Anda di halaman 1dari 19

Pokok-pokok Materi Undang-undang No.

23 Tahun 2011

Tentang Pengelolaan Zakat


Dra. Hj. Ening Murtiningsih, M.Pd
Disampaikan pada Silaturahim Pimpinan Ormas-Ormas Islam Sabtu, 9 Rajab 1434 H / 19 mei 2013


1. UU adalah produk politik yang dihasilkan oleh lembaga politik (DPR) dengan pihak pemerintah. Tentu saja banyak hal yang seharusnya masuk, tapi karena berbagai pertimbangan dan alasan, menjadi tidak masuk. Seperti dalam UU No 23/2011 ini tidak ada sanksi bagi orang yang wajib zakat tetapi tidak mau berzakat. Juga tidak dimasukkannya zakat sebagai pengurang pajak langsung (tax credit). Yang ada hanya zakat sebagai pengurang penghasil kena pajak (tax deductable). Tetapi para ulama mengajarkan kepada kita suatu kaidah: Maa laa yudroku kulluh, laa yudroku kulluh ( )Sesuatu yang tidak tercapai semuanya, jangan ditinggal semuanya.

2.

UU ini terdiri dari 11 Bab dan 47 Pasal. Diundangkan di Jakarta Tanggal 25 November 2011, sebagai pengganti UU No. 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat.

3. Pengelolaan zakat menurut Pasal 2 UU 23/2011 harus berasaskan: a. Syariat Islam b. Amanah c. Kemanfaatan d. Keadilan e. Kepastian hukum f. Terintegrasi, dan g. Akuntabilitas

Pengelolaan zakat, baik dalam penghimpunan, pengelolaan dan pendayagunaan harus sesuai dengan syariat Islam, misalnya tentang amil zakat dan mustahiq (meskipun ada perbedaan dalam penafsirannya).

4. Pasal 3 UU 23/2011 menjelaskan bahwa pengelolaan zakat bertujuan:


a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat, dan b. Meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Kesejahteraan masyarakat, disamping terpenuhi kebutuhan pokoknya, juga terpenuhi pendidikan, kesehatan dan pekerjaannya.

5. Menurut Pasal 6 dan Pasal 7 UU 23/2011, BAZNAS merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara nasional, dengan fungsi: a. Perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat. b. Pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat. c. Pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat. d. Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat.

5. Dalam melaksanakan tugasnya, BAZNAS dapat bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dan melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden melalui Menteri dan kepada DPR RI paling sedikit 1 kali dalam 1 tahun. Kerjasama ini harus dilakukan BAZNAS, baik dengan sesama LAZ, dengan Majelis Ulama Pusat maupun Daerah, dengan seluruh ormas Islam, dengan masjidmasjid, lembaga pendidikan, pondok-pondok pesantren, lembaga keuangan syariah, dan kelompok umat lainnya. Hal ini sebagai salah bentuk melaksanakan firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 71.

: .}71 : {.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah [9]: 71).

6. BAZNAS Kota/Kabupaten terkait dengan BAZNAS Provinsi, dan dengan BAZNAS Pusat secara struktural, termasuk di dalam kegiatan pelaporan secara berjenjang, termasuk di dalamnya LAZ diharuskan juga memberikan laporan kepada BAZNAS. Dengan demikian, yang tersentralisasi hanyalah laporan. Agar didapatkan data base mustahik dan muzakki secara nasional yang lebih faktual, dan jumlah pengumpulan dan pendayagunaan. Sedangkan dana zakatnya tetap terdesentralisasi di masing-masing BAZNAS dan LAZ berdasarkan wilayah masing-masing. Hal ini sejalan dengan petunjuk Rasulullah SAW (perintah kepada Muaz bin Jabal ).

7. Keanggotan BAZNAS Pusat berjumlah 11 orang terdiri dari 8 orang unsur masyarakat dan 3 orang unsur pemerintah. Unsur masyarakat terdiri dari unsur ulama, tenaga profesional dan tokoh masyarakat Islam. Sedangkan unsur pemerintah ditunjuk dari kementerian /instansi yang berkaitan dengan pengelolaan zakat, seperti Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, atau Kementerian Keuangan. Jelas berdasarkan hal ini, BAZNAS adalah bagian dari umat dan masyarakat.

8. Masyarakat tetap dapat melakukan pengumpulan dan pendistribusian zakat melalui pembentukan LAZ dengan persyaratan tertentu. UU ini sama sekali tidak menafikkan peran masyarakat dalam mengelola zakat. Hanya saja diperlukan pengaturan dan koordinasi. 9. Masjid, pesantren, majelis taklim bisa menjadi unit pengumpul zakat BAZNAS Pusat maupun daerah. Seperti yang terjadi di BAZNAS Kota Bogor (140 masjid) dan di BAZNAS Kabupaten Sukabumi (seluruh masjid kecamatan).

10. Jika dilihat dari syariat Islam, maka memang zakat tidak boleh dikelola oleh orang perorangan sembarangan, tetapi harus oleh amil zakat yang memiliki kepastian dan kekuatan hukum, yaitu yang disahkan oleh pemerintah. Allah SWT berfirman dalam QS 9: 60 dan 103

QS At-Taubah: 60

QS At-Taubah: 103

Pernyataan Abu Bakar


Dalam keterangan lain, riwayat Abu Dawud dikemukakan bahwa ketika banyak orang yang mengingkari kewajiban zakat, di zaman Abu Bakar ashShiddiq, beliau bersabda: ! ! .} {.
Demi Allah! Saya akan memerangi orang yang memisahkan kewajiban shalat dengan kewajiban zakat. Sesungguhnya zakat itu hak yang terkait dengan harta. Demi Allah! Jika mereka menolah mengeluarkan zakat unta yang biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah Saw., pasti akau akan memerainginya, karena penolakan tersebut. (HR. Abu Dawud).

15

Berdasarkan kedua ayat tersebut dan praktik di zaman Nabi dan para sahabat, para amil zakat itu terdiri dari orang-orang yang mendapatkan amanah dari penguasa sehingga memiliki kekuatan. Karena itu, Komisi Fatwa MUI dalam fatwanya No. 8 Tahun 2011 menjelaskan bahwa amil zakat itu adalah: a. Seseorang atau sekelompok orang yang diangkat oleh Pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat, atau b. Seseorang atau sekelompok orang yang dibentuk oleh masyarakat dan disahkan oleh Pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat.

11. Dalam UU tersebut juga (Pasal 25, 26 dan 27) bahwa zakat wajib didistribusikan kepada para mustahik sesuai ketentuan syariat (QS. At-Taubah: 60) dengan berdasarkan pada skala prioritas, prinsip pemerataan, keadilan dan kewilayahan, dan bisa digunakan untuk zakat produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat. Pendayagunaan secara produktif ini dilakukan setelah kebutuhan dasar mustahik terpenuhi.

Penutup