Anda di halaman 1dari 19

LOGO

Click to edit title style

INDONESIA

Kerjasama Bilateral Ekonomi Indonesia Dan China


Kerja sama bilateral Indonesia dan China merupakan suatu hubungan diplomatik yang bersifat idealis dan kompetitif. Banyaknya hal yang menguntungkan dari kerjasama ini, akan menciptakan suatu hubungan bilateral yang dinamis, bersama dengan persaingan produk Cina yang menjamur di pasaran Indonesia, membuat komditi pasar Indonesia pun, harus segera dapat menyeimbangkan pendapatan distribusi penyebaran produk China, yang telah menduduki pasaran tingkat atas pada sistem distribusian.

Namun dibalik persaingan ekonomi, di kedua negara ini, yakni Indonesia dan China, kedua negara ini begitu banyak membangun diplomasi di bidang lain, selain di bidang ekonomi, Indonesia dan China terlibat dalam G-20, dan termasuk dalam ASEAN plus 3, dan Organisasi perdagangan WTO. Ini membuktikan, bahwa Indonesia dan China masih memiliki hubungan yang berkesinambungan dalam hal kerjasama politik, yang dimana hubungan ini masih sangat diperlukan untuk saling mendukung dalam upaya meningkatkan dukungan intensitas kepercayaan internasional.

Banyaknya produk China yang menjamur di pasaran Indonesia, dikarenakan, keahlian para pengusaha dari China, yang mampu membaca situasi pasar Indonesia, yang kurang mengembangkan industri kecilnya, yang dinilai berpotensi menjadi salah satu pengembangan hegemoni baru, untuk menghasilkan komoditi yang cukup bagus bagi pasaran ekspor di luar negeri. Hal ini menjadi sebuah problema tersedendiri yang telah dimanfaatkan China, untuk membidik pasaran Indonesia, yang dinilai oleh China, Indonesia masih mengalami pendapatan ekonomi masyarakatnya. Sehingga sebuah pencitraan konsumsi pasar baru, diciptakan oleh China, untuk mencari keuntungan tersendiri dari efek keadaan Indonesia yang rata-rata penduduknya memiliki income per kapita yang kecil, dalam statistik perekonomiannya.

Diluar dari permasalahan persaingan bisnis ekonomi, Indonesia dam China, harus dapat saling memahami, untuk lebih jauh mengadakan pendekatan ke arah bidang yang lain. Indonesia dapat mempelajari dari sistem hukum China, mengenai pemberantasan Korupsi, yang dilaksanakan Pemerintah China dengan tegas. China telah berhasil menyelesaikan dengan tegas, mengenai ekspansi korupsi, dengan menggunakan sistem hukum yang cukup berat, bagi para pelaku Korupsi di negeri China tersebut. Indonesia harus lebih bersikap dewasa dalam mengelola lebih jauh mengenai hubungan diplomasi yang kondusif dengan China. Selain AFTA China yang masuk ke dalam regionalisme ASEAN, Indonesia harus dapat dengan cermat membidik celah, untuk menyeimbangkan sektor ekonominya, agat tidak terjadi konjungtivitas terlalu jauh dengan China.

Kerjasama Bilateral Ekonomi Indonesia Dan China


Indonesia dan China telah melakukan hubungan diplomatis semenjak tanggal 13 April 1950. Akan tetapi, hubungan diplomatis bilateral kedua negara tersebut sempat terhenti pada tahun 1967, setelah merebaknya isu kudeta komunisme di Indonesia. Pada bulan Desember 1989, atau selang waktu dekade setelah adanya perbaikan hubungan bilateral diantara Indonesia dan China, Indonesia dan china sepakat untuk membahas berbagai hal mengenai normalisasi hubungan bilateral kedua negara.

Selanjutnya, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas, mengadakan kunjungan ke China tahun 1990, dan setelah kunjungan tersebut, kedua belah pihak Negara, Indonesia dan China, menandatangani Kesepakatan Penyelesaian Kewajiban Hutang Indonesia ke China, yakni, Agreement on the Settlement of Indonesias Debt Obligation to china, dan Komunike Pengadaan kembali Hubungan Diplomatis antara RRC dan Republik Indonesia ( RI ), ( Comminique on the Resumption of Diplomatic Relation between peoples Republic of China and the Republic of Indonesia ).

Hubungan anatara kedua negara semakin membaik, selama masa krisis ekonomi, khususnya setelah adanya kunjungan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, ke China pada bulan Desember 1999. Pada waktu itu, kedua pihak sepakat bahwa Indonesia dan China harus meningkatkan kontak antar anggota masyarakat, yang digunakan untuk memperbaiki hubungan di antara kedua negara Indonesia dan China. Indonesia sebenarnya menandatangani kesepakatan perdagangan Bilateral dengan China pertama kali pada tahun 1953, dengan nilai awal perdagangan mencapai kisaran AS$ 7,4 juta, dan secara konsisten meningkat hingga AS$ 129 juta pada jangka waktu lima tahun itu,

Hubungan ekonomi antara Indonesia dan China juga semakin membaik bersamaan dengan milenium baru. China khususnya, mampu menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik ( BPS ), anatara tahun 2003 hingga 2004, atau masa setelah pelaksanaan tahap awal dari ACFTA, atau EHP, pada bulan Januari 2004 dan tidak lama setelah itu, ekspor Indonesia ke China meningkat sebanyak 232, 20 persen, sedangkan impornya dari China meningkat hanya sebesar 38,67 persen saja. Indonesia dan China melihat hubungan satu dengan lainnya sebagai mitra ekonomi yang potensial ( Atje dan Gaduh 1999: 8-9 ).

Dari kacamata para pembuat kebijakan Indonesia, populasi penduduk China yang mencapai 1,2 milyar jiwa merupakan kesempatan ekonomi yang perlu digali. Selain itu, para pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi Indonesia juga semakin prihatin dengan masuknya China ke dalam WTO, pada bulan November 2001, khususnya mengenai peningkatan daya saing China di pasar dunia yang dapat menjadi pesaing bagi ekspor Indonesia.

Kerjasama Bilateral Ekonomi Indonesia Dan Singapura


Pada dasarnya kedua negara memiliki tingkat komplementaritas ekonomi yang tinggi. Di satu sisi, Singapura mempunyai keunggulan di sektor knowledge, networking, financial resources dan technological advance. Sementara Indonesia memiliki sumber daya alam dan mineral yang melimpah serta tersedianya tenaga kerja yang kompetitif. Sebagai negara yang wilayahnya kecil, pasar domestiknya sangat terbatas dan sumber daya alamnya langka, Singapura sangat menggantungkan perekonomiannya pada perdagangan luar negeri.

Oleh karena itu pula Singapura sangat berkepentingan terhadap sistem perdagangan internasional yang terbuka dan bebas di bawah naungan WTO. Guna mengamankan kepentingannya, Singapura tidak hanya mengandalkan pada proses negosiasi multilateral, sejak 1999 Singapura telah mulai menjajagi bentuk-bentuk pengaturan perdagangan bilateral. Belakangan dengan tersendatnya proses negosiasi di WTO, Singapura semakin gencar menempuh langkah-langkah bilateral dan regional yang diyakini dapat mengakselerasi proses liberalisasi perdagangan dan memperkuat sistem perdagangan multilateral.

Pada dasarnya hubungan bilateral IndonesiaSingapura memiliki fondasi yang sangat kuat yang dibuktikan dengan telah ditandatanganinya berbagai Kesepakatan ataupun Perjanjian antara kedua negara. Selain itu, untuk fondasi kerjasama ekonomi khususnya antara Singapura dengan Batam dan Riau, kedua negara memiliki Legal Framework yang kokoh dengan ditandatanganinya beberapa Persetujuan antara lain:

* Basic Agreement on Economic and Technical Cooperation yang ditandatangani di Singapura 29 Agustus 1974; * Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik RISingapura (1977); * Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik untuk Pengembangan Pulau Batam (31 Oktober 1980); * Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda/P3B (1990); * Persetujuan Kerjasama Ekonomi dalam rangka Pengembangan Propinsi Riau (28 Agustus 1990); * Perjanjian Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P4M/IGA) ditandatangani pada 16 Februari 2005. Indonesia meratifikasi pada Februari 2006; * Framework Agreement on Economic Cooperation in the Island of Batam, Bintan and Karimun (SEZs), 25 Juni 2006.

Pemberdayaan sektor swasta juga sudah kembali meningkat yang ditandai dengan cukup tingginya kegiatan kunjungan antara para pelaku usaha kedua negara. Sebagai hasilnya, semakin meningkatnya transaksi perdagangan dan investasi kedua negara. Sesuai dengan data dari International Enterprise Singapore Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ke-5 Singapura dengan total nilai perdagangan mencapai S$ 54 milyar (2005) yang mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun 2004 yang mencapai nilai S$ 30,1 milyar. Ekspor Indonesia ke Singapura mencapai S$ 16,4 milyar sementara impornya mencapai S$ 13,7 milyar.

Kerjasama Bilateral Ekonomi Indonesia Dan Belanda


Di bidang ekonomi, Indonesia mengharapkan Belanda tetap menjadi mitra dagang dan investasi. Selama periode 2004-2008, perdagangan kedua negara mengalami kenaikan sebesar 17,38%, walaupun karena krisis ekonomi global, volume perdagangan kedua negara menurun dari US$ 4,142 milyar (2008) menjadi US$ 3,405 milyar (2009). Pada tahun 2008, Belanda merupakan investor asing terbesar keempat di Indonesia setelah Inggris, Jerman dan Perancis, dengan nilai US$ 89.9 juta yang meliputi 34 proyek.

Sedangkan dalam rangka mendorong ekspor produk domestik ke pasar Belanda, Indonesia menawarkan peningkatan kerjasama promosi produk Kelompok Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) melalui program Satu Desa Satu Produk. Hal ini dilakukan guna meningkatkan peran pengusaha UKM untuk mendorong produk ekspor Indonesia. Dalam pertemuan ini juga akan dibahas mengenai langkahlangkah untuk mengatasi hambatan kerjasama perdagangan dan investasi khususnya peraturan yang diterapkan terhadap komoditi Indonesia ke Belanda dan Uni Eropa dan mengatasi hambatan investasi Belanda di Indonesia.

Kedua delegasi akan memberikan perhatian pada beberapa komoditi ekspor, antara lain, palm oil, kakao, perikanan dan bahan-bahan kimia terkait dengan ketentuan Uni Eropa/REACH. Pencabutan Larangan Terbang dan Kerjasama Pariwisata Komisi Bersama kali ini juga membahas tindak lanjut pencabutan larangan terbang secara parsial Uni Eropa terhadap beberapa maskapai penerbangan Indonesia, khususnya dengan rencana dibukanya kembali rute penerbangan oleh maskapai Garuda Indonesia. Hal ini akan menjadi momentum baik untuk selain memperkuat hubungan antar bangsa, namun juga meningkatkan kerjasama ekonomi