Anda di halaman 1dari 58

PENDAHULUAN

PENGANTAR:
EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

para ekonom telah lama mempelajari persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kota, akan tetapi ekonomi perkotaan sendiri sebagai suatu disiplin masih muda usianya.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

..berbagai pembicaraan tentang persoalan kota, seperti perkembangan ekonomi, pengangguran, pendapatan, dan lain-lain diusahakan untuk secara konsekuen memberikan rangka dasar analitis pada pemecahan pokok pangkal persoalannya.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Dengan ini maka diinginkan timbulnya suatu disiplin baru, yaitu ekonomi perkotaan di mana dibicarakan analisis ekonomi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kota dalam perkembangannya.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Diharapkan agar soal-soal tersebut dapat dipecahkan secara rasional dengan menerapkan ilmu ekonomi terhadapnya. Dapatlah diduga sejak semula, bahwa usaha ini sangat sukar oleh karena sifat hakiki kota.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Kota merupakan konsentrasi kegiatan tidak saja ekonomis, melainkan juga


hukum, budaya dan lain-lain, politik, sosial,

..dalam suatu tata ruang tertentu.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Hubungan dalam tata ruang ini (spatial relationships) terjadi di dalam dan antarkota dan sifatnya unik. Berbagai faktor seperti Pasaran tanah, kesempatan kerja, pendapatan yang senjang, pasaran rumah,

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

kenyataan adanya golongan pribumi dan nonpribumi, transportasi dan lalulintas kota, perpajakan dan keuangan di kota-kota, menimbulkan dampak terhadap lingkungan kota berupa kemacetan-kemacetan di segala bidang (congestions) dan pencemaran (pollutions).

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Selanjutnya, faktor faktor tersebut menimbulkan soal-soal urbanisasi lebih lanjut, kemiskinan, kejahatan, kesehatan, dan pendidikan di kota-kota. Jelas bahwa, keadaan yang timbul mempunyai sifat ganda sehingga pemecahannya pun mensyaratkan penghayatan lebih mendalam terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Sebenarnya pandangan terhadap soalsoal masyarakat umumnya serta masyarakat kota khususnya dapat dibedakan dalam 3 golongan besar: 1. pandangan liberal; 2. pandangan konservatif 3. pandangan radikal.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pandangan liberal dan konservatif pada hakikatnya bertolak pangkal pada hipotesis fundamental yang sama tentang kenyataan sosial.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Analisis masalah sosial dimulai dan pandangan bahwa masyarakat memiliki lembaga-lembaga serta hubunganhubungan tertentu. Semua ini dianggap sudah ada; dari sini dibentuk postulasi dasar tentang perilaku satuan satuan pengambil keputusan, seperti
o rumah tangga, o pekerja, atau o badan badan usaha

serta cara-cara mereka menyesuaikan diri dengan lembaga lembaga tersebut. Dalam hal ini perorangan bebas memaksimumkan kesejahteraannya dalam batasan-batasan tertentu

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Dengan demikian postulasi ini masuk pengertian bahwa putusan akhir para individu memang secara tepat menggambarkan pilihan riil masing-masing tanpa mempedulikan hubungannya dengan lembaga-lembaga yang ada. Tetapi postulasi
tersebut mencakup pengertian bahwa putusan pemerintah juga dimungkinkan.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Analisis liberal dan konservatif menganggap bahwa di dalam masyarakat terdapat kegiatan-kegiatan yang dikombinasikan untuk memproduksikan keseimbangan sosial yang stabil dan harmonis. Postulasi dasar ini meliputi anggapan:
1. bahwa ada keseimbangan dalam segi sosial; 2. pengertian keseimbangan mencakup pengertian bahwa masyarakat bebas dan konflik; 3. perubahan dalam masyarakat terjadi secara perlahanlahan.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Dan postulasi ini kemudian pandangan liberal dan konservatif menjadi berbeda. Pandangan dan orang-orang liberal ialah:
1. pemerintah harus membagi kembali pendapatan; 2. pemerintah harus berusaha sesuatu bila mekanisme pasar tidak dapat memuaskan konsumen; 3. pemerintah harus menyediakan fasilitas di mana mekanisme pasar tak mampu mengadakannya, misalnya pertahanan nasional.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Adapun pandangan konservatjfmenyatakan bahwa pemerintah harus dibatasi kegiatannya. Mekanisme pasar atau dapat menghasilkan alokasi sumber daya secara efisien dan optimal. Jadi pandangan konservatif menyatakan bahwa prionitas utama adalah kebebasan individu dan masyarakat teratur, sedang pandangan liberal menitikberatkan pada kesamarataan dan keadilan sosial, sehingga mentolerir perubahan sosial yang relatif cepat dan membiarkan campur tangan pemenintah (kota) pada sektor swasta.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pandangan radikal berpokok pangkal pada hipotesa tentang masyarakat sebagai benikut: 1. Struktur dan evolusi masyarakat (kota) tergantung pada modus produksi yang dominan dalam masyarakat kapitalis berbeda dengan modus produksi termasuk keadaan teknik dan cara-cara pemilikan alat-alat produksi dan hubungan kemasyarakatan antarmanusia dalam hubungannya dengan proses produksi; 2. Modus produksi pada masyarakat kapitalis adalah organisasi tenaga kerja melalui kontrak-kontrak upah; 3. Metode mengorganisasi produksi meliputi usahausaha produksi dan distribusi;

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

4. Hubungan produksi dan distribusi menentukan dinamika masyarakat yaitu masyarakat berusaha selalu menambah kekayaan; 5. Oleh karena butir (4) maka orang selalu harus menjadi pekerja agar dapat mempertahankan dirinya; dan dengan adanya akumulasi modal pada beberapa kapitalis (melalui perusahaan-perusahaan), para kapitalis akan makin menguasai kehidupan masyarakat;

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

6. Dinamika sistem masyarakat menjurus pada berbagai kontradiksi:

a. mekanisasi dan pembagian kerja akan menimbulkan akibat akibat yang mungkin tak dapat dikendalikan;
b. kapitalisme menimbulkan usaha-usaha sosialisasi produksi; orang menjadi begitu saling tergantung, di lain pihak kelompok orang saling akan menghancurkan, persaingan merajalela; c. konflik masyarakat timbul dengan timbulnya kebutuhan untuk selalu memperbesar kapasitas produksi;

7. Akhimya, lembaga masyarakat perlu diubah untuk dapat melayani perubahan-perubahan yang timbul dalam masyarakat.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Menurut para pengikut aliran radikal, sosialisme lebih dapat berfungsi dalam masa transisi ke masyarakat yang ideal dibandingkan dengan kapitalisme yang penuh konflik. Di masyarakat yang ideal orang bebas mengembangkan dirinya sebagai manusia dan di samping itu bekerja sama dengan pihak lain dalam menyumbangkan potensi bersama-sama.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Demikianlah, berbagai pandangan tentang masyarakat pada umumnya dan masyarakat kota pada khususnya. Di Indonesia pandangan-pandangan tersebut sebenarnya juga ada akan tetapi kelihatannya masih belum menonjol dan terbagi jelas karena satu dan lain hal.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Berbagai persoalan perkotaan di Indonesia sebenarnya dapat didekati berdasarkan ketiga pandangan tersebut. Di satu pihak pemecahannya dapat secara perlahan-lahan; di lain pihak mungkin pemecahannya memerlukan pemikiran yang radikal.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Sebenarnya adanya kota itu disebabkan SCALE ECONOMIES di dalam memproduksikan barang-barang dan jasajasa kebutuhan seharihan. Berkembang adanya COMPARATIVE ADVANTAGE;

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

orang pada suatu waktu dapat memproduksikan lebih murah barang-barang dan jasajasa pada suatu tempat tertentu sehingga menarik tenaga kerja ke daerah daerah yang secara regional berbeda kondisi alamiahnya Hal ini mempengaruhi produksi, kegunaan serta ongkos antardaerah dalam perdagangan. Dengan demikian fungsi kota pada hakikatnya memperlancar produksi dan pertukaran dengan dekatnya lokasi berbagai kegiatan ekonomi.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Jadi faktor kedekatan atau PROXIMITY merupakan salah satu penyebab terciptanya kota; industri-industri memerlukan lahan sedang tanah terbatas, sehingga pemanfaatan masukan lain makin meningkat yang meninggikan rasio masukan lain dengan tanah, yang semuanya makin mempercepat perkembangan kota karena tuntutan pemanfaatan ongkos angkutan serta pertukaran yang relatif rendah ini. Sekaligus menentukan besarnya kota (CITY SIZE).

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pengukuran aglomerasi ialah dengan mengestimasi dampak perubahan hasil industni dan besar kota pada produksivitas tenaga kerja, yaitu dengan formula J.V. HENDERSON [Efficiency of Resourse Usage and City Size. Journal of Urban Economics 19 (1986), hal. 47 90): q = f (k , e, Q, Nj di mana q = hasil setiap tenaga kerja dalam industri tententu k = sarana modal setiap tenaga kerja e = tingkat pendidikan tenaga kerja Q = hasil industri N = penduduk daerah metropolitan.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pengukuran lain melalui urbanisasi yang dikemukakan oleh D. SEGAL [Are There Returns to Scale in City Size, Review of Economics and Statistics 58 (1976), hal 39 50], yaitu: G f(K,L,N), di mana G = hasil daerah metropolitan K = modal daerah metropolitan L = tenaga kerja daerah metropolitan N = penduduk daenah metropolitan.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Kota metropolitan lebih efisien danipada kota kecil sehingga urbanisasi besar. Apabila scale of economies dan comparative advantages (aglomerasi) merupakan faktorfaktor suplai (yang menghasilkan sesuatu atau yang mendorong) maka faktor permintaan (daya tarikan) yang menyebabkan perkembangan kota itu adalah faktor AMENITIES, yaitu hal- hal yang ada di dalam kota yang menarik calon warga

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

misalnya .. pemerintahan kota yang baik, fasilitas publik yang baik, rekreasi banyak, tidak terdapatnya pencemaran kota, dan lainlain. Jadi kalau kota itu adalah wadah tempat tinggal/permukiman kesempatan kerja dan kegiatan usaha, serta kegiatan pemerintah, dan lain-lain,

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

maka mengapa timbul kota, dapat diterangkan dan ketiga unsur di atas, yaitu scale of economies, comparative advantages dan amenities. Demikianlah pada hakikatnya persoalan perkotaan yang dibicarakan di negaranegara barat.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Apabila ditelaah, persoalan perkotaan di Indonesia relatif lebih kompleks. Misalnya saja tentang pemanfaatan ruang perkotaan, penyediaan sarana dan prasarana sosial ekonomi, jasa perdagangan yang adil dan terjangkau, peningkatan kemampuan dan produktivitas kota, peningkatan pelayanan aparatur pemerintah kota di dalam hal investasi dan pengelolaan kota, peranan masyarakat dan peranan bisnis

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Ada sinyalemen bahwa masyarakat masih belum mempunyai kesadaran kuat, acuh tak acuh (tak peduli) terhadap penting dan perlunya pemecahan masalah yang dihadapi kota, karena masih ada soal yang lebih penting untuk dipecahkan dan lagi sebagian besar masyarakat masih tinggal di desa-desa. Selain itu masih belum mantapnya penghayatan terhadap hukum dan kaidah-kaidah yang berlaku serta belum mantapnya pelaksanaan hukum menambah kekompleksan masalah perkotaan di Indonesia.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Oleh karena itu perlulah kiranya dinyatakan sekarang, bahwa berbagai saran dan usul ke arah perbaikan, mutlak perlu memperoleh dukungan kuat dan masyarakat sendiri. Jelas dalam hal ini proses pengajaran dan pendidikan masyarakat yang merata kiranya perlu digalakkan agar masyarakat yang menerima segala perbaikan bagi dirinya tidak lagi bersifat acuh tak acuh terhadap kebijaksanaankebijaksanaan yang diambil penguasa

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pendekatan yang dilakukan disini ialah: 1. Menelaah sejarah terjadinya kota (di Barat maupun di Indonesia); 2. Menelaah situasi perkotaan dewasa ini ; yang diidentifikasi kekuatan dan kelemahan intern perkotaan yang ada terutama di Indonesia; 3. Penelaahan pada butir (1) dan (2) tidak terlepas dari:

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

a. adanya landasan idiil, yaitu Pancasila; landasan konstitusional, yaitu UUD 1945; landasan konseptual, yaitu Wawasan Nusantara, ialah cara pandang Bangsa Indonesia tentang din yang serba Nusantara dan lingkungan dunia yang serba berubah berdasarkan1)

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pancasila dan UUD 1945 dengan memperhatikan sejarah dan budaya serta dengan memanfaatkan kondisi konteks geografinya, dalam upaya mewujudkan aspirasi bangsa dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasional 2),

serta Ketahanan Nasional Indonesia 3), ialah kondisi dinamika Bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dan luar maupun dan dalam, yang langsung maupun tidak langsung, yang membahayakan kehidupan nasional untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai Tujuan Nasionalnya; landasan operasional konseptual, ialah GBHN, Repelita-repelita, Nota Keuangan dan RAPBN, Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan seterusnya, serta

b. penting dan perlunya mengkaji lingkungan strategik, balk yang menunjang maupun yang tidak menunjang, yang sifatnya internasional, regional nasional maupun lokal, baik yang berkarakteristik jauh, seperti idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan pertahanan keamanan maupun yang berkarakteristik dekat seperti adanya kota-kota baru, adanya pelaku lain seperti pemasok dan lain-lain yang semuanya menimbulkan tantangan, ancaman, hambatan, gangguan maupun kesempatan dan peluang.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Butir 3 (a) dan (b) mempengaruhi para pelaku pembangunan perkotaan, yaitu masyarakat, pemerintah dan bisnis yang dalam proses pengambilan keputusannya merumuskan strategi, kebijaksanaan dan program pembangunan perkotaan berusaha memperbaiki situasi perkotaan dewasa ini menjadi lebih baik seperti harapan atau menjadi optimal sebagai pusat pelayanan wilayah di mana produksi dan pemasaran barang dan jasa efisien serta diperoleh nilai tambah produkfkomoditi wilayah untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

1) Kota di Indonesia dibedakan ke dalam kota kecil dengan penduduk antara 5.000 50.000, kota sedang dengan penduduk 50.000 500.000 dan kota besar 500.000 -- ke atas. Distribusi penduduk dapat dilihat pada Tabel 1.1.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Pembangunan kota tidak lepas dan pembangunan daerah termasuk perdesaan sekitar kota tersebut. Jelas bahwa kekompleksan persoalan timbul dan kaitan mi. Kebijaksanaan yang ditujukan pada pembangunan daerah dan pedesaan akan mempengaruhi perkembangan kota;4) sebaliknya kebijaksanaan terhadap pembangunan kota akan mempengaruhi wilayah dan perdesaan sekitar kota tersebut.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Oleh karena itu, tidak boleh tidak suatu kebijaksanaan terpadu pembangunan sektoral-regional-desa-kota perlu dikembangkan agar supaya persoalanpersoalan yang timbul sebagai akibat berbagai faktor mi dapat diselesaikan secara tuntas. Lihat pula Lampiran I.

EKONOMI PERKOTAAN SEBAGAI SUATU DISIPLIN

Ekonomi Perkotaan tidak dapat berdiri sendiri. Adapun ilmu lain yang membantu selain ilmu ekonomi yang menyelesaikan alokasi sumber daya yang langka (di perkotaan) untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat (perkotaan), ialah ilmu politik, ilmu sosial, antropologi, ilmu hukum, ilmu teknik, dan ilmu ketahanan nasional. Bagaimanapun juga perlu penghayatan persoalan-persoalan satu per satu demi pengetahuan. Oleh karena itu

ISI BUKU
Bab II akan membicarakan pemanfaatan tanah sebagai faktor produksi utama orang menjalankan kegiatannya. Bab Ill mengemukakan berbagai teori lokasi serta pertumbuhan kota. Di sini dibicarakan sejarah serta rangka dasar teoritis mengapa orang memilih tempat-tempat terutama untuk menjalankan kegiatannya dan mengapa kota berkembang berdasar pola tertentu.

ISI BUKU
Bab IV membicarakan soal yang selalu dihadapi masyarakat yaitu mencari kerja. Selain itu dibicarakan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesempatan kerja dan cara-cara membuka kemungkinan kesempatan kerja. Bab V mengemukakan masalah Apabila manusia telah memilih tempat dan kerjanya, putusan selanjutnya ialah memilih di mana dia harus bertempat tinggal, misalnya dekat tempat kerja

Tabel 1.1. Distribusj Penduduk di Indonesia (%)

Sensus Sept. 1961 Jawa: Kota Desa LuarJawa: Kota Desa Total: Kota Desa 64,9 15,6 84,4 35,1 13,4 86,6 100,0 14,8 85,2

Sensus Sept. 1971 63,8 18,0 82,6 36,2 16,3 83,7 100,0 17,4 82,6

Sensus Mart. 1976 63,0 18,1 81,9 37,0 17,5 82,5 100,0 17,9*) 82,1

Sensus 1980

Sensus 1991 (x) t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. [ 100 31*) 69

Sensus 1995

t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. t.a.d. 100 22**) 78

Sumber: BPS, Laporan Bank Dunia 1993 (x)


t.a.d = tidak ada data

Tabel 1.1. Distribusj Penduduk di Indonesia (%)

*)Di Amerika tahun 1970 penduduk yang tinggal di kota sudah 74 persen; tahun 1992 berubah menjadi 76 persen. **)328 juta jiwa; 1990 55,9 juta; 1993/94; 64 juta jiwa (naik 5,5%) di pedesaan naik O,8%/tahun; 1980: 114,5juta, 1990; 123,9juta per 1993/1994; 124,8jutajiwa

Tabel 1.1. Distribusj Penduduk di Indonesia (%)

4)Tingkat perkembangan beberapa kota berdasarkan penduduk di dalamnya adalah antara 0,85 4,41% di dalam pet-lode 1961 1971 atau rata-rata sebesar 3,11% turun 3,7% pada penode 1971 1980 dan turun lagi 2,1% pada periode 1980 1990 (Tabel L2). Tabel 1.3 menunjukkan rata-rata tingkat perkembangan penduduk per tahun dibagi berdasarkan kota-desa di Jawa, luar Jawa, total. Perkembangan penduduk kota makin cepat.

ISI BUKU
Bab VI mengemukakan masalah rasial kenyataan adanya perbedaan rasial (pribumi-nonpribumi), walau diusahakan untuk dihilangkan, tetapi berdasar satu dan lain hal usaha pembauran belum berhasil seratus persen, dan menimbulkan permasalahan rasial yang mempengaruhi pilihan permukiman Bab VII mengemukakan persoalan transpor kota dan lalulintas dalam kota. Dengan telah jelas terpilihnya tempat kediaman dan tempat kerja atau tempat kegiatan lainnya, timbul masalah lain yaitu pengangkutan kota yang bersama sama dengan pengangkutan lain menimbulkan persoalan dan pengaturan lalulintas dalam kota yang tak dapat disangkal lagi makin parah berhubung fasilitas yang ada (jalan, dan lain-lain) tidak dapat lagi mendukung makin meningkatnya jumlah kendaraan

Tabel 1.2. Perkembangan Beberapa Kota (Penduduk dalam 000) 1961, 1971, 1980, dan 1990

t.a.d. = tidak ada data Sumber: Sensus 1961, 1971, 1980, dan 1990.

Tabel 1.3. Rata-rata Perkembangan Penduduk/Tahun (%)

Sumber: BPS.Catatan: pada tahun 1990 ternyata Bengkulu menunjukkan perkembangan penduduk tercepat(12, 73) dan Lampung terendah (2,62%).

ISI BUKU
Bab VIII Pemanfaatan tanah, pertumbuhan kota, kesempatan kerja, permukiman dan transpor kota, semuanya memerlukan dana yang tak sedikit. Oleh karena itu, perlulah dibicarakan sumber-sumber dana apa saja yang tersedia bagi suatu kota dan bagaimana mendapatkan dana dan tambahan dana atau paling tidak menekan beban keuangan kota. Masalah perpajakan serta keuangan Bab IXFaktor-faktor yang dikemukakan dan Bab II sampai dengan Bab VIII pada hakikatnya mempunyai dampak tertentu, pada proses urbanisasi

ISI BUKU
mempunyai dampak tertentu.
pada lingkungan yang akan dibicarakan pada Bab X.1 pada kemiskinan yang akan dikemukakan pada Bab X.2, pada kesehatan masyarakat yang akan dibicarakan pada Bab X.3 pada kejahatan yang akan dibicarakan pada Bab X.4, dan pada pendidikan yang juga merupakan prasyarat utama tercapainya tujuan tujuan pemerataan di segala bidang di negara ini, dan ini akan dikemukakan pada Bab X.5.

ISI BUKU
Bab XI akan mencoba menganalisis kemungkinan menyajikan kebijaksanaan terpadu terhadap masalah yang dihadapi kotakota sekarang ini dan di waktu yang akan datang.

ISI BUKU
Bab II dan III merupakan pembicaraan yang berhubungan dengan teori serta latar belakang empiris, dan di dalam kalangan ilmuwan aspek ini dikenal dengan ilmu yang positif sedang Bab IV sampai dengan X merupakan pembicaraan yang berhubungan dengan alat analisa masalah, dan di dalam kalangan ilmuwan aspek ini dikenal dengan nama ilmu yang normatif 5)

ISI BUKU
Di dalam aspeknya yang teoritis-empiris ekonomi perkotaan menganalisis proses terjadinya kota, di mana terjadi perkembangan kota, bagaimana kota berkembang, serta persoalan kota, sedang aspek normatif menerapkan alat analisa untuk memecahkan berbagai persoalan kota.

ISI BUKU
Mempelajari ekonomi perkotaan positif berarti orang memperoleh dasar bagi ekonomi perkotaan normatif. Selain itu ekonomi perkotaan positif perlu dipelajari karena orang harus mengetahui fungsi dan mekanisme bekerjanya kota serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kota, terutama masalah politik, ekonomi dan sosial segala peristiwa di dalam kota, apa sebenarnya tujuan kota serta mengapa kota berkembang dengan pesat, dan sebagainya.

ISI BUKU
Bagaimanapun juga para peminat akan lebih merasakan manfaatnya apabila telah pernah menghayati teori ekonomi mikro karena pada hakikatnya analisis yang dipakai di sini didasarkan pada teori ekonomi mikro tersebut.

SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA