Anda di halaman 1dari 26

Monitoring hemodinamik dan hemodinamik vaskuler

Hendra cahya kumara Busroch bayu kartiko

Background
Dari bahasa latin, monere, yg berarti untuk mengingatkan atau menyarankan adalah asal dari kata monitor dlm bhs inggris Tujuan Melakukan tindakan yang tepat pada waktu yang tepat untuk mencegah atau memperbaiki perubahan fisiologis yang terjadi. Monitoring fisiologis tidak hanya digunakan untuk mengawasi , tetapi juga intervensi terapi, misalnya resusitasi cairan atau infus obat vasoaktif dan inotropik. Selain diagnostik, jg dpt digunakan untuk menentukan prognosis

Tujuan memastikan aliran darah teroksigenasi melalui mikrosirkulasi cukup jumlahnya untuk mendukung metabolisme aerob pada level seluler. Sel mamalia tak dapat menyimpan oksigen untuk penggunaan berikutnya pada metabolisme oksidatif, walaupun jumlah yang relatif kecil disimpan pada jaringan otot sebagai mioglobin teroksidasi. Sehingga sintesis aerob dari adenosis triphospate, membutuhkan penghantaran oksigen terus menerus dengan difusi dari hemoglobin pada sel darah merah menuju perangkat oksidatif di dalam mitokondria,

penghantaran O2 ke mitokondria mungkin tidak cukup jumlahnya untuk beberapa sebab: Misalnya, cardiac output,Hb,atau kandungan O2 pada darah arterial dapat inadekuat. Sementara itu, walaupun cardiac output adekuat, perfusi jaringan kapiler dapat terganggu sebagai konsekuensi disregulasi tonus arteriolar, trombosis mikrovaskuler, atau obstruksi pembuluh darah penutrisi oleh leukosit yang rusak atau trombosit. Monitoring hemodinamik yang tidak mencakup semua faktor tersebut akan menunjukkan gambaran yang salah dan tidak lengkap dari fisiologi seluler.

Tekanan darah arterial


Tekanan yang dihasilkan oleh darah pada sistem arterial sistemik parameter penting yg diukur sebagai bagian dari monitoring hemodinamik Perubahan ekstrem dari tekanan darah adalah berbahaya atau indikasi dari perubahan yang serius pada fisiologis yang normal Tekanan darah arterial adalah fungsi yang kompleks dari cardiac output dan vaskular input Persepsi yang salah : Tekanan darah yang normal = cardiac output dan perfusi jaringan yang adekuat Tekanan darah dapat diukur langsung dengan mengukur tekanan didalam lumen arteri atau tidak langsung dengan menggunakan cuff pada ekstremitas.

Noninvasive Measurement of Arterial Blood Pressure


Menggunakan manset yang dapat dipompa untuk meningkatkan tekanan di sekitar ekstremitas, jika manset terlalu kecil (dibandingkan ekstremitas) tekanan yang diukur akan cenderung meningkat, sehingga lebar manset harusnya sekitar 40 % lingkar lengan Menggunakan auskultasi bunyi Korotkoff

Alat yang lain adalah stetoskop Doppler (munculnya kembali denyutan akan menghasilkan sinyal yang dikeraskan dan dapat didengar) Pulse oximeter (munculnya kembali denyutan ditandai dengan Lampu LED yang menyala)

Invasive Monitoring of Arterial Blood Pressure


monitoring secara langsung tekanan arteri pada pasien yang kritis dapat dilakukan dengan menggunakan selang berisi cairan untuk menghubungkan kateter intra arterial ke transduser eksternal. Sinyal yang dihasilkan transduser dibesarkan dan ditampilkan sebagai gelombang terus menerus oleh oskiloskop. Angka tekanan sistol dan diastol juga ditampilkan. Tekanan rata-rata, dihitung dengan menghitung ratarata amplitudo gelombang secara otomatis.

Arteri radialis pada pergelangan tangan adalah daerah yang paling sering digunakan untuk monitoring tekanan intraarterial

Monitoring Elektrokardiografi
EKG mencatat aktivitas listrik yg berhubungan dengan kontraksi jantung dengan mendeteksi tegangan pada permukaan tubuh Melakukan pemantauan EKG dapat diterapkan untuk pasien yang sakit kritis dan perioperatif. Terutama pada pasien dengan sindroma koroner akut atau cedera miokard tumpul, karena disritmia adalah komplikasi mematikan yang sering. Pada pasien dengan syok atau sepsis, disritmia dapat terjadi sebagai akibat dari pengiriman O2 ke miokard yang tak memadai atau sebagai komplikasi obat vasoaktif atau inotropik yg digunakan untuk mendukung tekanan darah dan curah jantung.

Dalam sebuah penelitian terhadap 185 pasien bedah vaskular, pemantauan EKG kontinu 12lead mampu mendeteksi episode transien iskemik miokard pada 20,5% dari pasien Studi ini menunjukkan bahwa V4 prekordial yang tidak secara rutin dipakai, paling sensitif untuk mendeteksi iskemia dan infark perioperatif . Pemantauan EKG 12 lead secara kontinyu menjadi standar monitoring pasien bedah resiko tinggi

Cardiac Output and Related Parameters


kateterisasi pada arteri pulmoner pertama digunakan pada tahun 1970 Pertama digunakan untuk pasien dengan syok kardiogenik dan penyakit jantung yang lain., Sekarang indikasi penggunaannya menjadi lebih luas pada berbagai kondisi klinis Pada beberapa penelitian menunjukkan bedside catheterization pada arteri pulmoner tidak berguna pada pasien yang kritis dan malah memiliki komplikasi yang serius

Determinants of Cardiac Performance


PRELOAD:
hukum Starling : bahwa kekuatan kontraksi otot tergantung pada panjang serat jantung. Preload adalah peregangan jaringan miokard ventrikel tepat sebelum kontraksi selanjutnya Preload ditentukan oleh end diastolic volume (EDV). Untuk ventrikel kanan pengukuran CVP mendekati end diastolic pressure ventrikel kanan. (EDPRV). Untuk ventrikel kiri, pulmonary artery occlusion pressure (PAOP),, menunjukan EDP ventrikel kiri. Dokter mengunakan EDP sebagai penganti EDV, tapi EDP tidak hanya ditentukan volume tapi juga komplians diastolik pada bilik ventrikuler. Komplians ventrikuler berubah pada kondisi patologis bermacam-macam dan obat-obatan.

Afterload kekuatan untuk menahan pemendekan serat pada awal fase sistolik. Beberapa faktor yang berkolerasi dengan afterload ventrikel, termasuk tekanan ruangan ventrikel,,ketebalan dinding, radius bilik, dan geometri (bentuk) bilik. dihitung dengan mengukur resistensi vaskular sistemik, yaitu MAP dibagi cardiac output

Contractility keadaan inotropik miokardium. Kontraktilitas dikatakan naik ketika kekuatan kontraksi ventrikel meningkat pada preload dan afterload yang konstan. Kontraktilitas sulit untuk diukur, karena semua pengukuran tergantung pada tingkat preload dan afterload.

Hemodynamic Measurements
PAC mampu menyediakan informasi yang lengkap mengenai hemodinamik pasien kepada dokter. Informasi tambahan dapat diperoleh jika modifikasi terhadap pengukuran standar PAC digunakan. Dengan menggabungkan data yang diperoleh melalui penggunaan PAC dengan hasil dari pengukuran lain (mis. Konsentrasi Hb dan saturasi oksi hemoglobin), hal ini dapat mengukur angka perkiraan transport O2 sistemik dan penggunaannya

Minimally Invasive Alternatives to the Pulmonary Artery Catheter


. Karena biaya, risiko dan manfaat yang masih belum jelas pada kateterisasi arteri pulmoner di tempat tidur, telah mengundang banyak perhatian dan perkembangan alat yang praktis untuk monitoring yang tidak invasif untuk parameter hemodinamik.

Doppler Ultrasonography Impedance Cardiography Pulse Contour Analysis Partial Carbon Dioxide Rebreathing Transesophageal Echocardiography

Respiratory Monitoring
Untuk mengetahui oksigenasi yang adekuat atau tidak, serta ventilasi yang baik Menentukan kapan ventilasi mekanik dapat dihentikan, dan deteksi efek samping yang berhubungan dengan kegagalan respirasi dan ventilasi mekanis Parameter yg digunakan termasuk pertukaran udara, aktivitas neuromuskuler, mekanisme respirasi dan usaha napas pasien

Analisa gas darah Standar monitoring respirasi = pengukuran berkala gas darah arteri Selain untuk kegagalan respirasi , juga berguna untuk detksi perubahan asam basa karena cardiac output yang menurun, sepsis, gagal ginjal, trauma berat, mediaksi, overdosis, atau perubahan status mentalis Darah arteri dapat dianalisa untuk konsentrasi pH, PO2, PCO2, HCO3 c, bila diindikasikan, karboksihemoglobin dan methemoglobin jg dapat diukur

Pulse oksimetri Pulse oximeter adalah alat dengan mikroprosesor yang menggabungkan oksimetri dan plethysmografi untuk digunakan sebagai monitoring saturasi 02 pada darah arteri secara kontinyu dan non invasif Akurasi pulse oksimetri mulai menurun pada sao2 < 92 % dan cendeung tidak reliable untuk angka di bawah 85%

Renal Monitoring
Urine Output Kateterisasi buli menunjukkan monitoring urine output, biasa dicatat jumlah perjam Urine output adalah indikator yg kasar dari perfusi renal. Ukuran normal urine output adalah 0,5 ml/kg BB perjam untuk dewasa dan 1-2 ml/kgBB perjam pada neonatus dan anak oliguria dapat menunjukkan perfusi arteri yang tidak adekuat karena hipotensi, hipovolemia, atau cardiac output yang turun. Aliran urine yang rendah juga merupakan tanda disfungsi renal intrinsik. Penting diperhatikan bahwa urine output yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan impending renal failure

Bladder Pressure
Trias oliguria, peningkatan peak airway pressure dan peningkatan tekanan intraabdomen biasa dikenal dengan ACS (Abdominal compartment syndrome) Sindrome ini berhubungan dengan edema interstitial dari organ abdomen, menydbabkan peningkatan tekanan intraabdominal Ketika tekanan intraabdominal melebihi tekanan kapiler atau venosa, perfusi ke ginjal dan organ intraabdomen menjadi terganggu. Oliguria adalah tanda kardinal. Walaupun diagnosis ACS adalah diagnosis klinis, pengukuran tekanan intraabdomen penting untuk mengkonfirmasi diagnosis Pengukuran tekanan buli transurethra dapat menkonfirmasi ACS Setelah memasukkan 50-100 cc saline ke buli melzlui kateter folley, selang dihubungkan ke sistem transduksi untuk mengukur tekanan buli. Tekanan buli lebih dari 20-25 mm Hg mengkonfirmasi diagnosis ACS