yang dihasilkan oleh operator pada gagang engkol
s = lintasan gaya K yang bersesuai dengan lintasan h
maka, efisiensi pada mekanisme ini ialah
dengan :
v = kecepatan pengangkat
c = kecepatan pada titik kerja gaya penggerak (c = 30 sampai 45m/menit)
Ko = kerja ideal pada gagang engklol dengan mengabaikan kerugian akibat
gesekan
W = tahanan total akibat gesekan pada mekanisme

Kerja yang dilakukan operator pada saat gagang engkol ketika menaikkan
muatan ialah
kerja ini tidak boleh lebih besar dari nilai yang diberikan pada tabel 8.1

tabel 8.1
Kerja Maksimum Setiap Orang, Dalam kg
PERIODE
OPERASI
Pada
gagang
kemudi
Pada
rantai
penarik
Pada
pedal
katrol
Pada
batang
katrol
Operasi
terus-
menerus
(continue)
12 20 25 18
Operasi tidak
lebih dari 5
menit
25 40 35 20
Efisiensi total mekanisme (untuk diagram gambar 8.1a) ialah:
drum

roda gigi

puli
= efisiensi puli

q
q
drum
= efisiensi drum

pul
i

q q
3
q
q
=
roda gigi
= efisiensi satu pasangan roda gigi
perbandingan transmisi total
mekanisme ditentukan dengan
perbandingan berikut
q
q . _
_
gaya momen
beban momen
=
Mk
MQ
=
Ka
QR
q
I =
Dengan puli yang ada,bobot muatan Q
yang harus dilawan oleh tarikan tali
2
Q
s =
Q
ks
v
q
=
(Gambar 81a). kecepatan pengangkatan
muatan akan menjadi:

MEKANISME PENGANGKATAN DENGAN
PENGGERAK ELECTRIK INDIVIDU
Daya ditranmisikan dari motor electric (Gambar8.1b) (poros i)
melalaui tiga pasangan roda gigi ke drum (poros IV) tempat tali
penggulung.
Pada kecepatan angkat yang konstan (v= konst) (gerakan yang
seragam dan tunak) daya yang dihasilkan oleh motor electric akan
menjadi
hp N
Qv
q 75
=
dengan:
v = kecepatan angkat muatan, dalam m/det
motor pada poros motor ialah
M =
cm kg
nm
N
71620
Perbandingan transmisi antara motor dan drum ialah
drum
motor
drum kec
motor kec
i
q
q
= =
.
.
kecepatan tali pada drum adalah
Vdrum = Vi puli
Dengan Ipuli = perbandingan transmisi puli (pada system puli
untuk mendapatkan bati gaya ipuli > i).
Kecepatan drum dalam rpm ialah
rpm
D
vdrum
t
N
drum

=
Dengan:
v
drum
kecepatan tali pada drum, dalam m/men
D diameter drum, dalam m
MEKANISME PENGANGKAT YANG BEROPERASI DARI SATU MOTOR
PENGERAK SEKUTU UNTUK BEBERAPA MEKANISME
Mekanisma ini didesain untuk crane yang dipasang pad truk atau traktor,
kereta berel dan crane rantai (crawler crane) juga untuk crane
Derek(derrick crane) dan Derek cengkram (grap wince).

Mesin uap atau motor baker adalah pengerak utam ayang dipakai untuk
semua pengangkat ini kecuali pada Derek cekram.

Diagram crane yang dipasang pada mobil yang dibuat oleh Odessa Works yang
ditunjukan pada Gambar 8.2. dari mesin gerakan ditramisikan pada
mekanisme crane pengangkat, dan pemutar.dari kotak pengatur daya 12
gerakan ditramisikan melalui kotak pembalik 1 keporos 3 melalui poros garden
2. melalui gigi reduksi 4. poros 3menggerakan poros transmisi utama 7 yang
dari sini digerakan ditranmiosikan melalui kopling dan pengerak cacing 5 dan
6 kedrum 8 (untuyk mendongkrak tiang crane) atau drum 9 (untuk
pengangkatan). Disamping itu kopling dapat 10 dapat mentranmisikan gerakan
kepenggerak cacing 11 untuk penggerakan pengangkat. Daya poros pengerakan
f untuk
Pengangkat ialah dengan:
efisiensi mekanisme antara poros drum I dan poros f
q 75
Qv
N
f
=
momen gaya pada poros pengerak ialah
nf
Nf
Mf 620 . 71 =
dan pertandingan tranmisinya ialah
ni
nf
i =
Gambar 8.2 diagram mekanisme crane yang dipasang pada crane
q
BAB VII
PENGGERAK PERALATAN PENGANGKAT
7.1 PENGGERAK TANGAN DAN TUAS PENGANGKAT

7.1.1 Komponen utama dari penggerak tangan ialah gagang engkol, dan roda
penggerak dengan rantai penggeraknya.

Kapasitas angkat peralatan pengangkat yang digerakan dengan tangan tidak
dapat melebihi 15000 kg.

7.1.1.1 Gagang engkol
Gagang engkol penggerak tangan dapat pada dongkrak, batang gigi dan pinion
dan lokomotif, penjepit dinding dan ereksi.
Ukuran utama tangan gagang engkol diberikan pada table 7.1
Usaha yang dapat diberi pada gagang engkol dapat dilihat pada table 7.2
Jumlah
Operator
Ukuran, mm
Diameter
gagang
busing
Panjang
busing l
Panjang
Penjepit l
Panjang
lengan
gagang l
1 (1,8-2,0)
d
(1-1,5) d 250-350 300- 400
2 (1,8-2,0)
d
(1-1,5) d 400-500 300-400
Table 7.1
Dimensi utama gagang engkol pengerak tangan

Tabel 7.2
Kerja maksimum setiap orang, dalam kg

Periode
operasi
Pada
gagang
kemudi
Pada
rantai
penarik
Pada
pedal
katrol
Pada
batang
katrol
Operasi terus
menerus
(continue)
12 20 25 18
Operasi tidak
lebih dari 5
menit
25 40 35 20
7.1.1.2 Racet
Racet berfungsi seperti penggerak tangan dongkrak ulir. Racet lebih
ringan dari gagang engkol dan sangat mudah mengoperasikannya.
Gambar 7.2 menunjukan sebuah Racet
Gambar 7.2 Racet
l- roda racet, 2-pena pengunci, 3-kepala racet, 4-pegas kembali pengunci
ketempatnya, 5-pengunci, 6-pegas pengencang skrup
Gagangnya dapat diperpanjang dengan sebatang pipa dapat digerakan
kedepan dan kebelakang pesamaan dengan kunci penahan dengan sudut yang
kecil. Pada gerak kebelakang pengunci tergelincir di atas gigi roda racet
yang dihubungkan ke poros penggeraknya. Untuk gerak baliknya (ke depan)
pengunci bertaut dengan gigi roda racet sehingga poros penggerak berputar
sesuai dengan sudut gerak tuas penggerak. Untuk menggerakan poros
penggerak dengan arah yang berlawanan, racet dapat dengan mudah dibalik
dengan poros rangkaian persegi racet yang dapat bergerak dua arah dengan
pengunci yang berpindah banyak dipakai pada sekarang ini. Panjang tuas
racet (bersama dengan pipa memanjang tersebut) berkisar antara 800
sampai 1000 mm operator dapat menghasilkan daya sampai 30 Kg.
7.2 PENGGERAK DAYA
Penggerak electric merupakan pilihan utama diantara
beberapa jenis penggerak daya pada saat ini. Crane yang digerakan
oleh tenaga electric di desain untuk mengangkat beban sampai 2000
ton.
7.2.1 PENGGERAK HIDROLIK
Pada umumnya penggerak hidrolic digunakan untuk mengangkat beban
berat 200-600 ton pada jarak angkatan terkecil 100-300 mm.

7.2.2 PENGGERAK PNEUMATIK
Tenaga pneumatic banyak dipakai pada katrol angin gantung kecil dan
blok puli pneumatic yang beroperasi pada daerah rawan dadakan dimana
penggerak listrik tidak dapat digunakan.

7.2.3 PENGGERAK UAP
Penggerak uap dipakai terutama pada crane dalam jalan lokomotif
untuk pelayanan umum pada rel Bantu di station disekitar pabrik dan
galangan kapal.

7.2.4 PENGGERAK ELECTRIK
Arus listrik yang digunakan dapat berupa arus searah 110, 220, 440
dan 50 Volt atau arus 3 fase yang digunakan dengan tegangan 380, 500 dan
550 Volt ( umumnya dengan frekuensi 50 Hz ).

GEAR PENGGERAK
Mekanisme Penggerak Dengan Rel

Gear penggerak dapat didefinisikan ke dalam
mekanisme penggerak untuk troli dan crane
yang bergerak pada rel dan mekanisme untuk
crane atau troli tanpa rel dengan roda karet
dan roda rantai.
Mekanisme penggerak troli crane dapat
dikelompokkan lagi menjadi tiga kelompok
yaitu yang dioperasikan dengan tangan,
dengan penggerak daya tersendiri (biasanya
penggerak listrik) dan penggerak daya dengan
tali.

Elemen-elemen berikut digunakan pada
mekanisme penggerak troli tanpa tergantung
pada desainnya :
Motor atau roda penggerak pada penggerak
tangan.
Transmisi antara poros penggerak dan poros
yang digerakkan pada roda troli.
Roda yang berjalan pada rel.
Rangka (badan) troli yang ditempati oleh
mekanisme penggerak dan pengangkat.

Troli Tangan
Prinsip kerja dari troli ini adalah gerakan
ditransmisikan dari roda penggerak
melalui dua pasang roda gigi ke roda
penggerak.
Dalam menentukan beban pada roda
untuk troli dengan empat buah roda
dibebani beban secara simetris dan
distribusi bebannya merata pada keempat
rodanya, yang dikenakan pada rodanya
ialah dengan
Q bobot-beban
G0 bobot troli

Bila beban digantung secara asimetris pada troli
dengan dua pengangkat maka gaya yang
dikenakan pada rodanya kira-kira sama dengan
G0 Q b2
Pmaks. = A +
4 2 b
G0 Q b1
Pmin. = B +
4 2 b

Troli Crane dengan Penggerak Elektrik Terpisah
Prinsip kerja dari troli ini yaitu gerakan
ditransmisikan dari motor elektrik melalui tiga
pasang roda gigi lurus ke roda gigi penggerak.
Pada gerakan yang tunak daya dihasilkan oleh
motor elektrik adalah
Wv
N = hp
75
Dengan :
v kecepatan jalan, dalam m/detik
efisiensi total mekanisme
W - tahanan gerak, dalam kg
Perbandingan transmisi :
kecepatan motor nmot
i = =
kecepatan roda penggerak nt-w

Kecepatan roda penggerak adalah
v
nt-w =
D
dengan
v kecepatan, dalam m/det
D diameter roda






Mekanisme Pejalan Crane Gantri dan
Crane Jalan
Crane Jalan yang digerakkan Tangan
Prinsip kerja dari crane ini yaitu gerakan
ditransmisikan dari roda operasi yang dipasang
pada poros transmisi utama melalui dua
pasangan roda gigi pararel menuju dua buah
roda pejalan pada crane.


Gaya maksimum yang bekerja pada roda
penggerak crane beroda empat :
G Q + G0 L e
Pmaks +
4 2 L
Crane Gantri (portal)
Mekanisme penggerak crane ini dilengkapi dua
poros vertical dengan pengerak roda gigi
kerucut untuk menggerakkan roda penggerak
yang dipasang pada kaki penyangga crane.
Sedangkan crae semigantri didesain hanya
dengan satu batang poros vertical.
Crane Kantilever
Gaya maksimum yang bekerja pada roda
penggerak vertical adalah
maks. V Q + G0 + G
P vert =
2 2
Dengan :
V - dorongan vertical
Q bobot muatan
G bobot crane tanpa troli
G0 bobot troli




Rel Gerak
Menurut kegunaannya rel untuk crane dapat
diklasifikasikan :
Rel untuk untuk troli crane jalan overhead dan rel
untuk mekanisme pejalan crane yang digerakkan oleh
tangan (batang bentang). Rel tersebut terbuat dari baja
reta dengan sudut yang dibulatkan.
Rel khusus untuk crane jalan overhead yang dibuat
dengan dasar yang lebar dan pendek. Rel ini
mempunyai momen inersia yang relative lebih besar.
Rel untuk crane monorel, crane kereta rel, gantri dan
crane jenis lainnya.
Monorel untuk troli dan katrol jalan.

Roda penggerak
Roda penggerak dibagi menjadi tiga :
Roda penggerak untuk monorel, yaitu roda yang
berjalan pada flens di atas batang I dipakai hanya
untuk troli yang digerakkan oleh tangan.
Roda pejalan untuk rel baja rata dan untuk rel crane
dan rel kereta, roda untuk crane yang digerakkan
penggerak daya dibuat dari baja cor atau roda baja
tempa dengan suaian paksa.
Roda sorong (roda rel tanpa flens), roda sorong ini
digunakan bila roda tersebut tidak mengalami beban
lateral sama sekali. Roda sorong dipakai pada crane
monorel dan kantilever, crane jalan dengan lengan.

Mekanisme Rantai
Mekanisme rantai digunakan pada crane putar dan
berbagai jenis pemuat.
Crane dengan rantai dibelokkan arahnya dengan
mengerem putaran salah satu rantai-rantai
geraknya, misalnya dengan mengurangi kecepatan
atau menghentikan satu rantainya.
Karena gaya adhesive rantai yang besar,
mekanisme pejalan rantai dapat mengatasi
gradient yang lebih besardibandingkan dengan
transportasi melalui rel
Tekanan satuan aman pada tanah tergantung pada
sifat dan kondisinya yang berbeda-beda, untuk
crane rantai mulai 0,8 sampai 15 kg/cm2.

Mekanisme dengan Ban Karet
Desain ban karet yang paling sering digunakan
adalah ban karet mati yang dipasang pada roda.
Tahanan yang ditimbulkan pada sewaktu crane
berban karet berjalan (tanpa memperhitungkan
tahanan angin) dapat menggunakan rumus :
W = G (cos + sin )
Dengan :
G bobot total crane
w koefisien tahanan gerak
gradien permukaan medan, tanda plus
untuk mendaki dan tanda minus untuk
menurun
BAB 10
PERALATAN PEMUTAR LENGAN, DAN PENDONGAK

1. MEKANISME PEMUTAR
Tergantung pada desain komponen pendukung mekanisme pemutar,
crane dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama berikut.
Suprastruktur crane berputar bersama dengan pilar tiang pada
bantalannya, biasanya terpasang pada pondasi ataupun dipasang pada
kolom bangunan.
Suprastruktur crane berputar pada pilar yang dipasang mati pada
pondasi atau pada truk crane.
Crane berputar pada poros pemutar pusat yang dipasang mati pada
komponen tak berputar; meja putar crane ditumpu oleh sejumlah rol
yang berputar pada rel yang berbentuk lingkaran dan dipasang pada
pondasi ataupun pada truk crane.

Mekanisme pemutar crane dengan pilar berputar. Gambar 198
menunjukkan crane dengan pilar kolom berputar. Pendukung
bagian atas, yang diikat pada kolom bangunan, diberi bantalan
radial dan pendukung bagian bawah, dengan dipasang pada
pondasi, diberi bantalan radial dan dorong. Crane seperti ini
biasanya diputar dengan tangan, dengan mendorong muatan
yang digantungkan pada crane tersebut. Akan tetapi, muatan
mulai dari 5 ton ke atas memerlukan motor elektrik untuk
memutarnya.
Pendukung pilar. Pena putar pilar atas dan bawah biasanya
diikat pada pemegangnya. Salah satu desain pena putar
bawahditunjukkan oleh gambar 199a. bantalan ini mengalami
lenturan akibat gaya horisontal H1 tekanan oleh gaya vertikal V.
Momen lentur pada penampang kritisnya ialah
M1 = H1y1

Momen lentur pada bagian bawah bahu ialah
M1 = H1y

Dengan:

H1 = (Qa + Ge); V = Q + G

(Q-bobot muatan; G-bobot crane)
h
1
Resultan tegangannya ialah

= lentur - com = (240)



Pelat bawah harus diperiksa terhadap tekanan satuan antara bantalan
dengan pelat (tekanan pada dinding lubang akibat gaya H1 dan
tekanan vertikal antara bahu bantalan dengan pelatakibat gaya V)
Resistensi terhadap putaran. Momen resistensi akibat gaya gesek
relatif pada sumbu putar ialah

M = Wa = V
1
r + H12r + H13r1 (241)

Di sini M = M1 + M2 + M3 (M1-momen) resistensi pada bantalan
tekan/aksial; M2dan M3 momen dari resistensi pada bantalan bagian
baweah dan atas. Rumus tersebut mencangkup M1 = V1 r untuk
bantalan dorong tak beralur pada bagian atas. Pada bantalan dorong
dengan permukaan tekan cincin (Gambar 199a) momen resistensi
akibat gesekan ialah sebesar

M1 = V
1
(242)
| |
com
d
V
d
y H
o
t t
s

2
1
2
1
1 1
4 32
3
2
2
0
2
3
0
3
2 2
2 2
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
d d
d d
dan pada bantalan bertingkat yang memakai bola sebagai
permukaangeseknya ialah
M
1
= V
0
(243)
Dalam rumus rumus tersebut:
W- tahanan putar pada ujung tiang lengan crane
a- jangkauan tiang lengan crane
R = d/2 --- jari-jari titik putar
1- koefisien gesekan pada bantalan dorong
Q = Q + G - Gaya vertikal akibat bobot muatan pada Crane
d- diameterbantalan bawah
d0 - diameter dalam bantalan dorong berbentuk cincin (atau
diameter alur)
1 dan 2- koefisien gesek pada bantalan radial bawah dan atas
r1- jari-jari bantalan bagian atas
0- koefisien gesek pada bantalan jenis bola menurut diamater
bantalannya.

Rumus (241) mengabaikan tahanan terhadap putaran Ww akibat
tekanan angin. Tahanan ini harus diperhitungkan untuk crane yang
akan beroperasi diruang terbuka.
Penggerak mekanisme pemutar. Pada pemutar tangan, usaha yang
dikerjakan oleh operator untuk memutar crane ialah

o sin
W
P =
Dengan :
- kemiringan tali penarik dari bidabg vertikal dalam memutar ( biasanya
diambil sampai 450)
W - resistensi terhadap pemutaran yang bekerja pada ujung tiang lengan crane.
Dengan penggerak daya danpada kecepatan tunak, daya yang dihasilkan motor
ialah

N=

Dengan:
V - kecepatan pada ujung tiang lengan crane, dalam m/dt
- efisiensi penggerak
perbandingan transmisi antara motor dengan struktur crane yang
berputar ialah



dengan:
nmot rpm motor
ncr - rpm struktur crane ynag berputar
a - jangkauan tiang lengan crane
hp
Wv
q 75
q
a
v
ncr
ncr
nmot
i
t 2
60
; = =
Mekanisme pemutarcrane dengan pilar yang terpasang mati marilah kita
periksa contoh crane monorel (gambar 186). Pada crane jenis ini, pilar
tetap 6 dipasang pada truk; tiang lengan crane jenis bertumpu pada pilar
yang menahan semua gaya vertikal dan horizontal yangakan timbul kitika
pengoperasian crane dan meneruskan gaya-gaya tersebut kerel dan
pondasinya melalui truk bawah
Bus bantalan pilar tas diberi bantalan radial dan pendorong yang dipasang
pada gilder khusus pada rangka crane. Gaya horizontal bagian bawah
ditransmisilkan dari bantalan rol radial ke tonjolan silindris khusus pada pilar
yang dipasangpada truk.
Pilar creane (gambar 201) pilardibuat daribaja tempa, yang berbentuk konis.
Pada bagian atasnya diberikan bus silindris dan pada bagian bawah dengan
ujung tirus yang akan dipasang pada pondasi plat (crane putar diam)
ataupada rangka truk (misalnya pada crane monorel). Pilar akan mengalami
lenturan akibat momen Hfh dan tekanan akibatgaya vertikal v. gayav dan Hf
dapat ditentukan dengan rumus (205) dan (206). Penampang kritis pilar
tersebut terdapat pada ujung yanmg diikat. Panjang pilar antara bus
bantalan atas dan tonjolan silindris bawah untuk lenutran karena gaya tekan
v sangatkecil nilainya, sehingga praktis dapat diabaikan.


. (244)
3
32
3 1 1
cm
d
lentur
GgLg L G qa
lentur
Mmaks
W
t
o o
=
+
= =
Dengan :
q-bobotmuatan
a-jangkauan crane
G1-bobot struktur putar crane
L1-lengan resultante bobot G1
Gg-pengimbang
Ls-lengan pengimbang relatif terhadap sumbu putar.
Resultante tegangan pada bus bantalan atas (gambar 201) ialah




dengan d =2r
Dari bentuk pilar secara titik kerja gaya horizontal atas dan gaya
horizontal bawah Hf akan serupa grafik pangkat tiga, yang harus digambarkan
sebelum mulai mendesain pilar.
Gambar202 menunjukan diagram momen dan tegangan untuk
memeriksa perhitungan penampang pilar. Metode berikut ini dilakukan untuk
menentukan defleksi maksimum pilar secara grafis pada titik kerja gaya
horizontal atas Hf . dalam menentukan defleksiakibat penampang pilar yang
berbeda-beda, pertama-tama M/I diagram harus dibuat, dengan beban khayal
M/I ini diberikan pada batang diikat mati. Daerah diagram dibagi
menjadibeberapa bagian F
1
-F
13
dengan beban yang dipusatkan pda titik
beratnya. Setiap daerah diagram dianggap sebagai gaya khayal dan gariselastis
digambarkan sebagai kurva yang mulus. Defleksi maksimum akan terjadi pada
titik potong garis terakhir dengan gaya horizontal atas Hf
| |
com
g f
com lentur
d
g G q
d
y H
o
t t
o o o <
+ +
= =
E
4 32
2
1
3
Tegangan tekan mempunyai nilai yang lebih besar.
Gambar 203c menunjukan distribusi tegangan resultante relatif
terhadap sumbu NN yang digambarkan melalui titik potong arah tegangan
v dan kmasing - masing.
Trunion batang lintang diperiksa terhadap defleksi akibat setengah
dari resultan tekanan P = Hf + V dan tekanan satuannya. Gambar204
menunjukan batang lintang pilar tetap yang terpasang pada bantalan rol.
Bantalan radial bawah. Crane kecil menggunakan bantalan rol dengan
sebuah rol yang dipasang pada sisi tiang lengan. Crane besar diberi dua buah
bantalan rol di bagian depan.Bila memakai pengimbang diberi dua pasang rol
di depan dan dibelakang (gambar 205 ) yang dipasang pada kotak khusus pada
ujung bawah tiang lengan crane. Bila kita menandai Hf untuk tekanan
bantalan horizontal [rumus ( 206 )] dan 2 sudut antara dua buah rol
bantalan (biasanya sama dengan 600) maka gaya yang dikerahkan setiap rol
pada pilar adalah :
o cos 2
f
H
N =
Tergantung pada beban yang ditumpunya, rol terbuat dari baja ataupun besi cor
dengan ukuran yang sekecil mungkin dan harus mempunyai permukaan yang
cembung. Rol harus dapat berputar dengan bebas pada pena yang diikat pada kotak
oleh pemegang. Diameter rol yang diperoleh secara percobaan ialah D2 = ( 2,5
sampai 3 ) d2, dengan d2 dengan d2 diameter pena rol. Pada crane putar untuk
pelayanan berat dengan pilar kisi pendukung bagian bawah didesaian dengan enam
buah rol. Tahanan terhadap perputaran. Momen resistensi akibat gaya gesek relatif
pada sumbu perputaran dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut ;








2
2 1
2
2
1 3 2 2
0
2
0
3
1
2 2
3
2
R
R R
Nk
R
r
xR N r H
r r
r r
V Wa M
f
+
+ + +

= =
Dengan :

1
,
2
dan
3
: Masing masing koefisien gesek bantalan dorong,bantlan
bus atas dan pada pena bantalan rol bawah
k: Koefisien gesek gelinding padabantalan rol bawah
W: Tahanan terhadap putar yang bekerja pada ujung tiang lengan
a: Jangkauan tiang lengan.

Peralatan Pemutar Crane Dengan Meja Putar
Diagram crane dengan meja putar ditunjukkan pada gambar 208.
Pada crane ini berat muatan ditransmisikan pada struktur putar crane melalui
bantalan rol ( perputaran ) pada jalur lingkar yang dipasang padapondasi atau
truk crane. Pada sumbu putar terdapat pilar pusat atau titik pusat yang
dipasang pada bagian crane yang diam. Apabila crane yang bekerja titik putar
pusat ini akan mernahan kedua gaya horizontal dan vertikal.
Tahanan terhadap perputaran. Kasus pertama. Titik pusat grafitasi struktur
putar crane (termasuk muatan),berada diluar lingkaran bantalan (jalur
lingkar). Di sini beban bekerja pada rol depan dan titik putar pusat (titik putar
tersebut mngalami penarikan).
Momen tahanan akibat gaya gesek relatif pada suhu perputaran ialah
0 3 2
2
0
2
3
0
3
1
'
2
) (
3
2
M
R
R
k
d
P P
r r
r r
P W M
s
p a
+
|
.
|

\
|
+ + +

= = |

dengan :
W = tahanan terhadap putaran ujung lengan tiang
a = jangkauan tiang lengan
Pp = gaya reaksi vertikal pada pusat putaran
1 = koefisien gesek pada bantalan dorong pusat puteran
r dan r0 = diameter luar dan dalam bantuan dorong pusat putaran
P2 dan P1= gaya-gaya yang bekerja pada rol perputaran depan
= koefisien gesek luncur pada bus bantalan rol perputaran
d = diameter bus bantalan pada rol perputaran










Gambar 208
K = koefisien gesek gelinding bantalan rol perputran
R = jari-jari rol perputaran
Rs = jari-jari jalur lingkar
= faktor yang memperhitungkan tambahan akibat
gesekan pada nap (untuk rol)
atau akibat luncuran lateral rol pada jalur (untuk rol silindris),
diambil sama dengan 1,2-1,3.
M0 = momen gesek tambahan yang didapat dengan
rumus (206).
Reaksi pada pusat putaran Pp dan gaya yang dikerahkan pada
rol perputaran P2 dan P3 (dengan mengabaikan tekanan angin)
dapat ditentukan dengan rumus :
|
8 1 8 8 1 1
2
( ) (
cos
1
G G Q i G l G Qa
R
P
p
+ + + =
|
) (
cos 2
1
8 8 1 1 3 2
i G l G Qa
R
P P
s
+ = =
|
Di sini :
= setengah sudut antara dua rol yang berurutan
Q = bobot muatan
G1 = bobot struktur putar
G8 = bobot pengimbang, yang lainnya seperti pada gambar 208
Dalam kasus ini pusat putaran akan mengalami tarikan.
Penampang kritis terdapat pada diameter teras ulir pada pusat
putaran. Mur atas dan bawah pada pusat putaran harus
dilengkapi dengan alat pengunci untuk mencegah terlepasnya
mur tersebut. Biasanya jenis ulir ialah jenis ulir gergaji.
Kasus kedua. Titik pusat gravitasi keseluruhan sistem yang
berputar berada di dalam lingkaran bantalan. Di sini beban
diteruskan ke semua rol. Pusat putar tidak mengalami gaya
vertikal. Momen tahanan terhadap perputaran akibat gaya gesek
adalah
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
+ + + =
0 8 1
2
) ( M
R
R
k
d
G G Q M
s
|
Kasus ketiga. Titik pusat gravitasi sistem secara keseluruhan berada di dalam lingkaran
bantalan. Beban ditahan oleh rol di dalam sangkar (gambar 209) yang disusun diantara
dua cincin, yang satu diam dan yang lain dipasang pada struktur putar crane. Pusat
putar titik mengalami gaya vertikal dam momen tahanan terhadap perputaran akibat
gaya gesek adalah
Menentukan momen gesek tambahan M0 di samping momen gesek
di atas, pada ketiga kasus terlibat juga momen gesek tambahan
yang terjadi pada bantalan radial pusat putar. Momen gesek ini
dihasilkan akibat gaya yang ditimbulkan pada puat putar oleh gigi
terakhir penggerak planet mekanisme pemutar dan akibat yang
ditimbulkan bentuk rol struktur putar crane yang tirus tersebut
Cincin gigi berukuran besar pada penggerak planet ini diikat pada
bagian crane yang diam. Roda gigi planet akan berputar
mengelilingi cincin gigi dan memutar crane melalui bantalan
porosnya karena bantalan ini diikat pada meja putar.

0 8 1
' ) ( M
R
R
k G G Q M
s
+ + + = |
Penggerak planet dapat didesain dengan cincin gigi luar maupun dalam. (Gambar
210a).
Pada cincin gigi dalam, gaya horisontal pada bantalan roda gigi penggerak dan pada
pusat putar adalah
pada cincin gigi luar.
(275) . . . . . . . . .

=
E
r R
M
P
pt
258) ( . . . . . . . . . .
+
=
E
r R
M
P
pt
Dengan:
M total tahanan momen terhadap perputaran( untuk gerakan yang
dimaksudkan )
Beban yang tak seragam padarol perputaran tirus akan
mnengasilkan gaya horizontal tambahan yang bekerja pada
pusat putar. Marilah kita tandai Pmaks sebagai gaya
maksimum pada satubuah rol tirus pada sisi muatan dan
sebagai sudutke tirusan rol

(gambar 210b), Maka gaya ini akan menghasilkan komponen
horizontal akibat ketirusan rol sebesar
Tekanan angin hanya dapat diperhitungkan untuk dua rol pada desain
dengan empat buah rol (pada kasus yang paling buruk akibatnya untukl
gaya yang bekerja pada rol) komponen horizontal H dan H kedua rol
lainya ditentukan dengan mengabaikan tekanan angin. Maka, gaya
horizontal yang bekerja pada pusat putar akibat ketirusan rol, akan
sama dengan selisih antara resultan gaya yang bekerja pada pasangan
rol yang berlawanan letaknya:
Ptap = [( H1 + H ) ( H2 + H )] cos
Atau
Ptap = [( Pmaks +P ) - ( Pmin + P )] tan (259)
2
tan
1
o
maks
P H =
Dengan:
Pmaks dan Pmin beban maksimum pada rol bagian depan dan beban minimum
pada rol bagianbelakangdengan memperhitungkan tekanan angin yang
ditentukan oleh rumus (236) dan (264)
P dan P beban pada rol depan dan belakan dengan mengabaikan tekanan angin
sudut ketirusan roler
setengah sudut antara dua rol yang berdekatan
Maka penambahan momen gesek pada pusat putar akan menjadi
Mo = ( Ppt + Ptap ) 2 r2 .(260)
Dengan
2 koefisien gesek pada bantalan radial pusat putar
r2 jari-jari busbantalan titik putar
Momen resitansi terhadap perputaran total (untuk gerakan tunak) adalh jumlah
momen akibat gaya gesek dan momen resistansi terhadap perputaran akibat
angin Mw.
M = M + Mw (261)
Momen akibat tekanan angin dapat ditentukan dengan rumus
Mw = Pw Smuatan a + Pw Scrl1 -PwScreg ..(262)
Dengan
Pw = tekanan angin, dalam kg/m2
Smuatan Scr,,Scw = luas bidang yang mengalami tekanan angin pada muatan,
pada struktur putar crane dan pada pengimbang dalam M2
2. Peralatan perentang dan pendongak
Mekanisme untuk mengubah jangkauan crane dapat dikelompokkan
ke dalam dua kelompok :
mekanisme perentang yang mengubah jangkauna dngan troli yang
bergerak pada girder yang horizontal ataupun miring
mekanisme pendongak yang menaikkan atau menurunkan
tianglengan (boom)
troli dapat digerakkan dengan tenaga daya ataupun dengan tangan
dengan memakai penggerak tali.
Mekanisme perentang. Crane putar rentang dengan jangkauan
yang bervariasi ditunjukan pada gambar 214. troli a membawa tali
atau rantai b yang tidak berujung yang digerakan roda penggerak tali
c atau dengan drum (gaya gesek) ataupun dengan spoket rantai
(dengan pertemuan positif). Roda puli atau spoket diputar oleh roda
operasi d melalui roda gigi dari motor listik terpisah. Tali
pengangakat emembelit roda pulu f pada troli dan roda puli gerak h
pada rumah kait. Salah satu ujung tali pengangkat diikat pada ujung
luar (g) tiang lengan dan ujung lainnya dililitkan pada drum
pengangkat.
Pengangkat merupakan unit yang berdiri sendiri dan dapat tetap
mengangkat beban walaupun troli bergerak ataupun diam.

W = W1 + W2 (272)
Dengan :
W1 dan W2 tahanan pada roda gerak dan pada roda puli tali pengangkat
Tahanan akibat roda gerak troli adalah




Dengan :
Q = bobot muatan
q = bobot takel pendukung muatan
Go = bobot troli ( tidak termasuk bobot takel pendukung muatan )
= koefisien untuk memperhitungkan gesekan pada flens roda gerak
= 1,2 sampai 1,3 untuk bantalan luncur dan = 1,8 untuk bantalan
rol
=koefisien gesekpada bantalan roda
d =diameter garda roda
k = koefisien gesek pada gelinding roda
D = diameter roda

( ) (273) ..... .......... .......... .......... ..........
2
0
1
|
.
|

\
| +
+ + =
D
k d
G q Q W

|
Tahanan pada roda puli tali pengangkat (ketika troli yang dibebani bergerak, roda puli
berputar) adalah W2 = Son - Soff (274)
Gambar 215a menunjukan diagram roda puli untuk tali
pengangkat. Bila kita menganggap Soff = , maka tarikan pada
berbagai titk pada tali akan menjadi:
S2 = Soff ; S3 = S2 ; = Sg
= koefisien roda puli
Tarikan maksimum tali atau rantai untuk memindahkan toil
adalah jumlah yang diakibatkan gerak troli W, tarikan tali S akibat
terdefleksinya tali tersebut dan tahanan roda puli penggerak dan
penuntun.
Tarikan tali aatau rantai f akibat bobot dan defleksinya sendiri f
dapat ditentukan dari keaedaan kesetimbangan momen (Gambar
215b):
Maka

dengan:
qr = bobbot tali atau rantai permeter panjangnya
x = setengah panjang atau rantai yang terdefleksi (nilai maksimum
xmaks akan terjadi ketika troli berada pada salh satu kedudukan ujung.
f = defleksi tali atau rantai yang diizinkan, biasanya diambil sebesar
2
x
x q Sf
r
=
f
x q
S
r
2
2
=
maks
x sampai f
|
.
|

\
|
=
200
1
100
1
dt
d
I M
dyn
e
=
dt
d
I M M M M
si dyn u
e
+ = + =
OPERASI PERALATAN PENGANGKAT SELAMAGERAKAN PERALIHAN
Suatu mekanisme pengangkat mulai beroperasi pada kecepatan tertemtu atau tunak ketika alat operasinya (drum, roda
crane atau rangka) telah mencapai kecepatan yang ditentukan.
Setiap gerakan kerja krane terdiri atas: periode start (percepatan), gerakan yang tunak atau tertentu dan penghentian.
Periode kerja pertama dan terakhir di cirikan oleh gerak peralihan.
1. BEBAN DINAMIK
Bila suatu benda dengan momen inersia I berputar dengan kecepatan sudut yang bervariasi, momen gaya dinamis yang
menyebabkan perubahan kecepatan pada komponen yang berputar ialah :

Dengan d ialah kecepatan sudut
Menurut prinsip dAlembert, momen gaya motor di nyatakan dengan

dt
de
dt
de
2
2
2
/
4
s m kg
g
GD
mp =
2
......
2 2 2
2
2
2
1
2
2
n
n rr
I I I I e e e
e + + + =
Dengan M
u
momen

perlawanan statis di tinjau terhadap poros motor.
Jika motor itu meningkatkan kecepatannya
> 0 dan M
dyn
> 0
Jika motor itu di perlambat kecepatannya
> 0 dan M
dyn
<
dt
0

Istilah momen girasi akan sangat mempermudah pembahasan. Bila m dan G ialah massa dan bobot benda yang berputar
dan adalah jari-jari dan D diameter girasi, maka :
I =
Rumus ini hanya dapat digunakan hanya untuk menganalisis sistem putar tunggal.

Gambar 217 Diagram Mekanisme
Dengan membuat gambar 217 hanta batang penghubung putar saja, kita dapat menyatakan keadaannya dengan
persamaan berikut

Semua persamaan sebelumnya hanya berlaku untuk percepatan dan perlambatan yang konstan, yakni dengan
momen gaya motor yang konstan dan momen gaya rem yang konstan.
Gambar 218 menunjukan momen inersia berbagai komponen putar dan tabel 39 memberikan nilai perkiraan momen inersia kopling.
Momen girasi motor listrik dapat di temukan pada katalognya.
Tabel 39 Nilai Perkiraan Momen Inersia Kopling

Diameter luar, mm
Diameter poros,
mm
Panjang nap, mm Lebar pelek, mm
Berat
kg
Momen inersia, kg, cm/s
2

150 30 120 30 10 0,003
200 40 160 80 20 0,01
250 50 200 100 40 0,03
300 60 240 120 70 0,08
400 70 280 140 140 0,28
500 80 320 160 250 0,78
Tabel 39 Nilai Perkiraan Momen Inersia Kopling
Mekanisme pengangkattidak boleh memiliki lintasan perlambataan lebih dan koefisien pengereman kurang dari nilai yang di tunjukan
dari tabel 40.
Pada mekanisme penjalanan lintasan pengereman yang di tempuh oleh truk atau crane setelah motor di matikan tidak
boleh kurang dari nilaiyang di tunjukan pada tabel 41 (tanpa gelincir pada roda).
Tabel 40 Lintasan Dan Koefisien Pengereman

Jenis Lintasan pengereman, mm Koefisien pengereman,
Ringan ............................... s/120 1,75
Medium ............................. s/100 2,00
Berat .................................. s/80 2,5
000 . 100
2
v
000 . 5
2
v
500 . 2
2
v
000 . 8
2
v
000 . 4
2
v
000 . 2
2
v
Tabel 41 Lintasan Dan Koefisien Pengereman

Koefisien adhesi
Jumlah Roda Yang Di Rem
Semua 50 % 25 %
0,15
0,12
Catatan: s- lintasandalam m yang di tempuh beban per menit

2. Pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Rem Untuk Mekanisme Pengangkat
Momen gaya penuh yang di hasilkan motor ketikan percepatan dapat di cari dengan rumus :
M
mot
= M
st
+ M
dyn

Dua faktor yang harus dipakai sebagai petunjuk untuk penentuan daya motor yang di perlukan secara tepat. Pemanasan dan
beban lebih yang di izinkan. Beban-lebih yang aman dalam jangka waktu singkat pada motor DC tergantung pada percikan bunga
api yang di izinkan pada komutator dan di pilih kira-kira sebesar 200-300% dari momen gaya ternilai, yaitu :
M
rated
=
3 2
max
ke
M
Dengan :
M
rated
momen gaya motor
M
max
gaya maksimum ketika percepatan = M
mot

Lebih-lebih yang aman untuk jangka waktu singkat motor AC dikondisikan oleh momen gaya stal yang akan melebihi
momen gaya maksimum, dapat di pilih kira-kira 1,75 sampai 2 kali momen gaya, yaitu :

Mmaks = (1,75 ke 2) Mrated

Beban lebih yang aman lebih tepat ketika percepatan dapat di lihat pada katalog motor yang bersangkutan.
Pemanasan motor di akibatkan oleh perubahan energi motor yang hilang ketika motor di operasikan. Pemanasan
yang berlebihan dapat merusak isolasi dan mengurangi umur motor atau langsung dapat merusak motor itu. Oleh karena itu, daya
motor di pilih sedemikian rupa sehingga temperatur gulungan dengan insulasi khusus yang tahan terhadap pemanasan yang tidak
boleh melampoui batas aman pada segala kondisi pengoperasian.

3. Efisiensi Penggerak
Data efisiensi mekanisme atau elemennya yang di tunjukan pada buku acuan memberikan nilai maksimum yang sesuai
dengan beban aktualnya. Efisiensinya menurun ketika beban berada di bawah beban aktualnya.
Ada dua jenis kerugian akibat gesekan pada mekanisme dan penggeraknya : konstan (tidak berbeban) tidak tergantung
pada beban, dan variabel yang tergantung pada beban. Kerugian variabel berbanding lurus dengan beban.
Maka salah satu sifat bawaan setiap mesin adalah tuntutan bahwa crane selalu beroperasi pada beban penuh, kalau
tidak ada yang merugikan akan meningkat dengan persentase yang besar terhadap kerja crane yang berguna
4. Memilih Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Pengereman Untuk Mekanisme Penjalan
Momen gaya motor yang di perlukan selama percepatan dan momen gaya rem selama perlambatan pada mekanisme
penjalan truk, troli pengangkut, crane jalan, kantilever, monorel, dan crane lainnya yang bergerak pada rel dapat di tentukan dengan
rumus :
Mbr = Mdyn Mst
akan tetapi untuk mencegah tergelincir pada roda jarak pengereman ini harus di batasi tidak kurang dari nilai yang di tunjukan
pada Tabel 41. dalam nenentukan momen gaya rem terhadap gerak dapat di perhitungkan dengan mengabaikan gesekan pada flens
roda penjalan.
5. pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Rem Untuk Mekanisme Pemutar
Momen gaya yang di perlukan motor selama percepatan dan momen gaya pengereman selama perlambatan untuk
mekanisme pemutar crane di tentukan dengan rumus sama seperti pembahasan yang telah dibahas diatas.
M
st
= M
st
=
q i
M

M
E
= momen resistansi perputaran penuh dengan memperhitungkan tekanan angin.

i = perbandingan transmisi

q = efisiensi penggerak
Bila rem tidak di pasang pada poros motor , momen gaya dinamik Mdyn
di dapatkan dari rumus sebelumnya dan rarus di acu pada poros motor. Daya motor yang
di perlukan pada mekanisme pada pemutar crane dipilih dengan cara yang sama seperti pada mekanisme pengangkat.

6. Pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Pengereman Untuk Mekanisme Perentang Dan Pendongkrak
Bila jangkouan crane di ubah dengan troli yang di gerakan tali, momen gaya motor yang diperlukan selama percepatan
dan momen gaya pengereman selama perlambatan dapat di lihat pada persamaan sebelumnya.
Lintasan pengereman untuk menghentikan troli biasanya di ambil sebesar s ~ 0,25 s/d 0,5 m.
Pada mekanisme pendongkrak momen gaya motor yang diperlukan sewaktu percepatan dan momen gaya
pengereman selama perlambatan ditentukan oleh persamaan yang telah di bahas diatas.
Dalam rumus ini G adalah bobot tiang lengan yang dibebani penuh dan v- kecepatan titik bobot tiang lengan yang
dibebani tersebut pada gerakan tunak.
Motor dan rem mekanisme pendongkrak harus di periksa terhadap kapasitas angkat maksimum pada berbagai
kedudukan tiang lengan.
Daya motor yang diperlukanuntuk mekanisme perentang dan pendongkrak dipilih dengan cara yang sama seperti pada
mekanisme pengangkat.
Dengan troli yang tak dibebani pada jari-jari minimum tetapi dengan arah
yang berlawanan, yaitu




Bila troli yang dibebani penuh berada pada ujung luar tiang lengan, kita
akan mendapatkan reaksi bantalan padaujung tiang lengan sebagai
berikut:
Reaksi vertikal


Reakisi horizontal



Dalam rumus ini
Q ---- bobot muatan yang diangkat
G0 ---- bobot troli
G1 ---- bobot tiang lengan.

( )
g
o o
c
e
a G e G a G Q
G
2
2
0 1 1
+ + +
=
e
e C
G G G Q V + + + =
1 0
( )
1
1 1 0
, ,
1
,
1
h
e G e G a G Q
H H
g Ce
+
= =
Untuk menentukan gaya yang bekerja pada bagian kerangka secara grafis
akibat bobot muatan dan troli (Q + G0), troli yang terbebani penuh harus
diletakkan pada jangkauan maksimum dan beban yang sebenarnya digantikan
dengan bobot Q, yang dipindahkan kesambungan yang terdekat, kemudian
kita dapatkan:





Gaya Q dan G digunakan untuk menggambarkan diagram cremona dan
menentukan gaya yang bekerja pada bagian kerangka akibat bobot muatan dan
troli (gambar 222b)

( )
,
0
,
a a
a
G Q Q

+ =
g C
e G
e
1 1
e G
2
1
G
Diagram untuk menentukan gaya akibat bobot mati tiang lengan ditentukan
dengan cara yang sama (gambar 222c). Karena pada crane ini momen akibat
pengimbang > maka tidak ada tekanan horizontal pada
bantalan akibat bobot tiang lengan.
CRANE DENGAN TIANG LENGAN-PENDONGAK. Marilah kita bahas
dengan memakai contoh, bagian yang berputar dan pendukung crane derek
(gambar 223).
Gaya yan bekerja pada tiang lengan dan tiang vertikal crane ini dapat
ditentukan dengan mudah dengan mamakai metode grafis untuk jari-jari
maksimum (gambar 223a). Bobot tiang lengan horizontal G1 dan tiang
vertikal G2 dipindahkan pada sambungan yang berdekatanp. Bobot Q,
gaya dan tarikan S1 dan S2 digabungkan pada ujung tiang lengan
horizontal menjadi gaya resultante R. gaya resultante R1 dan R2 akibat
tarikan tali S1 dan S2 didistribusikan diantara sambungan bawah dan atas
tiang vertikal sebagai komponen
,
2
, ,
1
,
1
, , R R R
, ,
2
R
2
2
G
2
1
G
Diagram Cremona untuk menentukan tegangan pada bagian kerangka digambar
kan dari gaya R, dan . Dan (pada ujung atas dan bawah).
Tiang lengan dan vertical mengalami tegangan tekan lentur. Kedua tiang
tersebut dibuat dari kayu ataupun profil baja canai. Bila terbuat dari baja canai
tiang tersebut mempunyai penampang persegi yang terdiri atas empat buah
baja siku yang disambung keempat sisinya dengan penampang kisi.
Biasanya tiang vertical Derek (gambar 223b) diikat dengan dua buah kaki
pendukung miring 11 dan 12 pada ujung atas dan dengan dua bagian horizontal
13 dan 14 pada bagian bawah.

Gambar 223. Penyelesaian tiang lengan, vertikal dan batang tulang crane derek
Bila tiang lengan berada pada kedudukan I , kaki 11 dibebani gaya
maksimum


(kaki 12 tidak dibebani). Bila tiang lengan berputar kekiri kedudukan I gaya
yang bekerja pada kaki 11 akan berkurang, sebagian diambil alih oleh kaki
12 yang disini mengalami tegangan tekan.


sin
1
11
H
S
maks
+ = +
( ) 0 = |
sin
1
45 cos
1 12 11
o
H S S + = =
o
90 = |
o
90 > |
o
180 = |
( )

|
sin
0 , 1
sin
1
90 sin
1
1 13
H
H S
o maks
~ =
Pada kedudukan III, bila , kaki II bebas dari bebannya karena kaki 12
akan menahan seluruh gaya horizontal H1. bila kaki II mengalami
tekanan yang akan mencapai nilai maksimum pada kedudukan IV ( )




Diagram polar (gambar 223b) menunjukkan kurva yang menggambarkan
gaya yang bekerja pada kaki II pada kedudukan terujung pada tiang lengan
yang dibatasi sudut . Diagram untuk kaki 12 akan serupa dengan diagram
yang ditunjukkan.
Bagian horizontal 13 dan 14 mengalami tekanan dan tarikan yang
tergantung pada kedudukan tiang lengan . bagian 13 mengalami tegangan
tekan maksimum pada kedudukan I, yaitu dan tegangan tarik
maksimum pada kedudukan IV, yakni,
1
11
H S
maks
=
( )
1 1 13
0 , 1 90 sin + ~ =
o maks
H S |
sin 30 cos 2
1
O
H
S =
Bila pendukung bawah tiang vertical meneruskan reaksi horizontal
bantalan langsung ke pondasi beton, bagian 13 dan 14 dapat ditiadakan.
Dalam hal ini ujung bawah kaki 11 dan 12 (masing-masing terpisah) diikat
dengan baut benam pada pondasi beton. Titik putar atas pada Derek yang
dapat diputar pada satru lingkaran penuh atau kolong bangunan. Bila kita
mengasumsikan keenam buah tali tersebut kukuh dua buah diantaranya
mengalami tegangan maka gaya dikerahkan pada satu buah tali kukuh akan
sama dengan . Tetapi karena tali tersebut miring dengan sudut terhadap
vertical maka tegangan desain yang sebenarnya adalah




Batas keamanan tali yang sebenarnya mengharuskan jumlah tali minimal 5
buah.
3. Struktur Kantilever
Bagian pendukung crane kantilever terdiri atasa dua buah roda penjalan vertikal
yang akan menahan beban akibat bobot crane, troli dan beban hidup dan dua pasang
bantalan nol masing-masing pada bagian atas dan bawah yang akan menahan gaya
reaksi horizontal akibat momen yang akan menyingkirkan crane (gambar 224)
Gambar 224 menunjukkan kerangka crane kantilever dengan troli dalam
dan gambar 225 menunjukkan crane dengan troli luar.
Beban penuh pada penumpu kerangka akan sama dengan (lihat gambar
225) beban bantalan vertikal

Dengan :
Q --- bobot muatan yang diangkat
G
0
--- bobot troli
G
1
--- bobot crane tanpa troli
1 0
G G Q V + + =
Beban bantalan horizontal:

Kerangka krane kantilever dirancang dengan dua buah modifikasi. Dengan troli
dalam atau troli luar (yang bergerak pada batang tepi atas atau bawah).
Beban kontstan pada girder utama rangka (bobot beban mati) terdiri atas
bobotnya sendiri, setengah bobot penopang silang dan setengah bobot struktur
platform dengan lantainya. Setengah bobot batangbobot penopang silang dan lantai
ditahan oleh gireder tambahan (samping)
Gambar 224 Rangka crane kantilever
( )
h
e G a G Q
H H
1 1 0
' ' '
+ +
= =
Pada awalnya bobot girder utama, batang penopang silang, dan lantai
ditentukan dengan metode coba-coba dengan perbandingan desain yang tersedia
Bila beban akibat bobot girder utama adalah G
1
dan jarak ketitik bobotnya
dengan e
1
maka reaksi pada pendukung kerangka adalah:
V = G
1
dan
Dengan mengasumsikan bahwa beban G
1
terdistribusikan seragam
sepanjang girder utama, kita dapat mencari gaya yang bekerja pada sambungan k
1

dan k
2
(gambar 225a). Bila mengetahui gaya-gaya pada sambungan tersebut kita
dapat mencari tegangan pada bagian kerangka akibat bobot girder utama dengan
menggambarkan diagram Cremona (gambar 225a)
h
e
G H
1
1
=
12 STRUKTUR
RANGKA
CRANE
Pada gambar 220b resultante R
1
komponen gaya S dan Q pada ujung luar tiang
lengan ditentukan dengan metode sebelumnya. Tarikan S dan S tali pada
roda puli bagian kerangka tengah 4 akan menghasilkan resultante R
2
yang
bekerja pada ujung bagian rangka 4 sebagai R
2
dan R
2
sebanding dengan
bagian lengan tersebut.Gaya S pada drum diuraikan menjadi gaya yang
bekerja padsa bagian pilar (S dan S). Gaya R
1
, R
2
, dan R
3
digunakan untuk
menggambarkan diagram Cremona dan untuk menentukan tegangan pada
bagian kerangka akibat beban muatan dan tarikan tali.
Gambar 220c menunjukkan diagram tegangan pada bagian kerangka
akibat bobot tiang lengan, dimana diagram ini harus dibuat dengan
skala lebih besar dibandingkan diagram untuk bobot muatan.
Bobot tiang lengan dan akibatnya pada
bagian suprastruktur ditentukan secara
coba-coba.
Tegangan pada bagian kerangka adalah
jumlah beban gaya mati dan beban hidup

Pada crane yang berat dengan mekanisme pemutar yang digerakkan oleh
penggerak daya, efek gaya inersia diperhitungkan dengan mengasumsikan
gaya horisontal sebesar yang bekerja pada ujung tiang lengan. Gaya inersia
ini didukung oleh rangka batang horisontal (Gambar 220d) yang
setengahnya mengalami tekanan tambahan dan bagian lainnya mengalami
tarikan.
CRANE DENGAN TIANG TETAP
Gambar 221 adalah contoh suprastruktur pejal yang sering digunakan untuk
crane pilar putar tanpa pengimbang.
Keunggulan desain ini adalah tersedianya
ruangan yang cukup besar dibawah tiang
lengan.
Girder berbentuk kotak diperkuat pada bagian
yang melengkung dengan pelat dan pada
bagian yang lurus memakai penopang.
Dimensi penampang ditentukan secara coba-
coba.

Tegangan Pada bagian II-II, III-III, IV-IV ditentukan sebagai berikut:Bagian
atas yang miring dianggap terpasang mati (gambar
221b) pada penampang II-II (gambar 221a)
Bobot muatan Q diuraikan menjadi gaya tekan N
1

dan gaya lentur P
1
. Biasanya momen yang
berlawanan dari tarikan tali S diabaikan.
Pada kedua nilai tersebut ditambah gaya tekan N
2

dan gaya lentur P
2
akibat bobot suprastruktur G
2


Momen lentur (faktor koreksi dinamik diabaikan)
M
II
= P
1
C
1
+ P
2
C
2
(307)
Gaya normal
N
II =
N
1
+ N
2
+ S (308)
Resultante tegangan satuan (tanpa gaya geser)
(309)
dengan:
W
2
dan F
2
momen resistensi dan luas penampang pada bidang II-II
(diagram tegangan, gambar 211c)
Tegangan geser satuan
(310)

Gambar 221 diagram untuk menyelesaikan suprastruktur pejal untuk
crane putar

Tegangan satuan dengan memperhitungkan tegangan geser
(311)
Penghitungan tegangan pada bagian tengah yang melengkung pada
penampang III-III (gambar 221a) dibuat seperti batang lengkung.
Momen lentur M
III
= Qa + G
1
e
1
. Gaya normal N
III
= Q + G
1
. Resultante
tegangan satuan pada bagian terluar dan terdalam serat penampang
tersebut ialah
(312)

dengan :
r = jari-jari kelengkungan batang (Gambar 221d).
Biasanya nilai x ditentukan dengan metode grafis. Tanda + pada
persamaan (312) dipakai untuk serat penampang terluar, dan tanda
dipakai pada serat penampang yang terdalam. Tegangan satuan
bervariasi menurut suatu hiperbola (gambar 221d).

Pada penampang IV-IV pada bagian bawah yang lurus (gambar 221a)
momen M
IV
= M
III
Gaya normal N
IV
= N
III
, Resultante tegangan
satuannya adalah
(313)
Semua penampang dibawah penampang IV-IV hanya mengalami lenturan.
Diagram momen lentur batang tersebut digambarkan pada gambar
221e dan diagram tegangan pada gambar 221f.


2. SUPRASTRUKTUR CRANE PUTAR BENTANG DAN CRANE LENGAN-PENDONGAK
Crane Bentang dengan Troli.
Gambar 222a menunjukkan Diagram crane batang yang dapat diputar dalam suatu
lingkaran penuh yang mempunyai troli gerak.
Crane ini diberi pengimbang untuk mengurangi gaya reaksi horisontal pada
pendukungnya.
Besarnya pengimbang G
cw
harus dibuat sedemikian rupa sehingga gaya reaksi horisontal
bantalan dengan troli yang terbebani penuh pada jarijari maksimum bernilai sama


Gambar 222 penyelesaian secara grafik suprastruktur crane putar batang yang
jangkauannya dapat diubah dengan troli

Momen Lentur dan gaya lateral akibat beban konstan. Bila L adalah
bentangan girder memanjang utama, dalam meter; G-bobot
girder tersebut, yakni beban konstan, dalam ton, yang
terdistribusi seragam sepanjang bentangan; q- bobot mati, dalam
ton per meter panjang, momen lentur pada jarak x dari penumpu
sebelah kiri akibat bobot mati adalah

M
q
= = ton m (321)

Momen lentur maximum bila adalah

M
q
maks
= ton m
(322)

Kurva momen lentur akan merupakan suatu parabola yang digambarkan
sepanjang L dengan ordinat maksimum M
q
maks
(Gambar 228b).
Gaya lateral pada jarak x dari penumpu kiri adalah
ton

Gaya lateral maksimum pada sebelah kanan atau kiri penumpu x = 0 akan sama
dengan
ton
Kurva gaya lateral ditunjukan pada gambar 228e.

Momen lentur dan gaya lateral akbat beban gerak (troli dan muatan). Bila
bobot troli berbeban didistribusikan seragam pada rodanya, maka
beban pada satu roda adalah dengan Q-bobot muatan yang
diangkat dan G
o
-bobot troli.
Dapat diasumsikan dalam hal ini bahwa girder pelat menahan dua buah
beban P yang identik yang terpisah sejauh b (Gambar 228a). Maka
momen lentur pada penumpu di bawah roda sebelah kiri, yang
ditempatkan pada jarak x dari penumpu kiri ialah

ton-m
(325)

Momen lentur maksimum akan terjadi pada penampang yang berjarak
dari bagian tengah bentangan gider pelat tersebut

ton-m
(326)

Momen lentur didistribusikan dengan bentuk parabola dengan ordinat terbesar
pada panjang (Gambar 228c). Kurva momen untuk kedudukan
beban yang paling tidak menguntungkan adalah 0-1-2-3; yang didapat
dengan menggambarkan dua kurva momen akibat gerak beban dari kiri ke
kanan dan dari kanan ke kiri.
Momen lentur maksimum berkurang bila jarak antara roda bertambah. Bila jarak
antar roda (misalnya, pada troli tangan) kecil dibandingkan bentangan, kita
dapat mengasumsikan dengan cukup akurat untuk penggunaan praktis
bahwa b = 0 dan


Gambar 228 Kurva momen dan gaya lateral girder pelat
Bila roda troli diberi beban berbeda, dapat diasumsikan bahwa dua beban P
1

dan P
2
yang berlainan akan bergerak sepanjang girder; maka
V = P
1
+ P
2
merupakan resultante kesua gaya yang berkerja pada roda dan

dan


Dalam hal ini momen lentur pada daerah dibawah roda, pada jarak x dari
penumpu kiri adalah

ton-m (327)

Momen lentur maksimum akibatbeban P
1
pada jarak dari titik tengah
girder ialah
ton-m (328)
Persamaan ini merupakan persamaan parabola yang digambarkan
sepanjang (L b
1
) dengan ordinat maksimum
Momen pada daerah dibawah beban P
2
pada jarak x dari penumpu
kanan ditentukan dengan cara yang sama sepeti diatas, yakni

ton-m (329)
dan

ton-m (330)


Persamaan (330) merupakan parabola sepanjang dengan ordinat
Untuk beban yang sama P dan P gaya lateral pada jarak x dari penumpu kiri
ialah (Gambar 228f)

ton (331)

Bila x = 0gaya lateral maksimum pada penumpu kiri ialah

ton (332)

Gaya lateral pada jarak dari penumpu kiri ialah

ton (333)

Dengan beban P
1
dan P
2
gaya lateral pada jarak x akan sama dengan

ton (334)

Bila x = 0
ton (335)

Gaya lateral pada jarak dari penumpu kiri ialah


Bila kita menambahkan kedua kurva momen akibat aksi beban mati (Gambar
228b) dan beban gerak (Gambar 228c) kita akan mendapatkan momen
resultan (Gambar 228a) daerah yang diarsir. Dengan mengalikan
momen perlawanan pada berbagai penampang girder utama dengan
tegangan amannya kita akan mendapatkan kurva yang menggambarkan
kekuatan girder (kurva momen aman) garis kontur pada gambar 228d.
Diagram resultante gaya lateral ditunjukkan pada gambar 228g.
Gambar 229 menunjukkan diagram momen dan untuk girder
memanjang utama crane jalan dengan kapasitas angkat mulai 5 sampai
50 ton dan bentangan mulai 10 sampai 30 meter.
Tegangan Satuan akibat Momen Lentur
(a) Akibat beban utama

(336)

Tegangan satuan akibat momen lentur
a) Akibat beban utama
b) Akibat beban utama dan tambahan

Tegangan Satuan akibat gaya lateral
a) Akibat beban utama
b) Akibat beban utama dan beban tambahan
Notasi berikut digunakan pada rumus sebelumnya:
= tegangan lentur normal sebenarnya (lentur) dalam kg/cm
2

=tegangan satuan tangensial yang sebenarnya (geser) dalam kg/cm
2

dan = tegangan satuna aman untuk lentur dan geser dalam kg/cm
2

=koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban konstan
=koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban konstan
=momen netto pad setiap penampang (tanpa lubang paku keling)
=jumlah momen lentur pada penampang akibat beban tambahan
=momen statis total pada setiap bagian penampang (tanpa lubang
paku keling)
=tebal dinding pada setiap penampang
I
gr
=momen inersia total ditinjau dari sumbu utama
=jumlah gaya lateral pada setiap penampang akibat beban tambahan.

Gambar 229 kuva untuk memperkirakan momen maksimum akibat beban konstan
Tabel 4.2 Koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban diam
Tabel 4.3 Koefisiensi dinamik untuk gaya pada beban berjalan
Deformasi Defleksi Girder.Defleksi girder utama yang berlebihan akan menyebabkan
seluruh jembatan bergetar dan berpengaruh besar pada operasi crane.
Untuk menjaga defleksi dalam batas aman, girder memanjang utama harus cukup
tinggi dan emiliki momen inersia yang memadai.
Pada girder dengan momen inersia yang konstan 1 cm
4
, defleksi maksimum akibat
bobotnya sendiri (gambar 230) ialah:
Gambar 230 Diagram untuk menghitung defleksi girder utama crane jalan
dengan:
G = bobot girder, dalam kg
E2.200.200 kg/cm
2
Modulus elastisitas.
Defleksi akibat beban gerak dapat ditentukan berdasarkan asumsi bahwa dua beban
P dan P (beban pada roda troli berbeban) ditempatkan secara simetris pada bagian
tengah crane(gambar 230). Maka kita akan mendapatkan defleksi dengan ketelitian
yang memadai

Defleksi total adalah
memeriksa kekuatan flens bawah pada jalur monorel. Pada crane jalan girder tunggal,
pengangkat yang digerakkan tangan ataupun daya sering didesain untuk pada batang
canai-I.

Dalam hal ini momen lentur persatuan panjang ialah:
M = 0,51 P
Dengan
P = gaya yang ditimbulkan oleh roda yang pada desain dengan empat
roda akan sebesar:
P =
Dengan
Go = bobot pengangkat yang dapat bergerak
Q = kapasitas angkat
Dengan menandai tebal flens dengan t, momen penampang (per satuan
panjang) ialah sebesar
W = =

Gambar 231 Flens bawah batang canai-I

Tegangan pada flens akan menjadi


K koefisien yang memperhitungkan lubang pada lantai ~ 0,5.
Biasanya lebar lantai dioambil sebesar 800; 1.000; 12.000 .
5) bobot penopang silang G cr-br ~ 1/30 G utama;
6) bobot mekanisme penjalan G mech = 700 sampai 1.300 untuik crane dangan
kapasitas angkat sampai 30 ton;
7) bobot kabin operator dengan peralatan elektriknya dan bobot operator itu
sendiri Gcab ~ 1.000 sampai 1.500 kg

Maka bobot total rangka batang utama akibat beberan konstan ialah :


G = G
utama
+ G
hor
+ (G
pt
+ G
ft
) + G
cr-br
+ G
mech
+ G
cub

(344)

dan beban yang dcitahan oleh tiap-tiap sambungan atau titik panel rangka ialah

G
K =
(345)
n - 1

dengan n jumlah sambungan
Untuk menentukan tegangan pada anggota rangka susun akibat beban konstan
digunakan diagram Cremona ( gambar 234 )
Tegangan pada bagian rangka batang a.kibat beban gerak.
Beban gerak menyebabkan batang tepi atas girder utama mengalami tekanan
dan batang tepi baewah mengalami tarikan. Tergantung pada kedudukan
troli batang diagonal dapat mengalami tarikan maupun tekanan.

Gambar 235 ditujukan untuk menentukan tegangan maksimum pada bagian
girder utama akibat beban gerak .
Momen maksimum , M = P y
1
+ P
2
y
2
(346)
Tegangan pada batang tepi ditentukan dengan membagi momen pada
sambungan yang berlawanan dengan segitiga rangka batang pada jarak
terpendek antara batang ke sambungan

M
iv

S
4
= (347)
h
Gaya lateral akan sama dengan T = P y
1
+ P
2
y
2

(348)

Metode yang sama digunakan untuk mencari gaya lateral pada sambungan lainya.
Tegangan pada penopang yang miring ditentukan dengan bantuan diagram Cremona
yang digambarkan untuk rangka batang bila reaksi tumpukan kiri A = 1 ton
Untuk ini sambungan yang tepat disebelahkanannya juga dibebani yang sesuai.
Tegangan pada penopang tulang miring adalah



(248)

Dengan :
F Tegangan pada penopang tulang miring yang didapatkan dari diagram cremona untuk
A=1
T gaya lateral pada titik sambungan (yang paling buruk pengaruhnya).

Beban roda troli hanya menghasilkan tegangan tekan pada batang vertikal. Jika b =
atau b> (lihat gambar 232a), maka tegangan pada batang vertikal adalah S = P1 ;
Jika b < maka

(350)
Nilai tegangan pada bagian akibat beban gerak kemudian dituliskan pada suatu kolom
dalam tabel ringkasan perhitungan masing-masing.
Tegangan Tambahan Pada Bagian Rangka Akibat Pengereman Crane. Batang tepi
atas mengalami juga gaya lentur pada batang horizontal akibat gaya pengereman
bagian gerak crane bermuatan. Gaya akibat inersia komponen crane akan mencapai
maksimum bila roda perjalan crane secara tiba-tiba.

Jika bobot muatan yang diangkat adalah Q, bobot troli adalah G
0
, bobot crane (tanpa
troli) dengan G, dalam kg, percepatan gravitasi adalah g (g=9.81 m/s2) dan koifisien
gesek antara roda perjalan dan rel adalah ( 0,2) dan jika setengah dari roda
crane direm kita akan mendapatkan



Dengan perlambatan adalah
Gaya inersia massa troli yang bekerja pada rangka batang pada bidang horizontal akan
sama dengan
(351)

Karena gaya ini ditransmisikan ke rel pada girder utama, setiap batang-tepi atas dan
rangka pengaku horizontalnya (melalui penipang slang) akan menahan setengah dari
gaya inersia tersebut. Momen letur maksimum akan terjadi pada jarak dari bagian
tengah bentangan crane. Persamaan momen [rumus (326)] harus ditambah dengan
nilai gaya horizontal yang bekerja pada satu roda satu rangka batang.

Maka momen lentur horizontal maksimum adalah

(352)
Tegangan Satuan pada Bagian Rangka Batang
Pemeriksaan terhadap tekanan atau tarikan
a. akibat kerja beban utama
(353)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan
(354)

Pemeriksaan terhadap stabilitas (tertekan)
a. akibat kerja beban utama
(355)

b. akibat kerja beban utama dan tambahan

(356)
Pemeriksaan terhadap lenturan dan tekanan lateral :
a. akibat kerja beban utama
(357)
(357)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan
(358)

Pemeriksaan terhadap stabilitas :
a. Akibat kerja beban utama

(359)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan

(360)
Dalam memeriksa stabilitas (lenturan akibat tekanan aksial) nilai
koefisien diambil untuk kefleksibelan bagian yang berada dalam
bidang lentur dari Tabel 44.
Kefleksibelan batang didapat dengan menggunakan rumus

(361)

Tabel 44 Koefisien yang mengurangi tegangan aman dalam lenturan akibat
tekanan aksial bagian rangka batang yang terbebani terpusat

Dengan
I
gr
= momen inersia total penampang bagian
F
gr
= luas penampang bagian
L = luas bagian
Kefleksibelan batang tidak boleh melebihi :
a) 120 untuk bagian yang merupakan batang tepi dan penopang ujung
rangka batang yang mengalami tekanan;
b) 150 untuk bagian lain rangka batang utama yang mengalami tekanan
dan untuk batang tepi yang mengalami tekanan;
c) 200 untuk batang lain rangka batang utama dalam yang mengalami
tarikan;
d) 200 untuk batang dari rangka batang tambahan yang mengalami
tekanan;
e) 250 untuk batang lain rangka batang tambahan.


Gambar 237 Diagram momen akibat lenturan setempat pada batang tepi
atas yang dihasilkan oleh oda troli yang bermuatan

Tanda-tanda yang diguanakan rumus (253) sampai (360) ialah sebagai berikut :
= koefisien dinamik untuk gaya akibat beban konstan (lihat Tabel 42)
S
q
= gaya akibat beban konstan
= koefisien gay dinamik akibat beban gerak (lihat Tabel 43)
S
p
= gaya akibat beban gerak
S
p
= gaya akibat beban gerak
M
p
= momen lentur akibat lenturan setempat pada batang tepi atas yang
diakibatkan oleh roda troli yang bermuatan (Gambar 237)

(362)
F
net
= luas penampang netto bagian (tanpa lubang paku keling)
F
gr
= luas daerah gross bagian (dengan lubang paku keling)
W
net
= momen penampang bagian netto
W
gr
= momen penampang bagian gross
S
add
= jumlah gaya akibat beban tambahan
M
add
= jumlah momen akibat beban tambahan
[o] = tegangan aman

Beban tambahan akibat pengereman crane ditahan oleh penampang
(Gambar238) atau rangka batang horisontal yang terletak diantara ranga
batang utamadan rangka batang sisi (Gambar 239). Jika (tanpa rangka
batang horisontal) lantai plat baja dianggap menahan gaya ini maka
tegangan pada bidang horisontal pada bagian terluar dapat ditentukan
dengan persamaan momen (352).


Gambar 238 Diagram untuk menyelesaikan batang tepi atas dari rangka
batang berlantai

Gambar 239 Menentukan tegangan pada bagian rangka batang horisontal
akibat pereman crane

Momen perlawanan (Gambar 238) adalah


Karena lantai plat baja tersebut dilubangi maka penampang yang berguna
hanya dianggap 50 persen saja.

Tergantung pada arah gerak crane tegangan pada bidang horisontal berubah-
ubah dari tegangan tarik menjadi tegangan tekan dan sebaliknya. Jika gaya
inersia komponen ditahan oleh rangka batng horisontal (Gambar 239) kita
harus mendistribusikan beban pada rodatroli P
dalam
ketitik sambungan yang
berdekatan, tentukan gaya reaksi horisontal H
1
dan H
2
dan menggambarkan
diagram Cremona (Gambar 239). Diagram Cremona ini dipergunakan untuk
mencari tegangan tambahan pada bagian-bagian batang tepi atas
yangmerupakan tegangan sekat untuk arah gerak crane diatas tersebut.
Tegangan tambahan ditambah F
net
maksimum akibat gaya tekan
vertikal untuk mendapatkan [lihat rumus (354) sampai (360)] tegangan
maksimum pada batang tepi atas (batang tepi bawah hanya mengalami
tarikan).
Defleksi Batang dan Lengkungannya. Seperti yang telah diterangkan
sebelumnya, defleksi rangka batang akibat muatan maksimum yang diangkat
dan bobot troli tidak boleh melebihi o < L dengan L-panjang bentangan
rangka batang.
Defleksi kisi rangka batang jembatan jalan dapat ditentukan sampai ketelitian 10
persen dengan rumus

(363)
Dengan :
M = momen desain akibat beban gerak, dalam kg-cm
L = panjang betangan dalam cm

Tergantung pada arah gerak crane tegangan pada bidang horisontal berubah-
ubah dari tegangan tarik menjadi tegangan tekan dan sebaliknya. Jika gaya
inersia komponen ditahan oleh rangka batng horisontal (Gambar 239) kita
harus mendistribusikan beban pada rodatroli P
dalam
ketitik sambungan yang
berdekatan, tentukan gaya reaksi horisontal H
1
dan H
2
dan menggambarkan
diagram Cremona (Gambar 239). Diagram Cremona ini dipergunakan untuk
mencari tegangan tambahan pada bagian-bagian batang tepi atas
yangmerupakan tegangan sekat untuk arah gerak crane diatas tersebut.
Tegangan tambahan ditambah F
net
maksimum akibat gaya tekan
vertikal untuk mendapatkan [lihat rumus (354) sampai (360)] tegangan
maksimum pada batang tepi atas (batang tepi bawah hanya mengalami
tarikan).
Defleksi Batang dan Lengkungannya. Seperti yang telah diterangkan
sebelumnya, defleksi rangka batang akibat muatan maksimum yang diangkat
dan bobot troli tidak boleh melebihi o < L dengan L-panjang bentangan
rangka batang.
Defleksi kisi rangka batang jembatan jalan dapat ditentukan sampai ketelitian 10
persen dengan rumus

(363)
Dengan :
M = momen desain akibat beban gerak, dalam kg-cm
L = panjang betangan dalam cm


Dengan :
h = tinggi rangka batang, dalam cm
F
atas
= luas penampang gross batang tepi atas, dalam cm
2

F
bawah
= luas penampang lintang gross batang tepi bawah, dalam cm
2

c = modulus elastisitas
1,2 = koefisien yang diperhitungkan deformasi batang penopang miring
Kadang-kadang yang disebut dengan kelengkungan (kembar) dipasangkan
pada jaringan rangka batang untuk memberi pratarikan pada bagian batang
tersebut. Biasanya kelengkungan pada titik sambungan tengah diambil sama
dengan defleksi amannya. Biasanya kelengkungan pada sambungan lainnya
mengikuti fungsi parabola.
Marilah kita bahas dengan memakai contohrangka batang crane jalan elektrik
(Gambar 240) dengan karakteristik berikut : bentang L = 24.000 mm, jumlah
panel n = 10, panjang panel = 2.400 mm, tinggi rangka h = 2.400 mm,
kelengkungan maksimum f
maks
= 24 mm =

Gambar 240 Penentuan kelengkungan rangka batang secara grafis

Gambar 242 Penyelesaian Secara Grafis Rangka Batang Kisi
Tabel 45 Momen gaya Lateral akibat Beban Gerak
Dengan M
p
= P
1
= 1.800 = 37.500 kg-cm dan = 0,87
= = = 55
Perhitungan sebelumnya memperbolehkan penggunaan dua batang
kanal No. 12 untuk
batang-tepi atas rangka.
Batang-tepi bawah (batang 13 dan 19 dua batang siku 60 x 60 x 8 mm)
Tegangan satuan batang pada batang-tepi bawah adalah
= = = 107 kg / cm
2

Dengan M
p
= P
1
= 1.800 = 37.500 kg-cm dan = 0,87
= = = 55
Perhitungan sebelumnya memperbolehkan penggunaan dua batang
kanal No. 12 untuk batang-tepi atas rangka.
Batang-tepi bawah (batang 13 dan 19 dua batang siku 60 x 60 x 8 mm)
Tegangan satuan batang pada batang-tepi bawah adalah
= = = 107 kg / cm
2


Dengan :
F
net
= 0,85 F
gr
= 0,85 x 9,03 x 2 = 15,35 (dengan
memperhitungkan
berkurangnya kekuatan akibat lubang paku keling).
Penampang miring (batang 6-dua batang siku 50 x
50 x 6 mm).
Tegangan satuan pada penopang miring adalah :

= = =
1.180 kg / cm
2


Dengan : = 0,45
= = = 120

Tabel 46 Tabel Ringkas hasil Perhitungan
Batang penumpu ujung terbuat dari dua batang siku 50 x 50 x 6 mm karena
tegangannya tidak melebihi tegangan pada penopang miring tersebut.
Tegangan satuan pada bagian rangka batang utama cukup aman untuk baja CT
2.
Gambar 424e menunjukkan diagram Cremona untuk menyelesaikan rangka
batang sisi dan Gambar 242d untuk rangka horisontal. Nilai tegangan pada
rangka-rangka ini diringkas pada Tabel 46.
4. Defleksi pada rangka batang utama akibat beban gerak [rumus (363)]
adalah

= = = 0,9 cm

Momen akibat beban gerak akan sama dengan

M = = = 1.265.000 kg-cm

Dan momen inersia kedua batang-tepi rangka batang adalah

Im = = = 2,14 cm

Menurut kaidah keteknikan, defleksi tidak boleh melebihi

= = = 2,14

Maka, defleksi = 0,9 cm yang kita dapatkan sangat diizinkan.

ELEVATOR

1. ELEVATOR SANGKAR
Elevator sangkar juga disebut lift ditujukan untuk mengangkat barang dan penumpang secara vertikal
didalam sangkar yang bergerak pada rel penuntun tetap. Lift banyak digunakan pada industri, toserba dan rumah
tinggal.
Lift diklasifikasikan menjadi lift untuk penumpang dan lift untuk barang. Kemudian lift barang terbagi lagi
menjadi elevator barang, elevator barangdan penumpang (memakai operator) dan elevator barang pelayanan
ringan(untuk perusahaan makanan dan komersial). Jenis penggerak yang digunakan membagi elevator menjadi elevator
elektrik (lihat gambar 249 dan 250), hidrolik dan yang dioperasikan tangan (gambar 251). Elevator yang digerakkan
elektriklah yang paling banyak digunakan.
Kecepatan tempuh lift barang berkisar mulai 0,1 sampai 1,5 m/detik. Lift penumpang biasa bergerak
dengan kecepatan 0,5 sampai 3,5 m/detik.
Biasanya lift penumpang tersedia mulai kapasitas 0,25 sampai 1 ton; lift barang menangani 0,25 sampai 15 ton,
sedangkan lift barang pelayanan ringan mulai 50 sampai 100 kg.
Lift sangkar elektrik mempunyai bagian-bagian utama sebagai berikut (gambar 249): sangkar atau kerata,
rel penuntun swatumpu, lorong lift, penyeimbang, peralatan penggantung, mesin pengangkat, alat pengamanan dan
kendali elektrik.
Sangkar atau kereta berfungsi untuk barang atau penumpang. Elevator penumpang dapat mempunyai
bobot kira-kira sebagai berikut:
Kapasitas (jumlah
penumpang)
2 3 4 5 6
Bobot sangkar, kg 250 275 300 350 400


Gambar 249
Bobot sangkar elevator barang dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut:
Gsangkar = 300 + 100F untuk Q = 500 kg
Gsangkar = 300 + 125F untuk Q = 1000 kg
Gsangkar = 300 + 150F untuk Q = 1500 kg
Dengan :
F : luas lantai, dalam m dan
Q : kapasitas, dalam kg

Rangka sangkar barang dibuat dari kanal dan besi siku sedangkan dinding dan lantai dari kayu atau
pelat besi anti gelincir. Sangkar tersebut cukup kokoh untuk menahan deformasi akibat beban kejut yang mungkin
timbul ketika pemuatan. Salah satu desain sangkar tanpa daun pintu ditunjukkan oleh gambar 252.

Gambar 252
Ukuran sangkar lift dipilih berdasarkan tekanan satuan yang dikerjakan pada lantai.


F
Q
q =

Untuk muatan berukuran kecil q diambil mulai 200 sampai 300 kg/cm, dalam hal ini luas lantai tidak boleh kurang
dari 1 meter persegi.

Alat penuntun. Sangkar atau kereta, bergerak didalam lorong pada rel penuntun yang terpasang tetap.
Gambar 253 menunjukkan berbagai desain rel penuntun:
(a)penuntun konvr\ensional untukelevator barang yang terdiri atas dua buah besi siku yang bergeser sepanjang rel kayu
persegi.
(b)Penuntun untuk lift penumpang dengan pegas ulir yang menekan ujung batang penuntun pada rel.
(c)penuntun berengsel untuk rel T- khusus.
Rel atau batang penuntun terbuat dari batang baja canai profil (siku, T, T-ganda) atau batang kayu dan diikat pada
kedua sisi lorong lift yang berlawanan.
Rel harus diberi pelumas gemuk secara teratur. Kerugian akibat gesekan pada rel penuntun diambil sebesar 5
sampai 10% dari bobot komponen gerak. Gambar 254a sampai menunjukkan cara pemasangan rel penuntun rangka
lorong lift atau dinding gedung.
Dalam mendesain rel penuntun dan cara pemasanganya harus diingat bahwa selama lift bertaut dengan penahan
pengaman, bila tali terputus, disamping bobot sangkat yang bermuatan, rel juga harus menahan benturan yang
diakibatkan penyerapan energi kinetik sangkar yang jatuh. Semakin kecil l;intasan pengereman sangkar ketika
perlambatan, akan semakin besar gaya yang timbul dari benturan. Energi kinetik akibat bobot sangkar G dengan muatan
Q adalah :

2
2
2 2
v
g
G Q
mv
sangkar
+
=
Dengan :
V = kecepatan tempuh, dakam m/detik
G = percepatan gravitasi sebesar g = 9,81 m/detik

Lintasan pengereman dianggap sebesar 5 10 cm. Perhitungan didasarkan pada anggapan bahwa pertautan
antara penahan pengaman dengan rel mengakibatkan gaya pada setiap rel sepanjang liantasan s yang meningkat
mulai 0 sampai Rmaks (dengan dua rel) sepanjang lintasan s adalah x 2Rmaks s.
Persamaan umum kerja dapat ditrulis sebagai berikut :

2 2
2
1
) (
2
2
maks sangkar
sangkar
R s G Q v
g
G Q
= + +
+
Maka gaya yang bekerja sepanjang satu rel penuntun adalah :

) (
2
1
2
sangkar maks
G Q
gs
v
R +
|
|
.
|

\
|
+ =
Lorong elevator. Lorong adalah ruangan tempat sangkat lift bergerak. Disamping sangkar lorong tersebut berisi rel
penuntun, pengimbang, roda puli tali dan mesin pengangkat.
Rangka lorong baik untuk elevator penumpang maupun barang dapat didesain dalam bentuk yang beragam demikian
juga bahanyang digunakannya. Akan tetapi pada dasarnya, lorong harus memiliki kekuatan yang memadai, pencegahan
terhadap bahaya kebakaran dan mempunyai keamanan yang umum. Gambar 255 menunjukkan rangka lorong elevator
barang yang terbuat dari logam.



Gambar 255



Pengimbang elevator. Untuk menghilangkan beban pada mesin pengangkat, bobot sangkar diimbangi dengan
bebantambahan pengimbang yang dihubungkan dengan tali padaswangkar (gambar 256a), dengan drum mesin
pengangkat (gambar 256b) atau pada kedua secara bersamaan (gambar 256d).





Gambar 256

Biasanya bobot pengibang yang ditunjukkan pada diagram gambar 256a, b, c dan d dianggap sama dengan
bobot sangkar ditambah 0,4 sdsampai 0,4 dari muatan maksimum, yaitu :
Gsangkar = Gsangkar + 0,5Q
Bila kita menandai kerja yang haruas dilakukan dalam menaikan dan menurunkan sangkar bermuatan
ataupun kosong (dengan mengabaikan kerugian-kerugian) dengan P dan dengan mempertimbangkam pengimbang sesuai
rumus (377), maka usaha ini akan sama dengan
Untuk menaikan sangkar bermuatan P = +0.5Q
Untuk menurunkan sangkar bermuatan P = +0.5Q
Untuk menaikan sangkar kosong P = +0.5Q
Untuk menurunkan sangkar kosong P = +0.5Q



Gambar 257
Peralatan penggantung. Tali kawat pintalan sejajar atau silang merupakan perabot pengangkat fleksibel
yang menggantung sangkar.
Untuk mengefektifkan penggunaan tali yang berdiameter lebih kecil, sangkar dan pengimbang digantungkan dengan dua,
empat atau enam tuas tali. Distribusi beban yang seragam pada semua tali didapat dengan menggunakan batang silang
penggantung jenis tuas, seperti ditunjukkan pada gambar 258a.
Mesin pengangkat dengan roda puli penggerak sering menggunakan penggantung tali terpisah berpegas
(gambar 258b) akan tetapi, sulit untuk mendapatkan beban pada seluruh tali dengan menggunakan metode ini.



Gambar 258

Mesin pengangkat elevator. Elevator sangkar menggunakan mesin pengangkat jenis drum dan roda puli
penggerak. Mesin ini lebih luas penggunaanya karena dapat digunakan untuk mengangkat pada segala macam
ketinggian dan ukuran yang lebih kompak.
Penggunaan mesin pengangkat jenis penggerakpada puli ini telah mengurangi kecepatan secara drastis
akibat tali putus.
Mesin pengangkat jenis drum yang ditunjukan untuk elevator sangkar berada dengan mesin pengangkat
serba guna terutama yang ukurannya jauh lebih kecil dan adanya alat pengaman khusus.
Mesin pengangkat roda puli untuk lift penumpang ditunjukkan pada gambar 259. Mesin ini menggunakan
rem sepatu ganda yang dikendalikan oleh elektromegnet gambar260.

Gambar 259

Gambar 260

Gambar 261

Sifat spesifik desain mesin pengangkat penggerak roda puli. Umur roda puli yang diinginkan merupakan dasar untuk
mendapatkan nilai aman tekanan satuan antara tali dan alur roda puli. Alur roda puli akan hilang fungsinya karena
pengikisan pada dinding alur yang tergantung pada gelincir dan gerak elastis tali. Semakin besar kecepatan gerak tali dan
semakin besar jumlah siklus kerja elevator per satuan waktu,dan semakin besar keausan yang terjadi.
Pada elevator yang mesin penggeraknya diletakan pada lantai atas (mesin dengan penggerak roda puli) nilai numerik
percepatan dan perlambatan yang diizinkan (a) ditentukan dan ditetapkan dengan percobaan. Nilai berikut dapat dipakai
sebagai nilai rata-rata :

V, m/detik. 0,75 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5
A, m/detik. 0,65 0,85 1,15 1,4 1,65 1,88 2,1

Perbandingan
off
on
S
S
ketika periode dan perlambatan dapat dinyatakan secara perkiraan dengan rumus berikut :

|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

+
|
|
.
|

\
|
off
on
off
on
S
S
a g
a g
S
S


Dengan :
G = percepatan gravitasi
Son = tegangan pada bagian tali yang masuk
Soff = tegangan pada bagian tali yang keluar

Alat pengaman elevator. Sangkar semua elevator harus dilengkapi dengan alat pengaman khusus yaitu penahan yang
akan menghentikan sangkar secara otomatis bila tali putus atau kendur.
Penahan akan menghentikan sangkar bila satu buah tali atau semuanya putus secara bersamaan, bila satu tali
dibebani lebih dari tali lainnya, bila tali kendudr pada saat bersamaan, dan bila kecepatan penurunan menjadi terlalu besar.
Biasanya penahan beroprasi dengan day yang diberikan oleh pegas, bobot sangkar itu sendiri atau bobot pengimbang atau
gaya udara bertekanan.
Gambar 263

2. PENGANGKAT PENGGERAK UDARA MAMPU JINJING
Pengangkat penggerak udara mampu jinjing mempunyai penggunaan yang sam seperti jenis pengangkat lainnya.
Gambar 264 menunjukkan desain pengangkat penggerak udara yang dibuat oleh pabrik Uralmash dengan kapasitas 500 kg
dan tinggi angkat 1150 mm.

Gambar 264
Alat yang mencegah muatan jatuh bila selang rusak. Kedua katup udara bertekanan akan melewati katup
pengaman 11 yang dipasang pada lubang berulir pada katup start. Selongsong dan kepala khusus dengan pegas yang
akan menahannya pada lubang didalam selongsong dimasukan kedalam katup pengaman antara ujung pipa pemasuk dan
badan masuk penstart.
Alat untuk mengukur kecepatan penurunan. Alat ini terdiri atas baut 14 dengan mur pengunci yang terletak pada
dasar badan katup start. Baut dapat diputar untuk mendapatkan kecepatan pengeluaran udara yang diinginkan dari bagian
bawah piston, sehingga diperoleh kecepatan penurunan muatan yang diinginkan.

3. PENUMPUK
Penumpuk sangat benyak dipakai digudang-gudang untuk meletakkan muatan satuan kedalan suatu
tumpukan. Penumpuk dapat juga dipakai untuk operasi pemuatan tertentu.
Penahan pengamanan akan mencegah muatan jatuh bila tali putus. Ketika dipindahkan rangka dilipat
dengan menggunakan sekrup dengan roda tangan (gambar 265) (untuk melewatkan mesin dibawah ambang pintu).
Penumpuk ini dipasang pada roda karet dan digerakkan secara manual.
Disamping mekanisme penumpuk yang digerakkan listrik dapat juga dipakai desain dengan penggerak
hidrolik atau udara bertekanan dan untuk pelayanan ringan bahkan dapat dipakai mekanisme pengangkat yang digerakkan
tangan.
Biasanya kapasitas penumpuk berkisar antara 250 sampai 1000 kg dengan tinggi angkat sampai 5 meter.
Perkembangan terakhir ialah penumpuk swagerak yang terpasang pada truk daya universal (disebut juga truk elektrik atau
truk motor) atau pada kendaraan beroda khusus yang menggunakan sejumlah komponen dan suku cadang otomotive
standar. Kapasitasnya jarang melebihi 5 ton dengan angkat sampai 5 meter.