Anda di halaman 1dari 49

OTOPSI

Disusun Oleh: Andri Nur Rochman

OTOPSI
Otopsi berasal dari kata oto yang berarti sendiri dan opsis yang berarti melihat. Otopsi adalah suatu pemeriksaan terhadap tubuh jenazah untuk kepentingan tertentu, meliputi pemeriksaan bagian luar dan bagian dalam dengan menggunakan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten.

Terdapat tiga macam otopsi, yaitu : otopsi anatomik, otopsi klinik, dan otopsi forensik.

Otopsi Anatomik
Otopsi anatomik adalah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan pendidikan, yaitu untuk mempelajari susunan tubuh manusia yang normal.

Otopsi Klinik
Otopsi klinik adalah otopsi yang dilakukan terhadap jenazah dari penderita penyakit yang dirawat dan kemudian meninggal dunia di Rumah Sakit.

Otopsi Klinik
Tujuan utama dari otopsi klinik adalah untuk kepentingan penyelidikan penyakit, antara lain: Mengetahui diagnosis penyakit dari penderita yang sampai meninggalnya belum dapat ditentukan Menilai apakah diagnosis klinik yang dibuat sebelum mati benar. Mengetahui proses perjalanan penyakit. Mengetahui kelainan-kelainan patologik yang timbul. Menilai efektifitas obat atau metode pengobatan.

Otopsi Forensik
Otopsi forensik ialah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan peradilan, yaitu membantu penegak hukum dalam rangka menemukan kebenaran material. Autopsi kehakiman mutlak harus dikerjakan atas dasar pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam mayat.

Kegunaan otopsi forensik : Membantu menemukan cara kematian (manner of death=mode of dying), yaitu:
Pembunuhan Bunuh diri Kecelakaan.

Membantu mengungkapkan proses terjadinya tindak pidana yang menyebabkan kematiannya, yaitu:
Kapan dilakukan. Di mana dilakukan. Senjata, benda, atau zat kimia apa yang digunakan.. Cara melakukan. Sebab kematian (cause of death)

Membantu mengungkapkan identitas jenazah. Membantu mengungkapkan pelaku kejahatan.

Teknik Autopsi
Untuk autopsi tidak diperlukan alat khusus dan mahal, cukup: timbangan besar untuk menimbang mayat, timbangan kecil untuk menimbang organ, pisau : dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam, gunting berujung runcing dan tumpul, pinset : anatomis dan bedah, gergaji : gergaji besi, forseps atau cunam untuk melepaskan duramater,

gelas takar 1 liter, pahat, palu, meteran, jarum dan benang, sarung tangan, baskom dan ember, dan air yang mengalir

Tata Laksana Otopsi


Pelaksanaan otopsi forensik diatur di dalam KUHAP, yang pada prinsipnya otopsi baru boleh dilakukan jika ada surat permintaan tertulis dari penyidik dan setelah keluarga diberi tahu serta telah memahaminya atau setelah 2 hari dalam hal keluarga tidak menyetujui otopsi atau keluarga tidak ditemukan. Dalam menjelaskan kepada keluarga perlu diingatkan adanya sanksi pidana bagi siapa saja yang menghalang-halangi pelaksanaan otopsi, yaitu dihukum berdasarkan Pasal 222 KUHP.

Cara Otopsi
Pemeriksaan luar. Pemeriksaan dalam, terdiri atas:
insisi (pengirisanPengeluaran organ dalam.
Teknik Virchow (satu persatu) Teknik Rokitansky (en bloc) Teknik Letulle (en masse) Teknik Ghon

Pemeriksaan tiap-tiap organ satu persatu. Pengembalian organ tubuh ke tempat semula. Menutup dan menjahit kembali.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang diperlukan jika dari pemeriksaan yang telah disebutkan di atas belum dapat menjawab seluruh persoalan yang muncul dalam proses peradilan pidana. Pemeriksaan penunjang tersebut misalnya pemeriksaan laboratorium sederhana, toksikologik, mikroskopik, serologik, DNA, dan sebagainya.

Insisi
Terdapat beberapa jenis insisi yang dapat digunakan untuk membuka tubuh. Pada dasarnya, semua jenis insisi menggunakan pendekatan dari midline anterior, namun berbeda pada diseksi leher. Jenis insisi yang digunakan diharapkan aman bagi operator dan dapat memberikan lapang pandang yang maksimal dengan tetap mempertertimbangkan aspek rekonstruksi dari tubuh jenazah

Teknik pembukaan dapat menggunakan teknik insisi I atau insisi Y. Keuntungan teknik insisi I adalah mudah dikerjakan dan daerah leher dapat diperiksa lapis demi lapis sehingga semua kelainan yang ada dapat dilihat, tetapi keburukannya ialah dari segi estetika karena ada irisan pada daerah leher. Sedangkan keuntungan teknik insisi huruf Y ialah tidak adanya irisan di daerah leher, tetapi teknik ini agak sulit dan memerlukan ketrampilan tinggi.

Ada dua macam insisi Y, yaitu: Insisi yang dilakukan dangkal (shallow incision), yang dilakukan pada tubuh pria, insisi yang lebih dalam (deep incision), yang dilakukan pada tubuh wanita,

Insisi U: Insisi dimulai dari 1 cm di belakang meatus acusticus externa, menyusuri aspek lateral leher dan melewati klavikula di sepertiga luar. Insisi yang sama dilakukan di sisi yang lain dan bertemu dengan insisi sebelumnya di atas angulus sternalis. Teknik lain yang dapat digunakan adalah single midline incision. Pada single line incision, insisi dimulai dari prominensia laryngeal sampai ke mons pubis.

Pembukaan rongga tubuh


Dada: Kulit dan otot dibebaskan dari costae, dan dijaga agar muskulus intercostalis tidak rusak. Payudara dapat diperiksa saat jaringan lunak telah dibebaskan dari tulang iga. Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari sambungannya. Pemotongan dimulai dari tulang rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan dilepaskan dari diafragma kanan dan kiri kemudian dilepaskan mediastenum anterior.

Pemotongan costa dapat juga dilakukan sejajar dengan linea axillaris anterior. Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persisten. Perikardium dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan pericardium, normal sebanyak kurang lebih 50 cc dengan warna agak kuning.

Jantung: Jantung dibuka menurut aliran darah Setelah jantung terbuka, diperiksa katup, otot kapiler, chorda tendinae, foramen ovale, dan septum interventrikulorum Arteria koronaria diiris dengan pisau yang tajam sepanjang 4-5 mm mulai dari lubang di katup aorta.

Paru-paru: Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong ronkhi dan pembuluh darah di hilus, seteah pericardium diambil. Vena pulmonalis dibuka dengan gunting, kemudian bronki, dan terakhir arteria pulmonalis. Paru-paru diiris longitudinal dari apex sampai basis.

Pemeriksaan Pneumothorax: Setelah kulit dan otot dada dilepas dari tulang iga, dibuatlah suatu kantong yang berisi air, kemudian otot interkostal ditusuk dengan ujung pisau. Emboli udara: Tulang rawan iga dipotong mulai dari no. 3 sampai ke bawah, kemudian sternum digergaji setinggi kosta no. 2, sternum dilepaskan dari diafragma dan mediastenum anterior. Perikardium dibuka dengan Y terbalik, kemudian perikardium dipegang dengan cunam dan diisi air. Vena kava interior ditusuk kemudian serambi kanan dan kiri.

Perut: Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan, duodenum, dan diikat ganda kemudian dipotong. Limpa: dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan parenkim, folikel, dan septa.

Esofagus-lambung-duodenum-hati: Esofagus dibuka terus ke kurvatora mayor terus ke duodenum. Perhatikan isi lambung. Kantung empedu diperiksa mukosa dan adanya batu. Buluh kelenjar ludah perut dibuka dari papila Vater ke pankreas. Pankreas dilepaskan dari duodenum dan dipotong-potong transversal. Hati Usus halus dan usus besar diperiksa mukosa dan isinya, cacing.

Ginjal, ureter, rektum, dan kandung urine: Ginjal dengan satu insisi lateral dapat diangkat dan dilepaskan dengan memotong pembuluh darah di hilus, kemudian ureter dilepaskan sampai panggul kecil. Kandung urine dan rektum dilepaskan dengan cara memasukkan jari telunjuk lateral dari kandung urine dan dengan cara tumpul membuat jalan sampai ke belakang rektum.

Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan longitudinal dari lateral ke hilus. Ureter dibuka dengan gunting sampai kandung urine, kapsul ginjal dilepas dan perhatikan permukaannya. Pada laki-laki rektum dibuka dari belakang dan kandung urine melalui uretra dari muka. Rektum dilepaskan dari prostat, dengan demikian terlihat vesika seminalis. Prostat dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang. Testis dikeluarkan melalui kanalis spermatikus dan diiris longitudinal, perhatikan besarnya, konsistensi, infeksi, normal tubuli seminiferi dapat ditarik seperti benang.

Urogenital Perempuan Kandung urine dibuka dan dilepaskan dari vagina. Vagina dan uterus dibuka dengan insisi longitudinal dan dari pertengahan uterus insisi ke kanan dan ke kiri, ke kornu. Tuba diperiksa dengan mengiris tegak lurus pada jarak 1-1,5 cm. Uterus diinsisi longitudinal.

Leher: Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring, dan tonsil dikeluarkan sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok, dan tonsil. Pada kasus cekik, tulang lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.

Kepala: Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri dengan mata pisau menghadap ke luar supaya tidak memotong rambut terlalu banyak. Kulit kepala kemudian dikelupas ke muka dan ke belakang dan tempurung tengkorak dilepaskan dengan cara menggergajinya. Pahat dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan dengan beberapa ketukan tempurung lepas dan dapat dipisahkan. Duramater diinsisi paralel dengan bekas mata gergaji. Falx serebri digunting di bagian muka.

Otak dipisah dengan memotong pembuluh darah dan saraf dari muka ke belakang dan kemudian medula oblongata. Tentorium serebri diinsisi di belakang tulang karang dan sekarang otak dapat diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas dengan cunam, otak kecil dipisah dan diiris horisontal, terlihat nukleus dentatus. Medula oblongata diiris transversal, demikian pula otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala perhatikan adanya edema, kontusio, dan laserasi serebri.

Tengkorak neonatus: Kulit kepala dibuka seperti biasa, tengkorak dibuka dengan menggunting sutura yang masih terbuka dan tulang ditekan ke luar, sehingga otak dengan mudah dapat diangkat.

Fotografi dalam lensa hukum


Sebagai petunjuk, sebuah foto hendaknya memiliki sifat alamiah yang kuat dari setiap dimensi yang terekam di dalamnya sehingga foto tersebut dapat bercerita tentang setiap detil kejadian dengan baik, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang menyesatkan alur penyelidikan maupun penyidikan.

Fotografi forensik adalah suatu proses seni menghasilkan bentuk reproduksi dari tempat kejadian perkara atau tempat kejadian kecelakaan secara akurat untuk kepentingan penyelidikan sampai pengadilan. Termasuk kegiatan di dalam kegiatan fotografi forensik adalah pemilihan pencahayaan yang benar, sudut pengambilan lensa yang tepat, dan pengembilan gambar dari berbagai titik pandang. Biasanya digunakan penggaris atau perekat putih yang berskala sentimeter diletakkan berdekatan dengan lesi atau perlukaan sebagai referensi ukuran.

DAFTAR PUSTAKA
Hamdani, A.M., Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi kedua. Cetakan pertama, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama: 1992 Idries, A.M., Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997 Idries, A.M., Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik bagi Praktisi Hukum. Cetakan pertama. Jakarta: Sagung Seto; 2009 Burton, J.. Rutty,G., The Hospital Autopsy, 2nd edition, USA: Oxford University Press:2001 Dahlan, S., Ilmu Kedokteran Forensik. Cetakan VI. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro: 2008 Collins, K.A., Hutchins, G.M., An Introduction To Autopsy Technique, USA : College of American Pathologist : 2005