Anda di halaman 1dari 64

By: Nurdalila binti Zainal Abidin 0810314275 Preseptor: dr. Rinang Mariko Sp.

Malaria

protozoa genus Plasmodium

manifestasi klinis berupa demam, menggigil, anemia dan pembesaran limpa

Nyamuk betina Anopheles

P. Falciparum

P. Vivax

P. Malariae

P. Ovale

Malaria Tropika

Malaria Vivax

Malaria kuartana

Malaria Tertiana

Nyamuk Anopheles menggigit penderita malaria dan menghisap juga parasit malaria yang ada di dalam darah penderita.

Parasit malaria berkembang biak di dalam tubuh nyamuk Anopheles (menjadi nyamuk yang infektif)

Nyamuk Anopheles yang infektif menggigit orang yang sehat (belum menderita malaria)

Sesudah +12-30 hari (bervariasi tergantung spesies parasit) kemudian, bila daya tahan tubuhnya tidak mampu meredam penyakit ini maka orang sehat tsb berubah menjadi sakit malaria dan mulai timbul gejala malaria.

Ras atau suku bangsa

Faktor yang mempengaruhi infeksi malaria

Kekurangan enzim G6PD

Kekebalan pada malaria

Anemia

Skizogoni menyebabkan kerusakan eritrosit Berat anemia tidak sama dengan parasitemia

Pembesaran Limpa
Malaria berat

Limpa mengalami pembesaran, pembendungan dan pigmentasi sehingga mudah pecah Malaria kronis hyperplasia retikulosit dan peningkatan makrofag

Sitoadherensi Sekuestrasi resetting

Masa inkubasi
8-37 hari tergantung spesies parasit, beratnya infeksi dan pengobatan sebelumnya

Keluhan-keluhan prodromal
Malaise, lesu, sakit kepala, sakit tulang belakang, nyeri pada tulang dan otot, anoreksia dll

Gejala klasik (trias malaria)


Stadium dingin Stadium demam Stadium berkeringat

Dalam darahnya ditemukan parasit malaria melalui pemeriksaan laboratorium Sediaan Darah Tepi atau Rapid Diagnostic Test (RDT) dan disertai memiliki satu atau beberapa gejala

Ganguan kesadaran KU yang sangat lemah Kejang Panas sangat tinggi Mata atau tubuh kuning Tanda-tanda dehidrasi Perdarahan mukosa Gangguan pernafasan Muntah-muntah BAK seperti the BAK sedikit tidak ada Pucat

Keluhan utama : demam, menggigil, dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.

Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria. Riwayat tinggal didaerah endemik malaria.

Riwayat sakit malaria. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir. Gejala klinis pada anak dapat tidak jelas. Riwayat mendapat transfusi darah.

Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat. Keadaan umum yang lemah. Kejang-kejang. Panas sangat tinggi. Mata dan tubuh kuning.

Perdarahan hidung, gusi, tau saluran cerna. Nafas cepat (sesak napas). Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum. Warna air seni seperti the pekat dan dapat sampai kehitaman.

Jumlah air seni kurang bahkan sampai tidak ada.


Telapak tangan sangat pucat.

Demam

hepatomegali

MALARIA RINGAN

Konjungtiva atau telapak tangan pucat

splenomegali

MALARIA BERAT

Malaria serebral Gangguan status mental Kejang multipel Koma Hipoglikemia Distress pernafasan Demam hipotensi

Oliguria/anuria anemia Kreatinin > 1,5 mg/dL Parasitemia > 5 % Bentuk lanjut P. falciparum pada apusan darah tepi Hemoglobinuria Perdarahan spontan Ikterik

Pemeriksaan dengan mikroskop PEMERIKSAAN PENUNJANG Rapid diagnostic test

Darah rutin dan kimia darah lain EKG

Foto toraks

Malaria berat
Analisis cairan serebrospinalis Biakan darah dan uji serologi

Urinalisis

Gambar. Stadium darah parasit, apus darah tipis Gbr. 1 : sel darah merah normal Gbr. 2-18: Tropozoit Gbr. 2-10: merupakan tropozoit stadium cincin Gbr. 19-26: Skizon Gbr. 26 skizon ruptur Gbr. 27,28: makrogametosid matur ( ) Gbr. 29, 30: mikrogametosid matur ()

Malaria falsiparum

Malaria Vivax dan Ovale

Malaria Malariae

Prinsip:

Tindakan umum Pengobatan simptomatik Pemberian obat anti malaria Penanganan komplikasi

Prognosis malaria berat tergantung kecepatan diagnosa dan ketepatan & kecepatan pengobatan. Pada malaria berat yang tidak ditanggulangi, maka mortalitas yang dilaporkan pada anakanak 15 %, dewasa 20 %, dan pada kehamilan meningkat sampai 50 %. Prognosis malaria berat dengan kegagalan satu fungsi organ lebih baik daripada kegagalan 2 fungsi organ

Mortalitas dengan kegagalan 3 fungsi organ, adalah > 50 % Mortalitas dengan kegagalan 4 atau lebih fungsi organ, adalah > 75 %

Adanya korelasi antara kepadatan parasit dengan klinis malaria berat yaitu:

Kepadatan parasit < 100.000, maka mortalitas < 1 % Kepadatan parasit > 100.000, maka mortalitas > 1 % Kepadatan parasit > 500.000, maka mortalitas > 50 % 4

Nama

: An. T.B.A

Umur
Jenis Kelamin Alamat Tanggal Masuk

: 5 11/12 Tahun
: perempuan : Pasaman Barat : 15 November 2013

NO. RM

: 849376

Alloanamnesis diperoleh dari ibu penderita tanggal 18 November 2013.


Keluhan Utama : Demam sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit.

Demam sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, tinggi, hilang timbul selang setiap 1 hari, berkeringat dan disertai menggigil. Tampak pucat sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, semakin lama semakin bertambah pucat. Kejang 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 1 kali ,durasi selama sekitar 5 menit. Kejang berupa kaku diseluruh tubuh, mata anak meliat keatas. Lidah terjelir dan mengeluarkan air liur. Anak sadar setelah kejang. Ini merupakan kejang kedua.

Muntah segera setelah kejang , frekuensi 1x, jumlah lebih kurang 3-4 sendok makan. Berisi sisa makanan dan minuman.Muntah tidak menyemprot.

Batuk tidak ada. Pilek tidak ada. Sesak nafas tidak ada. Pendarahan dari mulut, hidung and saluran cerna tidak ada. Riwayat penggunaan obat- obatan dan jamu- jamuan tidak ada.

Riwayat kuning tidak ada


Riwayat mendapat penyinaran tidak ada Riwayat transfuse darah tidak ada

Nafsu makan berkurang sejak sakit. Anak mampu menghabiskan 2-3 sendok makan nasi. Berat badan terakhir (1 bulan yang lalu) 17 kg.

Buang air kecil jumlah dan warna biasa

Buang air besar jumlah dan konsistensi biasa.

Sebelumnya anak telah dibawa berobat ke RSUD Pasaman selama 7 hari karena kejang dan telah dilakukan pemeriksaan darah dengan hasil Hb: 7,4 mg/dl, leukosit 5500mm ; LED 140/jam ; trombosit 241000; Ht: 21% ; Diff Count 0/1/0/35/35/29, malaria tidak ditemukan, hasil urinalisa dalam batas normal Anak dirujuk dengan keterangan observasi febris ec suspek Leukemia. Diagnose Banding Malaria, + Anemia, Kejang demam simplek. Terapi yang telah diberikan Ampicilin 400mg iv, Luminal 2x30mg, Paracetamol 4x1/4 tab, Dumin suppositoria, dan klurokuin

Riwayat keluar darah dari hidung sejak pasien berusia 1 tahun, pendarahan hidung timbul saat pasien demam.

Ayah kandung pasien menderita demam yang hilang timbul disertai rasa menggigil sejak 2 bulan yang lalu dan berobat ke bidan.
Kakak kandung pasien menderita kejang tanpa disertai demam , berobat tidak teratur, dianjur dilakukan EEG namun tidak ada biaya.

Keadaan umum

: Sakit sedang

Keadaan kesadaran
Tanda Vital :

: Sadar,

Nadi
TD

: 94x/mnt
: 90/60 mmHg

Napas :20x/mnt
Suhu BB TB : 38,6 0C : 15 Kg : 102 cm

Kulit : teraba hangat, ,tampak pucat, petechie tidak ada, purpura tidak ada, hematom tidak ada. Kelenjar getah bening: tidak ada pembesaran Kelenjar getah bening

Kepala : normocephal, ubun- ubun besar telah menutup


Rambut : Hitam, lurus, sukar dicabut Mata : konjungtiva anemis (+), sclera ikterik (-) Telinga : Otore (-), perdarahan (-)

Hidung : Rhinore (-),


Tengkorokan : tonsil T1- T1 tidak hiperemis, Faring tidak hiperemis Gigi dan mulut: mukosa bibir dan mulut basah. Lidah kotor tidak ada. Leher: Kaku kuduk (-)

Dada : Paru
Inspeksi Palpasi : normochest,retraksi tidak ada : fremitus kanan= Kiri

Perkusi
Auskultasi tidak ada.

: sonor
: vesicular, Rhonki tidak ada, Wheezing

Jantung Inspeksi : ictus cordis ttidak terlihat

Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial linea midklavikularis sinistra RIC V Perkusi : batas atas RIC II, kanan linea sternalis dekstra, kiri 1 jari medial linea midklavikularis sinistra RIC V Auskultasi: Auskultasi: irama teratur, bising tidak ada

Perut
Inspeksi : tidak membuncit

Palpasi : hepar teraba - ,pinggir tajam, permukaan rata, kenyal , lien S1

Perkusi
Auskultasi

: timpani
: bising usus (+) normal

Punggung Anus Ekstremitas

: tidak ada kelainan : rectal toucher tidak dilakukan

akral hangat, perfusi baik, Refleks fisiologis : +/+ normal Refleks patologis : -/-

Tanggal 15 November 2013 (Pukul 16.00 WIB) Hb : 7,8 gr/dL Leukosit : 4700/mm3 Hitung jenis: 0/1/2/23/68/4 Ht: 23,7% LED : 30mm/1 jam

Eritrosit : 3x 106
Retikulosit 3,2 %

MCV: 75,6%

MCH: 25,6 Fl
MCHC: 33,9% Kesan anemia mikrositik hipokrom Index Merber : 24,86

Kesan : Anemia def. Fe

Albumin : negative Reduksin: negative Na: 133mmol/L K: 4,2 mmol/L Ca: 8,6 GDR: 111 mg/dl

Ureum/Creatinin : 19 mg/dl/ 0,5mg/dl


LDH: 1123

gambaran darah tepi:


eritosit : Normokrom anisositosis, pilokrom(+) Leukosit : Leukopenia dengan limfositosis relative,limposit atipik Trombosit : Jumlah cukup, morfologi normal Hasil malaria : Tidak ditemukan parasite malaria pada sediaan hapus darah

DIAGNOSA KERJA
Suspek malaria dd/leukemia akut Kejang demam simpleks Anemia Mikrositik Hipokrom ec suspek Defisiensi Besi

PENGOBATAN
IVFD Kaen IB 6 tts (makro) MC 6x150cc paracetamol 4x 150mg p.o Cefotaxim 2x 750 mg iv diazepam 3x 1,5 mg po

Telah dirawat seorang pasien perempuan, usia 5 tahun 11 bulan di bangsal akut Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr.Mdajamil Padang dengan diagnosa kerja
Suspek malaria dd/leukemia akut Kejang demam simplek Anemia Mikrositik Hipokrom ec suspek Defisiensi Besi.

demam yang naik turun pada pasien ini telah berlangsung selama 1 bulan,

demam hilang timbul (paroksisimal) yang mendadak tinggi kemudian diikuti badan yang menggigil disertai keringat.

Tipe demam paroksisme ini diakibatkan oleh rupturnya skizoit yang terjadi setiap 48 jam pada P.vivax dan P ovale sehingga menyebab timbulnya demam selang hari.

Dari anamnesis, tidak dijumpai peningkatan suhu tubuh yang terutama pada pagi atau sore hari, serta tidak adanya keluhan mual, muntah dan rasa nyeri di ulu hati sehingga dapat dipikirkan penyebab demam pada pasien ini bukan demam thypoid.

Dari anamnesis pula diketahui bahwa pasien tidak mengeluhkan adanya bintik-bintik merah walaupun terdapat riwayat mimisan sejak usia 1 tahun namun tidak mengarahkan kepada demam berdarah.

Demam malaria juga dapat dapat dipikirkan mengingatkan pasien datang dari daerah resiko malaria yaitu Pasaman Barat walaupun resikonya rendah. Selain itu dari riwayat keluarga didapatkan ayah kandung pasien mengeluhkan keluhan yang sama berupa demam, tinggi disertai keringat dan menggigil sejak 2 bulan yang lalu menguatkan kearah diagnosa kerja malaria.

Pucat yang dialami pasien ini bisa dipikirkan terjadi kehilangan darah yang bisa disebabkan pelbagai penyebab.

Pada kasus malaria terjadi kehilangan produk darah dimana terjadi hemolisis dan fagositosis baik dari sel darah merah yang mengandung parasit maupun yang tidak mengandung parasit , dan lebih berat lagi terjadi supresi eritopoiesis. Namun terdapat beberapa penyakit yang lain yang harus dipikirkan yang menyebabkan kepucatan seperti pendarahan, intake makanan yang kurang, penyakit hemolitik dan lain- lain.

Kejang yang di alami pasien juga merupakan salah satu tanda kejang simptomatik akut yang banyak ditemukan pada infeksi P.Falciparum.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan Keadaan umum sakit sedang, sadar, nadi 94x/mnt, tekanan darah 90/60 mmHg, napas 20x/menit, suhu 38,6 0C menunjukkan kesan pasien demam. Pemeriksaan mata menunjukkan kunjungtiva anemis dan kulit tampak pucat yang menandakan adanya tanda pendarahan. Pemeriksaan paru dan jantung dalam batas normal, sedangkan pada pemeriksaan abdomen ditemukan hepatosplenomegali dengan hepar hepar teraba - ,pinggir tajam, permukaan rata, kenyal , lien S1. Penemuan hepatosplenomegali ini merupakan salah satu tanda yang ditemukan pada penyakit Malaria. Namun ini tidak mengeliminasi penyakit keganasan darah yang lain seperti leukemia akut.

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb : 7,8 gr/dL, Leukosit : 4700/mm3, Hitung jenis: 0/1/2/23/68/4, Ht: 23,7%, LED : 30mm/1 jam , Eritrosit : 3x 106, Retikulosit 3,2 %, MCV: 75,6%, MCH: 25,6 Fl, MCHC: 33,9% yang memberi Kesan anemia mikrositik hipokrom. Kadar elektrolit darah Na: 133mmol/L, K: 4,2 mmol/L, Ca: 8,6 menunjukkan dalam batas normal,GDR: 111 mg/dl kesan dalam batas normal, Ureum/Creatinin : 19 mg/dl/ 0,5mg/dl menunjukkan kesan dalam batas normal. Pada pemeriksaan darah tepi malaria didapatkan hasil negative, namun hasil negative ini tidak mengekslusi tidak adanya Malaria; diperlukan pemeriksaan ulangan serutin mungkin setiap 4-6 jam untuk mengkonformasi diagnosis. Pada P.falciparum lebih baik diidentifikasi dari darah segera setelah terjadi demam menggigil.

Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah IVFD Kaen IB 6 tts (makro), MB 1400kkal, paracetamol 4x 150mg p.o , diazepam 3x 1,5 mg po. Pengobatan malaria seperti Quinine belum boleh diberikan pada pasien ini dikarenakan belum tegaknya diagnosis malaria secara laboratorium. Maka pada pasien ini dilakukan pemeriksaan darah tepi ulangan dan serologi malaria untuk menegakkan diagnosa.