Anda di halaman 1dari 80

DENTAL AMALGAM

Aulia Syafira N 160110120092

DEFINISI
Amalgam merupakan Jenis logam campur khusus yang mengandung merkuri sebagai salah satu bahan konstituennya. Bahan tambal yang dibuat dari campuran air raksa (Hg) dengan suatu logam paduan (alloy).

INDIKASI
Indikasi tambalan amalgam adalah untuk gigi molar (geraham) karena menerima beban kunyah paling besar. Tambalan Amalgam dapat digunakan pada gigi tetap maupun pada anak-anak. American Dental Association (ADA) Specification No. 1: Mengharuskan agar logam campur amlgam mempunyai kandungan utama dari perak dan timah Unsur lain: tembaga, zinc, emas, dan merkuri ddibolehkan ada dalam konsentrasi kurang dari konsentrasi perak atau timah.

KOMPOSISI
Komponen utama amlagam terdiri dari:
Liquid : logam merkuri Bubuk/powder : logam paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak ,timah, dan tembaga

Unsur Logam
Ag (Argentum/Perak) Sn (Timah) Cu (Tembaga)

Persentase (%)
65 29 0-6

FUNGSI
Perak Memutihkan alloy Meningkatkan kekuatan Meningkatkan setting expansion Meningkatkan retensi terhadap tarnish Timah Mengendalikan reaksi antara perak dan merkuri Tanpa timah reaksi terjadi terlalu cepat Menurunkan kekuatan dan pemuaian Meningkatkan setting time Tembaga Mengikat timah mengurangi pembentukan gamma 2 Meningkatkan kekuatan Mengurangi tarnish dan korosi Mengurangi creep mengurangi kerusakan marginal

Tembaga
Mengikat timah mengurangi pembentukan gamma 2 Meningkatkan kekuatan Mengurangi tarnish dan korosi Mengurangi creep mengurangi kerusakan marginal

Air raksa
Mengaktivasi reaksi Hanya logam murni yang bersifat liquid pada suhu kamar

Seng (Zinc)
Menurunkan oksidasi dari unsur-unsur lain Menyebabkan ekspansi tertunda dengan paduan Cu rendah

PROEDUR PEMBUATAN ALLOY AMALGAM


Bubuk Lathe-cut Untuk mendapatkan amalgam, merkuri dicampur dengan dengan bubuk dari logam campur amalgam Untuk membuat bubuk lathe-cut:
Batang logam campur yang sudah didinginkan ditempatkan pada mesin penggiling. Dipotong dengan alat potong atau gerinda. Didapat potongan yang berbentuk seperti jarum. Di beberapa pabrik memperkecil ukuran tersebut dengan penggiling bulat.

Homogenizing anneal
Karena kondisi pendinginan yang cepat dari keadaan pengecoran, batang logam campur memiliki kandungan butiran nonhomogen Dilakukan pemanasan homogenisasi Batang diletakkan di dalam oven dipanaskan dalam temperatur di bawah temperatur pemadatan selama waktu yang cukup untuk memungkinkan terjadinya difusi atom-atom Waktu pemanasan bervariasi, tergantung pada temperatur yang digunakan dan ukuran batang. Akhir siklus pemanasan, batang di bawa ke temperatur kamar untuk menjalani tahapa pembuatan selajutnya. Proporsi pada batang sesudah pendinginan dipengaruhi oleh sifat pendinginan barang. Bila batang dibiarkan mendingin perlahan-lahan, proporsi fase akan terus menerus menyesuaikan diri ke arah rasio keseimbangan di temperatur kamar.

Manipulasi partikel
Setelah batang logam campur sudah diperkecil menjadi potongan-potongan, banyak pabrik yang melakukan beberapa jenis manipulasi permukaan. Tiap pabrik memiliki caranya masing-masing Yang biasa dilakukan dengan menggunakan asam Fungsinya: masih belum dimengerti, tetapi barangkali ada hubungan dengan pelarutan komponen-komponen khusus dari logam campur tersebut. Amalgam yang dibuat dari bubuk yang mendapat manipulasi dengan asam lebih reaktif dibanding amalgam yang dibuat dari bubuk yang tidak mendapat asam.

Bubuk yang Diatomisasi


Dibuat dengan cara melelehkan unsur-unsur yang didinginkan bersama Logam cair diatomisasi menjadi tetesan logam yang berbentuk logam kecil. Tetesan memadat sebelum menyentuh permukaan, bentuk bulat akan tetap bertahan dan bubuk diatomisasi : bubuk sferis. Jika mendapat pemanasan, butiran akan menjadi kasar dan memperlambat reaksi partikel dengan merkuri. Bubuk sferis biasanya dicampur dengan asam.

Ukuran Partikel
Ukuran partikel maksimal dan distribusi ukuran dikontrol oleh pabrik pembuatnya Ukuran rata-rata: 15-35 m. Sifat amalgam paling dipengaruhi oleh distribusi ukuran. Bubuk yang mengan dung partikle kecil membutuhkan jumlah merkuri yang lebih banyak untuk membentuk amalgam yang dapat digunakan dengan baik. Distribusi ukuran mempengaruhi karakter permukaan yang dihasilkan. Amalgam sudah mengeras, anatomi gigi diukir dengan benda yang tajam. Permukaan ini lebih rentan terhadap korosi dibanding permukaan yang halus.

Logam Campur Lathe-cut Dibandingkan dengan Logam Campur Atomisasi


Amalgam dari bubuk lathe-cut menahan kondensasi dengan baik dibanding amalgam yang seluruhnya terbuat dari bubuk sferis. Karena amalgam dari bubuk sferis sangat plastis. Logam campur bubuk sferis membutuhkan merkuri dalam jumlah kecil dibanding logam lathe-cut. Karena partikel logamnya mempunyai daerah permukaan yang lebih kecil per volumenya. Amalgam dengan kandung merkuri rendah, umumnya mempunyai sifat yang lebih baik.

KLASIFIKASI AMALGAM
Berdasarkan jumlah metal alloy:
Alloy binary : silver-tin Alloy tertinary :silver-tin-cooper Alloy quartenary : silver-tin-cooper-indium

Bedasarkan ukuran alloy:


Microcut Macrocut : ukuran 10-30m : ukuran lebih besar dari 30m

Berdasarkan bentuk partikel alloy:


Alloy lathe-cut Bentuk tidak teratur Alloy spherical Dibentuk melalui proses atomisasi Cairan alloy diatomisasi menjadi tetesan logam yang berbentuk bulat kecil Tidak berbentuk bulat sempurna Alloy spheroidal Dibentuk melalui proses atomisasi

Partikel-Partikel dari Alloy Lathe-Cut (pembesaran 100x)

Partikel-Partikel dari Alloy Spherical (pembesaran 500x)

Berdasarkan kandungan tembaga


Low Copper Alloy Perak (68-70%) Timah (26-27%) Tembaga (4-5%) Zinc (0-1%) High Copper Alloy Perak (40-70%) Timah (22-30%) Tembaga (13-30%) Zinc (0-1%)

Berdasarkan kandungan zinc


Alloy mengandung zinc : mengandung lebih dari 0.01% Alloy bebas szinc : kurang dari 0.01%

REAKSI KIMIA PADA AMALGAM

REAKSI PENGERASAN
Reaksi pengerasan terjadi setelah powder alloy amalgam dan liquid merkuri tercampur dengan sempurna Conventional Low-Copper Alloys (Logam campur kandungan tembaganya rendah) Admixed High-Copper Alloys (Lagom campur gabungan dengan kandungan tembaganya tinggi) Single Composition High-Copper Alloys (Logam campur komposisi tunggal dengan kandungan tembaga yang tinggi)

Low-Copper Alloys
Pemecahan dan pengendapan Perak dan timah di bagian luar partikel akan larut menjadi merkuri Merkuri berdifusi ke dalam logam campur Merkuri mempunyai daya larut yang terbatas Jika daya larut terlampaui, kristal-kristal dari dua senyawa biner akan mengendap menjadi merkuri Kedua senyawa: Ag2Hg3 (1) dan Sn8Hg (2)

Pelarutan dari perak dan timah menjadi merkuri

Pengendapan dari kristal-kristal gamma 1 dalam merkuri

Merkuri yang tersisa melarutkan logam campur kristal 1 dan 2 akan bertambah
Saat merkuri menghilang, amalgam sudah menjadi keras

Reaksinya:

Gamma () = Ag3Sn

Fase paling kuat Fase karat yang sedikit Membentuk 30% dari amalgam

Gamma 1 (1) = Ag2Hg3

Fase pterkuat kedua 10 micron: berikatan dengan gamma Membentuk 60%dari amalgam

Gamma 2 (2) = Sn8Hg


Paling lemah Fase paling halus Cepat berkarat 10% dari volume Volume berkurang seiring dengan terjadinya korosi

Struktur bahan setelah setting


Berupa struktur inti dengan sebuah inti yang terdiri dari yang tidak bereaksi Matrix dari senyawa 1 dan 2 tumbuh membentuk suatu susunan jala yang tidak terputus-putus

Admixed High-Copper Alloys


Bubuk gabungan: partikel lathe-cut kandungan tembaga endah dan partikel logam campur Ag-Cu sferis. Lebih kuat daripada bubuk lathe-cut yang kandungan tembaganya rendah Mengandung tembaga berbentuk sferis 30%-55%

Bila merkuri bereaksi dengan bubuk gabungan:


Ag larut ke dalam merkuri dari Ag-Cu spherical Ag dan Sn larut ke dalam merkuri dari partikel AgSn Sn berdifusi di permukaan partikel Ag-Cu dan bereaksi dengan Cu membentuk Cu6Sn5 Kristal 1 terbentuk di sekitar partikel Ag-Cu Fase terbentuk di partikel Ag-Cu dan partikel Ag-Sn + Hg Ag3Sn + Ag-Cu + Ag2Hg3 + Cu6Sn5 Ag3Sn + Ag-Cu

Reaksi yang terjadi antara Ag3Sn + spheris Ag-Cu dan Hg Berlangsung dalam dua tahap: Senyawa Ag2Hg3 dengan struktur heksagonal fase 1 Reaksi antara senyawa 2 dan spherik Ag-Cu mendorong terbentuknya senyawa kuprum-tin dan lebih banyak 1, sehingga: Sn7-8Hg + Ag Cu Cu6Sn5 + Ag2Hg3 2 + Ag Cu Cu6Sn5 + 1

Single Composition High-Copper Alloys


Komponen utama perak, tembaga, timah, sejumlah kecil indium/palladium Berbeda dengan logam campur gabungan, setiap partikel pada bubuk logam campur mempunyai komposisi kimia yang sama Reaksi
Ag3Sn + Cu3Sn + Hg Ag3Sn + Cu3Sn + Ag2Hg3 + Cu6Sn5

Reaksi Korosi
Korosi pada amalgam konvensional (lowcooper alloy) bahan yang telah setting heterogen mengundang terjadinya korosi Terbentuk dua produk:
Ion Sn2+ dengan adanya saliva deitemui produk korosi seperti SnO2 dan Sn(OH)5Cl Hg dapat bereaksi dengan sisa fase yang sebelumnya tidak bereaksi

Mengurangi kekuatan

Ekspansi Tertunda/Ekspansi Sekunder


Setiap kontaminasi cairan pada amalgam yang mengandung seng menimbulkan ekspansi tertunda/ekspansi sekunder Ekspansi ini biasanya dimulai sesudah 3-5 hari dapat berlanjut selama berbulan-bulan Disebabkan oleh reaksi seng dengan air dan tidak terlihat pada pada amalgam yang tidak mengandung seng Hidrogen yang terbentuk terkumpul di dalam restorasi menaikkan tekanan internal ke tingkat yang cukup tinggi menimbulkan ekspansi

Tahapan Manipulasi
Perbandingan Alloy / Hg Triturasi

Kondensasi
Carving

Polishing

Perbandingan Alloy / Hg
Perbandingan yang dianjurkan berbeda-beda sesuai dengan komposisi logam campur, ukuran partikel, dan bentuk partikel Kandungan air raksa adak rendah campuran amalgamnya kering dan kasar Kandungan merkuri terlalu banyak kekuatan amalgam berkurang Merkuri dapat diukur dengan menggunakan timbangan atau diukur melalui volumenya dengan menggunakan penuang air raksa komersil Alloy dapat diukur dengan timbangan Saat ini, banyak digunakan kapsul disposable yang berisi air raksa dan logam campur dalam perbandingan tertentu

Perlu diperhatikan:
Kelebihan Hg pada permukaan tumpatan harus dibuang Pada pengrasan akhir, diharapkan kandungan Hg < 50%
Hg bersifat racun jangan dibiarkan terbuka di udara Hindarkan kontak dengan kulit Hindarkan kontak dengan emas Hindarkan terjadinya percikan Hg Selama proses triturasi & kondensasi harus bebas dari air / bahan yang mengandung air

Triturasi
Definisi : pengadukan powder dengan liquid yang dapat dilakukan secara manual menggunakan mortar dan pestle maupun secara mekanis menggunakan amalgamator dan kapsul. Hasil dari proses triturasi adalah didapatnya suatu massa plastis yang disebut amalgam. pencampuran & pengadukan alloy amalgam dengan Hg Teknik: 1. Manual Mortar & pestle (alloy / Hg 5/7 atau 5/8).

2. Mekanik Dengan amalgamator. Caranya menggetarkan logam paduan dan air raksa dalam suatu kapsul yang bersi logam atau plastic berbentuk silinder, dengan llistrik. Kapsul (sebagai lumping) dan Silinder amalgamator (sebagai alu) Lamanya triturasi secara mekanik tergantung tipe alloy dan kecepatan pengadukan. High copper alloy memerlukan pengendalian triturasi yang tepat Pada beberapa produk ada yang memerlukan energi pengadukan yang lebih besar untuk melepaskan lapisan oksida pada partikel Cu.

Rasio ideal kedua bahan ini menurut Eames(1959) adalah 5:7 atau 5:8, 5 untuk air raksa, 7/8 logam paduan Tujuan : terjadi proses amalgamisasi secara sempurna Overtriturasi: mengurangi setting time Undertriturasi: campuran rapuh dan kasar

Kondensasi
Proses memasukkan amalgam ke dalam kavitas gigi yang telah dipreparasi menggunakan stopper amalgam atau pistol amalgam sehingga tercapai kepadatan maksimal dari amalgam Amalgam diaplikasikan pada kavitas sedikit demi sedikit pada dinding dan dasar kavitas Juga bertujuan untuk membuang kelebihan merkuri, karena merkuri yang berlebihan dapat melemahkan struktur amalgam dan menyebabkan porositas pada amalgam.

Akibat kondensasi yang terlambat:


Adaptasi amalgam jadi kurang baik Kelebihan Hg sukar dibuang Kekuatannya berkurang

Carving
Setelah kavitas terisi penuh, dilakukan pembentukan dan pengukiran seperti bentuk anatomi gigi ideal
Carving dilakukan untuk:
Menghilangkan kelebihan merkuri mendapatkan kontur, kontak, dan anatomi yang sesuai sehingga mendukung kesehatan gigi dan jaringan lunak di sekitarnya Meningkatkan adaptasi marginal Meningkatkan kehalusan Mengurangi kebocoran

Polishing
Setelah itu dilakukan pemolesan (polishing) Pemolesan dilakukan dengan batu poles dan karet poles yang umumnya terdiri dari 2 macam, berwarna merah dan hijau Batu untuk memoles kasar, karet merah memoles halus, karet hijau untuk mengkilapkan Dilakukan setelah 24 jam, untuk amalgam dengan Cu tinggi diperlukan waktu lebih singkat Tujuan pemolesan:
Meningkatkan kehalusan Mencegah menyangkutnya sisa makanan Mencegah infeksi gusi dan lidah Estetik Mencegah tarnish dan korosi

Hg
Liquid Bila tertelan tdk diabsorpsi dan tidak dibuang oleh tubuh pada suhu kamar Tekanan & penguapan meningkat Hindari kontak dg kulit Menyebabkan alergi pd beberapa orang Uap Dlm paru-paru uap merkuri ke dlm darah melewati blood-brain barrier terakumulasi Mercury : inhibitor enzim dan mengganggu fungsi seluler Efek thd ssp: Sangat toxic Insomnia, iritabilitas, kehilangan daya ingat Sakit kepala, depresi, tremor

Senyawa anorganik Toksisitas rendah dlm amalgam (Ag Hg) Bila tertelan mudah dieksresi Senyawa organik Terutama senyawa ethyl dan methyl sangat toksik dlm konsentrasi rendah Tidak ada dalam amalgam

Macam-macam Kegagalan Amalgam


Bentuk kegagalan tambalan amalgam diantaranya : karies sekunder pecahnya tepi tambalan korosi Tarnish marginal breakdown

Kebocoran tepi / marginal breakdown adalah kegagalan yang palng sering terjadi

Kebocoran tepi
Kebocoran tepi pada tambalan amalgam dapat terdeteksi dg : adanya parit diantara tambalan dengan dinding kavitas yg dapat berlanjut dg pembentukan karies sekunder pembentukan karies sekunder akan semakin cepat bila kebersihan mulut pasien tidak baik

Penyebab kebocoran tepi


Penyebab pertama
Penyebab kedua
Bentuk preparasi yg kurang baik, ada email yg dibiarkan menggantung tanpa dukungan di daerah tepi kavitas Kelebihan merkuri / Hg

Penyebab terakhir

Keroposnya tambalan amalgam

Tarnish dan Korosi


Terbentuknya tarnish dan korosi adalah pengaruh lingkungan rongga mulut. Tarnish adalah perubahan warna pada permukaan amalgam karena berkontak dengan sulfur (belerang) / deposit film membentuk lapisan sulfida (mengeras = berubah menjadi hitam)

Solusi : tidak memakan makanan mengandung sulfur berlebih

Korosi
Sel elektrolitik yang terjadi (amalgam sebagai anoda + katoda dan saliva sebagai elektrolit) menyebabkan reaksi elektrokimia. Fase 2 dari amalgam meluruh dan memberikan produk korotif mengandung Sn oksida & klorid dari dari timah

Dikhawatirkan merkuri yang tertelan akan menjadi racun yang terakumulasi Reaksi : Sn78Hg+12O2 +H2O+Cl Sn4 (OH)6Cl2 +Hg Korosi juga menyebabkan restorasi yang telah dilakukan terlihat buruk secara estetik Keuntungan korosi kadang memberikan perlindungan terhadap microleakage

Daya tahan terhadap korosi akan meningkat bila amalgam dipoles benar-benar mengkilap, hindari kontak dengan tambalan emas,karena akan terjadi korosi akibat akumulasi air raksa pada restorasi emas.

Solusi :
a. polishing b. meminimalkan timbulnya arus galvanis c. tidak memakan makanan mengandung asam secara terus menerus

SIFAT FISIS, MEKANIS DAN KLINIS

Kekuatan
Dibutuhkan karena amalgam digunakan untuk merestorasi gigi posterior Kekuatan merupakan salah satu karakteristik penting yang harus dimiliki bahan tambal, termasuk amalgam. Bila bahan tambal kurang kuat akan mudah sekali untuk patah terutama di daerah tepi dan mempercepat terjadinya korosi, karies sekunder, serta kegagalan klinis yang lebih berat

Berdasarkan penelitian kekuatan tekam amalgam bila ditangani dengan baik dan benar adalah 310 MPa. Tembaga merupakan unsur yang memperkuat amalgam, kandungan air raksa juga berpengaruh terhadap kekuatan amalgam.

Compressive Strength
Sifat yg paling baik pada amalgam Tahan terhadap kompresi, tetapi lemah terhadap tarikan dan gaya geser kavitas harus disiapkan dengan desain yang tepat agar dapat meminimalisir gaya tarik dan gaya geser angka compressive strength yang tinggi setelah 1 jam pemanipulasian merupakan kelebihan amalgam, yang berarti semakin kecil kemungkinan amalgam untuk fraktur ketika pertama kali ditempatkan ke dalam kavitas sebelum amalgam mencapai final strength.

Tensile Strength
ketahanan amalgam terhadap fraktur yang disebabkan oleh tekanan pengunyahan Lebih rendah dr CS

Transverse strength Flexural (transverse) strength dapat diartikan sebagai kekuatan untuk menahan beban transversal yang terjadi selama pengunyahan. Flexural strength pada low copper amalgam adalah sekitar 120-130 MPa, sedangkan pada high copper adalah sekitar 90-110MPa.4

Perubahan Dimensi
Secara visual perubahan dimensi dapat menyebabkan gagalnya tambalan amalgam karena karies sekunder, patahnya tepi tambalan, atau pecahnya tambalan. Salah satu bentuk perubahan dimensi yang sering terjadi adalah ekspansi. Ada beberapa penyebab terjadinya ekspansi berlebih pada amalgam, salah satunya karena proses tirturasi dan kondensasi yang dilakukan tidak memadai, serta terkontaminasinya amlgam yang mengandung seng oleh kelembapan selama proses tirturasi dan kondensasi.

Amalgam dapat memuai atau menyusut, tergantung pada cara manipulasinya Ideal --> kecil perubahan dimensinya Kontraksi hebat --> dapat menimbulkan kebocoran mikro dan karies sekunder Ekspansi berlebihan--> menimbulkan tekanan pada pulpa dan kepekaan pascaoperatif
(2008, McCabe, Applied Dental Materials)

Pemuaian lebih dari nilai (0.1%) menyebabkan amalgam yang mengandung zinc akan terkontaminasi dengan air (dari uap air) dan menyebabkan reaksi :

Pelepasan hidrogen menyebabkan pemuaian yang terus menerus selama berminggu-minggu atau berbulan bulan (delayed expansion) yang berakibat adanya creep

Spesifikasi ADA No.1 menyebutkan bahwa amalgam dapat berkontraksi atau berekspansi lebih dari 20 m/cm, diukurpada 30c , 5 menit dan24 jam sesudah dimulainya triturasi dengan alat yang keakuratannya tidak sampai0,5m.

Kekurangan : Dapat menyebabkan kebocoran mikro dan sekunder karies


Solusi : Menggunakan cavity varnish dan dental liners

Alat untuk mengukur perubahan dimensional pada amalgam

Brittleness
Material ini dianggap brittle, membutuhkan struktur suportif di sekitarnya

Hardness
Hardness biasa digunakan sebagai indikasi dari kemampuan suatu bahan menahan suatu goresan Walau kekerasan amalgam lebih rendah dibanding enamel, amalgam sepertinya memiliki resistensi terhadap abrasi intra oral dan jarang gagal oleh mekanisme ini

Modulus elastisitas
Berkisar antara 40-60 Gpa Amalgam termasuk material kaku Alloy yang mengandung Cu lebih banyak akan lebih kaku dibanding yang sedikit mengandung Cu. Oleh sebab itu low copper lebih elastis dari high copper.

Creep/ Plastic Deformation


Tingkat creep memiliki hubungan dengan kerusakan tepi dari amalgam tradisional yang kandungan tembaganya rendah Makin besar creep --> makin besar derajat kerusakan tepi Creep menyebabkan amalgam mengalir, amalgam yang tidak tertunjang akan mengalami protrudrasi (penggembungan) ke tepi kavitas dan akan melemah karena adanya korosi Patah akan menyebabkan formasi ditch (lubang) di pinggir tepi restorasi amalgam Dalam ADA No 1 ditekankan pentingnya memilih logam campur komersial yang mempunyai tingkat creep di bawah 3%

Alat untuk mengukur creep


Solusi : penambahan palladium dan indium

Termal Kontraksi
Amalgam memiliki nilai difusi termal yang tinggi karena merupakan material restoratif yang bersifat metal. Koefisien pemuaian thermal dari amalgam lebih besar 3 kali lipat dari dentin Aktivitas yang beruhubungan dengan konsumsi makanan panas dan dingin menyebabkan microleakage di sekitar filling, dikorelasikan dengan tidak adanya adhesi di antara amalgam dan substansi gigi

Biokompatibilitas Amalgam dan Korelasinya dengan Kondisi Klinis

- Keharmonisan antara bahan dan lingkungan yang tidak mempunyai pengaruh toksik atau sifat mengiritasi terhadap fungsi biologi. - Tujuan : untuk mengeliminasi komponen bahan yang berpotensi merusakan jaringan rongga mulut. - Syarat biokompatibilitas bahan kedokteran gigi adalah: 1. Tidak membahayakan pulpa dan jaringan lunak. 2. Tidak mengandung bahan toksik yang dapat berdifusi, terlepas dan diabsorbsi dalam sistem sirkulasi. 3. Bebas dari agent yang dapat menyebabkan reaksi alergi. 4. Tidak berpotensi sebagai bahan karsinogenik.

Amalgam merupakan bahan yang paling sering digunakan karena bahan ini dapat bertahan lama sebagai bahan tumpatan, mudah memanipulasinya, dan mudah beradaptasi dengan cairan mulut.

Namun, masih ada anggapan bahwa amalgam berbahaya bagi kesehatan tubuh pasien.
Hal ini karena di dalam amalgam terkandung merkuri Merkuri dalam keadaan bebas sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat meracuni tubuh

Toksik Pasien yang terekspos dengan dosis merkuri yang tinggi sewaktu penempatan, contouring atau pemindahan amalgam menyebabkan terganggunya keadaan psikis dan multiple sclerosis Masalah lainnya diasosiasikan dengan terakumulasinya merkuri di plasenta dari ibu ke anak Alergi Menyebabkan alergi pada jaringan lunak (gingiva) dan membran mukosa dan lapisan subkutan seperti dermatitis atau reaksi lichenoid , dan stomatitis Ditemukan juga sel yang membengkak di jaringan penyokong gingiva; dan degenerasi hydropic dari sel epitel

Tabel Perbandingan

2012, Craig & Sakaguchi, Restorative Dental Material