Anda di halaman 1dari 24

Fraktur Akar

By.

drg. Didit Aspriyanto


PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAt

Fraktur Akar
Fraktur Akar Horizontal FRAKTUR AKAR VERTIKAL

Fraktur Akar Horizontal


Fraktur akar horizontal karena trauma paling sering terjadi pada gigi anterior, yaitu insisiv tengah permanen maksilaris. Fraktur akar horizontal yang melibatkan gigi-gigi posterior pada umumnya jarang, karena hal tersebut memerlukan pukulan dan kekuatan yang besar. (Walton, 2008) Fraktur akar horizontal insidensinya rendah, angkanya dari 0,5%-7% dibandingkan trauma dental lainnya. Seringkali di sepertiga akar diikuti dengan fraktur apical dan sepertiga koronal gigi, paling sering terjadi di incisive sentral maksillaris pada pasien laki-laki. (Orhan et al, 2010)

Tanda klinis
Terdapat kegoyangan gigi (Bergenholtz, 2009; Garg, 2003). Pemeriksaan klinis meliputi evaluasi ada atau tidaknya kegoyangan gigi, nyeri saat palpasi pada jaringan lunak disekitar gigi yang terluka, tes perkusi dan pulp testing. Pasien positif pada perkusi dan palpasi. (Bergenholtz, 2009; Garg, 2003; Orhan et al, 2010; Abad et al, 2009 )

Patogenesis
Pada fraktur akar horizontal, kerusakan pulpa koronal tidak bisa dihindari, tetapi bahkan jika jaringan pulpa di bagian koronal kehilangan vitalitas, fragmen apikal biasanya tetap vital. ketika fraktur akar horizontal terjadi, segmen koronal dipindahkan ke berbagai derajat. jika pembuluh darah segmen apikal tidak terpengaruh, jarang menjadi nekrotik. (Bergenholtz, 2009; Garg, 2003)

Trauma mengancam kelangsungan hidup pulpa oleh karena (Bergenholtz, 2009): (1) tereksposnya dentin dan pulpa dalam rongga mulut. (2) Merusak pasokan darah pulpa. (3) Mengubah rangsangan pulpa pada tes diagnostik

FRAKTUR AKAR VERTIKAL


Fraktur akar vertikal telah digambarkan sebagai fraktur longitudinal berorientasi akar memanjang dari saluran akar ke periodonsium. Fraktur akar vertikal mewakili 2 sampai 5% dari mahkota atau akar, paling sering terjadi pada perawatan endodontik dan terutama iatrogenik. Untuk fraktur akar vertical mungkin melibatkan seluruh panjang akar atau hanya sebagian, dan mungkin hanya melibatkan satu atau kedua sisi akar

Gambaran klinis fraktur akar vertikal sangat variabel. Tanda-tanda klinis dan gejala bervariasi sesuai dengan posisi fraktur, tipe gigi, kondisi periodontal gigi, dan susunan tulang yang berdekatan. Infeksi kronis lokal mengarah ke variabel kombinasi dari ketidaknyamanan dan nyeri, nyeri ringan sampai sedang, nyeri pada menggigit, bau yang tidak enak, pembengkakan jaringan lunak, dan kedalaman poket periodontal yang sempi terisolasi

Fraktur akar vertical dapat diketahui dengan adanya berbagai tanda, gejala, dan temuan klinis lain. Temuannya dapat sangat mirip dengan penyakit lain seperti penyakit periodontium atau perawatan saluran akar yang gagal. Keanekaragaman temuan ini sering menyukarkan diagnosis fraktur akar vertikal. Yang menarik karena fraktur akar vertikal sering dikelirukan dengan lesi periodontium atau perawatan saluran akar yang gagal, dokter gigi mungkin merujuk pasien ini ke ahli periodonsia atau ahli endodonsia untuk mendapat perawatan periodontium atau perawatan endodonsi ulang (Walton,2008).

Diagnosis fraktur akar vertikal sangat sulit. Cara untuk mendiagnosa fraktur akar vertical ditunjukkan di bawah ini :
1. Sebagian besar menggunakan cahaya transilluminating untuk menentukan apakah cahaya lewat dari satu sisi gigi yang lain. 2. Sebuah tes menggigit dengan gigi di titik tonjolan masingmasing dapat dilakukan nyeri pada gigi yang fraktur 3. Dalam banyak kasus, perawatan endodontik memungkinkan visualisasi akar untuk menentukan masalah 4. Fiber optic scope juga dapat digunakan untuk diagnosis akar vertikal patah tulang. 5. Radiografi dapat mengungkapkan adanya garis fraktur, fragmen akar yang dipisahkan, ruang samping akar mengisi, gambar permukaan akar eksternal yang ganda,penghancuran tulang, lebar ligamen periodontal , dan radiolusen halus meniru penyakit periodontal. 6. Metode analisis baru yang saat ini sedang dipelajari (misalnya balok kerucut computed tomography untuk mengidentifikasi fraktur longitudinal dalam cara non-destruktif). (Parikh, 2010)

Luebke (1984) mengklasifikasikan fraktur akar vertikal gigi posterior berdasarkan fraktur complete dan incomplete, intraosseous dan supraosseous serta keterlibatan jaringan periodontal : 1. fraktur incomplete, supraosseous, tidak ada defek periodontal. 2. fraktur incomplete, intraosseous, ada defek periodontal minor. 3. fraktur complete atau incomplete, intraosseous disertai defek periodontal major (Wijayanti, 2009).

Dalam upaya untuk mengurangi fraktur atau mempertahankan akarnya terdapat beberapa cara yang dianjurkan seperti menggunakan hidroksida kalsium, mengikat segmen fraktur atau melekatkan segmen fraktur dengan menggunakan resin adhesive, epoksi, atau semen ionomer kaca. Terdapat pula metode yang unik yakni mencabut giginya, memperbaiki frakturnya dengan laser atau semen, dan kemudian mereplentasikan kembali gigi tersebut.

Banyak dari metode tersebut yang tidak praktis atau hasilnya tidak efektif dalam jangka waktu lama. Pembedahan seperti mengangkat salah satu segmen fraktur atau memperbaiki fraktur dengan amalgam atau resin komposit setelah tindakan bedah dan preparasi juga dianjurkan. Walaupun demikian belum pernah diterima laporan keberhasilannya. Pada gigi berakar banyak, dapat dilakukan hemiseksi atau amputasi akar (Walton,2008).

Indikasi Hemiseksi
1. kehilangan tulang penyangga disekitar salah satu akar 2. karies akar subgingiva luas yang mengenai hanya satu akar 3. perforasi akar yang disebabkan resorpsi atau instrumen 4. saluran akar tidak dapat di obturasi karena ada obstruksi 5. bentuk akar yang bengkok atau fraktur akar (Wijayanti, 2009).

Hemiseksi dan Amputasi akar


Penggunaan istilah hemiseksi dan amputasi akar seringkali membingungkan. Amputasi akar adalah pengangkatan satu akar dari gigi akar ganda, sedangkan Hemiseksi merupakan tindakan bedah untuk membagi akar ganda pada batas daerah furkasi, dan pengangkatan hanya sebatas akar saja atau sebagian mahkota

Hal hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan Hemiseksi 1. anatomi furkasi dan akar 2. evaluasi hasil pengisian saluran akar 3. kondisi kesehatan jaringan perodontal 4. dan restorasi yang akan dipilih (Wijayanti, 2009).

Prognosis
Prognosis fraktur vertikal dipengaruhi oleh jenis fraktur, bila fraktur incomplete dan mengenai atau kerusakan jaringan periodontal masih sedikit maka prognosisnya baik. Fraktur complete dengan kerusakan jaringan periodontal yang cukup banyak maka prognosisnya akan meragukan dan dapat menjadi buruk(Wijayanti, 2009).

Pencegahan
Karena penyebab fraktur akar vertikal telah diketahui dengan pasti, yaitu (1) peletakan pasak (sementasi) dan (2) kondensasi pada saat obturasi, maka pencegahannya tidak akan sulit. Pedoman keamanan utamanya adalah (Walton,2008): Hindari pengambilan dentin intraradikular yang berlebihan Kurangi tekanan-desakan internal

Hindari pengambilan dentin intraradikular yang berlebihan

Kekuatan ikatan dentin bagian akar sangat kuat, tetapi mudah sekali terganggu. Pilihlah perawatan dan preparasi yang hanya memerlukan sedikit pengambilan dentin

Kurangi tekanan-desakan internal


Kendalikan kondensasi saat obturasi dengan hatihati. instrument pemampat dan penguak jari yang tidak begitu menguncup dan lebih fleksibel Desain pasak yang tekanannya paling kecil dan tidak menyebabkan dentin fraktur adalah pasak jadi yang fleksibel (termasuk karon-serat karbon) atau silindris (sejajar) dan bisa juga pasak tuang Setiap pasak harus sekecil mungkin, pas secara pasif, dan tidak terkunci atau terlalu kuat memegang akar dari dalam dengan ulirannya. Sementasi harus dilakukan secara hati-hati dan perlahan, ruang untuk keluarnya kelebihan semen mungkin dapat membantu

Daftar Pustaka
1. 2. 3. Gorduysus , M. Akcay, A. Kiretmici, A. Horizontal Root Frakture in Maxillary First Premolar: Case Report. Clinical Dentistry and Research. 2011; 35(1): 53-56 Orhan, K. Aksoy, U. Kalender, A. Cone-Beam Computed Tomographic Evaluation of Spontaneously Healed Root Fracture. JOE. 2010; 36(9): 1584-1585. Abad, E. Campos, L. Cecilia, M. Favieri, A. Outcome of Treatment of Horizontal Root Fracture Using Thermafil and Surgical Procedure : A Case Report. Brazilian Journal of Dental Traumatology (2009) 1(1): 7-12. Walton, Richard E. Mahmoud Torabinejad. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia. Edisi 3. Jakarta: EGC. Hal:513-514. 562 Juniper, Richard P. Brian J Parkins. 1996. Kedaruratan Dalam Praktik Dokter Gigi. Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: Hipokrates. Hal: 36, 45 Bargenholtz, G. Horsted-Bindslev, P. Reit C. 2009. Textbook Of Endodontology.UK : Blackwell publishing. P. 255-259 Garg, N. Garg, A. 2003. Texbook of Endodontics. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher. P. 350-351 Parikh, Kekin K. Non-surgical management of complete vertical root fracture. Hong

4. 5.

6.
7. 8.

9.
10. 11.

Kong Dent J 2010;7:45-9 Sundoro, Edi Hartini. Serba-serbi Ilmu Konservasi Gigi. Universitas Indonesia.
Jakarta. 2005;p. 218-220 Walton, Richard E,Torabinejad Mahmoud.Prinsip & praktik ilmu endoonsia. Edisi 3. EGC. Jakarta. 2008;p. 577-581 Wijayanti, Widya, Suprastiwi Endang. Hemiseksi Akar Mesial Gigi Molar Satu Rahang Bawah. Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Indonesia. Jakarta.2009;p. 2-6