Anda di halaman 1dari 40

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Sanggitha Yuningtyas H1A 008 045

PENDAHULUAN

Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media dengan perforasi yang menetap dan sekret yang tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut

otitis media supuratif kronis (OMSK). Sekret


mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah.

Di Indonesia prevalensi OMSK adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Telinga Telinga Luar

Telinga Tengah

Telinga Dalam

Gambar 3. Koklea, Organ Corti, dan Stereosillia

Gambar 4. Organ Corti

Otitis Media Supuratif Kronik


Definisi : Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah.

Epidemiologi
Kategori Paling tinggi (>4%) Populasi Tanzania, India, Pulau Solomon, Guam, Aborigin Australia, Greenland Tinggi (2-4%) Nigeria, Angola, Mozambi, Korea, Thailand, Filiphina, Malaysia,

Thailand, Indonesia, Cina, Eskimo Rendah (1-2%) Paling rendah (<1%) Brazil, Kenya UK, Saudi Arabia, Israel, Australia, Finlandia, Amerika, Gambia.

Tabel 2.1 Prevalensi OMSK Setiap Negara oleh WHO Regional Classification

Etiologi

Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius. Fungsi tuba eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down Sindrome. Faktor Host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit) dapat bermanifestasi sebagai sekresi telinga kronis

Patogenesis

Disfungsi tuba Eustachius, merupakan penyebab utama terjadinya otitis media. Infeksi saluran nafas atas, bakteri menyebar dari nasofaring melalui tuba Eustachius ke telinga tengah terjadi respon imun di telinga tengah mediator peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oeh sel-sel imun infiltrat (neutrofil, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan sel mastosit) menambah permeabilitas pembuluh darah dan menambah pengeluaran sekret di telinga tengah

kadar sitokin kemotaktik yang dihasilkan mukosa telinga tengah akumulasi sel-sel peradangan pada telinga tengah. Mukosa telinga tengah mengalami hiperplasia, mukosa berubah bentuk dari satu lapisan epitel skuamosa sederhana pseudostratified respiratory epithelium (memiliki sel goblet dan sel yang bersilia, stroma, pembuluh darah yang banyak) Terjadinya OMSK disebabkan oleh keadaan mukosa telinga tengah yang tidak normal atau tidak kembali normal setelah proses peradangan akut telinga tengah, keadaan tuba Eustachius yang tertutup dan adanya penyakit telinga waktu

Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK : Terapi Yang Terlambat Diberikan, Terapi Yang Tidak Adekuat, Virulensi Kuman Tinggi, Daya Tahan Tubuh Pasien Rendah (Gizi Kurang) Atau Higiene Buruk

Letak Perforasi

Perforasi sentral : perforasi terdapat dipars tensa dan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran timpani Perforasi marginal : sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum Perforasi atik : perforasi yang terletak di pars flaksida

Klasifikasi

OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe benigna) perforasi sentral OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna) perforasi marginal dan atik

Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar OMSK aktif ialah OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMSK tenang ialah yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering(1).

Gejala Klinis

Telinga berair (otorrhoe) Gangguan pendengaran Nyeri telinga (Otalgia) Vertigo

Penegakan diagnosis

Anamnesis (history-taking) Pemeriksaan otoskopi Pemeriksaan audiologi Pemeriksaan radiologi Bakteriologi

Diagnosa Banding
Otitis eksterna, Infeksi Spesifik (penyakit dengan etiologi mycobacteria), Wegener

granulomatosis, dan tumor pada telinga tengah

Penatalaksanaan
OMSK tipe aman : konservatif dengan medikamentosa H2O2 3% selama 3-5 hari. Obat tetes telinga : antibiotika dan kortikosteroid. Antibiotika golongan ampisilin, atau eritromisin,ampisin asam klavulanat. Bila sekret telah kering, perforasi (+) setelah 2 bulan : miringoplasti atau timpanoplasti. Terapi sumber infeksi : adenoidektomi dan tonsilektomi

OMSK tipe bahaya : pembedahan, yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti.

Terapi konservatif medikamentosa : terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuer : insisi abses

Komplikasi

Komplikasi di telinga tengah : perforasi persisten, erosi tulang pendengaran dan paralisis nervus fasial. Komplikasi telinga dalam : fistel labirin, labirinitis supuratif dan tuli saraf (sensorineural). Komplikasi ekstradural yaitu abses ekstradural, trombosis sinus lateralis dan petrositis. Komplikasi ke susunan saraf pusat : meningitis, abses otak dan hidrosefalus otitis.

Prognosis

Pasien dengan otitis media supuratif kronis memiliki prognosis yang baik dengan pemberian terapi yang dapat mengontrol infeksi. Tuli konduksi sering dapat berhasil dikoreksi melalui pembedahan. Tingkat mortalitas otitis media kronik meningkat jika disertai dengan komplikasi intrakranial

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN Nama pasien : Tn. H Umur : 33 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Punia Pekerjaan : Swasta Tanggal Pemeriksaan : 21 Maret 2012

ANAMNESIS
Keluhan utama: Nyeri pada telinga kanan sejak 2 hari yang lalu Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang ke poliklinik THT RSU Provinsi NTB dengan keluhan nyeri pada telinga kanan. Nyeri pada telinga kanan disertai keluarnya cairan kental bewarna kekuningan, agak berbau, dan tidak disertai keluarnya darah. Sebelum datang berobat ke RSU pasien merasa didalam telinganya seperti tersumbat oleh air disertai suara yang mendengung, kemudian baru diikuti oleh nyeri pada telinga dan keluarnya cairan dari telinga kanan. Pendengaranya menurun (+). Pasien hanya mengeluhkan nyeri pada telinga kanan, sedangkan pada telinga kiri tidak. demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan(-). Riwayat mengorek telinga (+)

Riwayat penyakit dahulu : Pasien mengaku pernah mengalami keluhan serupa pada waktu SD, namun pasien tidak dapat mengingat dengan jelas telinga kanan atau kiri yang mengalami keluhan serupa. Sejak saat itu pasien tidak pernah mengalami nyeri dan keluar cairan lagi dari dalam telinganya. Riwayat penyakit keluarga/sosial : Riwayat pengobatan: Riwayat alergi : -

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tensi Nadi Respirasi Suhu

: Baik : Compos mentis


: 120/90 mmHg : 76 x/menit : 16 x/menit : 35,6C

Status Lokalis

Cont

DIAGNOSIS

Otitis media supuratif kronis tipe aman fase aktif dextra Otitis media supuratif kronis tipe aman fase inaktif sinistra

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Foto rontgen mastoid Kultur dan uji resistensi kuman dari sekret telinga Pemeriksaan audiometri

RENCANA TERAPI

Medikamentosa Larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Antibiotik sistemik : Amoxicillin 3 x 500 mg (14-21 hari) Analgetik : Asam Mefenamat 3 x 500 mg Pembedahan Timpanoplasti

KIE PASIEN
Pasien dianjurkan untuk tetap menjaga kebersihan telinga dan tidak mengorek-ngorek liang telinga. Antibiotik harus diminum sampai habis walaupun gejala sudah hilang, dengan tujuan eradikasi kuman penyebab dapat tercapai, dan tidak sampai menimbulkan resistensi serta komplikasi. Untuk sementara, liang teling dijaga agar tetap kering. Jika pasien ingin mandi sebaiknya kedua telinga ditutup dengan kapas. Datang kembali untuk kontrol, untuk melihat perkembangan peyembuhan pada perforasi membran timpani.

PROGNOSIS

Dubia ad bonam

PEMBAHASAN

KU : nyeri pada telinga kanan sejak 2 hari yang lalu, keluarnya cairan yang berwarna kuning kental (+) dan agak berbau mengarahkan diagonis pasien pada otitis media supuratif kronik. Hal ini diperkuat perforasi dari membran timpan serta keluarnya sekret yang aktif

Pada pasien ini kemungkinan telah terjadi perforasi dari membran timpani yang persisten mengingat adanya riwayat mengalami keluhan serupa dahulu, sehingga mempengaruhi perjalan penyakitnya menjadi kronis. Selain itu keluhan penurunan pendengaran : dari perforasi membran timpani yang persisten atau putusnya rangkaian tulang pendengaran pada telinga tengah karena proses osteomielitis. Kekurangan pendengaran derajat yang lebih tinggi koklea atau saraf pendengaran.

Terapi yang diberikan untuk eradikasi kuman penyebab adalah antibiotik lini pertama yaitu amoksisilin yang merupakan obat dari golongan penisilin. Obat ini diberikan karena bersifat broad spectrum dan tidak bersifat ototoksik sehingga dapat diberikan kepada pasien yang belum melakukan kultur kuman dari sekret telinga (14-21 hari) Terapi simtomatis : analgetik asam mefenamat sehingga dapat mengurangi keluhan nyeri yang dialami pasien. Obat pencuci telinga : H2O2 3% selama 3-5 hari untuk membersihkan liang telinga dari secret. Selain itu, untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran diusulkan terapi pembedahan berupa timpanoplasti

DAFTAR REFERENSI

Zainul, A, Djaafar, Z.A, Helmi dan Restuti, R.D. Kelainan Telinga Tengah. Dalam Soepardi, Efiaty Arsyad, et al., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Sixth ed. Jakarta. FKUI, 2007: p. 65-72 Nursiah, S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan terhadap Beberapa Antibiotika. Bagian THT FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan. Medan. USU Digital Library, 2003. Available at : http://www.usu.ac.id/ (Accessed : March 23th 2012). Aboet, A. Radang Telinga Tengah Menahun. Medan. USU Digital Library, 2007. Available at : http://www.usu.ac.id/ (Accessed : March 23th 2012). Seeley, Stephen, Tate. The Special Sense. Anatomy and Physiology. The McGraw-Hill Companies, 2004: p. 528-540 Saladin. Sense Organ. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and Function. Third ed. The McGrawHill Companies, 2003: p. 599-600 Sriwidodo, AS. Otitis Media Supuratif Kronik. Cermin Dunia Kedokteran. No.134, 2002. Available at : http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_134_masalah_anak.pdf (Accessed : March 23th 2012). Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid. Dalam Adams GL, Boies LR, Higler PA (Ed). Boies Buku Ajar Penyakit THT. Sixth Ed. Jakarta. EGC Jakarta: p. 88-113 Telian, SA, Schmalbach, CE. Chronic Otitis Media. Ballenger Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Sixteenth edition. United States. BC Decker Inc, 2003: p. 261-271 Probst, R, Grever, G, Iro, H. Chronic Suppurative Otitis Media. Basic Otorhinolaryngology. New York. Thieme, 2006: p. 242 Parry, D, Meyers, AD. Chronic Suppurative Otitis Media. 2011. Available at : http://emedicine.medscape.com/article/859501-overview#aw2aab6b2b6aa (Accessed : March 23th

Anda mungkin juga menyukai