Anda di halaman 1dari 21

Guillain

Barre

Syndrom

Kelompok 3 widya wuryanti alnia rindang c mamriah darwis

L/O/G/O

pengertian
suatu kelainan dimana sistem imunitas tubuh menyerang sarafnya sendiri Karakteristik: kelemahan otot asendens yang simetris dan progresif, paralisis, dan hiporefleksi, dengan atau tanpa gejala sensorik ataupun otonom.

ETIOLOGI
respons alergi atau respons autoimun sangat mungkin sekali. virus. Akan tetapi, tidak ada virus yang dapat diisolasi sejauh ini. kebanyakan GBS terjadi disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atau pencernaan. Pada beberapa keadaan dapat terjadi setelah vaksinasi atau pembedahan. Hal ini juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus primer, reaksi imun dan beberapa proses lain, atau sebuah kombinasi beberapa proses. infeksi virus menyebabkan reaksi autoimun yang menyerang saraf perifer,Mielin yang merupakan substansi yang ada di sekitar atau menyelimuti akson-akson saraf dan berperan penting pada transmisi impuls saraf.

Sifat-sifat GBS:
Bisa terjangkit di semua tingkatan usia mulai dari anak-anak sampai dewasa Jarang ditemukan pada manula Lebih sering ditemukan pada kaum pria Bukan penyakit turunan Tidak dapat menular lewat kelahiran, terinfeksi atau terjangkit dari orang lain yang mengidap GBS

PATOFISIOLOGI
patofisiologi

MANIFESTASI KLINIS
paralisis progresif yang terjadi pada pola asenden. Gangguan motorik dan sensorik terjadi secara sistematis dimulai dari telapak kaki. Nyeri punggung bawah Takikardia dengan episode bradikardia Hipertensi dengan episode hipotensi ortostatik yang bervariasi Kram otot, pusing, kelemahan otot wajah Kegagalan pernafasan dengan paralisis diafragma

Perjalanan penyakit GBS dapat dibagi menjadi 3 fase:


Fase progresif * Umumnya berlangsung 2-3 minggu : titik nadir. * nyeri, kelemahan progresif dan gangguan sensorik Fase plateau * Fase infeksi : tidak didapati baik perburukan ataupun perbaikan gejala. * Serangan telah berhenti, * dilakukan Terapi : memperbaiki fungsi yang hilang atau mempertahankan fungsi yang masih ada. * dilakukan monitoring tekanan darah, irama jantung, pernafasan, nutrisi, keseimbangan cairan, serta status generalis. Imunoterapi serta fisioterapi. * nyeri hebat akibat saraf yang meradang serta kekakuan otot dan sendi;

Fase GBS
Fase penyembuhan * perbaikan dan penyembuhan spontan. * Sistem imun berhenti memproduksi antibody yang menghancurkan myelin *.Terapi : membentuk otot pasien dan mendapatkan kekuatan dan pergerakan otot yang normal

6 subtipe sindroma Guillain-Barre,


Radang polineuropati demyelinasi akut (AIDP) Merupakan jenis GBS yang paling banyak ditemukan, dan sering disinonimkan dengan GBS. Disebabkan oleh respon autoimun yang menyerang membrane sel Schwann. Sindroma Miller Fisher (MFS) Merupakan varian GBS yang jarang terjadi dan bermanifestasi sebagai paralisis desendens, berlawanan dengan jenis GBS yang biasa terjadi. Umumnya mengenai otot-otot okuler pertama kali dan terdapat trias gejala, yakni oftalmoplegia, ataksia, dan arefleksia.. Neuropati aksonal motorik akut (AMAN) atau sindroma paralitik Cina Menyerang nodus motorik Ranvier. Hal ini disebabkan oleh respon autoimun yang menyerang aksoplasma saraf perifer. Didapati antibodi Anti-GD1a,

subtipe sindroma Guillain-Barre


Neuropati aksonal sensorimotor akut (AMSAN) Mirip dengan AMAN, juga menyerang aksoplasma saraf perifer, namun juga menyerang saraf sensorik dengan kerusakan akson yang berat. Penyembuhan lambat dan sering tidak sempurna. Neuropati panautonomik akut Merupakan varian GBS yang paling jarang; dihubungkan dengan angka kematian yang tinggi, akibat keterlibatan kardiovaskular dan disritmia. Ensefalitis batang otak Bickerstaffs (BBE) Ditandai oleh onset akut oftalmoplegia, ataksia, gangguan kesadaran, hiperefleksia atau refleks Babinski). Lesi luas dan ireguler terutama pada batang otak, seperti pons, midbrain, dan medulla.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Cairan serebrospinal (CSS) adanya disosiasi sitoalbuminik, yakni meningkatnya jumlah protein (100-1000 mg/dL). Pemeriksaan kecepatan hantar saraf (KHS) dan elektromiografi (EMG) demyelinasi saraf: prolongasi masa laten motorik distal (menandai blok konduksi distal) dan prolongasi atau absennya respon gelombang F (tanda keterlibatan bagian proksimal saraf), blok hantar saraf motorik, serta berkurangnya KHS. EMG Menunjukkan berkurangnya rekruitmen motor unit degenerasi aksonal dengan potensial fibrilasi 2-4 minggu setelah onset gejala, sehingga ampilitudo CMAP dan SNAP kurang dari normal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah pada darah tepi Didapati leukositosis polimorfonuklear sedang dengan pergeseran ke bentuk yang imatur, limfosit cenderung rendah selama fase awal dan fase aktif penyakit. Pada fase lanjut, dapat terjadi limfositosis. Laju endap darah dapat meningkat sedikit atau normal respon hipersensitivitas antibodi tipe lambat peningkatan immunoglobulin IgG, IgA, dan IgM, akibat demyelinasi saraf pada kultur jaringan. Abnormalitas fungsi hati Elektrokardiografi (EKG) Menunjukkan adanya perubahan gelombang T serta sinus takikardia. Gelombang T akan mendatar atau inverted pada leadlateral. Peningkatan voltase QRS kadang dijumpai, namun tidak sering.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes fungsi respirasi (pengukuran kapasitas vital paru) menunjukkan adanya insufisiensi respiratorik yang sedang berjalan (impending). Pemeriksaan patologi anatomi adanya infiltrat limfositik mononuklear perivaskuler serta demyelinasi multifokal. Pada fase lanjut, infiltrasi sel-sel radang dan demyelinasi ini akan muncul bersama dengan demyelinasi segmental dan degenerasi wallerian dalam berbagai derajat Saraf perifer dapat terkena Infiltrat sel-sel radang (limfosit dan sel mononuclear lainnya) juga didapati pada pembuluh limfe, hati, limpa, jantung, dan organ lainnya.

ASUHAN KEPERAWATAN
Keluhan utama kelemahan otot baik kelemahan fisik secara umum maupun lokal seperti melemahnya otot-otot pernafasan. RPS Riwayat Penyakit Sekarang keluhan yang berhubungan dengan proses demielinisasi : parestesia (kesemutan kebas) dan kelemahan otot kaki, yang dapat berkembang ke ekstrimitas atas, batang tubuh, dan otot wajah maupun paralisis yang lengkap. gagal nafas

Pemeriksaan Fisik
suhu tubuh normal. Penurunan denyut nadi Peningkatan frekuensi nafas Tekanan darah didapatkan ortostatik hipotensi atau tekanan darah meningkat (hipertensi transien) B1 (Breathing) klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan frekuensi pernafasan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. ronkhi B2 (Blood) bradikardia B3 (Brain) Pengkajian Tingkat Kesadaran. komposmentis. Pengkajian Fungsi Serebral. penurunan tingkat kesadaran, status mental klien mengalami perubahan.

Pemeriksaan Fisik
Pengkajian Saraf Kranial. Pengkajian saraf cranial meliputi pengkajian saraf cranial I-XII. Saraf I. Biasanya pada klien Sindrom Guillain Barre tidak ada kelainan dan fungsi penciuman. Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal. Saraf III, IV, dan VI. Penurunan kemampuan membuka dan menutup kelopak mata, paralisis okular. Saraf V. pada klien Sindrom Guillain Barre didapatkan paralisis wajah sehingga mengganggu proses mengunyah. Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris karena adanya paralisis unilateral. Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi. Saraf IX dan X. paralisis otot orofaring, kesulitan berbicara, mengunyah, dan menelan. Kemampuan menelan kurang baik, sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral. Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Kemampuan mobilisasi leher baik. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan normal.

Pemeriksaan fisik
Pengkajian Sistem Motorik. Kekuatan otot menurun, control keseimbangan dan koordinasi pada Sindrom Guillain Barre tahap lanjut mengalami perubahan. Klien mengalami kelemahan motorik secara umum sehingga mengganggu mobilitas fisik. Pengkajian Refleks. Pemeriksaan reflex propunda, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat reflex pada respons normal. Gerakan involunter : tidak ditemukan adanya tremor, kejang, tic dan distonia. Pengkajian Sistem Sensorik. Parestesia (kesemutan kebas) dan kelemahan otot kaki, yang dapat berkembang ke ektremitas atas, batang tubuh, dan otot wajah. Klien mengalami penurunan kemampuan penilaian sensorik raba, nyeri, dan suhu. B4 (Bladder) berkurangnya volume pengeluaran urine B5 (Bowel) Mual muntah , anoreksia dan kelemahan otot-otot pengunyah serta gangguan proses menelan B6 (Bone) Penurunan kekuatan otot

Komplikasi
kematian, akibat kelemahan atau paralisis pada otot-otot pernafasan. Paralisis otot persisten Gagal nafas, dengan ventilasi mekanik Aspirasi Retensi urin Masalah psikiatrik, seperti depresi dan ansietas Nefropati, pada penderita anak Hipo ataupun hipertensi Tromboemboli, pneumonia, ulkus Aritmia jantung Ileus

Diagnosa Keperawatan
Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan melemahnya otot-otot pernapasan. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan akumulasi secret, kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran. Resiko tinggi penurunan curah curah jantung yang berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung rotme dan irama bradikardia. Resiko perubahan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik. Habatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan neuromuscular, penurunan kekuatan otot, penurunan kesadaran, kerusakan persepsi/kognitif. Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan kerusakan penerima rangsang sensori, transmisi sensori, dan integrasi sensori. Ansietas yang berhubungan dengan kondisi sakit dan prognosis penyakit yang jelek.

Intervensi