Anda di halaman 1dari 31

NI PUTU DEVIA SUCIYANTI 030.08.

177 UNIVERSITAS TRISAKTI

Tahun 2000 terdapat 250 juta (4,2%) penduduk dunia yang menderita gangguan pendengaran dan lebih kurang setengahnya (75-140 juta) terdapat di Asia Tenggara. Dari hasil "WHO Multi Center Study" pada tahun 1998, Indonesia termasuk empat negara di Asia Tenggara dengan prevalensi gangguan pendengaran yang cukup tinggi (4,6%), tiga negara lainnya adalah Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%), dan India (6,3%)

Dari semua kasus kehilangan pendengaran, 90 % merupakan tuli sensorineural. Tuli ini dapat mengenai segala usia dengan etiologi yang berbeda-beda.Sekitar 50% kasus merupakan faktor genetik dan 50 % lagi didapat (acquired). Tuli sensorineural dibagi dalam tuli sensorineural koklea dan retrokoklea.

Koklea Skala vestibuli Skala media Skala timpani Kanalis semisirkularis Terdiri atas kanalis superior, posterior dan lateral Vestibulum Sakulus utrikulus

Perdarahan dari A. Auditori Interna, yang bercabang 3:


Arteri vestibularis anterior Arteri vestibulokoklearis Arteri koklearis

Aliran vena terdiri atas 3 jalur :


vena auditori interna
Vena akuaduktus koklearis Vena akuaduktus vestibularis

N. akustikus dan N. fasialis masuk ke dalam porus dari meatus akustikus internus dan bercabang dua sebagai N. vestibularis dan N. koklearis.

Pada dasar meatus akustikus internus terletak


ganglion vestibulare dan pada modiolus terletak

ganglion spirale.

Energi bunyi ditangkap daun telinga

Sel-sel rambut bergerak

Perubahan energi mekanik potensial kemolistrik

Energi getar ditangkap Membrana timpani

Getaran suara menggetarkan membran basilaris

Corpus genikulatum korteks serebri di area acustikus

Tulang pendengaran Maleus,inkus,stapes

Diteruskan ke rongga koklea

Disadari sebagai rangsang

Tuli sensorineural adalah tuli yang terjadi


karena terdapatnya gangguan jalur hantaran

suara pada sel rambut koklea (telinga


tengah), nervus VIII (vestibulokoklearis), atau

pada pusat pendengaran di lobus temporalis


otak

TULI KOKLEA

gangguan pada reseptor/mekanisme penghantar pada koklea. fenomena rekrutmen dapat membedakan bunyi 1 dB

gangguan N VIII atau area pendengaran di lobus temporalis TULI otak RETROKOKLEA tuli retrokoklea terjadi kelelahan (fatigue)

TULI KOKLEA

TULI RETROKOKLEA

Labirinitis (oleh bakteri/ virus) Obat ototoksik Presbikusis Tuli mendadak Kongenital Trauma Tuli akibat bising

Penyakit Meniere Neuroma Akustik

virus
serosa

Kerusakan organ corti, selubung mielin, membrana tektoria

Toksin dan mediator inflamasi menginfiltrasi skala timpani

OBAT OTOTOKSIK
Aminoglikos ida Gol. Makrolid kloramfenik ol furosemid

antibiotika

Loop diuretik

Anti inflamasi Salisilat

antimalaria kina

Degenerasi stria vaskularis.

Degenerasi sel epitel sensori.

Degenerasi sel ganglion.

PRESBIKUSIS

Atrofi dan Pada usia tua, degenerasi sel simetris, rambut organ progresif corti

Perubahan struktur koklea dan nervus VIII

Penurunan pendengaran sensorineural 30 dB


atau lebih min 3 frekuensi berturut-turut pada

pemeriksaan audiometri dan berlangsung


dalam waktu < 3 hari.

Iskemia koklea merupakan penyebab utama


tuli mendadak

60-70 % bersifat otosom resesif, 20-30% bersifat otosom dominan sedangkan 2% bersifat X-linked Tuli sensorineural kongenital dapat berdiri sendiri atau sebagai salah satu gejala dari suatu sindrom.
Sindrom Usher
Sindrom Waardenburg Sindrom Alport

Trauma akustik perpecahan pada foramen


ovale sehingga perilymph bocor ke telinga

Intensitas > 80 db
Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu

yang cukup lama ( 10 15 tahun ) akan


menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ

Corti sampai terjadi destruksi total organ


Corti

Sindrom Meniere yaitu vertigo, tinnitus dan tuli


sensorineural. disebabkan hidrops endolimfe

pada

koklea

dan

vestibulum.

Hidrops

disebabkan oleh :
Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri Meningkatnya tekanan osmotik ruang kapiler Berkurangnya tekanan osmotik di dalam kapiler Tersumbatnya jalan keluar sakus endolimfatikus

Dalam kanalis auditoris internus


Trauma langsung terhadap nervus koklearis

dan gangguan suplai darah ke koklea

Anamnesis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penala Audiometri Audiologi khusus


audiometri khusus, audiometri objektif,

pemeriksaan tuli anorganik, dan pemeriksaan audiometri anak.

ANAMNESA PF

TES PENALA

DIAGNOSTIK

AUDIOMETRI

AUDIOLOGI KHUSUS

Tes Penala

Normal

Tuli Konduktif

Tuli sensorineural

Tes Rinne

(+) hantaran udara (-) hantaran udara


masih terdengar tidak terdengar

(+)
udara

hantaran
masih

terdengar Tes Weber Tidak lateralisasi ada Lateralisasi telinga yang sakit ke Lateralisasi ke

telinga yang sehat

Tes Schwabach

Sama dengan pemeriksa

memanjang

Memendek

Hentikan pengunaan obat ototoksik


Mengunakan hearing protection (ear plug,

ear muff, helmet)

Alat bantu dengar

Implan koklea

Tuli sensorineural adalah tuli yang terjadi karena


adanya gangguan pada telinga dalam atau pada jalur saraf dari telinga dalam ke otak

Tuli sensorineural dibagi menjadi tuli koklea dan tuli retrokoklea Diagnosis tuli sensorineural ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

Penatalaksanaan
tergantung

tuli

sensorineural
dan dengan

etiologi

menggunakan alat bantu dengar atau


implan koklea. Tuli sensorineural tidak

dapat diperbaiki dengan terapi medis atau


bedah tetapi dapat distabilkan.

ASHA. Hearing Loss. 2011. Accessed on: 11 October 2013. Available from: http://www.asha.org/public/hearing/HearingLoss/ .

Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Balai Penerbit FK UI, 2008. h. 10-22.

Adam GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997. Sjarifuddin, Bashiruddin J, Alviandi W. Tuli Koklea dan Tuli Retrokoklea. Dalam:Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala& Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2008. h. 23-30.

Joseph,

A.

The

Epidemiology

of

Occupational

Hearing

Loss.

Volume

5,

no.3,

2002.

Diakses

dari

www.oem.msu.edu/news/Hv5n3.pdf

Suzuki J, et al. Hearing Impairment An Invisible Disability. Springer, Tokyo. 2004

Soetirto I, et al. Gangguan Pendengaran Akibat Obat Ototoksik. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi 6. Jakarta. FKUI. 2007. H. 53-56.

Roland PS, et al. Ototoxicity. Hamilton. London. 2004

Suwento R, et al. Gangguan Pendengaran Pada Geriatri. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 6. Jakarta. FKUI. 2007

Rolland PS. Inner Ear, Presbycusis. Diakses dari www.emedicine.com. 2008 Bashiruddin J, Soetirto I. Tuli Mendadak dalam: Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala& Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2008. h. 46-48.

Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss). Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 6. Jakarta. FKUI. 2007. H. 49-52.

Hadjar E, Bashiruddin J. Penyakit Meniere. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 6. Jakarta. FKUI. 2007. H. 102-103

Roland SP. Acoustic Neuroma. Accessed on : 12 october 2013. Available from : www.emedicine.com Soepardi EA, Iskandar. Pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher.Dalam: Soepardi EA,

Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Balai
Penerbit FK UI, 2008. h. 1-2

AE Conlin. (2007). Treatment of Sudden Sensorineural Hearing Loss. ARCH Otolaringology Head and Neck Surgery. 133, 573-581