Anda di halaman 1dari 18

Cutaneus Larva Migrans

Pembimbing dr. Berny M Prawiro Sp.KK


Penyusun Reza Aldyah 07700247 Mersy F Langko 06700239

Pendahuluan
Cutaneus larva migrans adalah penyakit infeksi kulit parasit yang sudah dikenal sejak tahun 1874. Awalnya ditemukan pada daerah daerah tropical dan subtropical beriklim hangat, saat ini karena kemudahan transportasi keseluruh bagian dunia, penyakit ini tidak lagi dikhususkan pada daerah-daerah tersebut.

Definisi

suatu kelainan kulit yang disebabkan oleh adanya penetrasi dari larva nematoda. Kelainan kulit pada penyakit ini khas berupa garis lurus atau berkelok kelok, menimbul dan progresif, disebabkan oleh invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing

Epidemiologi
Paling sering ditemukan pada daerah tropis, terutama Amerika bagian Tenggara, Karibia, Afrika dan Asia. Penyebaran dapat melalui kontak dengan pasir atau tanah yang terkontaminasi dengan kotoran hewan yang mengandung larva cacing. Anak anak > dewasa

Etiologi
Paling sering disebabkan oleh cacing tambang, Ancylostoma braziliense adalah penyebab paling umum. Cacing tambang lainnya yang dapat melakukan penetrasi ke kulit manusia. o A.caninum o Uncinaria stenocephala (cacing tambang pada anjing) o Bunostomum phlebotomum (cacing tambang pada sapi)

Patogenesa

Enzim protease

Larva

Folikel, fissura

Kulit di epidermis

Tidak memiliki enzim collagenase

dermis Mati setelah beberapa hari - bulan

Gejala Klinis

Gejala timbul 1 sampai 6 hari setelah terjadi paparan Pada point of entry akan timbul papul, kemudian diikuti oleh bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau berkelok kelok (snakelike appearance bentuk seperti ular) yang terasa sangat gatal. menonjol dengan lebar 2 3 mm, panjang 3 4 cm dari point of entry, dan berwarna kemerahan. Panjang lesi 15 cm 20 cm. lesi dapat tunggal ataupun ganda.

Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah bagian yang sering terbuka seperti kaki, tungkai bawah, tangan dan bokong Eksoriasi dan impetiginizasi dapat ditemukan pada 10% kasus Pada saat larva menembus kulit, dapat menyebabkan gatal Pada penderita juga dapat dijumpai tandatanda dan gejala sistemik (wheezing. batuk kering, urtikaria).

Creeping eruption

CLM pada tungkai bawah

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan histopatologi, perlu dilakukan untuk menemukan nematode yang terperangkap di dalam folikel, stratum korneum atau pada dermis yang sedang meradang. Pemeriksaan kerokan kulit pada penderita folikulitis dengan mikroskop cahaya dengan minyak mineral dapat mengungkapkan nematode pada dermis masih hidup atau telah mati.

Diagnosa

Berdasarkan bentuk yang khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok kelok berwana kemerahan, menonjol dan terdapat papul atau vesikel di atasnya

Diagnosa Banding
Sindrom Cutaneous Larva Migrans Creeping Eruption

Penatalaksanaan

Sistemik

Pengobatan lini pertama adalah dosis tunggal Invermectin o Albendazol (Albenza) dosis 400mg dosis tunggal, diberikan tiga hari. o Tingkat kesembuhan mencapai 100% Topikal o Pemakaian cream Thiabendazole 10% 2 kali sehari selama 10 hari juga efektif, namun obat ini tidak tersedia di semua negara.

Pencegahan

Larva cacing umumnya menginfeksi tubuh melalui kulit kaki yang tidak terlindungi, karena itu penting sekali memakai alas kaki dan menghindari kontak kulit langsung dengan tanah.

Kesimpulan

Cutaneus larva migrans adalah penyakit kulit pada manusia disebabkan oleh berbagai larva nematode parasit, yang paling umum adalah Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Cutaneus larva migrans memiliki kelainan kulit yang khas berupa garis lurus atau berkelok kelok, progresif dan menimbul. Cutaneus larva migrans dapat diterapi dengan beberapa cara yang berbeda, yaitu: terapi sistemik (oral) atau terapi topical. berdasarkan beberapa penelitian yang ada, terapi sistemik merupakan terapi yang terbaik karena tingkat keberhasilannya lebih baik daripada terapi topical.