Anda di halaman 1dari 37

FRAKTUR PELVIS

Ns, Mei Fitria K, S.Kep

Fraktur pelvis

Anatomi Pelvis

Berbentuk cincin Stabilitas dipertahankan oleh struktur tulang dan ligamen Banyak organ penting dalam rongga pelvis Fraktur pelvis : dapat terjadi kerusakan pada pemb. darah dan organ penting lain

Fraktur Pelvis

Mekanisme cedera :

Tabrakan (KLL) Jatuh dari ketinggian Crush injury

Trauma cincin pelvis terbuka cedera pemb.darah/organ lain perdarahan retroperitoneal

Fraktur pelvis

Stabil atau tidak stabil

Tidak stabil : bila terjadi kerusakan pada bagian posterior Pemeriksaan klinis dan foto

Pada fraktur yang tidak stabil : dapat terjadi perdarahan yang cukup besar Dapat terjadi syok hipovolemik Stabilisasi pelvis : resusitasi

Diagnosis

Pemeriksaan klinis :
Jejas pada pelvis/abdomen bagian bawah Nyeri tekan pada pelvis Ketidakstabilan pada perabaan Perbedaan panjang kedua tungkai Hipotensi & tachycardia (bila disertai gangguan hemodinamik)

Radiologis : foto pelvis AP

Jenis fraktur pelvis


Fraktur ramus pubis Stabil

Simfisiolisis Stabil

Jenis fraktur pelvis

Fraktur pelvis dengan kerusakan bagian anterior dan posterior Tidak stabil

Pemeriksaan fraktur pelvis

Tekan kearah posterior dan anterior pada krista iliaka Lakukan traksi pada salah satu tungkai dengan memfiksasi pelvis

Perdarahan akibat fraktur pelvis

Darah berasal dari tulang dan pembuluh darah yang robek Umumnya perdarahan vena Darah masuk ke rongga retroperitoneal Dapat terjadi perdarahan yang masif Bila tidak ditangani segera : syok hipovolemik

Komplikasi fraktur pelvis


Syok akibat kehilangan darah Robekan pada traktus urogenital : ruptur buli, ruptur urethra Ruptur colon/rectum Fistel recto-urethra, urethro-vaginal Lesi saraf

Penatalaksanaan fraktur pelvis


Ingat ABC Bila syok : Resusitasi cairan : infus RL 2 line, k/p darah Stabilisasi pelvis Bila pasien stabil : Bed rest Konsul orthopaedi : perlu operasi atau tidak ? Penatalaksanaan komplikasi : Repair urethra Colostomi, bila ada ruptur rectum Repair fistel dll

Stabilisasi pelvis

Mengecilkan rongga pelvis : berfungsi sebagai tampon Pelvic sling, stagen Fiksasi eksterna Fiksasi interna

Kesimpulan

Fraktur pelvis yang tidak stabil dapat mengakibatkan perdarahan masif yang dapat mengancam jiwa Diagnosis berdasarkan klinis dan radiologis Penatalaksanaan berdasarkan prioritas ABC Resusitasi cairan dan stabilisasi pelvis harus dilakukan segera

STRAIN OTOT

Suatu kejadian emergency pada bidang muskuloskeletal adalah strain, yaitu peristiwa robeknya otot tendon. Biasanya hal ini terjadi saat kontraksi otot yang sangat kuat. Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan,peregangan berlebihan,atau stress yang berlebihan.

Derajat I/Mild Strain (Ringan) Yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan pada penguluran unit muskulotendinous yang ringan berupa stretching/kerobekan ringan pada otot/ligament. Gejala yang timbul : Nyeri lokal Meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot Tanda-tandanya : Adanya spasme otot ringan Bengkak Gangguan kekuatan otot

KLASIFIKASI

Derajat II/Medorate Strain (Ringan) Yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat kontraksi/pengukur yang berlebihan. Gejala yang timbul Nyeri local Meningkat apabila bergerak/apabila ada tekanan otot Spasme otot sedang Bengkak Tenderness Gangguan kekuatan otot dan fungsi sedang

Derajat III/Strain Severe (Berat) Yaitu adanya tekanan/penguluran mendadak yang cukup berat. Berupa robekan penuh pada otot dan ligament yang menghasilkan ketidakstabilan sendi. Gejala : Nyeri yang berat Adanya stabilitas Spasme Kuat Bengkak Tenderness Gangguan fungsi otot

Penegakan diagnosa

Anamnesa Pemeriksaan fisik Inspeksi : mencari deformitas, memar, dan pembengkakan Palpasi : rasakan area yang cedera untuk memeriksa adakah deformitas dan nyeri tekan saat disentuh Perkusi : Pemeriksaan refleks

penanganan yang dilakukan pada cedera tendo dan ligamentum adalah dengan diistirahatkan dan diberi pertolongan dengan metode RICE. Artinya: a. R (Rest) : diistirahatkan pada bagian yang cedera. b. I (Ice) : didinginkan selama 15 sampai 30 menit. c. C (Compress) : dibalut tekan pada bagian yang cedera dengan bahan yang elastis, balut tekan di berikan apabila terjadi pendarahan atau pembengkakan. d. E (Elevate) : ditinggikan atau dinaikan pada bagian yang cedera.

Penanganan awal

Balut langsung diatas cedera. Balutan harus pas (tak boleh longgar dan ketat) untuk menahan pendarahan. Kompres area cedera dengan kantung es selama 30-45 menit, kemudian kompres dihentikan dan didiamkan selama 1 jam. Kemudian kompres lagi selama 30 menit, lakukan selama 24 jam. Daerah ditinggikan selama 72 jam pertama, biarkan posisi selagi waktu tidur. Biarkan istirahat selama 72 jam setelah cedera

Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian Kajian nyeri Apa yang dilakukan pasien sebelum dirasakan nyeri? Apakah nyeri terlokalisasi? Bagaimana pasien menjelaskan nyeri? Apakah nyeri menjalar? Inpeksi umumnya untuk mengetahui perkembangan edema,memantau luka dikulit. Palpasi sendi untuk mengetahui sensitifitas dan perkembangan jaringan lunak yang banyak teraba keras Observasi tingkat keterbatasan mobilitas sendi yang terserang

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nyeri b/d spasme otot Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri Kerusakan intregitas jaringan b/d adanya cedera

DISLOKASI SENDI

Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi Keluarnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera.

Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Dislokasi congenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan. b. Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang. c. Dislokasi traumatic : Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan)

Berdasarkan tipe kliniknya dibagi : 1) Dislokasi Akut Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi. 2) Dislokasi Kronik 3) Dislokasi Berulang Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.

Berdasarkan tempat terjadinya : 1. Dislokasi Sendi Rahang Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena : a. Menguap atau terlalu lebar. b. Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya penderita tidak dapat menutup mulutnya kembali. 2. Dislokasi Sendi Bahu Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral, berada di anterior dan medial glenoid (dislokasi anterior), di posterior (dislokasi posterior), dan di bawah glenoid (dislokasi inferior).

Dislokasi Sendi Siku Merupakan mekanisme cederanya biasanya jatuh pada tangan yg dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior dengan siku jelas berubah bentuk dengan kerusakan sambungan tonjolan-tonjolan tulang siku. 4. Dislokasi Sendi Jari Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah telapak tangan atau punggung tangan. 5. Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal dan Interphalangeal Merupakan dislokasi yang disebabkan oleh hiperekstensi-ekstensi persendian.

6. Dislokasi Panggul Bergesernya caput femur dari sendi panggul, berada di posterior dan atas acetabulum (dislokasi posterior), di anterior acetabulum (dislokasi anterior), dan caput femur menembus acetabulum (dislokasi sentra). 7. Dislokasi Patella a. Paling sering terjadi ke arah lateral. b. Reduksi dicapai dengan memberikan tekanan ke arah medial pada sisi lateral patella sambil mengekstensikan lutut perlahan-lahan.

ETIOLOGI
Cedera olah raga Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga : Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi. Terjatuh Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin Patologis : terjadinya tearligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital penghubung tulang

1. Deformitas pada persendiaan Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah. 2. Gangguan gerakan Otot-otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut. 3. Pembengkakan Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas. 4. Rasa nyeri sering terdapat pada dislokasi Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal. 5. Kekakuan.

MANIFESTASI KLINIS

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Dengan cara pemeriksaan Sinar X ( pemeriksaan X-Rays )

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Pemeriksaan Fisik Pada penderita Dislokasi pemeriksan fisik yang diutamakan adalah nyeri, deformitas, fungsiolesa misalnya: bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu

Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan. b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi. c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit. .