Anda di halaman 1dari 47

TEKNIK SUNGAI

PERTEMUAN 4 MORFOLOGI SUNGAI

MORFOLOGI SUNGAI
(PERTEMUAN 4) MATERI

Bentuk sungai sesuai bidang datar Profil memanjang sungai, belokan sungai Karakteristik sungai di daerah hulu, tengah dan hilir serta pertemuan dan percabangan sungai

KOPETENSI
Mahasiswa mampu menjelaskan dan menganalisa morfologi sungai

MORFOLOGI SUNGAI
DEFINISI Morfologi Sungai Merupakan Ukuran dan bentuk sungai sebagai hasil reaksi terhadap perubahan kondisi hidraulik dari aliran Sehingga sungai akan leluasa dalam menyesuaikan ukuran-ukuran dan bentuknya baik bentuk geometri atau kekasaran dasar sungai Bagian dasar dan tebing sungai akan dibentuk oleh material yang diangkut oleh aliran sungai yang berasal dari pelapukan geologi pada periode yang panjang.

MORFOLOGI SUNGAI
VARIABEL YANG BERPENGARUH Menurut Shen (1976) : f{v, D, S, , , g, d, , s, sf, sR, sC, fs, cT} = 0
cT v D S g d = konsentrasi angkutan bahan dasar, = kecepatan alir, = depth, = kemiringan garis energi, = rapat massa campuran alir-sedimen, = angka kekentalan dinamik aliran, = gaya percepatan karena gravitasi, = diameter bahan dasar (yang dianggap mewakili), ukuran/faktor gradasi bahan dasar,

MORFOLOGI SUNGAI
VARIABEL YANG BERPENGARUH
s Sf Sr Sc fs = rapat massa sedimen, = faktor bentuk butiran, = faktor bentuk alur sungai, = faktor bentuk tampang sungai, = gaya rembesan pada dasar sungai

Faktor bentuk alur sungai Sr merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan karena adanya kehilangan energi akibat ketidakberaturannya aliran pada sungai, terutama oleh karena adanya belokan ataupun variasi kekasaran dan bentuk tebing sungai

MORFOLOGI SUNGAI
Gaya rembesan Fs akan terjadi apabila ada aliran lateral ( Inflow atau Outflow) melalui bahan dasar dan tebing sungai, terutama dasar tebing sungai yang berupa endapan alluvial

Inflow dan Outflow melalui bidang antara air dan dasar sungai akan bergantung pada letak water table di alluvium sungai.
Pada inflow, gaya rembesan yang bekerja akan mengurangi berat efektif dari butiran, dengan sendirinya akan mempengaruhi kesetabilan bahan dasar. Pada outflow, gaya rembesan yang terjadi biasanya akan searah dengan arah gaya gravitasi, sehingga akan menambah berat efektif butiran serta kesetabilan bahan dasar. Karena perubahan-perubahan gaya efektif ini maka gaya rembesan akan mempengaruhi nilai kekasaran dasar serta tahanan terhadap aliran suatu sungai

MORFOLOGI SUNGAI
Pengaruh air dan sedimen pada morfologi sungai Hubungan sederhana antara angkutan bahan dasar (Qs), diameter partikel sediment (d50) dan kemiringan dasar sungai I seperti yang ditunjukkan oleh lane (1955) adalah Qs x d50 = Q x I Tegangan geser yang terjadi pada sedimen di sepanjang dasar dan tebing sungai merupakan faktor yang paling dominan terhadap terjadinya erosi Apabila debit sungai bertambah, akan bertambah besar melampaui tegangan geser ijin 0 dan erosi akan mulai terjadi. Pada keadaan ini air akan mulai mengikis dasar, butir tanah akan terangkat oleh aliran air, di bawa ke arah hilir.

MORFOLOGI SUNGAI
Pengaruh air dan sedimen pada morfologi sungai Pada pertambahan debit selanjutnya erosi akan menjalar ke seluruh tampang basah sungai. Dan pada saat debit berubah menjadi kecil, bahan yang terangkut tadi akan turun ( settling ) ke dasar sungai. Dengan demikian kemiringan dasar sungai akan selalu berubah karena proses kontinyu erosi dan pengendapan tersebut. Selama siklus ke tidakstabilan ini dimensi-dimensi geometri sungai akan cenderung menyesuaikan aliran. Selain itu siklus erosi juga akan menimbulkan perubahan kapasitas debit untuk membentuk kestabilan sementara. Suatu kondisi di mana air tidak lagi mengangkut lebih dari batas tertentu disebut kondisi aliran telah mencapai STC

MORFOLOGI SUNGAI
Pengaruh air dan sedimen pada morfologi sungai Apabila suatu aliran telah mengangkut beberapa meteral, aliran tersebut akan meneruskan keaktifan mengerosi sampai tingkat STC. Dengan demikian air bersih akan mempunyai daya erosi lebih besar daripada air keruh, sebaliknya pada saat STC dicapai dan kecepatan rerata rendah.

Bentuk Sungai

Biasa dibedakan menjadi 3 yaitu : Bentuk tampang lintang sungai Bentuk tampang memanjang sungai Pandangan atas sungai Bentuk sungai tidak tetap, selalu berubah mengikuti karakteristik alami yang merupakan faktor penting dalam konstribusi pembentukan sungai

Oleh perlakuan atau campur tangan manusia bentuk sungai lebih cepat mengalami perubahan bentuk. Karakteristika alami tersebut adalah iklim dan fisiografi daerah di wilayah sungai yang ditinjau, yang secara pembagian besar terdiri dari: Topografi daerah aliran sungai Formasi batuan (erosilitas tampang basah) Iklim river basin/catchment area/daerah tangkapan hujan,

Berdasar lokasi sungai pada arah memanjang, maka tampang lintang sungai yang berlokasi di bagian hulu relatif mempunyai bentuk V, sedangkan di bagian hilir relatif mempunyai bentuk U. Pada sungai yang berlokasi di bagian tengah, yang merupakan transisi dari dari sungai terjal dan sungai landai, tampang lintang sungai dapat berbentuk V ataupun U.

Proses erosi vertikal lebih banyak terjadi di sungai yang berlokasi di bagian hulu, dan sebaliknya proses erosi lateral lebih banyak terjadi di sungai bagian tengah/ hilir. Belokan sungai lebih banyak dijumpai di sungai bagian tengah, di mana pada bagian ini erosi lateral akan lebih berperan, dan sangat mengkontribusi pembentukan pulau sedimen.

Perubahan bentuk akan lebih mungkin terjadi karena pemanfaatan sungai, misalnya :

scouring/gerusan pada pilar jembatan, erosi pada bagian bawah/hilir bendungan, garis pembendungan karena adanya pemanfaatan bataran sungai sehingga tampang basah sungai menjadi berkurang.

Sungai akan leluasa dalam menyesuaikan ukuran dan bentuknya, sebagai reaksi oleh adanya perubahan kondisi dasar dan tebing. Bagian dasar dan tebing sungai akan dibentuk oleh material yang diangkut oleh aliran sungai, berasal dari pelapukan geologi pada periode yang panjang. Ukuran dan bentuk sungai (tampang melintang, memanjang, dan pandangan atas) disebut morfologi sungai.

Dinamis secara alami

Sifat iklim (hujan, cuaca, dll) Kondisi lahan (struktur tanah, hutan penutup, dll)
Pemanasan bumi karena peningkatan aktivitas di bumi Tekanan terhadap lahan (logging, pengembangan kawasan dan infrastruktur)

Dinamis secara anthropogenic

Prilaku Belokan

Bentuk sungai secara umum dapat berupa salah satu dari berikut : meandering, lurus dan braided. Sungai yang berbentuk meander adalah sungai yang mempunyai belokan yang secara (kurang lebih) teratur membentuk fungsi sinus pada bidang datarannya. Biasanya terdiri dari beberapa seri belokan yang dihubungkan oleh bagian yang lurus yang disebut dengan crossing.

Meander sungai akan mempunyai kemiringan dasar yang sangat landai. Dasar sungai pada sisi luar belokan umumnya akan lebih dalam karena adanya kecepatan yang lebih besar pada sisi luar belokan tersebut. Gaya centrifugal pada belokan akan menyebabkan timbulnya arus melintang sungai, dan bersama-sama dengan aliran utama membentuk aliran helicoidal.

MORFOLOGI SUNGAI
Besarnya kecepatan arus melintang berkisar antara 10 15% dari kecepatan pada arah utama aliran (Kinori, 1984 dan Legono,1986), dengan ciri bahwa di dekat permukaan, arus melintang bergerak ke arah belokan dalam. Pada sungai yang bermeander, secara umum erosi akan terjadi pada sisi luar belokan, dan pengendapan akan terjadi pada sisi dalam belokan. Dampak utama akibat aliran helikoidal ini adalah terjadinya serangan pada tebing sungai pada sisi luar belokan, serta pengendapan

MORFOLOGI SUNGAI
Harus diperhatikan pada kegiatan penetapam tata letak bangunan yang pemanfaatan sungai direncanakan (misal bangunan sadap atau intake, dll.), sebaiknya ditempatkan pada sisi luar belokan

Gaya yang bekerja dan skema aliran helicoidal

MORFOLOGI SUNGAI
Besarnya kecepatan air pada arus sekunder akan tergantung pada : 1. Re = Reynolds Number 2. Posisi dibelokan ( pada awal belokan atau akhir belokan atau di antara belokan awal dan belokan akhir 3. Perbandingan antara radius kelengkungan dengan lebar sungai 4. Aspect ratio yaitu perbandingan antara lebar dengan kedalaman air sungai

Pengalaman lain menunjukan bahwa arus sekunder yang terbesar justru terjadi pada debit medium, sedang pada debit yang sangat besar dan sangat kecil arus sekunder tersebut akan lebih kecil

Untuk keperluan analisis geometri tampang secara keseluruhan, beberapa kelompok debit kadang perlu dipisahkan dari kelompok debit yang lain, karena pengaruhnya terhadap perubahan geometri tampang relatif kecil. Meander sungai juga mempunyai tingkatan yang diistilahkan dengan indeks meander ( M )

MORFOLOGI SUNGAI
l M 1 L
i i

l1
L1 L1

l2

MORFOLOGI SUNGAI
Sungai lurus biasanya juga merupakan penghubung dari meander-meander (crossing), sehingga seolah-olah merupakan bagian transisi dari meander satu ke meander berikutnya. Kedalaman air pada crossing relatif lebih dangkal dibandingkan dengan kedalaman air pada bagian meander. Sebagian material hasil erosi pada sisi luar belokan kadang juga terbawa ke crossing oleh arus melintang, karena pengaruh arus melintang, karena pengaruh arus melintang masih terasa / belum hilang pada saat memasuki bagian lurus.

MORFOLOGI SUNGAI
Perlu di ingat bahwa sesungguhnya arus melintang ( biasa juga disebut arus sekunder), dapat terjadi pada sembarang bentuk saluran /sungai. Sebab-sebab terjadinya arus melintang pada bagian sungai yang lurus masih menjadi obyek spekulasi ilmiah. Ada yang menyatakan bahwa arus melintang pada sungai lurus timbul karena perbedaan kosentrasi sedimen dan temperatur air. Seberapa jauh pengaruhnya masih terbuka untuk diperdebatkan, namun untuk keperluan praktis, hal tersebut mungkin kurang penting.

MORFOLOGI SUNGAI
SUNGAI BRAIDED. Bentuk sungai semacam ini adalah sedemikian kompleknya sehingga pada debit kecil alur sungai kadang-kadang akan terdiri dari satu atau lebih alur sungai yang dipisahkan oleh pulau-pulau kecil di dalam sungai tersebut. Sungai biasanya lebar, alur-alur kecil serta formasi garis sedimen sering berubah dengan berubahnya besar debit yang lewat, dan sulit untuk diramalkan. Sungai semacam ini biasanya mempunyai kemiringan yang relatif terjal serta membawa sedimen dengan kosentrasi tinggi.

PERTEMUAN SUNGAI

Hukum kontinuitas:

Q1+Q2=Q
A1.v1 + A2.v2 = A.v

Q1 Q2 Q

Klasifikasi Sungai Berdasarkan Pertemuan Sungai

Klasifikasi Menurut Kern (1994) Adalah klasifikasi berdasarkan orde sungai, misalnya sungai paling kecil di hulu dalam suatu DAS disebut sungai orde 1. Pertemuan sungai orde 1 menghasilkan sungai orde 2, selanjutnya pertemuan antara sungai orde 2 menghasilkan sungai orde 3, dan seterusnya. Sementara pertemuan antara sungai dengan orde yang berbeda tidak menghasilkan orde sungai berikutnya, namun tetap menjadi sungai orde terbesar dari kedua sungai yang bertemu tersebut. Klasifikasi ini tidak selalu dikaitkan dengan besar-kecilnya, lebar-sempitnya, atau dalam-dangkalnya suatu sungai.

Klasifikasi Sungai Berdasarkan Pertemuan Sungai

Metode Strahler (1975) Orde sungai adalah nomor urut setiap segmen sungai terhadap sungai induknya. Metode penentuan orde sungai yang banyak digunakan adalah Strahler. Sungai orde 1 menurut Starhler adalah anak-anak sungai yang letaknya paling ujung dan dianggap sebagai sumber mata air pertama dari anak sungai tersebut. Segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari orde yang setingkat adalah orde 2, dan segmen sungai sebagai hasil pertemuan dari dua orde sungai yang tidak setingkat adalah orde sungai yang lebih tinggi.

Klasifikasi Sungai Berdasarkan Pertemuan Sungai

Klasifikasi Menurut Leopold et al. (1964) Leopold et al. (1964) mengklasifikasikan sungai kecil dan

sungai atau sungai besar berdasarkan lebar sungai, tinggi sungai, kecepatan aliran sungai, dan debit sungai. Ini terlihat jika lebar sungai cukup besar tapi debit air kecil maka sungai tersebut merupakan sungai kecil. Sedangkan sebaliknya jika lebar sungai tidak terlalu besar namun debitnya besar maka biasanya disebut sebagai sungai atau sungai besar, karena kedalaman maupun kecepatan aliran sungai tersebut besar. Untuk penggunaan di Indonesia, dimana ditemukan jenis sungai dengan berbagai variasi lebar dan kedalaman serta debit alirannya, maka klasifikasi menurut Leopold et al. (1964) ini sangat cocok.

Fenomena Pertemuan Sungai

Adanya pencampuran air sejenis, Kondisi air tidak tercampur, karena perbedaan suhu, salinitas, kandungan sedimen, ataupun bahan terlarut, Pertambahan debit, Peningkatan pencemaran air, karena kualitas air yang berubah.

Fenomena Pertemuan Sungai

Metode ODonnel dan Muskingum-Cunge ODonnel (1985), ODonnel (1985) menganggap bahwa jika ada aliran lateral yang masuk sebesar aI, pada penelusuran banjir sungai, pertambahan aliran lateral tersebut dapat langsung dijumlahkan pada aliran masukan (I), sehingga alirannya menjadi I(1+ a). IS hi i = IS hu i + IAS i dengan

Ihi I = debit aliran sungai di hilir pertemuan sungai pada waktu ke i, Ihu I = debit aliran sungai di hulu pertemuan sungai pada waktu ke i, IAs I = debit aliran anak sungai yang masuk ke sungai pada waktu ke i.

Fenomena Pertemuan Sungai

Rumus-rumus yang digunakan dalam penelusuran sama dengan penelusuran banjir cara Muskingum-Cunge pada suatu penggal sungai. Metode ini memasukkan parameter kecepatan aliran untuk setiap debit yang ditelusur. Penerapan metode ini pada DAS Goseng memberikan hasil yang cukup baik

Fenomena Muka Air


Pada pertemuan antara sungai kecil ( tyributary) dengan sungai utamanya, peristiwa sedimentologi kadang menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pada kondisi aliran seperti ini akan terjadi fenomena backwater Curve
Deposisi / Pengendapan
h1 h2

dan Draw Down Curve

h1 h2

MORFOLOGI SUNGAI
BIFURKASI SUNGAI

Merupakan percabangan sungai di mana sungai terpisah menjadi dua


Beberapa hal yang merupakan perbedaan penting adalah : Pada bifurkasi, geometri dan tinggi muka air pada hasil percabangannya langsung merupakan parameter untuk memperoleh besarnya Q2 dan Q3, Biasanya tidak ada pengaruh pembendungan pada bifurkasi, selain itu pengurangan transpor sedimen pada bifurkasi sungai juga dipengaruhi oleh geometri (terutama sudut) bifurkasinya.

DELTA SUNGAI

Bila sungai mencapai laut, maka hampir semua tenaga traktifnya akan hilang, akibatnya semua fraksi sedimen (bahkan lumpur yang terhalus serta lempung) akan diendapkan di muara sungai. Delta adalah fenomena alamiah yang sangat dinamik karena merupakan hasil proses interaksi antara aliran sungai dengan laut yang berlangsung secara kontinyu. Aliran sungai mengendapkan sedimennya dengan proses yang lebih cepat dari aktivitas dispersi gelombang laut dan arus laut yang membawa sedimen tersebut ke arah laut.

DELTA SUNGAI

Proses fisik yang menggambarkan perilaku morfologi sungai :

Sistem sungai tidak dapat diasumsikan sebagai unit tunggal. Keterkaitan antara daerah aliran sungai dengan hidraulika sungai (saluran beserta variabel-variabel yang berpengaruh), akan saling tergantung satu sama lain dan secara kontinyu mencari kesetimbangan morfologinya.

Dengan demikian sistem sungai akan merupakan sistem yang sangat dinamik, dari segi pandang matematika akan merupakan fungsi yang non-linier.