Anda di halaman 1dari 43

TRAUMA KEPALA

Disusun oleh : indah frysdia lestari Pembimbing: dr. Yeppy A.N, Sp.B. FINaCS, MM

Anatomi kepala

Anatomi kepala meliputi SCALP, tulang, meninges, otak, sistem ventrikular, cairan serebrospinal dan tentorium

Kulit kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu:1 Skin atau kulit Connective Tissue atau jaringan penyambung Aponeurosis atau galea aponeurotika Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar Perikranium

meningen

Duramater

Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Pada cedera otak, pembuluh- pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural

Araknoid & piamater

Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak. Perdarahan sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala. Piamater melekat erat pada permukaan korteks serebri

Otak

Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggungjawab dalam proses penglihatan Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. Pada medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan.

Cairan serebrospinal & sistem ventrikel


Sebagian besar diproduksi oleh oleh pleksus koroideus yang terdapat pada ventrikel lateralis dan ventrikel IV. Kapasitas dari ventrikel lateralis dan ventrikel III pada orang sehat sekitar 20 mL dan total volume cairan serebrospinal pada orang dewasa sekitar 120 mL . Cairan serebrospinal setelah diproduksi oleh pleksus koroideus ventrikel lateralis melalui foramen interventrikuler Monro ventrikel III ventrikel IV melalui akuaduktus Sylvii melalui 2 foramen Luschka di sebelah lateral dan 1 foramen Magendie di sebelah medial ruangan subaraknoid melalui granulasi araknoidea sinus duramater ke aliran vena

Perdarahan Otak

Fisiologi Kepala

Tekanan intrakranial
Peningkatan tekanan intrakranial dapat mengurangi perfusi otak dan menyebabkan iskemia. Prognosis yang buruk terjadi pada penderita dengan TIK lebih dari 20 mmHg, terutama bila menetap

Hukum monroe- kellie


Konsep utamanya adalah bahwa volume intrakranial harus selalu konstan, konsep ini dikenal dengan Doktrin Monro-Kellie. Pada saat cedera,Saat pengaliran CSS dan darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi maka TIK secara cepat akan meningkat

ALIRAN DARAH OTAK

Otak

memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16% dari cardiac output, untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup. Aliran darah otak (ADO) normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gram jaringan otak per menit ADO dapat menurun 50% dalam 6-12 jam pertama sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita yang tetap koma ADO tetap di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah cedera

DEFINISI TRAUMA KEPALA

Menurut brain injury association of America, cendera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala yang bukan bersifat kogenital maupun degeneratif tetapi disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kongnitif dan fungsi fisik.

EPIDEMIOLOGI

Cedera kepala terjadi pada segala usia, tetapi puncak adalah pada orang dewasa muda antara usia 15 dan 24. Cedera kepala adalah penyebab utama kematian di antara orang di bawah usia 24 tahun. Pria tiga atau empat kali lebih sering dibanding wanita

TRAUMA KEPALA

8
6 4 2 0 2 1.5 6.5 TRAUMA KEPALA

CKR CKS CKB

Klasifikasi

Patofisologis

Fraktur cranii
Single fracture line Branched fracture lines Contiguous The fracture is contiguous when it crosses anatomical boundaries.

Multiple separated fracture lines.

Fraktur kranii
Comminuted A fracture is comminuted when the bone is shattered into many fragments. Diastatic suture Horizontal displacement along the cranial sutures (>3 mm).

Depressed The fractured segments are displaced inward, toward the meninges and brain for more than 3 mm.

Diastatic fracture Horizontal displacement of the bones at the margin of the fracture (>3 mm).

Fraktur basis kranii

Coup and Contracoup Injury & Diffuse axonal Injury

Komusio cerebri

Apabila cedera kepala mengakibatkan gangguan fungsi serebral sementara berupa penurunan kesadaran (pingsan/ koma, manesia retrograd) tanpa adanya lesi parenkim berdarah pada otak, digolongkan sebagai komosio serebri. Penemuan-penemuan mutakhir menyebutkan koma kurang dari 20 menit, amnesia retrograde singkat, cacat otak tidak ada, dan perawatan tumah sakit kurang dari 48 jam Biasanya tidak memerlukan terapi khusus, asal tidak terdapat penyulit seperti hematoma, edema serebri traumatic

laceratio cerebri

Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika, subdural akut dan intercerebral. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung.

Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis

Contusio cerebrii

Kontusio cerebri merupakan memar di jaringan otak akibat trauma Cedera ini dapat menyebabkan penurunan fungsi mental dalam jangka panjang dan dalam keadaan darurat dapat menyebabkan herniasi otak , sebuah kondisi yang mengancam kehidupan dimana ada bagian dari otak yang menekan ke bagian dari tulang kepala. Gejalanya: Apabila terjadi lesi parenkim berdarah, yang ditandai oleh kesadaran menurun yang lebih lama. Defisit neurologis seperti hemiparese kelumpuhan saraf otak, refleks abnormal, konvulsi,dan delirium. pengobatan bertujuan untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial yang berbahaya.

Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal, walau terjadi juga pada setiap bagian otak, termasuk batang otak dan cerebellum. Otak mungkin Dipipis ketika bertabrakan dengan tonjolan tulang pada permukaan dalam tengkorak. Tonjolan terletak di bagian dalam tengkorak di bawah frontal dan lobus temporal dan pada atap orbit mata. Dengan demikian, ujung-ujung lobus frontal dan temporal terletak di dekat pegunungan tulang di tengkorak adalah daerah dimana sering terjadi luka memar dan yang paling parah. Tanda memar tergantung pada lokasi di. Perhatian, emosi dan masalah memori yang terkait dengan kerusakan frontal dan lobus temporal, jauh lebih umum.

Hematom epidural

Penyebabnya: robeknya arteri meningea media. Gejala fase awal: saat hematom bertambah besar akan terlihat tanda pendesakan dan peningkatan tekanan intrakranial.

sakit kepala, mual dan muntah penurunan kesadaran Gejala neurologik: pupil mata anisokor, yaitu pupil ipsilateral melebar kenaikan tekanan darah dan bradikardia.

Pada tahap akhir: kesadaran menurun sampai koma yang dalam, pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian

Hematom epidural

Hematom subdural
Hematom

subdural disebabkan oleh trauma otak yang menyebabkan robeknya vena di dalam ruang araknoid Hematom subdural dibagi menjadi
akut

bila gejala timbul pada hari pertama sampai dengan hari ketiga, subakut bila timbul antara hari ketiga hingga minggu ketiga, kronik bila timbul sesudah minggu ketiga
Pembesaran

hematom karena robeknya vena memerlukan waktu yang lama, sehari sampai beberapa minggu. Oleh karena hematom subdural sering disertai cendera otak berat lain, jika dibandingkan dengan hematom epidural, prognosisnya lebih jelek.

Hematoma intraserebral
Perdarahan

yang terjadi pada memar otak dapat membesar menjadi hematom intraserebral Paling banyak terjadi di lobus frontalis atau temporalis, dan tidak jarang ditemukan multipel. Gambaran klinis begantung pada lokasi dan besarnya hematom

Manifestasi Klinis
CKR

CKS

Tidak ada kehilangan kesadaran, atau jika ada < 10 menit Pasien mengeluh pusing, sakit kepala Satu kali /tidak ada muntah, ada amnesia retrogad dan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologist. Stabil dan sadar Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala Tidak terdapat kelainan pada CT scan otak Tidak memerlukan tindakan operasi Lama dirawat di RS <48 jam

Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian, Ada pingsan >10 menit Ada sakit kepala persisten, amnesia retrogad Dua atau lebih episode muntah Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin mengantuk Mungkin mengalami luka lecet, hematoma, atau laserasi di kulit kepala Pemeriksaan neurologis terdapat kelumpuhan saraf dan anggota gerak. Ditemukan kelainan pada CT scan otak Dirawat di RS setidaknya 48 jam

CKB

Kehilangan kesadaran dalam waktu lama, hilang kesadaran >24 jam Terjadinya penurunan kesadaran secara progesif, responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif Kejang (selain Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma) Gejalnya serupa dengan CKS, hanya dalam tingkat yang lebih berat Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas. Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana, kelemahan sesisi) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:

Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi

Diagnosis
Anamnesis

trauma kapitis dengan /atau tanpa gangguan kesadaran atau dengan interval lucid, perdarahan/otorrhea/ rinorrhea serta amnesia traumatika.

secara umum dari kepala hingga kaki menentukan tingkat kesadaran Pemeriksaan Pemeriksaan motorik fisik

Laboratorium Pemeriksaan Radiologi: foto polos kepala, CT scan, MRI


Penunjang

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Pada Cendera Kepala Berat

Terapi medikametosa

Cairan intravena1 Cairan yang direkomdendasikan untuk terapi cendera kepala adalah ringer laktat atau NaCl 0,9%. Hiperventilasi 1 Hiperventilasi hanya digunakan pada cendera kepala sedang dan untuk waktu yang sesingkatnya. Hiperventilasi dihasilkan dengan mengurangi PaCo2 dan menyebabkan vasokonstriksi pada otak. Waktu singkat hiperventilasi (PaCo2 25-30 mmHg) dapat dilakukan jika terdapat penurunan status neurologis akut. Manitol 1 Manitol digunakan untuk mengurangi tekanan intrakranial. Dosis yang digunakan 0,25- 1g/kg iv bolus. Kontraindikasi pada pasien dengan hipotensi. Indikasi penggunaan manitol adalah pada pasien dengan penurunan status neurologis akut, pupil dilatasi, hemiparesis atau kehilangan kesadaran saat sedang diobservasi.

Barbiturat 1 Barbiturat efektif dalam mengurangi refraktor tekanan intrakranial terhadap pengobatan lainnya. Barbiturat tidak dapat digunakan pada pasien dengan hipotensi dan hipovolemia. Antikonvulsan1 Tiga faktor utama yang berkaitan pada terjadinya epilepsi adalah, Kejang yang terjadi pada minggu pertama Perdarahan intrakranial Patah tulang depresi Fenitoin mrupakan profilaksis yang mengurangi angka kejadian kejang pada minggu pertama, biasanya digunakan pada fase akut. Pada orang dewasa dosis yang diberikan 1g intravena diberikan tidak lebih dari 50 mg/ menit. Dosis pemeliharaannya 100mg/8jam. Untuk pasien dengan kejang berkepanjangan, diazepam atau lorazepam dapat digunakan sebagai tambahan dari fenitoin hingga kejang berhenti Kejang harus dapat dikontrol secara cepat karena kejang yang berkpanjangan (30- 60 menit) dapat mengakibatkan cendera kepala sekunder

Terapi Operatif
luka kulit kepala fraktur depresi tengkorak

Terapi operatif

massa lesi intrakranial

trauma otak terbuka

Prognosis
Semua pasien harus ditangani dengan cepat dan secepatnya dikonsultasikan dengan bedah neurologi faktor yang memperlambat proses penyembuhan adalah terlibatnya saraf motorik dan sensorik sekaligus, usia lanjut, kerusakan jaringan sekitar.

Komplikasi
Gangguan neurologik
Anosmia, gangguan visus, strabismus, cendera nervus fasialis, gangguan pendengaran atau keseimbangan, disartri, disfagia, afasia, hemiparesis berupa keluhan nyeri kepala, kepala terasa berat, mudah lupa, konsentrasi menurun, cemas dan mudah tersinggung. umumnya berlangsung hingga 2- 3 bulan pasca trauma penurunan inteligensia, gangguan berfikir, rasa curiga serta sikap bermusuhan, cemas, menarik diri, dan depresi. gangguan daya ingat

Sindrom pascatruma
Sindrom psikis pascatrauma Epilepsi pascatrauma

Komplikasi
Ensefalopati pascatrauma Hidrosefalus pascatrauma Koma vigil Mati otak
demensia, penurunan kesiagaan, dan tanda tanda neurologik lain. Ensefalopati pascatrauma yang khas didapat pada para petinju dan disebut demensia pungilistik

Gejala trias yang terdiri atas demensia, ataksia, dan inkontinensia urin. Timbul secara perlahan- lahan

Semua rangsang dari luar masih dapat diterima, tetapi tidak disadari. Penderita biasanya dalam keadaan menurup mata, dan terdapat siklus bangun dan tidur

selain henti napas, semua refleks batang otak tidak dapat ditimbulkan. Refleks batang otak yang dimaksud ialah refleks pupil, refleks kornea, ferleks vestibulo-okuler, refleks somatokranial, refleks muntah, dan refleks batuk