Anda di halaman 1dari 60

HSDK 610 ASPEK HUKUM dalam PEMBANGUNAN (2 SKS)

Oleh : Eliatun, ST., MT.


1

ASPEK HUKUM dalam PEMBANGUNAN


Hukum Kontrak Konstruksi Hukum & Perundang-undangan Jasa Konstruksi di Indonesia Jasa Konstruksi Aspek Hukum Kontrak Konstruksi di Indonesia Aspek Hukum Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Kontrak Konstruksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Pemutusan Kontrak Konstruksi Proses Tender Claim
2

ASPEK HUKUM dalam PEMBANGUNAN


SILABUS Malangjoedo, Soekarsono, AV-41, Badan Penerbit PU, Jakarta Condition of Contract (FIDIC), 3rd edition Ir. H. Nazarkhan Yasin. Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia, PT. Gramedia pustaka Utama, Jakarta
3

MODUL 4
ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI di INDONESIA

ASPEK-ASPEK yg TERKANDUNG dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Suatu kontrak konstruksi atau dokumen kontrak mengandung aspek-aspek seperti: Aspek Teknis Aspek Hukum Aspek Administrasi Aspek Keuangan/Perbankan Aspek Perpajakan Aspek Sosial Ekonomi
5

ASPEK-ASPEK yg TERKANDUNG dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Seluruh aspek ini harus dicermati karena semuanya saling mempengaruhi dan ikut menentukan baik buruknya suatu pelaksanaan kontrak, atau dengan kata lain sukses tidaknya suatu pekerjaan/proyek sangat tergantung dari penanganan aspekaspek ini

ASPEK TEKNIS
7

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


ASPEK TEKNIS:

Aspek ini merupakan aspek yang paling dominan dalam suatu kontrak konstruksi. Aspek inilah yang menjadi pusat perhatian para pelaku industri jasa konstruksi, seolah-olah apabila aspek ini berhasil dilaksanakan proyek tsersebut dianggap berhasil/sukses. Padahal aspek-aspek lain seharusnya juga diperhatikan dan dikelola dengan baik agar seluruh isi kontrak dapat dijalankan dan dipatuhi sebagaimana mestinya oleh para pihak yang menandatangani kontrak tersebut.
8

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Umumnya aspek teknis yang tercakup dalam dokumen kontrak adalah sbb.: - Syarat-syarat Umum Kontrak - Lampiran-lampiran - Syarat-syarat Khusus Kontrak - Spesifikasi - Gambar-gambar Kontrak

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Aspek teknis seringkali berimplikasi dgn aspek lainnya. Contohnya ad. munculnya aspek hukum krn kurang hati-hati atau kurang cermat dlm menguraikan salah satu aspek teknis tertentu. Beberapa aspek teknis berikut membuktikan hal tersebut: 1. Lingkup Pekerjaan (Scope of Works) Uraian pekerj. hrs dibuat sejelas mungkin serta didukung dgn gambar2 & spesifikasi teknis. Namun bisa saja ada yg terlupakan, misalnya batas pekerj. tsb. dgn pekerj. yg berdampingan, yg dikerjakan o/ penyedia jasa lain.

10

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Contoh: Penyedia Jasa A mengerjakan pekerjaan a, b, c, d Penyedia Jasa B mengerjakan pekerjaan e, f, g, h Ada pekerjaan jalan lingkungan yang harus dikerjakan lebih dulu agar Penyedia Jasa B dapat memulai pekerjaan e. Kewajiban siapa membuat Jalan Lingkungan tsb??
11

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


2. Waktu Pelaksanaan (Construction Period)

Seharusnya jumlah harinya disebutkan dengan jelas, misalnya 450 hari. Hari yang dimaksud jelas sebagaimana tsb. dalam definisi. Tetapi ada yang mungkin terlupakan. Empat ratus lima puluh (450) hari tsb. Dimulai sejak kapan? Sejak penandatanganan kontrak/tanggal kontrak atau tanggal terbitnya Surat Perintah Kerja (SPK) atau tanggal penyerahan lahan atau tanggal Jaminan Pelaksanaan atau tanggal diterimanya 12 Uang Muka.

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Apabila hal ini terjadi, sudah tentu akan muncul sengketa di kemudian hari. Sengketa tsb. Antara lain adalah dalam menghitung keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Yang paling baik adalah ditetapkan bahwa tanggal mulai kerja yaitu tanggal paling akhir dari kejadian tersebut di atas (tanggal penandatangan kontrak/tanggal kontrak, tanggal terbit SPK, tanggal penyerahan lahan, tanggal Uang Muka diterima)
13

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


3. Metode Pelaksanaan (Construction Method)
Walaupun metode pelaksanaan sudah ditetapkan sebelumnya dan sudah disetujui pengguna jasa, metode pelaksanaan dalam implementasinya sangat dipengaruhi antara lain oleh waktu mulainya pelaksanaan, penyerahan lahan, jalan masuk ke lapangan yang dapat mengakibatkan metode kerja tsb. tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya.
14

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Perubahan jalan masuk ke lapangan dapat mengakibatkan mobilisasi bahan dan peralatan terganggu. Demikian pula halnya bila lahan terlambat diserahkan atau diserahkan bertahap, misalnya menunggu pembebasan tanah.

15

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


4. Jadwal Pelaksanaan (Time Schedule)
Setiap kontrak selalu dilengkapi dengan Jadwal Pelaksanaan yang diperlukan sebagai alat untuk memantau dan mengendalikan pekerjaan. Jadwal pelaksanaan biasanya sudah disiapkan sebelum kontrak ditandatangani dan disetujui penguna jasa bersama-sama dengan persetujuan mengenai metode kerja.

16

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Perubahan jalan masuk ke lapangan dapat mengakibatkan mobilisasi bahan dan peralatan terganggu. Demikian pula halnya bila lahan terlambat diserahkan atau diserahkan bertahap, misalnya menunggu pembebasan tanah. Pekerjaan yang menggunakan Jadwal Pelaksanaan sederhana (barchart) hanya dapat dipantau kapan pekerjaan dimulai dan kapan harus selesai. Apabila pekerjaan tsb. terlambat dimulai atau tidak selesai, dampaknya terhadap seluruh penyelesaian pekerjaan tidak segera dapat diketahui.
17

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Namun, dengan jadwal yang memiliki kurva S prestasi yang dicapai dalam kurun waktu tertentu, apakah sesuai rencana, terlambat, atau lebih cepat dapat dipantau.

18

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


5. Cara/Metode Pengukuran (Method of Measurement)
Sebagai contoh: Walaupun penampang bentuk pondasi adalah persegi atau bentuk T terbalik, biasanya pengguna jasa sepakat saja apabila volume galian tanah untuk pondasi tsb. dihitung berdasarkan penampang berbantuk trapesium terbalik yang mengakibatkan volume galian tanah untuk pekerjaan pondasi akan lebih besar daripada volume tanah apabila mengikuti bentuk pondasi yang sesunguhnya.
19

ASPEK-ASPEK TEKNIS dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Hal ini sangat berbeda dengan metode pengukuran yang menggunakan standar tertentu, misalnya British Standard (BS). Dalam standar ini ditetapkan bahwa galian pondasi tidak diukur sesuai volume galian yang dikerjakan tetapi diukur sesuai volume pondasi tsb.

20

ASPEK HUKUM
21

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Aspek Hukum yang sering menimbulkan dampak hukum yang cukup luas atau serius, yaitu: 1. Penghentian Sementara Pekerjaan (Suspension of Work)

Pasal mengenai hal ini sering kali lupa dicantumkan dalam kontrak, padahal kemungkinan terjadinya hal ini cukup besar terutama untuk kontrak-kontrak besar dan menggunakan teknologi canggih dan padat peralatan.
22

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Apabila terjadi baik penyedia jasa dan pengguna jasa akan dihadapkan kepada ketidakpastian secara hukum, antara lain: - Bagaimana mengatur ganti rugi akibat pekerjaan terhenti sementara? - Berapa lama penghentian dapat diijinkan? Oleh karena itu, penghentian sementara ini harus dicantumkan dalam kontrak dan diatur tata cara pelaksanaannya, alasan-alasan serta akibatnya.

23

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Satu hal yang perlu diingat bahwa penghentian sementara tidak sama dengan pengakhiran perjanjian/pemutusan kontrak walaupun keadaan di lapangan yang terjadi sama, yaitu seluruh kegiatan pekerjaan terhenti.

24

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


2. Pengakhiran Perjanjian/Pemutusan Kontrak
Apa yang terjadi disini adalah pelaksanaan pekerjaan dihentikan (bukan ditangguhkan sementara) oleh salah satu pihak secara sepihak dengan membatalkan kontrak. Tentu saja hal ini dilakukan karena alasan-alasan yang ditentukan dalam kontrak.

25

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Oleh karena itu, hak-hak para pihak (penyedia jasa dan pengguna jasa) untuk memutuskan kontrak harus jelas disebutkan. Konsekuensi hukum yang timbul, termasuk hak dan kewajiban para pihak beserta tata cara pemberitahuan mengenai pemutusan kontrak, juga harus diatur dengan jelas.

26

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


3. Ganti Rugi Keterlambatan (Liquidity Damages)
Dulu dalam setiap kontrak ada pasal yang mengatur sanksi berupa denda yang harus dibayar penyedia jasa karena keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Di dunia Barat pasal ini dikenal dengan istilah Penalty Clause dan kita sering menyebutnya sebagai Denda Keterlambatan

27

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Terlepas dari kenyataan apakah keterlambatan tersebut menimbulkan kerugian kepada pengguna jasa, denda tetap dikenakan. Belakangan ini para pelaku jasa konstruksi di dunia Barat mulai berpikir bahwa hal ini kurang adil, dan mengubah istilah denda ini dengan ganti rugi atas keterlambatan.
Jadi karena keterlambatan tersebut menimbulkan kerugian, maka pihak yang dirugikan mendapatkan ganti rugi.
28

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Masalah ini menjadi kritis dan dapat menjadi benih perselisihan/sengketa. Terutama serhubungan dengan penghitungan jumlah hari keterlambatan yang disebabkan antara lain oleh perbedaan penafsiran saat mulai kerja yang tidak tegas dan pasti.

Masalah ini menjadi sangat serius pada waktu ganti rugi mencapai maksimum. Misalnya, ditetapkan ganti rugi atas keterlambatan per hari 1 o/oo dan ganti rugi maksimum 5%.

29

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Artinya keterlambatan maksimum adalah 50 hari.
Bagaimana bila setelah 50 hari pekerjaan belum juga selesai? Apakah Penyedia Jasa diizinkan terus bekerja? Jika ya, maka pekerjaan diteruskan tanpa dikenakan ganti rugi. Hal ini seharusnya diatur dengan tegas dan jelas dalam suatu pasal agar tidak menimbulkan masalah hukum yang serius.

30

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


4. Penyelesaian Perselisihan (Settlement of Dispute) Walaupun pembuatan kontrak umumnya didasari oleh itikad baik dari para pihak, pasal mengenai hal ini harus diatur sebaik mungkin untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya perselisihan/sengketa mengenai kontrak dikemudian hari.
31

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Sebagai contoh, walaupun perselisihan yang
terjadi pertama-tama disepakati untuk diselesaikan melalui jalan musyawarah untuk mufakat, tetapi yang sering terjadi adalah tidak diterapkannya batas waktu musyawarah sehingga musyawarah terus berlangsung tanpa batas waktu. Sekalipun dikatakan bahwa jika musyawarah tidak menghasilkan mufakat maka perselisihan dapat diselesaikan melalui Lembaga Arbitrase/Pengadilan, masalahnya adalah kapan perselisihan tersebut dapat diserahkan ke Arbitrase/Pengadilan karena musyawarah terus terjadi tanpa batas waktu.
32

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


5. Keadaan Memaksa (Force Majeure)

Yang dimaksud dengan keadaan memaksa adalah keadaan yang terjadi di luar kehendak/kemampuan Penyedia Jasa maupun Pengguna Jasa.
Semua ketentuan mengenai hal ini harus jelas disebutkan termasuk tata cara pemberitahuan, penanggulangan atas kerusakan, dan tindak lanjut setelah kejadian tersebut. Yang penting diketahui adalah bahwa keadaan memaksa ini erat kaitannya dengan masalah asuransi.
33

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


sebagai contoh, perusahaan asuransi tidak
begitu saja dapat menerima banjir atau tanah longsor sebagai keadaan memaksa, karena belum tentu kedua kejadian tersebut memang benarbenar tindakan Tuhan tetapi karena ulah manusia (seperti jalan tol ke Bandara Soekarno-Hatta yang banjir akibat penataan ruang di sekitarnya keliru atau tidak memenuhi syarat). Dalam sistem FIDIC disebut dengan istilah Special Risk

34

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


6. Hukum yang Berlaku (Governing Law)

Yang dimaksud di sini adalah hukum yang berlaku bagi kontrak tersebut. Hukum itu harus dicantumkan dalam kontrak untuk mengantisipasi apabila terjadi perselisihan/sengketa
PP No.29/2000 psl.23 ayat 6 dengan tegas mengatakan bahwa kontrak kerja harus tunduk pada hukum yang berlaku di Indonesia. Ini berarti walaupun salah satu pihak dalam kontrak adalah orang/perusahaan asing, kontrak konstruksi tetap harus tunduk pada hukum Indonesia
35

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


dalam kontrak konstruksi dimana para pihaknya berasal dari 2 negara mungkinsaja mereka sepakat menetapkan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum negara ketiga.

Sebagai contoh, kontrak antara perusahaan AS


dan perusahaan Filipina memilih hukum yang berlaku adalah Hukum Singapura dengan alasan penyelesaian sengketa akan diselesaikan oleh Lembaga Arbitrase Singapura

36

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


7. Bahasa Kontrak (Contract Language)

Kontrak konstruksi di Indonesia pada umumnya dibuat dalam bahasa Indonesia terutama kontrakkontrak dengan Pemerintah yang menggunakan dana dari Pemerintah murni (APBN). Namun proyek-proyek Pemerintah yang menggunakan dana pinjaman luar negari (loan) kontrakkontraknya biasanya dibuat dalam bahasa Inggris

37

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Sering kali kontrak konstruksi dibuat dalam 2 bahasa; Inggris dan Indonesia tanpa menyatakan versi bahasa mana yang berlaku, jika terjadi permasalahan perbedaan penafsiran karena umumnya kita kurang menguasai bahasa Inggris, penyelesaiannya akan sulit dicari karena secara hukum keduanya benar. Seharusnya dinyatakan bahwa walaupun kontrak dibuat dalam 2 bahasa, yang berlaku hanya 1 bahasa. Hal ini biasa disebut dengan istilah The Ruling Language atau The language of the contract is English and

Indonesian. In the event there is a discrepancy or the ambiguity, the English version will prevail

38

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Dalam PP No.29/2000 Psl.23 ayat 5 menegaskan bahwa bahasa kontrak hanya ada satu, yaitu bahasa Indonesia, walaupun dibuat dalam lebih dari satu bahasa
8. Domisili Kesepakatan mengenai domisili (tempat kedudukan) para pihak dalam suatu kontrak ditentukan hanya dengan maksud apabila terjadi perselisihan/sengketa, permasalahannya akan diselesaikan oleh pengadilan.
39

ASPEK HUKUM dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Apabila disepakati dalam kontrak bahwa pilihan penyelesaian sengketa adalah arbitrase maka penetapan domisili tidak diperlukan. Banyak kontrak yang walaupun telah memilih arbitrase sebagai pilihan penyelesaian sengketa masih tetap mencantumkan domisili. Ini adalah suatu kekeliruan yang justru menimbulkan sengketa. Jika benar-benar terjadi sengketa, sulit menyelesaikannya karena pada saat salah satu pihak mengajukan perselisihan ke arbitrase, pihak lain menyatakan keberatan dan minta perselisihan diselesaikan melalui pengadilan
40

ASPEK ADMINISTRASI
41

ASPEK ADMINISTRASI dalam KONTRAK KONSTRUKSI

Aspek Administrasi meliputi : Keterangan menganai para pihak;


Dalam UU No.18/1999 psl.22 ayat 2(a) & PP No.29 psl.23 ayat 1, mensyaratkan pencantuman akta badan usaha atau usaha perseorangan, nama wakil/kuasa badan usaha ini sesuai kewenangan pd akta badan usaha atau sertifikat keahlian kerja, sertifikat keterampilan kerja bagi usaha perseorangan & tempat kedudukan & alamat badan usaha atau usaha perseorangan
42

ASPEK ADMINISTRASI dalam KONTRAK KONSTRUKSI

Laporan kemajuan pekerjaan;


Didalamnya diatur mengenai tata cara beserta format yg baku & periode pelaporan. Hal ini perlu u. memantau kemajuan pekerjaan dibandingkan dgn rencana/jadwal pelaksanaan

Korespondensi;
Berfungsi u. tertib administrasi mengenai informasi an. Para pihak agar semuanya dapat didokumentasikan & dapat diakui keabsahannya
43

ASPEK ADMINISTRASI dalam KONTRAK KONSTRUKSI

Hubungan kerja an. Para pihak;


Yg dimaksud disini ad. Penetapan nama/badan yg mewakili Pengguna Jasa di lapangan. Dalam hal ini, diatur jg hal yg sebaliknya sehubungan dgn Penyedia Jasa

44

ASPEK KEUANGAN
45

ASPEK KEUANGAN/PERBANKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI

Aspek-aspek Keuangan/Perbankan yang penting dalam suatu kontrak konstruksi antara lain : Nilai Kontrak (Contract Amount)/Harga Borongan

Cara Pembayaran (Method of payment) Jaminan-jaminan (Guarantee/Bonds); Jaminan Penawaran (Bid Bond), Jaminan Uang Muka (Advance Payment Bond), Jaminan Pelaksanaan (Performance Bond), Jaminan Pembayaran (Paymeny Bond), Jaminan Pemeliharaan (Maintenance Bond)
46

ASPEK KEUANGAN/PERBANKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


1. BANK GARANSI & STANDBY LETTER OF

CREDIT

Garansi Bank atau Standby L/C merupakan perjanjian buntut (accessoir) yg apabila ditinjau
dari segi hukum merupakan perjanjian penangungan (borgtocht)

Khusus untuk Standby L/C, selain tunduk kepada peraturan Bank Indonesia, juga tunduk kepada Uniform Customs and Practices for

Documentary Credit

47

ASPEK KEUANGAN/PERBANKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Kendala Bank dalam pemberian Garansi Bank :
Pemberian garansi bank terkena ketentuan Batas Minimum Pemberian Kredit (lebih dikenal dengan nama Legal Lending Limit atau LLL)

Garansi bank juga terkena ketentuan tentang Kewajiban pemenuhan Modal Minimum (dikenal dengan istilah Capital Adequency Ratio atau CAR)
48

ASPEK KEUANGAN/PERBANKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


2. SURETY BOND
Merupakan sejenis jaminan yg diberikan o/ perusahaan asuransi tanpa Legal Lending Limit maupun Capital Adequancy Ratio. Maksud dilahirkannya Surety Bond (Keppres 14 A/1980),an.; Memperluas jaminan yg dpt digunakan o/ para Penyedia Jasa dlm pengerjaan pemborongan &/atau pembelian.
49

ASPEK KEUANGAN/PERBANKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Menciptakan pasar jaminan yg kompetitif, sehingga tdk dimonopoli hanya o/ Bank Pemerintah saja.

Prinsip2 Surety Bond : Kontrak an. Tiga pihak, dimana kontrak an. Penyedia Jasa dgn Pengguna Jasa menjadi dasarnya Jangka waktu Surety Bond pd prinsipnya menjamin sepanjang jangka waktu kontrak yg telah dibuat an. Principal (Penyedia Jasa) dgn Obligee (Pengguna Jasa)
50

ASPEK PAJAK
51

ASPEK PERPAJAKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


PAJAK-PAJAK yg TERKAIT dengan JASA KONSTRUKSI

1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Secara teori, PPN sebagai salah satu jenis pajak tdk langsung merupakan pajak atas konsumsi dlm negeri yg dipungut pd setiap tingkat penyerahan dlm jalur produksi, distribusi, pemasaran & manajemen dgn menggunakan metode kredit pajak

52

ASPEK PERPAJAKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Dasar pengenaan pajaknya ad. Nilai Penggantian, yaitu nialai berupa uang, termasuk semua biaya yg diminta atau seharusnya diminta o/ penyedia jasa kpd pengguna jasa. Besarnya tarif PPN ad. 10 %

53

ASPEK PERPAJAKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


2. Pajak Penghasilan (PPh)
Secara teori, PPh adalah Pajak atas penghasilan yang merupakan jenis pajak langsung yang dipungut o/ pemerintah.

54

ASPEK PERPAJAKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Mekanisme Pengenaan PPh at. Penghasilan Jasa Konstruksi;
1. Penyedia Jasa yg memenuhi kualifikasi sbg usaha kecil & memp. Nilai pengadaan s/d Rp. 1.000.000.000 (1 milyar rupiah) : Dikenakan pemotongan pajak yg bersifat final o/Pengguna Jasa.
55

ASPEK PERPAJAKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Dengan tarif pajak;
2% dr jumlah bruto yg diterima Wajib Pajak penyedia jasa pelaksanaan jasa konstruksi

4% dr jumlah bruto yg diterima Wajib Pajak penyedia jasa perencanaan konstruksi


4% dr jumlah bruto yg diterima Wajib pajak penyedia jasa pengawasan konstruksi

56

ASPEK PERPAJAKAN dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Mekanisme Pengenaan PPh at. Penghasilan Jasa Konstruksi;
2. Penyedia jasa yg tdk memenuhi kualifikasi sbg usaha kecil; Dikenakan pemotongan pajak Tarif pajak; 4% x jumlah bruto imbalan jasa perencanaan & pengawasan konstruksi 2% x jumlah bruto imbalan jasa pelaksanaan konstruksi
57

ASPEK SOSIAL EKONOMI


58

ASPEK SOSKO dalam KONTRAK KONSTRUKSI


Diantaranya ; Keharusan menggunakan tenaga kerja tertentu Keharusan menggunakan bahan2 bangunan/material serta peralatan yg diperlukan di dalam negeri Dampak lingkungan
59

TERIMA KASIH

60