Anda di halaman 1dari 26

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

Oleh: M. Maksum Zainuri

PENDAHULUAN

1990, PPOK ke-6 2002, ke-3 (WHO,2002). PPOK kelompok penyakit tidak menular masalah kesehatan masyarakat di Indonesia (Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1022/MENKES/SK/XI/2008 )

NHANES III: 1988 sampai 1994 untuk usia 2575 tahun, prevalensi PPOK ringan 6,9% dan PPOK sedang 6,6%. CDC,1980-2000, angka kematian PPOK Depkes RI 2004, menempati urutan pertama (35%), diikuti asma bronkial bronkial (33%), kanker paru (30%) dan lainnya (2%).

: 54,5% dan : 1,2% perokok

Faktor Risiko PPOK dan Kanker Paru

20-25%

Anatomi dan Fisiologi Sistem Saluran Pernapasan


hidung rongga hidung sinus paranasal faring laring trakea bronkus bronkiolus alveolus paru

Fungsi Pernapasan Step of external Respiratory


1. Ventilasi paru 2. Difusi gas 3. Transport oksigen dan karbondioksida

Definisi
Faktor Risiko: Genetik Umur Jenis kelamin Infeksi saluran nafas Status sosio ekonomi Asap rokok Polusi udara

progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi paru

PPOK Hiperesponsif jalan napas

Risiko PPOK perokok tergantung dari dosis rokok yang dihisap, usia mulai merokok, jumlah batang rokok per tahun dan lamanya merokok (Indeks Brinkman).
Ringan 0-199 Sedang 200-599 Berat > 600

Faktor Risiko Asap Rokok

peningkat an limfosit-T, CD8+ dan TNF-

Peningkatan Oxidant/antioxida kemokin IL-8, nt imbalance (MIP1-) dan (MCP1)

Proteinase/anti proteinase imbalance

inflamasi paru hipersekresi mukus destruksi sel epitel dinding alveolus kerusakan parenkim paru

Kronik dan Progresif

Klasifikasi PPOK (GOLD, 2010) 1. Derajat I: PPOK ringan: (VEP1/KVP < 70%; VEP1 > 80% prediksi) 2. Derajat II: PPOK sedang: (VEP1/KVP < 70%; 50% VEP1 < 80% prediksi) 3. Derajat III: PPOK berat: (VEP1 / KVP < 70%; 30% VEP1 < 50% prediksi) 4. Derajat IV: PPOK sangat berat: (VEP1 / KVP < 70%; VEP1 < 30% prediksi atau VEP1 < 50% prediksi ditambah dengan adanya gagal nafas kronik)

Diagnosis 1. Anamnesis sesak napas, batuk kronik produksi sputum dan keterbatasan aktivitas, riwayat paparan dengan faktor resiko PPOK.

Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Pursed-lips breathing Barrel chest Penggunaan otot bantu pernapasa Hipertrofi otot bantu napas Pelebaran sela iga Pink puffer Blue boater

2. Palpasi (fremitus melemah, sela iga melebar). 3. Perkusi 4. Auskultasi


Suara napas vesikuler normal, atau melemah. Ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa Ekspirasi memanjang Bunyi jantung terdengar jauh

Radiologis
Normal Hiperinflasi Hiperlusen Ruang retrosternal melebar Diafragma mendatar Corakan bronkovaskuler Jantung pendulum.

Spirometri
KVP VEP1 VEP1/KVP

Penatalaksanaan
Mencegah progesifitas penyakit Mengurangi gejala Meningkatkan toleransi latihan Meningkatkan status kesehatan Mencegah dan mengobati komplikasi Mencegah dan mengobati eksaserbasi berulang Mencegah atau meminimalkan efek samping obat Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru Meningkatkan kualitas hidup penderita Menurunkan angka kematian

Penatalaksanaan 1. Evaluasi dan monitor penyakit 2. Menurunkan faktor resiko : membantu pasien berhenti merokok (5 A) 3. Tatalaksana PPOK stabil 4. Tatalaksana PPOK eksaserbasi

Terapi farmakologis
Bronkodilator:
Agonis -2: SABA dan LABA Antikolinergik: ipratropium bromid dan oksitroprium bromid (short-acting antikolinergik), sedangkan tiotropium bromid (long-acting). Metilxantin: teofilin, aminofilin.

Steroid

Obat-obat tambahan lain Mukolitik: ambroksol, karbosistein, gliserol iodida, erdosteine. Antioksidan N-Asetil-cystein Imunoregulator (imunostimulator, imunomodulator) Antitusif: penggunaan antitusif tidak direkomendasikan pada PPOK stabil.11 Vaksinasi : > 60 tahun, PPOK sedang, berat dan sangat berat.

Non-farmakologis
Rehabilitasi: mengurangi dyspneu, dan meningkatkan kapasitas exercise. Terapi oksigen: jangka panjang (>15 jam sehari) Nutrisi Pembedahan

GOLD 2010