Anda di halaman 1dari 74

1

SISTEM DISPERSI
TIK . MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP DASAR SISTEM
DISPERSI SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEDIAAN
POLIFASE
Achmad Radjaram

1. PENDAHULUAN
2. SISTEM DISPERSI KOLOID
3. SISTEM DISPERSI SUSPENSI
4. SISTEM DISPERSI EMULSI
PUSTAKA
- Martin, A,1993 Physical pharmacy, 4 , Ed, Lea & Febiger, Philadelphia P
- Florence AT, Attwood D, 1998, Physicochemical principles of Pharmacy,
3rd Ed, Macmillan Press, London
- Aulton M.E, 2002, Pharmaceutics, The science of Dosage Form Design,
2rd Ed, Churchell Li vingstone, London, New York.
2
3
4
SISTEM DISPERSI

1. PENDAHULUAN
SISTEM DISPERSI ADALAH SUATU SISTEM YANG TERDIRI DARI
PARTIKEL KECIL SEBAGAI FASA TERDISPERSI YANG
TERDISTRIBUSI DALAM MEDIUM DISPERSI SEBAGAI FASA
KONTINU

FASA PENDISPERSI DAN TERDISPERSI DAPAT BERBENTUK
PADAT, CAIR ATAU GAS


5
Fasa
terdispersi
Medium dispersi
Padat Cair Gas
Padat Solid dalam basis salap

Solid dalam lapis tipis
polimer
suspensi Aerosol
padatan
Cair Cairan dalam basis
salap
Emulsi Aerosol
cairan
Gas Udara dalam busa
plastic padat
Busa -
Klasifikasi sistem dispersi berdasarkan keadaan fisika medium dispersi
dan partikel terdispersi
6
7
8
Klasifikasi Sistem Dispersi berdasarkan ukuran partikel
9
2. SISTEM DISPERSI KOLOID
* KOLOID LIOFILIK = Koloid cenderung berantaraksi
dengan pelarut

* KOLOID LIOFOBIK = Koloid tidak berantaraksi
dengan pelarut

Pada umumnya koloid Liofilik lebih stabil dari Koloid Liofobik

Untuk pelarut air : - Koloid Hidrofilik
- Koloid Hidrofobik

* Faktor yang mempengaruhi sistem Koloid :
- Gaya antar partikel
- Sifat medium pendispersi
- Adanya Stabilisator
10
11
2.1. SIFAT ELEKTRIK KOLOID
1. Adsorpsi ion pada permukaan koloid
Sistem reaksi : Ag NO
3
+ KJ Ag I + KNO
3

- Koloid AgJ dalam larutan KJ mengadsorpsi ion I
-

| Ag I | I
-

permukaan koloid bermuatan
- Koloid Ag I dalam larutan AgNO
3
mengadsorpsi ion Ag
+

| Ag I | Ag
+

permukaan koloid bermuatan
I
-

I
-

I
-

I
-

I
-

I
-
I
-

I
-

AgI
AgI
Ag
+

Ag
+

Ag
+

Ag
+

Ag
+

Ag
+

12
2. Reaksi kimia (ionisasi)
Contoh : Protein : R NH
2
COOH
Sistem Reaksi : R NH
2
COO (pH alkali)
Koloid bermuatan OH


R - NH
3
+
COO
-
(titik isoelektrik)
H
+
Koloid bermuatan
R NH
3

- COOH (pH asam)


3. Lapisan rangkap difusi
- Koloid bermuatan akan mempengaruhi distribusi muatan di
sekitar permukaan
- Koloid bermuatan : ion dalam medium pendispersi
cenderung untuk berada didekat permukaan
13
- Counter ion = ion yang muatannya berlawanan dengan
permukaan koloid
- Lapisan rangkap dua : a bound layer
b diffuse region
- Bound layer (stern layer) = lapisan ion yang terikat kuat pada
permukaan koloid
- Diffuse layer = Daerah ion yang berada diluar bound layer.
Distribusi ion pada daerah ini ditentukan oleh kesetimbangan
gaya tarik elektrostatik keteraturan lapisan dengan gerak
termal yang random (= gerak Brown) ketidak teraturan
lapisan
- Adanya muatan pada permukaan dan sekitar permukaan koloid
mengakibatkan POTENSIAL LISTRIK antara permukaan koloid
dengan lapisan media
- Bidang geser : bidang (Potensial listrik) tepat pada garis diluar
bound layer POTENSIAL ZETA.
14
Jika lapisan diffusi pada lapisan rangkap dua digeser oleh gerak
partikel atau pelarut terjadi fenomena ELEKTROKINETIKA
15
16
2.2. FENOMENA ELEKTROKINETIKA
disebabkan oleh adanya permukaan koloid yang bermuatan
1. ELEKTRO FORESA = Gerak partikel bermuatan melalui zat
cair yang diam bila diberikan medan listrik
2. ELEKTRO OSMOSA = gerak zat cair relatif terhadap
permukaan bermuatan yang diam dengan adanya medan
listrik
Tekanan yang dibutuhkan untuk mengatasi pergerakan zat
cair = tekanan elektro osmosa
3. POTENSIAL ALIR = potensial listrik yang ditimbulkan oleh
aliran zat cair melalui permukaan bermuatan yang diam
berlawanan dengan ELEKTRO OSMOSA
4. POTENSIAL SEDIMENTASI : Potensial listrik yang ditimbulkan
oleh gerak partikel bermuatan relatif terhadap cairan yang
diam berlawanan dengan ELEKTRO FORESA
17
2.3. KESTABILAN KOLOID
KOLOID LIOFOB
- Penambahan sejumlah kecil elektrolit sistem koloid sangat
peka karena
- elektrolit menyebabkan kompresi lapisan difusi (diffuse layer)
jarak antar partikel menurun, gaya Van der Waals naik
- Adsorpsi ion pada lapisan difusi tetap (bound layer)
potensial permukaan menurun partikel koloid saling
mendekat FLOKULASI
Makin tinggi muatan ion elektrolit, makin mudah flokulasi
terjadi
KOLOID LIOFIL
- Sistem ini kurang peka terhadap penambahan elektrolit,
dalam jumlah besar baru tejadi flokulasi
Partikel tersolvasi mencegah flokulasi
Contoh : gelatin dalam air.
18
2.4. ZAT PELINDUNG
Koloid liofob dapat distabilkan dengan penambahan suatu zat
teradsorpsi pada permukaan koloid dan membentuk permukaan
liofilik yang baru
JENIS ZAT PELINDUNG
1. Zat teradsorpsi mempunyai gugus yang dapat teremulsi dan
memberikan ion tersebut pada permukaan partikel
2. Membentuk film sekitar partikel
3. Polimer teradsorpsi pada permukaan interaksi sterik gugus
polimer pada partikel koloid yangberbeda
4. Zat teradsorpsi menurunkan gaya tarik van der Waals antar
partikel koloid
19
3. SISTEM DISPERSI SUSPENSI
SUSPENSI = Sistem dispersi kasar dengan partikel zat padat yang
tidak larut terdispersi dalam suatu medium cair.

KEUNTUNGAN :
- Menutupi rasa tidak enak
- Sesuai untuk pemakaian pada kulit dan membran mukosa

KEGUNAAN :
- Per oral
- Topikal = obat luar
- Parenteral
20
CONTOH SUSPENSI ORAL
Suspensi antasida
Suspensi antibiotika
Suspensi analgesik
Suspensi antelmetika
Suspensi antifungal
Suspensi kering (dry syrup)
Lihat buku ISO

FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN
Sifat antarmuka dari partikel yang terdispersi
Sedimentasi pengendapan dalam suspensi
21
1. SIFAT ANTARMUKA PARTIKEL TERSUSPENSI
Ukuran partikel terdispersi kecil Energi bebas permukaan
tinggi tidak stabil KOAGULASI
Partikel dalam suspensi cair cenderung BERFLOKULASI
Flokulat = gumpalan yang lunak dan ringan dengan struktur
longgar dan porous partikel bersatu karena gaya van der
Waals
Aggregat = partikel yang melekat membentuk lempeng padat
(cake) sulit disuspensi kembali
Caking = bersatunya partikel padat membentuk massa
Risiko ketidak homogenan suspensi walaupun sudah dikocok
(agregat)
Stabil secara termodimik : peningkatan energi bebas permukaan
(AG) partikel kecil luas permukaan (A) meningkat.
AG =
SL
A A
suspensi stabil jika AG 0
22

SL
= tegangan antarmuka antara medium cair dan partikel padat
Supaya suspensi stabil, energi bebas permukaan harus dikurangi

Caranya :
1.
SL
diturunkan dengan penambahan surfaktan
2. AA dikurangi Frokulasi

KURVA ENERGI POTENSIAL
Gaya tarik menarik van der Waals
Gaya tolak menolak lapisan rangkap elektrik
Partikel dalam suspensi tegangan antarmuka () positif
cenderung Flokulasi
Gaya pada permukaan partikel berpengaruh pada derajat
flokulasi dan penggumpalan pada suspensi
23
KURVA ENERGI POTENSIAL
24
Partikel yang TERFLOKULASI terlihat lemah mengendap
cepat, tidak membentuk lempengan (cake)
Partikel yangDEFLOKULASI mengendap perlahan-;ahan dan
membentuk lempengan yang keras (hard cake) resuspensi
sulit
25
3.2. SEDIMENTASI
Pengendapan dalam suspensi
Stabilitas fisik suspensi terjaga bila partikel tetap
terdistribusi secara merata ke seluruh media
Kecepatan sedimentasi menurut hukum Stokes


o
o s
g cl
v
q

18
) (
2

=
v = kec. Sedimentasi
cl = diameter partikel
= berat jenis (s : fase terdispersi)
q= viskositas medium
g = gravitasi
26
Hukum Stokes berlaku jika :
1. Konsentrasi fase terdispersi kecil sekitar 0,1 %, jika > 2 %
pengendapan
2. Ukuran partikel terdispersi
- ukuran partikel besar cepat mengndap
- ukuran partikel kecil terbentuk Caking

3. Bobot jenis medium ()
- bobot jenis ditingkatkan dengan menambah
- PEG, PVP, gliserin, sorbitol, gula

4. Viskositas medium (q)
- viskositas suspensi ditingkan dengan penambahan
Suspending agent
- Metil selulosa, CMC Na, Acasi, Tragakan, Bentonit

27
- Faktor gelembung udara
gelembung busa terjadi selama pengadukan dengan adanya surfaktan
flotasi : partikel padat menempel pada gelembung udara
- Faktor bobot jenis ()

s
>
o
pengendapan

s
=
o
kesetimbangan fasa (partikel melayang)

s
<
o
terjadi flotasi mengambang)

- Proses pembasahan :
W
s
= (
s
-

L
) -
s
= -
L
( cos u -1)
cos u = 1 u = 0
28
- POTENSIAL ZETA
Potensil zeta = perbedaan potensial elektrik antara permukaan
partikel dan media pendispersi dalam sistem suspensi.
- Potensial zeta diturunkan membentuk jembatan antar partikel
yanmg berdekatan ikatan antar partikel akan tersusun longgar
- Ditambah elektrolit sebagai bahan flocculating agent
- Elektrolit : garam Na asetat, - fosfat, - sitrat kadar elektrolit
harus dikendalikan
- PENGARUH GERAK BROWN
- Gerak Brown dapat melawan pengendapan partikel dalam
suspensi, terjadi pada :
- partikel dengan diameter 2 5 m
- bj dan viskositas medium pensuspensi
Sediaan suspensi yang baik dengan gerak Brown yang
sedang
29
PENGENDAPAN PARTIKEL TERFLOKULASI
- Partikel terflokulasi terikat lemah, mengendap dengan cepat,
tidak membentuk lempengan (cake) mudah disuspensi kembali

- Sistem terflokulasi
- Flokulasi cenderung jatuh bersama-sama
- Batas antara endapan dan supernatan jelas
- Cairan diatas endapan jernih
- Partikel yang lebih besar mengndap lebih dulu
- Laju pengendapan ditentukan oleh ukuran Flokulat dan porositas
dari massa agregat
30
- Cara membuat sistem terflokulasi
a. Penambahan elektrolit memperkecil barier elektrik
Potensial zeta turun
b. Surfaktan
c. Polimer adsorpsi permukaan (terjadi jembatan antar
partikel)

- Partikel terflokulasi : mengendap perlahan-lahan mebentuk suatu
endapan dan terjadi agregat membentuk lempeng keras (Hard
cake) yang sulit disuspensi kembali
- Sistem terflokulasi :
- Partikel besar mengendap lebih cepat
- Tidak ada batas yang jelas antara endapan dan supernatan
- Cairan berwarna keruh
31
PEMBENTUKAN SUSPENSI STABIL
32
FLOKULASI SUPENSI
33
34
35
EVALUASI SUSPENSI
1. STABILITAS FISIK
2. PARAMETER : - VOLUME SEDIMENTASI
- DERAJAT FLOKULLASI
VOLUME SEDIMENTASI
F = V
U
/ V
O

F = Volume sedimentasi
V
U
= volume akhir endapan
V
O
= volume awal suspensi

Nilai Volume Sedimentasi < 1 sampai > 1
36
37
DERAJAT FLOKULASI
Pada sistem deflokulasi
F

= V

/ V
O
F

: volume sedimentasi suspensi yang terdeflokulasi


V

: volume akhir endapan suspensi yang terdiflokulasi



o u V V
V V
V V F F
O
o u
/ /
/
= = =

|
| = derajat flokulasi
lasi terdefloku yang suspensi endapan akhir volume
si terflokula yang suspensi endapan akhir volume
= |
38
FORMULASI SUSPENSI ORAL
PERSYARATAN
1. Partikel terdispersi cukup kecil dan seragam, serta tidak boleh cepat
mengendap
2. Bila partikel suspensi telah mengendap, partikel tersebut harus
mudah didispersi kembali
3. Viskositas suspensi tidak boleh terlalu tinggi, sehingga dapat
dengan mudah dituang dan mudah didispersikan kembali
4. Pada saat digunakan, dosis harus seragam
5. Suspensi harus stabil secara kimia dan fisika selama penyimpanan
6. Formulasi suspensi harus menyenangkan untuk pasien, dan
mempunyai bau, warna dan rasa yang dapat diterima

39
Bahan yang umum digunakan dalam Formulasi Suspensi
1. Wetting agent
2. Suspending agent
3. Floculating agent
4. Bahan aditif :
- pemanis
- pengawet
- dapar
- Flavor
- zat warna
40
41
Eksipien dalam formulasi Suspensi
1. Bahan pembasah (wetting agent)
surfaktan, gliserin, propilenglikol, alkohol
khususnya : untuk serbuk yang sulit terbasahi
2. Elektrolit
bahan flokulasi dengan mengurangi hambatan elektrik antar
partikel
3. Surfaktan
menghasilkan flokulasi partikel tersuspensi
- Surfaktan non-ionik maupun ionik
- Konsentrasi Surfaktan
4. Polimer
Bekerja sebagai zat pemflokulasi diadsorpsi pada permukaan
partikel
- Polimer hidrofilik juga berfungsi sebagai koloid pelindung
42
MANUFAKTUR
Manufaktur sediaan suspensi
1. Reduksi ukuran partikel dan pembasahan fasa terdispersi (ayakan
mesh 200 325)
2. Pencampuran dan pendispersian fasa terdispersi ke dalam
medium
3. Stabilisasi penambahan stabilisator : makromolekul (q|) dan
bahan pengawet
4. Homogenisasi colloid mill.
4. SISTEM DISPERSI EMULSI
Emulsi : sistem dua fasa dari dua cairan yang tidak saling
bercampur umumnya air dan minyak satu fasa terdispersi
dalam fasa yang lain sebagai tetesan atau droplet
43
Ukuran droplet umumnya > 0,1 m
Secara termodinamika, emulsi merupakan sistem yang tidak stabil
Sistem dibuat stabil dengan adanya zat pengemulsi
MIKROEMULSI : - emulsi halus, transparan atau seperti susu,
ukuran droplet : 0,01 0,1 m
- secara termodinamik lebih stabil
MAKROEMULSI Droplet : 0,1 10 m
KREM : emulsi semisolid, mengandung air > 60 % sifat aliran
pseudoplastik
PENGGUNAAN : Nutrisi, obat, bahan diagnostik
- internal untuk
- eksternal untuk topikal kulit dan membran mukosa
- parenteral

44
4.1. TIPE EMULSI
Emulsi minyak dalam air (M/A)
Emulsi air dalam minyak (A/M)
Emulsi oral biasanya tipe (M/A)
Pengemulsi : Emulsifying agent : zat surfaktan dan zat
pengemulsi lain : polimer hidrofilik
- Polimer hidrofilik dan surfaktan emulsi M/A
- Surfaktan lipofilik mendrong emulsi A/M
Sifat reologi emulsi dipengaruhi faktor : interaksi, sifat fasa
kontinyu, perbandingan volume fasa dan distribusi ukuran
tetesan
Pengemulsi tipe M/A :
Na-lauryl sulfat, Trietanolamin stearat, sabun monovalerat
Na oleat.
45
Pengemulsi tipe A/M :
Sabun polivalen, Ca palmitat, Ester sorbitan (spans),
Kolesterol, lemak wool

CONTOH SEDIAAN EMULSI
- Lotio, Linimen, Krem, dll
CARA MENGIDENTIFIKASI FASA :
a. pengenceran fasa luar
b. penggunaan zat warna yang larut dalam salah satu fasa
c. konduktivitas elektrik
d. kertas saring

46
4.2. TEORI EMULSIFIKASI
Teori emulsifikasi berkaitan dengan :
a. Kestabilan produk
b. Tipe emulsi yang terbentuk
Emulsifikasi : proses pendespersian suatu fasa sebagai
droplet atau tetesan di dalam fasa lain

Proses pembentukan massa emulsi :
1. Pemecahan massa minyak menjadi tetesan halus
2. Stabilitas tetesan oleh fasa ketiga pengemulsi


47
Kerja dispersi adanya interaksi gaya kohesi dan adesi (E

Adesi
>
E

kohesi
), luas permukaan droplet yang besar, (A A)
W =
MA
x A A
W > sistem tidak stabil

MA


<

W < Surfaktan
Surfaktan menurunkan
MA
selama Emulsifikasi

ZAT PENGEMULSI
a. Zat aktif permukaan teradsorpsi pada antarmuka M/A
membentuk lapisan monolekular
b. koloidal hidrofilik membentuk lapisan multimolekular
c. Partikel partikel padat yang terbagi halus diadsorpsi pada
batas antarmuka M/A
48
49
ADSORPSI MONOLEKULAR

Surfaktan = zat aktif permukaan Amfifil
Tegangan permukaan (
M/A
) turun adsorpsi antarmuka
membentuk lapisan monomolekular
W = (
M/A
) A A

Molekul surfaktan harus ada kesetimbangan antara gugus
Hidrofil dan Lipofil sifat polar dan non polar.
Dalam praktek lebih sering digunakan pengemulsi kombinasi,
seperti natrium setil alkohol dan kolesterol.
50
51
52
SISTEM HIDROFIL LIPOFIL
Grifin : skala kesetimbanga Hidrofil Lipofil (HLB) dari zat aktif
permukaan
Tipe emulsi M/A atau A/M tergantung pada sifat zat pengemulsi
yang digunakan
Emulsi M/A terbentuk jika HLB pengemulsi berkisar antara 9 12
Emulsi A/M jika HLB sekitar 3 6
Campuran Tween 20 dan span 20 membentuk emulsi M/A
Tween : turunan polioksietilen sorbitan hidrofilik
membentuk emulsi M/A (HLB 9.6 16.7)
Span : ester sorbitan Lipofilik
membentuk emulsi A/M (HLB 1.8 8.6)
53
Laju penggabungan tetesan tetesan minyak yang terdispersi dalam
air ditentukan dengan persamaan :
Laju 1 = C
1
e
-W1 / RT

C
1
: faktor tumbukan yang bergantung pada perbandingan volume
fase terhadap air dan kebalikan viskositas dari fase kontinu (air)
W
1
: energi barier yang berhubungan dengan barier energi yang harus
diatasi sebelum penggabungan terjadi. W merupakan fungsi dari
potensial listrik dari tetesan-tetesan terdispersi dan energi hidrasi
dari zat pengemulsi
Laju penggabungan tetesan-tetesan air terdispersi dalam minyak
ditentukan dengan persamaan :
Laju 2 = C
2
e
-W2

/RT

C
2
= c
1

W
2
: energi barier yang dari laju penggabungan
Tipe emulsi tergantung dari laju penggabungan yang mana lebih
besar
54
HLB BUTUH
HLB butuh suatu fasa minyak = jumlah emulgator dengan HLB yang
diketahui yang dibutuhkan untuk membentuk emulsi yang baik atau
stabil
R/ Parafin liq 35 g 35/37 x 100 = 94,6 %
Wool fat 1 g 1/37 x 100 = 2,7 %
Setil alkohol 1 g 1/37 x 100 = 2,7 %
Emulgator 5 g
Air ad 100 g
Fase minyak HLB HLB x fraksi
Paraf Liq 12 94.6/100 x 12 = 11.4
Wool fat 10 2,7/100 x 10 = 0,27
Setil alkohol 15 2,7/100 x 15 = 0,4

HLB butuh fase minyak = 12,07
55
Jika Emulgator yang digunakan kombinasi Span 80 (HLB : 4.3) dan
Tween 80 (HLB : 15), maka prosentase jumlah masing-masing adalah :
Span 80 (B) = 5 x 27.1/100 = 1,36 g
Tween 80 (A) = 5 1,36 = 3,64 g
=


) 3 . 4 15 (
) 3 . 44 07 . 12 ( 100
72,9 B = 100 72,9 = 27,1
) . . (
) . ( 100
B HLB A HLB
B HLB x

A = B = 100 - A
56
ADSORPSI MOLEKULAR
Koloida liofilik zat pengemulsi seperti surfaktan, karena tampak pda
batas antarmuka M/A
Perbedaan antara koloidal liofilik dengan surfaktan
a. Tidak menyebabkan penurunan tegangan antarmuka yang bermakna
b. Membentuk lapisan multimolekular pada antarmuka
Bekerja sebagai zat pengemulsi
Membentuk Emulsi yang stabil, karena dapat menghambat
penggabung-an dan kenaikan Viskositas dari medium pendispersi
Membentuk emulsi M/A membentuk lapisan-lapisan multilayer
disekitar tetesan yang bersifat hidrofilik
57
ADSORPSI PARTIKEL PADAT
Partikel halus dapat menstabilkan emulsi jika dibasahi oleh fasa dan
menunjukkan adesi yang cukup membentuk film antarmuka
Film berfungsi sebagai barier mekanik untuk mencegah koalesensi
tetesan.
58
STABILITAS EMULSI
= Sebagai sistem heterogen yang tidak stabil sifat emulsi sering
tergantung dari komposisi dan cara pembuatan
Emulsi dikatakan stabil jika tidak terjadi koalesensi, creaming dan
perubahan penampilan bau, warna dan konsistensi.

Ketidak stabilan Emulsi
Flokulasi dan Creamin
Koalesen dan Breaking
Inversi fase
Perubahan fisika dan kimia
Perusakan oleh mikroba
59
60
a. FLOKULASI DAN CREAMING
FLOKULASI : proses bergabungannya tetesan membentuk massa
yang lebih besar sebagai clump atau flocc.
CREAMING : naik atau turunnya tetesan membentuk lapisan pekat
pada perubahan atas atau pada dasar emulsi lapisan didispersi
dengan mudah (dikocok) karena tetesan masih dilapisi oleh
emulgator. Jadi creaming proses lanjut dari flokulasi dan bersifat
reversabel
Laju creaming tergantung pada parameter hukum stokes :
0
0 3
2
18
) (
q
g d
V

=
Parameter
Bobot jenis ()

s
>
o


terjadi sedimentasi

creaming kebawah (pada emulsi M/A)

s
<
o
terjadi flotasi creaming keatas (pada emulsi A/M)

61
Laju creaming meningkat bila :
- Perbedaan
s
dan
o
semakin besar
- Viskosita pendispersi menurun
- Menaikkan gaya gravitasi dengan cara sentrifugasi
Laju creaming dapat diturunkan
- Reduksi ukuran partikel tetesan
- Viskositas pendispersi dinaikkan menambah pengental
b. KOALESEN DAN BREAKING
Koalesen : proses bergabungnya tetesan yang akan diikuti dengan
breaking pemisahan fase terdispersi dan fase kontinu proses
erreversibel emulgator disekitar tetesan sudah rusak (lepas)
c. INVERSI FASE
Inversifase = proses perubahan fase terdispersi berubah fungsi
menjadi medium pendispersi.
62
Inversi fase dapat terjadi :
Adanya penambahan zat yang dapat mengubah kelarutan
emulgator.
Contoh : penambahan ion Ca ke dalam emulsi tipe M/A yang
dibuat dengan emulgator Na-Stearat akan menyebabkan inversi
fase menjadi emulsi tipe A/M yang stabil
Volume atau prosentase fase terdispersi yang terlalu besar pada
emulsi yang dibuat dengan emulgator non-ionik.

d. PERUBAHAN FISIKA DAN KIMIA
Faktor penyebab harus dihindari
- cahaya
- suhu yang menyebabkan kaolesesn dan breaking
- oksidasi dan hidrolisis : minyak jadi tengik
- pembekuan dan pengenceran : kaolesesn dan breaking
63
e. PERUSAKAN OLEH MIKROORGANISME
- MO : jamur, ragi dan bakteri
dapat menyebabkan :
- Dekomposisi emulgator (E. alam)
- Kontaminasi fase air
- penyebab fase minyak jadi tengik
- merusak vitamin larut minyak.
PENGAWETAN EMULSI
pengawet efektif keadaan terlarut dan tidak ter ion perhitungkan
konsentrasinya.
Efektif pada fase air dan minyak
Pertimbangkan interaksi dengan komponen lain
Pengawet kombinasi
efektif untuk jamur, ragi, bakteri : Nipagin : 0,1 0,2 % dan
Nipasol : 0,02 0,05 %
64
PENILAIAN KESTABILAN
Analisa ukuran partikel tetesan dari waktu ke waktu
Analisa turbidimetri dan termodinamika
pemanasan = menyebabkan zat pengemulsi rusak menilai zat
pengemulsi
Metode Sentrifugasi terjadi tumbuhan kaolesen
KESETIMBANGAN FASA
Perilaku campuran tiga komponen :
Buat diagram tiga fase : air minyak - surfaktan
65
SIFAT RHEOLOGI EMULSI
Sifat aliran emulsi untuk penampilan dan penggunaan produk,
Misalnya untuk sediaan parenteral, pemindahan dari botol atau
tube dll.

EVALUASI EMULSI
1. PENETAPAN TIPE EMULSI
- Uji pengenceran
- Uji konduktivitas
- Uji kelarutan zat warna
- Metode Fluoresensi
- Metode pembasahan
2. ANALISIS UKURAN PARTIKEL TETESAN
- Mikroskop Ukuran partikel tetesan
- Coulter counter volume partikel
66
3. PENETAPAN VISKOSITAS DAN SIFAT RHEOLOGI
Viskositas emulsi tergantung pada :
ukuran partikel, sifat dan konsistensi emulgator, ratio volume ke dua
fase serta viskositas fase eksternal
- Bersifat non-Newtonian
- Terjadinya koalesensi berkurangnya viskositas
4. PENGARUH WAKTU DAN SUHU
Untuk memprediksi lamanya penyimpanan dari produk emulsi
Perubahan suhu efek terhadap viskositas, partisi emulgator,
inversi fase dan kristalisasi jenis lipid tetesan
5. PENGARUH SENTRIFUGASI
Cara lain untuk memprediksi waktu tinggal (ED) produk emulsi
terjadi pemisahan fase akibat koalesensi atau creamiul
67
MIKROEMULSI
Mikroemulsi terdiri dari misel-misel besar pada fase internal seperti
solubilized solution
Jernih seperti larutan transparan dan tidak stabil secara termodinamik
Keadaan mikroemulsi berada diantara solubilized solution dan emulsi
Mikroemulsi mengandung tetesan-tetesan minyak dalam air (M/A)
atau tetesan air dalam minyak (A/M)
Diameter tetesan 10 20 m, fraksi volume dan fase terdispersi
bervariasi dari 0,2 0,8
Pada pembuatan ditambah zat pengemulsi pembantu atau
kosurfaktan
Nanopartikel
Nanopartikel = produk yang serupa dengan mikroemulsi baik ukuran
maupun bentuknya
Nanopartikel dan mikroemulsi adalah misel-misel yang terbentuk
dengan polimerisasi
68
SEMI SOLID
GEL
= Suatu sistem padat atau setengah padat terdiri paling sedikit dua
konstituen dari massa terkondensasi rapat yang diselusupi oleh
cairan
Bila matriks hanya cairan disebut JELLY, bila cairannya dihilangkan
dan tinggal matriksnya saja disebut XEROGEL.
Gel dapat digolongkan dalam sistem dua fasa atau satu fasa
Massa gel dapat terdiri dari gumpalan (flokulat) partikel-partikel
kecil. Contohnya gel aluminium hidroksida, magma bentonit dan
magma magnesium.
Gel dapat terdiri molekul-molekul besar. Misalnya gel tragacants
dan metilselulose Gel satu fase karena tidak ada batas antara
makromolekul terdispersi dan cairan
Gel mengandung air disebut HIDROGEL. Contoh gelatin gel. Gel
mengandung cairan organil disebut ORGANOGEL (petrolatum)
69
Gel yang mengerut secara alamiah karena sebagian cairannya keluar
fenomena SINERESIS
Gel menyerap cairan sehingga volumenya meningkat SWELLING
Gel menyerap cairan tanpa swelling IMBIBISI

70
71
72
LIPOSOM
73
74