Anda di halaman 1dari 21

Dr. RUSDI EFFENDI Sp.

KJ

PEMBIMBING KLINIK

Skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada kepribadiaan, distorsi khas proses pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luarnya dirinya, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi , afek abnormal yang terpadu dengan situasi nyata atau sebenarnya, dan autisme. Meskipun demikian, kesadaran yang jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu.

Penyebab belum diketahui. Ditemukan kelainan pada area otak tertentu, termasuk sistem limbik, korteks frontal, dan basal ganglia, misalnya pelebaran sulkus, fisura, serta ventrikel lateral III dan IV: perubahan asimetri hemisfer serebri, dan gangguan densitas otak, namun tidak ada satu pun yang patognomonik atau selalu ditemukan pada pasien skizofrenia.

Menurut pendapat lain, skizofrenia merupakan aktivitas dopamin otak yang berlebihan. Dilaporkan juga bahwa kadar 5 hydroxy indoleacetic acid (5 HIAA) menurut pada szikofrenia kronik dan pada pasien szikofrenia dengan pelebaran ventrikel.

Faktor genetik memegang peranan penting. Seseorang mempunyai kecenderungan skizofrenia bila mempunyai keluarga seorang pasien akizofrenia. Demikian juga pada kembar monozigot. Ditinjau dari aspeks psikososial, disebutkan terdapat defek dan disintegrasi ego. Faktor lingkungan dan psikologis juga berperan.

SKIZOFRENIA

Harus ada satu gejala berikut ini yang sangat jelas ( dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a.

-Thought Echo -Thought insertion or withdrawal - Thought broadcasting - Delusion of control - Delusion of influence - Delusion of passivity - Delusional perception

b.

c. Halusinasi auditorik d. Waham waham menetap jenis lain yang tidak wajar. Atau paling sedikit memiliki 2 gejala jelas yang harus selalu ada : a. . Halusinasi yang menetap dari pancaindra apa saja b. . Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) c. . Perilaku katatonik d. . Gejala-gejala negatif seperti sangat apatis, bicara yang panjang.

Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu 1 bulan atau lebih. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial.

Manifestasi Klinik Anamnesis : - Adanya perubahan perilaku, misal, menarik diri, agresif, marah marah, ide/kepercayaan yang aneh/ tdk dpt di mengerti. Pemeriksaan : - Asosiasi longgar - Pemasukan berlebihan - Neologisme - Pembicaraan tiba-tiba berhenti / blocking - Ambivalensi - Autisme - Ekolalia - Alogia

TERAPI Anti psikotik - Antagonis reseptor dopamin - Remoxipride - Disperidon - Clozapine PROGNOSIS 20-30% pasien terus mengalami gejala sedang,40-60% pasien terus terganggu selama hidup.

Definisi: Gangguan yang bersifat episode berulang (sekurang-kurangnya 2 episode) yang menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu. Gangguan ini pada waktu tertentu tdd peninggalan suasana perasaan / mood serta peningkatan energi dan aktivitas (mania / hipomania) dan pd waktu lain berupa penurunan suasana perasaan / mood serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi).

Afek yang meningkat Kegiatan terus menerus (tdk ada capeknya) Adanya waham kebesaran Iritabilitas Pada wanita : dandanan menor Pada pria : lebih pada ide-ide

Gejala utama:

- Afek depresi - Kehilangan minat dan kegembiraan - Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktifitas.

Definisi Keadaan gangguan yang bersifat episodik dengan gejala afektif dan skizofrenik yang sama menonjol dan secara bersamaan ada dalam episode yang sama dari penyakit itu atau setidaknya dalam beberapa hari satu sesudah yang lain. Etiologi 1. Ggg. Skizoafektif bisa saja kedua jenis skizofrenia terutama ggg suasana hati. 2. Skizoafektif dapat memunculkan ggg skizofrenia dan ggg suasana hati secara simultan 3. Kelainan skizoafektif merupakan ketigan dari psikosis yang tidak terkait dengan skizofrenia atau ggg suasana hati 4. Kelainan yang heterogen mencakup poin 1-3

F25.0 Gangguan skizoafektif tipe manik F25.1 Gangguan skizoafektif tipe depresif F25.2 Gangguan skizoafektif tipe campuran F25.8 Gangguan skizoafektif lain F25.9 Gangguan skizoafektif YTT

Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manik. Afek harus meningkat secara menonjol dikombinasikan dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitn ya satu, atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas.

Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal maupun untuk ggg berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe depresif. Afek depresif harus menonjol, harus disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif. Dalam episode yang sama sedikitnya harus jelas ada satu, sebaiknya dua, gejala khas skizofrenia.

Gangguan dengan gejala-gejala skizofrenia, berada secara bersama-sama dengan gejalagejala afektif bipolar campuran.

TERAPI 1. Farmakotherapy - Antidepresan (carbamazepin, Valprote) - Antimanik (lithium dan phenotiazin) - Antipsikotik (kontrol jangka panjang) - ECT (Elektro konvulsiv terapi) Jika pasien sudah tidak merespon dengan pengobatan anti depresan. Lithium untuk skizoafektif tipe bipolar kombinasi obat jika tidak merespon pada pengobatan tunggal 2. Perawatan di Rumah Sakit, karena : - Keadaan psikosis pasien - Gangguan afektif - Resiko dari bunuh diri

Prognosis - < 25% : Waham berubah jadi skizofrenia - < 10% : Waham berubah menjadi kelainan suasana hati - 50% : Pasien sembuh - 20 % : Gejala menurun - 30 % : Tidak mengalami perubahan

TERIMA KASIH