Anda di halaman 1dari 55

Obat - Obat Analgetik, Antipiretik dan anti inflamasi

27/11/2013

Definisi
Analgetika adalah zat-zat yang mengurangi rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh. Anti-inflamasi adalah obat atau zat-zat yang dapat mengobati peradangan atau pembengkakan.

27/11/2013

Mekanisme Kerja
Berdasarkan penghambatan biosintesis prostagandin (PG) PG akan dilepaskan bila sel mengalami kerusakan Analgetik menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu

27/11/2013

Trauma/luka sel
Gangguan pada membran sel

fosfolipid dihambat kortikosteroid


Enzim lipoksigenase

Enzim fosfolipase
Asam arakidonat
Enzim siklooksigenase Dihambat obat AINS (serupa aspirin)

hidroperoksid

Endoperoksid PGG2/PGH

Leukotrien

PGE2, PGF2, PGD2

Tromboksan A2

Prostasiklin

Biosintesis Prostaglandin

Nyeri dan Demam


PG hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau inflamasi PG menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata Suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus Secara kimia diawali pelepasan pirogen endogen atau sitokin yang memacu pelepasan PG yg berlebihan

27/11/2013

Efek samping
Yang paling sering adalah induksi tukak lambung yang kadangkadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran pencernaan Beratnya efek samping berbeda pada masing-masing obat Mekanisme terjadinya iritasi lambung:
Iritasi yang bersifat lokal, yang menyebabkan difusi kembali asam lambung ke mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan Iritasi atau perdarahan lambug yg bersifat sistemik melalui hambatan biosintesis PGE2 dan PGI2. Kedua PG ini banyak ditemukan di mukosa lambung dengan fungsi menghambat sekresi asam lambung dn merangsang sekresi mukus usus halus yang bersifat sitoprotektif

27/11/2013

ANALGETIKA
Analgetika atau obat penghilang rasa nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan

kesadaran (perbedaan dengan anastetika umum)


1.

Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetik dibagi dalam 2

kelompok besar, yaitu:


Analgetik perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.

2.

Analgetik narkotik, khusus digunakan untuk menghalau nyeri


hebat seperti pada kanker.

27/11/2013

Penanganan Rasa Nyeri


Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetik perifer Merintangi penyaluran rangsangan di saraf-saraf

sensoris, misal dengan anastetik lokal


Blokade pusat nyeri di susunan saraf pusat dengan

analgetik sentral (narkotik) atau dengan anastetik


umum.
27/11/2013

ANALGETIK PERIFER
Parasetamol Salisilat : Asetosal, salisilamid, dan benorilat Penghambat prostaglandin (NSAIDS) ; ibupropen Derivat-derivat Pirazolinon : aminofenazon Derivat-derivat antranilat : mefenaminat Lainnya : benzidamin

27/11/2013

Penggunaan
Efek Analgetik Meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi susunan saraf pusat atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan (intensitas nyeri ringan sampai sedang) Efek antipiretik Obat-obat ini akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Daya antipiretiknya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluar keringat yang banyak. Efek anti radang atau anti inflamasi Analgetik juga memiliki daya anti radang, khususnya kelompok NSAIDS (Non-Steroid Anti Inflamasi Drugs) termasuk asetosal Zat-zat ini digunakan untuk rasa nyeri yang disertai peradangan

27/11/2013

Efek Samping
Efek samping yang paling umum adalah gangguan lambung-usus (salisilat, penghambat prostaglandin=NSAIDS, derivat-derivat pirazolinon), kerusakan darah (parasetamol, salisilat, derivat antranilat, derivat pirazolinon), kerusakan hati dan ginjal (parasetamol, penghambat prostaglandin), dan juga reaksi alergi pada kulit. Efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau dalam dosis tinggi.

27/11/2013

ANALGETIK ANTI RADANG (NSAIDS)


NSAIDS (Non Steroid Anti InflamasiDrugs) berkhasiat analgetik, antipiretik dan anti radang dan sering digunakan untuk menghalau gejala penyakit rema, seperti arthritis rheumatica, artrosis.

Obat ini juga efektif untuk peradangan lain akkibat trauma (pukulan, benturan, kecelakaan). Juga pada setelah pembedahan atau memar akibat olah raga. Intinya obat ini mencegah pembengkakan bila diminum sedini mungkin dalam dosis yang cukup tinggi.

27/11/2013

Obat AINS

Asam karboksilat
Asam asetat Der as salisilat Aspirin Diflunisal salisilat

Asam enolat
Der as propionat
Ibuprofen Ketoprofen naproksen

Der as fenamat

Der pirazolon

Der oksikam

Fenilbutazon
As mefenamat oksifenbutazon

Piroksikam
Tenoksikam

meklofenamat

Der asam fenilasetat


Diklofenak fenklofenak

Der asam asetat indol


Indometasin Sulindak tolmetin

Penggolongan AINS berdasarkan struktur kimia


27/11/2013

Penggolongan
Salisilat : asetosal, benorilat dan diflunisal Dosis anti radang 2-3 kali lebih tinggi dari pada dosis analgetik. Tetapi karena

resiko efek samping sehingga jarang digunakan dalam obat rema.


Asetat : diklofenak, alklofenak, indometasin, sulindac Alklofenak jarang digunakan lagi karena menimbulkan reaksi kulit. Indometasin termasuk obat yang terkuat daya anti radangnya. Tetapi lebih sering menyebabkan keluhan lambung. Propionat: Ibupropen, ketopropen, naproksen Oxicam : piroksikam, tenoxicam, meloxicam Antranilat: mefenaminat, nifluminat dan meclofenamic acid Pirazolon : (oxy) fenilbutazon, azapropazon

27/11/2013

Mekanisme Kerja
Cara kerja NSAIDS sebagian besar berdasarkan hambatan sintesa prostaglandin dimana kedua jenis ciklo-oksigenase diblokir NSAIDS idealnya hanya menghambat ciklooksigenase II/COX-II (peradangan) dan tidak COX-I (perlindungan mukosa lambung)

27/11/2013

Efek Samping
Efek ulcerogan : mual, muntah, nyeri lambung, gastritis Obat yang banyak menimbulkan keluhan lambung serius adalah indometasin, piroksikam. Gangguan fungsi ginjal: insufisiensi, kelainan pada regulasi elektrolit dan air (udem, hiperkalemia). Prostaglandin (PG) memelihara volume darah yang mengalir melalui ginjal (perfusi) karena terhambatnya sintesa PG maka perfusi dan laju filtrasi glomeruler berkurang dengan efek-efek tersebut. Agregasi trombosit dikurangi, sehingga masa perdarahan dapat diperpanjang. Efek ini reversible kecuali asetosal. Reaksi kulit : ruam dan urtikaria (diklofenak dan sulindac) Lain-lain : bronkokontriksi, efek sentral, gangguan fungsi hati (diklofenak)

27/11/2013

ANALGETIK NARKOTIK
Disebut juga OPIOIDA (=mirip opiat) adalah zat yang bekerja terrhadap reseptor opioid khas di susunan saraf pusat (SSP) hingga persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). Tubuh dapat mensintesa zat-zat opioidnya sendiri, yakni zat endorfin (adalah kelompok polipeptida endogen yang terdapat di cairan cerebrospinal (CCS) dan dapat menimbulkan efek yang menyerupai efek morfin).

27/11/2013

Berdasarkan Kerjanya:
Agonis Opiat Alkaloid candu : morfin, kodein, heroin, nicomorfin Zat sintesis : metadon dan derivat-derivatnya (propoksifen), petidin dan derivatnya serta tramadol Cara kerja obat ini sama dengan morfin, hanya berbeda mengenai potensi dan lama kerjanya, efek samping serta resiko habituasi dan adiksi. Antagonis Opiat : Nalokson, nalorfin, pentazosin Bila digunakan sebagai analgetik, obat ini dapat menduduki reseptor Kombinasi Zat ini juga dapat mengikat pada reseptor opioid, tetapi tidak mengaktivasi kerjanya dengan sempurna

27/11/2013

Mekanisme Kerja
Endorfin bekerja dengan jalan menduduki reseptor-reseptor nyeri di susunan saraf pusat hingga perasaan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgetik opioida berdasarkan kemampuannya menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang belum ditempati endorfin. Tetapi bila analgetik tersebut digunakan terus-menerus. Pembentukan reseptor-reseptor baru distimulasi dan produksi endorfin di ujung saraf di rintangi. Akibatnya terjadilah kebiasaan dan ketagihan.

27/11/2013

Penggunaan
Tangga analgetik. WHO telah menyusun suatu program penggunaan analgetik untuk nyeri hebat (misal pada kanker), digolongkan dalam 3 kelas : 1. Non-opioid : NSAIDS, termasuk asetosal dan kodein 2. Opioida lemah : d-propoksifen, tramadol dan kodein atau kombinasi parasetamol+kodein 3. Opioida kuat : morfin dan derivatnya serta zat sintesis opioida. Pertama obat 4 dd 1 g Parasetamol (4 kali sehari 1 gram parasetamol), bila efeknya kurang ke 4-6 dd kodein 30-60 mg (bersama parasetamol). Bila tidak juga baru opioida kuat : morfin (oral, subkutan, kontinu, IV). Tujuannya di buat suatu tangga pengobatan teresbut diatas untuk menghindari resiko habituasi dan adiksi untuk opioida.

27/11/2013

Efek Samping Umum


Supresi SSP, mual sedasi, menekan pernafasan, batuk, pada dosis lebih tinggi mengakibatkan menurunnya aktivitas mental dan motoris. Saluran cerna : motilitas berkurang (obstipansi), kontraksi sfingter kandung empedu (kolik batu empedu) Saluran urogenital : retensi urin (karena naiknya tonus dari sfingter kandung kemih) Saluran nafas : bronkokontriksi, pernafasan menjadi lebih dangkal dan frekuensinya turun Sistem sirkulasi : vasodilatasi, hipertensi, bradikardia Kebiasaan : dengan resiko adiksi pada penggunaan lama.

27/11/2013

Pembahasan Obat
Parasetamol Asam mefenamat Asetosal Ibuprofen

27/11/2013

Parasetamol
Parasetamol tidak memiliki aktivitas antiinflamasi. Parasetamol kurang mengiritasi lambung. Overdosis dengan parasetamol khususnya berbahaya karena dapat mengakibatkan kerusakan hati yang kadang-kadang tidak tampak dalam 4-6 hari pertama. Kategori: - Ibu Hamil : B - Ibu Menyusui : A
27/11/2013

Parasetamol
Indikasi: nyeri ringan sampai sedang, demam Peringatan: berkurangnya fungsi hati dan ginjal, ketergantungan pada alkohol Efek samping: efek samping sangat jarang, kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut, dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang kerusakan hati. Dosis:
Oral: 0,5-1 g tiap 4-6 jam hingga maksimum 4 g sehari. Anak 2 bulan: 60 mg pada demam paskaimunisasi, sebaliknya, dibawah usia 3 bulan (hanya dengan nasehat dokter) 10 mg/kg (5 mg/kg bila terkena sakit kuning) 3 bulan 1 tahun: 60-120 mg, 1-5 tahun: 120-250 mg, 6-12 tahun: 250-500 mg, dosis-dosis ini boleh diulang tiap 4- 6 jam bila diperlukan (maksimum sebanyak 4 dosis dalam 24 jam)

27/11/2013

Bentuk sediaan:
Parasetamol (generik) sirup 120 mg/5 ml, tablet 100 mg, 500 mg Biogesic (medifarma) sirup 120 mg/5 ml, tablet 500 mg Bodrex (Tempo) tabet 500 mg Itramol (Itrasal) sirup 120 mg/5 ml Pamol (Interbat) sirup 120 mg/ 5 ml, tablet 500 mg Panadol (Sterling) drops 100 mg/ml, kaptab 500 g, sirup 160 mg/5 ml, tab kunyah 80 mg Sanmol (Sanbe) drops 80 mg/0,8 ml, sirup 120 mg/5 ml, tablet 500 mg. Tempra (Squibb) drops 100 mg/ml, sirup 160 mg/5 ml.

27/11/2013

Asam Mefenamat
Asam mefenamat termasuk salah satu golongan analgesik dan juga anti-inflamasi golongan nonsteroid. Efek samping asam mefenamat adalah gangguan gastrointestinal (pencernaan), reaksi hipersensitif (pada kulit dan juga penyempitan saluran nafas yang istilah medisnya bronkokonstriksi) dan diare.
27/11/2013

Dosis
Dewasa dan anak di atas 14 tahun : dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. Dismenore: 500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi ataupun sakit dan dilanjutkan selama 2-3 hari.

Efek samping: dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo, dispepsia. Kontraindikasi: pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat.

27/11/2013

Asetosal
Asetosal diindikasikan untuk sakit kepala, nyeri muskuloskleletal sementara, dismenore, dan demam. Pada peradangan, lebih disukai anti inflamasi dan AINS lain yang mungkin lebih dapat ditoleransi dan lebih nyaman untuk pasien. Asetosal makin banyak dipakai karena sifat antiplateletnya. Tablet asetosal atau tablet terlarutkan (dispersibel) asetosal memadai untuk sebagian besar penggunaan karena efeknya yang cepat. Kategori: - Ibu Hamil : C - Ibu Menyusui : A

27/11/2013

Indikasi: nyeri ringan sampai sedang, demam, antiplatelet. Peringatan: asma, alergi, menurunnya fungsi ginjal atau hati, dehidrasi, kehamilan, pasien lanjut usia, defisiensi G6DP. Kontraindikasi: anak dibawah usia 12 tahun dan anak yang sedang disusui, ulserasi saluran cerna, hemofilia, tidak untuk pengobatan gout. Efek samping: biasanya ringan dan tidak sering, tetapi insidens tinggi untuk iritasi saluran cerna dengan perdarahan ringan yang asimptomatis, memanjangnya bleeding time, bronkospasme, dan reaksi kulit pada pasien hipersensitif. Dosis: 300-900 mg tiap 4-9 jam bila diperlukan, maksimum 4 g per hari.

Asetosal

27/11/2013

Bentuk Sediaan: Asetosal (Generik) tablet 100 mg, 500 mg Aspilet (medifarma) tablet 81 mg Aspirin (Bayer) tablet 100 mg, 300 mg, 500 mg Contrexyn (Supra Ferbindo) tabet Farmasal (Pratapa Nirmala) tabet 100 mg Inzana (Konimex) tablet Naspro (Nocholas) table 300 mg

27/11/2013

Ibuprofen
Ibuprofen termasuk jenis analgesik dan antipiretik non-steroid (nonsteroidal antiinflammatory drug). Ibuprofen bisa digunakan sebagai obat sakit kepala, mengurangi sakit otot, nyeri haid, selesma, flu dan sakit selepas pembedahan. Obat ini dijual dengan merk dagang Advil, Motrin, Nuprin, dan Brufen. Kategori: - Ibu Hamil : B - Ibu Menyusui : A
27/11/2013

Obat analgetik yang berisiko pada kehamilan


AINS
Trimester 3 Disarankan untuk dihindari, kecuali apabila diperkirakan manfaatnya lebih besar dari risikonya Menyebabkan penutupan duktus arteriosus janin in utero, hipertensi pulmoner persisten pada bayi Menunda bermulanya persalinan dan memperlama proses persalinan

27/11/2013

Analgesik opioid
Trimester 3 Menekan pernafasan bayi Gastrik stasis dan risiko pneumonia inhalasi pada ibu selama persalinan

Asetosal
Kegagalan fungsi platelet dan risiko hemoragi Menunda persalinan dan memperlama proses persalinan dengan peningkatan perdarahan Hindari minum obat ini pada minggu-minggu terakhir Kernikterus pada bayi-kuning

27/11/2013

Penggunaan Obat pada Ibu Hamil


Kategori A : obat-obat yang telah banyak digunakan oleh wanita hamil tanpa disertai kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk lainnya Kategori B : obat-obat yang pengalaman pemakaiannya pada wanita hamil masih terbatas, tetapi tidak terbukti meningkatkan frekuensi malformasi atau pengaruh buruk lainnya pada janin
27/11/2013

Kategori C : obat-obat yang dapat memberi pengaruh buruk pada janin tanpa disertai malformasi anatomi, semata-mata karena efek obat didalam tubuh, umumnya bersifat reversibel. Kategori D : obat-obat yang terbukti menyebabkan meningkatnya kejadian malformasi janin pada manusia atau menyebabkan kerusakan janin yang bersifat irreversibel.
27/11/2013

Kategori X : obat yang telah terbukti mempunyai resiko tinggi terjadinya pengaruh buruk yang menetap (irreversibel) pada janin jika diminum pada masa kehamilan. Obat dalam kategori ini merupakan kontraindikasi mutlak selama kehamilan.

27/11/2013

Penggunaan Obat pada Ibu Menyusui


Kategori A Kategori B Kategori C Kategori D : Relatif aman : Membutuhkan perhatian : Tidak diketahui : Kontraindikasi

27/11/2013

Inflamasi
RADANG ADALAH RESPON VASCULER DAN SELULER DARI JARINGAN HIDUP TERHADAP CIDERA

27/11/2013

Penyebab Radang
Keberadaan Benda Asing Dalam Jaringan: - Jaringan donor - Agen Biologis - Benda mati Kerusakan Jaringan yang menimbulkan Nekrosa; Infark; Hemoragi; Thrombus

Terkait infeksi : Trauma fisik, Radiasi, Racun, Suhu Ekstrim, Respon Imun.

27/11/2013

CIRI CIRI RADANG


a. b. c. d. e. Rubor ( Redness ) = Kemerahan Kalor ( Heat ) = Panas Tumor ( Swelling ) = Bengkak Dolor ( Pain ) = rasa Sakit Fungsio laesa ( Loss Of Function ) = Fungsi jaringan / organ terganggu

27/11/2013

Antiinflamasi

Antiinflammatory

corticosteroid

NSAID Non Steroid Antiinflammation Drugs

27/11/2013

Kortikosteroid
Bersifat kurang spesifik, dan telah digunakan bertahun-tahun untuk terapi inflamasi dan penyakit imunologis pada mata.

Untuk mencegah efek inflamasi: pembentukan jaringan ikat &neovaskularisasi Lebih efektif pada fase akut
Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006
27/11/2013

Kortikosteroid: Mekanisme Kerja


Peran pada hampir semua aspek inflamasi: Vaskular: Permiabilitas pembuluh darah Selular : Penghambatan proliferasi limfosit (limfosit T), dengan imunitas selular Penekanan kerja limfokin dalam migrasi makrofag dan produksi faktor pertumbuhan Inhibisi degranulasi netrofil granulosit, makrofag, sel mast, dan basofil supresi sintesis asam arakidonat produksi prostaglandin
27/11/2013

Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006

Kortikosteroid: Preparat
Prednisolone
Studi menunjukkan bahwa Prednisolone memiliki efektivitas anti-inflamasi terbesar dibanding steroid topikal mata lainnya.
Prednisolone acetate 1% merupakan steroid topikal mata yang paling efektif untuk terapi uveitis dan inflamasi kornea. Dapat digunakan pada inflamasi berat mata seperti episkleritis, iritis, luka bakar kimiawi atau thermal pada kornea. Dexamethasone Pada konsentrasi yang sesuai, Dexamethasone secara klinis kurang efektif dibanding prednisolone dan berpotensi lebih besar dalam menaikkan Tekanan Intra Okular drug of second choice.

27/11/2013

Reveiw of optamometry; June 2006

Kortikosteroid: Preparat
Fluorometholones Memiliki sifat antiinflamasi yang cukup baik, tetapi juga menyebabkan peningkatan TIO sekunder. Terdapat dalam dua bentuk formulasi: fluorometholone alkohol dan asetat. Fluorometholone alkohol Digunakan untuk menangani kondisi inflamasi sedang pada permukaan mata, memerlukan

lama terapi yang panjang (hingga 3-4 minggu) seperti pada iridosiklitis kronik dan
alergi. Bermanfaat pada kondisi kronis o.k. Kurang menimbulkan peningkatan TIO Fluorometholone acetate Merupakan bentuk klinis yang lebih aktif. Menimbulkan efektivitas yang lebih besar. Indikasi: bila terdapat efek samping dengan preparat kortikosteroid yang lain

27/11/2013

Rimexolone
Cukup poten dan relatif aman, tapi tidak seefektif prednisolone acetate1% ; pengaruh pada TIO menyerupai fluorometholones.

Bentuk Sediaan:
Topikal Sistemik Periokular

27/11/2013

Kortikosteroid Topikal
Keuntungan:
Dapat diberikan didekat lokasi yang memerlukan indikasi untuk inflamasi segmen anterior Dapat digunakan untuk salah satu mata saja Menghindari efek sistemik

Kerugian:
Terkadang dapat terjadi supresi adrenal Ulkus dendritik Menimbulkan residu keputihan Keratopati epitel bila penggunaan terlalu sering Terkadang menimbulkan infeksi konjungtiva

27/11/2013

Efek Samping Steroid Topikal


Peningkatan TIO
Dapat menimbulkan kebutaan permanen bila tidak terdeteksi/diterapi

Meningkatkan kerawanan terhadap infeksi virus atau jamur


Berpotensi menimbulkan kebutaan

Penipisan sklera/kornea
Berpotensi menimbulkan kebutaan

Penundaan atau gangguan penyembuhan luka Katarak

27/11/2013

Tetes Mata Kortikosteroid


Digunakan pasca operasi untuk inflamasi pada mata Hanya boleh digunakan dibawah panduan dokter spesialis mata Dosis diturunkan bertahap sebelum dihentikan sepenuhnya Dihentikan mendadak: rebound effect Menimbulkan relaps

27/11/2013

Kortikosteroid Topikal: Ringkasan


Topikal
Preparat:
Mekanisme:
prednisolone, dexamethasone, fluorometholone, remixolone menghambat pelepasan asam arakidonat dari fospolipid dengan cara menghambat fosfolipase A2 pasca operasi, uveitis anterior, konjungitvitis alergi berat, konjungtivitis vernal, pencegahan reaksi penolakan graft kornea, episkleritis, skleritis rawan terhadap infeksi, glaukoma, katarak, ptosis, midriasis, pelunakan sklera, atrofi kulit Prednisolone dan Dexamethasone paling poten menimbulkan tekanan intraokular (TIO)

Indikasi kegunaan inflamasi segmen anterior


Efek samping:

27/11/2013

Kortikosteroid Sistemik
Keuntungan:
Mudah pemberiannya: dengan tablet Dapat mencapai seluruh mata dengan lebih baik

Kerugian:
Terkadang dapat terjadi supresi adrenal Efek sistemik

27/11/2013

Kortikosteroid Sistemik: Efek Samping


Peningkatan TIO Hipertensi Gula darah >> Berat badan >/edema Gangguan sal cerna Gangguan psikiatrik Infeksi oportunistik

Osteoporosis Katarak Supresi adrenal

27/11/2013

Kortikosteroid
Sistemik:
Preparat:
prednisolone, cortisone, triamcinolone, depomedrol

Indikasi : inflamasi segmen posterior


Uveitis posterior, neuritis optikus, arteritis temporal anterior dengan neuropathy iskemik

Efek samping:
Lokal: posterior subcapsular cataract, glaukoma, central serous retinopathy Sistemik: supresi aksis hipofisis-adrenal, hyperglikemia, osteoporosis, ulkus peptikum, psikosis

27/11/2013

Kortikosteroid : Kontraindikasi
Pada pasien DM, gagal ginjal, hipertensi Sistemik: KI pada ulkus peptikum, osteoporosis, psikosis Topikal: KI pada glaukoma KI pada sebagian besar infeksi, oleh karena:
Tidak membunuh bakteri Menurunkan resistensi terhadap mikroorganisme Menyamarkan progresivitas infeksi
27/11/2013

27/11/2013

Terima Kasih