Anda di halaman 1dari 51

MOHD FIRDAUS BIN MOHD ISA (003.08.

278) UNIVERSITAS TRISAKTI RSUD KOTA BEKASI

Definisi

Ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui.

Kelemahan otot detrusor

Kelainan medulla spinalis Kelainan saraf perifer.

Hambatan / obstruksi uretra


Inkoordinasi antara DetrusorUretra

Batu uretra.
Hiperplasia prostat Fimosis

Cedera kauda ekuina.

Supravesikal : Kerusakan terjadi pada pusat miksi di Medula Spinalis setinggi Th12-L1; kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis, baik sebagian atau seluruhnya.

Vesikal : Berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada pasien DM atau penyakit neurologis.

Infravesikal (distal kandung kemih) : Berupa pembesaran prostat (kanker, prostatitis), tumor pada leher vesika, fimosis, stenosis meatus uretra, tumor penis, striktur uretra, trauma uretra, batu uretra, sklerosis leher kandung kemih (bladder neck sclerosis).

Akut: penderita secara tiba-tiba tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan, seringkali urin belum menetes atau sedikit-sedikit

Kronis:penderita secara perlahanlahan dan dalam waktu yang lama tidak dapat miksi, merasakan nyeri di daerah suprapubik hanya sedikit / tidak ada sama sekali walaupun buli-buli penuh

KLASIFIKASI

Parsial:penderita masih bisa mengeluarkan urin, tetapi terdapat sisa kencing yang cukup banyak di kandung kemih

Total:penderita sama sekali tidak dapat mengeluarkan urin.

Fase pengisian dan fase penyimpanan

Fase pengosongan

Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra

Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik.

Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 24 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal.

Selama fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor.

Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna

Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal.

Diagnosa
Rasa tidak nyaman hingga rasa nyeri yang hebat pada perut bagian bawah hingga daerah genital. Kadangkadang urin keluar sedikitsedikit, sering, tanpa disadari, tanpa bisa ditahan(inkonti nensi paradoksa).

Benjolan pada perut bagian bawah.

Tidak dapat kencing.

1 tangan di atas suprapubik dan jari telunjuk tangan lainnya melakukan colok dubur.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Foto polos abdomen menunjukkan bayangan buli-buli penuh, mungkin terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli-buli.
Uretrografi akan tampak adanya striktur uretra.

Pemeriksaan darah rutin : Hb, leukosit, LED, Trombosit.

Pemeriksaan Faal Ginjal : kreatinin, ureum, klirens kreatinin.

Pemeriksaan urinalisa : warna, berat jenis, pH

KOMPLIKASI
Inkontinensi paradoksa /"overflow incontinence trabekulasi (serat-serat otot detrusor menebal)
sacculae (tekanan intravesika meningkat, selaput lendir diantara otot-otot membesar)

Hidroureter

Divertikel

Hidronefrosis

Infeksi

Gagal ginjal

Pembentukan batu

* Inkontinensi paradoksa /"overflow incontinence-Bila tekanan didalam buli-buli meningkat dan melebihi besarnya hambatan di daerah uretra, urin akan memancar berulang-ulang (dalam jumlah sedikit) tanpa bisa ditahan oleh penderita, sementara itu buli-buli tetap penuh dengan urin

PENANGANAN

Katerisasi

Sistostomi

* Penanganan pada retensi urin akut berupa : kateterisasi bila gagal dilakukan sistostomi.

KATERISASI URETRA

Kateterisasi Uretra adalah memasukkan kateter ke dalam bulibuli melalui uretra.

Tujuan Kateterisasi

Terapi
Diagnosis

TINDAKAN DIAGNOSIS
3.Memasukkan bahan kontras : Sistografi 2.Mengukur 4.Pemeriksaan 5.Untuk atau residu (sisa) urodinamik menilai pemeriksaan urin yang untuk produksi urin adanya refluks dikerjakan vesiko-ureter menentukan pada saat dan sesaat setelah melalui tekanan intra setelah operasi pasien selesai vesika. besar. pemeriksaan miksi. voiding cystourethrography (VCUG).

1.Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urin guna pemeriksaan kultur urin.

Indikasi kateterisasi :
Mengeluarkan urin dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal, baik yang disebabkan oleh hiperplasia prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang menyumbat uretra. Mengeluarkan urin pada disfungsi buli-buli. Diversi urin setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah, yaitu pada operasi prostatektomi, vesikolitektomi.

Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra.
Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli.

KONTRA INDIKASI Ruptur uretra


Ruptur buli-buli Bekuan darah pada buli-buli

sistem retaining (pengunci)

sifat bahan

pemakaian

bentuk

jumlah percabangan

Macammacam Kateter

ukuran

skala Cherieres (French). Ukuran ini merupakan ukuran diameter luar kateter.

1 Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0,33 milimeter atau 1 milimeter = 3 Fr

Ukuran Kateter
kateter yang berukuran 18 Fr artinya diameter luar kateter itu adalah 6 mm. Kateter yang mempunyai ukuran yang sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena adanya perbedaan bahan dan jumlah lumen pada kateter itu.

Bahan kateter

logam (stainless)

karet (lateks)

lateks dengan lapisan silikon (siliconized)

silikon

Straight catheter merupakan kateter yang terbuat dari karet (lateks), bentuknya lurus dan tanpa ada percabangan. Contoh kateter jenis ini adalah kateter Robinson dan kateter Nelaton. Coude catheter yaitu kateter dengan ujung lengkung dan ramping. Kateter ini dipakai jika usaha kateterisasi dengan memakai kateter berujung lurus mengalami hambatan yaitu pada saat kateter masuk ke uretra pars bulbosa yang berbentuk huruf S, adanya hiperplasia prostat yang sangat besar, atau hambatan akibat sklerosis leher buli-buli. Contoh jenis kateter ini adalah kateter Tiemann.

Tindakan katerisasi (pria)


Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya, daerah genitalia dipersempit dengan kain steril. Kateter yang telah diolesi dengan pelicin / jelly dimasukkan ke dalam orifisium uretra eksterna
Pelan-pelan kateter didorong masuk dan kira-kira pada daerah daerah sfingter uretra eksterna akan terasa tahanan; pasien diperintahkan untuk mengambil nafas dalam supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks

Kateter terus didorong hingga masuk ke buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urin dari lubang kateter. Kateter terus didorong masuk ke buli-buli hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna.

Cont.
Balon kateter dikembangkan dengan 5-10 ml air steril. Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan pipa penampung (urinbag). Kateter difiksasi dengan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal.

Tindakan katerisasi (wanita)


Pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan karena uretra wanita lebih pendek. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra / tumor vaginalis / serviks. Untuk itu mungkin perlu dilakukan dilatasi dengan bougie a boule terlebih dahulu.

Sistostomi(katerisasi suprapubik)

Suatu tindakan pembedahan untuk mengalirkan kencing melalui lubang yang dibuat supra pubik untuk mengatasi retensi urin dan menghindari komplikasi.

Sistostomi
Trokar Terbuka

Indikasi Sistostomi Trokar


kateterisasi gagal: striktura uretra, batu uretra yang menancap (impacted) kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra

Syarat sistostomi trokar


buli-buli jelas penuh dan secara palpasi teraba tidak ada sikatrik bekas operasi didaerah abdomen bawah tidak dicurigai adanya perivesikal hematom, seperti pada fraktur pelvis

Kontraindikasi sistostomi trokar


tumor buli-buli hematuria yang belum jelas penyebabnya riwayat pernah menjalani operasi daerah abdomen / pelvis

buli-buli yang ukurannya kecil (contracted bladder)


pasien yang mempergunakan alat prostesis pada abdomen sebelah bawah

Kain kasa steril. Alat dan obat untuk desinfeksi (yodium povidon). Kain steril untuk mempersempit lapangan operasi. Semprit beserta jarum suntik untuk pembiusan lokal dan jarum yang telah diisi dengan aquadest steril untuk fiksasi balon kateter. Obat anestesi lokal. Alat pembedahan minor, antara lain : pisau, jarum jahit kulit, benang sutra (zeyde). Alat trokar dari Campbel atau trokar konvensional. Kateter Foley (ukuran tergantung alat trokar yang digunakan). Jika mempergunakan alat trokar konvensional, harus disediakan kateter Nasogastrik(NG tube) no. 12. Kantong penampung urine (urinebag).

Langkah-langkah sistostomi trokar


Desinfeksi lapangan operasi.

Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril. Injeksi (infiltrasi) anestesi lokal dengan Lidokain 2% mulai dari kulit, subkutis hingga ke fasia. Insisi kulit suprapubik di garis tengah pada tempat yang paling cembung + 1 cm, kemudian diperdalam sampai ke fasia. Dilakukan pungsi percobaan melalui tempat insisi dengan semprit 10 cc untuk memastikan tempat kedudukan buli-buli.

Cont.
Alat trokar ditusukkan melalui luka operasi hingga terasa hilangnya tahanan dari fasia dan otot-otot detrusor.

Alat obturator dibuka dan jika alat itu sudah masuk ke dalam buli-buli akan keluar urine memancar melalui sheath trokar.
Selanjutnya bagian alat trokar yang berfungsi sebagai obturator (penusuk) dan sheath dikeluarkan melalui buli-buli sedangkan bagian slot kateter setengah lingkaran tetap ditinggalkan. Kateter Foley dimasukkan melalui penuntun slot kateter setengah lingkaran, kemudian balon dikembangkan dengan memakai aquadest 10 cc. Setelah balon dipastikan berada di buli-buli, slot kateter setengah lingkaran dikeluarkan dari buli-buli dan kateter dihubungkan dengan kantong penampung urin (urinbag).

Kateter difiksasikan pada kulit dengan benang sutra dan luka operasi ditutup dengan kain kasa steril.

Menusukkan alat trokar ke dalam bulibuli

Setelah yakin trokar masuk ke buli-buli, obturator dilepas dan hanya slot kateter setengah lingkaran ditinggalkan

Jika tidak tersedia alat trokar dari Campbell, dapat pula digunakan alat trokar konvensional, hanya saja pada langkah ke-8, karena alat ini tidak dilengkapi dengan slot kateter setengah lingkaran maka kateter yang digunakan adalah NG tube nomer 12 F. Kateter ini setelah dimasukkan ke dalam buli-buli pangkalnya harus dipotong untuk mengeluarkan alat trokar dari buli-buli.

Penyulit Beberapa penyulit yang mungkin terjadi pada saat tindakan maupun setelah pemasangan kateter sistotomi adalah : Bila tusukan terlalu mengarah ke kaudal dapat mencederai prostat. Mencederai rongga / organ peritoneum. Menimbulkan perdarahan. Pemakaian kateter yang terlalu lama dan perawatan yang kurang baik akan menimbulkan infeksi, ekskrutasi kateter, timbul batu saluran kemih, degenerasi maligna mukosa buli-buli, dan terjadi refluks vesiko-ureter.

Sistostomi Terbuka Sistostomi terbuka dikerjakan bila terdapat kontraindikasi pada tindakan sistostomi trokar atau bila tidak tersedia alat trokar. Dianjurkan untuk melakukan sistostomi terbuka jika terdapat jaringan sikatriks / bekas operasi di daerah suprasimfisis, sehabis mengalami trauma di daerah panggul yang mencederai uretra atau buli-buli, dan adanya bekuan darah pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan tindakan per uretram. Tindakan ini sebaiknya dikerjakan dengan memakai anestesi umum.

Indikasi sistostomi terbuka


kateterisasi gagal: striktura uretra, batu uretra yang menancap (impacted) kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra

bila sistostomi trokar gagal

bila akan dilakukan tindakan tambahan seperti mengambil batu dalam buli-buli, evakuasi gumpalan darah, dan sebagainya.

Tindakan sistostomi terbuka


Desinfeksi seluruh lapangan operasi.

Mempersempit daerah operasi dengan kain steril.

Injeksi anestesi lokal, jika tidak mempergunakan anestesi umum. Insisi vertikal pada garis tengah + 3-5 cm diantara pertengahan simfisis dan umbilicus. Insisi diperdalam sampai lemak subkutan hingga terlihat linea alba yang merupakan pertemuan fasia yang membungkus muskulus rektus kiri dan kanan. Muskulus rektus kiri dan kanan dipisahkan sehingga terlihat jaringan lemak, buli-buli dan peritoneum. Buli-buli dapat dikenali karena warnanya putih dan banyak terdapat pembuluh darah.

Cont.
Jaringan lemak dan peritoneum disisihkan ke kranial untuk memudahkan memegang buli-buli. Dilakukan fiksasi pada buli-buli dengan benang pada 2 tempat. Dilakukan pungsi percobaan pada buli-buli diantara 2 tempat yang telah difiksasi. Dilakukan pungsi dan sekaligus insisi dinding buli-buli dengan pisau tajam hingga keluar urin, yang kemudian (jika perlu) diperlebar dengan klem. Urin yang keluar dihisap dengan mesin penghisap. Eksplorasi dinding buli-buli untuk melihat adanya : tumor, batu, adanya perdarahan, muara ureter atau penyempitan leher buli-buli.

Cont.
Pasang kateter Foley ukuran 20F-24F pada lokasi yang berbeda dengan luka operasi.
Buli-buli dijahit 2 lapis yaitu muskularis-mukosa dan sero-muskularis. Ditinggalkan drain redon kemudian luka operasi dijahit lapis demi lapis. Balon kateter dikembangkan dengan aquadest 10 cc dan difiksasikan ke kulit dengan benang sutra

Retensi Urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui.

Menurut lokasi, penyebab retensi urin : a.Supravesikal : Kerusakan terjadi pada pusat miksi di Medula Spinalis setinggi Th12-L1.

b. Vesikal : Berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada pasien DM atau penyakit neurologis. c.Infravesikal (distal kandung kemih)

Penanganan retensio urin dengan mengevakuasi urin dari kandung kemih. Urin dapat dikeluarkan dengan cara Kateterisasi atau Sistostomi. Penanganan pada retensi urin akut berupa : kateterisasi bila gagal dilakukan Sistostomi.

1.Retensi Urin Permasalahan dan Penatalaksanaan Widjoseno Gardjito

Lab/UPF Ilmu Bedah FK Unair/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

2.Manifestasi Neurologis Gangguan Miksi. Iskandar Japardi. Fakultas Kedokteran Bagian Bedah. Universitas Sumatera Utara
3.Evaluasi Biakan Urin Pada Penderita BPH Setelah Pemasangan Kateter Menetap Pertama Kali dan Berulang.Bagian Bedah. Universitas Sumatera Utara 4.Anatomi dan Fisiologi Saluran Kemih.http// www.scribd.com/doc/38991454/Anatomi-Fisiologi-Ginjal 5.Purnomo B.B . 2003. Dasar-dasar Urologi. SMF Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. CV.Infomedika : Jakarta. 227-233.

TERIMA KASIH