Anda di halaman 1dari 58

PENGOBATAN SENDIRI (SWAMEDIKASI)

Rusli Jur. Farmasi Poltekkes Depkes Makassar

PENDAULUAN
SWAMEDIKASI merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melakukan pengobatan sendiri

Swamedikasi atau pengobatan sendiri bisa dilakukan untuk menangani penyakitpenyakit ringan, misalnya sakit kepala, demam, sakit gigi, diare, dengan menggunakan obat-obat yang ada di rumah atau membeli langsung ke toko obat atau ke apotek.

Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obat yang dibeli bebas di apotek atau toko obat atas kemauan sendiri tanpa nasehat dokter
Keuntungan swamedikasi adalah tersedia obat yang dapat digunakan di rumah kita dan akan menghemat waktu yang diperlukan untuk pergi ke dokter yang jauh dari tempat tinggal. Kerugiannya bila keluhan yang dialami dinilai salah dan bila penggunaan obat kurang tepat, terlalu lama, atau dalam dosis yang terlalu besar.

Swamedikasi boleh dilakukan untuk kondisi penyakit yang ringan, umum dan tidak akut. Kriteria obat yang digunakan Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep : 1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun. 2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.

3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan 4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia 5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri.

Jenis obat yang digunakan 1. Obat bebas (OTC : Over The Counter) tanpa resep dokter Obat bebas: - obat bebas : tanda lingkaran hitam, dasar hijau - obat terbatas : tanda lingkaran hitam, dasar biru 2. Obat Wajib Apotek (OWA) Merupakan obat keras tanpa resep dokter, tanda: lingkaran hitam, dasar merah, tulisan K warna hitam 3. suplemen makanan

Langkah awal untuk mencapai hasil yang optimal dari suatu pengobatan adalah membeli atau memperoleh obat di tempat yang benar. Beberapa tips membeli obat yang baik untuk menghindari obat palsu adalah : Perhatikan nomor registrasi sebagai tanda sudah mendapat izin untuk dijual di Indonesia. Periksalah kualitas keamanan dan kualitas fisik produk obat tersebut. Periksalah nama dan alamat produsen, apakah tercantum dengan jelas.

Teliti dan lihatlah tanggal kadaluwarsa. Untuk obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter (ethical/obat keras), belilah hanya di apotek berdasarkan resep dokter. Baca indikasi, aturan pakai, peringatan, kontra indikasi, efek samping, cara penyimpanan, dan semua informasi yang tercantum pada kemasan. Tanyakan informasi obat lebih lanjut pada apoteker di apotek.

Setelah membeli obat di tempat yang benar, penggunaan obat yang tepat merupakan faktor penting untuk memperoleh khasiat yang optimal dari suatu obat. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat, yaitu : Jangan gunakan obat milik orang lain, khususnya obat resep. Obat resep dibuat spesial hanya untuk 1 pasien. Baca aturan pakai pada label/etiket setiap anda akan menggunakan obat. Untuk menghindari kesalahan, jangan menggunakan obat di tempat gelap.

Kapan dan dengan Apa Obat Harus Diminum ? 1. Sebelum atau sesudah makan? Obat diminum sebelum makan, karena adanya makanan di dalam lambung akan menghambat pelarutan dan penyerapan obat. Obat diminum sesudah makan atau pada saat makan, karena obat harus melarut dalam lemak agar dapat diserap dengan baik. Jika obat ini diminum pada saat perut kosong, dapat menimbulkan mual dan muntah serta akan mmengiritasi lambung. .

2. Berapa kali sehari ? Lama kerja obat berbeda-beda. Ada obat yang diminum1,2,3, atau 4 kali sehari. Obat yang harus ditelan 1x sehari umumnya ditelan pagi hari, bila tidak diberi petunjuk lain. 2x sehari artinya obat diminum tiap 12 jam, 3x sehari artinya obat diminum tiap 8 jam dan 4x sehari artinya obat diminum tiap 6 jam. Bila takaran 4x sehari sukar diwujudkaan, sebaiknya obat diminum sebelum dan sesudah tidur pada malam hari, serta 2 kali lagi dibagi rata sepanjang hari.

3. Dengan air, limun, atau susu? Sebaiknya obat diminum dengan air putih. Susu tidak selalu layak diminum dengan obat, karena mengandung kalsium, khususnya zat-zat antibiotik seperti halnya tetrasiklin. Ini karena kalsium dapat mengikat tetrasiklin, sehingga obat dari usus/saluran pencernaan tidak dapat diserap oleh darah.

KAPAN HARUS BERHENTI MINUM OBAT Obat dengan Resep dokter. Semua obat keras dengan tanda khusus K di dalam lingkaran berwarna merah dengan garis tepi hitam harus dengan resep dokter.

Apabila dokter atau Farmasis belum menjelaskan, bertanyalah tentang penggunaan obat - obatan resep dokter sebagai berikut : Berapa lama obat harus diminum Apabila timbul efek samping, bolehkah berhenti minum obat ? Apabila merasa lebih baik, bolehkah berhenti minum obat ? Apa yang harus dilakukan bila lupa minum obat satu kali ?

Penting sekali untuk menanyakan pertanyaan diatas untuk setiap obat karena mungkin jawabannya akan berbeda - beda. Contohnya : obat pereda rasa sakit bisa di hentikan bila sakit telah hilang, tetapi satu paket antibiotika harus dihabiskan meskipun anda sudah merasa sehat. Apabila timbul efek samping, obat harus segera dihentikan dan segera berkonsultasi ke dokter atau unit pelayanan kesehatan lainnya seperti UGD atau Puskesmas terdekat.

Ketika menerima obat, baik dari dokter maupun farmasis, jangan meninggalkan tempat sebelum mengetahui dengan pasti cara menggunakan obat tersebut. Dengarkan dengan baik petunjuk yang diberikan secara lisan dan cocokan dengan label yang di tulis pada bungkus obat. Jangan malu bertanya, apabila kurang jelas tentang apa saja atau ingin tahu lebih banyak lagi.

Paling tidak anda harus tahu beberapa hal berikut ini : Tujuan pemakaian obat Nama dan isi obat, yang seharusnya tercantum di label Cara pemakaian yang seharusnya tercantum di label. Aktivitas /makanan/minuman/obat lain yang harus di hindari.

Efek samping yang mungkin timbul dan cara mengatasinya Petunjuk cara pemakaian kadang - kadang kurang jelas misalnya Minum obat setiap 6 jam. Minum obat sebelum makan. Apabila masih belum jelas, bertanyalah sampai benar - benar jelas. Petunjuk yang kelihatan sederhana memang artinya sudah tepat, tetapi kurang tersirat pada petunjuk yang singkat tersebut,

contoh : Setiap 6 atau 8 jam, ini berarti jarak minum obat harus tepat sesuai petunjuk, tiap 6 atau 8 jam. Tiga kali sehari, lebih fleksibel, artinya anda bisa minum obat di pagi, siang dan malam hari Minum setelah makan, artinya obat harus diminum selama atau segera sesudah makan. Minum sebelum makan, artinya obat di minum antara 2 jam setelah makan terakhir sampai 1 jam sebelum makan lagi. Minum obat sewaktu perut kosong, artinya sama dengan minum sebelum makan.

Bagaimana cara menggunakan obat? 1. Tablet Ditelan dengan segelas air, sebaiknya dengan posisi tubuh tegak dan setelah digigit menjadi 3-4 bagian kecil. Jika ditelan tanpa atau terlalu sedikit air atau dalam posisi terbaring, maka terdapat resiko akan tersangkutnya tablet di kerongkongan.

2. Kapsul Seperti tablet, kapsul diletakkan di atas lidah dan ditelan dengan cukup banyak air dengan posisi tegak, berdiri, atau duduk. Bila sukar ditelan, maka kapsul dilunakkan dalam air untuk beberapa saat dan jangan sampai kedua tabung dibuka untuk mengeluarkan obatnya.
3. Serbuk Serbuk ditaburkan pada segelas air, aduk agar obat melarut kemudian baru diminum. Bilaslah gelas dengan sedikit air untuk sisa obat yang melekat.

4. Obat kumur Setiap kali berkumur, selama 2-3 menit agar obat diberi kesempatan untuk bekerja. Sesudahnya obat dikeluarkan dan jangan ditelan.

5. Salep Dengan tangan yang bersih, keluarkan sedikit obat dan oleskan setipis mungkin pada kulit. 6. Serbuk tabur Taburkan sedikit pada serbuk pada kulit dan digosok dengan hati-hati.

7. Tetes mata Terlebih dahulu tangan dicuci dengan baik, kepala didongakkan dan mata diarahkan ke atas. Dengan jari telunjuk, kelopak mata bawah ditarik ke bawah sehingga terbentuk selokan kecil. Wadah dipegang antara jempol, telunjuk, jari tengah dan tangan disandarkan pada dahi tepat di atas mata.

Jatuhkan beberapa tetes ke dalam kelopak mata dan dengan jari tengah menekan pada hidung di sisi ujung dalam dari mata supaya tetesan tidak segera mengalir keluar, kemudian mata ditutup selama satu menit.

Untuk anak kecil (kurang dari 10-12 tahun), supaya berbaring dengan mata tertutup rapat. Kemudian jatuhkan satu atau dua tetes pada ujung mata di sisi hidung. Bila anak membuka matanya, tetesan akan masuk dengan sendirinya ke dalam mata.

Swamedikasi atau pengobatan sendiri yang kini banyak dilakukan juga sangat potensial menimbulkan masalah interaksi obat.
Contoh : Rifampicin dapat mengurangi efektivitas dari berbagai pil kontraseptif. Kombinasi rifampicin-pil KB ini juga dapat meningkatkan resiko terjadinya perdarahan.

Kalsium, magnesium, aluminium dan zat besi dapat bereaksi dengan tetrasiklin dan turunan fluoroquinolon seperti ciprofloxacin, levofloxacin, ofloxacin, dan trovafloxacin, membentuk senyawa yang sukar diabsorpsi atau diserap oleh tubuh. Penurunan absorpsi antibiotika karena drug interaction dengan mineral-mineral tersebut dapat mencapai 50-75 persen.

Obat-obat antihistamin sangat potensil mengadakan interaksi obat.


Antihistamin sering diberikan dalam obat flu atau obat batuk. Kombinasi antihistamin dengan obat-obat penenang atau obat-obat yang bekerja menekan sistem syaraf pusat seperti luminal dan diazepam harus dihindari, sebab kombinasi ini dapat mengadakan potensiasi, sehingga dapat terjadi efek penekanan sistem syaraf pusat secara berlebihan.

Antihistamin juga harus sangat hati-hati diberikan pada pasien yang sedang mendapatkan terapi antihipertensi (tekanan darah tinggi).

Bagaimana Cara Menyimpan Obat?


Semua obat sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk, dalam wadah asli dan terlindung dari lembab/ cahaya. Tanda-tanda Kerusakan Obat Suatu obat telah menjadi rusak bila terjadi perubahan warna, larutan yang bening menjadi keruh atau berjamur, bentuk dan baunya berubah.

Obat yang rusak tidak boleh diminum, karena akan dapat membentuk zat-zat beracun atau menjadi tidak berefek pada tubuh. Pada waktu membeli obat, sebaiknya dilihat tanggal kadaluwarsanya, juga bungkusan aslinya apakah masih dalam keadaan baik atau sudah rusak.

Antibiotik Obat yang tergolong antibiotik. Dalam pemakaiannya harus dihabiskan untuk menghindari kambuhnya penyakit (terjadi kekebalan mikroba atau resistensi). Bila masih ketinggalan sisa akibat dari bagian obat yang tidak habis, maka sisa obat tersebut tidak boleh disimpan.

CARA PENYIMPANAN OBAT YANG BENAR Sangat penting untuk menyimpan obat secara benar. Apabila tidak, obat akan mengalami perubahan kimiawi yang mungkin menyebabkan obat menjadi tidak berefek atau akan membahayakan. Menyimpan obat dengan benar juga untuk memastikan bahwa obat digunakan oleh orang yang memerlukan.

Petunjuk cara penyimpanan obat : Simpan obat di botol aslinya (untuk mencegah perubahan kimiawi, setiap obat perlu tempat tersendiri dari plastik atau gelas, warna gelap atau terang. Apabila tempat tidak sesuai, obat akan rusak.) Hindarkan dari panas, sinar dan keadaan lembab (misal : jauh dari lampu, sinar matahari langsung, dapur dan kamar mandi) Jangan disimpan di kulkas, kecuali sesuai petunjuk.

Jangan menyimpan bermacam - macam jenis obat dalam satu tempat, meskipun bila tempat aslinya memang dari bahan yang sama. Setiap obat harus disimpan dalam tempat aslinya lengkap dengan labelnya. Simpanlah obat - obat yang diminum, terpisah dari obat - obat luar (tidak melalui mulut)

Simpanlah jauh dari jangkauan anak anak, misalnya di tempat yang tinggi, laci yang terkunci atau botol yang tidak mudah di buka oleh anak - anak. Jangan meletakan obat - obatan yang secara rutin digunakan (misalnya untuk diabetes, darah tinggi, atau kontrasepsi) di sebelah tempat tidur atau lemari es, dimana anak - anak bisa dengan mudah menjangkaunya.

KAPAN OBAT HARUS DIBUANG ? Obat dengan resep dokter. Obat dengan resep dokter yang tersisa harus di buang segera setelah penyakitnya sembuh. Sisa obat tersebut tidak boleh disimpan untuk digunakan lagi di lain kesempatan atau malah di pakai orang lain.

Setiap obat mungkin mungkin menimbulkan reaksi yang berlainan pada orang yang berbeda. Namun untuk obat - obat antibiotik harus dihabiskan sesuai petunjuk dokter meskipun gejala penyakitnya sudah tidak dirasakan lagi.

Obat tanpa resep dokter Ingatlah bahwa semua obat akan mengalami perubahan dalam penyimpanan. Karena itu buanglah obat segera apabila : Telah melampaui tanggal yang tertera dalam label atau kadaluarsa Tidak ada tanggal kadaluarsa, tetapi telah disimpan cukup lama Telah berubah warna/bentuk/keruh Label terlepas atau tidak jelas

Pada saat pasien datang ke apotek untuk keperluan swamedikasi, konseling dimulai pada saat pasien berjumpa farmasis. Tetapi pada pasien yang menebus resep, konseling dapat dilakukan dengan sangat bervariasi. Variasi konseling ini dikarenakan banyak hal yang salah satunya waktu yang dibutuhkan untuk konseling. Besaran waktu biasanya sangat kondisional. Pada pasien yang sudah memahami kebutuhannya umumnya konseling membutuhkan waktu yang lebih pendek.

Pada penebusan resep, waktu konseling bisa dilakukan pada saat penerimaan resep, saat obat masih dilayani oleh tenaga yang lain atau pada saat penyerahan resep.
1. Konseling saat penerimaan resep. Untuk kasus konseling yang membutukan waktu banyak sebaiknya dimulai pada saat penerimaan resep. Karena konseling yang diberikan mulai saat penerimaan resep bisa memberikan jeda waktu yang memungkinkan pasien berpikir untuk memahami konseling dan memungkinkan untuk bertanya lebih jauh bila masih membutuhkan koneling atau membutuhkan konsultasi terkait obat dan penyakit. Selanjutnya pada saat penyerahan resep farmasis tinggal melakukan PIO terkait sediaan farmasi, cara penggunaan dan lain sebagainya.

Konseling umumnya berjalan sangat kondisional, sehingga apa yang dilakukan dalam konseling tidak bisa berlaku matematis, oleh karena itu waktu konseling harus disesuaikan dgn kondisi. Maksudnya perbedaan kondisi konseling, pasien, apotek dan farmasis bisa menyebabkan perbedaan cara konseling termasuk pilihan waktu konseling.

2. Konseling yang dilakukan pada saat resep dilayani oleh tenaga lain. Pilihan waktu ini juga bisa dilakukan bila farmasis jumlahnya cukup. Dan akan sulit dilakukan bila farmasis hanya berpraktek sendirian.
Konseling yang dilakukan pada saat ini bisa juga dijadikan pilihan bila ada kemungkinan konseling akan dilakukan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Pada apotek/RS yang jumlah kunjungan resepnya berimbang dengan jumlah kunjungan swamedikasi sebaiknya pembagian waktu konseling dilakukan, sebab bila konseling dilakukan menumpuk saat penyerahan obat bisa jadi akan terjadi penumpukan konseling diakhir waktu sehingga konseling akan berjalan kurang optimal.

Waktu menjadi salah satu permasalahan dalam konseling, apalagi pada apotek/RS yang jumlah kunjungan pasiennya tinggi dan rasio jumlah pengunjung dibanding jumlah pelayan cukup tinggi. Besaran rasio ini, sampai saat ini belum ada penelitian berapa idealnya dalam satu hari.

3. Konseling pada saat penyerahan resep Umumnya waktu konseling oleh apoteker dilakukan pada saat penyerahan resep. Kelemahan konseling yang hanya dilakukan pada saat penyerahan resep, terkadang dibutuhkan waktu yang cukup panjang dalam konseling, sehingga dapat menggangu kelancaran pelayanan yang lain. Pada koseling yang membutuhkan waktu banyak, konseling yang dilakukan pada saat penyerahan resep bisa menjadi kurang optimal. Bisa jadi konseling harus dilakukan beberapa kali pertemuan agar konseling menjadi lebih baik.

Sebaiknya konseling dilakukan sesuai kebutuhan, bila dibutuhkan waktu yang panjang bisa digunakan ketiga waktu tersebut, bila lebih pendek pilih salah satu waktu itu atau gunakan kombinasi waktu tersebut bila dirasa kurang. Bila konseling dirasa masih kurang dan konseling belum berjalan efektif, sebaiknya pasien diamankan dulu dari bahaya obat atau penyakit, bisa juga diberi pesan-pesan bila sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.

Dalam konseling di apotek/RS hal yang paling utama adalah pengamanan pasien, baru pengobatan. Contoh : Saat pasien bertanya obat yang baik, pasien harus mendapatkan jawaban apa itu obat yang baik dari petugas konseling. Salah satunya saya akan bertanya " Menurut anda seperti apakah obat yang baik itu?". umumnya masyarakat didaerah saya akan menjawab obat yang manjur. Kemudian pertanyaan saya lanjutkan " manjur, tetapi muncul penyakit baru yang lebih parah bagaimana?". Disini kita mengajak pasien berfikir tentang apa sebenarnya yang menjadi kebutuhannya, dan bagaimanapun juga obat mempunyai keterbatasan dan tidak semua jenis penyakit dapat diobati dengan "ajaib" seperti harapan pasien.

Obat tanpa resep dokter. Contoh obat ini adalah obat yang mengandung paresetamol digunakan untuk meredakan rasa sakit dan menurunkan panas. Jika setelah 2 hari panas tidak turun atau 5 hari sakit belum juga reda, harap segera ke dokter atau unit kesehatan lainnya. Ingatlah ! Sebagian besar obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter, fungsi utamanya hanya untuk meringankan gejala dan mengobati penyakit ringan. Jadi obati diri sendiri hanya untuk beberapa hari saja, Apabila gejala menetap, maka konsultasikan ke dokter. Obat tanpa resep dokter terdiri dari : Obat bebas, dengan tanda khusus lingkaran berwarna hijau, dengan garis tepi hitam Obat bebas terbatas, dengan tanda khusus lingkaran warna biru dengan garis tepi hitam

Obat Paten : Obat paten merupakan obat yang dipasarkan pertama kali oleh produsen yang menemukan senyawa atau zat aktif obat tersebut melalui proses riset. Obat-obat ini umumnya dilindungi oleh paten yang berkisar 20-25 tahun sejak senyawa obatnya ditemukan dan dipatenkan. Sebelum dipasarkan, senyawa/zat aktif obat yang baru ditemukan harus melewati berbagai uji klinik yang memakan waktu 8-10 tahun. Selama dalam perlindungan paten, obat jenis ini tidak boleh dibuat oleh produsen lain, kecuali ada perjanjian khusus. Umumnya obat paten/original masih didominasi oleh perusahaanperusahaan asing.

Obat Bebas. Obat bebas merupakan obat yang telah teruji keamanannya secara luas dan cukup efektif untuk menghentikan gejala-gejala sakit, sehingga dapat dipergunakan untuk swamedikasi (pengobatan sendiri).

Obat Bebas Terbatas. Obat bebas terbatas memiliki tingkat keamanan yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan obat bebas, sehingga penggunaannya harus lebih berhati-hati. Obat jenis ini masih dapat diperoleh tanpa resep dokter, namun obat jenis ini hanya tersedia di toko obat dan apotek. Umumnya obat bebas terbatas merupakan kombinasi dari 2 atau lebih senyawa obat, yang efektif namun efek sampingnya harus diperhatikan oleh penggunanya. Setiap obat bebas terbatas selalu mencantumkan label agar penggunanya memeriksakan diri ke dokter, apabila dalam 3 hari penggunaan masih belum sembuh. Obat-obat jenis ini umumnya adalah obat flu, diare dan lain-lain.

Obat Keras. Obat keras adalah obat yang memiliki efikasi yang telah teruji namun keamanan dari obat tersebut harus dalam pengawasan. Untuk memperoleh obat keras pasien harus menebus di apotek atau rumah sakit dengan menggunakan resep dokter. Ada sebagian obat keras yang dapat diberikan langsung oleh apoteker, obat-obat tersebut disebut obat wajib apotek. Obat keras terdiri dari beberapa jenis, yaitu obat keras, obat psikotropika dan obat jenis narkotika. Untuk obat psikotropika dan obat jenis narkotika, peredarannya sangat dibatasi, hanya dapat diperoleh dengan menyerahkan resep dokter, dan pengawasannya sangat ketat baik dari pihak apotek ataupun rumah sakit serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Obat Bermerek/Obat Me Too/Obat Copy. Obat Generik bermerek atau secara singkat disebut obat bermerek adalah obat yang dibuat sesuai dengan komposisi obat paten setelah masa patennya berakhir. Obat Generik bermerek dipasarkan dengan merek dagang yang ditentukan oleh masing-masing produsennya dan telah disetujui oleh BPOM. Umumnya harga produk ini lebih murah dibandingkan harga obat patennya.

Obat Generik Berlogo. Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan obat yang memiliki komposisi yang sama dengan obat patennya, namun tidak memiliki merek dagang. OGB dipasarkan dengan menggunakan nama zat aktif atau nama senyawa obatnya sebagai nama produknya. Contoh: Amoksisilin 500 mg, Simvastatin 10 mg, Glimepiride 2 mg, dan lain-lain. OGB mudah dikenali, dari logonya yaitu berupa lingkaran hijau berlapis-lapis dengan tulisan GENERIK ditengahnya. Logo OGB terdapat di kemasan luar (box obat), di strip obat atau di label botol obat. OGB memiliki harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat, karena kebijakan harganya ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DepKes RI)

Perlu anda ketahui bahwa ada beberpa jenis obat yang tidak boleh di minum oleh wanita hamil. Beberapa jenis lagi tidak boleh diminum bersamaan waktunya dengan jenis obat yang lain karena mungkin obat - obat tsb akan saling menetralisir ataupun malah saling menguatkan sehingga efeknya malah merugikan dsb. Karena itu jangan menunggu pertanyaan, langsung berikan keterangan kepada apoteker tentang hal hal berikut ini : gejala - gejala yang ingin di hilangkan Riwayat alergi terhadap suatu obat ataupun adanya riwayat alergi dalam keluarga Bila hamil atau sedang menyusui Anda sedang atau baru saja minum obat atau obat dari resep dokter untuk masalah kesehatan yang sedang dialami, alkohol, antacid, pil kontrasepsi, obat batuk, pil diet, obat pencahar, anti rasa sakit,obat tidur, vitamin dan zat mineral.