Anda di halaman 1dari 31

Pengantar Ilmu Lingkungan

Bab 6
Pembangunan Berkelanjutan
Putu Rudy Setiawan

POKOK BAHASAN

LATAR BELAKANG DEFINISI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IDE-IDE DASAR DIMENSI KRITERIA TUJUAN PRINSIP-PRINSIP
Prinsip Dasar Prinsip Ekologis Prinsip Sosio-Ekonomi Prinsip Pengelolaan

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN TANTANGAN KE-DEPAN

LATAR BELAKANG

PEMBANGUNAN versus KONSERVASI (Clark, 1996)


Pembangunan dan konservasi dapat berjalan bersama-sama Pertama, konservasi dibutuhkan untuk melawan tekanan terhadap sumberdaya agar tidak mengalami over-eksploitasi dan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Kedua, pengawasan terhadap pembangunan dibutuhkan untuk melindungi sumberdaya dari pencemaran dan mencegah kerusakan habitat. Ketiga, Pembangunan dan konservasi kebutuhan tersebut harus disatukan bila kita masih ingin memiliki sumber daya di masa mendatang.

DEFINISI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

WCED (1987)
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sekarang dengan tetap memperhatikan agar generasi mendatang juga dapat memenuhi kebutuhannya

DEFINISI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Blowers (1995)
Mewujudkan pembangunan yang mengutamakan alam dan membangun lingkungan secara compatible dengan cara:
Keharusan untuk melindungi stok sumberdaya alam, sedapat mungkin mengganti setiap pengurangan yang tak dapat dicegah dengan kompensasi peningkatan agar total yang tersisa di alam tidak berubah. Kebutuhan untuk mencegah rusaknya kemampuan regenerasi (regenerative capacity) ekosistem alam dunia Kebutuhan untuk mencapai kesetaraan sosial Mencegah resiko dan biaya tambahan untuk kerusakan yang harus ditanggung oleh generasi mendatang

IDE-IDE DASAR

Pentingnya integrasi antara ide-ide pembangunan dan lingkungan yang sebelumnya dipertentangkan. Konsepsi tentang pembangunan tidaklah cukup hanya diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi semata Terdapatnya batas-batas teknologi dan lingkungan untuk mendukung proses pembangunan yang tidak terkontrol Pentingnya aspek sosial-politik, khususnya keadilan dan demokrasi yang merupakan aspek tak terpisahkan dari persoalan-persoalan lingkungan. Ketimpangan situasi, sasaran, dan prioritas pembangunan antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju.

DIMENSI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(PPLH UGM dan CEPI, 2001)

Pentingnya: Konservasi + Preservasi Efisiensi Sumberdaya Mereduksi Limbah Teknologi Tepat Guna

KEBERLANGSUNGAN EKONOMI

Pentingnya: Mempertahankan Pengembangan Ekonomi Membangkitkan Penghasilan Penciptaan Lapangan Kerja Ekonomi Lokal

RAMAH LINGKUNGAN

AKSEPTABILITAS SOSIAL POLITIS SERTA KEPEKAAN KULTURAL

Pentingnya: Pengembangan / Pemberdayaan Komunitas Demokratisasi Desentralisasi Pengetahuan Lokal Kesetaraan Sosial Integritas Budaya

KRITERIA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(PPLH UGM dan CEPI, 2001)

KRITERIA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (untuk Bali) Integrasi ekologi Efisiensi Keadilan Integritas kultur Komunitas Integritas/keseimbangan/harmoni Pembangunan sebagai realisasi potensi

KRITERIA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(PPLH UGM dan CEPI, 2001)

INTEGRASI EKOLOGI, untuk : Memelihara sistem-sistem pendukung kehidupan, Melestarikan keragaman genetik, dan Menyakinkan berlanjutnya pemanfaatan spesies dan berbagai ekosistem yang ada EFISIENSI, untuk : Mengevaluasi berbagai alternatif jalan atau modelmodel pembangunan yang efisien (baik dari aspek pembiayaan, sumber daya, dan partisipasi masyarakat) KEADILAN, berupaya untuk : Menjamin keadilan akan kesempatan dan pengakuan atas kebutuhan individu dan keluarga, kelompokkelompok sosial dan gender, lintas generasi dan spesies

KRITERIA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(PPLH UGM dan CEPI, 2001)

INTEGRITAS KULTUR, untuk : Memperkuat pelestarian dan perbaikan kehidupan dan kebudayaan sebagaimana diekspresikan dalam agama, seni dan organisasi sosial KOMUNITAS, untuk : Meningkatkan kemampuan lokal untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan serta dapat berperan aktif dalam mencapai berbagai tujuan pembangunan seperti memenuhi kebutuhan dasar, keadilan, serta integritas kultur dan ekonomi

KRITERIA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(PPLH UGM dan CEPI, 2001)

INTEGRITAS/KESEIMBANGAN/HARMONI, untuk : Mencapai integrasi yang lebih tinggi antara beberapa faktor kunci yakni antara ekonomi dan lingkungan, pertanian dan pariwisata PEMBANGUNAN SEBAGAI REALISASI POTENSI, untuk : Meningkatkan kapasitas pada semua tingkatan, mulai dari tingkat desa sampai pada propinsi dan nasional, untuk memperbaiki kualitas hidup

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(Blowers, 1995)

KONSERVASI SUMBERDAYA BUILT DEVELOPMENT KUALITAS LINGKUNGAN KESETARAAN SOSIAL PARTISIPASI POLITIS

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(Blowers, 1995)

KONSERVASI SUMBERDAYA Mempertahankan ketersediaan sumberdaya untuk generasi mendatang Efisiensi penggunaan sumberdaya yang tak terbarui dan sumberdaya mineral melalui:
Produktivitas yang lebih tinggi Daur ulang Mengembangkan teknologi alternatif

Tujuan konservasi sumberdaya adalah untuk mencukupi kebutuhan sumberdaya alam sekarang dan generasi mendatang dengan cara :
Penggunaan lahan yang efisien Menghindari pemborosan sumberdaya alam tak terbarui Sedapat mungkin mengganti penggunaan sumberdaya tak terbarui dengan yang terbarui Mempertahankan keanekaragaman hayati

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(Blowers, 1995)

BUILT DEVELOPMENT Penggunaan sumberdaya fisik dan dampaknya terhadap tanah Perlindungan sumberdaya membutuhkan pola pembangunan yang:
Meminimalisasi konsumsi energi Memelihara produktivitas lahan Mengoptimalkan penggunaan kembali (re-use) gedunggedung (property) yang tak terpakai

Tujuan dari Built Development ini adalah untuk menjaga keharmonisan antara pembangunan itu sendiri dengan lingkungan alam. Hubungan antar keduanya dirancang untuk seimbang dan saling memperkuat (mutual enhancement).

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(Blowers, 1995)

KUALITAS LINGKUNGAN Sasaran dari kualitas lingkungan adalah:


Untuk mencegah atau mengurangi degradasi dan pencemaran lingkungan Untuk melindungi regenerative capacity ekosistem Untuk mencegah pembangunan yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan menurunkan kualitas kehidupan

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(Blowers, 1995)

KESETARAAN SOSIAL Pola perdagangan, bantuan modal, dan investasi dibentuk oleh besarnya permintaan negara terkaya Perbedaan-perbedaan (ketidaksetaraan/kesenjangan) semakin menguat akibat :
Eksploitasi sumberdaya Perusakan ekosistem Pencemaran

Mereduksi kesenjangan sosial dan menyelesaikan konflik internal maupun antar negara Sasaran dari kesetaraan sosial adalah untuk mencegah pembangunan yang dapat menumbuhkan dan meningkatkan kesenjangan antara kaya dan miskin, serta untuk mewujudkan pembangunan yang mengurangi kesenjangan tersebut

TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


(Blowers, 1995)

PARTISIPASI POLITIS Pengertian kesetaraan yang lebih besar, berarti :


Perubahan mendasar pada pola konsumsi Alokasi sumber-sumberdaya Gaya hidup (life-style)

Pola kehidupan di negara-negara maju, yang didasarkan atas sikap individualistik, kompetisi, dan konsumsi menyolok (conspicuous consumption), adalah sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan Sasaran dari partisipasi politis ini adalah untuk mengubah nilai, perilaku dan kebiasaan, dengan meningkatkan partisipasi dalam pembuatan keputusan politis dan menginisiasi peningkatan kualitas lingkungan mulai dari komunitas lokal sampai ke level yang lebih tinggi

(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP DASAR

PRINSIP-PRINSIP DASAR DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Prinsip kesetaraan antar generasi Prinsip keadilan sosial Principle of transfrontier responsibility

(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP DASAR

PRINSIP KESETARAAN ANTAR GENERASI Dampak dari pembangunan saat ini yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan generasi mendatang dalam mencukupi kebutuhannya harus diperhatikan. Prinsip selalu melihat ke masa depan (principles of futurity)

(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP DASAR

PRINSIP KEADILAN SOSIAL Harus ada pengendalian dalam distribusi sumberdaya dengan memperhatikan kebutuhan dasar dan aspirasi yang ada Partisipasi yang lebih luas dalam strategi dan kebijakan lingkungan merupakan suatu elemen integral dalam mencapai tujuan ini. Kesetaraan intra generasi

(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP DASAR

PRINCIPLE OF TRANSFRONTIER RESPONSIBILITY Polusi lintas wilayah (transfrontier) harus dapat dikenali dan dikendalikan Negara-negara kaya semestinya tidak mengeksploitasi sumberdaya dari negara lain, dan mengakibatkan distorsi ekonomi dan ekosistem Biaya lingkungan akibat aktivitas perkotaan seharusnya tidak boleh dipindahkan ke wilayah lain disekitarnya

(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP EKOLOGIS

PRINSIP-PRINSIP EKOLOGIS DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Mencegah lebih baik daripada mengobati Tak ada yang dapat berdiri sendiri Meminimalisasi limbah dan sampah Memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya yang dapat diperbarui dan bahan-bahan yang dapat didaur ulang Memelihara dan menambah requisite variety Mengenali dan menghormati toleransi lingkungan lokal, regional, and global Meningkatkan pemahaman dan pengertian lingkungan melalui penelitian

PRINSIP-PRINSIP SOSIO-EKONOMI
(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP SOSIO-EKONOMI DALAM PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN Penggunaan teknologi, material dan desain yang tepat Menciptakan indikator baru untuk kesejahteraan ekonomi dan lingkungan Menciptakan indikator baru untuk produktivitas ekonomi dan lingkungan Menyusun standar minimum yang diizinkan melalui pengawasan dan pengaturan Menindaklanjuti upaya internalisasi biaya lingkungan (environmental costs) kepada pasar Memastikan kemampuan penerimaan sosial terhadap kebijakan lingkungan Memperluas partisipasi publik

PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN
(Graham Haughton and Colin Hunter, 1996)

PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN DALAM PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN Subsidiarity Fleksibilitas dalam menyusun dan mengimplementasikan pedoman kebijakan lingkungan Perlu adanya strategi jangka panjang dalam pengelolaan lingkungan Membangun koordinasi antara kebijakankebijakan lingkungan yang terkait Persamaan hak dan non diskriminasi dalam proses dengar pendapat (hearing) Kebutuhan akan ketersediaan dan kesepahaman informasi lingkungan

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN (carrying capacity)

DEFINISI Tingkat maksimum aktivitas yang diperbolehkan agar tidak menimbulkan kerusakan sumber daya alam atau kerusakan habitat alami (Allen et al, 1980). Ambang batas maksimum pembangunan agar tidak menimbulkan dampak yang membahayakan manusia dan lingkungannya (Beatley, 1994). Jumlah populasi spesies tertentu yang dapat didukung oleh habitat tertentu tanpa menimbulkan kerusakan permanen terhadap habitat tersebut (UNCHS, 1996). Angka maksimum konsumsi sumber daya alam dan pembuangan limbah secara berkelanjutan dalam area tertentu tanpa menimbulkan gangguan integritas fungsi dan produktivitas ekosistem (UNCHS, 1996).

TANTANGAN KE-DEPAN
(Olav Stokke, 1991)

KETIDAKPASTIAN KEBUTUHAN AKAN PEDOMAN EKOLOGIS YANG EFEKTIF HUBUNGAN UTARA-SELATAN

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: tantangan multi-faset


(Olav Stokke, 1991)

KETIDAKPASTIAN Variasi kebutuhan pada generasi yang sama Sulit membayangkan dan memprediksi apa kebutuhan generasi mendatang dan bagaimana mereka memenuhinya Perubahan teknologi dapat mempengaruhi pemanfaatan sumber daya alam di masa mendatang Perubahan dalam sistem politik, tujuan, dan strategi pembangunan mempengaruhi pola utilisasi lingkungan Perubahan norma, sehubungan dengan hak dan kewajiban generasi sekarang maupun mendatang Carrying capacity, sehubungan dengan kapasitas regeneratif sumber daya, dapat mengalami perubahan karena :
Kemajuan teknologi Perubahan pola pemanfaatannya Perubahan-perubahan kualitatif

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: tantangan multi-faset


(Olav Stokke, 1991)

KEBUTUHAN AKAN PEDOMAN EKOLOGIS YANG EFEKTIF Sebagian dari pedoman (aturan) internasional dapat mempengaruhi keputusan nasional, tapi pedoman tersebut kini tidak lagi secara efektif dapat mempengaruhi pengambilan keputusan Keberadaan pedoman internasional yang mampu menjangkau dan menghasilkan keputusan yang kuat untuk diaplikasikan secara global amatlah penting. Struktur pemerintahan formal (lokal, nasional dan internasional) harus mampu bekerja sama dengan akar rumput dan lembaga non-pemerintah

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: tantangan multi-faset


(Olav Stokke, 1991)

HUBUNGAN UTARA-SELATAN Apa yang terjadi di Selatan akan mempengaruhi masa depan kita secara mendasar:
Tiga perempat dari total penduduk dunia hidup di Dunia Ketiga (third world) Dunia Ketiga (third world) menguasai dua pertiga dari luas total permukaan daratan bumi

Kerusakan yang terjadi juga merupakan hasil dari pola pertumbuhan dan konsumsi di Utara

DAFTAR PUSTAKA

Allen, K. O. and J. W. Hardy [1980], Impacts of Navigational Dredging in Fish and Wildlife : A Literature Review, FWS/OBS80/07, Biological Service Program, US Fish and Wildlife Service, Washington D.C. Beatley, Timothy et al. [1994], An Introduction To Coastal Zone Management, Island Press, Washington DC, USA. Blowers, Andrew ed. [1995], Planning for a Sustainable Environment: a report by the Town and Country Planing Association, Earthscan Publication Limited, London. Bruntland, Gro Harlem [1991], Sustainable Development: the challenge ahead, in the European Journal of Development Research, Vol. 3, No. 1, London. PPLH UGM CEPI [2001], Konsep Dasar dan Prinsip-Prinsip Pengelolaan Lingkungan, Modul 2 Kursus Pengantar Pengelolaan Lingkungan, Bapedal

DAFTAR PUSTAKA

Clark, John. R. [1991], Carrying Capacity : A Status Report on Marine and Coastal Parks and Reserves, University of Miami/RSMAS, Miami, Florida. Clark, John R. [1996], Coastal Zone Management Handbook, Lewis Publishers, Florida, USA. Hardoy, Jorge E. et al [1997], Environmental Problems in Third World Cities, Earthscan Publication Ltd. London Stokke, Olav [1991], Sustainable Development: a multi-faceted challenge, in the European Journal of Development Research, Vol. 3, No. 1, London. UNCHS [1996], An Urbanizing World : global report on human settlement, Oxford University Press. Haughton, Graham and Hunter, Colin [1996], Sustainable Cities, Athenaeum Press, London.