Anda di halaman 1dari 47

PRESENTASI KASUS ULKUS

KORNEA CUM HIPOPION


OLEH: NOVITA WULANDARI
20080310128

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn .S
Umur
: 50 tahun
Jenis Kelamin
: laki-laki
Alamat
: Pakis 1/1 Pakis
Tanggal Masuk : 29 Oktober 2013

ANAMNESIS

Keluhan Utama : pandangan tidak jelas pada mata sebelah kanan


Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan pandangan tidak jelas pada mata sebelah
kanan sejak 1 minggu ini, mata sebelah kanan terasa ada yang mengganjal
dan terasa gatal (+), keluar air mata pada mata kanan (nrocos) (+), mata
kanan terasa perih dan merah (+), pusing (+), melihat cahaya silau,
mual/muntah (-), kesulitan membuka mata (-), melihat pelangi disekitar
mata (-). 1 minggu sebelumnya pasien kelilipan di tempat kerja (kerja di
bangunan) kemudian mata dikucek-kucek karena terasa mengganjal, pasien
mengatakan badan tidak panas / demam (+). Dari anamnesis lebih lanjut
didapatkan bahwa pasien belum pernah melalukan pengobatan dan juga
tidak menggunakan kontaks lens dan kacamata .

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat dengan penyakit yang sama (-)
Riwayat alergi makanan (-), obat (-), debu (-), dingin
(+)
Riwayat mondok di RS (-), riwayat operasi mata (-),
riwayat penggunaan obat (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat diabetes dalam keluarga (-)
Riwayat stroke (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Alergi (+)
Riwayat Sosial & Lingkungan
Pasien memiliki pekerjaan sebagai buruh
bangunan yang sering terpapar dengan debu.

PEMERIKSAAN FISIK
Ku: cm, tampak sakit sedang
Vital sign : TD: 120/80 HR: 80x/menit
RR:20x/menit

Tabel status Ophtalmologi


Pemeriksaan

Oculi dextra

Oculi sinistra

Supersilia

Utuh, rontok (-), warna hitam (+), Utuh , rontok (-),warna hitam (+),
simetris (+)

simetris (+)

Margo palpebra

Entropion(-), ektropion (-), edema (-)

Entropion(-), ektropion (-),edema (-)

Silia

Utuh(+), trikiasis (-), rontok (-)

Utuh(+), trikiasis (-), rontok (-)

Konjungtiva Palpebra superior

Hiperemis (+), benjolan (-), hematom Hiperemis (-), benjolan (-), hematom (-)
(-)

Konjungtiva Palpebra inferior

Hiperemis (+), benjolan (-), hematom Hiperemis (-), benjolan (-), hematom (-)
(-)

Konjungtiva bulbi

Injeksi konjungtiva (+), injeksi siliar Injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-),
(+), perdarahan subkonjuntiva (-)

perdarahan subkonjuntiva (-)

Posisi bola mata

Simetris

Simetris

Pergerakan bola mata

Bebas bergerak ke segala arah (+), nyeri Bebas bergerak ke segala arah (+), nyeri
(-)

(-)

Kornea

Keruh (+), sikatrik (-), infiltrat(+), Jernih (+),sikatrik (-), infiltrat(-), ulkus
ulkus (+), sensibilitas tak dilakukan, (-),sensibilitas tak dilakukan

COA

edema
Kedalaman

sulit

dinilai,

keruh

Hypopion (+), hifema (-)

(+), Kedalaman normal (+), jernih (+),


hypopion (-), hifema
(-)

Iris

Irirs bengkaka, Warna sulit dinilai (+), Warna kecoklatan (+), kripte baik (+)
kripte irregular (+)

Pupil

Miosis, irrehgular

Bulat, letak sentral , ukuran 3mm, reflex


cahaya (+),

Lensa

Kejernihan sulit dinilai, letak tengah

Jernih, letak tengah

Sekret

Tidak ada

Tidak ada

Palpasi pada mata untuk mengukur TIO

Tak dilakukan

Tak dilakukan

Fundus okuli

Tak dilakukan

Tak dilakukan

Lapang pandang

Tak dilakukan

Tak dilakukan

Persepsi cahaya dan warna

Tak dilakukan

Tak dilakukan

Visus

Tak dilakukan

Tak dilakukan

Fluoresin test

Tak dilakukan

Tak dilakukan

Diagnosis
Diagnosis pada kasus diatas adalah ulkus
kornea cum hypopion
Terapi
Terapi : - tetes mata cendo atropin 2
tetes OD (saat di poli)
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Ponalar 500 mg 2x1
Zalp cendomycetin 4x1 zalp OD

TINJAUAN
PUSTAKA

A. Definisi Ulkus Kornea

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang


ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek
kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea
dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Pada Ulkus
kornea terjadi hilangnya sebagian permukaan
kornea akibat kematian jaringan kornea. Ulkus bisa
dalam keadaan steril (tidak terinfeksi
mikroorganisme) ataupun tidak steril (terinfeksi).
Ulkus terbentuk oleh karena adanya infiltrat yaitu
proses respon imun yang menyebabkan akumulasi
sel-sel atau cairan di bagian kornea.

B. Anatomi Kornea

Kornea merupakan selaput bening mata dan


tembus cahaya
Tidak mengandung pembuluh
darahpertahanan tidak segera datang jika
terjadi proses peradangan
Terdiri dari 5 lapisan :

1. Epitel : kelanjutan dari epitel konjungtiva bulbi


2. Membran Bowman : selaput tipis dari jaringan ikat
fibrosa
3. Stroma : lapisan paling tebal dari serabut kolagen yang
teratur dan padat kornea avaskular dan jernih
4. Membran Descement : membran elastik tipis
5. Endotel : merupakan epitel 1 lapis, sel tidak
membelahbila terjadi kerusakanepitel sekitar
hiperplasi untuk menutupi defek

Nutrisi : melalui pembuluh darah di limbus,


cairan aquos dan air matapermukaan
kornea menyerap 02 dari atmosfer yang
kemudian larut ke dalam mata
Inervasi : berasal dari percabangan pertama
N. V Di epitel kornea terdapat ujung saraf
sensibeljika mengalami paparanakan
timbul rasa sakit

C.Epidemiologi

Berdasarkan definisi kebutaan menurut Organisasi Kesehatan Dunia


(WHO), diperkirakan saat ini terdapat 45 juta orang di seluruh dunia yang
buta bilateral, 6 sampai 8 juta buta karena penyakit kornea. Di beberapa
daerah di Afrika, hampir 90% dari kebutaan total akibat penyakit kornea.
Katarak bertanggung jawab terhadap 20 juta dari 45 juta orang buta di
dunia. Penyebab utama berikutnya adalah trakoma bertanggung jawab
terhadap kebutaan pada 4,9 juta orang, terutama karena jaringan parut
kornea dan vaskularisasi. Trauma okular dan ulkus kornea juga merupakan
penyebab signifikan kebutaan kornea dan bertanggung jawab atas 1,5
hingga 2,0 juta kasus baru kebutaan uniokular setiap tahun.

D. Klasifikasi
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus
kornea , yaitu:
1. Ulkus kornea sentral
Ulkus kornea bakterialis
Ulkus kornea fungi
Ulkus kornea virus
Ulkus kornea acanthamoeba
2. Ulkus kornea perifer
Ulkus marginal
Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus
roden)
Ulkus cincin (ring ulcer)

1. Ulkus kornea sentral

a Ulkus Kornea Bakterialis


Pseudomonas

b Ulkus Kornea

Ulkus kornea cum hipopion (Ulkus Serpen atau


ulkus serpengiosa)

Gambar ulkus kornea fungi

Ulkus kornea virus


acanthamoeba

ulkus kornea

Ulkus kornea perifer

Ulkus marginal

ulkus moorens

E. ETIOLOGI
1. Bakteri
2. Virus
3. Jamur
4. Alergi
5. Defisiensi vitamin A
6. Sebab-Sebab Lain (penyakit pada
permukaan mata, kondisi sistemik,
penggunaan soflens, trauma, operasi mata,
abnormalitas epitel kornea, obat-obatan)

F. PATOGENESIS

Dengan adanya defek atau trauma pada kornea, maka


badan sel kornea, wandering cells, dan sel-sel lain yang
terdapat pada stroma kornea segera bekerja sebagai
makrofag, kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh
darah yang terdapat di limbus (injeksi perikornea dan
konjungtiva). Proses selanjutnya adalah terjadi infiltrasi
dari sel-sel mononuklear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear, yang mengakibatkan timbulnya
infiltrat yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu,
keruh dengan batas tak jelas dan permukaan tidak licin.
Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel, infiltrasi,
peradangan dan terjadilah ulkus kornea. Ulkus kornea
dapat menyebar ke permukaan atau masuk ke dalam
stroma.

Kalau terjadi peradangan yang hebat, tetapi belum ada


perforasi ulkus, maka toksin dari peradangan kornea dapat
sampai ke iris dan badan siliar dengan melalui membrana
Descemet, endotel kornea dan akhirnya ke COA.
Dengan demikian iris dan badan siliar meradang (iridosiklitis)
dan timbulah kekeruhan di cairan COA disusul dengan
terbentuknya hipopion.
Hipopion terbentuk karena adanya toksin dari bakteri dan
leukosit polimoonuklear, dalam hal ini hipopion tersebut
bersifat steril karena hanya melibatkan toksin dari bakteri.

F. MANIFESTASI KLINIS
Gejala Subjektif
Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
Silau
Nyeri

Gejala Objektif
Injeksi siliar
Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan
adanya infiltrat
Hipopion

HIPOPION
Hipopion didefinisikan sebagai pus steril yang
terdapat pada bilik mata depan, terlihat
sebagai lapisan putih yang mengendap di
bagian bawah bilik mata depan karena
adanya gravitasi. Komposisi dari pus biasanya
steril, hanya terdiri dari lekosit tanpa adanya
mikroorganisme patogen, seperti bakteri,
jamur maupun virus, karena hipopion adalah
reaksi inflamasi terhadap toxin dari
mikroorganisme patogen, dan bukan
mikroorganisme itu sendiri.

Keadaan yang memberikan


gambaran hipopion:
1. Ulkus Kornea
2. Uveitis anterior
3. Rivabutin
4. Trauma
Penatalaksanaan hipopion tergantung dari ringan
atau beratnya penyakit yang mendasarinya. Tetapi
bila hipopion memberikan gambaran yang berat
seperti pada Endoftalmitis dan tidak memberikan
resppon terhadap pemebrian kortikosteroid maka
bisa dilakukan Anterior Chamber Parecentesis.

G. DIAGNOSIS

1. Anamnesis pasien penting pada penyakit


kornea, sering dapat diungkapkan adanya
riwayat trauma, benda asing, abrasi,
penggunaan soft lens, alergi,operasi mata,
adanya riwayat penyakit kornea yang
bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi
virus herpes simplek yang sering kambuh.
Hendaknya pula ditanyakan riwayat
pemakaian obat topikal oleh pasien seperti
kortikosteroid yang merupakan predisposisi
bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama
keratitis herpes simplek.

2. Klinis pemeriksaan ditujukan untuk mencari


gangguan terhadap kejernihan kornea,
kelengkungan kornea dan keadaan epitel
kornea. Cara pemeriksaan dari permukaan
luar Kecembungan kornea ditentukan oleh
lengkung kornea. Dengan keratometer
ditentukan kekuatan dioptri dan diameter
kornea. Hingga dipermukaan dalam.
Permukaan kornea dinilai kelicinannya dengan
keratoskop Plasido. Di kornea tampak sebagai
garis yang konsentris berlanjut.

3. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala


obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema,
terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada
kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan
hipopion. Disamping itu perlu juga dilakukan
pemeriksaan diagnostik seperti :
Ketajaman penglihatan
Tes refraksi
Tes air mata
Pemeriksaan slit-lamp
Keratometri (pengukuran kornea)
Respon reflek pupil
Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

H. PENATALAKSANAAN
1.Pengobatan konstitusi
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada
orang dengan keadaan umum yang kurang
dari normal, maka keadaan umumnya harus
diperbaiki dengan makanan yang bergizi,
udara yang baik, lingkungan yang sehat,
pemberian roboransia yang mengandung
vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin
C.

2. Pengobatan lokal
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera
dihilangkan. Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan
dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis
harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga,
tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera dihilangkan.
Infeksi pada mata harus diberikan :Sulfas atropine sebagai
salep atau larutan.
Efek kerja sulfas atropine :
Sedatif, menghilangkan rasa sakit.
Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.
Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya
akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan
lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga
sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah
pembentukan sinekia posterior yang baru

4. Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat


diberikan tetes pantokain, atau tetrakain
tetapi jangan sering-sering. Anti biotik yang
sesuai dengan kuman penyebabnya atau
yang berspektrum luas diberikan sebagai
salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva.
5. Untuk menghindari penjalaran ulkus
dapat dilakukan :
a. Kauterisasi
b. Pengerokan epitel yang sakit

6. Parasentesa dilakukan kalau pengobatan


dengan obat-obat tidak menunjukkan
perbaikan dengan maksud mengganti cairan
coa yang lama dengan yang baru yang
banyak mengandung antibodi dengan
harapan luka cepat sembuh.
7. Bila seseorang dengan ulkus kornea
mengalami perforasi spontan berikan sulfas
atropine, antibiotik dan balut yang kuat.
Segera berbaring dan jangan melakukan
gerakan-gerakan

Bila perforasinya disertai prolaps iris dan


terjadinya baru saja, maka dapat dilakukan :
Iridektomi dari iris yang prolaps
Iris reposisi
Kornea dijahit dan ditutup dengan flap
konjungtiva
Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang
kuat
Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang
telah berlangsung lama, kita obati seperti ulkus
biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai
akhirnya sembuh menjadi leukoma adherens.
Antibiotik diberikan juga secara sistemik.

8. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan
penatalaksanaan diatas tidak berhasil.
Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut
yang mengganggu penglihatan, kekeruhan
kornea yang menyebabkan kemunduran
tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa
kriteria yaitu :
Kemunduran visus yang cukup menggangu
aktivitas penderita
Kelainan kornea yang mengganggu mental
penderita.
Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

I. KOMPLIKASI

Komplikasi yang paling sering timbul berupa:


Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat
singkat
Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi
endoptalmitis dan panopthalmitis
Prolaps iris
Sikatrik kornea
Katarak

Iridosiklitis toksik.
Desmatocele
Glaukoma sekunder
Perforasi ulkus kornea

PROGNOSIS

Prognosis ulkus kornea tergantung pada


tingkat keparahan dan cepat lambatnya
mendapat pertolongan, jenis
mikroorganisme penyebabnya, dan ada
tidaknya komplikasi yang timbul.

PEMBAHASAN
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa
Pasien datang dengan keluhan pandangan tidak
jelas pada mata sebelah kanan sejak 1 minggu
ini, mata sebelah kanan terasa ada yang
mengganjal dan terasa gatal (+), keluar air
mata pada mata kanan (nrocos) (+), mata
kanan terasa perih dan merah (+), pusing (+),
melihat cahaya silau, mual/muntah (-), kesulitan
membuka mata (-), melihat pelangi disekitar
mata (-). 1 minggu sebelumnya pasien kelilipan
di tempat kerja (kerja di bangunan) kemudian
mata dikucek-kucek karena terasa mengganjal,
pasien mengatakan badan tidak panas / demam
(+).

Dari anamnesis lebih lanjut didapatkan bahwa


pasien belum pernah melalukan pengobatan dan
juga tidak menggunakan kontaks lens dan
kacamata, pasien juga memiliki riwayat alergi
terhadap dingin. Hasil pemeriksaan fisik
didapatkan pada oculi dextra , konjungtiva
hiperemis (+), Konjungtiva bulbi: Injeksi
konjungtiva (+), injeksi siliar (+), perdarahan
subkonjuntiva (-), kornea: Keruh (+), sikatrik (-),
infiltrat(+), ulkus (+), sensibilitas tak dilakukan,
COA: Kedalaman sulit dinilai, keruh (+), Hypopion
(+), hifema (-), sehingga pasien didiagnosis
dengan ulkus kornea cum hipopion.

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang


ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek
kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea
dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Etiologi ulkus
kornea kasus diatas yaitu faktor ekstrinsik yaitu
berupa trauma (kelilipan), adanya kelilipan ini
membuat pasien menggosok-gosok matanya
sehingga hal ini dapat menjadi port dentre
masuknya bakteri komensalis (mikroorganisme) ke
dalam kornea. Dengan adanya defek atau trauma
pada kornea, maka badan sel kornea, wandering cells,
dan sel-sel lain yang terdapat pada stroma kornea
segera bekerja sebagai makrofag,

kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh


darah yang terdapat di limbus (injeksi
perikornea dan konjungtiva). Proses
selanjutnya adalah terjadi infiltrasi dari sel-sel
mononuklear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear, yang mengakibatkan
timbulnya infiltrat yang tampak sebagai
bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas
tak jelas dan permukaan tidak licin. Kemudian
dapat terjadi kerusakan epitel, infiltrasi,
peradangan dan terjadilah ulkus kornea.

Ulkus kornea dapat menyebar ke permukaan


atau masuk ke dalam stroma, endotel kornea
dan akhirnya ke COA. Dengan demikian iris
dan badan siliar meradang (iridosiklitis) dan
timbulah kekeruhan di cairan COA disusul
dengan terbentuknya hipopion. Hipopion
terbentuk karena adanya toksin dari bakteri
dan leukosit polimoonuklear, dalam hal ini
hipopion tersebut bersifat steril karena hanya
melibatkan toksin dari bakteri.

Adanya proses peradangan pada kornea seperti


yang dijelaskan diatas akan menyebabkan
manifestasi klinis yang dialami oleh pasien. Pada
kasus warna kornea keruh atau terdapat infiltrat
hal ini dikarenakan penumpukan sel PMN dari
proses peradangan. Keluhan nyeri, mata terasa
mengganjal disebabkan terasangnya saraf
(trigeminus). Konjungtiva palpebra hiperemis,
konjungtiva injeksi (+), dan siliar injeksi (+)
merupakan tanda rubor. Rubor atau kemerahan
merupakan hal pertama yang terlihat di daerah
yang mengalami peradangan.

Functio laesa adalah fungsi yang hilang. Dalam hal


ini penurunan pandangan yang disebabkan karna
adanya media refrakta yaitu kornea yang keruh
sehingga mengganggu pembentukan bayangan di
kornea.
Pada pasien ini mendapat terapi tetes mata cendo
atropin 2 tetes OD. Cefadroxyl 500 mg 2x1, obat
antibiotik jenis cephalosporin yang digunakan untuk
mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Ponalar 500 mg 2x1, mengandung asam
mefenamat yang digunakan sebagai analgesik. Zalp
cendomycetin 4x1 zalp OD, mengandung
kloramphenicol yang merupakan antibiotik yang
menghambat sintesis protein lemak.

KESIMPULAN
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
maka pasien didiagnosis dengan ulkus kornea
cum hipopion dan pengobatan yang diberikan
sudah sesuai. Saran pada pasien ini adalah
mata sebaiknya ditutup dulu dan kontrol
kembali ke dokter .

DAFTAR PUSTAKA

Vaughan D. Opthalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika, Jakarta, 2000

Anonimous. Ulkus Kornea. Dikutip dari www.medicastore.com 2007.

Suharjo, Fatah widido. Tingkat keparahan Ulkus Kornea di RS Sarjito Sebagai Tempat
Pelayanan Mata Tertier. Dikutip dari www.tempo.co.id. 2007.

Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga FKUI, Jakarta, 2004

Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, Ulkus Kornea dalam : Ilmu Penyakit Mata Untuk
Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke 2, Penerbit Sagung Seto, Jakarta,2002

Wijaya. N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989

Anonymous, Corneal Ulcer. Dikutip dari www.HealthCare.com. 2007-04-14

Anonimus, Corneal Ulcer. Dikutip dari www.wikipedia.org

Marcelle Yulianne. 2010. Hipopion. Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara: Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Semarang